• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL PENDUGAAN MODEL PERILAKU RUMAHTANGG A

6.4. Blok Akses Pangan

6.4.1. Pendapatan Rumahtangga

Faktor pendapatan merupakan variabel strategis dalam ketahanan pangan rumahtangga karena tingkat pendapatan menentukan daya beli terhadap pangan. Oleh sebab itu jika terjadi kenaikan pendapatan rumahtangga, dampak yang diharapkan adalah meningkatnya kinerja ketahanan pangan rumahtangga. Sumber perolehan pendapatan pada rumahtangga petani tidak hanya berasal dari usahatani padi, tetapi juga dari sumber-sumber produktif lain. Untuk mengungkap fenomena tersebut dalam model perilaku rumahtangga variabel pendapatan dibentuk sebagai persamaan identitas.

Pendapatan rumahtangga (YRMH) adalah penjumlahan dari pendapatan pertanian (YGRI), pendapatan hasil kerja (YUNT) dan pendapatan lainnya (YLAI). Pendapatan pertanian terdiri dari pendapatan usahatani padi (YPDI) dan semua pendapatan usahatani lain non padi (YOTH). Pendapatan hasil kerja (YUNT) adalah penjumlahan dari pendapatan hasil kerja non pertanian (YUNTA) dan pendapatan berburuh tani (YUNTB). Adapun pendapatan lainnya mencakup pendapatan transfer, pendapatan bunga dan sumber lain-lain. Pendapatan hasil

kerja non pertanian merupakan hasil kali alokasi tenaga kerja keluarga di non pertanian (TKUN) dengan upah tenaga kerja pria non pertanian (WAGP1), sedangkan pendapatan kerja berburuh tani adalah hasil kali alokasi waktu tenaga kerja berburuh tani (TNUB) dengan upah tenaga kerja pria pertanian (UPAP). Dinamika pendapatan rumahtangga akan ditentukan oleh dinamika sumber pendapatan penyusunnya. Demikian pula, faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan rumahtangga akan sejalan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi sumber pendapatan penyusunnya.

6.4.2. Pengeluaran Pangan Rumahtangga

Menurut Maxwell dan Frankenberger (1992), pengeluaran pangan rumahtangga termasuk outcome indicator ketahanan pangan yang bersifat langsung. Pengeluaran pangan merupakan titik masuk (entry point) penentuan kecukupan energi yang menjadi proksi kecukupan (ketahanan) pangan. Dalam model, pengeluaran pangan yang dihitung adalah pengeluaran per kapita anggota rumahtangga selama setahun. Dari pendugaan model diketahui, pengeluaran pangan dipengaruhi oleh tingkat pendapatan rumahtangga, jumlah anggota rumahtangga, tingkat pendidikan isteri, dummy pekerjaan non pertanian, dan dummy tahun yang nyata pada taraf 10 persen (Tabel 24). Semakin tinggi pendapatan maka pengeluaran pangan akan semakin besar sebagaimana berlaku dalam teori ekonomi. Pengeluaran pangan juga meningkat seiring peningkatan pendidikan isteri, dan lebih tinggi pada rumahtangga yang bekerja non pertanian. Secara temporal pengeluaran pangan tahun 2010 lebih tinggi dari tahun 2007.

Jumlah anggota rumahtangga berpengaruh negatif dan nyata sehingga semakin besar jumlah anggota rumahtangga akan berdampak pada penurunan pengeluaran pangan per kapita rumahtangga petani. Penurunan ini terkait status variabel jumlah anggota rumahtangga yang menjadi faktor pembagi (denominator) dari variabel pengeluaran pangan per kapita. Pengeluaran pangan merupakan cerminan preferensi pangan rumahtangga yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesukaan. Oleh karena kesukaan bersifat relatif antar tempat antar waktu maka tingkat pendidikan sebagai proksi pengetahuan menjadi salah satu faktor pengaruh yang penting dalam pengeluaran pangan.

Tabel 24. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Pengeluaran Pangan

Variabel Parameter Standar Pr > |t| Elasti-

Dugaan Error sitas

Intersep 2104278 155158.7 <.0001

Pendapatn RT (YRMH) 0.004297 0.001219 0.0003 0.0453

Jml anggota RT (JART) -134116 22586.69 <.0001 -0.4221

Pendidikan isteri (EDUI) 28273.01 16314.67 0.0423 0.0627

Dummy kerja non pert, ya=1 (DNOAG) 140281.5 100951.8 0.0831

Dummy tahun, 2010=1 (DUTHN) 886830.9 101485 <.0001

(F-hitung= 25.06; Prob>F= 0.0001; R2= 0.36390)

Tanda dan besaran variabel dummy pekerjaan non pertanian menunjukan, rumahtangga petani yang juga bekerja di sektor non pertanian memiliki pengeluaran lebih tinggi dibanding rumahtangga lainnya. Selisih nilai pengeluaran pangan kedua kelompok ditunjukan oleh besaran parameter dugaan variabel tersebut. Pengeluaran pangan yang lebih tinggi pada rumahtangga pekerja sektor non pertanian diduga terkait dengan pendapatan mereka yang lebih tinggi dibandingkan rumahtangga lain. Oleh karena nilai pengeluaran pangan dinyatakan dalam nominal rupiah (bukan proporsi atau persentase), nilai pengeluaran pangan yang lebih besar mencerminkan pendapatan yang lebih besar, tetapi tidak dapat menyatakan situasi kesejahteraan rumah tangga. Dari tanda dan besaran variabel dummy pekerjaan tersebut terindikasi bahwa rumahtangga petani yang juga bekerja di sektor non pertanian relatif lebih sejahtera dibandingkan rumahtangga lain.

Secara intertemporal variabel dummy tahun menunjukan bahwa pengeluaran pangan tahun 2010 lebih besar dibanding tahun 2007. Jika dikaitkan dengan analisis deskriptif sebelumnya, pengeluaran pangan yang lebih tinggi pada tahun 2010 terjadi mengikuti pola kenaikan pendapatan rumahtangga petani pada periode yang sama. Namun tidak tertutup kemungkinan peningkatan pengeluaran pangan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor kenaikan harga-harga pangan dan peningkatan ukuran (jumlah anggota) rumahtangga yang terjadi selama tahun 2010.

Pengetahuan tentang pangan yang baik untuk dikonsumsi sangat penting dalam peningkatan ketahanan pangan dan kesehatan. Di dalam rumahtangga peran

untuk mengatur konsumsi pangan biasanya dilakukan oleh isteri (ibu rumahtangga). Oleh sebab itu dalam analisis perilaku variabel pendidikan isteri termasuk variabel penting untuk dianalisis. Hasil pendugaan model menunjukan, tingkat pendidikan isteri berpengaruh nyata terhadap pengeluaran pangan pada taraf 10 persen. Hasil ini senada dengan penelitia Hardono (2002;2003). Fakta empiris menunjukkan, pendidikan isteri umumnya hanya mencapai sekolah dasar. Pada tingkat pendidikan yang rendah proses transformasi pengetahuan menjadi kurang efektif. Akan tetapi dengan semakin tinggi pendidikan isteri maka efektifitas proses transformasi pengetahuan tentang pangan akan semakin meningkat.

Nilai elastisitas pendapatan yang relatif kecil dalam persamaan pengeluaran pangan mengindikasikan bahwa dinamika dan perubahan tingkat pendapatan tidak banyak berpengaruh terhadap perubahan pengeluaran pangan. Perubahan yang tidak elastis tersebut mengindikasikan bahwa rumahtangga cenderung mempertahankan pola pengeluaran pangan mereka sebagaimana yang sudah berjalan selama ini. Selain merefleksikan kesederhanaan, tidak responsifnya pengeluaran pangan terhadap perubahan pendapatan juga dapat terkait dampak keterbatasan pilihan konsumsi. Jika kondisi infrastruktur (jalan, alat transportasi dan fasilitas pasar lokal) pendukung distribusi pangan kurang memadai, keragaman jenis pangan yang dijual di desa-desa penelitian cenderung rendah karena distribusi pangan ke lokasi-lokasi tersebut mengandalkan peran pedagang keliling, warung atau kios kecil yang terbatas kemampuan usahanya.

Elastisitas jumlah anggota rumahtangga memiliki nilai lebih besar dibandingkan elastisitas variabel lain sehingga perubahan jumlah anggota rumahtangga akan memiliki dampak lebih besar dibanding perubahan pendapatan terhadap pengeluaran pangan rumahtangga. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, karena jumlah anggota rumahtangga berperan sebagai denominator (faktor pembagi) dalam variabel pengeluaran pangan per kapita maka semakin besar jumlah angota rumahtangga akan mengurangi besarnya pengeluaran pangan per kapita.

Setiap anggota rumahtangga membutuhkan pemenuhan pangan untuk hidup sehat dan beraktifitas. Semakin banyak jumlah anggota rumahtangga

(semakin besar ukuran rumahtangga) semakin besar pula belanja pangan yang harus dikeluarkan rumahtangga. Selama rumahtangga dapat mengusahakan tambahan pendapatan, kenaikan jumlah anggota rumahtangga tidak akan banyak menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kesejahteraan setiap anggota. Akan tetapi jika alternatif tambahan pendapatan tidak tersedia maka penambahan anggota rumahtangga akan mengurangi kesejahteraan anggota secara keseluruhan. Secara implisit itu berarti, faktor demografi juga ikut berperan dalam penentuan derajat ketahanan pangan dan kesejahteraan rumahtangga.

6.4.3. Investasi Sumberdaya Manusia

Dalam perspektif perubahan SDM pertanian, terdapat dua aspek yang dapat diamati untuk melihat bagaimana rumahtangga berusaha meningkatkan kualitas SDM. Kedua aspek tersebut adalah investasi kesehatan dan investasi pendidikan. Kedua investasi diproksi dengan besaran (nilai) pengeluaran investasi kesehatan dan pendidikan. Hasil pendugaan menunjukkan investasi kesehatan dipengaruhi oleh pendapatan usahatani padi (YPDI) dan frekuensi sakit anak (FDIA). Kedua variabel berpengaruh positif dan nyata pada taraf nyata 10 persen (Tabel 25). Adapun untuk variabel kecukupan energi dan pengeluaran tembakau tidak menunjukan pengaruh nyata terhadap keputusan investasi kesehatan rumahtangga petani.

Di dalam rumahtangga, belanja dan pengeluaran berbagai kebutuhan dibatasi oleh maksimum pendapatan (kendala anggaran). Oleh sebab itu variabel pendapatan dalam model analisis bertanda positif. Pada Tabel 25, tanda positif menunjukkan investasi kesehatan akan makin besar jika pendapatan usahatani padi mengalami peningkatan. Di sisi lain, investasi kesehatan juga memperhatikan peluang sehat. Semakin sering mengalami sakit akan membuat peluang sehat menjadi makin kecil. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka dibutuhkan investasi kesehatan yang lebih besar. Itu sebabnya parameter frekuensi sakit anak harus bertanda positif. Hasil pendugaan menunjukkan respon rumahtangga terhadap perubahan kedua parameter tidak elastis.

Indikasi berlakunya kendala pendapatan dalam model terlihat pada parameter dugaan variabel pengeluaran tembakau (rokok) yang bertanda negatif.

Meskipun tidak berpengaruh nyata, tanda parameter tersebut menunjukan bahwa semakin besar pengeluaran rokok akan menurunkan investasi kesehatan yang dilakukan rumahtangga. Mengingat di dalam rumahtangga nilai nominal pengeluaran rokok masih kecil, variabel pengeluaran rokok tersebut tidak berpengaruh secara nyata terhadap investasi kesehatan dalam model. Pada uraian deskripsi karakteristik di bab sebelumnya diketahui, rataan pengeluaran rokok rumahtangga petani berkisar antara 0.3-0.5 persen dari total pengeluaran rumahtangga.

Tabel 25. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Investasi Kesehatan

Variabel Parameter Standar Pr > |t| Elasti-

Dugaan Error sitas

Intersep 868779.2 609422.7 0.0777

Pendpt ush tani padi (YPDI) 0.011659 0.008354 0.0821 0.2552

Kecukupan energi (FSCUR) -760554 710629.7 0.1429

Frekuensi sakit anak (FDIA) 161074.3 105217.8 0.0636 0.2306

Pengeluaran rokok (EXTO) -1.01642 1.07542 0.1728

(F-hitung= 1.55; Prob >F= 0.1901; R2= 0.02733)

Faktor lain penentu investasi kesehatan SDM rumahtangga pertanian adalah tingkat kecukupan energi (FSCUR). Kecukupan energi yang tinggi mendorong kesehatan anggota rumahtangga menjadi lebih baik. Pada kondisi kesehatan yang baik (prima), biaya investasi kesehatan akan cenderung makin rendah sehingga tanda parameter kecukupan pangan dalam model bertanda negatif. Situasi ini mengindikasikan pentingnya ketahanan pangan dalam menjaga kesehatan SDM rumahtangga.

Perilaku investasi SDM rumahtangga petani dalam bidang pendidikan (INDU) menunjukkan (Tabel 26), kecuali variabel dummy pulau, semua parameter dugaan variabel dalam model berpengaruh nyata terhadap keputusan investasi pendidikan pada taraf nyata 10 persen. Hasil pendugaan juga menunjukkan semua parameter memiliki tanda positif, sesuai harapan. oleh sebab itu investasi pendidikan rumahtangga akan meningkat dengan makin banyaknya jumlah anak yang bersekolah, semakin tingginya pendapatan dan tingkat pendidikan kepala keluarga (KK). Respon investasi pendidikan terhadap jumlah anak sekolah bersifat elastis sehingga setiap penambahan jumlah anak yang

bersekolah dalam rumahtangga akan diikuti peningkatan pengeluaran investasi pendidikan dengan proporsi yang lebih besar.

Tabel 26. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Investasi Pendidikan

Variabel Parameter Standar Pr > |t| Elasti-

Dugaan Error sitas

Intersep -1390108 489659.5 0.0025

Pendapatn RT (YRMH) 0.009081 0.006006 0.0660 0.1061

Pendidikan KK (EDUK) 119086.9 78457.46 0.0653 0.3062

Jml anak sekolah (JASK) 1470489 221860.9 <.0001 1.0045

Dummy pulau, Jawa=1 (DUPRO) 330620.4 798206 0.3396

Dummy tahun, 2010=1 (DUTHN) 2180723 494700.6 <.0001

(F-hitung= 16.48; Prob>F = 0.0001; R2= 0.27344)

Investasi pendidikan cenderung makin besar antar waktu, sehingga investasi tahun 2010 lebih besar dari investasi tahun 2007. Selain itu, parameter dugaan variabel dummy pulau menunjukan bahwa investasi pendidikan rumahtangga di Jawa lebih mahal dibanding di Luar Jawa. Relatif mahalnya tingkat pendidikan di Jawa disamping karena pengaruh faktor jumlah anak sekolah pada rumahtangga petani yang lebih banyak juga dimungkinkan oleh tingkat pendidikan anggota rumahtangga yang lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa. Secara umum, untuk mencapai tingkat pendidikan lebih tinggi akan dibutuhkan investasi pendidikan yang lebih besar. Rumahtangga dengan tingkat pendidikan anggota rumahtangga yang lebih tinggi akan memiliki pengeluaran investasi pendidikan yang lebih besar pula dibandingkan rumahtangga lain.

6.4.4. Tabungan dan Modal Usaha Rumahtangga

Unsur risiko dalam usahatani merupakan hal yang sulit dihindarkan. Munculnya risiko terkait dengan dinamika faktor eksternal maupun internal rumahtangga. Antisipasi rumahtangga terhadap risiko salah satunya dilakukan dengan menyiapkan simpanan (tabungan). Fungsi tabungan yang penting bagi rumahtangga petani adalah untuk menstabilkan pendapatan dan pengeluaran pada masa paceklik sehingga kinerja produksi, konsumsi dan kesejahteraan petani tidak terganggu. Pada rumahtangga petani di perdesaan menabung bukan merupakan kebiasaan baru. Petani biasa menabung yang tidak hanya dalam

bentuk uang tunai (melalui lembaga keuangan formal), tetapi juga dalam bentuk simpanan natura hasil panen, atau bahkan dalam bentuk tanaman hidup.

Hasil pendugaan parameter menunjukkan menabung dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, surplus produksi dan dummy tahun (Tabel 27). Ketiga variabel nyata pada taraf 10 persen. Keputusan menabung tidak dipengaruhi oleh variabel umur kepala keluarga. Semakin tinggi tingkat pendapatan dan semakin besar surplus produksi padi akan meningkatkan jumlah tabungan rumahtangga. Jumlah tabungan rumahtangga lebih besar pada tahun 2010 dibandingkan tahun 2007. Respon keputusan menabung terhadap perubahan surplus produksi cenderung elastis.

Tabel 27. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Tabungan

Variabel Parameter Standar Pr > |t| Elasti-

Dugaan Error sitas

Intersep -3222506 1920447 0.0474

Pendapatn RT (YRMH) 0.027359 0.018283 0.0680 0.2754

Surplus produksi (PSUR) 1684.187 238.0302 <.0001 1.9029

Umur KK (OLKK) 10003.61 40635.89 0.4029

Dummy tahun, 2010=1 (DUTHN) 1650261 1279430 0.0993

(F-hitung= 22.50; Prob >F = 0.0001; R2= 0.29028)

Tanda positif variabel pendapatan dalam persamaan tabungan menunjukkan indikasi bahwa kebiasaan menabung dilakukan dari menyisihkan kelebihan pendapatan (lihat Hardono, 2002). Cara demikian menyebabkan tabungan akan meningkat jika pendapatan rumahtangga mengalami peningkatan. Begitu pula nilai tabungan akan meningkat jika surplus produksi semakin besar, karena surplus produksi menentukan perolehan pendapatan rumahtangga dari usahatani padi. Pada Tabel 27 nilai elastisitas surplus produksi lebih besar dari satu, sehingga setiap kenaikan satu persen surplus produksi akan diikuti dengan peningkatkan nilai tabungan lebih besar dari satu persen. Kecenderungan menabung yang besar mengindikasikan kesadaran rumahtangga akan pentingnya peran tabungan dalam perekonomian rumahtangga petani di daerah penelitian.

Dokumen terkait