• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL PENDUGAAN MODEL PERILAKU RUMAHTANGG A

6.5. Blok Pemanfaatan Pangan

6.5.1. Kecukupan Energi Rumahtangga

Kecukupan energi merupakan indikator ketahanan pangan yang sederhana dan sudah dipergunakan secara luas. Kecukupan energi menunjukan rasio dari total konsumsi energi terhadap total kebutuhan energi seluruh anggota rumahtangga. Mengingat konsumsi energi diperoleh dengan mentransformasi konsumsi fisik pangan yang nilainya dihitung sebagai pengeluaran pangan maka kecukupan energi berkorelasi dengan besarnya pengeluaran pangan sebagaimana hasil pendugaan parameter pada Tabel 28. Berdasarkan tanda parameter dugaan, makin besar pengeluaran pangan tingkat kecukupan energi rumahtangga juga semakin tinggi. Oleh karena pengeluaran pangan merupakan fungsi dari pendapatan rumahtangga, maka secara tidak langsung hubungan antar kedua variabel pada Tabel 28 mengindikasikan bahwa kecukupan energi rumahtangga cenderung meningkat seiring peningkatan pendapatan rumahtangga.

Tabel 28. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Kecukupan Energi

Variabel Parameter Standar Pr > |t| Elasti-

Dugaan Error Sitas

Intersep 0.829713 0.102327 <.0001

Pengeluaran pangan/kap (EXFO1) 1.02E-07 4.17E-08 0.0075 0.2276

Jml anggota RT (JART) -0.02009 0.009032 0.0136 -0.0166

Pendidikan isteri (EDUI) 0.001052 0.005373 0.4225

Dummy pulau, Jawa=1 (DUPRO) -0.03936 0.051215 0.2215

Dummy tahun, 2010=1 (DUTHN) -0.25147 0.050113 <.0001

(F-hitung= 12.25; Prob >F= 0.0001; R2= 0.21854)

Namun demikian dari sisi ekonomi, nilai elastisitas pengeluaran pangan hasil dari pendugaan relatif kecil sehingga dapat diinterpretasikan perubahan pengeluaran pangan tidak menimbulkan pengaruh (respon) besar terhadap kecukupan energi rumahtangga. Situasi ini diduga terkait konsumsi pangan rumahtangga yang kurang memiliki banyak variasi akibat keterbatasan pilihan bahan pangan yang dapat dikonsumsi. Hasil pendugaan model menunjukkan, kecukupan energi dipengaruhi secara nyata oleh jumlah anggota rumahtangga pada taraf nyata 10 persen, tetapi dengan tanda parameter yang negatif. Ini berarti, semakin banyak jumlah anggota rumahtangga akan mengakibatkan tingkat

kecukupan energi semakin rendah. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hardono (2002;2003) dan Ometasho et al. (2010). Kecenderungan pola hubungan seperti itu disebabkan satuan pengukuran kecukupan energi yang digunakan juga memperhitungkan jumlah anggota rumahtangga. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, tingkat kecukupan energi diukur dalam satuan untuk individu setara pria dewasa (Kkal/AEU/ hari). Semakin banyak jumlah anggota rumahtangga membuat nilai setara pria dewasa sebagai pembagi konsumsi energi akan semakin besar, sehingga hasil baginya menjadi semakin kecil.

Di sisi lain, hasil pendugaan juga menunjukan bahwa secara langsung variabel tingkat pendidikan isteri tidak berpengaruh nyata terhadap kecukupan energi anggota rumahtangga. Namun demikian, secara tidak langsung pendidikan isteri tetap berpengaruh terhadap kecukupan energi rumahtangga karena pendidikan isteri berpengaruh nyata dalam persamaan pengeluaran pangan. Seperti telah diungkapkan sebelumnya bahwa kecukupan energi dipengaruhi oleh pengeluaran pangan, sehingga variabel eksogen pendidikan isteri yang berpengaruh nyata terhadap pengeluaran pangan akan berpengaruh pula terhadap kecukupan energi.

Variabel dummy pulau tidak berpengaruh nyata terhadap kecukupan energi rumahtangga petani. Hasil ini mengindikasikan bahwa meskipun wilayah Jawa dikenal sebagai daerah dengan prevalensi kekurangan energi relatif tinggi dibandingkan Luar Jawa, tetapi dalam penelitian ini secara statistik perbedaan itu tidak dapat dibuktikan. Tanda negatif pada nilai parameter dugaan variabel dummy tahun menunjukan bahwa pada tahun 2010 situasi kecukupan energi rumahtangga lebih buruk dibanding tahun 2007.

6.5.2. Status Gizi Anggota Rumahtangga

Status gizi anggota rumahtangga menunjukan keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan makanan (Suhardjo et al., 2006). Dalam konteks kecukupan pangan, status gizi lebih merupakan konsekuensi atau dampak dari pencapaian dan dinamika situasi ketahanan pangan dalam rumahtangga. Dalam analisis yang tidak runtut waktu status gizi dapat digambarkan sebagai variabel endogen yang dipengaruhi oleh variabel eksogen

dari model perilaku rumahtangga, tetapi tidak menjadi variabel eksogen yang mempengaruhi variabel endogen lain.

Hasil pendugaan (Tabel 29) menunjukan, status gizi anggota rumahtangga dipengaruhi secara nyata oleh kecukupan energi dan dummy kualitas air musim kemarau. Semakin tinggi kecukupan energi akan meningkatkan status gizi anggota rumahtangga. Oleh karena kecukupan energi yang tinggi menunjukkan ketahanan pangan yang baik, maka hasil estimasi tersebut mengkonfirmasi pentingnya peran ketahanan pangan untuk mendorong status gizi anggota rumahtangga. Sebagaimana disebutkan Simatupang (2007) bahwa ketahanan pangan menjadi syarat keharusan (necessary condition) untuk mencapai status gizi yang baik, tetapi bukan sebagai syarat kecukupan (sufficient condition). Artinya untuk mencapai status gizi anggota rumahtangga yang baik dibutuhkan kecukupan energi yang memadai. Akan tetapi, kinerja status gizi yang baik tidak dapat sepenuhnya diklaim sebagai akibat kecukupan energi yang sudah baik. Ada faktor lain yang turut berpengaruh terhadap status gizi. Terkait hal itu Soekirman (2008) berpendapat bahwa gizi buruk/kurang tidak selalu terjadi karena kurang pangan (kelaparan/tidak ada makanan). Gizi buruk/kurang juga bisa terjadi karena faktor kemiskinan. Tapi kemiskinan juga bisa terjadi sebagai akibat dari gizi buruk.

Tabel 29. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Status Gizi

Variabel Parameter Standar Pr > |t| Elasti-

Dugaan Error sitas

Intersep -2.53603 0.542543 <.0001

Kecukupan energi (FSCUR) 1.373648 0.705181 0.0264 -0.9245

T-kerja kelg wanita (TKDW) -0.00004 0.009595 0.4982

Frekuensi sakit anak (FDIA) -0.03281 0.103998 0.3764

Dummy kerja buruh pert, ya=1 (DBRUH) -0.22136 0.174441 0.1029

Dummy air bersih MK2 (DUAIR2) 0.368228 0.246751 0.0686

(F-hitung= 2.01; Prob>F = 0.0790; R2= 0.04378)

Variabel lain yang berpengaruh terhadap status gizi adalah penggunaan air bersih musim kemarau. Penggunaan air minum dari sumber air bersih, khususnya pada musim kemarau, akan mendukung status gizi yang lebih baik. Seperti diketahui, air adalah salah satu media yang dapat menjadi pembawa bibit kuman

dan bakteri. Oleh sebab itu mengkonsumsi air bersih dan yang dimasak terlebih dulu akan membantu rumahtangga meningkatkan status gizi mereka. Masalah ketersediaan air bersih biasanya menjadi terbatas pada musim kemarau. Bahkan di beberapa tempat dapat menjadi masalah serius. Oleh sebab itu penggunaan air bersih pada musim kemarau dapat menjadi indikator pendukung status gizi dan kesehatan. Sumber air bersih dimaksud adalah: air ledeng (Perusahaan Air Minum, PAM), pompa, sumur, atau air dalam kemasan.

Variabel lain dalam model selain kecukupan energi dan dummy air musim kemarau tidak berpengaruh nyata terhadap status gizi, meski memiliki tanda parameter dugaan sesuai harapan. Pola pengasuhan anak yang baik dan intens penting untuk membantu tumbuh kembang anak dan menjaga anak dari kemungkinan mengkonsumsi bahan pangan yang dapat menimbulkan resiko sakit. Umumnya peran pengasuhan ini dilakukan kaum ibu. Oleh sebab itu jika kaum ibu juga ikut bekerja dalam kegiatan produktif rumahtangga, kemungkinan akan terjadi konflik kepentingan selalu ada. Dalam sumber data yang digunakan untuk penelitian tidak tersedia variabel pengasuhan anak, sehingga untuk dapat mengangkat isu tersebut dalam model dimasukan variabel kontra pengasuhan, yaitu variabel TKDW. Hasil dugaan parameter yang bertanda negatif artinya semakin besar alokasi waktu untuk bekerja dalam usahatani padi (TKDW) akan menyebabkan intensitas pengasuhan anak berkurang dan berpotensi menurunkan status gizi anggota rumahtangga (status gizi anak). Hasil pendugaan menunjukan variabel kontra pengasuhan ini tidak berpengaruh nyata pada taraf 10 persen. Tidak adanya pengaruh ini diduga karena intensitas keterlibatan (tingkat partisipasi) kaum ibu dalam kegiatan usahatani masih relatif rendah (masih pada selang yang dapat ditolelir) sehingga belum atau tidak mengganggu intensitas pengasuhan anak.

Secara umum, anak-anak yang sering mengalami sakit (frekuensi sakit tinggi) memiliki kinerja status gizi yang kurang baik. Oleh sebab itu tanda parameter dugaan frekuensi sakit anak bertanda negatif. Prevalensi sakit yang tinggi pada anak-anak biasanya adalah sakit diare. Semakin sering mengalami sakit diare berakibat status gizi anak semakin buruk. Di dalam model perilaku rumahtangga, frekuensi sakit yang dialami anak (anggota rumahtangga) secara

statistik tidak berpengaruh nyata terhadap status gizi anak. Hal ini diduga karena frekuensi sakit anggota rumahtangga masih terlalu rendah sehingga belum menimbulkan efek serius terhadap status gizinya. Hasil ini berbeda dengan penelitian Munaroh (2008) di Sidoarjo. Penelitain tersebut menunjukkan bahwa antara status gizi dengan frekuensi sakit anak terdapat hubungan keterkaitan.

Meski bekerja sebagai buruh tani di perdesaan mungkin dilakukan karena motif sosial, tetapi kebanyakan petani yang mau bekerja sebagai buruh tani adalah karena tekanan faktor kebutuhan ekonomi (faktor kemiskinan). Hal ini mengindikasikan pekerjaan sebagai buruh tani dilakukan sebagai alternatif menambah penghasilan. Hasil pendugaan parameter menunjukan bahwa variabel dummy buruh tani bertanda negatif dalam persamaan status gizi sehingga rumahtangga yang mencari tambahan pendapatan sebagai buruh tani memiliki status gizi lebih rendah dibanding rumahtangga lain. Status gizi yang lebih rendah terkait dengan keterbatasan mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan.

VII. PENGARUH PERUBAHAN FAKTOR-FAKTOR

Dokumen terkait