IV. PENGISIAN DAFTAR SPPLH13.RT
4.2 Konsep Definisi dan Cara Pengisian Daftar SPPLH13.RT
4.2.5. Blok V Perumahan
Blok ini digunakan untuk mendapatkan informasi perumahan yang berkaitan dengan lingkungan.
Rincian 1: Status Penguasaan Bangunan Tempat Tinggal yang Ditempati
Lingkari salah satu kode 1 atau 2 sesuai dengan jawaban responden, kemudian tuliskan ke dalam kotak yang tersedia. Status penguasaan bangunan rumah yang ditempati ini harus dilihat dari sisi ART yang mendiaminya.
Milik sendiri, jika tempat tinggal tersebut pada waktu pencacahan betul-betul sudah milik KRT atau salah seorang ART. Rumah yang dibeli secara angsuran melalui kredit bank atau rumah dengan status sewa beli dianggap rumah milik sendiri;
Bukan milik sendiri, jika tempat tinggal tersebut pada waktu pencacahan bukan milik KRT atau salah seorang ART. Misalnya status penguasaan bangunan tempat tinggal secara: kontrak, sewa, bebas sewa, dinas, milik orang tua/anak/saudara, atau lainnya.
Rincian 2.a: Luas tanah tempat tinggal
Luas tanah adalah luas keseluruhan dari area tanah dimana bangunan tempat tinggal yang dihuni oleh rumah tangga berada. Luas tanah yang dimaksud adalah luas tanah yang digunakan untuk bangunan ditambah dengan luas pekarangan. Pekarangan adalah halaman sekitar rumah yang biasanya dibersihkan setiap hari dan dibatasi pagar.
Luas tanah maksimal adalah 998 m2. Jika luas tanah melebihi 998 m2, maka isikan luas tanahnya = 998
m2.
Catatan : Untuk rumah yang dibangun di atas sungai, danau, laut, rumah apung, dll, maka isian luas tanah sama dengan luas lantai dasar.
Rincian 2.b : Luas lantai dasar
Luas lantai dasar adalah luas lantai bagian bawah (sebatas atap) baik digunakan untuk keperluan sehari-hari maupun bukan untuk keperluan sehari-hari seperti lumbung padi, kandang ternak, dan ruangan khusus untuk usaha (misal warung).
Penjelasan :
1. Taman yang diberi atap baik di dalam maupun diluar rumah tetap dihitung luas lantainya. 2. Jika rumah tangga menempati bangunan bertingkat maka luas lantai atas tidak dihitung.
Pedoman Pencacahan SPPLH 2013 25 Hitung luas tanah yang tidak tertutup semen/bangunan dan isikan dalam kotak yang tersedia. Penghitungan luas tanah yang tidak tertutup semen/bangunan dapat dilakukan dengan cara mengurangi luas tanah tempat tinggal dengan luas tanah yang tertutup bangunan, semen, dan conblock.
Catatan : Untuk rumah yang dibangun di atas sungai, danau, laut, rumah apung, dll, maka isian luas tanah yang tidak tertutup semen/bangunan bisa sama dengan 0.
Pastikan bahwa penjumlahan R2.b + R2.c ≤ R2.a. Rincian 3.a: Tempat Pembuangan Akhir Tinja:
Lingkari salah satu kode yang sesuai mengenai tempat pembuangan akhir tinja, lalu pindahkan ke dalam kotak yang tersedia.
Tangki/SPAL adalah tempat pembuangan akhir yang berupa bak penampungan, biasanya terbuat dari pasangan bata/batu atau beton baik mempunyai bak resapan maupun tidak, termasuk disini daerah permukiman yang mempunyai Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) terpadu yang dikelola oleh pemerintah kota. Dalam sistem pembuangan limbah cair seperti ini, air limbah rumah tangga tidak ditampung di dalam tangki atau wadah semacamnya, tetapi langsung dialirkan ke suatu tempat pengolahan limbah cair. Di tempat pengolahan tersebut, limbah cair diolah sedemikian rupa (dengan teknologi tertentu) sehingga terpilah menjadi 2 bagian yaitu lumpur dan air. Air hasil pengolahan ini dianggap aman untuk dibuang ke tanah atau badan air (sungai, danau, laut).
Pada beberapa jenis jamban/kakus yang disediakan di tempat umum/keramaian, seperti di taman kota, tempat penampungannya dapat berupa tong yang terbuat dari logam atau kayu. Tempat penampungan ini bisa dilepas untuk diangkut ke tempat pembuangan. Dalam hal demikian tempat pembuangan akhir dari jamban/kakus ini dianggap sebagai tangki;
Kolam/sawah, bila limbahnya dibuang ke kolam/sawah;
Sungai/danau/laut, bila limbahnya dibuang ke sungai/danau/laut;
Lubang tanah, bila limbahnya dibuang ke dalam lubang tanah yang tidak diberi pembatas/tembok (tidak kedap air);
Pantai/tanah lapang/kebun, bila limbahnya dibuang ke daerah pantai atau tanah lapang, termasuk dibuang ke kebun;
Tidak tahu, bila responden tidak mengetahui tempat pembuangan akhir tinja (misal rumah tangga yang status bangunan tempat tinggalnya kontrak/sewa).
Rincian 3.b: Jika R3.a=1 (Tangki/SPAL), apakah kloset menggunakan sistem penyiraman “flush”?
Rincian 3.b di tanyakan jika rincian 3.a=1 (tempat pembuangan akhir tinja adalah Tangki/SPAL). Lingkari salah satu kode yang sesuai, lalu isikan ke dalam kotak yang tersedia.
Flush adalah sistem penyiraman (pembilasan) air pada kloset yang dioperasikan dengan gagang/handle
atau tombol. Ada dua sistem pembilasan yang umum digunakan, yaitu washdown dan siphonic. Cara kerja pada sistem washdown, air yang digelontorkan langsung tersedot ke bawah sesaat setelah tombol flushing ditekan. Biasanya diikuti suara yang sedikit berisik saat air tersedot ke bawah. Sedangkan pada sistem siphonic air terlebih dahulu berputar pada bowl kloset membentuk spiral, sebelum akhirnya masuk ke dalam saluran pembuangan dan nyaris tanpa suara. Pada umumnya, sistem washdown
26 Pedoman Pencacahan SPPLH 2013
digunakan pada kloset irit air model dual flush, sedangkan sistem siphonic banyak dijumpai pada kloset mewah model one piece dengan single flush.
Gambar 3.2. Toilet yang menggunakan flush
Catatan : Jika dalam rumah tangga tersebut terdapat dua atau lebih kloset dan salah satunya menggunakan flush maka dianggap menggunakan flush.
Rincian 4 : Di saat siang hari yang cerah, apakah rumah ini memanfaatkan pencahayaan dari sinar matahari untuk penerangan ruangan?
Rumah tangga dikatakan memanfaatkan pencahayaan sinar matahari untuk penerangan ruangan apabila pada siang hari ada ruangan yang cukup mendapat pencahayaan matahari sehingga seseorang dapat membaca walaupun tanpa menggunakan lampu.
Lingkari salah satu kode 1 sampai dengan kode 3, apakah rumah tangga responden memanfaatkan cahaya sinar matahari untuk penerangan ruangan pada siang hari di rumah, lalu isikan ke dalam kotak yang tersedia.
Ya, sebagian besar ruangan, jika separuh atau lebih jumlah ruangan memanfaatkan pencahayaan matahari;
Ya, sebagian kecil ruangan, jika satu ruangan hingga kurang dari separuh jumlah ruangan memanfaatkan pencahayaan matahari;
Tidak, jika tidak ada ruangan yang memanfaatkan pencahayaan sinar matahari.
Rincian 5 : Apakah rumah tangga menanam/memelihara tanaman keras/tahunan di rumah (seperti :pohon mangga, pohon jambu, ketapang, cemara dll) ?
Maksud dari pertanyaan ini untuk mengetahui adanya tanaman keras/tahunan yang ditanam/dipelihara rumah tangga. Pencacah sebaiknya melakukan pengamatan langsung selain menanyakan kepada responden. Lingkari kode 1 jika “ya” dan kode 2 jika “tidak”, lalu tuliskan ke dalam kotak yang tersedia. Tanaman tahunan adalah tanaman yang pada umumnya berumur lebih dari satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan lebih dari satu kali dan tidak dibongkar sekali panen. Dari beberapa jenis tanaman tahunan ada beberapa jenis tanaman yang tidak secara langsung berproduksi. Contoh tanaman tahunan : mangga, belimbing, kelapa, coklat, duren, karet, kelapa sawit, kopi, teh, lada, kenanga, pinang, aren, dll.
Pedoman Pencacahan SPPLH 2013 27
Rincian 6: Apakah terdapat sumur resapan, lubang resapan biopori, dan taman/tanah berumput di lingkungan rumah?
Tujuan pertanyaan ini adalah untuk mengetahui keberadaan area untuk resapan air utamanya air hujan, sehingga berguna untuk menambah cadangan air tanah. Lingkungan rumah adalah rumah dan pekarangannya. Lingkari keberadaan area resapan air menurut jenisnya. Isikan kode 1 jika “ya” dan kode 2 jika “tidak”.
Sumur resapan adalah sumur yang dirancang untuk menyerap air hujan. Sumur ini biasanya berkedalaman 1½ - 2 m dan secara kasat mata tidak dapat dilihat karena permukaannya tertutup. Untuk mempercepat penyerapan air hujan bagian dalam sumur biasanya diisi oleh batu pecah, bata merah, ijuk serta arang dimana batu disusun berongga. Untuk rumah yang memiliki talang air, air hujan dari talang air akan dialirkan ke sumur melalui pipa. Sementara untuk rumah yang tidak memiliki talang air, maka sumur berada di bawah taman/parit. Jadi, sumur resapan yang dimaksud bukan untuk menyerap air limbah dari septic tank. Sumur resapan biasanya berjarak minimal 5 meter dari septik tank. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini;
Gambar 3.3. Sumur resapan
Lubang resapan biopori adalah lubang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan kedalaman 30 sampai 100 cm dan biasanya ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya, sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah atau tumbuhan di sekitarnya. Selain itu, lubang resapan biopori juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan. Lubang resapan biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai;
28 Pedoman Pencacahan SPPLH 2013 Taman/tanah berumput adalah area resapan berupa taman atau tanah berumput yang memungkinkan terjadinya resapan seperti lapangan rumput dan grass block. Taman adalah sebuah tempat yang terencana atau sengaja direncanakan dibuat oleh manusia, biasanya diluar ruangan, dibuat untuk menampilkan keindahan dari berbagai tanaman. Jika taman sudah disemen dan tidak memungkinkan penyerapan air, maka tidak termasuk dalam kategori ini;
Grass block adalah paving block yang ditengah-tengahnya terdapat lubang untuk tanah sehingga dapat ditumbuhi oleh rumput seperti tampak pada gambar di bawah ini. Harus dipastikan bahwa lapisan dasar grass block tidak disemen.
Gambar 3.5 Grass block
Catatan:
Area resapan air yang berupa taman atau tanah berumput harus ditumbuhi tanaman baik sengaja maupun tidak sengaja ditanam.