Transisi demografi yang telah berproses sejak beberapa tahun lalu yang dipercepat oleh suksesnya program pengendalian penduduk yang mengakibatkan turunnya angka kelahiran dan meningkatnya kualitas kesehatan, telah mendorong bentuk piramida penduduk Indonesia membengkak di tengah. Struktur umur penduduk Indonesia berubah, menjadi didominasi oleh penduduk usia produktif 15 – 64 tahun, sementara penduduk usia 15 tahun ke-bawah dan diatas 64 tahun menjadi sedikit. Lebih banyaknya jumlah penduduk usia produktif dibandingkan penduduk usia non produktif di Indonesia mulai terlihat pada tahun 2015, dan pada tahun 2020-2030 nanti diperkirakan Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta penduduk usia produktif, dan sekitar 80 juta penduduk usia non produktif.
Jhon C, Bluedom dalam presentasinya mengatakan bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, sangat erat kaitannya dengan peran angkatan kerja muda usia 15-24 tahun. Penduduk pada usia ini dianggap sebagai penduduk dengan usia yang paling produktif, sehingga jika keberadaan mereka didukung penuh oleh kebijakan pemerintah yang fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti peningkatan kompetensi angkatan kerja muda melalui pendidikan dan pelatihan, peningkatan kualitas kesehatan mereka, perbaikan pasar kerja dan investasi, mereka akan menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi bangsa yang cukup baik. Bahkan menurut pandangan beberapa ahli, bahwa sekitar 30% pertumbuhan ekonomi yang terjadi merupakan kontribusi dari bonus demografi.
Indonesia, pada tahun 2018 memiliki sekitar 43.970.646 orang Penduduk Usia Kerja (PUK) Muda, dimana ada sekitar 20.829.815 orang yang dikategorikan sebagai Angkatan Kerja (AK) Muda dan 23.140.831 sisanya Bukan Angkatan Kerja (BAK) Muda.
Penduduk Usia Kerja Muda di Indonesia relatif mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari peningkatan PUK Muda pada tahun 2018 yang mengalami peningkatan sebanyak 118.008 jiwa jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 43.852.638 jiwa. Jumlah ini dapat terus meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2035. Hal ini tentu merupakan tantangan bagi pemerintah untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Pengelolaan dan pemberdayaan yang tepat pada kondisi tersebut tentu akan sangat menguntungkan bagi
LAVENTA
66 | P a g e perkembangan negara indonesia, salah satunya dalam hal ketersediaan tenaga kerja yang melimpah, terampil, dan berkompetensi, sehingga memiliki daya saing yang tinggi dalam pasar kerja Indonesia maupun Internasional.Peningkatan jumlah PUK Muda tidak selalu diiringi oleh peningkatan jumlah AK Muda di Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya penurunan jumlah AK Muda pada tahun 2018 sebanyak 1.036.580 orang (4,7%) jika dibandingkan dengan jumlah AK Muda pada tahun 2017 yang berjumlah 21.866.395 orang. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2018, secara umum karakteristik AK Muda di Indonesia didominasi oleh AK berjenis kelamin pria, dengan persentase 61% Pria dan 39% Wanita. Selain itu, AK Muda pun didominasi oleh masyarakat yang berasal dari perkotaan, dengan persentase 55% berasal dari perkotaan dan 45% berasal dari pedesaan. Lalu jika ditinjau dari tingkat pendidikan terakhir yang diperoleh, AK Muda di Indonesia didominasi oleh penduduk dengan pendidikan terakhir SMU dan SMK, dengan persentase lulusan SMU dan SMK masing-masing 26%, SMP 23%, <=SD 17%, >=S1 6%, dan Diploma/Akademi 2%. Selain itu, AK Muda Indonesia didominasi oleh penduduk berusia 20 – 24 tahun, dengan persentase 70% penduduk berusia 20 – 24 tahun dan 30% penduduk berusia 15 – 19 tahun.
Jumlah AK Muda akan berpengaruh pada nilai TPAK Muda yang merupakan nilai yang menggambarkan besaran beban pasar kerja di Indonesia. Besar nilai TPAK Muda pada tahun 2018 sebesar 47%. Nilai tersebut menyatakan bahwa secara nasional terdapat 47% dari total PUK Muda yang menjadi beban pasar kerja Indonesia atau dengan kata lain menjadi penduduk yang telah memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak penduduk berusia muda (15 – 24 tahun) di Indonesia yang lebih memilih untuk menjadi pekerja muda di Indonesia. Pengelolaan dan pemberdayaan yang baik akan hal tersebut dapat menjadi potensi bangsa Indonesia dalam memiliki tenaga kerja yang terampil, kompeten, berdaya saing tinggi, serta memiliki fisik yang lebih bugar, sehat, dan kuat jika dibandingkan degan negara lain yang hanya memiliki tenaga kerja yang tergolong berusia dewasa atau bahkan tua.
Jumlah AK Muda di Indonesia terdiri dari Penduduk Yang Bekerja (PYB) dan penduduk yang berstatus sebagai Pengangguran Terbuka (PT). Jumlah PYB dan PT dari AK Muda pada tahun 2018 secara berurutan sebanyak 16.729.540 orang (80%) dan
LAVENTA
67 | P a g e 4.100.275 orang (20%). Nilai PYB pada angkatan muda berpengaruh pada nilai TKK angkatan muda yang merupakan nilai yang menggambarkan persentase besarnya angkatan kerja muda yang terserap oleh pasar kerja atau telah memiliki pekerjaan. Nilai TKK angkatan muda di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 80%. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa secara nasional sekitar 80% dari total AK Muda sudah terserap di pasar kerja dan berstatus sebagai pekerja. Hal ini dapat dinilai cukup baik karena hampir seluruh AK Muda di Indonesia dapat memiliki pekerjaan, meskipun nilai TKK ini mengalami penurunan sebesar 5% jika dibandingan dengan nilai TKK pada tahun 2017 yang bernilai 85%.Lalu jumlah nilai PT pada angkatan muda akan berpengaruh pada nilai TPT angkatan muda yang merupakan nilai yang menggambarkan persentase besarnya residu/sisaan angkatan kerja muda yang tidak terserap oleh pasar kerja. Nilai TPT angkatan muda di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 20%. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa secara nasional sebesar 20% dari total AK Muda tidak terserap di pasar kerja dan berstatus sebagai Pengangguran Terbuka. Nilai TPT ini mengalami peningkatan sebesar 5% jika dibandingan dengan nilai TPT pada tahun 2017 yang bernilai 15%. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal, seperti kurangnya kompetensi kerja angkatan muda, ketidaksesuaian kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan perusahaan, persaingan yang semakin tinggi setiap tahunnya karena terus bertambahnya jumlah penduduk, ketidakmampuan penyesuaian diri dengan perkembangan teknologi, dan lain sebagainya.
Berdasarkan pembagian wilayah administrasi pada tingkat provinsi, provinsi dengan nilai TPAK tertinggi pada tahun 2018 adalah provinsi Sumatera Utara dan Papua dengan nilai TPAK sebesar 55%. Hal ini mengindikasikan bahwa di kedua provinsi tersebut banyak terdapat pekerja muda yang sudah memiliki pekerjaan atau masih berupaya memperoleh pekerjaan, selain itu masih banyak penduduk yang lebih memilih untuk bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan tingkat SMA keatas. Nilai TPAK tertinggi pada tahun 2018 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan nilai TPAK tertinggi pada tahun 2017 sebesar 4% yang bernilai 59% pada provinsi Kepulauan Riau. Lalu provinsi dengan nilai TPT tertinggi dan terendah secara berurut adalah provinsi Banten dengan nilai TPT sebesar 29% dan provinsi Bali dengan nilai TPT sebesar 7%. Hal ini mengindikasikan bahwa pada provinsi Banten masih terdapat 29% penganggur,
LAVENTA
68 | P a g e sedangkan pada provinsi Bali masih terdapat 9% penganggur, dan sisanya telah memperoleh pekerjaan. Nilai TPT tersebut dapat dinilai cukup baik karena jumlah pengangguran usia muda kurang dari sepertiga bagian jumlah angkatan kerja muda di setiap provinsi, meskipun hal tersebut tetap perlu mendapat perhatian dari pemerintah untuk meminimalisir hal tersebut.Berdasarkan jenis kelamin, nilai TPAK tertinggi dimiliki oleh penduduk usia kerja muda (15 – 24 tahun) berjenis kelamin pria dengan nilai 57%, sedangkan wanita hanya 38%. Hal ini menggambarkan bahwa pekerja muda di Indonesia lebih didominasi oleh pekerja muda berjenis kelamin pria. Lalu untuk nilai TPT tertinggi dimiliki oleh penduduk usia kerja muda berjenis kelamin wanita dengan nilai 20%, sedangkan pria bernilai 19%. Berdasarkan nilai TPT tersebut dapat diketahui bahwa tingkat penyerapan angkatan kerja muda berjenis kelamin pria lebih banyak diterima dalam pasar kerja dibandingan dengan wanita. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal, seperti anggapan bahwa kekuatan fisik pria lebih baik dibandingkan wanita dalam bekerja, adanya pemikiran tabu untuk mempekerjakan wanita dibeberapa jenis pekerjaan, diskriminasi antara pria dan wanita, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, jika ditinjau berdasarkan lingkungan daerah asal, nilai TPAK tertinggi dimiliki oleh penduduk usia kerja muda (15 – 24 tahun) yang berasal dari daerah pedesaan dengan nilai 49%, sedangkan yang berasal dari perkotaan 46%. Lalu untuk nilai TPT tertinggi dimiliki oleh penduduk yang berasal dari perkotaan dengan nilai 22% dan nilai TPT terendah dimiliki oleh penduduk yang berasal dari pedesaan dengan nilai 16%. Berdasarkan nilai TPAK dapat diketahui bahwa secara nasional jumlah angkatan kerja muda yang berasal dari pedesaan lebih banyak tersedia dibandingkan yang berasal dari perkotaan. Selain itu berdasarkan niali TPT, tingkat penyerapan angkatan kerja muda yang berasal dari pedesaan lebih banyak diterima dalam pasar kerja dibandingan dengan yang berasal dari pekotaan. Hal ini dapat terjadi salah satunya karena masyarakat di lingkungan pedesaan cenderung lebih memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan. Selain itu masyarakat yang berasal dari pedesaan cenderung lebih mudah menerima berbagai jenis pekerjaan jika dibandingkan dengan penduduk yang berasal dari perkotaan yang cenderung lebih memilih – milih pekerjaan.
LAVENTA
69 | P a g e Lalu berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh para PUK Muda, nilai TPAK tertinggi dimiliki oleh penduduk usia kerja muda (15 – 24 tahun) dengan tingkat pendidikan terakhir minimal sarjana (S1) dengan nilai TPAK 80%, sedangkan nilai TPAK terendah dimiliki oleh penduduk usia kerja muda dengan tingkat pendidikan terakhir SMP dengan nilai TPAK 28%. Lalu untuk nilai TPT tertinggi dimiliki oleh penduduk usia kerja muda dengan tingkat pendidikan terakhir minimal S1 dan TPT terendah dimiliki oleh penduduk usia kerja muda dengan tingkat pendidikan terakhir SD ke bawah. Berdasarkan TPAK, dapat diketahui bahwa hapir seluruh lulusan minimal S1 sudah masuk ke dalam pasar kerja, baik telah memperoleh pekerjaan atau masih mencari pekerjaan. Lalu berdasarkan nilai TPT, dapat diketahui bahwa tingkat penyerapan angkatan kerja muda yang berpendidikan terakhir SD lebih banyak diterima dalam pasar kerja dibandingan dengan yang berpendidikan terakhir minimal S1. Hal ini dapat terjadi salah satunya karena masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung lebih mudah dalam mengambil pekerjaan apapun. Sedangkan penduduk yang berpendidikan minimal S1, cenderung lebih selektif dalam memilih pekerjaan, baik karena kompetensi yang dimiliki maupun karena rasa kurang percaya diri apabila diterima di perusahaan kecil, selain itu hal tersebut dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan dalam pasar kerja.Apabila ditinjau dari sisi kelompok umur, dapat diketahui bahwa nilai TPAK tertinggi berada pada kelompok umur 20 – 24 tahun dengan nilai 67%, sedangkan kelompok umur 15 – 19 tahun 28%. Lalu untuk nilai TPT tertinggi berada pada kelompok umur 15 – 19 tahun dengan nilai TPT sebesar 27%, sedangkan kelompok umur 20 – 24 tahun sebesar 17%. Berdasarkan nilai TPAK dapat diketahui bahwa kelompok umur 20 – 24 tahun mayoritas ikut menjadi bagian pasar kerja Indonesia, sedangkan sisanya tidak ikut menjadi bagiandari pasar kerja, baik karena kecukupan ekonomi keluarga, menikah (menjadi ibu rumah tangga), atau memang tidak ingin/tidak mau bekerja karena hal – hal tertentu. Sedangkan unttuk kelompok umur 15 – 19 tahun mayoritas tidak ikut menjadi bagian pasar kerja Indonesia dan hanya 28% yang ikut pasar kerja. Hal ini dapat terjadi karena pada usia 15 – 19 tahun termasuk usia sekolah SMU/SMK, sehingga kemungkinan besar mayoritas usia 15 – 19 tahun lebih memilih bersekolah dibandingkan bekeja. Lalu berdasarkan nilai TPT, penduduk berusia