• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ojek Online, Solusi Kerja Masa Kini!

Meningkatnya angka pengguna internet di Indonesia saat ini menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia telah memasuki era digital bahkan telah merambah dalam berbagai aspek kehidupannya. Peningkatan angka pengguna internet ini cukup signifikan selama 5 tahun terakhir. Berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bahwa pada tahun 2018, tercatat lebih dari 50% penduduk Indonesia atau sekitar 132.7 juta orang telah terhubung dengan jaringan internet. Sementara jumlah pengguna smartphone mencapai angka yang lebih tinggi, yaitu sebesar 177.9 juta orang.

Kondisi tersebut mendukung pemunculan berbagai aplikasi/platform berbasis smartphone yang mengharuskan penggunanya terhubung dengan internet. Salah satunya adalah platform ride-sourcing, yang banyak digunakan oleh Transportation Network Companies (TNC) atau perusahaan yang bergerak dibidang ride-sourcing, untuk menghubungkan antara pengguna jasa dan pengendara, seperti Grab, Uber, dan TNC lokal yaitu Go-Jek, serta TNC regional yaitu Ojek Syar’i.

Berbeda dengan negara lain, TNC di Indonesia juga melibatkan kendaraan roda dua. Keberadaan transportasi online roda dua atau ojek online di Indonesia ini cukup membantu khususnya sebagai alat transportasi untuk menghindari kemacetan, yang biasanya sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Serang, Surabaya dan Semarang. Dengan ukurannya yang lebih kecil dibandingkan dengan moda transportasi online lainnya, ojek online dapat melintasi jalur-jalur sempit di sela-sela kemacetan. Ojek online juga dapat melintasi pemukiman padat penduduk yang tidak dapat dilintasi langsung oleh alat transportasi lainnya.

Semula adalah Ojek Konvensional, dimana jika kita ingin memesan ojek, dapat menghampirinya secara langsung dipangkalan, lalu memberitahu lokasi tujuan dan terjadi tawar-menawar tarif. Seiring dengan berkembangnya teknologi dan internet, Ojek Konvensional ini mengalami banyak perubahan dan perkembangan. Hadirnya berbagai aplikasi berbasis smartphone yang mewajibkan penggunanya terhubung dengan Internet, kita dapat memesan ojek kapan saja dan dimana saja kita berada.

LAVENTA

55 | P a g e Terlihat secara jelas perbedaan cara ojek untuk mendapatkan pelanggannya. Cara semacam ini dikenal dengan Ojek Online.

Pada tahun 2018, berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional 2018 (oleh Badan Pusat Statistik), jumlah pengendara ojek Online di Indonesia mencapai 572.202. Dilihat dari karakteristiknya, sangat beragam, baik dari komposisi jenis kelamin pengendara, jumlah pengendara di provinsi-provinsi di Indonesia, daerah tempat tinggal dan jumlah jam kerja dalam 1 minggu.

Dilihat dari komposisi jenis kelamin, kesempatan kerja TNC terbuka lebar baik untuk laki-laki maupun wanita. Anggapan bahwa pria merupakan pencari nafkah keluarga di Indonesia, sehingga lebih banyak ditemukan sebagai pengendara ojek online dibandingkan wanita masih mewarnai karakteristik ojek online berdasarkan komposisi jenis kelamin pengendara. Namun anggapan bahwa pekerjaan sebagai pengendara hanya dilakukan oleh pria saja, ternyata kurang tepat. Karena dari data yang diolah, terdapat pengendara ojek online dari kalangan wanita, meskipun hanya sebanyak 5% dari total jumlah pengendara ojek online di Indonesia.

Berdasarkan sebaran daerah operasi ojek online, jumlah pengendara ojek online terbanyak berada di pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Penyebaran operasi ojek online yang dominan di kota-kota besar di pulau Jawa tersebut, karena selain merupakan kota yang menjadi tempat pertama kali ojek Online di pasarkan ke masyarakat, sehingga sudah lebih dulu banyak mendapatkan pengendara, juga karena tingkat kebutuhan masyarakat menggunakan ojek online juga tinggi dibandingkan dengan daerah lain.

Dilihat dari tempat tinggal, data menginformasikan bahwa pengendara ojek online tidak hanya bertempat tinggal di perkotaan, tapi juga ada yang tempat tinggalnya di pedesaan. Hal ini mengindikasikan bahwa TNC pun sudah ikut membangun lapangan pekerjaan yang cukup luas, hingga wilayah pedesaan, meskipun pengendara yang bertempat tinggal di wilayah pedesaan masih tergolong jauh lebih sedikit dibandingkan pengendara di perkotaan. Pengendara yang bertempat tinggal di perkotaan memiliki persetanse sebesar 92.73%, sedangkan sisanya 7.27% bertempat tinggal di pedesaan. Adalah sangat wajar, selain karena kebutuhan dan pasar ojek online lebih tersebar di perkotaan sehingga mendorong terciptanya kesempatan kerja yang sangat menjanjikan bagi penganggur di perkotaan bahkan bagi pekerja lainnya

LAVENTA

56 | P a g e sebagai pekerjaan tambahan, juga disinyalir penduduk wilayah pedesaan lebih cenderung untuk memilih pekerjaan di bidang lain, seperti dalam bidang pertanian. Faktor penunjang penggunaan teknologi smartphone seperti jaringan konektivitas mungkin juga menjadi penyebab minimnya pengendara ojek online yang tinggal di pedesaan.

Dilihat dari jam kerjanya, pengendara ojek online, baik yang menjadikan profesi ojek online sebagai pekerjaan utama maupun tambahan, bekerja dengan jumlah jam kerja yang sangat beragam, mulai kurang dari 1 jam hingga lebih dari 60 jam dalam 1 minggu. Mereka yang bekerja dengan total jam kerja lebih dari 60 jam seminggu ternyata lebih banyak, yaitu sekitar 37,56%. Mungkinkah pekerjaan sebagai pengendara ojek online menjadi media yang sangat menjanjikan untuk mendapatkan penghasilan, terutama bagi para penganggur?. Ataukah jumlah kebutuhan menggunakan ojek online lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pengendara ojek online, sehingga jumlah jam kerja pengendara ojek online melebihi total jam kerja selama 1 minggu yang ideal, yaitu sekitar 40 jam kerja?. Atau karena fleksibilitas pekerjaan ini, yang membuat para pengemudi ojek online ini menikmati pekerjaan mereka sebagai “tukang ojek”, karena memang pekerjaan sebagai pengendara ojek online sangat fleksibel dengan latar belakang pendidikan, usia, jenis kelamin, status perkawinan, sudah memiliki pekerjaan atau belum, ataupun kondisi daerah pengendara ojek online mencari pelanggan. Banyak hal yang bisa digunakan sebagai penjelasan lebih lanjut dari jam kerja pengendara online yang melebihi 60 jam selama 1 minggu ini. Namun, ketersediaan teknologi yang memudahkan mendapatkan penumpang yang secara bersamaan penumpang juga mendapatkan kemudahan untuk melakukan aktivitasnya, disinyalir merupakan faktor kunci yang membuat pekerjaan sebagai pengendara ojek online sangat dinikmati. Kecanggihan alat komunikasi yang dimiliki dan motivasi didalam diri masing-masing pengendara untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi juga membuat mereka menikmati bekerja hingga 60 jam lebih dalam waktu satu minggu. Bahkan, ada seorang pengendara asal Makassar yang bekerja selama 18 jam sehari, ia mampu membangun sebuah rumah mewah dan sekarang memiliki kos-kosan 2 lantai. It’s a wow!

Fleksibilitas yang ditawarkan oleh penyedia jasa ojek online tentunya membuat para pengendara ojek online lebih leluasa untuk mengatur jam bekerja mereka

masing-LAVENTA

57 | P a g e masing. Tidak semua pengendara ojek online menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama, namun tidak sedikit juga yang menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama. Pengendara dapat mengatur jam kerja sebisa mungkin, sehingga tidak menimbulkan rasa bosan dan jenuh dengan jam kerja yang monoton. (M Zaini)

LAVENTA

59 | P a g e

Dokumen terkait