Undang-undang No.10 tahun 1995 tentang Kepabean dalam Bab X “Larangan dan Pembatasan Impor atau Ekspor serta Pengendalian Impor atau Ekspor Barang Hasil Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual. Pejabat Bea dan Cukai memperoleh kewenangan untuk menyita barang-barang dari pabean Indonesia diatur dalam Pasal 54 sampai dengan Pasal 64.
Atas permintaan pemilik atau pemegang hak atas Merek atau Hak Cipta, ketua Pengadilan Negeri setemat dapat mengeluarkan perintah tertulis kepada Bea dan Cukai untuk menangguhkan sementara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor dari kawasan Pabean yang berdasarkan bukti yang cukup, diduga merupakan hasil perlanggaran Merek dan Hak Cipta yang dilindungi di Indonesia.
Penangguhan pengeluaran barang dilaksanakan untuk jangka waktu paling lama sepuluh (10) hari kerja. Jangka waktu sepuluh (10) hari kerja tersebut disediakan untuk memberi kesempatan kepada pihak yang meminta penangguhan agar segera mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan haknya sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Jangka waktu ini, berdasarkan alasan dan dengan syarat tertentu dapat diperpanjang satu kali untuk paling lama sepuluh (10) hari kerja dengan perintah tertulis Ketua Pengadilan Negri Setempat.
Permintaan penangguhan sementara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor dari Kawasan Pabean diajukan dengan disertai:
a. Bukti yang cukup mengenai adanya pelanggaran Merek yang bersangkutan; b. Bukti pemilikan Merek yang bersangkutan;
c. Perincian dan keterangan yang jelas mengenai barang impor atau ekspor yang dimintakan penangguhan pengeluarannya, agar dengan cepat dapat dikenali oleh Pejabat Bea dan Cukai; dan
Kelengkapan bahan-bahan sebagaimana disebutkan di atas sangat penting, karena itu kelengkapannya bersifat mutlak. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan penggunaan ketentuan ini dalam praktek dagang yang justru bertentangan dengan tujuan pengaturan untuk mengurangi atau meniadakan perdagangan barang-barang hasil pelanggaran Merek. Praktek dagang serupa itu, kadangkala silakukan sebagai cara melemahkan atau melumpuhkan pesaing yang pada akhirnya tidak menguntungkan bagi perekonomian pada umumnya. Oleh karena itu, keberadaan jaminan yang cukup nilainya memiliki arti yang penting setidaknya karena tiga hal, sebagai berikut:
a. Melindungi pihak yang diduga melakukan pelanggaran dari kerugian yang tidak perlu;
b. Mengurangi kemungkinan berlangsungnya penyalahgunaan hak; dan
c. Melindungi Pejabat Bea dan Cukai dari kemungkinan adanya tuntutan ganti rugi karena dilaksanakannya perintah penangguhan.
Ketentuan-ketentuan mengenai Border Measurer diatur dalam Persetujuan TRIPs yang menjadi payung dari konvensi-konvensi atau traktat internasional di bidang Hak ekayaan Intelektual. Ketentuan-ketentuan yang mengatur hal ini dalam Persetujuan TRIPs terdapat dalam Pasal 51, Pasal 54, Pasal 53, Pasal 56, Pasal 57 dan Pasal 6
N. KETENTUAN PIDANA
Pelanggar UUM dapat dituntut oleh negara berdasarkan hukum pidana dengan cara pihak yang dirugikan mengajukan laporan adanya tindak pidana merek.Pengajuan laporan selain kepada Kepolisian sebagai penyidik utama, dapat juga dilaporkan kepada PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil).Penyidikan ini bukan merupakan delik biasa tetapi merupakan delik aduan
1. pasal 90 UUM
Dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan atau jasa sejenis yang dipro- duksi dan / diperdagangkan dipidana paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
Kasus tentang pelanggaran merek yang persamaan pada keseluruhannya dimana Pengadilan Niaga Jakarta Pusat melalui Putusan No.09/Merek/2001/PN Niaga.Jkt.Pst telah
mengadili Morgan S.A sebagai pemilik merek dagang “MORGAN” (kelas barang 25) sebagai penggugat melawan Fong Sui Pau yang mendaftarkan dan menggunakan merek dagang “MORGAN” (kelas barang 14) dan Dirjen HAKI yang telah menerima dan menerbit- kan hak melalui pendaftaran merek tersebut.
Dalam dasar pertimbangan hukumnya, pengadilan niaga menyatakan bahwa merek “MORGAN” adalah merupakan merek terkenal dan oleh karena itu pula pengadilan memutuskan membatalkan merek “MORGAN” yang didaftarkan oleh pihak Fong Sui Pau (sebagai tergugat).
2. pasal 91 UUM
Dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada pokoknya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan atau jasa sejenis yang dipro- duksi dan / diperdagangkan dipidana paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak Rp.800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah)
Kasus tentang pelanggaran merek yang persamaan pada pokoknya, diputus oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat melalui Putusan Nomor 01/Merek/2001/PN.Niaga/Jkt.Pst, pihak-pihak yang bersengketa adalah PT Lautan Luas TBK, sebagai pemakai pertama dari merek dagang “Lautan Luas” dan Logo “TLT” dengan lukisan “Matahari Terbit” melawan Utaya Yososudarmo yang mendaftarkan merek “SUNSEA BRAND” dengan menggunakan logo “LTL” dan lukisan “Matahari Terbit”.Pengadilan memutuskan bahwa merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya dan keduanya digunakan untuk barang sejenis dalam kelas I. Tergugat dinyatakan beriktikad tidak baik dan karena itu merek milik tergugat dibatalkan.
3. pasal 92 (1) UUM
Dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang sama pada keseluruhannya dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
4. pasal 92 (2) UUM
Dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang sama pada pokoknya dengan indikasi geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan
barang yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak Rp.800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah)
5. pasal 92 (3) UUM
Terhadap pencantuman asal sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran ataupun pencantuman kata yang menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan tiruan dari barang yang terdaftar dan dilindungi berdasarkan indikasi geografis, diberlakukan ketentuan ayat 1,2
6. pasal 93 UUM
Dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang dilindungi berdasarkan indikasi asal pada barang atau jasa sehingga dapat memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai asal barang atau asal jasa tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak Rp.800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah)
7. pasal 94
Barang siapa yang memperdagangkan barang dan atau jasa yang diketahui atau patut diketahui bahwa barang dan atau jasa tersebut merupakan hasil pelanggaran, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp.200.000.000 (dua ratus juta rupiah)
Tindak pidana yang dimaksud diatas merupakan delik aduan
O. PELANGGARAN MEREK
1. Praktek peniruan merek dagangPengusaha yang beriktikad tidak baik tersebut dalam hal persaingan tidak jujur semacam ini berwujud penggunaan upaya-upaya atau ikhtiar-ikhtiar mempergunakan merek dengan meniru merek terkenal yang sudah ada sehingga menimbulkan kesan kepada khalayak ramai seakan-akan barang atau jasa yang diproduksinya itu sama dengan produksi barang ataujasa yang sudah terkenal itu. Misalnya sabun mandi
lux dikenal oleh masyarakat ada pengusaha yang memproduksi sabun mandi merek lax, tentunya
2. Praktek pemalsuan merek dagang
Pengusaha yang tidak beriktikad baik dengan cara memproduksi barang-barang dengan mempergunakan merek yang sudah dikenal secara luas di dalam masyarakat yang bukan merupakan haknya.
3. Perbuatan-perbuatan yang dapat mengacaukan publik berkenaan dengan sifat dan asal usul merek.Apabila pengusaha mencantumkan keterangan tentang sifat dan asal-usul barang yang tidak sebenarnya, untuk mengelabui konsumen, seakan-akan barang tersebut memiliki kualitas yang baik karena berasal dari daerah penghasil barang yang bermutu misalnya mencantumkan keterangan made in England padahal tidak benar produk itu berasal dari Inggris