RH – VACUUM DEGASSING
PT KRAKATAU STEEL
A. Bridge Crane
Bridge crane adalah alat untuk mengangkat dan memindahkan seluruh
peralatan ataupun material yang digunakan untuk keperluan produksi maupun perawatan di dalam suatu pabrik. Peranan dari alat ini sangat penting dikarenakan kemampuannya untuk mengangkat dan memindahkan benda yang mempunyai massa sangat besar.
Pada umumnya suatu crane memiliki tiga gerak operasi (gerak naik-turun, memanjang, dan melintang). Melihat suatu fungsi yang dimiliki suatu
crane, maka peralatan ini banyak dijumpai pada pabrik baja baik
dimanfaatkan sebagai crane produksi, crane maintenance, atau crane produksi maintenance.
B. Kapasitas Crane
Untuk mendapatkan kondisi crane yang selalu siap pakai serta umur yang lebih panjang maka selain perencanaan dan pembuatan crane yang benar (yang telah disesuaikan dengan besar beban, frekwensi pemakaian, dan lingkungan operasinya), harus ditunjang pula dengan perawatan yang teratur, cermat, dan pengoperasian crane dengan benar (baik arah pengangkatan, kecepatan gerak pengoperasian, maupun jumlah beban yang diangkat).
Perlu digaris bawahi bahwa untuk menghindari terjadinya kecelakaan maupun kerusakan yang lebih awal (umur pendek) pada bagian-bagian crane, maka jumlah beban yang diangkat merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam mengoperasikan crane. Oleh karena itu, pada setiap
crane selalu tertulis kapasitas maksimum yang boleh diangkat oleh crane
maksimum dibawah/yang terkait hook yang boleh diangkat. Jadi tegasnya didalam operasi crane hanya boleh dibebani sampai dengan kapasitas maksimumnya saja.
Kapasitas maksimum ini boleh/dapat dilewati hanya untuk keperluan tes beban lebih (overload test), dimana tes ini hanya bila crane mengalami modifikasi yang berat atau tes yang dilakukan oleh pihak yang berwenang. C. Overhead Travelling Crane
Crane yang banyak digunakan di PT Krakatau Steel adalah jenis over head travelling crane karena frequensi pemakaian tinggi. Setiap bridge crane
dari SSP I pada umumnya terdiri dari:
1. Long travel mekanisme
Long travel mekanisme merupakan bagian dari crane yang
memungkinkan dapat bergerak sesuai jalur yang ditentukan. Long travel berfungsi mengantarkan beban yang diangkat untuk berjalan secara
horizontal searah dari panjang pabrik. Peralatan penggerak (drive wheel)
yang terdapat dalam long travel mekanisme ini adalah motor listrik sebagai penggerak, kopling gesek, brake mekanis, gearbox, cardan shaft,
guide roll, dan roda. Setiap crane terdiri dari dua buah peralatan
penggerak dan dua buah peralatan non penggerak (non drive wheel) 2. Trolley travel mekanisme
Trolley travel merupakan bagian dari crane yang dapat bergerak
diantara dua jembatan crane. Jembatan crane ini melintang tegak lurus terhadap panjang pabrik. Jembatan crane ini terdapat rails yang memungkinkan trolley travel dapat melintasinya. Trolley travel ini terdapat empat buah roda dengan dua buah roda penggerak dan dua buah roda non gerak (non drive wheeel). Peralatan penggerak yang terdapat dalam trolley travel mekanisme ini hampir sama dengan penggerak long
travel yaitu motor listrik, kopling, brake mekanis, gearbox, universal
(cardan) shaft, dan roda. Roda pada trolley travel tidak membutuhkan
3. Main Host
Main host merupakan peralatan dalam crane yang berfungsi untuk
mengangkat beban secara vertikal. Beban yang dapat diangkat pada masing-masing crane berbeda kapasitasnya. Mekanisme yang digunakan adalah dengan menggunakan drum. Drum yang terpasang dikopel dengan motor listrik dengan perantara kopling dan gearbox sehingga dapat berputar searah putaran motor. Dalam drum dililiti oleh sling (wire rope) yang berfungsi sebagai tali penarik beban. Mekanisme pulley juga digunakan dalam pemasangan sling sehingga mempermudah daya angkat dari beban sendiri.
D. Jenis dan Fungsi Crane di SSP I
Di SSP1 terdapat 12 buah crane yang mempunyai daya angkat dan fungsi yang berbeda-beda.
1. Crane 901 ( Scrap Crane)
Digunakan untuk mengangkut scrap dari scrap field satu ke yang lain dan juga untuk mengisi scrap dari scrap field ke scrap bucket, mekanisme pengangkatan scrap menggunakan magnet, dapat mengangkut beban sampai 12 ton.
Gambar 5.1 Scrap crane 2. Crane 902 dan 903 (Charging Crane)
Berfungsi untuk mengangkut scrap bucket ke EAF yang akan digunakan untuk proses peleburan. Mekanisme pengangkatan material
menggunkan hook serta memiliki dua hoist yaitu 80 ton, 16 ton dan satu
monorails 5 ton.
3. Crane 904 dan 905 (Casting Crane)
Crane ini berfungsi untuk mengangkut ladle yang berisi baja cair
hasil peleburan yang selanjutnya akan diproses pada ladle furnace melalui
ladle transfer car. Sama seperti crane 902 dan 903 yang menggunakan hook untuk mengangkat benda. Memiliki dua hoist yaitu 220 ton, 55 ton,
dan monorails 5 ton. 4. Crane 906 dan 907
Crane ini digunakan pada ladle turret dan continous casting untuk
mengangkut ladle yang telah kosong dan juga untuk mengangkut ladle yang akan di-preheating sebelum penuangan dari EAF. Memiliki dua
hoist yaitu 10 ton dan 25 ton.
5. Crane 908
Digunakan untuk perawatan pabrik SSP I, berbeda dengan yang lain crane ini tidak terdapat kabin untuk operator. Dapat mengangkat beban hingga 25 ton.
6. Crane 909, 910, 911, 912 ( Slab Hadling Crane)
Crane ini berfungsi mengangkat baja slab yang dihasilkan mesin continous casting untuk dipindahkan ke tempat penyimpanan. Untuk hoist
50 ton memakai mekanisme grape untuk mengangkat beban, magnet digunakan pada hoist 36 ton dan hook digunakan untuk hoist 20 ton.
Crane ini juga dilengkapi dengan batrai cadangan.
E. Steel Wire Rope
Steel wire rope (tali kawat baja). Tali kawat baja atau sering disebut
dengan sling adalah bagian dari lifting equipment yang umurnya relatif paling pendek karena selain faktor lingkungan juga dikarenakan bagian ini sering mengalami gesekan, tarikan serta bengkokan sekaligus. Jadi selain gesekan antara sling dengan equipment lainnya terjadi juga gesekan antar kawat dalam sling terutama pada bengkokan-bengkokan. Oleh karena itu pengamatan terhadap sling merupakan salah satu prioritas utama.
Mengingat kondisi tersebut maka untuk mendapatkan umur pakai tali kawat baja yang optimal, sangat ditentukan oleh parameter-parameter seperti pemilihan dan perawatan tali kawat baja yang disesuaikan dengan kondisi serta cara pengoprsiannya. Untuk mendapatkan gambaran yang luas sehhubungan dengan tali kawat baja, maka dapat diuraikan oleh hal-hal berikut:
1. Detail
Tali kawat baja tersusun atas sejumlah strand atau spiral rope yang dipilin dengan arah alur tertentu pada suatu core baik dari bahan
steel maupun fiber, dengan susunan sperti strand atau pilinan beberapa strand. Sedangkan strand atau spiral rope tersusun atas sejumlah kawat
baja yang dipiln dengan arah alur tertentu pada suatu center wire. 2. Design
Mencermati komponen-komponen yang menyusun tali kawat baja seperti gambar diatas, maka design tali kawat baja dapat mencakup elemen-elemen seperti berikut:
a. Material
Material wire tentu saja dari jenis baja dengan ductility yang cukup tinggi sehingga mampu dibentuk menjadi wire dengan diameter yang
relative sangat kecil melalui proces cold drawing. Salah satu faktor
yang paling penting dalam material adalah kekuatan tariknya (dalam bentuk wire), dimana dalam tali kawat baja dibentuk oleh wire dengan
kekuatan tarik minimal 1570 N/mm2 atau 1770 N/mm2 atau 1960 N/mm2.
b. Konstruksi
Jumlah dan susunan “wire dalam strand” maupun “strand dalam rope” mempunyai variasi yang sangat luas dengan masing-masing keuntungan dan kerugiannya. Diantara sekian banyak variasi (jumlah dan susunan) wire dalam strand dapat dicatat beberapa bentuk seperti berikut:
1) Berdasarkan jumlah lapisan lilitan wire dalam strand a) Single layer (7 wire)
b) Multi layer (≥ 19 wire)
2) Berdasarkan jumlah wire dalam satu strand a) 7 wire
b) 19 wire c) 35 wire d) 36 wire e) 37 wire
3) Berdasarkan susunan diameter wire dalam strand a) Standar, yaitu seluruh diameter wire sama
b) Filler, yaitu rongga diantara wire berdiameter besar diisi
dengan wire yang berdiameter lebih kecil c) Seale, yaitu diameter wire antar layer berbeda
d) Warington, yaitu diameter wire berselang-seling kecil besar
e) Warington seale, yaitu selain diameter wire berselang-seling
kecil besar, diameter antar layer juga berbeda
f) Filler seale, yaitu selain diameter wire berbeda antar layer,
rongga antar wire diisi dengan wire berdiameter lebih kecil Sedangkan jumlah dan susunan strand dalam rope dapat dikelompokkan berdasar:
a) Jumlah lapisan lilitan strand dalam rope (1) Single layer (6 atau 8 strand)
(2) multi layer (> 8 strand)
b) Jumlah strand dalam rope (1) 6 strand
(2) 8 strand (3) > 8 strand c. Arah Lilitan
Pada strand lilitan wire pada center wire dapat memiliki arah kanan atau arah kiri, dengan demikian juga pada tali kawat baja arah lilitan strand pada core dapat memiliki arah alur kanan atau kiri. Dengan demikian tali kawat baja dapat tersusun oleh arah alur strand kiri atau kanan dengan arah alur wire kiri atau kanan. Pada tali kawat baja dengan arah alur (strand kanan dan wire kanan) atau (strand kiri dan wire kiri) disebut langs lay rope, sedangkan pada tali kawat baja dengan arah alur (strand kanan dan wire kiri) atau (strand kiri dan
wire kanan) disebut ordinary lay rope.
Gambar 5.3 Konstruksi lilitan sling d. Preforming
Adalah suatu proses pada saat pembuatan rope yang diberikan pada finished rope untuk menahan posisi wire dan strand dalam rope, sehingga sifat wire atau strand yang cenderung lurus hilang. Dengan demikian meskipun tanpa diikat, pemotong rope tidak akan menyebabkan lilitan wire dan strand menjadi kendor. Sebagai konsekuensinya individual wire yang putus tidak akan keluar dari pilinan rope, hal demikian menuntut inspeksi terhadap kawat putus harus cermat karena relatif tidak kelihatan.
e. Tipe core
1) Berdasarkan material core dalam rope a) Fibre core
b) Steel core
2) Berdasarkan bentuk core dalam rope (untuk steel core) a) Berbentuk strand
b) Berbentuk Independent Wire Rope Core (IWRC) 3. Pemilihan Tali Kawat Baja
Dalam memilih rope harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi operasi, syarat-syarat untuk memilih rope yang baik adalah sebagai berikut:
a. Rope harus kuat, tahan terhadap beban maksimum yang ditentukan
oleh:
1) Ukuran rope (semakin besar diameter semakin kuat)
2) Grade wire (makin tinggi tegangan tarik wire rope makin kuat)
3) Tipe core (steel core lebih kuat dari fibre core)
b. Rope harus fleksibel, tahan terhadap bending fatigue yang ditentukan
oleh:
1) Ukuran wire (semakin kecil diameter semakin fleksibel)
2) Kombinasi arah lilitan (lang lay lebih fleksibel dari pada ordinary
lay)
3) Proses pembuatan (performed lebih fleksibel dibandingkan dengan
non preformed rope)
c. Rope harus tahan abrasi yang ditentukan oleh:
1) Ukuran wire pada layer terluar dalam strand (semakin besar diameter wire semakin tahan abrasi)
2) Kombinasi arah lilitan (lang lay lebih tahan abrasi daripada
ordinary lay)
d. Rope harus tahan distorsi dan perubahan bentuk yang ditentukan oleh:
1) Tipe core (IWRC lebih tahan distorsi daripada tipe core lainnya) 2) Konstruksi rope yang lebih kasar lebih tahan daripada yang halus
e. Rope harus tahan puntiran atau putaran yang ditentukan oleh:
1) Arah lilitan ordinary lay lebih tahan puntiran daripada lang lay 2) Konstruksi non rotating lebih tahan puntiran daripada konstruksi
lainnya
3) Tipe core IWRC lebih tahan puntiran daripada tipe core yang lain f. Rope harus tahan korosi yang ditentukan oleh:
1) Galvanis wire lebih tahan korosi daripada bright wire
2) Mutu pelumas juga dapat mencegah terjadinya korosi
g. Diameter rope, pengukuran rope diukur antara poin terlebar pada penampang rope, dengan demikian untuk rope dengan 6 strand dapat diukur dari 3 tempat terpisah.
h. Kekuatan rope, untuk perhitungan kasar yang cukup aman. Kekuatan tali kawat baja dapat dihitung dengan rumus:
T = 8 x D2
Dimana : T = Kekuatan tarik rope dalam ton D = Diameter rope dalam inchi
Sedang kekuatan yang sebenarnya dari tali kawat baja ditentukan oleh manufaktur, seperti ditunjukan pada sertifikat yang menyertai tali kawat baja tersebut.
i. Diameter wire, semakin kecil diameter wire semakin kuat dan fleksibel, tetapi semakin kurang tahan terhadap abrasi. Dengan demikian rope dengan diameter wire yang besar lebih tahan terhadap abrasi, distorsi, serta crushing sedangkan rope dengan diameter wire yang kecil relatif lebih tahan terhadap bending fatigue.