3 BCAS 2 1,722 4 BNIS 2 1,688 5 BRIS 2 2,587 6 BUKOPINS 2 2,490 7 BSMI 1 0,000 8 PANINS 2 1,545
Sumber: Data diolah (2016)
Berdasarkan tabel 14,terlihat jelas klaster-1 hanya beranggotakan satu bank yaitu PT. Bank Syariah Mega Indonesia, dan klaster-2 beranggotakan tujuh bank yaitu, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank Panin Syariah.
Diagram Matriks External Factor Evaluation (EFE)
Diagram matriks ini digunakan untuk mengetahui bank-bank mana saja yang termasuk ke dalam rasional dan rasional terbatas lebih khusus pada masing- masing jenis pembiayaannya. Berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia no 13/1/PB1/2011 batas minimum yang diatur untuk keuntungan pada bank syariah adalah sebesar 1,5% dan tingkat NPF maksimal 5% sebagai angka toleransi bagi kesehatan suatu bank. Dengan demikian, matriks untuk masing- masing pembiayaan dapat dilihat pada gambar 4.
26
*Merah: Murabahah; Biru: Mudharabah; Hijau: Musyarakah
Gambar 4 Diagram matriks EFE kerasionalitasan pembiayaan BUS Berdasarkan gambar 4, didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Kuadran I merupakan bank-bank yang termasuk ke dalam profil risiko rendah dengan tingkat imbal hasil yang tinggi (rasional terbatas). Berikut adalah bank- bank yang termasuk kedalam kuadran I.
27 Tabel 15 Bank-bank yang termasuk ke dalam profil risiko rendah dan tingkat
imbal tinggi untuk masing-masing jenis pembiayaan
Murabahah Mudharabah Musyarakah
BRIS BRIS PANINS BSM BSM BUKOPINS BSMI BCAS BCAS BCAS PANINS BRIS BNIS BUKOPINS
BMI BNIS PANINS
Sumber: Data diolah, 2016
2. Kudran II merupakan bank-bank yang termasuk kedalam profil risiko tinggi dengan tingkat imbal hasil tinggi (rasional). Berikut adalah bank-bank yang termasuk ke dalam kudran II.
Tabel 16 Bank-bank yang termasuk ke dalam profil risiko tinggi dan tingkat imbal tinggi untuk masing-masing jenis pembiayaan
Murabahah Mudharabah Musyarakah
BUKOPINS BSMI BSMI BMI BMI BSM
BNIS
Sumber: Data diolah, 2016
3. Kuadran III merupakan bank-bank yang termasuk kedalam profil risiko rendah dan tingkat imbal hasil yang rendah.
4. Kuadran IV merupakan bank-bank yang termasuk kedalam profil risiko tinggi namun tingkat imbal hasil yang rendah.
Pengujian hipotesis 3 dengan menggunakan analisis klaster didapatkan bahwa hanya satu bank yang berperilaku rasional dan tujuh bank yang berperilaku rasional terbatas. Adapun bank yang berperilaku rasional adalah PT. Bank Syariah Mega Indonesia. Hal ini dikarenakan PT. Bank Syariah Mega Indonesia selalu menjaga reputasinya sebagai bank yang berlandaskan pada prinsip syariah, yaitu dengan mengalokasikan pembiayaan bagi hasil (mudharabah dan musyarakah)
dalam jumlah yang besar dengan profil risiko yang besar dan tingkat imbal hasil yang besar. Selain itu, PT. Bank Syariah Mega Indonesia senantiasa memegang teguh prinsip kehati-hatian, serta menjunjung tinggi asas keterbukaan dan profesionalisme dalam melakukan kegiatan usahanya. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga reputasi bank yang telah berdiri selama 12 tahun. Sedangkan bank yang berperilaku rasional terbatas adalah PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank Mandiri Syariah. Diantara tujuh bank yang berperilaku rasional terbatas, sebagian besar bank-bank yang termasuk kedalam kelompok ini adalah bank yang baru berdiri sekitar tahun 2000an. Akibatnya, didapatkan profil risiko dan tingkat imbal hasil yang tidak simetri dalam pembiayaan yang dijalankan.
28
Risiko dan tingkat imbal hasil asimetriyang terdapat pada klaster 2, yaitu pada akad mudharabah, dimana memiliki profil risiko yang rendah dengan tingkat
imbal hasil tinggi. Bank-bank tersebut adalah PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank Panin Syariah. Namun, jika dilihat lebih seksama, hanya terdapat lima bank yang memiliki
asymmetric risk-return pada akad mudharabah, yaitu PT. Bank BCA Syariah, PT.
Bank BNI Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank Panin Syariah dengan risiko masing-masing pada bank tersebut yaitu sebesar 0,00%, 1,28%, 1,01%, 0,94%, dan 0,31% dimana risiko yang dimiliki kelima bank tersebut tergolong ke dalam pembiayaan yang berisiko rendah. Namun, risiko rendah yang terdapat pada kelima bank tersebut tidak diikuti oleh tingkat imbal hasil yang rendah pula, sebaliknya didapatkan tingkat imbal hasil yang tinggi dengan masing-masing tingkat imbal hasil kelima bank sebesar 13,50%, 12,08%, 16,80%, 12,75% dan 13,02%. Sedangkan pada PT. Bank Syariah Mandiri dan PT. Bank Muamalat Indonesia didapatkan symmetric risk- return pada akad mudharabah, yaitu dengan profil risiko tinggi diikuti pula oleh
tingkat imbal hasil yang tinggi. Risiko pada PT. Bank Syariah Mandiri yaitu sebesar 3,17% dengan tingkat imbal hasil sebesar 15,45%. Sedangkan pada PT. Bank Muamalat Indonesia, didapatkan risiko sebesar 5,55% dengan tingkat imbal hasil sebesar 16,40%. Risiko yang dimiliki oleh kedua bank ini tergolong kedalam risiko tinggi dan tingkat imbal hasil yang tinggi pula. Akibat adanya dua bank yang tergolong kedalam klaster 2 yang sebenanrnya bukanlah kelompok bank yang rasional terbatas pada pembiayaan dengan akad mudharabah, oleh sebab itu,
perlu dilakukan pemetaan yang lebih jelas kembali agar didapatkan bank-bank yang sesuai dengan karakteristiknya, yaitu dengan menggunakan diagram matriks EFE.
Berdasarkan diagram matriks EFE pada gambar 4 didapatkan bank-bank yang tergolong kedalam kelompok bank yang berperilaku rasional terbatas pada akad murabahah adalah PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Mandiri, PT.
Bank Syariah Mega Indonesia, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank Muamalat Indonesia dan PT. Bank Panin Syariah dengan risiko masing- masing ketujuh bank tersebut adalah 4,20%, 4,49%, 3,26%, 0,21%, 1,79%, 3,92%, dan 2,19% dengan tingkat imbal hasil sebesar 36,42%, 24,08%, 19,98%, 19,81%, 14,30%, 14,92%, dan 12,20%. Dari ketujuh bank tersebut bank-bank yang memang tergolong ke dalam risiko rendah namun memiliki tingkat imbal hasil yang tinggi pada akad murabahah adalah PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank
BNI Syariah, dan PT. Bank Panin Syariah. Dapat dilihat bahwa ketiga bank tersebut merupakan kelompok bank yang baru berdiri pada tahun 2010, dengan demikian masih membutuhkan adaptasi dan monitoring, serta tambahan dana untuk mencukupi biaya kebutuhan operasional bank yaitu dengan memberikan tambahan biaya yang besar pada akad murabahah dan menjadikan pembiayaan murabahah sebagai produk utama diawal berdirinya.
Bank-bank yang termasuk kedalam rasional terbatas pada pembiayaan dengan akad mudharabah adalah PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah
Mandiri, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank BNI Syariah dengan masing-masing risiko keenam bank tersebut adalah 1,01%, 3,17%, 0,00%, 0,31%, 0,94%, dan 1,28%. Berdasarkan
29 keenam risiko yang dimiliki oleh masing-masing bank, terdapat lima bank yang benar-benar tergolong kedalam risiko rendah, yaitu PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank BNI Syariah. Sedangkan untuk tingkat imbal hasil keenam bank adalah 16,80%, 15,45%, 13,50%, 13,02%, 12,75%, dan 12,08%. Dengan demikian, bank- bank yang termasuk kedalam kategori rasional terbatas pada akad mudharabah
adalah PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank BNI Syariah.
Sedangkan pada akad musyarakah didapatkan empat bank yang termasuk
kedalam rasional terbatas pada pembiayaan jenis ini yaitu, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, PT. Bank BCA Syariah, dan PT. Bank BRI Syariah dengan risiko masing-masing keempat bank tersebut adalah sebagai berikut 0,67%, 2,58%, 0,03%, dan 6,21%. Berdasarkan keempat bank tersebut didapatkan tiga bank yang benar-benar memiliki risiko rendah yaitu PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank BCA Syariah dengan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 12,125, 17,49%, dan 13,80%. Secara keseluruhan didapatkan bank-bank yang berperilaku rasional terbatas adalah PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank Panin Syariah. Kelompok bank-bank tersebut adalah kelompok bank yang baru berdiri pada tahun 2000an. Dengan demikian, menjadi wajar ketika bank-bank tersebut masih menjadikan pembiayaan pada akad murabahah sebagai pembiayaan utamanya mengingat pembiayaan ini
memiliki tingkat imbal hasil yang pasti dan merupakan investasi jangka pendek. Sedangkan bank-bank yang termasuk kedalam kelompok bank yang berperilaku rasional adalah PT. Bank Syariah Mega Indonesia, PT. Bank Syariah Mandiri, dan PT. Bank Muamalat Indonesia. Ketiga bank tersebut telah lama berdiri dibandingkan dengan kelima bank yang termasuk kedalam kelompok rasional terbatas, dengan fokus pembiayaan terbesar mereka yaitu pada pembiayaan bagi hasil yang merupakan pembiayaan utama dari bank syariah itu sendiri.
Adanya karakteristik risiko dan tingkat imbal hasil asimetri pada bank- bank di atas baik dalam pembiayaan bagi hasil maupun non bagi hasil dikarenakan adanya informasi asimetri antara dua belah pihak, yaitu bank dan nasabah. Bank memiliki informasi lebih baik namun disembunyikan dari nasabah. Risiko dan tingkat imbal hasil asimetri pada akad murabahah yaitu bank
menetapkan tingkat marjin yang tinggi bagi nasabah sehingga bank memperoleh manajemen laba dengan risiko yang rendah. Namun demikian, besarnya alokasi pembiayaan pada akad murabahah, seharusnya dibatasi, agar tidak
mengakibatkan tingkat marjin yang tinggi, yang akhirnya akan berakibat pada tingginya pembiayaan bermasalah di BUS dan munculnya adverse selection dan moral hazard dari akibat adanya informasi yang asimetri (Huda, 2012). Akad
jenis ini juga sudah selayaknya hanya diperuntukkan pada pembiayaan dengan jual-beli bukan pada pembiayaan investasi. Dengan demikian, prinsip profit and loss sharing dapat dijalankan sebagaimana mestinya.
Bank syariah tidak dapat menentukan marjin yang tepat terhadap pembiayaan non bagi hasil (jual-beli) yaitu murabahah, dikarenakan bank
menginginkan manajemen laba dari suatu barang atau jasa yang diperdagangkan tersebut. Adverse selection sering muncul ketika terdapat barang dengan kualitas
30
yang cukup untuk menentukan kualitas yang sebenarnya pada saat membeli (Hasibuan 2015). Akibatnya, terlalu banyak produk yang berkualitas rendah dan terlalu sedikit produk yang berkualitas tinggi dijual dipasar atau dengan kata lain barang-barang berkualitas rendah akan menggeser barang-barang yang berkualitas tinggi. Disisi lain bahwa juga terdapat hidden action yang merupakan tindakan
tersembunyi oleh salah satu pihak yang mempengaruhi kualitas barang yang diperdagangkan dan tindakan tersebut tidak dapat diamati oleh pihak lain.
Secara keseluruhan, informasi yang tidak lengkap menyebabkan pengambilan keputusan menjadi rasional terbatas (Jarboui dan Boujelbene, 2012). BUS puas dengan tingkat imbal hasil yang didapatkan pada akad murabahah
meskipun pembiayaan tersebut bukan karakteristik utama BUS. Sikap puas tersebut menunjukkan bahwa pembuat keputusan memilih alternatif solusi pertama yang memenuhi kriteria keputusan minimal daripada mencari seluruh alternatif untuk mengidentifikasi solusi tunggal yang akan memaksimalkan pendapatan ekonomi perusahaan. Pembuat keputusan akan memilih solusi pertama yang muncul untuk memecahkan masalah, meski diperkirakan ada solusi lain yang lebih baik. Pembuat keputusan tidak dapat mempertaruhkan waktu dan pengeluaran dalam rangka memperoleh informasi yang lengkap.
Musshoft dan Hirschaur (2011) menyatakan model rasional terbatas tergantung pada asumsi-asumsi sebagai berikut.
1. Sasaran keputusan terkadang tidak jelas, saling bertentangan, dan kurangnya kesepakatan antar pemimpin. Para pemimpin sering tidak menyadari masalah atau kesempatan yang ada dalam organisasi.
2. Prosedur rasional tidak selalu digunakan, dan ketika digunakan ternyata dibatasi pada pandangan yang sederhana mengenai masalah yang tidak mencakup seluruh kompleksitas atas apa yang terjadi dalam organisasi yang sesungguhnya.
3. Pencarian pemimpin terhadap alternatif-alternatif dibatasi oleh batasan- batasan manusiawi, informasi dan sumber daya.
4. Kebanyakan pemimpin lebih memilih kepuasan daripada memaksimalkan solusi. Hal demikian terjadi karena sebagian dari mereka memiliki keterbatasan informasi dan sebagian lagi dikarenakan kriteria mengenai hal-hal apa saja untuk memaksimalkan solusi tidak jelas.
Implikasi Manajerial
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan antara risiko mudharabah dan musyarakah. Perbedaan terjadi
akibat pembebanan kerugian yang ditanggung oleh BUS lebih besar pada akad
mudharabah dibandingkan dengan akad musyarakah. Pembebanan risiko terbesar
pada akad mudharabah dikarenakan pada akad ini BUS menanggung 100%
kerugian yang terjadi apabila bukan diakibatkan oleh kelalaian nasabah. Sedangkan pada akad musyarakah, kerugian yang terjadi akan ditanggung
bersama-sama oleh BUS dan juga nasabah. Akibat adanya perbedaan perbebanan kerugian yang harus ditanggung oleh BUS, maka alokasi pembiayaan BUS pada pembiayaan bagi hasil lebih mengutamakan pada akad musyarakah dibandingkan
31 yang menyebutkan bahwa pembiayaan pada akad musyarakah lebih besar
dibandingkan dengan akad mudharabah dari tahun ke tahun (Gambar 1).
Perbedaan juga terjadi pada tingkat imbal hasil akad mudharabah dengan murabahah. Hal ini dikarenakan, pada akad murabahah akan didapatkan tingkat
imbal hasil yang pasti dibandingkan dengan akad mudharabah. Pada akad mudharabah, tingkat imbal hasil yang didapatkan masih belum pasti, tergantung
pada bisnis yang dijalankan oleh nasabah. Selain itu, perbedaan jangka waktu
murabahah yang relatif lebih pendek juga mengakibatkan tingkat imbal hasil yang
didapatkanpun lebih cepat dibandingkan dengan akad mudharabah yang
merupakan investasi jangka panjang. Akibat adanya perbedaan skema pada kedua jenis pembiayaan ini, BUS lebih mengutamakan pembiayaan pada akad
murabahah dibandingkan dengan akad mudharabah. Hal ini dapat dilihat pada
statistik perbankan syariah, dimana akad murabahah selalu mendominasi dari
tahun ke tahun (Gambar1).
Akibat adanya perbedaan risiko dan tingkat imbal hasil ini secara tidak langsung menyebabkan BUS lebih menyukai pembiayaan jangka pendek dengan tingkat imbal hasil yang pasti dibandingkan dengan pembiayaan jangka panjang yang belum tentu memberikan tingkat imbal hasil yang pasti. Hasil analisis pada Tabel 5 dan 6 juga menunjukkan bahwa alasan BUS mengalokasikan dalam porsi yang besar pada akad murabahah, dikarenakan akad ini memiliki tingkat imbal
hasil yang tertinggi namun tidak diikuti dengan risiko yang tinggi. Alokasi pembiayaan terbesar selanjutnya adalah akad musyarakah, dikarenakan akad ini
memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan akad mudharabah.
Secara keselurahan, akibat adanya perbedaan risiko dan tingkat imbal hasil ini, pembiayaan di BUS didominasi oleh pembiayaan jual beli dibandingkan dengan pembiayaan bagi hasil. Hal ini memperlihatkan bahwa BUS di Indonesia belum sepenuhnya syariah.
Alokasi yang besar pada akad murabahah juga diakibatkan adanya risk averse BUS pada akad bagi hasil. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya alokasi
pembiayaan akad mudharabah dari tahun ke tahun yang dilakukan oleh BUS.
Sifat enggan BUS pada akad mudharabah dikarenakan, akad ini memiliki tingkat
risiko yang paling tinggi namum tidak diikuti oleh tingkat imbal hasil yang tinggi pula. Tingkat risiko yang tinggi namun tidak diimbangi dengan tingkat imbal hasil yang tinggi ini akan menyebabkan manajemen rugi bagi BUS jika terus dilaksanakan. Dengan demikian, BUS mengalokasikan pembiayaan bagi hasil dalam porsi yang rendah dan mengeksplor pembiayaan jual-beli dalam jumlah yang besar. Akibat rendahnya alokasi pembiayaan pada akad bagi hasil menyebabkan BUS terkena risiko reputasi, yaitu BUS yang rendah dalam mengalokasikan pembiayaan bagi hasil dimana karakteristik utama yang dimiliki oleh BUS dan pembeda dengan bank konvensional terletak pada akad ini.
Rendahnya alokasi pada akad mudharabah juga diakibatkan adanya
perilaku rasional terbatas BUS dalam menilai nasabahnya. BUS tidak dapat menilai satu per satu nasabah yang datang. Sebagai akibatnya, BUS dibebankan pada nasabah yang kurang jujur. Dengan demikian, BUS menetapkan tingkat marjin yang tinggi pada pembiayaannya agar tetap mendapatkan manajemen laba bagi perusahaan. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan informasi antara BUS dan nasabah yang menyebabkan informasi asimetri. Informasi asimetri ini yang kemudian dapat menimbulkan masalah keagenan antara bank dan nasabah.
32
Masalah keagenan muncul akibat informasi asimetri antara bank dan nasabah. Asumsinya adalah bank lebih banyak memiliki informasi daripada nasabah. Akibatnya, nasabah tidak bisa menolak meskipun dibebankan dengan marjin yang tinggi oleh bank. Pembebanan tingkat marjin yang tinggi pada nasabah ini mengakibatkan pembiayaan di BUS tidak terdapat adanya suatu keadilan, seperti yang dijadikan tujuan BUS.
Secara keseluruhan hasil penelitian ini memberikan implikasi pada terdapatnya adverse selection sebagai akibat adanya pembebanan marjin yang
tinggi bagi nasabah dan perilaku rasional terbatas sebagai akibat risiko dan tingkat imbal hasil yang asimetri pada setiap jenis pembiayaan di BUS.
5
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka penelitian ini memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Risiko dan tingkat imbal hasil setiap jenis pembiayaan di BUS berbeda. Perbedaan terdapat pada risiko mudharabah-musyarakah dan tingkat imbal
hasil mudharabah-murabahah pada taraf signifikansi 90%.
2. BUS risk averse terhadap pembiayaan bagi hasil, yaitu pada akad mudharabah dengan rasio sebesar 2,23% dan akad musyarakah sebesar
3,51%.
3. Terdapat tujuh BUS berperilaku rasional terbatas yaitu, PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank Panin Syariah, dan PT. Bank BCA Syariah. Sedangkan hanya terdapat satu bank yang berperilaku rasional yaitu PT. Bank Syariah Mega Indonesia. Berdasarkan akad pembiayaannya, bank-bank yang termasuk kedalam bank yang rasional terbatas menurut akad murabahah adalah PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank
BNI Syariah, dan PT. Bank Panin Syariah. Pada akad mudharabah adalah PT.
Bank BRI Syariah, PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank Panin Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank BNI Syariah. Pada akad musyarakah
PT. Bank BCA Syariah, PT. Bank BNI Syariah, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank Syariah Bukopin, dan PT. Bank Panin Syariah. Sedangkan bank yang termasuk kedalam kelompok rasional berdasarkan akad pembiayaannya adalah PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank Syariah Mandiri, dan PT. Bank Syariah Mega Indonesia.
33 Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian yang diperoleh, saran yang dapat direkomendasikan adalah:
1. Risiko yang rendah pada akad murabahah sebaiknya diimbangi dengan
tingkat margin yang sesuai bagi nasabah. Hal ini dikarenakan tingkat margin yang tinggi dapat menimbulkan adverse selection dalam pembiayaan di BUS.
2. Risk averse pada pembiayaan bagi hasil (mudharabah dan musyarakah) di
BUS dapat diminimalisir dengan cara menumbuhkan sifat saling percaya dan jujur antara BUS dan nasabah.
3. Meskipun pembiayaan non bagi hasil (jual-beli) yaitu, murabahah
diperbolehkan dalam operasional Bank Umum Syariah, namun sebaiknya pembiayaan ini dijadikan pembiayaan sekunder di BUS.
4. Pengujian terhadap risk averse dan perilaku rasional terbatas pada penelitian
ini agar dikembangan lebih lanjut pada penelitian selanjutnya dengan menggunakan indikator dan alat analisis yang lebih spesifik lagi, misalnya dengan mencari standar baku risk averse dan rasional terbatas dalam
pengambilan keputusan dan menggambarkannya dalam bentuk kurva, serta melakukan pengujian kuesioner kepada para pembuat keputusan di BUS.