E. Buah (Fructus)
2. Buah sejati tunggal berdaging
Buah sejati tunggal berdaging tidak pecah pada saat masak. Buah sejati tunggal berdaging dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut ini.
a. Buah buni (bacca): memiliki dinding dua lapis, lapis luar tipis seperti belulang dan lapisan dalam tebal lunak berair, biji bebas dalam ruangan. Contoh:
buah yang berdinding tebal adalah pepaya (Carica papaya; Caricaceae), sedangkan yang tidak tebal dan menjangat adalah duku (Lansium domesticum;
Meliaceae).
97 | M o r f o l o g i T u m b u h a n b. Buah mentimun (pepo): susunan seperti buah buni, memiliki ruang kosong, pada umumnya terdiri dari tiga daun buah. Contoh: buah dari semua jenis Cucurbitaceae.
c. Buah jeruk (hesperidium): merupakan variasi buah buni, tetapi kulit buah terdiri dari tiga lapisan, yaitu kulit luar menjangat disebut flavedo, kulit tengah terdiri dari jaringan bunga karang putih disebut albedo, dan kulit dalam bersekat beberapa ruangan di dalamnya terdapat gelembung berair; biji di antara gelembung tersebut. Contoh: buah jeruk (Citrus spp., Rutaceae).
d. Buah batu (drupa): kulit buah dari tiga lapisan, yaitu kulit luar tipis menjangat (exocarpium), kulit tengah tebal berdaging atau berserabut (mesocarpium), kulit dalam tebal keras berkayu (endocarpium). Contoh: buah kelapa (Cocos nucifera; Arecaceae), mangga (Mangifera indica;
Anacardiaceae).
e. Buah delima. Contoh: buah delima (Punica granatum),
f. Buah apel (pomum): kulit buah dari tiga lapisan, yaitu kulit luar tipis menjangat (exocarpium), kulit tengah tebal berdaging atau berserabut (mesocarpium), kulit dalam tebal keras berkayu (endocarpium), memiliki beberapa ruangan peruang satu biji, misal buah apel (Pyrus malus), per (Pyrus communis).
98 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 3. Buah sejati ganda
Buah sejati ganda terjadi dari satu bunga dengan banyak bakal buah yang bebas lalu tumbuh menjadi buah, tetapi tersusun dalam satu tangkai. Berdasarkan sifat setiap buah dibedakan menjadi beberapa jenis buah seperti berikut.
a. Buah kurung ganda, misalnya pada mawar (Rosa hybrida),
b. Buah batu ganda, misalnya buah roseberry (Rubus rosaefolius),
c. Buah bumbung ganda, misalnya buah kantil (Michelia champaca),
d. Buah buni ganda, misalnya buah srikaya (Annona squamosa).
4. Buah sejati majemuk
Berdasarkan sifat setiap buah penyusunnya, buah dibedakan menjadi
a. buah buni majemuk, misalnya buah nanas (Ananas comossus),
b. buah batu majemuk, misalnya buah pandan (Pandanus tectorius),
c. buah kurung majemuk, misalnya buah bunga matahari (Helianthus annuus).
F. Biji (Semen)
Biji merupakan perkembangan dari bakal biji. Pada tumbuhan berbiji, biji merupakan alat perkembangbiakan utama karena setiap biji mengandung lembaga (embrio)
99 | M o r f o l o g i T u m b u h a n sebagai calon individu baru. Biji memiliki bagian-bagian sebagai berikut.
1. Kulit biji (spermodermis)
Kulit biji berasal dari selaput bakal biji (integumentum). Pada tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae), kulit biji terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan luar (testa) yang umumnya kuat dengan permukaan yang dan lapisan dalam (tegmen) yang bersifat seperti selaput dan sering disebut kulit ari. Tumbuhan berbiji telanjang, misalnya melinjo (Gnetum gnemon), memiliki tiga lapisan kulit, yaitu kulit luar (sarcotesta), kulit tengah (sclerotesta), dan kulit dalam (endotesta). Bila diamati dengan teliti pada berbagai jenis tumbuhan maka pada bagian kulit luar biji terdapat adanya bagian-bagian yang spesifik seperti berikut.
a. Sayap (alae): alat tambahan pada kulit luar, umumnya digunakan untuk pemencaran biji.
Contoh: pada pinus (Pinus merkusii), crut-crutan (Spathodea campanulata).
b. Bulu (coma): modifikasi darißel kulit biji bagian terluar, menjadi rambut atau bulu halus, umumnya berguna untuk pemencaran. Contoh: randu (Ceiba pentandra), kapas (Gossypium spp.).
c. Salut biji (arillus): merupakan pertumbuhan tali pusar atau penggantung biji (funiculus). Contoh:
biji durian (Durio zibethinus).
d. Salut biji semu (arillodium): berasal dari pertumbuhan bagian liang bakal biji (micropyle).
Contoh: misalnya macis pada biji pala.
100 | M o r f o l o g i T u m b u h a n e. Pusar biji (hilus): bekas perlekatan dengan tali pusar, memiliki wilayah tersendiri yang biasanya memiliki warna dan kekasaran yang berbeda.
f. Liang biji (micropyle): merupakan liang sebagai bekas masuknya buluh serbuk sari saat pembuahan, tepinya tumbuh menjadi bagian yang lunak yang disebut karunkula (caruncula). Contoh:
pada biji jarak (Ricinus communis).
g. Tulang biji (raphe): terusan tali pusar pada biji, berasal dari posisi bakal biji mengangguk.
2. Tali pusar (foenikulus)
Tali pusar sering disebut sebagai penggantung biji, dapat memiliki bentuk yang bervariasi, bila biji telah tua maka tali pusar umumnya mengering dan lepas.
Gambar 2.1018 Anatomi tiga jenis biji: a) jarak (Ricinus communis), b) kacang panjang (Phaseolus vulgaris), dan c) jagung (Zea mays)
101 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 3. Inti biji atau isi biji (nucleus seminis)
Inti biji terdiri atas lembaga (embrio) dan putih lembaga (albumen) yang berisikan cadangan makanan untuk pertumbuhan kecambah sebelum memiliki kemampuan mencari makan sendiri.
G. Lembaga (Embrio)
Lembaga pada tumbuhan berbiji merupakan perkembangan embrio hasil pembuahan, merupakan badan (jaringan) yang memiliki kutub-kutub pertumbuhan. Pada tumbuhan berbiji, lembaga memperlihatkan tiga bagian utama tubuh tumbuhan.
l. Akar lembaga atau calon akar (radicula)
Akar lembaga merupakan bagian lembaga di bagian pangkal dan sudah menunjukkan arah tumbuh geotropis.
Akar lembaga akan tumbuh menjadi hipokotil (hypocotyle). Di bagian ujung hipokotil akan ditumbuhi jaringan meristematik yang disebut akar primer (radix primarius). Pada tumbuhan dengan biji berkeping dua (Dicotyledoneae), akar primer akan berkembang menjadi sistem percabangan yang disebut akar tunggang. Pada tumbuhan dengan biji berkeping satu (Monocotyledoneae), akar primer akan mereduksi.
Akar tersebut tumbuh dari buku-buku batang dan disebut akar serabut. Akar lembaga pada tumbuhan dengan biji berkeping satu (Monocotyledoneae) memiliki
102 | M o r f o l o g i T u m b u h a n sarung pucuk akar lembaga (coleorhiza), misalnya pada suku rumput (Gramineae; Poaceae).
2. Daun lembaga
Daun lembaga (cotyledo) merupakan daun pertama. Pada Dicotyledoneae, daun lembaga berjumlah dua (keping dua), pada Monocotyledoneae berjumlah satu (keping satu), sedangkan pada tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) berjumlah banyak sehingga dahulu Gymnospermae disebut juga golongan Polycotylae.
Berdasarkan fungsinya, daun lembaga dapat sebagai tempat cadangan makanan, fotosintesis, atau pengisap makanan dari putih lembaga. Untuk pengisap makanan sebagai bagian selaput tipis (perisai), pemisah antara lembaga dan putih lembaga disebut skutelum (scutellum) pada tumbuhan Monocotyledoneae. Bagian ini tidak tampak secara morfologi luar.
103 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 3. Batang lembaga
Batang lembaga (aulicula) merupakan cikal bakalnya batang yang memiliki ruas (internodes) dan buku (node), dapat dibedakan antara ruas batang di atas daun lembaga (internodium epicotylum) dan ruas di bawah daun lembaga (internodium hypocotylum).
4. Pucuk lembaga
Pucuk lembaga (Plumulae) merupakan daun yang pertama kali terbentuk di ujung batang lembaga. Pada semua jenis Dicotyledoneae, pucuk lembaga umumnya
Aa. Orthotropous, Ab. Aphitropous, Ac. Anatropous, Ad. Campylotropous B. Kotiledon incumbent: Ba. Lembaga dengan kotiledon melipat, Bb. Lembaga dengan kotiledon dipisah, Bc. Lembaga dengan kotiledon penampang melintang C. Kotiledon condulicate: Ca. Penampang melintang dekat ujung distal lembaga, Cb.
Penampang median
D. Kotiledon accumbent: Da. Awak lembaga, Db. Awak lembaga penampang melintang (c = chalaza, co = kotiledon, e = telur, f = funiculus, li = integument dalam, lo = integument luar, m = mikrofil, n = nuselus, r = akar lembaga).
Gambar 2.11 Tipe bakal biji dan daun lembaga (Lawrence, 1968)
104 | M o r f o l o g i T u m b u h a n berjumlah dua buah, sedangkan pada semua jenis Monocotyledoneae umumnya berjumlah satu buah.
H. Penyandraan atau Pertelaan
Penyandraan atau pertelaan (Deskripsi, Deskriptio) adalah teknik penggambaran sifat-sifat tumbuhan dalam tulisan verbal yang dapat dilengkapi dengan gambar, data penyebaran, habitat, asal-usul, dan manfaat dari golongan tumbuhan yang dimaksud. Pertelaan golongan (takson) tumbuhan dapat pada tingkat suku (familia), marga (genus), jenis (spesies), dan di bawah tingkat jenis yaitu anak jenis (subspesies), varitas (varietas), dan forma.
Pertelaan suatu takson tumbuhan dilakukan untuk populasi dalam wilayah penyebarannya sehingga dapat mengambarkan variasi sifat yang ada. Untuk mempertelakan suatu takson tumbuhan diperlakukan adanya aturan baku tertentu.
1. Aturan baku pertelaan
Pertelaan memiliki aturan baku yang harus diikuti olch pclaku pertelaan tumbuhan. Pertelaan harus dilakukan dari:
a. Ketentuan umum untuk tumbuhan (obyek):
hal yang bersifat umum ke khusus sehingga perawakan harus dipertelakan terlebih dahulu,
• dari bagian pangkal ke ujung,
• dari luar ke dalam,
• dari organ ke bagian organ, b. Menggunakan istilah baku botani.
105 | M o r f o l o g i T u m b u h a n c. Pengaturan kalimat sederhana, tanda kata
sambung (tipe telegraf).
d. Dapat menyertakan keterangan lain yang dapat menjadi informasi bagi pengguna tumbuhan.
2. Petunjuk penyusunan pertelaan
Berikut adalah petunjuk untuk menyusun pertelaan morfologis lengkap suatu jenis tumbuhan.
Perawakan (habitus): disebutkan perawakan pohon, perdu, semak, herba (terna). Ukuran perawakan, kemudian umur satu (annual), dua (biennial), dan banyak tahun (perennial). Kemudian sebut apakah ada bentuk metamorfosis, misalnya rimpang, umbi, dan lain-lain.
a. Akar: sitem perakaran, bagian akar, adanya akar khusus, dan lain-lain.
b. Batang: tipe batang pokok, percabangan batang, arah tumbuh, posisi kuncup pada batang, alat tambahan, dan lain-lain.
c. Daun: majemuk atau tunggal, tangkai, helaian meliputi bentuk, ukuran, bentuk pangkal, tepi, ujung, pertulangan, alat tambahan, dan lain-lain.
d. Bunga: posisi bunga, penyerbukan, perbungaan (bunga majemuk), aksis bunga, daun pelindung, daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik.
Pertelaan pada bunga ini selalu menyertakan data mengenai bentuk, ukuran, warna, alat tambahan, dan lain-lain.
e. Buah: tipe buah, bagian buah, bentuls ukuran, warna, dan lain-lain.
f. Biji: tipe buah, bagian buah, bentuk, ukuran, warna, dan lain-lain.
106 | M o r f o l o g i T u m b u h a n Selain beberapa hal pokok tersebut, pertelaan dapat diberi informasi-informasi tambahan seperti berikut.
a. Asal-usul dari tumbuhan yang dimaksud.
b. Habitat atau alamat tempat tumbuh dari suatu takson tumbuhan.
c. Keragaman di dalam populasi jenis, misalnya dijumpainya subspesies, varietas, forma, dan informasi plasma nutfah (germplasm).
d. Data penyebaran geografik. dari takson yang dimaksud.
e. Manfaat dan data pendukungnya, misalnya bila berkhasiat obat senyawa kimia aktifnya disebutkan beserta rumus bangunnya.
f. Gambar atau ilustrasi dari contoh populasi yang dimaksud.
I. Penyusunan Rumus Bunga
Dalam melakukan penyandraan (deskripsi), susunan bunga dapat dinyatakan dengan rumus bunga, yang dinyatakan dengan lambang, huruf dan angka yang menggambarkan sifat bunga beserta bagian-bagiannya.
Penggunaan lambang, huruf, dan angka dalam penyusunan rumus bunga dapat diperhatikan sebagai berikut.
1. Penggunaan lambang
Lambang digunakan untuk menyatakan beberapa hal berikut.
107 | M o r f o l o g i T u m b u h a n a. Simetri: terdapat beberapa lambang antara lain untuk simetri tunggal (↑), simetri banyak/reguler *, simetri bilateral (+).
b. Kelamin bunga: digunakan lambang (⚥) untuk bunga banci, lambang ( ) untuk kelamin jantan, dan lambang ( ) untuk kelamin betina.
c. Perlekatan bagian bunga: perlekatan bagian bunga dapat bersifat connate antarbagian-bagain dalam bagian, misalnya antara daun mahkota satu dengan yang lainnya, dan adnate, yaitu antarbagian bunga, misalnya antara mahkota dengan benang sari. K3, C3, A(3+3), G3 rumus ini menggambarkan connate antara benang sari, sedangkan rumus K3, [C3, A 3+3], G3 menggambarkan adnate antara mahkota dan benang sari.
d. Kedudukan bakal buah: dilambangkan garis bawah untuk bakal buah menumpang dan garis di atas untuk kondisi tenggelam.
2. Penggunaan huruf dan angka
Huruf digunakan untuk menyatakan bagian bunga, sedangkan angka digunakan sebagai indeks untuk menyatakan jumlah bagian bunga.
a. K untuk kelopak (calyx): bila berindeks misalnya K5 maka kelopak disusun dari 5 daun kelopak dan bila connate dirumuskan K(5).
b. C untuk mahkota (corolla): bila berindeks misalnya C5 maka mahkota disusun dari 5 daun mahkota dan bila adnate dengan kelopak [K5, C5].
108 | M o r f o l o g i T u m b u h a n c. A untuk alat kelamin jantan (androecium): bila berindeks misalnya A3+3 maka disusun dari 6 benang sari dalam dua lingkaran.
d. G untuk alat kelamin betina (gynaecium): bila berindeks misalnya G(3) maka disusun dari 3 daun buah yang bersifat syncarpell.
e. Apabila kelopak dan mahkota tidak dapat dibedakan dilambangkan dengan huruf P, yaitu tenda bunga (perigonium).
Jika bunga memiliki 5 daun kelopak, 5 daun mahkota, 10 benang sari, dan putik yang terdiri dari 5 daun buah, misalnya bunga merak (Caesalpinia pulcherima) maka rumus dapat ditulis K5, C5, A10, G5.
Bunga lilia (Lilium longiflorum) memiliki 6 daun tenda bunga, 6 benang sari, dan putik dari 3 daun buah maka rumus bunganya adalah P6, A6, G3. Bunga merak memiliki simetri bunga tunggal (zigomorf) maka diberi simbol tanda panah (↑), sedangkan bunga lilia bersimetri banyak diberi simbol bintang (asteric= *). Rumus bunga merak ⚥,
↑, K5, C5, A10, G1. dan rumus bunga lilia ⚥, *, P6, A6, G3.
Karena kedua spesies tumbuhan tersebut berkelamin banci maka diberi simbol banci (⚥).
Suatu bagian bunga dapat memiliki lebih dari satu lingkaran, misalnya benang sari 10, terdiri dari dua lingkaran yaitu 5 dalam dan 5 luar. Demikian pula pada bunga lilia 6 daun tenda bunga dapat 3 di lingkaran luar dan 3 di lingkaran dalam, serta 6 benang sari terdiri dari 3 di lingkaran dalam dan 3 di luar sehingga rumus bunga merak menjadi ⚥, ↑, K5, C5, A5+5, G1, dan bunga lilia ⚥, *, P3+3, A3+3, G3.
109 | M o r f o l o g i T u m b u h a n Bagian-bagian bunga antara satu dengan yang lain dapat lepas atau saling berlekatan. Apabila lepas maka indeks tidak diberi simbol, tetapi apabila berlekatan diberi simbol kurung. Karena pada bunga merak daun kelopak saling berlekatan maka rumusnya menjadi ⚥, ↑, C5, A5+5, G1, sedangkan bunga lilia daun tenda bunga berlekatan serta daun buah saling berlekatan maka rumusnya menjadi ⚥, ↑, P(3+3), A3+3, G(3). Pada bunga waru (Hibiscus tiliaceus), benang sari berlekatan satu dengan yang lainnya (monadelphus) maka rumusnya adalah ⚥, ↑, K(5), C5, A(˷), G(5). Simbol untuk menyatakan bagian bunga yang banyak (lebih dari hitungan 20).
Pada rumus bunga kadang kala didapati indeks 0 (nol) artinya bagian tersebut tidak dimiliki, misalnya pada kelapa (Cocos nucifera) bunga jantan kelapa , ↑, K3, C3, A(3+3), G0, sedangkan bunga betina rumusnya , *, K3, C3, A0, G(3). Bagi para ahli kadang kala rumus dapat disederhanakan tidak menggunakan simbol, tetapi hanya mencantumkan indeks saja, misalnya bunga merak ⚥, ↑, (5), 5, 5+5, 1.
Kadang kala antara kelopak dan mahkota atau antara mahkota dan benang sari dapat saling berdekatan (adnate) maka simbol kurung dapat dibentuk seperti pada rumus bunga allamanda (Allamanda cathartica) ⚥, *, K5, (C5, A5), G(2) terjadi perlekatan antara daun mahkota dan benang sari. Di samping itu, kedudukan dari bakal buah atau daun buah (menumpang dan tenggelam) diberi simbol garis di atas atau di bawah indeks, misalnya rumus bunga allamanda ⚥, *, (C5, A5), G(2) untuk kedudukan menumpang.
110 | M o r f o l o g i T u m b u h a n Rumus bunga pada tumbuhan berbunga bersifat konstant pada tingkat suku (familia) sehingga sulit untuk identifikasi pada marga (genus), jenis (spesies), dan kategori di bawah jenis (subspesies, varietas, forma).
Berikut ini adalah rumus bunga pada beberapa familia (suku) tumbuhan:
1. Suku rumput (Poaceae; Graminaceae) ⚥, ↑, K1+(2), C2+0, A3, G1
2. Suku empon-empon (Zingiberaceae): ⚥, ↑, K3, C3, A1+(5), G(3)
3. Suku bunga tasbih (Cannaceae) ⚥, ↑↓, K3, C3, A5, G(3)
4. Suku anggrek (Orchidaceae) ⚥, ↑, P3+3, A1+0, G(3) 5. Suku lilia (Liliaceae): ⚥, *, P3+3, A(3+3), G(3) 6. Suku bunga kupu (Papilionaceae, Clitoria ternatea)
⚥, ↑, K5, C5, A1+(9), G(1)
7. Suku tumbuhan waru (Malvaceae): ⚥, *, K(5), [C5, A(˷)], G(5)
8. Suku tumbuhan Apocynaceae: ⚥, *, K5, [C(5), A(5)], G(2)
9. Suku tumbuhan kubis (Brassicaceae): ⚥, *, K4, C4, A2+4, G(2)
10. Suku tumbuhan bunga pukul 4 (Nyctaginaceae): ⚥,
*, K(5), C0, A5, G(5)
11. Suku kelapa (Arecaceae, Palmae) jantan , *, K3, C3, A6, G0, betina , *, K3, C3, A0, G(3)
J. Diagram Bunga
Diagram bunga adalah gambar proyeksi pada bidang datar seluruh bagian bunga yang dipotong
111 | M o r f o l o g i T u m b u h a n melintang sehingga dijumpai penampang daun pelindung, daun kelopak, daun mahkota, benang sari, dan putik.
Gambar diagram dinyatakan sebagai penampang melintang dari setiap bagian bunga. Sebagai contoh adalah seperti berikut.
1. Aksis batang: bentuk bulat kecil dapat di luar diagram bila posisi bunga aksilar dan pusat lingkaran diagram bila posisi bunga terminal.
2. Daun pelindung: bentuk pipih bilateral dengan tonjolan di tengah bagian luar.
3. Daun kelopak: bentuk pipih bilateral dengan tonjolan di tengah bagian sisi luar.
4. Daun mahkota: bentuk pipih bilateral tanpa penampang melintang bakal buah, dengan beberapa daun buah penyusunnya, serta biji dengan posisinya pada daun buah.
Terdapat dua macam diagram bunga, yaitu diagram empirik dan diagram teoritik. Diagram empirik menggambarkan bagian bunga yang benar-benar ada sesungguhnya, sedangkan diagram teoritik menggambarkan bagian sesungguhnya dan bagian-bagian bunga yang sudah tidak ada lagi, tetapi menurut teori seharusnya ada.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat diagram bunga adalah menentukan hal-hal sebagai berikut.
112 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 1. Posisi bunga: di ujung cabang atau batang
(terminalis) atau di ketiak daun (aksilaris).
2. Garis median: yaitu garis penghubung antarbunga, aksis batang, dan daun.
3. Jumlah setiap bagian bunga: kelopak terdiri dari sejumlah daun kelopak, mahkota dari sejumlah daun mahkota, alat kelamin jantan dari sejumlah benang sari, dan alat kelamin betina tersusun dari sejumlah daun buah.
4. Posisi antardaun kelopak, daun mahkota, benang sari, dan daun buah: terjadi perlekatan tipe connate atau adnate.
5. Tipe aestivatio bagian-bagian perhiasan bunga.
113 | M o r f o l o g i T u m b u h a n Gambar 2.23 Diagram bunga (Sumardi & Pudjoarinto, 1996)
114 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
DAFTAR PUSTAKA
Jones, B.J., and A.E. Luchsinger, Plant Systematics 2nd Edition (London: Mc Graw-Hill Book Co. Inc., 1955).
Lawrence, G.H.N., Taxonomy of Vascular Plants (New York: The Millan Company, 1968).
Loveless, A.R., Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik (Jakarta: PT Gramedia, 1987).
Mauseth, J.D., Botany, An Introduction of Plant Biology, 2nd Edition (USA: Saunders College Publisihing, 1995).
Sporne, K.R., The Morphology of Angiospermae: The Structure and Evolution of Homering Plants (London: Hitchinson University Library, 1974).
Sumardi I dan Pudjoarinto A. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Tinggi. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi, 1993).
Tjitrosoepomo, G., Morfologi Tumbuhan (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 1988).