B. Bunga (flos; flower)
6. Metamorfosis daun mahkota
Daun mahkota juga dapat mengalami perubahan bentuk ataupun fungsi yang dikenal sebagai metamorphosis. Metamorfosis daun mahkota adalah sebagai berikut.
a. Bibir-bibiran (labellum); merupakan daun mahkota yang mengalami perubahan bentuk menjadi bentuk bibir, sebagai penarik serangga pollinator, misalnya labellum pada bunga anggrek (Orchidaceae).
Gambar 2.5 Skema tata letak daun perhiasan bunga (aestivasi) dan tata letak sesama daun perhiasan bunga (aestivasi) (Stearn, 1983)
79 | M o r f o l o g i T u m b u h a n b. Tabung mahkota (corolla tube); merupakan alih fungsi satu daun mahkota yang berfungsi sebagai penarik serangga dengan kelenjar madu di dalamnya, berubah bentuk menjadi bentuk tabung, misalnya pada bunga merak (Caesalpinia pulcherrima; Caesalpiniaceae).
c. Taji (calcareu); merupakan alih fungsi satu daun mahkota pad abunga pacar air (Impatiens balsamina; Balsaminaceae) untuk menarik serangga pollinator karena berisi kelenjar madu.
d. Mahkota kupu-kupu (papilionaceus); yaitu mahkota bunga pada suku tumbuhan Papilionaceae (Leguminosae). Dari lima daun mahkota, satu di anterior membesar disebut bendera (vexillum), dua di lateral (median) membentuk sayap (alae;
wing), dan dua di posterior membentuk luns (carina) yang membungkus alat kelamin bunga.
Misalnya bunga orok-orok (Crotalaria striata;
Papilionaceae).
e. Mahkota berbibir (labiate); yaitu mahkota yang daun mahkotanya mengelompok menjadi dua bagian. Di bagian anterior biasanya terdapat tiga daun mahkota yang disebut bibir atas dan di bagian posterior biasanya terdapat dua daun mahkota yang disebut bibir bawah. Bibir atas lebih besar dari bibir bawah, yang dijumpai pada semua spesies anggota suku Lamiaceae. Bibir atas sama dengan bibir bawah yang dijumpai pada semua spesies anggota suku Verbenaceae. Bibir atas lebih kecil dari bibir bawah, yang dijumpai pada bunga mulut singa (Anthirium majus; Schropulariaceae).
80 | M o r f o l o g i T u m b u h a n C. Alat Kelamin Jantan (Androecium)
Kelamin jantan (androecium) pada tumbuhan tersusun dari alat kelamin jantan berupa benang sari. Alat kelamin jantan ini berasal dari daun fertile (mikrosporofil) yang menjadi benang sari (stamen), bagian tangkai daun berkembang menjadi tangkai sari (filament), helaian daun pendukung spora berkembang menjadi kepala sari (anthera), dan ibu tulang daun berkembang menjadi kumpulan sejumlah alat kelamin jantan yang berupa benang sari yang memiliki tiga bagian utama, yaitu tangkau sari (filamentum), kepala sari (anthera), dan penghubung ruang sari (connectivum).
1. Tangkai Sari (filamentum)
Tangkai sari berdasarkan kedudukannya terhadap bagian bunga yang lain dapat duduk di dasar bunga (Thalamiflorae), duduk di permukaan kelopak (Caliciflorae), atau duduk pada daun mahkota (Coroliflorae).
Berdasarkan jumlah yang terdapat pada bunga, benang sari dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu.
• Banyak; jika jumlah benang sari lebih dari 20 buah, misalnya pada jambu air (Syzygium aqueum;
Myrtaceae),
• Dua kali lipat jumlah daun mahkota, jika benang sari di lingkaran luar berseling dengan daun mahkota, ini disebut diplostemon. Jika benang sari di lingkaran dalam yang berseling dengan daun mahkota disebut obdiplostemon.
81 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
• Sama dengan jumlah daun mahkota; jika benang sari berhadapan dengan daun kelopak dan berseling dengan daun mahkota disebut episepal dan jika berhadapan dengan daun mahkota dan berseling dengan daun kelopak disebut epipetal.
Berdasarkan ukurannya, benang sari yang terdapat dalam satu bunga dibedakan menjadi sebagai berikut.
• Benang sari panjang dua (didynamus); dalam satu bunga terdapat lima benang sari dua di antaranya terpanjang. Benang sari berjumlah lima, misalnya tumbuhan ketela rambat (Ipomoea batatas), sedangkan yang berjumlah empat misalnya tumbuhan kemangi (Ocimum basilicum).
• Benang sari panjang empat (tetradynamus); dalam satu bunga misalnya terdapat enam benang sari, empat terpanjang. Contohnya adalah benang sari pada tanamana lobak (Rhapanus sativus).
Pada dasarnya, tangkai sari duduk di dasar bunga, dapat secara terpisah atau berlekatan sesamanya (connate), dapat juga berlekatan dengan daun mahkota (adnate). Bagi tangkai sari yang saling berlekatan dapat pada sepanjang tangkai atau hanya sebagian saja sehingga tangkai sari dapat membentuk berkas. Berdasarkan jumlah berkas, tangkai sari dibedakan menjadi sebagai berikut.
• Berbekas atau bertukal satu (monadelphus;
monoadelphus), dari sejumlah tangkai sari Bersatu membentuk tabung, misalnya tabung benang sari pada bunga waru (Hibiscus tiliaceus).
82 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
• Berberkas atau bertukal dua (diadelphus), dari sejumlah benang sari terdapat dua berkas, misalnya benang sari pada bunga telang (Clitoria ternatea).
• Berberkas atau bertukal banyak (polyadelphus), dari sejumlah benang sari dalam satu bunga membentuk banyak berkas, misalnya pada bunga randu alas (Salmalia malabarica) membentuk 11 berkas.
2. Kepala sari (anthera)
Secara anatomi, kepala sari menunjukkan bagian antara lain ruang sari (theca) umumnya berjumlah dua buah, masing-masing ruang sari semula terdiri atas dua ruangan kecil (loculus atau loculimentum). Di dalam ruang sari terdapat serbuk sari atau tepung sari (pollen), yaitu sel jantan yang berfungsi untuk persarian atau penyerbukan. Pada spesies tumbuhan anggota Asteraceae (Compositae), kepala sari berjumlah lima saling berlekatan, tetapi tangkai sari berlepasan, benang sari seperti ini disebut benang sari syngenesis.
Kedudukan kepala sari terhadap tangkai sari dapat memiliki kemungkinan sebagai berikut.
• Tegak (innatus; basifixed); jika kepala sari dan tangkai sari menyatu.
• Menempel (adnate); jika tangkai sari berubah menjadi penghubung ruang.
83 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
• Bergoyang (versatile); jika ujung tangkai sari berartikulasi di satu titik perlekatannya.
Pada spesies tumbuhan anggota Asteraceae (Compositae) kepala sari berjumlah lima saling berlekatan, tetapi tangkai sari berlepasan. Benang sari seperti ini disebut benang sari syngenesis.
Berdasarkan cara pecahnya, kepala sari dibedakan menjadi benang sari yang membelah dengan cara:
• celah membujur (longitudinal dehiscens). Tipe ini dibedakan antara menghadap ke aksis bunga disebut menghadap ke dalam (introrse), menjauhi aksis bunga disebut menghadap ke luar (extrorse), dan sejajar dengan aksis disebut menghadap ke samping (lateral),
• celah melintang (tranversal),
• liang (pore),
a. Benang sari didynamus f. Benang sari monadelphus (Desmodium) b. Benang sari tetradimus g. Benang sari diadelphus
c. Benang sari syngenesis (Aster) h. Benang sari dengan apendage d. Benang sari monadelphus (Hibiscus) i. Benang sari dengan basal apendage e. Benang sari syngenesis (Sinningia)
Gambar 2.6 Tipe androecium (alat kelamin jantan) pada bunga (Lawrence, 1968)
Gambar 2.10 Tipe androecium (alat kelamin jantan) pada bunga (Lawrence, 1968)
84 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
• kelep atau katup (valve).
3. Metamorfosis benang sari
Benang sari seperti bagian bunga yang lainnya juga dapat mengalami perubahan struktur dan fungsi (metamorfosis) menjelma menjadi:
a. Bibir-bibiran (labellum), yaitu alih dari lima benang sari dari 6 benang sari sesungguhnya pada jenis anggota suku tumbuhan empon-empon (Zingiberaceae) yang menjadi penarik serangga polinator. Satu benang sari lagi menjadi benang sari tunggal yang fertil dan berukuran besar.
b. Kelenjar madu (nectarium), yaitu alih fungsi satu benang sari bunga pisang (Musa spp; Musaceae) dari enam benang sari yang sesungguhnya menjadi kelenjar madu yang bertujuan untuk mengundang serangga polinatornya.
c. Pollen wax (polinia), merupakan persatuan serbuk sari (pollen) menjadi bahan seperti lilin, misalnya polinia dari semua jenis anggota suku tumbuhan anggrek (Orchidaceae) dan widuri (Asclepiadaceae).
d. Benang sari setril (staminodia), yaitu benang sari yang memiliki serbuk sari yang steril, biasanya memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan benang sari fertil, misalnya staminodia senggani (Melastoma affinis; Melastomaceae). Benang sari pada ganyong (Canna hybrida; Cannaceae) bersifat sebagai staminodia berbentuk lembaran (tangkai
85 | M o r f o l o g i T u m b u h a n sari) dan terdapat satu lembaran yang masih mendukung kepala sari (fertil).
e. Cincin (annulus), yaitu reduksi benang sari yang tangkai sarinya berkembang menjadi cincin pada bunga betina kelapa (Cocos nucifera; Arecaceae).
D. Alat Kelamin Betina (Gynoecium)
Alat kelamin betina pada bunga tersusun atas putik (pistil). Sementara, putik tersusun oleh unit dasarnya berupa daun buah (megasporofil; carpell). Putik pada bunga umumnya berjumlah satu dengan banyak daun buah (unipistill/policarpell), tetapi pada golongan Polycarpicae (Ranales) memiliki putik banyak sekali dan setiap putik disusun oleh satu daun buah (polipistil unicarpell). Putik pada umumnya memiliki bakal buah (ovarium), tangkai putik (stylus), dan kepala putik (stigma).
Berdasar jumlah daun buah penyusunnya, putik dibedakan antara putik tunggal (simple), yaitu putik yang hanya disusun oleh satu daun buah dan putik majemuk (composite) bila disusun oleh banyak daun buah.
1. Bakal buah (ovarium)
Bakal buah merupakan bagian putik yang membesar menumpang pada dasar bunga yang tersusun oleh daun buah (carpell). Setiap daun buah mendukung bakal biji (ovule), antara bakal biji dan daun buah dihubungkan oleh tali pusar (foeniculus). Pada daun buah terdapat bagian tempat tertancapnya tali pusar disebut
86 | M o r f o l o g i T u m b u h a n tembuni (placenta), dan tempat tertancapnya pada bakal biji pada tali pusar disebut pusar biji (hilum).
Daun buah yang menyusun bakal buah (putik) dapat berjumlah banyak. Bila daun buah satu dengan yang lainnya tidak berlekatan (lepas) disebut putik apocarpell, sebaliknya bila saling berlekatan disebut putik coenocarpell. Bila saling berlekatan dan membentuk satu ruang disebut putik paracarpell, sedangkan bila membentuk satu ruang sejumlah daun buah disebut putik syncarpell. Bakal buah dapat dibedakan berdasarkan jumlah ruang, yaitu:
• beruang satu, misalnya pada tumbuhan polong (Legumenosae)
• beruang dua, misal pada tumbuhan sejenis kubis (Brassicaceae)
• beruang tiga, misalnya pada suku getah (Eupharbiaceae)
• beruang banyak, misalnya pada durian (Durio zibethinus).
Tata letak tembuni pada daun buah dapat bersifat marginal, yaitu apabila tembuni tertelak di bagian tepi dari daun buah, sedangkan bila tembuni terletak di permukaan helai daun buah disebut laminal. Berdasarkan pada plasentasi, bakal biji, letak tembuni dapat dibedakan menjadi:
• parietal, yaitu pada dinding bakal buah dan berdasarkan tipe plasentasinya dapat dibedakan antara parietal marginalis dan parietal laminalis,
• sentral (central), bila tembuni di tengah rongga bakal buah,
87 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
• basal (basalis), tembuni terletak di pangkal pusat atau poros tembuni,
• di sudut tengah (aksilar), tembuni terletak di sudut pertemuan daun buah.
2. Tangkai putik
Bagian ini merupakan penghubung antara bakal buah dan kepala putik, merupakan daerah yang penting bagi buluh serbuk sari untuk mengantar inti generatif mencapai sel telur di bakal biji. Putik kadang kala tidak memiliki tangkai putik, misalnya putik pada manggis (Garcinia mangostana; Clusiaceae), kadang kala berukuran panjang melebihi panjang perhiasan bunga, misalnya tangkai putik jambu air (Syzygium aqueum; Myrtaceae).
Gambar 2.11 Tipe tangkai putik dan kepala putik (Lawrence, 1968)
88 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 3. Kepala putik (stigma)
Merupakan bagian terminal dari putik yang berfungsi untuk jatuh dan berkecambahnya serbuk sari dalam proses pembuahan (fertilisasi), serbuk sari berkecambah dan membentuk buluh serbuk sari yang akan menembus jaringan kepala putik, kemudian menuju bakal biji melalui tangkai putik. Kepala putik dapat tunggal atau terbagi, dengan bentuk yang beragam, misalnya berjumlah dua dan berbentuk bulu pada padi (Oryza sativa; Poaceae), berjumlah lima tanpa tangkai putik berbentuk lempeng pada mundu (Garcinia dulchis), berjumlah lima berbentuk bola pada jarong (Gynandropsis gynandra), topi, diskus, rambut, garis, lembaran, dan lain-lain.
Pada bunga anggrek, putik memiliki bentuk khas yaitu berbentuk tugu yang di ujungnya ditumbuhi benang sari. Kondisi adnate antara putik dan benang sari ini disebut ginostemium (gynostcgium). Putik pada tumbuhan yang primitif berjumlah banyak, tetapi setiap putik hanya tersusun dari satu daun buah (polipistil-unikarpel), sedangkan pada tumbuhan berbiji yang secara umum perkembangannya telah maju, memiliki putik tunggal yang terdiri dari banyak daun buah (unipistil-polikarpel).
4. Bakal biji (ovulum)
Bakal biji pada tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) berada di dalam daun buah yang berlekatan membentuk bakal buah, misalnya bakal biji pepaya (Carica papaya), sedangkan pada tumbuhan berbiji telanjang atau terbuka (Gymnospermae) bakal biji terletak
89 | M o r f o l o g i T u m b u h a n pada permukaan daun buah yang lepas, misalnya bakal biji pakis haji (Cycas rumphii)
a. Bagian-bagian bakal biji
Bakal biji terdiri dari beberapa bagian berikut ini.
• Kulit (selaput) bakal biji (integument), yaitu lapisan paling luar yang akan berkembang menjadi kulit biji, jumlahnya dapat lebih dari satu.
• Badan bakal biji (nucellus), jaringan yang diselubungi kulit bakal biji.
• Kandung lembaga (saccus embrional), suatu scl di dalam nuselus yang mengandung sel telur (ovum), kandung lcmbaga sekunder, sinergid, dan antipoda.
Sel telur yang dibuahi oleh sel sperma akan berkembang menjadi lembaga (embrio) sebagai calon individu baru.
• Liang bakal biji (micropyle), suatu lubang sebagai tempat lewatnya buluh serbuk sari yang membawa sel kelamin jantan dalam proses pembuahan.
b. Bentuk bakal biji
Berdasarkan pada posisi bakal biji terhadap tali pusar atau penggantung biji (foeniculus), bakal biji dapat dibedakan menjadi beberapa macam bentuk berikut ini.
• Tegak (atropus), jika liang bakal biji terletak segaris dengan tali pusar pada arah yang berlawanan.
• Mengangguk (anatropus), liang bakal biji terletak sejajar dengan tali pusar, tali pusar membelok 180 derajat.
• Bengkok (campylotropus), tali pusar dan bakal biji membelok, liang biji sejajar dengan tali pusar.
90 | M o r f o l o g i T u m b u h a n
• Setengah mengangguk (hemitropus;
hemianatropus), jika ujung tali pusar membengkok sehingga tali pusar dan liang bakal biji membuat sudut 90 derajat.
• Melipat (camptotropus), jika tali pusar tetap lurus, tetapi bakal bijinya yang melipat sehingga liang bakal biji sejajar pula dengan tali pusar.
E. Buah (Fructus)
Setelah terjadi peristiwa persarian (polinasi) dan pembuahan (fertilisasi) maka bakal buah berkembang menjadi buah. Pada peristiwa tertentu, buah dapat berkembang tanpa terjadinya persarian dan pembuahan sehingga tumbuhan tidak memiliki biji atau memiliki biji tetapi tanpa lembaga (embrio). Peristiwa seperti itu disebut patenokarpi (parthenocarpy).
Bagian bunga yang dapat berkembang dan ikut menyusun buah antara lain 1) daun pelindung, misalnya klobot tanaman jagung 2) daun kelopak, misalnya tanaman terong, 3) tangkai putik, misalnya pada buah jagung, 4) kepala putik, misalnya buah manggis, 5) tangkai bunga, misalnya jambu monyet (Anacardium occidentale), 6) perhiasan bunga, misalnya nangka (Artocarpus integra), 7) dasar bunga, misalnya tanaman lo (Ficus glomerata).
Secara struktural, buah terjadi dari bakal buah.
Namun, dalam perkembangannya bagian bunga dapat ikut menyusun buah. Buah yang terjadi semata-mata dari bakal buah disebut buah sejati atau buah sungguh. Oleh karena tidak memiliki struktur tambahan, buah sejati disebut buah telanjang (fructus nude). Bila buah yang terjadi dari bakal buah diikuti pula oleh bagian bunga yang lain,
91 | M o r f o l o g i T u m b u h a n misalnya kelopak, mahkota, daun pelindung, dan tangkai bunga, maka disebut buah palsu atau semu (fructus spurius). Oleh karena jenis buah ini tertutup oleh bagian bunga yang ikut menyusun buah maka sering disebut buah tertutup (fructus clausus).
Baik buah semu atau sejati, dapat dikelompokkan berdasarkan asal-usul bunga menjadi sebagai berikut.
1. Buah tunggal, jika terjadi dari satu bunga tunggal dengan satu bakal buah, dengan atau tanpa bagian lain yang ikut menyusun buah. Contoh buah yang bersifat semu adalah jambu monyet (Anacardium occidentale; Anacardiaceae), sedangkan yang sejati mangga (Mangifera indica;Anacardiaceae).
2. Buah ganda, jika terjadi dari satu bunga tunggal dengan banyak bakal buah (putik), yang bebas satu dengan yang lainnya, dengan atau tanpa bagian lain yang ikut menyusun buah. Contoh buah yang bersifat semu adalah buah arbei (Fragaria vesca;
Rosaceae), sedangkan yang sejati buah kantil (Michelia champaca; Magnoliaceae).
3. Buah majemuk, jika terjadi dari bunga majemuls masing-masing bunga memiliki satu bakal buah dan menjadi buah yang saling berlekatan, dengan atau tanpa bagian lain yang ikut menyusun buah.
Contoh buah yang bersifat semu adalah buah nangka (Artocarpus integra; Moraceae), sedangkan yang sejati adalah buah pandan (Pandanus tectorius; Pandanaceae).
92 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 1. Buah sejati tunggal kering
Buah sejati tunggal kering dikelompokkan menjadi buah sejati tunggal kering dengan satu biji dan buah sejati tunggal kering dengan banyak biji.
a. Buah sejati tunggal kering dengan satu biji
Buah ini mempunyai sifat apabila masak buah tidak pecah (indehiscens). Buah dengan sifat seperti ini dibedakan menjadi seperti berikut.
1) Buah padi (caryopsis): berdinding tipis, mengandung satu biji, kulit buah dan kulit biji berlekatan, bahkan kulit biji berlekatan dengan bijinya. Contoh: padi dan jagung.
2) Buah kurung (achene): berbiji satu, kulit buah tipis, berdampingan, kulit biji tidak berlekatan. Contoh:
buah bunga matahari (Helianthus annuus), kembang ashar (Mirabilis jalapa).
3) Buah keras (nux): berbiji satu, kulit buah tipis, berdampingan dengan kulitbiji tidak berlekatan, dengan kulit buah kaku dan berkayu. Contoh: buah sarangan (Castanea argentea).
4) Buah keras bersayap (samara): berbiji satu, kulit buah tipis, berdampingan, kulit biji tidak berlekatan, kulit buah kaku dan berkayu, pada kulit buah terdapat alat tambahan berupa sayap. Contoh:
buah pada semua jenis anggota suku Dipterocarpaceae.
93 | M o r f o l o g i T u m b u h a n b. Buah sejati tunggal kering (siccus) dengan banyak biji
Buah ini mempunyai sifat jika masak buah pecah menjadi beberapa bagian buah (mericarpia) dan biji meninggalkan buahnya. Buah seperti ini dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut.
l) Buah berbelah (schizocarpium): memiliki lebih dari dua ruang, setiap satu ruang satu biji, pecah menjadi bagian buah) setiap bagian menyerupai buah kurung atau keras. Berdasarkan jumlah ruang, buah ini dibedakan menjadi
a. berbelah dua pada pegagan (Centella asiatica;
Apiaceae),
b. berbelah tiga pada patikan (Euphorbia pulcherima;
Euphorbiaceae),
a. Follicel f. Capsule (loculicidal) k. Samara (Acer) b. Achene g. Capsule (poricidal) l. Samara (Ptelea)
c. Achene (Asteraceae) h. Nut m. Samara (Fraximus)
d. Pyxis schizocarp i. Loment (ca = carpophore; me = mericarpium) e. Capsule (septicidal) j. Legume
Gambar 2.15 Tipe tangkai putik dan kepala putik (Lawrence, 1968)Gambar 2.815 Tipe buah kering (Lawrence, 1968) a.
94 | M o r f o l o g i T u m b u h a n c. berbelah empat pada selasih (Occimum basilicum;
Lamiaceae), dan d. berbelah banyak.
2) Buah kendaga (rhegma): memiliki lebih dari dua ruang, setiap ruang satu biji, pecah menjadi bagian buah, setiap bagian mengalami perpecahan lagi, setiap bagian buah dari satu daun buah) jadi memiliki banyak daun buah. Berdasarkan jumlah kendaga, buah dibedakan menjadi
a. kendaga dua (dicoccus), jika memiliki dua bagian buah yang akan terpecah lagi,
b. kendaga tiga (tricoccus), misalnya buah jarak (Ricinus communis; Euphorbiaceae),
c. kendaga lima (pentacoccus) pada Geranium spp.
(Geraniaceae),
d. kendaga banyak (polycoccus).
95 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 3) Buah kotak: mengandung banyak biji, terdiri dari satu atau beberapa daun buah, jika masak pecah, kulit buah relatif tetap. Buah kotak dibedakan menjadi empat jenis.
a. Buah bumbung (folliculus), jika terdiri dari satu daun buah, satu ruang, banyak biji, pecah menurut salah satu kampuhnya, misalnya buah tapak dara (Catharanthus roseus; Apocynaceae),
b. Buah polong (legumen), jika terdiri dari satu daun buah, satu ruang, dengan banyak biji dengan sekat semu, pecah menurut kampuh perut dan kampuh punggung dari ujung ke pangkal, misalnya buah orok-orok (Crotalaria striata; Papilionaceae), buah merak (Caesalpinia pulcherima; Caesalpiniaceae), sikejut (Mimosa pudica; Mimosaceae).
a. Drupe (Prunus) dan b. Penampang vertikalnya c. Biji d. Berry dan e. Penampang vertikalnya f. Pome (Malus) g. Buah agregat (Rubus) dan h. Penampang vertikalnya i.
Biji Rubus j. Alat tambahan biji Fragaria dan k. Penampang vertical l. Achene dari buah Fragaria
(ca = kelopak, end =endokarpium (dinding bertulang dari biji), ex = eksokarpium, mes
= mesokarpium, p = pyrene (pit atau biji), r = Dasar bunga s. Biji Gambar 2.9 Tipe buah basah (Lawrence, 1968)
96 | M o r f o l o g i T u m b u h a n c. Buah lobak atau polong semu (siliqua), jika terdiri dari dua daun buah, satu ruang, membentuk sekat semu, pecah menurut dua kampuh dari pangkal ke ujung, misalnya buah sawi (Brassica juncea;
Brassicaceae).
d. Buah kotak sejati (capsula), jika terdiri dari dua atau lebih daun buah ruangan sesuai jumlah daun buah, pecahnya buah dapat melalui
• kelep atau katup (valva), misalnya buah durian (Durio zibethinus)
• retak atau celah (rima), misalnya anggrek (Orchidaceae),
• gigi (dens), misalnya anyelir (Dianthus caryophyllus),
• liang (pore), misalnya buah opium (Papaver somniferum),
• tutup (operculum), misalnya buah krokot (Portulaca oleracea).
2. Buah sejati tunggal berdaging
Buah sejati tunggal berdaging tidak pecah pada saat masak. Buah sejati tunggal berdaging dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut ini.
a. Buah buni (bacca): memiliki dinding dua lapis, lapis luar tipis seperti belulang dan lapisan dalam tebal lunak berair, biji bebas dalam ruangan. Contoh:
buah yang berdinding tebal adalah pepaya (Carica papaya; Caricaceae), sedangkan yang tidak tebal dan menjangat adalah duku (Lansium domesticum;
Meliaceae).
97 | M o r f o l o g i T u m b u h a n b. Buah mentimun (pepo): susunan seperti buah buni, memiliki ruang kosong, pada umumnya terdiri dari tiga daun buah. Contoh: buah dari semua jenis Cucurbitaceae.
c. Buah jeruk (hesperidium): merupakan variasi buah buni, tetapi kulit buah terdiri dari tiga lapisan, yaitu kulit luar menjangat disebut flavedo, kulit tengah terdiri dari jaringan bunga karang putih disebut albedo, dan kulit dalam bersekat beberapa ruangan di dalamnya terdapat gelembung berair; biji di antara gelembung tersebut. Contoh: buah jeruk (Citrus spp., Rutaceae).
d. Buah batu (drupa): kulit buah dari tiga lapisan, yaitu kulit luar tipis menjangat (exocarpium), kulit tengah tebal berdaging atau berserabut (mesocarpium), kulit dalam tebal keras berkayu (endocarpium). Contoh: buah kelapa (Cocos nucifera; Arecaceae), mangga (Mangifera indica;
Anacardiaceae).
e. Buah delima. Contoh: buah delima (Punica granatum),
f. Buah apel (pomum): kulit buah dari tiga lapisan, yaitu kulit luar tipis menjangat (exocarpium), kulit tengah tebal berdaging atau berserabut (mesocarpium), kulit dalam tebal keras berkayu (endocarpium), memiliki beberapa ruangan peruang satu biji, misal buah apel (Pyrus malus), per (Pyrus communis).
98 | M o r f o l o g i T u m b u h a n 3. Buah sejati ganda
Buah sejati ganda terjadi dari satu bunga dengan banyak bakal buah yang bebas lalu tumbuh menjadi buah, tetapi tersusun dalam satu tangkai. Berdasarkan sifat setiap buah dibedakan menjadi beberapa jenis buah seperti berikut.
a. Buah kurung ganda, misalnya pada mawar (Rosa hybrida),
b. Buah batu ganda, misalnya buah roseberry (Rubus rosaefolius),
c. Buah bumbung ganda, misalnya buah kantil (Michelia champaca),
d. Buah buni ganda, misalnya buah srikaya (Annona squamosa).
4. Buah sejati majemuk
Berdasarkan sifat setiap buah penyusunnya, buah dibedakan menjadi
a. buah buni majemuk, misalnya buah nanas (Ananas comossus),
b. buah batu majemuk, misalnya buah pandan (Pandanus tectorius),
c. buah kurung majemuk, misalnya buah bunga matahari (Helianthus annuus).
F. Biji (Semen)
Biji merupakan perkembangan dari bakal biji. Pada tumbuhan berbiji, biji merupakan alat perkembangbiakan utama karena setiap biji mengandung lembaga (embrio)
99 | M o r f o l o g i T u m b u h a n sebagai calon individu baru. Biji memiliki bagian-bagian sebagai berikut.
1. Kulit biji (spermodermis)
Kulit biji berasal dari selaput bakal biji (integumentum). Pada tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae), kulit biji terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan luar (testa) yang umumnya kuat dengan permukaan yang dan lapisan dalam (tegmen) yang bersifat seperti selaput dan sering disebut kulit ari. Tumbuhan berbiji telanjang, misalnya melinjo (Gnetum gnemon), memiliki tiga lapisan kulit, yaitu kulit luar (sarcotesta), kulit tengah (sclerotesta), dan kulit dalam (endotesta). Bila diamati dengan teliti pada berbagai jenis tumbuhan maka pada bagian kulit luar biji terdapat adanya bagian-bagian yang spesifik seperti berikut.
a. Sayap (alae): alat tambahan pada kulit luar, umumnya digunakan untuk pemencaran biji.
Contoh: pada pinus (Pinus merkusii), crut-crutan (Spathodea campanulata).
b. Bulu (coma): modifikasi darißel kulit biji bagian terluar, menjadi rambut atau bulu halus, umumnya berguna untuk pemencaran. Contoh: randu (Ceiba pentandra), kapas (Gossypium spp.).
c. Salut biji (arillus): merupakan pertumbuhan tali pusar atau penggantung biji (funiculus). Contoh:
biji durian (Durio zibethinus).
biji durian (Durio zibethinus).