BAB II KAJIAN LITERATUR
2.3. Budaya Bahari sebagai Budaya Masyarakat Nelayan
22
2.3. Budaya Bahari sebagai Budaya Masyarakat Nelayan
Dalam memahami budaya kehidupan masyarakat nelayan, diperlukan pemahaman lebih lanjut mengenai pemahaman kontektual serta aspek-aspek yang terkait di dalamnya. Secara khusus, bagian ini membahas tentang (1)pengertian budaya bahari, dan (2)komponen pembentuk budaya bahari masyarakat nelayan, seperti yang diuraikan pada sub-bab berikut.
2.3.1. Pengertian Budaya Bahari
Istilah ‘bahari’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengarahkan pada kata ‘dahulu kala’ atau ‘kuno’, sehingga kata ‘bahari’ berkaitan pula dengan adat-istiadat dari waktu ke waktu, dan maknanya cenderung mengarah pada kebudayaan, dengan orientasi berupa laut (Beding,2013). Untuk itu, sesuatu mengenai kebaharian dapat berkaitan dengan kebudayaan dan kelautan. Sedangkan kata ‘bahari’ dan ‘maritim’ merupakan sinonim yang sama-sama berorientasi pada kelautan, tetapi kata ‘maritim’ cenderung pada kegiatan pelayaran dan perdagangan di laut (Beding,2013). Menurut Sadi,dkk (2013), budaya bahari ataupun maritim merupakan sistem nilai yang terbentuk pada suatu kelompok masyarakat, sebagai hasil dari proses penalaran dan pemahaman mengenai dunia bahari (lautan dan pesisir). Kebudayaan bahari bersifat kompleks dan dilanjutkan dari generasi ke generasi melalui proses pembelajaran (Spradley, 1979 dalam Sadi,dkk,2013). Hal ini dilengkapi dengan pendapat Lan (2007), bahwa budaya maritim / bahari mengacu pada nilai dan sistem sosial yang mengatur kehidupan manusia dengan aktivitasnya yang terkait dengan laut.
Budaya bahari terlihat pada tata cara kehidupan masyarakat pesisir, dalam hal ini masyarakat nelayan (Sartini, 2012). Menurut Fauzy,dkk (2011), kawasan pesisir umumnya terbuka bagi pendatang, sehingga memudahkan pertemuan dan pencampuran budaya melalui perdagangan, (masuknya etnis pendatang dengan budaya berbeda). Budaya campuran tersebutlah yang membentuk budaya bahari. (Fauzy, dkk, 2011). Selain itu, nilai-nilai budaya bahari melahirkan pola perilaku masyarakat nelayan yang membentuk suatu sistem sosial tertentu (Sartini, 2012). Jika dilihat dari bentuknya, budaya bahari memiliki banyak jenis yang berkaitan dengan keberadan laut dan fungsinya, seperti ritual dan konservasi bahari untuk
23
menyeimbangkan kehidupan dengan alam dan lingkungan (ucapan syukur atas hasil laut), yang disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat. (Sartini, 2012). Selain itu, budaya bahari juga dapat dilihat pada aktivitas pelayaran (perdagangan, penangkapan hasil laut), ataupun tradisi tertentu seperti sasi / penyelamatan lingkungan alam laut (Sadi,dkk,2013)
Kesimpulan :
Secara keseluruhan budaya bahari dapat dipahami sebagai rangkaian sistem nilai dan cara hidup suatu kelompok masyarakat yang berkaitan erat dengan dunia bahari, yaitu laut dan pesisir, dan bersifat turun-temurun. Budaya bahari masyarakat nelayan di kawasan pesisir juga merupakan hasil akulturasi etnik dan budaya sebagai akibat dari aktivitas kelautan (pelayaran dan perdagangan), sehingga dijumpai berbeda-beda di berbagai daerah, menyesuaikan perngetahuan dan perkembangan (kearifan lokal) masyarakatnya.
2.3.2. Komponen Pembentuk Budaya Bahari Masyarakat Nelayan
Budaya bahari terbentuk dan mencakup beberapa komponen. Lan (2007) mengemukakan bahwa budaya bahari terbentur karena beberapa faktor (mengadopsi Firth,1979; Sarwono,tt; Lisa,tt) yaitu: (1)Populasi, yaitu sejumlah penduduk yang kehidupannya bergantung pada hasil kegiatan melaut; (2) Pesisir, sebagai tempat tinggal dan tempat melakukan aktivitas kebaharian, seperti melabuhkan kapal, menjual hasil laut, dll; (3)Hak masyarakat bahari, terkait penguasaan wilayah laut, seperti wilayah penangkapan ikan dan pengelolaan sumber daya laut; (4)Institusi masyarakat bahari, untuk menunjang kegiatan melaut, seperti melalui kelompok nelayan penangkap ikan, maupun pedagang hasil laut; dan (5)Identitas kelompok, untuk menyatukan kelompok masyarakat bahari, dan membedakan mereka dengan kelompok non-bahari lain. (Lan,2007).
Terkait komponen penyusun budaya bahari, Paeni (2006) dalam Lan (2007), mengemukakan bahwa budaya bahari terbagi menjadi: (1)Tradisi Besar, yang mencakup ide, gagasan, nilai, peraturan, sastra dan karya seni, arsitektural (seperti perahu dan dermaga), ilmu pengetahuan, teknologi, dll; dan (2)Tradisi Kecil, yang terbatas pada kawasan pesisir, mencakup penangkapan ikan,
24
pengelolaan hasil laut, tambak, teknologi skala kecil, perdagangan, serta usaha lain terkait pengelolaan sumber daya laut. (Paeni,2006 dalam Lan,2007). Selain itu, Hamid(2011) mengemukakan bahwa komponen yang mempengaruhi hubungan masyarakat dengan budaya bahari terdiri dari: (1)Asal-usul; (2)Bahasa; (3)Kepercayaan; (4)Keagamaan, Budaya, Etos Kerja; (5)Struktur Permukiman; serta (6)Pertambahan penduduk. Selain 5(lima) komponen tersebut, Hamid (2011) juga menekankan bahwa salah satu aspek yang dominan dalam kebudayaan bahari adalah yang berkaitan dengan perahu / aktivitas pelayaran. Hal ini mencakup (1)pembuatan perahu; (2)komunitas pelayaran; (3)pengetahuan mengenai ruang, seperti ruang-ruang yang dipengaruhi oleh pulau, karang, angin, hantu laut, ataupun bintang; (4)Hubungan solidaritas antara pelayar dan pedagang; (5)serta pengetahuan akan batas imajiner pelayar ataupun teritorial negara (Hamid,2011).
Secara lebih rinci, Lampe (2003) mengemukakan komponen penyusun budaya bahari mencakup sistem pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma/aturan, simbol komunikatif, kelembagaan, teknologi dan seni yang berkaitan dengan kelautan. Berdasarkan klasifikasi wujud budaya menurut Koentjaraningrat(1990), Lampe (2003) mengidentifikasikan budaya bahari nelayan sebagai berikut : a) Sistem budaya bahari, sebagai sistem gagasan koginitif yang mencakup
sistem pengetahuan, gagasan, keyakinan/ kepercayaan, nilai, dan norma/aturan pemanfaatan sumberdaya dan jasa laut. Secara spesifik, sistem pengetahuan mencakup pengetahuan mengenai biota laut yang bernilai ekonomis, lokasi dan sarang ikan, pengetahuan musim, pengetahuan tanda-tanda (di laut, darat, angkasa/perbintangan), serta pengetahuan lingkungan sosial budaya. Sistem gagasan/ide mencakup keragaman gagasan budaya nelayan terhadap kondisi dan sumber daya laut. Sedangkan sistem kepercayaan digunakan sebagai mekanisme pemecahan persoalan lingkungan fisik dan sosial sehari-hari, seperti pemanfaatan hasil laut. b) Sistem kelembagaan, sebagai sistem yang menggambarkan hubungan
sosial masyarakat nelayan/bahari. Aspek ini mencakup organisasi, kelompok kerjasama nelayan, hak-hak pemilikan, ataupun kontrol atas wilayah dan sumber daya laut. Suatu pranata (perangkat aturan dengan organisasi/kelembagaan yang mengatur kegiatan tertentu) di kalangan
25
masyarakat bahari difungsikan sebagai cara menyesuaikan diri dengan lingkungan atau pemecahan suatu masalah yang mendesak. Dalam kehidupan masyarakat bahari, kelompok/pranata sosial ini dapat terbentuk berdasarkan hubungan kekerabatan, agama/kepercayaan, kepentingan ekonomi, kepentingan politik, ataupun pendidikan.
c) Teknologi Kebaharian, sebagai sistem sarana dan prasarana pengangkutan/ transportasi, teknologi eksploitasi sumberdaya laut, serta sarana penggerak seperti layar, mesin, alat-alat tangkap, perlengkapan fisik lainnya. Teknologi pelayaran dan teknologi penangkapan ikan merupakan dua aspek yang potensial dari segi ekonomi sebagai usaha perikanan dan usaha transportasi pada kawasan bahari pesisir. Dalam perkembangannya, diperlukan teknologi penangkapan hasil laut yang bersifat ramah lingkungan.
Melengkapi Lampe(2003), (Satria,2015) menguraikan komponen penyusun budaya bahari yang terdiri dari sistem pengetahuan; sistem kepercayaan; peran perempuan; serta posisi nelayan, sebagai berikut :
a) Sistem Pengetahuan, yang mencakup pemahaman mengenai teknik penangkapan hasil laut, kedalaman laut, arah arus air laut, penanda cuaca, musim ikan, tingkah laku organisme laut, pasang-surut air laut, teknik pemeliharaan perahu, serta pengetahuan lokal) lainnya.
b) Sistem Kepercayaan. Berupa keyakinan akan kekuatan magis pada laut yang menghasilkan kegiatan berupa persembahan upacara /ritual tertentu terkait keselamatan melaut. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan keyakinan agama, ritual tersebut hanya menjadi tradisi / instrument untuk menjaga stabilitas sosial dalam masyarakat nelayan
c) Peran Perempuan. Berupa peran serta dalam melanjutkan kelangsungan perekonomian keluarga nelayan, dengan pembagian tugas yang lebih banyak dilakukan di rumah (domestik), dan di laut (umumnya hanya sampai perairan dangkal). Bentuk peranan perempuan dapat berupa pengelolaan dan penjualan hasil laut, ataupun sebagai instrument penjaga stabilitas sosial, seperti dalam pengajian, arisan, atau simpan pinjam di komunitas nelayan.
26
d) Posisi Sosial Nelayan. Penggolongan nelayan dilihat secara kultural, struktural, dan politik. Dalam hal ini, Satria (2015) menggolongkan nelayan menjadi empat tingkatan berdasarkan kapasitas teknologi (alat tangkap dan armada), orientasi pasar, dan karakteristik hubungan produksinya, yaitu : • Nelayan Tradisional (Peasant Fisher) yaitu nelayan yang berorientasi
pada rumah tangga / pemenuhan kebutuhan sendiri (subsistensi), karena hasil tangkapan lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan harian daripada dijual. Alat tangkapnya tradisional (dayung atau sampan tidak bermotor) dan memanfaatkan anggota keluarga sebagai tenaga kerja utama. Nelayan jenis ini tergolong memiliki jenis usaha tradisional. • Post-Peasant Fisher yaitu nelayan tradisional yang telah bertransformasi
karena perkembangan motorisasi perikanan. Teknologi penangkapannya berupa perahu motor tempel atau kapal motor, yang memungkinkan untuk memperluas area penangkapan ikan dan memperbesar kapasitas tangkapan. Hasil tangkapan umumnya diprioritaskan untuk pasar domestic, dan sedikit untuk rumah tangga. Tenaga ABK sudah meluas dan tidak lagi bergantung pada keluarga. Nelayan ini tergolong memiliki usaha yang bersifat post-tradisional.
• Commercial Fisher. Nelayan yang berorientasi pada peningkatan keuntungan, dengan skala usaha yang lebih luas, yatu untuk pasar domestic dan ekspor. Jumlah tenaga kerja dan statusnya berkembang (dari buruh hingga manajemen). Teknologi penangkapan lebih modern dan membutuhkan keahlian khusus dalam mengoperasikan kapal dan alat tangkap. Nelayan ini tergolong memiliki jenis usaha komersial.
• Industrial Fisher, yaitu kelompok nelayan yang diorganisir seperti perusahaan agroindustri negara maju, bersifat padat modal, pendapatan tinggi, serta menghasilkan hasil laut kualitas ekspor. Nelayan ini dikategorikan sebagai nelayan skala besar dengan kapasitas penangkapan dan jumlah armada yang besar, dan jauh lebih berorientasi pada keuntungan (profit-oriented), serta melibatkan buruh nelayan sebagai ABK (Anak Buah Kapal) yang memiliki organisasi kerja lebih kompleks.
27
Di sisi lain, Satria (2015) juga menjabarkan bahwa teknologi perikanan telah mengalami perubahan baik dari penangkapan maupun budidayanya, dan berpengaruh juga pada perubahan kebudayaan yang terjadi melalui adopsi dan inovasi. Tuntutan perkembangan jaman mengharuskan adanya modernisasi perikanan yang diwujudkan pada perbaikan teknologi atau alat tangkap. Kelangsungan modernisasi perikanan tersebut dapat memicu peningkatan produksi perikanan, peningkatan pendapatan nelayan, serta membuka lapangan kerja baru. Selain itu, perumahan formasi sosial dan penerapan pola bagi hasil juga mengiringi perkembangan jaman bagi masyarakat nelayan (Satria, 2015). Kesimpulan:
Secara keseluruhan, dapat dipahami bahwa budaya bahari tersusun oleh berbagai macam komponen yang saling melengkapi dan berkaitan erat dengan aktivitas kebaharian. (Satria,2015; Hamid,2011; Lan,2007; Paeni,2006 dalam Lan,2007; Lampe,2003). Lan (2007) mengungkapkan bahwa budaya bahari tergambar pada: (1)populasi nelayan; (2)permukiman pesisir (3)hak masyarakat bahari; 4)institusi masyarakat bahari; serta (5)identitas kelompok masyarakat bahari. Paeni (2006) dalam Lan (2007) menyebutkan bahwa budaya bahari tersusun atas dua komponen, yaitu tradisi besar (mencakup gagasan kebaharian yang luas) dan tradisi kecil (mencakup dinamika kehidupan nelayan di lingkup pesisir). Hamid (2011) mengemukakan bahwa faktor penyusun budaya bahari masyakat adalah asal-usul, bahasa, kepercayaan, keagamaan, budaya, etos kerja, struktur permukiman, pertambahan penduduk, serta aktivitas pelayaran.
Sedangkan secara lebih komprehensif dan rinci, Lampe (2003) membagi penyusun budaya bahari menjadi tiga komponen besar, yaitu sistem gagasan kognitif, sistem kelembagaan, serta teknologi kebaharian yang mencakup banyak hal terkait kehidupan bahari nelayan. Sementara Satria (2015) melengkapi Lampe (2003) dengan menggolongkan komponen pembentuk budaya bahari menjadi : (1)sistem pengetahuan; (2)sistem kepercayaan; (3)peranan perempuan; (4)posisi sosial dan penggolongan nelayan; serta (5) perkembangan teknologi perikanan. Seluruh aspek dalam penjabaran di atas bersifat komplementer dan dipertimbangkan untuk mengeksplorasi budaya bahari dalam penelitian ini.