• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KARAKTERISTIK BUDAYA BAHARI PADA PERUMAHAN

5.1. Fenomena Perkembangan Perumahan Nelayan Bontang Kuala

75

BAB V

KARAKTERISTIK BUDAYA BAHARI

PADA PERUMAHAN NELAYAN BONTANG KUALA

5.1. Fenomena Perkembangan Perumahan Nelayan Bontang Kuala

Sebagai lingkungan hunian di atas air yang khas dengan kehidupan bahari, perumahan nelayan Bontang Kuala mengalami beberapa fenomena. Dalam perkembangannya dari awal terbentuk hingga saat ini, kecenderungan yang terjadi adalah : (1)Peralihan orientasi perkembangan ke arah darat; (2)Kualitas maritim nelayan yang tidak berkembang; (3)Perkembangan fisik lingkungan yang semakin tidak teratur; (4)Arahan pengembangan yang belum terintegrasi dengan aspek maritim. Masing-masing fenomena tersebut dijelaskan pada sub-bab berikut. 5.1.1. Peralihan Orientasi Perkembangan ke Arah Darat

Fenomena paling dominan yang terjadi pada perumahan nelayan Bontang Kuala adalah pembalikan orientasi pengembangan yang semula “berorientasi pada laut” menjadi “berorientasi ke darat”. Ditinjau dari lokasinya (Lihat Lampiran 7), area pesisir Bontang Kuala terletak di timur Pulau Kalimantan yang menghadap langsung pada Selat Makassar. Dalam hal ini, Selat Makassar menjadi ‘pintu gerbang’ awal mula terbentuknya Bontang Kuala, dengan Suku Bajau dan Suku Bugis sebagai penduduk pertama yang mendiami area di atas air ini.

Ditinjau dari sejarahnya, kawasan Bontang Kuala ini terbentuk dari datangnya Suku Sama-Bajau dari Filipina yang menjangkau area ini melalui jalur laut. Suku ini adalah suku pelaut yang tinggal berpindah dari area laut satu ke yang lain dan menetap pada perahu atau Lepa. Sebagaimana menurut Lan (2007), Suku Bajau/“Orang Laut /“Sea People” dianggap sebagai anomali etnik dalam negara modern karena mempertahankan norma budaya hidup dan bahasa yang berbeda dengan penduduk daratan–yaitu dengan memilih tinggal di laut (Lan,2007). Sebagai area pesisir, Bontang Kuala kemudian berkembang dengan banyaknya pendatang dari suku lain yang juga mencapai area ini dari jalur laut,

76

seperti Suku Bugis Singkang (yang membaur dengan Suku Bajau dan yang pertama kali mendirikan rumah di atas laut), Suku Kutai, Suku Melayu, dan Suku Banjar; membentuk suatu akulturasi budaya seperti menurut Fauzy,dkk (2011). Seiring berjalannya waktu, area ini berkembang menjadi sekelompok rumah-rumah pelaut, membentuk sebuah kampung nelayan. Area ini kemudian berkembang dan masyarakatnya membangun akses jalan kayu menuju daratan melalui hutan-hutan mangrove. Dengan demikian, terlihat bahwa adanya Bontang Kuala bermula dari laut dan berkembang mengarah ke daratan.

Di sisi lain, modernisasi juga membawa wilayah daratan Kota Bontang semakin berkembang menjadi “gerbang utama”, di mana terdapat bandar udara, pusat pemerintahan, industri, dan ketersediaan lapangan pekerjaan yang terfokus di daratan (seperti yang telah dibahas pada Bab IV – Gambaran Umum). Area Bontang Kuala saat ini menjadi semacam “latar belakang” (sebagai kawasan wisata pesisir). Peralihan menuju daratan ini juga terlihat pada minat masyarakat Bontang Kuala dari waktu ke waktu. Sesuai Perhitungan 06 dan 07 (pada Lampiran 9) generasi muda di Bontang Kuala cenderung semakin meninggalkan pekerjaan nelayan; begitu juga dengan perkembangan tingkat pendidikan. Masyarakat Bontang Kuala lulusan SMA dan Perguruan Tinggi sebagian besar tidak pernah atau sudah meninggalkan pekerjaan nelayan, sementara lulusan SD, SMP, atau tidak sekolah (dari golongan tua) masih ada yang menjadi nelayan. Hal ini menujukkan bahwa pada sektor maritim, yaitu kegiatan kenelayanan mulai ditinggalkan, padahal latar belakang sejarah yang menyebabkan adanya keunikan perumahan di atas air laut ini berasal dari kelompok nelayan.

Jika dilihat dari sudut pandang maritim, jenis nelayan di Bontang Kuala juga mengalami perubahan, meski tidak seluruhnya menghilangkan identitas aslinya. Bagi kalangan sosiolog dan antropolog maritim, terdapat dua jenis utama nelayan: “fishermen-peasant / fishermen-farmer” dan“maritime communities”, dengan transisi antara keduanya berupa “coastal communities” (Diegues, 2005). Jenis pertama, fisher-peasant, merupakan nelayan berbasis daratan yang memanfaatkan sumberdaya laut, di mana kehidupan mereka terikat erat dengan daratan dan melaut hanya menjadi kegiatan penunjang. Jenis transisinya adalah

77

mengkombinasikan kegiatan melaut dan bertani atau berkegiatan di daratan (belum tentu bersifat maritim). Sedangkan jenis kedua adalah maritime

communities, yang seluruh kehidupannya baik dari praktik sosial, ekonomi,

maupun simbolis terkait erat dengan dengan laut lepas, jauh dari pesisir, dan menggantungkan kehidupannya pada sumber daya dasar laut (Diegues, 2005). Mengacu pada jenis-jenis tersebut, masyarakat nelayan Bontang Kuala pada awalnya termasuk pada maritime communities (nelayan bahari) yang melekat pada cara kehidupan Suku Bajau. Dalam perkembangannya, jenis nelayan Bontang Kuala semakin berubah menjadi coastal communities yang mulai menyeimbangkan pemanfaatan sumberdaya dari darat dan dari laut. Dengan adanya modernisasi, jumlah nelayan di perumahan Bontang Kuala juga semakin sedikit karena pendapatan melaut yang tidak menjanjikan, sehingga generasi muda diarahkan untuk mencari kerja di darat. Hal ini lama-kelamaan mengarahkan jenis nelayan lokal menjadi fisher-peasant.

5.1.2. Kualitas Maritim Nelayan yang Tidak Berkembang

Kualitas maritim dan kenelayanan lokal tidak lagi atau belum berkembang (stagnan), bahkan cenderung berkurang. Jenis nelayan di Bontang Kuala adalah nelayan tradisional, dengan siklus mencari ikan harian mengikuti kenaikan air laut (pulang pergi setiap hari tanpa menginap - pergi saat surut, pulang saat pasang). Berdasarkan hasil survey, dengan merujuk pada Satria (2015), jenis nelayan pada awal terbentuknya kampung Bontang Kuala adalah nelayan tradisional / peasant

fisher atau nelayan subsisten yang berorientasi pada rumah tangga, di mana

melaut lebih banyak untuk menghidupi kebutuhan harian daripada dijual (alat tangkap dan transportasi sederhana menggunakan perahu dan “bessai” / dayung).

Pada tahun 1970-1980an, kualitas nelayan berkembang lebih tinggi menjadi post-tradisional / post-peasant fisher yang bertransformasi mengikuti motorisasi perikanan (menggunakan motor tempel / ketinting dan kapal motor dengan cakupan tangkapan lebih luas), yang hasil tangkapannya diorientasikan kepada pasar domestik dan sedikit untuk rumah tangga. Hasil dapatan ikan yang dulunya tidak terlalu bernilai, semakin berkembang dengan peningkatan harga tertentu, sehingga meningkatkan permintaan domestik akan hasil laut. Bahkan ada

78

satu atau dua saudagar di perumahan nelayan Bontang Kuala yang mengusahakan budidaya ikan dan tergolong ke dalam commercial fisher, dengan skala usaha nelayan untuk pasar domestik dan ekspor (satu tingkat di atas post peasant fisher). Namun, hingga saat ini (Juni 2017) , kualitas sebagian besar dari 21% nelayan yang tersisa di kampung Bontang Kuala cenderung bertahan pada posisi post

peasant fisher dan belum mengalami peningkatan. Terlebih lagi, jika dilihat dari

skala usaha kenelayanan justru cenderung berkurang, karena fenomena peralihan mata-pencaharian terutama bagi generasi muda ke lapangan pekerjaan di darat. 5.1.3. Perkembangan Fisik Lingkungan yang Semakin Tidak Teratur

Perumahan Nelayan Bontang Kuala saat ini berkembang sebagai kampung unik di atas air, yang mengundang pendatang dari luar untuk berekreasi. Kegiatan pariwisata yang ada menimbulkan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, namun juga berdampak negatif pada kualitas fisik lingkungan. Terlebih lagi, kegiatan wisata di Bontang Kuala belum diatur dengan sistem dan manajemen yang memadai, sehingga belum dapat menarik keuntungan dengan maksimal dari banyaknya wisatawan terkait perbaikan lingkungan kampung. Di sisi lain, semakin banyaknya masyarakat yang membangun rumah baru membuat area ini padat dan mengurangi kualitas lingkungan. Berdasarkan hasil survey penulis pada Bulan Maret 2017, sebanyak 43% rumah di perumahan nelayan Bontang Kuala adalah rumah pusaka / rumah induk turun-temurun; 39% rumah baru; 15% rumah sewa; 3% rumah beli jadi. Sementara menurut data survey Budiman,dkk(2010), jumlah rumah tua / rumah induk di kawasan perumahan nelayan Bontang Kuala pada tahun 2010 masih sejumlah 58,61%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah rumah-rumah baru di kawasan permukiman ini semakin bertambah. Untuk itu perlu pengendalian dan perhatian khusus terkait elemen-elemen permukiman yang mendukung perumahan nelayan Bontang Kuala, seperti yang telah dianalisa sebelumnya, dari segi aksesibilitas, pembuangan, sumber daya, maupun fasilitas.

Di samping itu, saat ini juga sudah ada beberapa penelitian yang membahas tentang fenomena dan perkembangan Bontang Kuala (Susi, dkk, 2008; Budiman, dkk, 2010; Suparman, dkk, 2014), yang melengkapi data temuan penulis mengenai fenomena dan permasalahan fisik perumahan Nelayan Bontang Kuala

79

di Tahun 2017 . Pada beberapa penelitian tersebut, dari segi pemanfaatan lahan, terlihat persebaran permukiman yang semakin menjorok ke area tengah laut tanpa ada batasan, dengan kepemilikan (pengaplingan lahan) yang kurang jelas. Dari segi fasilitas kampung, semakin banyak rumah-rumah makan / restoran yang perlu pengendalian. Terdapat pula bangunan-bangunan baru di tengah sungai yang cenderung mengurangi kualitas sungai dan estetika, serta pengembangan bangunan rumah-rumah yang semakin rapat satu sama lain. Dari segi visual, kualitas estetika kawasan, perabotan jalan, pengaturan jaringan listrik, bentuk lampu jalan, penghijauan, penanda, serta fasilitas tempat duduk wisatawan perlu ditingkatkan (Susi, dkk, 2008). Selain itu, diperlukan pula adanya pengendalian terhadap budaya lokal karena ancaman peningkatan jumlah wisatawan dan pengaruh yang dibawa dari luar (Budiman, dkk, 2010).

5.1.4. Arahan Pengembangan yang Belum Terintegrasi dengan Maritim Fenomena, ancaman, dan potensi pada perumahan nelayan Bontang Kuala juga sudah diperhatikan oleh pemerintah. Sebelumnya, terdapat Perencanaan Penataan Revitalisasi Kawasan Pusat Kota Lama Bontang Tahun 2004 (Direktorat Jenderal Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan dan Agoralima, PT, 2004). Pada saat ini, terdapat rencana pengembangan terbaru yang tertuang dalam dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kelurahan Bontang Kuala Tahun 2015 (Dinas Tata Ruang Kota Bontang & Kemalindo, PT, 2015). Kedua perencanaan tersebut sama-sama mengarahkan perumahan nelayan Bontang Kuala menjadi kawasan wisata permukiman nelayan yang memadai, tetap mempertahankan gaya arsitektur lokal khas Kalimantan, melestarikan budaya (kegiatan dan kesenian) masyarakat, serta meningkatkan kualitas dan memperbaiki permasalahan fisik lingkungan perumahan. Adapun rancangan pengembangan dari pemerintah dapat dilihat pada Lampiran 10.

Namun, perencanaan tersebut belum terintegrasi dengan aspek maritim yang menunjang kegiatan nelayan, salah satunya adalah mobilitas dan akses masuk perahu ke lingkungan dalam kampung nelayan, termasuk ke rumah-rumah. Adanya rencana serangakaian ruang terbuka luas yang mengitari area tepi Bontang Kuala tidak memungkinkan perahu nelayan untuk masuk ke dalam

80

kampung, kecuali melalui sungai. Maka dari itu, penelitian ini melengkapi dan menunjang pengembangan perumahan nelayan Bontang Kuala yang sudah ada, dengan mengintegrasikan aspek maritim dan budaya bahari nelayan sebagai bagian dari konsep perencanaan dan pengembangannya.

* * *

Secara keseluruhan, perumahan nelayan Bontang Kuala mengalami fenomena dari berbagai aspek, baik pada kehidupan kegiatan nelayan maupun kehidupan pada lingkungan huniannya. Hal yang paling mencolok adalah adanya modernisasi yang membuat perkembangan kampung Bontang Kuala berputar arah dari yang “berorientasi pada laut” menjadi “berorientasi ke darat”; dari yang semula menjadi “pusat pemerintahan” menjadi semacam “latar belakang” kota. Hal tersebut di sisi lain juga membuat sektor maritim lokal tidak mengalami perkembangan yang berarti dan menjadikan profesi nelayan sebagai matapencaharian yang mulai ditinggalkan. Rencana-rencana pengembangan lokal untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata permukiman atas air, juga memancing semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung. Meski meningkatkan perekonomian lokal, terdapat pula dampak lain seperti penurunan kualitas lingkungan fisik karena semakin banyaknya kendaraan, orang luar yang masuk, dan meluasnya area permukiman; dan hal ini belum juga diimbangi dengan kebijakan dan manajemen kepariwisataan lokal yang baik. Rencana pengembangan yang ada juga cenderung mengabaikan kegiatan kenelayanan.

Namun di samping itu semua, terdapat potensi berupa kekhasan kehidupan tradisional nelayan lokal beserta berbagai keyakinan dan kegiatan budaya dalam kampung yang masih berjalan hingga saat ini. Untuk itu, pembahasan dalam bab ini bertujuan untuk menggali potensi karakteristik budaya bahari yang ada pada perumahan nelayan Bontang Kuala. Dalam hal ini, aspek yang dibahas mendalam adalah budaya bahari terkait lingkung bina berupa lingkungan perumahan dan bangunan rumah nelayan secara spesifik.

81