BAB VII KONSEP PEREMAJAAN PERUMAHAN NELAYAN BONTANG
7.1. Visi Peremajaan Perumahan Nelayan Bontang Kuala
158
Dalam melakukan peremajaan, peneliti mengacu pada arahan peremajaan dari hasil kajian literatur (Bab II Kajian Literatur – Halaman 12-13) yang disesuaikan dengan Utz & KMPG (2014), bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meremajakan suatu lingkungan perkotaan, antara lain: (1)Pembentukan Visi Peremajaan; (2)Persiapan Pelaksanaan Peremajaan; (3)Perencanaan dan Perancangan dalam Peremajaan (4)Kelangsungan Peremajaan yang Memacu Partisipasi dan Kerjasama. Dalam hal ini, Peremajaan Perumahan Nelayan Bontang Kuala ditinjau berdasarkan poin (1)Visi Peremajaan; (3)Perencanaan dan Perancangan Peremajaan, dan (4)Kelangsungan Peremajaan yang Memacu Partisipasi Masyarakat Setempat.
7.1. Visi Peremajaan Perumahan Nelayan Bontang Kuala
Bagian ini merupakan tahapan awal dalam merumuskan konsep peremajaan, yang terdiri dari (1)Penetapan Tujuan Peremajaan, (2)Identifikasi Objek Peremajaan, serta (3)Identifikasi Konteks Kesejarahan, Sosial, dan Budaya Lokal. Penjelasan secara lebih rinci diuraikan sebagai berikut.
7.1.1. Penetapan Tujuan Peremajaan
Dalam menghadapi modernisasi dan fenomena yang terjadi, perumusan konsep peremajaan perumahan nelayan Bontang Kuala ditujukan untuk :
• Meningkatkan kualitas lingkung bina perumahan nelayan Bontang Kuala pada rumah-rumah maupun lingkungan perumahan, yang menunjang kesejahteraan masyarakat nelayan secara berkelanjutan dari semua aspek (lingkungan, sosial, budaya, ekonomi) dengan mengangkat budaya bahari • Menjembatani (1)modernisasi dan peningkatan jumlah pendatang/
pengunjung, dengan (2)konservasi fisik lingkungan dan budaya lokal, baik budaya nelayan maupun ragam kegiatan sosial budaya dari akulturasi berbagai suku, melalui pengembangan yang berorientasi pada sektor pariwisata Kawasan Cagar Budaya Bontang Kuala.
• Meningkatkan kualitas kenelayanan lokal yang mengembalikan prospek mata pencaharian nelayan (kembali berorientasi pada laut), baik dari segi penangkapan, pengolahan, maupun penjualan hasil laut, serta potensi lain
159
terkait pemanfaatan lingkungan laut, melalui pengembangan yang berorientasi pada kegiatan maritim nelayan Bontang Kuala.
• Mengendalikan rencana pengembangan dari pemerintah setempat dengan mengangkat pentingnya aspek budaya bahari terhadap keberlanjutan perumahan nelayan Bontang Kuala.
7.1.2. Identifikasi Objek Peremajaan
Berdasarkan berbagai hasil survey dan analisa yang telah dilakukan, hal spesifik yang memiliki kesempatan untuk diremajakan pada perumahan nelayan Bontang Kuala mencakup infrastruktur lingkungan perumahan dan pengaturan bangunan rumah. Pengendalian aspek fisik ini selanjutnya diarahkan dan diintegrasikan dengan mekanisme jalannya kegiatan maritim masyarakat nelayan, serta jalannya kegiatan budaya lokal masyarakat. Rincian aspek yang perlu diremajakan pada perumahan nelayan Bontang Kuala adalah sebagai berikut.
• Penyediaan serta pengaturan fasilitas-fasilitas untuk menunjang kehidupan masyarakat lokal; mencakup fasilitas sebagai perumahan cagar budaya di atas air, fasilitas kenelayanan, serta fasilitas perumahan yang keberlanjutan • Perbaikan infrastruktur berupa sistem sanitasi yang lebih memadai untuk
perumahan nelayan di atas air, serta penataan penyaluran air bersih dan jaringan listrik untuk meningkatkan kualitas visual
• Pengaturan “wajah” muara Sungai Api-Api sebagai “beranda” Perumahan Nelayan Bontang Kuala, dengan memperindah tampilan visual serta meremajakan fungsi fasilitas-fasilitas pada area tersebut.
• Pengaturan luasan dan jarak antar kavling rumah yang memperhatikan faktor keamanan dan keberlanjutan lingkungan, serta kehidupan nelayan • Pengaturan pola aksesibilitas primer, sekunder, dan tersier dalam
lingkungan perumahan nelayan yang memudahkan mobilitas area darat maupun air; serta moda kendaraan yang melewatinya
• Pengaturan konfigurasi ruang dan bentuk rumah yang mampu mewadahi berbagai aspek kehidupan penghuni dari segi sosial, budaya dan ekonomi, serta ramah terhadap lingkungan.
160
7.1.3. Identifikasi Konteks Kesejarahan, Sosial, dan Budaya Lokal
Berdasarkan berbagai hasil survey dan analisa yang telah dilakukan, latar belakang kesejarahan, sosial, maupun budaya pada perumahan nelayan Bontang Kuala dapat dilihat sebagai potensi peremajaan lokal. Pertama, terdapat prinsip budaya bahari masyarakat lokal yaitu (1)mobilitas dan fleksibilitas, (2)kedekatan sosial melalui hubungan keluarga, dan (3)keterikatan erat dengan lingkungan laut. Hal ini tercermin pada masyarakat lokal Bontang Kuala sebagai representasi masyarakat bahari (maritime communities) yang masih terikat pada laut dengan pola kegiatan tradisional yang berbasis pada air. Namun, perumahan Nelayan Bontang Kuala mengalami fenomena peralihan orientasi kehidupan masyarakat yang semula pada laut menjadi ke darat; membuat kualitas kegiatan kenelayanan cenderung menurun. Perumahan nelayan ini juga mengalami pengembangan fisik sebagai kampung wisata, namun belum diatur melalui manajemen pariwisata yang memadai dan cenderung mengabaikan aspek kenelayanan lokal.
Kedua, lingkungan perumahan Nelayan Bontang Kuala memiliki karakteristik Budaya Bahari yang berkelanjutan dari berbagai aspek. Dari segi ekologi, lingkungan perumahan nelayan Bontang Kuala menggunakan sistem struktur panggung yang ramah lingkungan dengan material kayu ulin. Pola sirkulasi linier dan grid dengan titik temu berupa ruang terbuka; serta orientasi bangunan menghadap air sungai atau laut, membuat kampung ini menjadi khas dan rapi. Antar bangunan memiliki jarak mencukupi satu sama lain yang memungkinkan kegiatan dan mobilitas nelayan. Dari segi sosial budaya, masyarakat Bontang Kuala aktif melakukan serta melestarikan beragam kegiatan, karena tersedia berbagai fasilitas komunal yang multifungsi dan memungkinkan terjadinya interaksi sosial, seperti jalan, masjid, ruang terbuka, dan panggung pertunjukan. Terdapat pula fasilitas untuk kegiatan nelayan seperti tambatan perahu di sungai. Dari segi ekonomi, perumahan nelayan Bontang Kuala memiliki fasilitas perdagangan dan jasa baik dan dikelola masing-masing dalam menghadapi perkembangan dari sektor pariwisata.
Ketiga, rumah nelayan Bontang Kuala juga memiliki karakteristik Budaya Bahari yang khas dan berkelanjutan dari berbagai aspek. Dari segi ekologi, rumah menggunakan struktur rumah panggung yang khas dengan material kayu besi,
161
disertai dengan sistem pewarisan kayu yang berkelanjutan. Bentuk rumah memanjang dengan bukaan yang saling berselsih, dengan orientasi timur-barat membuat rumah ini menjadi lebih hemat energi. Selain itu adanya dapur yang terpisah, ataupun pelataran belakang yang luas membuat rumah menjadi lebih aman dan meningkatkan sirkulasi udara. Dari segi sosial, dan budaya, rumah memiliki ruang keluarga, dapur, serta pelataran depan yang luas sehingga dapat melakukan berbagai kegiatan dan interaksi sosial budaya. Pada rumah nelayan juga terdapat ritual pemasangan pusat rumah yang bertujuan mengkonservasi sumber daya alam. Dari segi ekonomi, perpaduan pelataran belakang, dapur luas, los, dan pelataran depan memungkinkan berbagai kegiatan kenelayanan dapat dilakukan dari pengolahan hingga penjualan hasil laut.