MASYARAKAT MULTIKULTUR PADA ZAMAN BALI KUNO ABAD IX- IX-XIV M BERDASARKAN REKAMAN ARKEOLOGI
3. Budaya Kritik dalam Teks Geguritan I Ketut Bagus
Édéngang pang not titiang!”, Ida Wayan manyaurin, “Sing nyak not dané kénto, kéwala kena baan ngitung, suba melah suba bisa!”, “Titiang ngiring, lamun kénten néné bisa (GIKBk.bait 78 dan 79).
Terjemahannya:
Déwa yang mempergunakan dharma, bila menurut pendapat ‗ku, yang memberkati Saraswati, bersemayam di lidah (beliau)!‖, Si Bungkling bertanya menegaskan, ―Seperti apa, wujud beliau (Déwa) Saraswati?
Tunjukkanlah supaya hamba lihat!‖, Ida Wayan menjawab, ―Tidak mampu dilihat yang seperti itu, namun hanya dapat dihitung, telah baik telah bisa!‖, ―Hamba menurut, bila demikian sudah dapat.
Karena terdesak, Ida Wayan lantas menanyakan asal-usul I Ketut Bungkling. I Ketut Bungkling mengatakan dirinya merupakan titisan Dewa Wisnu, sehingga ia diakui sebagai anak dan diberi nama Mantri serta bergelar Ida Gede Anyar oleh Ida Wayan dan dinikahkan dengan putri beliau bernama Ida Srayu.
3. Budaya Kritik dalam Teks Geguritan I Ketut Bagus
Dalam teks GIKBg., tokoh sentral I Ketut Bagus berperan melancarkan kritik kepada tokoh-tokoh seperti seorang dukun,….. Pertama-tama ia mendatangi I Gede Tugu, seorang dukun mumpuni, namun kemaruk harta serta omongannya kurang bukti otentik sehingga sangat mudah I Ketut Bagus menjebaknya.
Jeroné tui mangawag pisan, natengerin anak mati, bungut enggang jati pêjah, titiang katah mamanggihin, bungut enggang nu maurip, tuah jeroné liwat denguh, nu luih ririhan titiang, matengerin anak mati, tong melihang, tatenger titiangé lintang!
Kayun masiwa ring titiang! Titiang nyadia ngawarahin, apang jati tuara ngawag, apang jati pasti-pasti, niki patengeran jati, yan wénten tong mabayu, nora kari maangkihan, ento purun nyuakang mati, nundén purun, mananem mangupakara! (GIKBg. bait 29 dan 30).
Terjemahannya:
Tuan sungguh sembrono, meramal kematian orang, mulut menganga pasti mati, hamba banyak menjumpai, mulut menganga masih hidup, Tuan terlalu bodoh, hamba masih jauh lebih pintar, meramal orang mati, bukan menyalahkan, ramalan hamba yang lalu.‖
―Maukah berguru kepada hamba?, hamba bersedia mengajarkan, supaya sungguh-sungguh tidak sembarangan, agar benar-benar, inilah ramalan sesungguhnya, jika ada orang tidak bertenaga, tidak lagi bernafas, itu bisa dikatakan mati, bisa menyuruh, mengubur memberi upacara.
Terdesak karena keterangan I Gede Tugu tentang konsep sehat, sakit, dan meninggalnya seseorang dibantahkan oleh I Ketut Bagus, I Gede Tugu dan istrinya marah besar. Bukan introspeksi diri, justru semakin arogan, I Gede Tugu mengambil lontar dan membacanya dengan keras sambil berkata, ―Demikianlah ucap sastra!‖ Dengan enteng I Ketut Bagus membantah, bahwa yang berucap bukan sastra, namun mulut I Gede Tugu yang berujar, seperti berikut.
Pangonéké ngatih keras, tuara nyak kejil sawiji, I Ketut kedék mangakak, “Nah, mangkin terang titiang uning, tuara sastrané mamunyi, kadi baos jeroné bau, lambén jeroné makemélan, kanggo kitané mamunyi, wiakti
lemuh, layahé biana matulang!” (GIKBg. bait 35). Terjemahannya:
Pembacaannya jelas dan keras, tidak mau kalah sedikit pun, I Ketut tertawa terbahak-bahak, ―Ya, kini hamba jelas tahu, bukanlah ajaran itu mengatakan, sebagaimana tuan katakan tadi, bibir tuan berucap, sekehendak hati berkata, memang lembut, dasar lidah tidak bertulang‖.
Selanjutnya, I Ketut Bagus menyambangi tempat I Mangku Éngéngan, seorang tukang tenung untuk mengadu kepintaran. Dengan berpura-pura menanyakan penyebab sakit yang diderita ayahnya, ia menguji kecerdasan I Mangku Éngéngan.
Ira Hyang Guru Kamulan, manyakitin Nanang Ca(h)i, tuara rungu tekén Nira, tusing ngaturang sasepuh, miwah ngaturang odalan, klésa gati, akéto apang tawang!
Akék-akék siga pérmas, ba bani nani ngadianin, ya lamun tuara kadianan, pilegang baong apang elung, mentik punggel carang empak!” Tur makejit, I Ketut kedék mangakak.
“Jero Mangku dija Batara?, tuara ko tiang nepukin?, Jero Mangku ngomong padidian, mangécél munyiné liu, ngora(h)ang Déwa masih didian, jeroné nguci, mirib anak bebainan.
Jero Mangku bas mauk pisan, ngadu daya sa(h)i-sa(h)i, kadung payu ulih loyang, nguluk-uluk anak pacul, dayan Jroné tawang tiang, suba pasti, ngaku katapak baan Déwa?
Jero Mangku nyak ngugu tiang?, Tiang kapangluh né jani, Jeroné melahang manatak! “Batara jani mawuwus!, Ira Batara di Suargan, Mangku ma(h)i, Ira ngicén Mangku emas! (GIKBg. bait 17 -- 21)
Terjemahannya:
Aku adalah Hyang Guru Kamulan, menyakiti ayahmu, tidak peduli kepadaku, tidak mempersembahkan pembersihan, dan membuat upacara odalan, kotor sekali, begitulah agar (kamu) tahu!
Beginilah, hai kamu! Kamu berani, terserah kamu, jika berani putar lehernya hingga patah, tumbuh tumpul ranting patah!‖, Dan berkedut, I Ketut tertawa terbahak.
―Tuan Mangku, di manakah roh suci leluhur?, Hamba tidak melihat!, Tuan Mangku berkata sendiri, mengomel bersuara banyak, mengatakan Déwa juga sendiri, Tuanku berbohong, seperti sedang terkena sihir.
Tuan Mangku terlalu berbohong, menipu setiap hari, agar memperoleh harta karena tipuan, membohongi orang lugu, akal busukmu aku pamahi, sudah jelas, mengaku sebagai persemayaman Déwa.
Tuan Mangku tidak mempercayaiku, kini hamba menerangkan, baik-baiklah Tuan mendengarkan, sekarang Batara bersabda, ―Aku adalah Batara di sorga, kemarilah, Mangku! Aku memberimu emas!
Tipu muslihat I Mangku Éngéngan dalam mencari uang dengan berpura-pura sebagai tukang tenung dibantahkan oleh I Ketut Bagus. Ia mengambil sarana persembahyangan yang telah dihaturkan di tempat I Mangku Éngéngan dan bergegas pergi. Tokoh berikutnya yang menjadi sasaran tembak I Ketut Bagus adalah tokoh cerdik pandai I Déwa Resi seorang suci dari klen ksatria. Ia berpura-pura mohon kepada I Déwa Resi agar dirinya mampu mengeluarkan api dari
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 171 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
dalam tubuhnya.
Ya I Ketut matur alus patelaanan, “Prasangga titiang akidik, nemuang sastra ring basang, saking napi ambil nika?, sinah biana pacang dadi!, sastrané untal?, méh maadukan bacin.
Kadi baos yan mangringkes Dasàkûara, keni dados Pañcakûarì, lalima kija bakta?, dados pacang pejunang?, mangda dados Pañcakûarì, yan ngringkes sastra, dados bongkos dadiang siki?
Malih sapunapiang matemuang Sùryya Candra, sira anaké ririh?, nyidayang manyemak, nunggalang Sùryya bulan, genah sawat mangulangit, baos tuah tawah, boya nyandang dingeh koping.” (GIKBg. bait 18--20).
Terjemahannya:
I Ketut berkata lembut perlahan-lahan, ―Hamba menanggapi sedikit, mempertemukan aksara suci di perut, dari mana diambil?, mustahil akan berhasil, menelan aksara itu, mungkin akan bercampur kotoran!
Sebagaimana dikatakan jika memeras kesepuluh aksara suci, sehingga menjadi lima aksara suci, yang lima lagi dibawa ke mana?, apakah bisa diberakkan, agar bisa menjadi lima aksara suci?, jika memeras aksara suci, apakah boleh dibungkus dijadikan satu?
Seterusnya, bagaimana caranya mempertemukan matahari dan bulan?, siapa yang mampu, bisa mengambil, menyatukan matahari dan bulan, tempatnya nun jauh di langit, perkataan aneh-aneh, tidak pantas didengar telinga!‖
Mendengar perintah dari I Dewa Resi aneh-aneh, yakni dengan meringkas aksara suci dirinya akan dapat melakukan apa yang diminta, I Ketut Bagus tidak mengamini dan sebaliknya menyerang dengan logikanya sendiri. Selanjutnya, I Ketut Bagus kembali mengolok-olok I Dewa Resi dengan maksud agar dapat menikahi putrinya yang jelita itu. Untuk kedua kalinya I Dewa Resi dapat dipermalukan karena kecerobohannya menafsirkan arti mimpi. I Ketut Bagus mengatakan ia mimpi menghaturkan kelapa kepada I Dewa Resi sebanyak lima puluh biji. Menurut I Dewa Resi, mimpi itu tidak boleh dipungkiri karena merupakan perintah Tuhan! Dengan demikian, I Ketut Bagus menganggap, jeratnya sudah mengena. Ia dengan segera menghaturkan kelapa kepada I Dewa Resi. Berikutnya, ia mengatakan dirinya mimpi dinikahkan dengan putri I Dewa Resi bernama Désak Manik.
Apa ada buin Ca(h)i praya uningang?, nah caritayang jani!” I Ketut maatur ngasab, “Agung nunas pangampura, ibi soré titiang ngipi,” Déwa Resi ngakak, “Nah kénkén ipian Ca(h)i?”
“Ratu Agung Pranda Resi sasuhunan, ipian titiang sapuniki, titiang midartayang, titiang reké kaanténang, ring i anak Désak Manik, inggih picayang, réh ipian maraga Widhi.
Déning Pranda maraga lir pageh dharma, biana purun manungkasin, ipian mautama, mangkin ko tunas titiang, i anak I Désak Manik!” Pranda nyangongak, tan keni antuk nyaurin (GIKBg.bait 47--49).
Terjemahannya:
Ada apa lagi yang kamu mau tanyakan? Silakan katakan sekarang!‖ I Ketut menyahut hormat, ―Hamba mohon ampun, kemarin sore hamba bermimpi‖, Déwa Resi tertawa terbahak-bahak, ―Nah mimpi apa lagi kamu?‖
―Daulat Tuanku Pendeta Agung, mimpi hamba begini, hamba menjelaskan, konon hamba dinikahkan, dengan Ananda Ni Désak Manik, sudilah
diberikan, sebab mimpi perwujudan Tuhan!
Karena Tuan Pendeta perwujudan kebenaran abadi, tiada berani mengingkari, mimpi utama, kinilah hamba mohon, Ananda I Désak Manik!‖ Tuan Pendeta mendongak, tidak bisa menjawab.
I Dewa Resi kehabisan jawaban dan kebetulan kakak Ni Desak Manik, I Dewa Yangapi datang maka I Ketut Bagus undur diri dengan membawa kekecewaan tidak dapat menikah dengan Ni Desak Manik. Akhirnya, I Ketut Bagus menyesali perbuatannya yang suka mengolok-olok orang serta selanjutnya ingin menyucikan diri ke hutan. Setelah bertemu dengan Ida Peranda Bodakeling, ia disucikan menjadi pendeta dari golongan Siwa diberi gelar Mpu Sruti.
4. Simpulan
Teks tradisi di Bali memiliki ciri tersendiri dalam menyuarakan kritik terhadap situasi sosial masyarakat pembacanya. Pengarang teks tradisi (kasus teks GIKBk. dan GIKBg.), sebagai representasi pengarang, masyarakat, dan masyarakat pembaca, menyampaikan kritik dengan cara yang elegant. Meskipun kritik yang disampaikan oleh pelaku dalam ceritanya itu memasuki ranah yang berbahaya dan rawan menimbulkan konflik, namun teks GIKBk. dan GIKBg. tetap dapat dibaca sampai saat ini. Kepiawaian itu tercermin dari pemilihan nama tokoh (I Ketut Bungkling dan I Ketut Bagus) yang secara status sosial merupakan golongan kebanyakan sehingga mengkritisi tokoh yang disucikan oleh klen tertentu di Bali, awalnya dianggap tidak wajar. Namun, akhirnya menjadi wajar mengingat kedua tokoh tersebut dinaikkan statusnya menjadi sederajat dengan tokoh yang dikritisinya.
Daftar Pustaka
Saini, K.M. 1990. Protes Sosial dalam Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa. Semi, Atar. 1985. Kritik Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.
Suardiana, I Wayan. 2009. ―Geguritan I Gedé Basur dan I Ketut Bungkling Karya Ki Dalang Tangsub: Analisis Interteks dan Resepsi. Disertasi pada Program Doktor Program Studi Linguistik Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 173 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
KEBERTERIMAAN KOMUNITAS HINDU DALAM PLURALITAS