Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo
Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Tidak banyak yang memahami secara komprehensif tentang peran tokoh-tokoh rohani awan luar negeri dalam kaitannya dengan terbentuknya masyaraka tmulti budaya di Bali. Padahal peran mereka sangat signifikan untuk diperhitungkan, yang didasari atas tingkat pengalaman dan pendidikan yang erat kaitannya dengan nuansa nilai-nilai kemanusiaan dari mana mereka berasal. Ini dapat dilihat dari kontribusi mereka yang berkaitan dengan nilai-nilai religius yang sarat dengan nuansa kearifan lokal, yang tampaknya dilakukan dengan pendekatan-pendekatan kemanusiaan dan kemasyarakatan yang bersifat inklusif.
Berbagai tantangan yang muncul akibat proses perkembangan ini dapat diatasi dengan baik, tanpa menimbulkan riak-riak sosial di lapisan masyarakat. Bahkan, di pihak lainnya dapat memperkuat kearifan lokal yang ada yang sudah mentradisi dalam proses kesejarahan yang cukup panjang. Kontribusi para missionaris sangatlah signifikan, karena pendekatan akulturasi budaya yang diterapkannya tampaknya mampu meredam berbagai persoalan atau konflik di satu pihak, dan membangun rasa harmoni sosial yang semakin mengental dengan nilai-nilai budaya luar di pihak yang lainnya. Di sinilah pentingnya untuk memahami bagaimana dinamika historis yang berlangsung di masa lalu, dan masih dapat disaksikan hingga sekarang di Bali.
Dalam tulisan ini akan difokuskan pada bagaimana dengan penggalian budaya lokal yang dilakukannya dan kemudian diadopsi dan diadaptasi dengan budaya luar yang kemudian tampaknya memperkuat rasa multikulturalisme yang sudah berakar di Bali. Dalam kaitan inilah muncul beberapa pertanyaan yang hendaknya dapat dipahami dengan baik berkaitan dengan pertama, bagaimana perkembangan awal tokoh-tokoh religious tersebut dapat mengembangkan kegiatan misionaris di Bali? Kedua, seberapa jauh komunitas lokal dapat menerima pandangan-pandangan mereka, dan ketiga, apa tantangan dan peluang yang ada, sehingga kontribusi mereka dapat diperhitungkan dengan baik dalam konteks dinamika historis terbentuknya masyarakat multi budaya di Bali. Kata kunci: missionaris, masyarakat multi budaya, dan
1. PENDAHULUAN
Para Misionaris yang datang ke Bali memiliki peranan yang cukup signifikan terutama untuk perkembangan umat Katolik yang ada di Bali. Kehadiran misionaris dapat diterima dengan baik karena karakter masyarakat Bali yang terdiri dari masyarakat multibudaya. Etnis Bali telah mengalami kontak dengan etnis lain seperti Jawa, Bugis, Sasak, Flores dan lain sebagainya dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. Dalam bidang agama etnis Bali telah mengadakan kontak dengan Belanda, Inggris dan Amerika sejak jaman kolonial.(Ardhana,2011 :1)
Pada umumnya kehidupan masyarakat di Bali hidup berdampingan sesuai dengan konsep masyarakat multibudaya, namun dengan perbedaan etnis dan agama juga sering terjadi perbedaan pendapat dalam tatanan prilaku kehidupan sehari-hari. Hal itupula yang terjadi ketika misionaris tiba di Bali pada tanggal 11 September 1935. Pada waktu misionaris bernama Pater Joanes Kersten, SVD yang hendak melayani umat Katolik Eropa dan Melayu yang tinggal di Bali. Pada awalnya misionaris ini dilarang mengadakan hubungan langsung dengan orang Bali asli, tidak boleh mengunjungi rumah-rumah mereka apalagi mengajarkan agama kepada mereka. Karena ada ketakutan dari pihak pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah memandang jika agama Katolik membawa kebudayaan Barat masuk Bali, maka kebudayaan Bali yang sangat menarik dunia akan punah. Dalam perkembangannya para misionaris yang datang ke Bali dapat diterima dengan baik, bahkan memiliki peranan penting yang dapat dirasakan dalam kehidupan sosial masyarakat di Bali. (Patriwirawan, 1974:1411)
Penulisan makalah ini mengambil skupe temporal dari tahun 1935-2018. Tahun 1935 dipilih sebagai awal tahun penulisan dalam paper ini karena pada tahun ini misionaris pertama datang ke Bali yaitu Pater Yohenes Kersten, SVD. Tahun 2018 dijadikan sebagai akhir tahun penulisan karena sepanjang 83 tahun telah dapat dilihat perkembangan umat Katolik di Bali serta peran misionaris di Bali dan dalam kurun waktu sepanjang tahun tidak pernah terjadi konflik yang besar dalam kehidupan masyarakatnya.
Skup spasial yang digunakan dalam makalah ini adalah di Bali. Bali dipilih sebagai tempat kajian karena peran para misionaris hampir merata di seluruh kabupaten yang ada di Bali.
Dari penjelasan di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara lain.
1. Bagaimana perkembangan awal tokoh-tokoh religious tersebut dapat mengembangkan kegiatan misionaris di Bali?
2. Seberapa jauh komunitas local dapat menerima pandangan-pandangan mereka?
3. Apa tantangan dan peluang yang ada, sehingga kontribusi mereka dapat diperhitungkan dengan baik dalam konteks dinamika historis terbentuknya masyarakat multibudaya di Bali?
Inilah beberapa pertanyaan penting yang dibahas dalam makalah ini dalam upaya untuk memahami lebih baik tentang peran misionaris dalam terbentuknya masyarakat multikultural Bali.
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 77
Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
2. METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen. Melalui penelitian kualitatif budaya ini, memungkinkan peneliti untuk menata, mengkritisi, dan mengklasifikasikan data yang menarik. Di samping itu, melalui penelitian kualitatif ini membimbing peneliti untuk memperoleh temuan-temuan yang tidak terduga sebelumnya dan membangun kerangka teoritis baru. Data yang digunakan dalam makalah ini adalah data sekunder seperti buku Sejarah Gereja Katolik Denpasar dan Masyarakat Multikultural Bali Tinjauan Sejarah, Migrasi dan Integrasi.
3.PEMBAHASAN
Perkembangan Awal Tokoh-tokoh Religious di Bali
Pada tanggal 11 September 1935 seorang misionaris Katolik pertama yang datang ke Bali bernama Pater Joanes Kersten,SVD. Pada awalnya, ia menyewa sebuat tempat tinggal di Denpasar dengan aturan dari Pemerintah Belanda yang menegaskan, bahwa ia dilarang untuk mengadakan hubungan dengan orang Bali asli, mengunjungi rumah-rumah mereka serta mengajarkan agama kepada mereka. Misi juga dilarang mendirikan sekolah dan rumah sakit. Jadi tugas misi yang utama adalah melayani belasan umat Katolik Eropa atau melayu yang tinggal di seluruh Bali.
Setelah dua bulan pelayanannya di Bali, Pater Joanes Kersten dikunjungi oleh dua orang pemuda Bali yang beragama Kristen yaitu I Wayan Dibloeg dan I Made Bronong. Mereka bermaksud ingin menawarkan Injil Perjanjan Baru yang berbahasa Bali kepada Pater Kersten. Dalam perkembangannya terjadi dialog dan akhinya terlibat dalam kursus agama Katolik. Kedua pemuda ini merasa tertarik dengan agama Katolik yang baru dikenalnya yang kemudian bersedia untuk bergabung dengan Gereja katolik. Pada tahun 1936 pada hari raya Paskah kedua pemuda ini secara resmi diterima sebagai umat katolik di Gereja Katolik Denpasar. (Patriwirawan, 1974 : 1411)
Dalam perkembangan selanjutnya kedua umat Katolik baru ini mulai memperkenalkan Injil kepada orang- orang Bali lainnya. Tidak sedikit orang Bali di Desanya mulai tertarik dan minta supaya diterima di Gereja Katolik. Tetapi oleh Pater Kersten tidak serta merta diijinkan. Mereka disarankan agar jangan tergesa-gesa masuk Katolik. Sebaiknya mereka belajar dan mengenal dengan baik dulu ajaran gereja Katolik sebelum memutuskan untuk masuk Katolik.
Hal inilah yang menyebabkan pada waktu itu hubungan orang Bali Katolik dengan orang Bali yang Hindu tetap harmonis seperti sebelum ada yang memeluk agama Katolik. Orang Bali Katolik juga tetap menjalankan kewajiban- kewajiban dari desa yang tidak berhubungan dengan soal keagamaan seperti Kerja Bakti. Sehingga kerukunan dan ketentraman tetap terjaga dengan baik.(Patriwirawan, 1974 : 1412)
Kondisi Pater Kersten dalam perkembangannya tidaklah memungkinkan untuk bekerja sendiri di Bali. Ia kemudian digantikan oleh Pater Simon Buis misionaris Flores yang pada waktu itu sedang berlibur ke Eropa. Pada tanggal 30 September 1936, P. Simon Buis meneruskan pembangunan Kapel yang telah digagas sebelumnya oleh P. Kersten dan hendak membangun sebuah rumah di Tuka agar lebih dekat dengan umat yang tinggal di Tuka. Setelah kedatangan P Simon Buis di Bali ia mulai melayani umat Katolik yang terpencar seperti di Singaraja, Candi Kesuma Jembarana, Karangasem, Klungkung, Gianyar, dan Negara. Keadaan ini yang menyebabkan P Simon Buis meminta agar dibantu oleh misionaris ketiga yaitu Pater Agustinus de Broer untuk untuk membantunya melayani umat Katolik di Bali pada tahun 1938.
Dalam kaitannya dengan kehidupan multikultur, dimana relasi mayoritas dan minoritas terjadi dalam konteks harmoni dan riak-riak sosial. Demikian pula halnya dengan kehidupan umat Hindu Bali dan umat Katolik Bali, yang pada awalnya terdapat persoalan atau riak-riak sosial dalam kaitannya dengan masalah kuburan di Tuka. Namun demikian, dalam konteks harmoni yang terjalin, dimana tidak dilepaskan dari persoalan ikut sertanya umat Katolik dalam perbaikan tempat ibadah umat Hindu. Hubungan yang dianggap tidak bersinergis ini tampaknya tidak berlangsung cukup lama. Namun demikian persoalan ini tidak berlangsung lama yang disebabkan karena mereka dapat mengatasi persoalan dengan membagi tanah kuburan menjadi dua bagian. Dalam hal ini tampak sebagian untuk umat Hindu Bali dan sebagian untuk umat Katolik. Demikian pula dalam hal organisasi desa, umat Katolik dibebaskan dari kewajiban yang berhubungan dengan soal agama. (Kusumawanta,2009: 45)
Pada tahun 1949 kedatangan misionaris dari Amerika yakni Pater Josef Flaska dan Pater Norbert Antonius Shadeg, SVD. Dengan kedatangan misionaris baru ini umat disekitar Tuka berkembang menjadi lebih luas seperti Babakan, Cemagi, Abianbase. Pada tahun 1951 Pater Simon Buis kembali ke Belanda karena alasan kesehatan setelah ia membangun Gereja di Bali yang pada tahun 1950 menjadi Prefektur Apostolik.
Misionaris yang berasal dari Amerika ini bernama Pater Nobert Antonius Shadeg, SVD lahir di Minnesota, Amerika Serikat pada tanggal 10 Desember 1921. Setelah ditahbiskan menjadi imam, bersama 13 rekannya P. Shadeg diutus ke Indonesia. Pater N. Shadeg tiba di Bali pada tanggal 20 Juli 1950 setelah datang berkunjung dari Ujungpandang dan Flores. Selain berperan sebagai seorang pastor dengan melayani umat Katolik di sejumlah paroki di Bali, Pater Shadeg juga punya perhatian besar pada dunia pendidikan dan masalah kebudayaan. Ia juga menjadi guru Bahasa Inggris di Singaraja, yang saat itu menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil. Sejak mengajar itulah, dia tertarik untuk lebih intens mempelajari Bahasa Bali, sampai terbitlah kamus yang disusun P. Shadeg yang berjudul, A Basic Balinese Vocabulary' dan Bali Pocket Dictionary. (Suprobo,2000:13) Komunitas Lokal Dapat Menerima Pandangan-Pandangan Misionaris
Kehadiran misionaris di Bali membawa pengaruh tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi umat beragama lain yang ada disekitarnya.Dalam aktivitas
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 79
Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
misionaris, tidak hanya melakukan kegiatan rohani saja, tetapi juga melakukan kegiatan sosial lainnya yang dapat diterima oleh masayarakat luas di Bali. Kegiatan sosial tersebut antara lain mencakup:
1. Bidang Kesehatan
Dalam bidang Kesehatan, misi menaruh perhatian yang sangat besar. Pada awalnya misionaris mengadakan pengobatan dengan berkeliling dari desa ke desa. Dalam rangkaian pengobatannya misionaris melakukan pengobatan dengan penuh kesabaran dan cinta kasih. Komunikasi yang intensif berdialog dari hati ke hati membuat pasien merasa nyaman dan percaya dengan pengobatan yang dilakukan oleh misionari. Ini tampak menarik, apalagi jika dikunjungi oleh pastor, secara psikologis mereka merasa sangat senang karena merasakan sudah mulai diberikan perhatian. Dari sinilah dapat dilihat bagaimana masyarakat lokal dapat menerima pandangan-pandangan misionaris tentang cinta kasih dan saling melayani kepada sesama manusia, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama dalam ajaran agama Katolik. Untuk mengobati pasiennya pastor meminjam sebuah rumah untuk dijadikan balai pengobatan. Klinik dan BKIA (Badan Kesehatan Ibu dan Anak) didirikan di Palasari, Tuka, dan Gumrih oleh P. Simon Buis. Klinik ini mendapat bantuan dari suster-suster Fransiskanes. Melalui pendekatan kemanusiaan, para misionaris melayani umat tidak hanya yang beragama Katolik saja, melainkan umat lain yang datang berobat ke klinik. Hal inilah salah satu faktor penyebab misionaris dapat diterima dengan baik ditengah masyarakat Bali yang multibudaya.
2. Bidang Pendidikan. Dalam bidang pendidikan pada tahun 1949 Pater Kersten dan P. Simon Buis mendirikan Sekolah Dasar Katolik pertama di Tuka, lalu pada tahun 1951 mendirikan sekolah yang sama di Palasari dan Gumbrih pada tahun 1953. Selanjutnya dibangun pula Sekolah Menengah di bebagai tempat seperti Tuka, Palasari, Tangeb, Singaraja, dan Denpasar. Meskipun sekolah yang didirikan merupakan sekolah Katolik, namun sekolah ini menerima murid dari seluruh agama yang berasal dari seluruh Bali pada khususnya dan dari seluruh Indonesia pada umumnya. Tidak jarang murid yang masuk ke sekolah ini berasal dari NTB dan NTT yang pada waktu itu memilih menyekolahkananaknya di Sekolah Katolik Denpasar karena mutu dan kualitas yang masih terjaga saat itu. Pada awal berdirinya sekolah, untuk menunjang kegiatan belajar untuk murid yang tidak mampu tidak dikenai biaya. Misi selalu berusaha untuk membantu keluarga yang tidak mampu dan tidak hanya untuk keluarga Katolik saja.
Dapat dikatakan, bahwa dengan dibukanya sekolah dari berbagai tingkatan berarti juga membuka kesempatan untuk tenaga kerja sebagai pengajar dan tenaga administrasi dari masyarakat Bali, sebab ada pula tenaga pengajar dan administrasi dari agama lain yang diterima bekerja di Sekolah Katolik.
Tantangan dan Peluang Misionaris di Bali
Tantangan yang dihadapi oleh misionaris di Bali, sehingga kontribusi mereka dapat diperhitungkan dengan baik dalam konteks dinamika historis terbentuknya masyarakat multibudaya di Bali antara lain adalah pada awalnya kendala dari pasal 117 dari UUD Hindia (Indisiche Straatsregeling) tentang sikap pemerintah
yang netral terhadap agama. Hal ini terlihat dari sikap pemerintah yang melarang adanya hubungan antara misionaris dengan orang Bali asli.
Tantangan lainnya adalah masalah sosial seperti keadaan umat yang sangat miskin. Sebagai rohaniwan, mereka tidak hanya memperhatikan masalah rohani saja, tetapi juga memikirkan masalahekonomi umatnya. Pada tahun 139 P. Buis memohon pada Assisten Residen Bali Selatan agar umatnya diberi tanah di Bali Barat. Permintaan tersebut baru dapat terpenuhi pada bulan September 1940. P. Buis bersama dengan 24 orang umat laki-laki membuka lahan hutan yang lebat menjadi pemukiman lalu pada tanggal 12 November 1940 sebanyak 22 KK yang berasal dari Desa Tuka pindah dan menetap di Desa Palasari Jembrana.
Tantangan kembali dihadapi pada periode okupasi Jepang pad tahun 1942, dimana tentara Jepang mendarat di Bali. Pada saat itu, banyak misionaris di Bali yang ditangkap dan ditawan oleh tentara Jepang. Misalnya saja dapat disebutkan dengan ditangkapnya P. Kersten di Flores dan kemudian ditawan di Sulawesi. Pater Agus de Broer juga ditawan di Jawa, sedangkan P. Simon Buis ditahan di Penjara Singaraja lalu dipindahkan ke Pare-pare, Sulawesi sehingga dapat berjumpa dengan rekan-rekannya dari Flores. Dengan ditahannya imam-imam yang ada di Bali untuk sementara sakramen permandian dan perkawinan diberikan oleh umat yang bernama I Wayan Dibloeg setelah di beri kuasa oleh Mgr. Leven dari Ndona Flores sambil menunggu imam dari Jawa untuk memberikan sakramen lainnya.Setelah kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1946, para misionaris dibebaskan dari tawanan. Mereka satu per satu kembali seperti P. Kerten di Tuka, P Simon Buis di Palasari.(Patriwirawan, 1974:1415).
Demikian dinamika umat yang berada di Bali yang mengalami berbagai pasang surut dalam kaitannya pembertahanan konsep masyarakat multikultur yang ada di Bali pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.
SIMPULAN
Dari uraian dan analisis yang disampaikan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, kehadiran misionaris di Bali memang pada awalnya mendapat pertentangan dari pemerintah kolonial, karena mereka ingin menjaga dan melestarikan keutuhan dan budaya asli serta struktur sosial masyarakat Bali. Kedua, adanya kekhawatiran karena Kehadiran misionaris menjadi ancaman apabila banyak umat Hindu Bali yang beralih menjadi Katolik, namun hal ini tidak terjadi sebab dalam perkembangannya kehadiran misionaris yang datang ke Bali tidak hanya untuk memberi pelayanan rohani kepada umat Katolik Eropa ataupun melayu saja melainkan juga membantu masyarakat Bali lainnya yang berada disekitarnya seperti di daerah Tuka, Singaraja, Karangsem dan Jembrana. Ketiga, para misionaris memberikan bantuan kepada masyarakat yang pada waktu itu kondisinya sangat miskin. Terutama yang berada di daerah Tuka. Peran misionaris dalam hal pemberian layanan kesehatan di klinik dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak serta mendirikan sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga menengah yang dibuka untuk umum memberikan kesempatan kepada umat di Bali untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Keempat, misionaris diberi
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 81
Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
kesempatan untuk melaksanakan pelayanannya dalam sejarah perkembangan gereja Katolik di Bali, meskipun mendapat tantanganyang menunjukkan, bahwa misionaris juga berperan dalam pembentukan masyarakat multibudaya di Bali. Hal ini dapat dilihat dari terbukanya masyarakat Bali dapat menerima pendatang dari luar yang sama-sama mempertahankan etinisitas dan identitas budayanya masing-masing di masa kini dan masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, I Ketut, dkk. 2011. Masyarakat Multikultural Bali Tinjauan Sejarah, Migrasi dan Integrasi. Pustaka Larasan : Yogyakarta.
Bagian Dokumentasi Penerangan Kantor Wali Gereja Indonesia. 1974. Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Percetakan Arnoldus : Ende.
Suprobo, Leo. 2000.50 Tahun Karya Missionaris Romo Norbertus Antonius Sahdeg, Svd, Ma (1949-1999).Skripsi yang belum diterbitkan, Jurusan Sejarah : Universitas Udayana.
Kusumawanta, Rm.D.Gusti Bagus, Yoseph Made Ratnatha, Mathias Rony . 2009. Gereja Katolik Di Bali (Suatu Penelusuran Sejarah Awal Kekatolikan Sampai dengan 2006). Yayasan Pustaka Nusatama:Yogyakarta.
Gede Ginaya, I.A. Kade Werdika Damayanti, Ni Wayan Wahyu Astuti, I Wayan Nurjaya
Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali [email protected]
ABSTRAK
Bali merupakan salah satu tujuan wisata di Indonesia yang telah dikenal luas di dunia. Pada tahun 2017, Bali memperoleh penghargaan sebagai tujuan wisata terbaik dunia oleh TripAdvisor, situs perjalanan terbesar di dunia. Penghargaan ini juga berdampak pada peningkatan upaya pemerintah untuk mencapai target 20 juta wisatawan asing pada tahun 2019. Bahkan, penghargaan ini dan sejumlah penghargaan lainnya yang telah disematkan pada pulau dewata ini tercapai karena kesatuan pengejawantahan implementasi nilai-nilaiTri Hita Karana (THK) dan Sad Kertih (SK) sebagai kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan Bali. Namun, Pembangunan kepariwisataan kini hanya terfokus pada pertumbuhan ekonomi dengan begitu masifnya pengembangan pariwisata masal (mass tourism),sehingga para wisatawan menjadi sulit menemukan keunikan Bali karena mereka tidak cukup menemukan informasi yang benar tentang Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi revitalisasi nilai-nilai-nilai THK dan SK dalam pengembangan desa wisata Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem.Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Sedangkan teori yang digunakan adalah teori hermeneutik dan fenemenologiHasil penelitian menunjukkan bahwa perlu adanya revitalisasi, transformasi, konservasi, dan re-aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal THK dan SK, sebagai upaya mewujudkan multiplier effects dari pengembangan desa wisata yang berbasis masyarakat serta dilandasi dengan nilai-nilai kearifan lokal yang pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat yang seimbang antara lahir dan batin.
Kata Kunci: revitalisasi, kearifan lokal, THK dan SK,multiplier effects, kesejahteraan lahir dan batin
Latar Belakang
Pengembangan pariwisata tidak hanya terkonsentrasi dengan pengembangan yang berbasis komodifikasi dari suatu produk yang bernilai ekonomis sehingga mempunyai nilai tambah (added value) saja, tetapi juga perlu dilandasi dengan
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 83
Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
nilai-nilai kearifan lokal agar tercipta keharmonisan dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, sehingga tidak terjadi pergulatan kepentingan (conflict of interest) antar pemangku kepentingan dan masyarakat pelaku pariwisata karena perebutan kue pariwisata (Ginaya, 2017). Salah satu kearifan lokal yang tumbuh subur dalam kehidupan sosial masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana (THK) dan Sad Kertih (SK). Windia dan Ratna Komala Dewi (2007), Pitana (2010), Purana (2016), Ardika (2017), Mudana et al (2018), dan Ginaya (2018)menyebutkan pengertian THK sebagai tiga hubungan yang harmonis, yaitu hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan harmonis antara sesama manusia dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam serta makhluk lainnya.SK adalah enam jenis upacara yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam dan isinya atau enam konsep dalam melestarikan lingkungan (Wiana, 2004, 2018). Menurut Wiana konsep Sad Kertih adalah ajaran Hindu di Bali yang dapat ditelusuri ke sumbernya di Bali Purana atau lontar di mana alam semesta ini termasuk manusia menurut Veda terdiri dari unsur-unsur Panca Maha Butha atau lima unsur yang terdiri alam semesta. Implementasi THK dalam pembangunan pariwisata Bali yang dianggap mempunyai dampak sangat luas bagi masyarakat serta lingkungan di Bali, yaitu sektor perhotelan, akomodasi, serta atraksi wisata telah diakui oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, I Gd. Ardika (Anonim, 2003: 80). I Gd. Ardika dalam sumber yang sama menyatakan bahwa ada beberapa hal yang penting dari pelaksanaan THK Tourism Awards: bersifat bottom up, memberdayakan masyarakat, bersifat voluntary, dan partisipatif.
Keadaan yang cenderung membuat pembangunan kepariwisataan kini hanya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi, para penikmat pariwisata menjadi sulit menemukan keunikan Bali adalah bertentangan dengan prinsip utama pariwisata