PERANAN NILAI-NILAI TRADISIONAL DALAM KEBERTAHANAN MASYARAKAT ISLAM DI BALI
3.1 Kerjasama dan Kolaborasi Budaya
Masyarakat Islam Bali meskipun jumlahnya relatif kecil (minoritas), tetapi sejak lama telah memainkan peran yang penting terutama di daerah pesisir, khususnya dalam bidang ekonomi.Kehadiran kelompok-kelompok Islam secara historis tidak pernah dipermasalahkan.Hal ini karena adanya entitias politik yang menjadi patron yaitu beberapa puri di Bali1. Demikian juga adanya kultur pertukaran (culture of change) antara masyarakat Islam dan masyarakat Bali lainnya dalam berbagai aktifitas sosial, politik, budaya, maupun ekonomi. Kehadiran masyarakat Islam di Bali kontributif terhadap sistem ekonomi masyarakat Bali dan terlibat dalam struktur pertukaran sosial-ekonomi yang terbangun sejak lama.Hubungan ini menampakkan relasi sosial antar etnik lebih bersifat kolaboratif dibanding kompetitif.
Kelangkaan sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi tertentu seperti pedagang dan aktifitas maritim yang perntah terjadi dalam sistem ekonomi dan politik Bali, membuat satu-satunya pilihan yang tersedia secara historis adalah orang-orang Islam ini. Selanjutnya terjadi kerjasama dan kontak-kontak lewat pranata tradisional sekaa, subak, banjar yangada di Bali2.
Demikian juga terjadi kontak-kontak kultural melalui ―cultural broken‖ (pialang budaya) seperti ulama, haji, tokoh puri, tokoh-tokoh yang lainnya saling mengadakan kontak kultural, saling memberi dan menerima
1
Masyarakat Islam di Kepaon, Suwung, Serangan, mempunyai hubungan Sejarah dengan Puri Pemecutan di Badung. Demikian juga masyarakat Islam lain di Bali, mempunyai patron puri (istana) sebagai pelindung.
2
Sekaa, Subak, Banjar adalah pranata atau organisasi sosial yang bersifat sukarela salam masyarakat Bali yang ada sampai sekarang lihat I Gst Ngr Bagus, kebudayaan bali, dalam
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 145 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
unsur budaya masing-masing. Hal ini kemudian berkembang sebagai alat untuk mendekatkan diri menuju kehidupan bersama yang bersifat trans etnik, multikultur, menuju terwujudnya komunitas yang lebih luas yaitu masyarakat Bali yang mandiri (sivil society), menjadi komunitas bangsa.
Islam yang berkembang di Bali saat ini dominan berasal dari Jawa yang merupakan pengaruh Islam budaya, para ahli sering menyebut Islam Walisongo yang berkembang pada masa Majapahit di Jawa.Menurut Agus Sunyoto (Kompas, 6-12-2016) sebutan Walisongo sebetulnya mengambil petikan pada Sembilan pengaruh yang digambarkan pada simbol ―Surya Majapahit‖.Memang dalam dunia perkembangan Islam sangat menarik untuk diteliti karena terdapat variasi-variasi geografis yang amat luas dan populaisnya mendunia dan melanda semua ras.Keberadaan Islam di pesisir Bali sejak lama dapat dikatakan kasus unik, dimana komunitas Islam mampu bereksistensi dengan komunitas Bali yang memiliki identitas budaya sendiri.Hubungan dan kontak-kontak budaya ini merupakan variasi yang menarik.Varian Islam yang mengarah ke sinkretisme sampai ke Islam modern yang menuju ke ortodoksi.Raja-raja Bali sejak dahulu sangat toleran terhadap masyarakat Islam dan melindungi Islam dengan baik. Raja mengharapkan masyarakat Islam melakukan kewajibannya dengan baik sebagai muslim (Korn, 1932).
Karakter Islam Bali yang dibawa oleh Wali Songo sebagai Islam yang harmoni, akulturatif, adaptif, dan toleransi, di Bali bukan hanya sekedar wacana, tetapi merupakan praktek dalam kehidupan keseharian. Penekanan pada toleransi juga dikatakan oleh sejarawan Prancis Lombard, yang mengatakan bahwa banyak elemen Majapahit yang dipakai oleh Islam.Disamping simbol surya Majapahit, juga sistem pesantren yang merupakan warisan Hindu-Budha (Lombard, 1999).3
Pembawa Islam dari Jawa mengutamakan pendekatan damai. Abdurachman Wahid dalam bukunya : Menggerakkan Tradisi, menyebut pendekatan ini mengena di hati warga nusantara yang bercampur dengan kepercayaan lokal Hindu-Jawa. Dalam perjalanan sejarah yang panjang.Islam Bali sejak abad ke-16, Islam yang bernafas tasawuf ini bertumpang tindih dengan pandangan masyarakat lokal Bali.Pada awal-awal Islam masuk ke Bali sinkretisme memang mewarnai interaksi dengan masyarakat Bali.sebaliknya masyarakat Bali juga banyak mengadopsi tradisi-tradisi Islam. Sebuah fakta dapat dilihat bahwa mantra-mantra pada dukun pengobatan Bali selalu menyebut Muhammad pada awal-awal pengobatannya.Penghormatan pada masyarakat Islam juga dapat disaksikan sampai sekarang ada beberapa pura yang didalamnya ada pemujaan terhadap Islam yang sering disebut ―Ratu Mekah‖ seperti di Bangli, Buleleng, Sanur, Ubung (Denpasar) dan lainnya.
Sepertinya pernah dikatakan oleh Abdurachman Wahid, hakekat muslim adalah memberi kedamaian untuk sesama. Tidak hanya bermanfaat
3
Dalam konsep Hindu-Budha, Surya Majapahit menggambarkan Sembilan dewa yaitu : Wisnu (Utara), Iswara (T.Laut), Sambu (Timur), Maheswara (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (B.Daya), MAhadewa (Barat), Sankara (B. Laut) dan Ciwa sebagai titik pusat. Lihat Agus Sunyoto Kompas, 6-12-2016.
bagi agama yang dianut saja, melainkan para pengikut agama lain. Menghargai ajaran dan keyakinan agama yang berbeda tidak lantas mengiris keimanan seseorang, bahkan akan makin meningkatkan spiritualisnya (Rachmanto, Bali Post, 8-1-2018). Pikiran dan gagasan Abdurachman Wahid diatas ternyata sangat kontekstual dengan kondisi Bali sekarang. Masih relevan kiranya pendapat Abdurachman Wahid ini jika dikomparasikan dengan kenyataan masa kini di Bali, saat Islam bersahabat dengan lingkungan dan kultur Bali. disini pendekatan budaya yang menonjol yang mengena dihati masyarakat.
Dari data sejarah, sejak awal masyarakat Islam masuk ke Bali sudah memperlihatkan watak yang kolaboratif, bukan konfrontatif.Mereka melakukan kontak kultural, saling menerima dan memberi unsur-unsur budaya masing-masing.Dalam bidang sosial-ekonomi mereka sama-sama menjadi anggota dan pengurus subak (organisasi pengairan masyarakat Bali). Clifford Geertz menyebut kolaborasi ini karena sama-sama menjadi anggota organisasi sukarela (seka), menjadi anggota kekerabatan dan organisasi petani lainnya (Geertz, 1959 : 991-1012). Sehubungan dengan organisasi petani (subak), di Jembrana, orang-orang Islam sudah lama menjadi anggota dan pengurusnya, seperti yang diketemukan oleh Grader di Banyubiru. Dalam artikelnya yang berjudul : The irrigation system in the region of Djembrana, Grader mengatakan antara lain :
―Though there no subaks in Djembrana consisting entirely of Muslims, there are association there and there were their proportion is fairly high. The subaks of Yeh Anakan, in the vicinity of Muslems settlement of Banyubiru, it‘s the largest proportion of muslems members, sixty percent of the total. The board of the subaks contains the following, fungtionaries : kalian subak (Bali Islam). Assosiation klian (Bali Hindu, and there assistant (Bali Islam) (Grader, 1960 : 285)‖
Beberapa simbol kolaborasi ini dapat dilukiskan pulapada dua buah manuskrip yang sekarang tersimpan di perpustakaan Kirtya di Singaraja yaitu : ―Pepalihan Gama Bali Ring Gama Selam‖, dan sebuah lagi yang berjudul : Ahmad Muhammad, secara garis besarnya kedua manuskrip ini menceritakan dua orang bersaudara yang satu beragama Hindu, dan yang lain beragama Islam.Keduanya hidup berdampingan secara damai.
Perpaduan antara unsur Islam degan unsur Hindu dalam abad 18 juga tercermin dalam komplek beberapa pura yang pada bagian dalamnya terdapat bangunan pemujaan Islam dalam bentuk langgar.Yang dihormati dalam pura langgar (atau yang dipuja).Adalah leluhur yang beragama Islam, tetapi dihormati atau dipuja juga oleh umat Hindu.Terkadang juga didalam pura di Bali terdapat bagian yang memuja atau tempat pemujaan ―Ratu Mekah‖. Pura Meru di pantai Seseh Mengwi Kabupaten Badung dan Pura ―Taman Suci‖ di kota Denpasar dipuja oleh umat Islam di sekitarnya karena mereka percaya bahwa orang yang di ―meru‖kan atau dihormati adalah orang yang beragama Islam.
Penggunaan bahasa Melayu yang identik dengan Islam juga dipakai tidak saja dalam bahasa pergaulan atau ―lingua franca‖, tetapi juga
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 147 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
dipergunakan dalam sastra-satra merupakan kolaborasi budaya yang sangat menarik. Terjadi akulturasi dalam sastra Bali – Melayu (Islam) dalam bentuk geguritan.
Geguritan merupakan jenis sastra (genre) yang mengandung unsur-unsur bahasa Melayu (Islam).Keunikan dari geguritan ini ditulis dalam huruf / aksara Bali dengan menggunakan bahasa Melayu yang menerangkan berbagai ajaran Islam dan juga beberapa aspek Islam.Seperti contoh kisah Nabi Muhammad SAW yang dinyanyikan dengan tembang khusus yang bernama Tembang Amat. Geguritan Tamtam, berkisah tentang tokoh Tamtam yang masuk Islam dan belajar Islam sampai ke Istana Prabu Mesir.
Pengaruh lain yang berhubungan dengan Melayu (Islam) adalah praktek dukun yang memperaktekkan ritual yang Islam yang sering disebut ―nyelam‖. Hubungan antara Islam dan pengobatan diabadikan dalam satu etimologi Loloan di Jembrana yang berasal dari kata loloh, sebuah kosa kata bahasa Bali yang berarti ―ramuan‖ atau ―obat‖ yang diberikan oleh dukun muslim di Loloan (Jembrana) (Suwitha, 1983 : 189).
Dalam praktek Balian (dukun) yang nyelam selalu menyebut figure, formula, dan nama Islam. Islam adalah kekuatan eksotis asing yang berbeda dengan praktek dukun Bali, dan perbedaan ini dianggap lebih.Ini merupakan gagasan kunci dalam praktek ilmu pengobatan di Bali.dualitas foundamental berdampingan dapat dimanfaatkan untuk meraih pembebasan magis atau control atas elemen-elemen natural dan supernatural. Dengan demikian menjadi penting bahwa Islam tetap berbeda, tetapi serentak dengan itu pula diakrabi. Begitu akrabnya sampai sampai diperhitungkan sebagai unsur kekuatan leluhur pada sementara kelompok (Adrian Vickers, 2009 : 407).
Praktek ilmu gaib Islam dan figure balian kemungkinan besar adalah sumber dari banyak mantra ―Islami‖ yang terdapat dalam berbagai manuskrip usada (pengobatan) yang ada di Bali. Hooykaas seperti yang dikutip oleh Adrian Vickers meneliti sejumlah manuskrip (lontar) yang khusus mencurahkan perbuatan pada aktifitas dukun beranak tentang kehamilan dan persalinan yang selalu menyebut ―asma Allah‖ dan ―Muhammad‖ (Vickers, 2009 : 38).
Dalam tuturan yang lebih mendalam penggunaan berbagai identitas Islam dalam ―konsep Kanda Empat‖ di Bali sangat menarik untuk dicermati.―Kanda Empat‖ adalah empat saudara mistis yang mendampingi ego setiap orang Bali dalam perjalanannya menempuh kehidupan sampai dengan kematian.Empat saudara kandung harus ditentramkan dan dirangkul secara harmoni melalui ritual kehidupan. Nama-nama saudara empat ini sering disebut dalam tradisi Islam seperti : Jibrail, Mikail, Sarapil ,dan Israil dan sebagainya yang berkonotasi Islam.
Teks-teks Islam dalam praktek Balian islam yang umum di Bali pada masa lalu, mengilustrasikan betapa kesadaran tentang Islam telah menjadi bagian dari apa yang disebut oleh Adrian Vickers sebagai agama popular di Bali. mengingat kecilnya ukuran pulau Bali dan kepadatan penduduknya yang tinggi sejak jaman pra kolonial, hampir-hampir tidak mengejutkan bahwa ciri Islam banyak ditemukan dalam ritual penyembuhan dan ritual lainnya di pelosok Bali (Vickers, 2007 : 39).
Pengaruh Islam dalam Usada (pengobatan) tradisional juga ditemukan oleh peneliti Wayan Jendra dari Universitas Udayana. Dalam Manuskrip (lontar) usada manual, banyak ditemukan kata-kata yang menyebut nama Allah. Pada lembar pertama (I a) manuskrip ini menyebutkan mantra yang berbunyi sebagai berikut :
―Ong tutup kancing buana Allah Buana keeling, tutupan Gedong Allah wuwus pepet, sariname
Sianu teke pepet (Wayan Jendra, 1981 ― 84)‖
Mantra diatas ini adalah mantra yang diperuntukkan bagi seorang calon ibu yang hamil, supaya kandungannya kuat, tidak keguguran.
Bila kandungan seorang ibu sudah berhasil sampai menjelang kelahiran bayinya, maka sebelum bayi lahir dibuat lagi mantra.Mantra ini sebagai pembuka supaya jabang bayi lahir dengan lancar. Mantra pembuka berbunyi sebagai berikut :
―Buka aku kancing Allah Rasullullah‖
Maka dilanjutkan setelah bayi lahir, baukan pengobatan berupa air yang ditempatkan dalam sebuah wadah, diminumkan kepada Ibu, sisanya untuk mencuci kemaluan si Ibu. Mantra lanjutan sebagai berikut :
―Allah, uung, mang, bungkah kancing Allah Kancing Muhammad, opan aku ngedeg duwa Pamungkah kancing Muhammat
(Jendra, 1981 : 86)
Pemakaian kata-kata Allah, Muhammad, Rasulullah memberi petunjuk bahwa pengobatan (usada) dalam proses persalinan (manak) dipengaruhi oleh Islam. Kata-kata itu makna yang erat hubungannya antara pengobatan dan konteks keagamaan.Adanya pengaruh budaya Islam adalah salah satu hal yang wajar dalam dinamika kehidupan antara masyarakat Islam dan masyarakat Bali Hindu.Tidak ada kebudayaan yang luput dari pengaruh-pengaruh sesamanya.
Tradisi lokal yang menarik adalah persaudaraan antara masyarakat Islam dengan masyarakat Bali yang disebut ―menyama braya‖ yang berkembang luas di Bali Selatan.Ikatan ―menyamabraya‖ berkembang menjadi ikatan yang merekatkan masyarakat Bali dengan pendatang.Nyama adalah saudara dekat secara biologis karena hubungan perkawinan. Braya adalah saudara dekat karena tetangga, karena pekerjaan dan ikatan sosial yang lain.
Wilayah Bali Selatan secara geografis merupakan pelabuhan alam yang berfungsi sebagai pelabuhan tradisional sejak lama.Sudah sejak lama terjadi percampuran budaya di kawasan pesisir Badung dan Denpasar sekarang.Percampuran antara Islam, Melayu, Cina, Arab yang melahirkan budaya Mestizo.Budaya mestizo merupakan budaya campuran yang menghasilkan budayadan adat istiadat yang berbeda dengan daerah Bali
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 149 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
lainnya. Bali Selatan sekitar Teluk Benoa sudah lama menjadi tempat silang budaya dan kontak-kontak peradaban, meminjam konsep Restu Gunawan (Kompas, 15 Januari 2016), laut bebas ini bukan sekedar laut perdagangan tetapi juga laut peradaban. Tidak berlebihan Bali Post edisi 3 Juli 2015 menyebutkan laut sekitar Teluk Benoa sebagai ―Beranda Pulau Dewata‖. 3.2 Pemertahanan dan Perubahan Identitas
Secara historis penduduk yang beragama Islam di Bali dibagi menjadi dua kelompok besar.Kelompok pertama, penduduk yang sekarang merupakan keturunan para pendatang abad 17-18, sering disebut orang kampung.Kebanyakan dari mereka berasal dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera, Arab, Melayu. Kelompok ini mendiami kampung-kampung Islam seperti Loloan (Jembrana), Pegayaman (Buleleng), Toyo Pakeh, Gelgel, Kusamba (Klungkung), Serangan, Kepaon, Suwung, Tanjung Benoa (Badung/Denpasar).
Para peneliti tentang Bali menyebut kelompok ini Bali Islam (Korn, 1932; Grader : 1960; Barth, 1988) atau juga disebut Bali Melayu (Bagus, 1978 ; Sumarsono, 1978). Sebutan Bali Islam atau Islam Bali (muslim Bali) sesungguhnya berasal dari terminologi lama atau muslim kuno yang mempunyai ikatan genealogi, kekerabatan dan menyamabraya (keluarga dekat) dengan masyarakat Bali. hakekatnya secara historis kultural bagian integral dari masyarakat Bali. secara geografis mereka tidak mempunyai asal-muasal di luar Bali, sehingga mereka menyebut diri orang Bali. biasanya diikuti dengan dengan daerah asalnya di Bali yaitu misalnya dari Loloan, dari Kepaon, Serangan dan lainnya.
Kelompok kedua mereka yang datang ke Bali akhir abad 19, awal abad 20, karena didorong oleh sebab-sebab sosial ekonomi.Merkea berasal dari Sasak (Lombok), Madura, dan Jawa Timur lainnya.Tempat tinggal mereka sekarang menyebar di desa-desa pantai di Jembrana, Buleleng.Kelompok kedua ini ditambah dengan mereka yang datang setelah tahun 1970 an karena perkembangan pariwisata yang pesat di Bali.kelompok ini sering disebut muslim di Bali.
Dalam kajian post modernism, identitas sesungguhnya tidak bersifat tunggal (multi identitas) dan setiap budaya bersifat multikultur. Identias memang merupakan kebutuhan esensial setiap individu atau kelompok.Dalam kaitan dengan masyarakat Islam di Bali, petanda utama identitas adalah budaya dan bahasa.Bahasa merupakan salah satu alat pengidentifikasi ciri-ciri yagn paling meluas. Menurut Kramsch (dalam Suastra, 2010 : 4) bahasa sebagai sistem tanda untuk megnungkapkan, membentuk, dan menyimbulkan realitas budaya. Dalam hal ini identitas masyarakat Islam di Bali bersifat cair, dinamis, dan variatif, identitas sengaja dibentuk, bukan warisan (given), Bourdieu (1986), Madan Sarup (1987) mengatakan identitas itu tidak pernah tetap, selalu berubah-ubah, tidak utuh, tidak satu, tetapi fabricated atau constructed dan terus digodok oleh proses sesuai dengan kebutuhan. Bahkan Barth (1988) berpendapat bahwa identitas dan etnisitas, bukan hanya bersifat askriptif melainkan perjuangan politik untuk memperebutkan sumber daya ekonomi dan politik.
Mencermati konsep diatas, dapat dipakai sebagai acuan untuk melihat perubahan identitas masyarakat Islam di Bali.suatu hal yang menarik dalam perubahan identitas ini dipergunakan bahasa Melayu oleh masyarakat Islam khususnya di Jembrana. Bahasa Melayu Bali oleh beberapa peneliti sering disebut bahasa khas ―Loloan‖ (Bagus, 1978, Sumarsono, 1978).Bahasa ini dipergunakan sebagai ―lingua franca‖ oleh para pendatang yang mendiami desa-desa pantai di Jembrana.Bahasa ini jika diselidiki lebih lanjut ternyata banyak mengandung unsur-unsur bahasa Bugis-Makassar maupun Melayu.Kelompok penutur bahasa Melayu (dialek Loloan) hidup dalam kesatuan sosial yang tidak berdasarkan ikatan kekerabatan, tetapi ikatan tempat kehidupan (geografis) dan agama.Dalam perkembangan kemudian, penutur bahasa Melayu tidak mau disebut Bali Islam.Alasan mereka sangat praktis, karena sebutan itu terlalu menjolok.Mereka lebih senang disebut ―nak kampung‖ yang artinya orang kampung.Pada masa orde baru, situasi pembangunan pada masa itu (1969-1998), rupanya berpengaruh terhadap sikap masyarakat setempat. Timbul anggapan bahwa nama ―nak kampung‖ tidak sesuai dengan zamannya. Ada anggapan bahwa orang kampung berarti orang desa. Pada umumnya mereka tidak senang lagi disebut orang desa, karena itu mulai popular dengan nama Melayu Bali. dalam kaitan dengan identitas Melayu, seperti yang dikatakan oleh Andaya dan Andaya (dalam Ardhana, 2010 : 13) bahwa mereka juga didifinisikan sebagai muslim yang berwujud melayu seperti halnya di Sabah, dalam hal di Bali menjadi Melayu Bali.
Dalam jaman kerajaan abad 18-19 mereka disebut wong suanantara / wong dura negara (orang asing luar Bali), seperti Bugis, Mandar, Makassar, Arab, sesuai dengan etnisnya. Penggunaan penanda-penanda identitas memang memiliki kecenderungan berubah-ubah.Sekarang kecenderungan memilih asal-usul mereka sebagai identitas yang berkelindan dengan agama seperti Islam dari Loloan, Islam dari Kepaon dan seterusnya. Beberapa orang yang diwawancarai mengaku sebagai orang Islam dari Bali, seperti penjelasan dibawah ini :
―Saya orang Bali yang lahir di Serangan (Denpasar) Saya tidak tahu dari mana leluhur saya berasal Yang jelas saya lahir di Serangan,
Sebagai orang Bali yang kebetulan beragama Islam, Sama seperti orang Bali lain yang beragama Hindu
Atau beragama Kristen‖ (Ahmad Sastra, 70 tahun)
Tokoh Islam lain yang diwawancarai, juga menyebut diri orang Bali yang beragama Islam, seperti pengakuannya dibawah ini :
―Saya lahir di Kepaon (Denpasar), saya tidak begitu tahu dari mana saya berasal. Tetapi ibu Saya orang Bali yang beragama Hindu. Ayah saya katanya dari Palembang yang beragama Islam. Saya diasuh dan dibesarkan oleh Kakek saya Yang beragama Hindu. Bahasa sehari-hari saya Adalah bahasa Bali‖.
Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 151 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019
(Padani, 65 Tahun)
Kerinduan pencarian identitas baru di tengah gemuruhnya dunia tanpa sekat yang bernama globalisasi, membangun identitas baru sebagai pertahanan globalisasi pariwisata yang melanda Bali.identitas Bali, identitas Islam, identitas Melayu dimainkan dan ditukar-tukar silih berganti. Pariwisata yang tadinya merupakan dunia negatif bagi masyarakat Islam, sekarang sudah menjadi bagian dari dunia Islam di Bali.―Kue Pariwisata‖ juga mulai diminati oleh masyarakat Islam (Adnan, 1997).
Ketika bom bali meledak tahun 2002 dan 2005, keadaan cepat pulih karena masyarakat Islam di Bali bahu-membahu memulihkan keadaan lewat para tokoh agama (Haji Bambang, 2015, Wildaniyati, 2017).
Bersamaan dengan datangnya pelajar dan mahasiswa Islam dari pesantren-pesantren di Jawa, mereka menguatkan identitas Islam Bali, Islam yang berasal dari Bali.ketika Lebaran (Idul Fitri), justru orang-orang Islam yang berasal dari Bali mudik ke Bali, ke kampung-kampung Islam yang tersebar di Bali. sekarang ada fenomena baru, banyak orang-orang Islam yang menempati perumahan seperti ―BTN‖, karena tanah Bali makin terbatas, mereka menyebut diri Islam ―BTN‖.
IV Kesimpulan
Kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang masih dilandasi oleh nilai-nilai budaya yang tercermin dalam tata kehidupan dan tata pergaulan gotong royong.Gotong royong dan kerjasama ini melibatkan lembaga-lembaga sosial seperti banjar, desa adat, seka, subak dan organisasi sosial lainnya.Hubungan sosial harmonis ini menembus batas-batas agama.Kolaborasi masyarakat Islam dan masyarakat Bali merupakan mainstream, seperti dikatakan oleh Lombard (1999) masyarakat Islam di Bali berada di luar Islam dan tidak bisa dijelaskan dengan teori-teori yang ada.
Dari beberapa fakta diatas, terutama bagaimana dinamika identitas masyarakat Islam dalam rangka kebertahanan, sesungguhnya dapat dilihat dari makna transformatif.Sebuah kecenderungan / trend, sebuah pembaharuan dalam hubungan dengan usaha mencari etika baru, untuk mencari nilai-nilai baru dengan kenyataan yang aktual.Roland Robertson menyebut hal ini sebagai ―Ascetic Mistic‖.Pariwisata yang pada sebagai masyarakat Islam dianggap ―tabu‖, sebagian besar sudah diterima oleh masyarakat Islam di Bali.Islam dan pariwisata merupakan penghadapan terbaru masyarakat Islam di Bali dalam membangun multikultural.
DAFTAR PUSTAKA
C.J. Grader, ―The Irrigation System in Jembrana‖, dalam Swellengrebel (ed.), Bali Studies; Life, Thought and Ritual, The Hague, 1960.
V.E. Korn. Het Adatrecht van Bali. u‘Gravenhage : C. Naeff, 1932.
Ardhana, I Ketut dkk. Masyarakat Multikultur Bali : Tinjauan Sejarah, Migrasi, dan Integrasi : Pustaka Larasan, 2011.
Lombard, Denys. Nusa Jawa Silang Budaya. Vol.I. Jakarta : Gramedia, 1999. Vickers, Adrian. ―Hinduism and Islam in Indonesia : Dalam Indonesia No. 44‖,
_________. Peradaban Pesisir Menuju Sebuah Budaya Nusantara. Denpasar : Pustaka Larasan, 2009.
Clifford Geretz. ―Gorm and Variation in Balinese Village Structure‖.American Anthropology, No. 61, 1959.
Wildaniyati. Dinamika Kerukunan Antar Umat Beragama : Eksistensi Masyarakat Islam di Bali Pasca Bom 2002 – 2012. Skripsi, Udayana, 2017. Bagus, I Gusti Ngurah. ―Kebudayaan Bali‖, dalam Koentjaraningrat, Manusia dan
Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Jambatan, 1975. Adnan, H.S. Habib. Islam dan Dinamika Kehidupan.MUI Bali, 1997.
Bagus, I Gusti Ngurah, Sekilas Tentang Latar Belakang Sosial Budaya dan Struktur Dialek Melayu Bali.laporan Penelitian, 1978.
Jendra, I Wayan. Pengaruh Agama Islam Dalam Uada Tradisional Bali : Suatu Studi Kasus Dalam Usada Manak. FS, 1981.
Sumarsono. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan-Bali. Jakarta : Pusat Bahasa,