• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR BELAKANG PEMIKIRAN PENDIDIKAN TAN

A. Lingkungan Tempat Asal Tan Malaka

2. Budaya

Memasuki akhir abad ke 19 masyarakat Minangkabau mulai berpikir mengenai ciri-ciri utama kemasyarakatan mereka sebagai suatu yang dinamis dan anti-parokhialisme.59 Hingga kini, adat dan falsafah tradisional Minangkabau memandang suatu konflik sebagai sarana penting untuk mencapai integrasi masyarakat. Masyarakat Minangkabau selalu bertalian dengan gagasan dialektika tentang harmoni dari beragam kontradiksi. Sebagaimana bisa dilihat dalam tambo,60 melalui pencarian yang terus-menerus, potensi alam berkembang dan elemen-elemen asing diserap. Dalam pandangan seperti ini, pemikiran masyarakat Minangkabau tentang dinamisme dan anti-parokhialisme bukan merupakan jawaban sederhana terhadap kondisi tertentu yang tak terelakkan.

58

Ibid, hal 21.

59 Parokhialisme adalah pandangan sempit terhadap dunia dimana seseorang tidak mampu mengenali perbedaan diantara orang. Diakses dari.

Https://Id.Restihidayah.Blogspot.Com/2011/09/Mengelola-Dalam-Lingkungan-Global.Html?M=1. Sedangkan Menurut KBBI yang berkaitan dengan agama atau yang berpandangan picik. Diakses Jumat 13 Maret 2020. Pukul. 23.55 wib.

60 Tambo Minangkabau merupakan karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda yang berkaitan dengan asal-usul suku bangsa, negeri dan tradisi alam Minangkabau. Tambo Minangkabau ditulis dalam bahasa Melayu yang berbentuk prosa. Tambo itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Tambay” yang berarti bermula. Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, Tambo merupakan suatu warisan turun-temurun yang disampaikan secara lisan. Kata Tambo atau Tarambo dapat juga bermaksud sejarah, hikayat, atau riwayat. Maknanya sama dengan kata babad dalam bahasa Jawa atau Sunda.

Diakses dari. Https://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Tambo_Minangkabau. Jumat 13 Maret 2020. Pukul 23.21 wib.

Tanah Minangkabau dikenal dengan sebutan alam. Alam merupakan pusat, sedangkan keberadaan rantau adalah untuk memperkaya alam. Alam bagi masyarakat Minangkabau adalah segala-galanya, bukan hanya sebagai tempat lahir dan tempat mati, tempat hidup dan tempat berkembang, melainkan juga memiliki makna filosofisnya tersendiri. Alam dan segenap unsurnya mereka lihat senantiasa dibagi dalam empat unsur yang disebut nan ampek. Seperti halnya: ada matahari, ada bulan, ada bumi, ada bintang; ada siang, ada malam, ada pagi, ada petang; ada barat, ada timur, ada selatan, ada utara; ada api, ada air, ada tanah, ada angin.61

Semua unsur alam yang berbeda kadar dan perannya itu saling melenyapkan, dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. Unsur-unsur itu masing-masing hidup dengan eksistensinya dalam suatu harmonis tetapi dinamis sesuai dengan dialektika, alam yang mereka namakan bakarano bakajadian (bersebab dan berakibat). Di tengah-tengah masyarakat Minangkabau seperti itulah Tan Malaka dilahirkan. Ia dilahirkan di lingkungan inti masyarakat alam Minangkabau, dari keluarga yang sangat berakar pada kebudayaan lokal dan terkenal melahirkan para pejuang yang membela keluruhan masyarakat Minangkabau.62

Sebagai orang Minangkabau, pada 1912 Tan Malaka mengalami kejadian yang sangat penting bagi kehidupannya, yaitu pengukuhan gelar kebangsawanan. Berdasarkan aturan adat, pengukuhan tersebut harus dibarengi dengan pertunangan, tetapi Tan Malaka menolak untuk dijodohkan. Tan Malaka

61

Fridiyanto. Tan Malaka Guru Revolusioner: Penggagas Pendidikan Kritis. Yogyakarta: Gre Publishing. 2015, hal 66.

35

bersikeras untuk tidak bertunangan; dan jika tetap dipaksa, ia lebih memilih tidak menerima gelar sama sekali. Tan Malaka menolak bertunangan karena pada saat itu ia sedang berfokus pada pendidikan. Jika bertunangan, ia khawatir tidak memiliki kebebasan dalam mencari ilmu pengetahuan. Keluarga akhirnya memberikan keputusan untuk tetap memberikan gelar dan Tan Malaka diizinkan untuk tidak bertunangan.63

Tan Malaka sudah dipercaya memangku gelar kehormatan adat, yakni datuk, sebelum genap berumur 17 tahun.64 Dalam kebudayaan Minangkabau, gelar datuk sangat dihormati dan hanya dipakai oleh kaum lelaki yang akan atau telah menjadi pemangku/pemuka adat. Jika seseorang telah menyandang gelar datuk, maka masyarakat setempat tidak diperbolehkan lagi memanggil dengan nama, harus sesuai dengan gelarnya tersebut. Seseorang yang menghina atau merendahkan datuk akan dikenakan sanksi adat. Seseorang yang bergelar datuk dapat disamakan dengan pemimpin atau kaum yang telah memberikan gelar tersebut.65

Selain itu Tan Malaka juga dianjurkan untuk menguasai silat. Dalam masyarakat Minangkabau, silat tidak hanya dianggap sebagai seni bela diri saja atau kegiatan fisik semata tetapi juga suatu pembelajaran bagaimana memahami diri sendiri. Hal ini dikarenakan, di dalam gerakan silat menurut kebudayaan

63

Ihsanudin. Tan Malaka Dan Revolusi Proletar. Yogyakarta: Resist Book. 2010, hal 20.

64 Kata “Datuk” berasal dari bahasa sansekerta “dato” dan tersusun dari dua kata yaitu “da” atau “ra” yang berarti yang mulia dan “to” yang berarti orang. Dengan demikian datuk dapat bermakna sama dengan Raja. Tetapi, gelar Datuk Tan Malaka merupakan gelar semi bangsawan yang didapatkan dari garis keturunan sang ibu. Jadi, Datuk memiliki arti pemimpin, orang yang dituakan, penghulu, atau kepala adat. Masykur Arif Rahman. Tan Malaka: Pahlawan Besar yang

Dilupakan Sejarah. Yogyakarta: Palapa. 2013, hal 15. Dikutip dari Zulhasril Nasir. Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia. Yogyakarta: Ombak. 2007, hal 24.

65 Wicaksana Whani Anom. Tan Malaka: Perjuangan Dan Kesederhanaan. Yogyakarta: - Klik Media. 2020, hal 3-4.

Minangkabau terkandung makna filsafat dan mistik yang diperoleh dari ajaran kaum Islam. Dalam pandangan hidup orang Minang, fenomena alam, bintang dan tumbuhan tunduk kepada hukum alam yang segalanya telah diatur oleh Tuhan. Hukum alam sendiri diatur oleh kerohanian. Bagi yang mempelajari silat akan dapat memahami makna tersebut.66

Dalam silat Minangkabau, seseorang dikatakan sudah mencapai tingkat tinggi kalau sudah menguasai hukum-hukum kehidupan secara luas. Misalnya, orang sudah tinggi tingkatan silatnya dapat menciptakan hubungan sosial menjadi lebih baik, tidak mencari musuh tetapi selalu siap dan siaga untuk melawan musuh. Di samping itu, mereka yang diwajibkan belajar silat biasanya adalah para pemuda, baik yang mengenyam pendidikan maupun tidak. Bagi orang-orang Minangkabau, pemuda harus mempelajari ilmu silat karena mereka adalah generasi yang akan menjaga ketentraman hidup masyarakat di nagarinya masing- masing.67

Ilmu silat tradisional Minangkabau ini sangat berpengaruh dalam pandangan hidup orang Minangkabau termasuk Tan Malaka. Silat digunakan sebagai sarana pendidikan mental dan kepribadian. Ilmu silat Minangkabau merupakan perpaduan antara gerak dan tari; setiap gerakannya mengandung simbol-simbol filosofis dan nilai-nilai pendidikan. Silat tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga strategi, kemampuan bertindak berdasarkan akal. Bahkan, pada proses belajar silat, kemampuan akal lebih penting daripada fisik. Gerakan silat selain aspek teknik pertahanan diri dalam bentuk latihan fisik, juga

66

Zulhasil Nasir, op.cit., hal 8.

Dokumen terkait