• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR BELAKANG PEMIKIRAN PENDIDIKAN TAN

B. Pendidikan

2. Masa Pendidikan di Belanda

Setelah lulus dari Kweekschool, Horensma guru Tan Malaka, berkeinginan membawa Tan Malaka belajar ke negeri Belanda. Karena Horensma beranggapan bahwa potensi kecerdasan yang dimiliki Tan Malaka harus dimaksimalkan dan sangat disayangkan jika Tan Malaka hanya sampai pada jenjang Kweekschool. Segala upaya telah dilakukan Horensma untuk membawa Tan Malaka ke negeri Belanda. Bahkan Horensma berinisiatif untuk mendirikan suatu yayasan yang bergerak mengumpulkan dana pinjaman untuk membiayai Tan Malaka selama melanjutkan pendidikan di Belanda. Barang yang dijadikan jaminan atas berdirinya yayasan itu adalah harta benda milik keluarga Tan Malaka.81

80 Fahsin Fa’al. Negara dan Revolusi Sosial: Pokok-Pokok Pikiran Tan Malaka. Yogyakarta: Resist Book. 2010, hal 19.

81 Masykur Arif Rahman. Tan Malaka: Sebuah Biografi Lengkap. Yogyakarta: Laksana. 2017. Dikutip dari. Tan Malaka. Dari Penjara Ke Penjara. Jakarta: Teplok Press. 2000, hal 25.

43

Pada Oktober 1913, Tan Malaka didampingi keluarga Horensma berangkat ke negeri Belanda. Kemudian pada 10 Januari 1914 berdasarkan keputusan kementerian dalam negeri Belanda, Tan Malaka akhirnya diterima sebagai mahasiswa di Rijkskweekschool82 yang berlokasi di Haarlem.83 Rijkskweekschool Haarlem mendidik murid-muridnya menjadi seorang guru. Murid-murid yang terdaftar di Rijkskweekschool mayoritas adalah anak-anak berkewarganegaraan Belanda. Bahasa pengantarnya pun menggunakan bahasa Belanda dan tujuan sebenarnya didirikan Rijkskweekschool adalah hanya untuk kepentingan serta kemajuan negeri Belanda.

Setelah resmi menjadi mahasiswa di Rijkskweekschool, Tan Malaka menemukan suatu perbedaan yang mencolok antara sistem belajar di Kweekschool dan Rijkskweekschool, baik tingkat kedalaman materi maupun cakupan materinya. Tan Malaka mengungkapkan:

Pada waktu permulaan di Rijkskweekschool Haarlem, dengan sedih sekali saya saksikan, bahwa pelajaran yang sudah saya terima di Kweekschool tidak sambung-menyambung dengan yang diberikan di Rijkskweekschool. Sama-sama diajarkan ilmu tumbuh-tumbuhan, tetapi tumbuh-tumbuhan yang diperiksa dan diajarkan di negeri Belanda tidaklah sama dengan di Indonesia. Begitu juga dengan ilmu bumi, ilmu mendidik, ilmu menggambar, ilmu ukur dan lain-lain. Ada pula ilmu yang sama sekali mesti dipelajari dari permulaan seperti sejarah Belanda, sejarah dunia, aljabar, ilmu ukur-ruang, trigonometri, dan ilmu kodrat. Sebaliknya ada pula pengetahuan yang sudah saya pelajari di Kweekschool tetapi tiada diajarkan atau cuma sedikit sekali diajarkan di Haarlem, ialah ilmu pisah dan ilmu pertanian.84

82 Merupakan sekolah pendidikan guru negeri atau sekolah pelatihan (nasional) untuk guru, singkatnya perguruan tinggi pelatihan. Terletak di Haarlem Belanda (1795-1968). Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah ini seperti sejarah, geografi, musik, seni menggambar, dan lain-lainnya. Diakses dari https://nl.m.wikipedia.org/wiki/kweekschool_voor_onderwijzers. Pada Senin 9 Maret 2020. Pukul 10.38 wib.

83 Masykur Arif Rahman, op.cit., hal 36. Dikutip dari Harry A Poeze. Pergulatan Menuju Republik

1897-1925. Jakarta: Pustaka Utama Graffiti. 2000, hal 28.

Pandangan Tan Malaka terhadap kondisi pembelajaran selama awal-awal mengikuti sekolah di Belanda sebagaimana diungkapkan di atas membuktikan bahwa ia adalah pembelajar yang kritis. Ia mampu menemukan kekurangan- kekurangan dan juga kelebihan-kelebihan yang terdapat pada sekolahnya di Belanda. Selama mengikuti pelajaran di Rijkskweekschool, ada satu metode pembelajaran yang sangat tidak disukai oleh Tan Malaka, yaitu sistem hafalan yang sengaja diterapkan pada materi tertentu. Menurut Tan Malaka, kebencian terhadap metode pembelajaran berupa hafalan yang terus-menerus dipaksakan kepada murid-murid tidak akan pernah menarik hati si murid.85

Sementara itu, ketika giat bersekolah di Belanda, perhatian Tan Malaka teralihkan oleh daya juang tentara Jerman. Pada waktu itu ia sangat bersimpati kepada kehebatan tentara Jerman yang begitu gigih mempertahankan negara, bahkan ia sempat tertarik untuk menjadi tentara Jerman, tetapi Jerman tidak menerima orang asing sebagai tentaranya. Rasa nasionalis yang begitu besar para tentara Jerman dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Jerman Nietzsche, yang kemudian Tan Malaka banyak membaca karya-karyanya. Pemikiran Nietzsche ini juga berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Tan Malaka. Berkat membaca karya-karya Nietzsche wawasan Tan Malaka semakin terbuka dan semakin bersemangat untuk melakukan suatu perubahan.

Karya Nietszche yang digemari oleh pemuda-pemuda Jerman pada saat itu, ungkap Tan Malaka adalah Also Sprach Zarathustra (Demikianlah Sabda

45

Zarathustra) dan Der Wille Zur Macht (kehendak untuk Berkuasa). Tan Malaka sendiri sangat tekun dalam membaca Also Sprach Zarathustra, sebuah karya Nietszche yang seluruhnya ditulis secara puitis, pada akhir 1885. Mengenai buku ini, pada suatu kesempatan, Tan Malaka bertutur kepada temannya bahwa karya Nietszche tersebut sangat sulit untuk dipahami, tetapi ia tidak pernah putus asa untuk bisa memahaminya meskipun satu halaman dibaca sampai lima belas kali.86

Selain gemar membaca buku-buku karya Nietszche, Tan Malaka pada saat itu juga membaca buku-buku tentang perang kemerdekaan Amerika. Ia juga banyak membaca tentang revolusi Prancis, salah satu buku yang ia minati adalah karya Th. Charlyle yaitu De Fransche Revolutie. Buku ini ia dapat sebagai hadiah dari Horensma ketika Tan Malaka berangkat ke Belanda dulu. Tan Malaka mengungkapkan, ketika pemikirannya sedang mengalami kebingungan atau tidak memiliki pendoman, maka buku De Fransche Revolutie itulah yang dapat mengobati kebingungannya sehingga muncul semangat dalam dirinya. Teman belajar Tan Malaka mengatakan bahwa Tan Malaka membeli buku 12 jilid Revolusi Prancis. Dari pembacaannya terhadap buku-buku tersebut, ia menemukan tiga semboyan penting yang ia kagumi, yaitu Liberte, Egalite,

Fraternite (kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan).87 Buku-buku yang telah

dipelajarinya serta didorong oleh realitas di luar dirinya, sedikit demi sedikit telah membentuk pandangannya tentang paham revolusioner.

Pada masa-masa akhir di negeri Belanda, selain menempuh studi akta guru kepala, Tan Malaka juga mencari tambahan penghasilan. Ia melamar sebagai guru

86

Masykur Arif Rahman. Tan Malaka: Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah. Yogyakarta: Palapa. 2013, hal 43.

bahasa Melayu bagi orang-orang Belanda yang ingin pergi ke Hindia. Di tengah aktivitasnya menjalani studi akta guru kepala dan mengajar privat bahasa Melayu, Tan Malaka menyempatkan diri untuk membaca buku-buku yang disenanginya. Menurut nyonya Koopmans, Tan Malaka membaca buku sampai wajahnya memerah. Ia mencoba membaca karya penulis dan penyair Belanda, diantaranya Constantijn Huyegens (1596-1687), Frederick Van Eeden (1860-1932), Louis Couperus (1863-1923), P Van Limburg Brouwer (1829-1873), Nyonya A Bosboom Toussaint (1812-1886), Jacop Van Lennep (1802-1868), Hendrick J Schimmel (1923-1906), dan bahkan Eduard Douwes Dekker (1820-1887).88

Pada akhir masa studinya di Belanda, kerangka pemikiran Tan Malaka semakin jelas. Mulai dari pandangan hidup dan pengetahuannya, seperti: ilmu pendidikan, paham politik, ilmu filsafat, sampai pada semangat serta tekad perjuangannya untuk membela rakyat Indonesia. Banyak literatur ia baca, diantaranya: buku-buku sejarah, pendidikan, filsafat, politik, hingga sastra dan seni. Tan Malaka melakukan itu karena mempunyai cita-cita besar untuk mengubah bangsanya menjadi bangsa merdeka, berpengetahuan, dan sejahtera.89

Setelah cukup membawa pengetahuan yang berlimpah, akhirnya pada 8 November 1919 Tan Malaka pulang ke Indonesia dengan menumpang kapal JP. Coen. Suatu pengalaman yang begitu mendalam didapat Tan Malaka selama mengenyam pendidikan di negeri Belanda. Tan Malaka mendapatkan pengetahuan yang begitu luas dan mendalam mengenai ilmu-ilmu yang tidak ia dapatkan di Hindia. Ilmu-ilmu yang kelak sangat mempengaruhi kehidupannya ke depan.

88

Ibid, hal 50.

47

C. Pengaruh Ideologi Barat

Dokumen terkait