Dari Pembodohan ke Pembiadaban Bangsa
4. Budaya Main Kuasa Akar Pembiadaban Bangsa
Museum dan Monumen Pancasila Sakti tidak saja menjungkir‐ balikkan kenyataan sekitar Peristiwa 30 September, tetapi juga memalsu peristiwa sejarah semenjak tahun 1945, bertujuan untuk menyalahkan PKI. Ini ditunjukkan oleh pameran mengenai Peristiwa Tiga Daerah Oktober 1945, Peristiwa Tjirebon Februari 1946, Peristiwa Pemogokan Buruh Perkebunan Delanggu Juni 1948, Peristiwa Madiun 1948—pembasmian kekuatan kiri oleh Pemerintah Hatta, Peristiwa Serangan atas Asrama Polisi Tanjung Priok Agustus 1951, Peristiwa Tanjung Morawa 1953, Peristiwa Banda Betsi Mei 1965, Peristiwa Rapat Raksasa Ulang Tahun PKI ke‐45. Semua peristiwa sejarah ini dilukiskan tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi disalahgunakan untuk menyalahkan PKI sebagai partai pemberontak yang merongrong kekuasaan Republik Indonesia.
Pemalsuan sejarah sungguh berkembang biak di bawah kekuasaan orba Soeharto. Ini semua mengakibatkan pembodohan bangsa.
4. Budaya Main Kuasa Akar Pembiadaban Bangsa
SEPERTIGA abad kediktatoran orba berkuasa, bersimaharajalelalah budaya main kuasa. Berkat pengorbanan dan perlawanan rakyat, diktator Soeharto terguling bangkrut. Namun budaya main kuasa masih berlanjut. Main kuasa dibimbing cara berpikir yang carut‐marut. Sampai‐sampai wanita dilarang kentut. Pembodohan melanda Indonesia. Dari pembodohan meningkat ke pembiadaban.
Tanggal 14 April 2013, situs wadiyan.com memberitakan bahwa “Perempuan Dilarang Kentut di Aceh”. Sebuah kota di Aceh akan melarang warga perempuan buang angin (kentut). Kentut dianggap tidak sesuai dengan nilai‐nilai kesopanan dalam syariah Islam. “Perempuan muslim tidak diperbolehkan kentut bersuara, itu bertentangan dengan ajaran Islam,” kata Sayyid Yahia, sang walikota. Sanksi bagi perempuan yang kentut bersuara tidak main‐main. Disebutkan bahwa bagi perempuan mana saja yang kentut bersuara kecil akan menerima cambukan sebanyak 20 kali. Sementara jika suara kentutnya keras akan dipenjara selama tiga bulan.
Widya Kanti Susanti, Bupati Kendal, Jawa Tengah, kepada Kompas, 23 Januari 2014. Dipaparkannya bahwa mereka adalah pahlawan bagi keluarganya, karena mereka bisa menghidupi dan memberi makan keluarganya. Oleh karena itu, adalah tidak berperikemanusiaan apabila rumah‐rumah bordil tersebut ditutup. Tindakan ini juga menimbulkan masalah dalam pengentasan kemiskinan dan juga pengawasan atas penyebaran penyakit kelamin yang tak terkontrol.
Ketua MUI Jawa Timur dalam kuliah subuhnya, Selasa 11 Februari 2014 di Masjid Al‐Akbar Surabaya, mengingatkan bahwa MUI telah memfatwakan haram merayakan Hari Valentine.
Awal tahun 2013 di Lhokseumawe diberlakukan larangan bagi para perempuan yang duduk mengangkang ketika naik sepeda motor. Pada bulan April telah ditangkap dan ditahan 35 perempuan yang duduk mengangkang ketika naik sepeda motor.
Larangan menari di depan publik bagi para perempuan dewasa akan diterapkan di Kabupaten Aceh Utara menurut Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, karena perempuan dewasa menari di depan publik bertentangan dengan syariat Islam. “Perempuan menari tarian apa pun di depan laki‐laki itu bertentangan dengan hukum syariah,” ungkap Muhammad Thaib, Sabtu 25 Mei 2013.
Pernah pula diberitakan bahwa di Bogor ada pimpinan sekolah yang melakukan pemeriksaan atas keperawanan 3500 orang murid perempuan. Perempuan ditempatkan pada kedudukan yang tak nyaman dan tak setara dengan pria, sesuatu yang tidak adil. Semua ini menunjukkan hal‐hal yang menggelikan, tak masuk akal pikiran waras dan ilmiah. Paksaan lewat ketentuan‐ketentuan pemerintah, atau lewat fatwa untuk mempercayai, membenarkan, dan mengikuti pikiran demikian adalah pembodohan.
Di Aceh dilarang melakukan kegiatan menyambut Tahun Baru. Di Banda Aceh, 31 Desember 2013, Polisi Syariah wilayah Aceh merampas beribu‐ribu mercon dan terompet kadbod dalam satu serbuan menyusul pelarangan menyambut malam Tahun Baru. Serbuan ke tempat‐tempat yang menjual barang‐barang itu dilakukan pada malam hari menyusul fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang dikeluarkan pada 24 Desember 2013, yaitu melarang sambutan itu diadakan dalam wilayah tersebut.
Panglima TNI Jenderal (Purn.) Wiranto mengatakan, konflik masa lalu tidak akan dapat membawa perubahan jika dibawa ke dalam konteks kehidupan masa kini. Ia pun meminta kepada para anak korban konflik politik masa lalu untuk melupakan apa yang telah terjadi. Yang telah terjadi adalah pembantaian manusia tak berdosa oleh rezim militeris orba Soeharto yang menyebabkan Indonesia sebagai mercusuar perjuangan melawan imperialisme berubah warna menjadi pengekor negara adikuasa Amerika. Melupakan hal ini berarti melupakan peristiwa bersejarah yang maha‐kelam. Ini menyebabkan generasi muda tak kenal bagian yang sangat penting dari sejarah bangsanya. Alangkah bodoh generasi yang tak tahu bagian penting sejarah bangsanya sendiri. Menganjurkan untuk melupakannya tak bisa lain adalah satu pembodohan yang serius.
Pembodohan telah berlangsung di banyak bidang. Demikian serius pembodohan ini sampai‐sampai lembaga tertinggi negara menyatakan bahwa Bung Karno melakukan “pengkhianatan”. Akhir Maret 2013, Rachmawati, putri Bung Karno, menampilkan gugatan atas putusan MPR No.1 tahun 2003 yang menyatakan adanya pengkhianatan Bung Karno. Merdeka.com pada Senin 25 Maret 2013 mempertanyakan cap ʹpengkhianatʹ yang disematkan negara pada Bung Karno seperti tertuang dalam Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP‐MPR) Nomor 1/MPR/2003.
Jauh sebelum itu, ada yang menyatakan bahwa Bung Karno menyelewengkan Pancasila karena menampilkan semboyan persatuan nasional berporoskan nasakom. Dan rezim orba telah mengeramatkan Pancasila dengan mendirikan tugu peringatan “Pancasila Sakti” di Lubang Buaya. Pancasila adalah dasar negara, mana mungkin dasar negara adalah sakti. Menyatakan Pancasila sakti, dasar negara adalah sakti, sungguh satu pembodohan.
TAP MPRS No.25/1966 yang menyatakan dilarangnya PKI dan penyebaran Marxisme–Leninisme di Indonesia, dimulai dengan pertimbangan: “Bahwa faham atau ajaran Komunisme/Marxisme– Leninisme pada inti hakikatnya bertentangan dengan Pancasila” dan “Bahwa orang‐orang dan golongan‐golongan di Indonesia yang mengenal paham atau ajaran Komunisme/Marxisme–Leninisme, khususnya Partai Komunis Indonesia, dalam sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia telah nyata‐nyata terbukti beberapa kali berusaha merobohkan
kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia yang sah dengan cara kekerasan.”5 Kenyataan menunjukkan bahwa di kala Konstituante macet dalam merumuskan dasar negara, karena wakil‐wakil partai‐partai Islam seperti Masyumi dan NU, serta PSI, menentang Pancasila menjadi dasar negara, justru penganut Marxisme–Leninisme, yaitu PKI, yang teguh membela Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang‐sidang Konstituante. Walaupun PKI bersama PNI tangguh membela Pancasila sebagai dasar negara adalah mayoritas, tetapi jumlah suara mereka tidak sampai dua pertiga. Maka Konstituante tidak berhasil merumuskan Pancasila sebagai dasar negara.
Kongres Nasional VII PKI tahun 1962 memutuskan rumusan dalam Konstitusinya, bahwa “PKI menerima dan mempertahankan Undang‐Undang Dasar 1945 yang dalam Pembukaannya memuat Pancasila sebagai dasar‐dasar negara dan bertujuan membangun satu masyarakat yang adil dan makmur menurut kepribadian bangsa Indonesia.”6
Sejarah perjuangan kemerdekaan nasional Indonesia menunjukkan bahwa penganut Marxisme–Leninisme, kaum komunis Indonesia, adalah kekuatan penting dalam merebut dan membela kemerdekaan Indonesia, bahkan adalah pelopor dalam pemberontakan melawan kekuasaan kolonial Belanda. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kaum komunis dengan kekerasan mau merobohkan kekuasaan Republik Indonesia. Tuduhan dalam TAP MPRS Nomor XXV/1966 itu adalah fitnah, pemalsuan sejarah. Pemalsuan sejarah membikin bangsa tak kenal sejarah yang sesungguhnya, adalah pembodohan bangsa.
Buku Putih yang dikeluarkan Kopkamtib 1978 menyatakan bahwa PKI tidak mempunyai peranan dalam Revolusi Agustus 1945. Padahal keberadaan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin sampai tahun 1948 menunjukkan bahwa berkat peranan penting kaum komunis sebelum dan dalam revolusilah yang menyebabkan tokoh komunis ini ikut memimpin Republik Indonesia. Maka isi Buku Putih Kopkamtib adalah salah satu bentuk pemalsuan sejarah.
Begitu terjadi Peristiwa 30 September 1965, semua surat kabar dilarang terbit kecuali surat kabar Angkatan Darat, Berita Yudha dan
5 MPRS, 1966, Ketetapan Nomor XXV.
Harian Angkatan Bersenjata. Kedua koran ini secara besar‐besaran mempropagandakan bahwa para perempuan anggota Gerwani bertelanjang melakukan tarian Harum Bunga, menyilet kemaluan dan mencongkel mata para jenderal yang terbunuh di Lubang Buaya.
Ketika laporan penyelidikan Komnas HAM tentang pelanggaran HAM dalam pembunuhan massal di tahun‐tahun 1965 dan 1966 diumumkan, Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, mengatakan bahwa pembunuhan itu dibenarkan untuk menyelamatkan negara dari komunisme. Dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekarang menyuarakan mitos rezim orde baru, bahwa pembunuhan itu dibenarkan demi menyelamatkan negeri dari komunisme.7
Justru yang terjadi adalah: bukan hanya pembasmian atas kaum komunis Indonesia, tetapi adalah pembantaian atas manusia tak berdosa. Pembunuhan atas manusia tak berdosa di bawah kekuasaan rezim orba Soeharto adalah tindakan biadab. Membenarkan tindakan demikian, bukanlah lagi pembodohan tapi adalah pembiadaban bangsa.
Profesor Nugroho Notosusanto mengajarkan bahwa Pancasila bukanlah hasil galian Bung Karno. Alasannya adalah: Pancasila yang dipersoalkan ialah Pancasila dasar negara, sebelum Bung Karno sudah ada beberapa pembicara, antara lain Mr. Muhammad Yamin dan Prof. Soepomo yang mengajukan pandangan mengenai dasar negara. Karena itu, bukanlah Bung Karno yang mengajukan gagasan tentang dasar negara. Di sini Prof. Nugroho membuang kenyataan bahwa hanya Bung Karno yang mengajukan rumusan Pancasila sebagai dasar negara, walaupun Yamin dan Soepomo memaparkan masalah dasar negara lebih dulu dari Bung Karno. Menyatakan Pancasila bukan hasil galian Bung Karno adalah pemalsuan sejarah, adalah satu pembodohan.
Rasialisme anti‐Tiongkok bersimaharajalela di bawah kekuasaan rezim orba Soeharto. Rakyat dilarang merayakan Hari Raya Imlek, hari raya tradisional Rakyat Tiongkok yang juga dijunjung oleh warga negara Indonesia keturunan Tionghoa secara turun‐temurun. Di samping itu dilarang menggunakan huruf Tionghoa dan penerbitan dengan menggunakan huruf Tionghoa, dilarang adanya sekolah‐sekolah Tionghoa yang sudah turun‐temurun di Indonesia. Bahkan nama
7 James Balowski, Direct Action For Socialism in the 21st Century, majalah Revolutionary Socialist Party (RSP), Australia, 22 Oktober 2012.
pribadi yang menggunakan nama Tionghoa diminta diganti dengan nama Indonesia.
Dalam rangka kampanye rasialis anti‐Tiongkok, rezim orba secara resmi menyatakan bahwa “Dilihat dari sudut nilai‐nilai etnologis‐ politis dan etimologis‐historis, maka istilah ‘Tionghoa/Tiongkok’ mengandung nilai‐nilai yang memberi asosiasi‐psikopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia, sedang istilah ‘Cina’ tidak lain hanya mengandung arti nama dari suatu dinasti dari mana ras Cina tersebut datang, dan bagi kita umumnya kedua istilah itu pun tidak lepas dari aspek‐aspek psikologis dan emosionil.”8
Dalam kenyataan, tidaklah benar bahwa istilah “Tionghoa/Tiongkok” mengandung nilai‐nilai yang memberi asosiasi‐ psikopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia. Justru istilah Tiongkok dan Tionghoa sudah berurat berakar dalam sastra Indonesia dan dalam kehidupan politik Indonesia. Bahkan dalam Pasal 58 Undang‐Undang Dasar Sementara Negara RI 1950 mencantumkan, “golongan‐golongan kecil Tionghoa, Eropa, dan Arab, akan mempunyai wakil dalam Dewan Perwakilan Rakyat.”9
Warga negara keturunan Tionghoa telah memainkan peranan aktif dalam kehidupan politik Indonesia. Sejarah Indonesia mencatat bahwa Partai Tionghoa Indonesia adalah sebuah partai politik di Indonesia yang didirikan pada tanggal 25 September 1932, dengan Ketua Liem Koen Hian. Pada periode 1935—1939, partai ini berhasil meraih satu kursi terpilih dalam Volksraad (Dewan Rakyat Pemerintahan Belanda). Justru dalam kehidupan bermasyarakat, istilah Cina jelas berkonotasi penghinaan dan juga ejekan terhadap warga keturunan Tionghoa..
Di bawah kekuasaan orba, ada penguasa melakukan pembakaran buku sejarah. Ada pimpinan sekolah yang mau memeriksa keperawanan 3500 gadis muridnya. Ada fatwa bahwa “dangdutan” itu haram. Para tenaga kerja perempuan yang bekerja di luar negeri, banyak diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan ada yang berangkat sehat, pulangnya mayat. Sesudah jadi mayat, ada yang tak bisa segera diantar pulang kampung. Ada yang terjun dari jendela lantai 15, tergelantung di
8 Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera tentang Masalah Cina No.SE-06/ Pres.Kab/6/1967.
9 Muhammad Yamin, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Ghalia Indonesia, cetakan ke-6, Jakarta, 1982, h.187.
angkasa untuk melarikan diri karena tak tahan siksaan majikan. Ada yang pulang dalam keadaan sakit syaraf. Ada yang dihukum pancung karena telah melawan disebabkan tak tahan atas siksaan dari majikan. Marsinah gugur mati dibunuh secara kejam karena gigih membela hak‐ hak buruh perempuan.
Pada 1 Mei 2013, GATRAnews Jakarta memberitakan bahwa hingga pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tahun 2013, sebanyak 420 buruh migran asal Indonesia atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terancam hukuman mati di Arab Saudi. “Migrant Care mencatat, pada tahun 2013 sedikitnya 420 orang buruh migran (TKI) masih terancam hukuman mati di Arab Saudi,” kata Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah. Dari jumlah 420 orang tersebut, 99 orang di antaranya sudah divonis hukuman mati. Bahkan, 2 dari 99 orang TKI tersebut sudah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi.
Sungguh satu pembodohan, para buruh migran yang diperlakukan sebagai budak belian yang bekerja penuh penderitaan ini dipuja oleh sementara kalangan sebagai pahlawan devisa.
Poligami dinyatakan dibenarkan, demi kepentingan kaum hawa. Selama orba kuasa, sering dikoar‐koarkan bahwa Indonesia akan lepas landas tahun 2000. Dengan menampilkan gagasan persatuan nasional berporos nasakom, Bung Karno dituduh menyelewengkan Pancasila; Bung Karno dituduh terlibat G30S; PKI dikutuk sebagai dalang G30S. Sebentar‐sebentar dikobarkan histeria bahaya laten komunis. Peristiwa Madiun dinyatakan sebagai pemberontakan PKI. Padahal dalam pidato di depan sidang BP KNIP tanggal 20 September 1948, Perdana Menteri Moh. Hatta menyatakan bahwa “PKI – Musso telah mengadakan coup, perampasan kekuasaan di Madiun.... entah benar entah tidak, bahwa Musso akan menjadi Presiden Republik rampasan itu dan Mr. Amir Sjarifoeddin perdana menterinya.”10
Walaupun pada masa kepresidenannya, Gus Dur dan Megawati sudah berjasa dalam usaha melenyapkan diskriminasi, warga negara etnis Tionghoa yang hidup turun‐temurun berbagai generasi di mana tokoh‐tokohnya banyak berjasa dalam perjuangan merebut dan membela kemerdekaan Indonesia, masih hidup dalam sasaran penindasan diskriminasi dan tak aman dari ancaman penindasan
10 Mohammad Hatta: Mendayung Antara Dua Karang, Pidato di Muka Sidang BP KNIP 20 September 1948, Kementerian Penerangan RI, Jakarta, 1951, h.87.
rasialis. Ini artinya tidak terjamin sebagai warga negara Indonesia seutuhnya. Adalah bentuk kebohongan dengan menyatakan bahwa warga negara etnis Tionghoa sudah tidak didiskriminasikan lagi. Dalam praktek di lapangan, sampai sekarang ini masih dianak‐tirikan, seperti dalam pelayanan birokrasi, termasuk untuk masuk dalam birokrasi.
Satu saat, ada pula yang mengoar‐koarkan: Pram membakar buku. Sejarawan terkemuka Asvi Warman Adam menemukan bahwa terjemahan Indonesia buku biografi Bung Karno karya Cindy Adams yang diterbitkan dengan kata pengantar dari Soeharto, telah dikebiri dengan menambah alinea yang berisikan kebohongan tentang Bung Karno yang tidak suka kepada Bung Hatta.
Ada pembodohan lewat pembohongan kasar di siang bolong seperti kampanye tuduhan Gerwani melakukan tari Harum Bunga, menyanyikan Genjer‐Genjer di Lubang Buaya, orang‐orang Gerwani menyilet kemaluan dan mencungkil mata para jenderal yang dibunuh oleh Gerakan 30 September.
Ada pula pembohongan dengan menggunakan eklektisisme, metode ilmiah‐gadungan, seperti yang dipraktekkan Prof. Nugroho Notosusanto. Ia menerangkan bahwa Pancasila bukanlah hasil galian Bung Karno. Eklektisisme bisa memesona, karena metode ini dalam menjelaskan satu hal‐ihwal menggunakan sederetan data yang seakan‐ akan masuk akal, tapi dengan kesimpulan yang bertolak belakang dengan kenyataan. Dengan cara beginilah, Prof. Nugroho Notosusanto meyakinkan orang bahwa Pancasila bukan hasil galian Bung Karno. Demikian pula halnya dengan tuduhan PKI adalah dalang G30S. Inilah pembodohan tingkat tinggi, kerja intelektual “terpelajar” pengagum orba.
Para intelektual pendukung orba ini, secara internasional mendapat dukungan dari para sejarawan gadungan seperti Antonie C.A. Dake dengan karya‐karyanya In the Spirit of the Red Banteng dan Soekarno Files; John Hughes dengan buku The End of Sukarno; Arnold C. Brackman dengan The Communist Collaps in Indonesia dan Indonesia Communism: A History; Victor M. Fic dengan karya Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi; karya Jung Chang dan Jon Halliday, Mao: Kisah‐Kisah yang Tak Diketahui; serta sejarawan asing lain yang mengebiri sejarah Indonesia dengan fitnah terutama dalam menghitamkan Bung Karno.
masuk akal, berkembang menjadi fitnah pemalsuan sejarah bangsa. Maka pembodohan akan melahirkan kehidupan jahiliah, akan bermuara pada pembiadaban bangsa. Pembohongan dan pembodohan berlangsung demi penggulingan Presiden Soekarno dan menegakkan serta memelihara kediktatoran orba Soeharto yang biadab.
Sungguh banyak tersiar kebohongan lainnya. Inilah hasil pembodohan di zaman orba. Pembodohan terjadi dan bersimaharajalela karena rakyat tidak dipersenjatai dengan cara berpikir yang ilmiah, tetapi dicekoki dengan pembudakan yang serba‐harus‐percaya. Rakyat tidak dididik untuk terbiasa berpikir berdasarkan mencari kebenaran dari kenyataan.
Mulai dari tindak‐tanduk dalam hidup sehari‐hari, sampai pada tindakan besar yang mengubah alam dan masyarakat serta menciptakan sesuatu yang baru. Manusia bertindak dibimbing oleh pikirannya. Pikiran lahir sebagai hasil kerja otak yang berpikir. Cara berpikir yang ngawur, melahirkan pikiran yang carut‐marut. Diperlukan cara berpikir yang tepat dan ilmiah untuk mendapatkan pikiran yang tepat.
Betapapun bersimaharajalelanya pembodohan sampai sekarang, pencerahan akan terus berlangsung. Kebebasan berpikir dan bersuara akan berkembang. Pembohongan‐pembohongan dan segala macam fitnah akan kian tertelanjangi. Untuk itu, satu‐satunya jalan ialah mendorong maju rakyat berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah berarti mencari kebenaran dari kenyataan. Segala‐galanya bertolak dari kenyataan. Inilah pandangan materialisme.