Perkenalan tentang Marxisme, Materialisme dan Dialektika
3. Pokok‐pokok pandangan materialisme dialektis
materialis dan merombak materialisme Feuerbach secara dialektis. 3. Pokok‐pokok pandangan materialisme dialektis a. Dunia adalah materiil 1.) Apakah materi itu? Pengertian materi dalam filsafat adalah luas dan bersifat umum, ia tidak terbatas pada benda‐benda atau proses‐proses alam saja, tetapi melingkupi juga gejala‐gejala sosial, sedang pengertian materi dalam ilmu alam hanya khusus mengenai benda‐benda alam saja. Selanjutnya, pengertian materi dalam filsafat bersifat mutlak dan abadi, karena bagaimanapun majunya pengetahuan manusia, ini tak akan mengubah kebenaran bahwa materi itu berada secara objektif dan tak tergantung pada kesadaran manusia. Sebaliknya, pengertian materi dalam ilmu alam bersifat relatif dan sementara, karena ia tergantung pada perkembangan pengetahuan manusia. Misalnya, perkembangan teori atom adalah perkembangan pengetahuan manusia tentang materi di dunia alam.
Di samping berbeda dua pengertian itu, pengertian materi dalam filsafat merupakan perluasan atau generalisasi dari pengertian materi dalam ilmu alam. Jelasnya, hubungan antara dua macam pengertian materi itu adalah hubungan antara yang umum dengan yang khusus, antara yang abstrak dengan yang konkret, antara yang absolut dengan yang relatif.
2.) Apakah ide itu?
Pengertian ide menurut materialisme dialektis tidak hanya berlawanan dengan pandangan idealisme, yang beranggapan bahwa ide itu merupakan sesuatu yang berdiri sendiri tak tergantung pada materi, bahkan sudah ada lebih dahulu daripada materi. Oleh Lenin, filsafat idealisme dengan tajamnya dinamakan ‘filsafat tidak berotak’. Pengertian ide menurut materialisme dialektis juga bertentangan dengan pandangan‐pandangan materialisme vulgar dan materialisme metafisis yang menyatakan, misalnya, bahwa segala materi atau benda mempunyai ide, sebagaimana dikemukakan juga oleh Plekhanov bahwa batu pun mempunyai ide; atau yang beranggapan bahwa ide atau
pikiran itu merupakan suatu zat yang ditimbulkan oleh proses fisiologis seperti halnya berliur, atau sebagaimana sering dikemukakan oleh orang bahwa pikiran itu adalah fosfor.
3.) Peranan aktif ide
Materialisme dialektis menentang pendapat agnostisisme dari Kant (Immanuel, 1724—1804). Menurut Kant, manusia tak akan dapat mengenal atau mencerminkan keadaan objektif sebagaimana adanya. Kemajuan ilmu, misalnya penguasaan dan penggunaan tenaga atom, telah membuktikan bahwa pengetahuan manusia tentang atom adalah benar, adalah sesuai dengan kenyataan (atom) sebagaimana adanya. Dengan demikian terbuktilah juga ketidakbenaran pandangan agnostisisme itu, dan memperkuat pandangan materialisme dialektis.
Pandangan materialisme dialektis juga bertentangan dengan pandangan mekanis yang mengabaikan peranan aktif dari ide terhadap materi.
Dengan dikemukakannya keprimerannya materi dan peranan aktif ide terhadap materi, materialisme dialektis mengajarkan kepada kita supaya dalam memandang dan memecahkan sesuatu masalah harus bertolak dari kenyataan yang konkret, harus berdasarkan data‐ data keadaan secara objektif jangan sekali‐kali bersandar pada dugaan subjektif dan dalil atau buku‐buku yang mati dan juga harus ditujukan untuk kebutuhan praktek yang konkret. Di pihak lain ia memperingatkan kita betapa pentingnya peranan teori, berhubung dengan adanya peranan aktif dari ide, untuk mengenal dan mengubah keadaan sebagaimana dikatakan Lenin: “tanpa teori revolusioner tak akan ada gerakan revolusioner.”136
b. Dunia materiil adalah satu kesatuan organik.
Ciri terpenting yang membedakan materialisme filsafat Marx dengan aliran‐aliran materialisme lainnya sebelum Marx ialah bahwa caranya (metodenya) mendekati gejala‐gejala alam, caranya mempelajari dan memahami gejala‐gejala ini adalah dialektis, sedangkan keterangannya (interpretasinya) mengenai gejala‐gejala alam, pengertiannya (konsepsinya) mengenai gejala‐gejala ini, teorinya, adalah materialis.
Metode dialektis adalah suatu cara mengenal, mempelajari dan menganalisa segala sesuatu dengan berdasarkan hukum dialektika, yaitu hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala‐gejala yang berlaku secara objektif di alam semesta ini.
1.) Saling hubungan gejala‐gejala adalah objektif
Kaum materialis dialektis berpendapat, bahwa saling hubungan antara gejala‐gejala itu berlaku secara objektif, tidak tergantung pada kesadaran manusia. Maka itu, untuk mengenal secara tepat saling hubungan itu kita harus meneliti dan mempelajarinya secara ilmiah, sedikit pun tak boleh ditambahkan dengan dugaan‐dugaan subjektif. Pahamilah kenyataan itu sebagaimana adanya dan temukanlah interkoneksi (saling hubungan) yang ada padanya.
2.) Segala sesuatu ditentukan oleh keadaan, tempat, dan waktu
Materialisme dialektis bertentangan dengan pandangan metafisis yang beku, yang berusaha mengabadikan atau memutlakkan arti sesuatu, atau memandang dan menganalisa sesuatu dipisahkan dari keadaan sekitarnya, dari hubungannya dengan hal‐hal lain.
Dengan pandangan saling‐hubungan ini kita diajarkan supaya dalam memandang dan memecahkan sesuatu masalah jangan dipisahkan dari hubungan keseluruhannya, karena tiada satu hal yang tidak ada sebab atau akibatnya, segala sesuatu ditentukan oleh keadaan, tempat dan waktu.
3.) Saling hubungan yang pokok dan yang bukan pokok
Setiap hal mempunyai saling hubungan dengan banyak hal lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akan tetapi, di antara sekian banyak saling hubungan itu tidaklah semuanya sama artinya, peranannya atau kedudukannya. Di antaranya ada saling hubungan yang memainkan peranan menentukan, ada yang hanya memainkan peranan mempengaruhi saja, ada yang bersifat keharusan, ada juga yang bersifat kebetulan, ada yang merupakan sebab, ada pula yang merupakan akibat; ada yang pokok, ada yang bukan pokok.
Pandangan demikian ini berlawanan dengan pandangan metafisis yang cenderung menyamaratakan saling hubungan yang bersegi banyak itu, sehingga mengaburkan pokok persoalan, yang
berakibat berlarut‐larutnya persoalan sehingga tak terselesaikan.
c. Dunia materiil senantiasa bergerak dan berkembang —patah tumbuh hilang berganti
“Seluruh alam”, kata Engels dalam karyanya yang terkenal Dialektika Alam, “dari sesuatu yang sekecil‐kecilnya sampai pada yang sebesar‐ besarnya, dari sebutir pasir sampai matahari, dari protista sampai ke manusia, adalah dalam keadaan senantiasa timbul dan lenyap, dalam keadaan senantiasa mengalir, dalam keadaan gerak dan berubah yang tak henti‐hentinya.”
Dalam Anti‐Dühring, Engels menerangkan lebih lanjut: “Gerak adalah bentuk eksistensi materi. Di mana pun tak pernah ada, dan juga tak mungkin ada materi tanpa gerak.... Materi tanpa gerak sama tidak mungkinnya seperti gerak tanpa materi. Oleh karena itu, gerak sebagaimana materi itu sendiri, tak dapat diciptakan dan dilenyapkan; sebagaimana dinyatakan oleh filsafat yang lebih tua (Descartes), kuantitas daripada gerak yang ada di dunia selamanya sama. Oleh karena itu gerak tak dapat diciptakan, ia hanya dapat ditransfer.”
Pandangan materialisme dialektis demikian ini berdasarkan kenyataan objektif—alam, masyarakat maupun pikiran manusia—yang memang dalam keadaan senantiasa bergerak dan berkembang, sebagaimana dikatakan oleh Herakleitos, ‘Pantarhei’, atau sebagaimana peribahasa kita mengatakan ‘patah tumbuh hilang berganti’ atau ‘zaman beralih musim bertukar’. 1.) Gerak materi adalah gerak sendiri Dengan dikatakan gerak adalah bentuk eksistensi materi berarti bahwa gerak materi itu bukan disebabkan karena dorongan dari kekuatan di luar materi, melainkan oleh kekuatan yang ada di dalam materi itu sendiri. Kemajuan‐kemajuan yang telah dicapai dalam ilmu alam, misalnya tentang atom, transmutasi unsur‐unsur dan sebagainya, telah membenarkan hal ini. Pengalaman sejarah juga telah membuktikan bahwa perkembangan masyarakat bukan disebabkan oleh kekuatan yang berada di luar masyarakat itu, melainkan ditentukan oleh kekuatan‐kekuatan yang berada di dalam masyarakat itu sendiri.
2.) Diam adalah salah satu bentuk gerak
Dengan pandangan bahwa dunia materiil itu selalu bergerak dan berkembang, tidaklah berarti bahwa materialisme dialektis menyangkal adanya keadaan diam atau statis. Materialisme dialektis berpendapat bahwa gejala demikian adalah suatu bentuk daripada gerak materi, suatu bentuk gerak di dalam keadaan tertentu di mana imbangan kekuatan‐kekuatan dalam dengan kekuatan‐kekuatan luar dari materi itu mencapai keseimbangan yang sifatnya sementara dan relatif. Keadaan demikian ini disebut juga sebagai kestabilan relatif dari kualitas.
Dengan demikian, materialisme dialektis berpendapat bahwa bentuk gerak materi atau kenyataan objektif itu beraneka corak dan ragamnya, makin berkembang praktek sosial manusia, makin maju ilmu, makin banyaklah kita kenal akan bentuk‐bentuk gerak materi. Engels mengatakan: “gerak materi, tak dapat digolongkan begitu saja ke dalam semacam gerak mekanis yang sederhana dan mati, semacam gerak sederhana yang berupa pergeseran tempat saja; panas dan sinar, listrik dan magnet, persenyawaan (kombinasi) dan peruraian (disosiasi) dalam kimia, kehidupan, dan akhirnya ide, semuanya adalah gerak materi.”137
d. Dunia materiil berkembang menurut hukumnya sendiri
Hukum dialektika atau hukum tentang perkembangan dirumuskan Engels dalam tiga hukum dasar:
1. Hukum tentang kesatuan dan perjuangan dari segi‐segi yang berlawanan atau tentang kontradiksi.
2. Hukum tentang perubahan kuantitatif ke perubahan kualitatif.
3. Hukum tentang negasi dari negasi.
1.) Hukum tentang kontradiksi
Hukum kontradiksi ini merupakan ‘inti’ atau ‘jiwa’ dari dialektika, karena ia menerangkan sumber dan hakikat perkembangan. Lenin mengatakan: “Terbaginya kesatuan dan pengenalan atas bagian‐
bagiannya yang berkontradiksi adalah hakikat dari dialektika.” Oleh karenanya ia adalah salah satu ciri terpenting yang membedakan dialektika dengan metafisika. Dan merupakan kunci bagi kita untuk memahami dengan baik dialektika keseluruhannya.
Hukum kontradiksi adalah umum dan universal. Segala hal ihwal pada waktu dan tempat mana pun juga, selalu mengandung kontradiksi di dalamnya. Sudah tentu, tiap‐tiap hal mempunyai kontradiksinya sendiri‐sendiri yang khas yang membedakan hal yang satu dari lainnya. Satu hal yang sama, pada tingkat‐tingkat yang berbeda dari proses perkembangannya, juga mempunyai kekhususan‐ kekhususan dalam kontradiksi‐kontradiksinya, yang membedakan tingkat perkembangan yang satu dari yang lainnya. Kesadaran bahwa kontradiksi berlaku secara umum dan universal, berarti bahwa kita harus mengenal kekhususan‐kekhususan kontradiksi yang ada pada sesuatu hal yang konkret. Dan dalam mempelajari kekhususan kontradiksi itu yang terpenting ialah untuk mengenal kontradiksi pokok dan segi pokok dari kontradiksi.
Di dalam proses perkembangan sesuatu hal yang rumit, terdapat banyak kontradiksi. Kontradiksi‐kontradiksi yang dikandungnya mempunyai arti atau peranan dan kedudukan yang berbeda‐beda di sepanjang proses perkembangannya. Seperti dikatakan Mao Zedong, pada setiap tingkat perkembangannya, hanya satu di antaranya yang merupakan kontradiksi pokok yang memegang peranan memimpin dan menentukan, sedangkan yang lain menempati kedudukan yang sekunder atau yang dibawahkan. Dengan perkataan lain, kontradiksi pokok adalah kontradiksi yang memegang peranan memimpin pada suatu tingkat di dalam proses perkembangan sesuatu.
Oleh karena kontradiksi pokok memainkan peranan yang memimpin kontradiksi‐kontradiksi lainnya pada suatu tingkat perkembangan tertentu, maka ia merupakan mata rantai persoalan yang harus dipecahkan lebih dulu, dan hanya dengan demikian kontradiksi‐ kontradiksi lainnya baru bisa dan lebih mudah diselesaikan.138
Setiap kontradiksi terdiri dari dua segi. Dua segi dalam kontradiksi itu mempunyai arti, peranan, dan kedudukan yang tidak sama. Di antaranya ada satu segi yang mewakili kekuatan‐kekuatan
lama atau ‘the old established forces’, dan segi lainnya yang mewakili kekuatan‐kekuatan baru atau ‘the new emerging forces’ atau dengan perkataan lain, segi negatif dan segi positif. Selain itu, kedudukan dua segi itu dalam proses perkembangan kontradiksi memainkan peranan yang tidak sama, ada yang menguasai dan ada yang dikuasai, ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Dalam keadaan tertentu dua segi itu bisa berada dalam kedudukan yang seimbang, tetapi ini bersifat sementara dan relatif. Segi yang berperan menguasai atau berdominasi dalam seluruh proses perkembangan mempunyai arti yang menentukan kualitas kontradiksi itu. Segi yang berperan memimpin pada tingkat‐ tingkat perkembangan tertentu mempunyai arti menentukan terhadap arah yang dituju oleh perkembangan kontradiksi pada tingkat tertentu.
Segi yang baru pada permulaan proses perkembangan kontradiksi masih kecil dan lemah, dan karenanya merupakan segi yang dipimpin dan dikuasai. Tetapi dalam proses perkembangan selanjutnya, ia tumbuh makin besar dan kuat, sehingga kedudukannya berubah menjadi yang memimpin, dan kemudian berdominasi. Apabila ini terjadi, berarti kualitas kontradiksi itu berubah.
Memahami keadaan dua segi dalam kontradiksi adalah penting sekali artinya bagi usaha‐usaha menyelesaikan kontradiksi itu. Hanya dengan mengenal secara tepat keadaan musuh dan keadaan kita sendiri, kita dapat menyelesaikan kontradiksi antara kita dengan musuh secara lebih tepat. Dan dalam mengenal keadaan dua segi yang berkontradiksi itu pertama‐tama kita perlu mengetahui mana yang merupakan segi baru, segi yang mempunyai hari depan, dengan maksud agar kita berorientasi pada segi baru ini serta menyiapkan syarat‐syarat yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Selanjutnya perlu diketahui syarat‐ syarat yang diperlukan untuk menempati kedudukan yang memimpin dan lebih lanjut dikembangkan untuk menjadi segi yang menguasai.
2.) Hukum tentang perubahan kuantitatif ke perubahan kualitatif
Hukum tentang perubahan kuantitatif ke perubahan kualitatif menerangkan jalannya proses perkembangan segala sesuatu. Hukum ini mengungkapkan bahwa perkembangan segala sesuatu itu terdiri dari dua tingkatan, yaitu tingkatan perubahan kuantitatif dan tingkatan perubahan kualitatif. Perubahan kuantitatif berlangsung secara berangsur‐angsur, secara evolusioner; tetapi sampai pada batas tertentu,
apabila bingkai lama diterjang, ia menimbulkan perubahan kualitatif yang berlangsung secara tiba‐tiba, secara revolusioner, dan merupakan suatu lompatan. Perubahan kuantitatif menyiapkan perubahan kualitatif, dan perubahan kualitatif menyelesaikan perubahan kuantitatif yang lama dan melahirkan serta mengembangkan perubahan kuantitatif yang baru. Demikianlah proses perkembangan segala sesuatu itu merupakan rentetan perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif yang silih berganti secara terus‐menerus tak kunjung hentinya.
Berdasarkan hukum ini maka dalam memandang dan mengubah segala sesuatu kita harus mengetahui dengan jelas kuantitas dan kualitasnya, mengetahui dengan jelas perubahan‐perubahan kuantitatif apa yang diperlukan untuk memungkinkan lahirnya perubahan kualitatif yang dituju. Hanya mengenal perubahan kualitatif saja, tetapi mengabaikan perubahan kuantitatif yang diperlukan, berarti kita membuat kesalahan avonturisme. Sebaliknya hanya puas dengan perubahan‐perubahan kuantitatif saja, tidak menghendaki perubahan kualitatif, berarti kita membuat kesalahan reformisme.
Pendeknya, jika secara sadar kita menggunakan hukum ini dalam praktek perjuangan, maka kita dapat menentukan secara tepat garis strategi dan taktik perjuangan.
3.) Hukum tentang negasi dari negasi
Hukum negasi dari negasi mengungkapkan arah atau kecenderungan umum dari gerak atau perkembangan segala sesuatu. Ia mengungkapkan penggantian kualitas lama dengan kualitas baru dalam proses perkembangan dan peningkatan dari bentuk‐bentuk yang rendah dan sederhana ke bentuk‐bentuk yang lebih tinggi, yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, hukum negasi daripada negasi ini menyatakan watak progresif dari perkembangan mengikuti garis maju. Hukum ini juga menunjukkan bahwa perkembangan segala sesuatu itu tidak merupakan garis lingkaran yang tak mengenal ujung‐pangkalnya, juga bukan garis lurus yang menaik, melainkan garis spiral.
Dalam tulisannya yang berjudul Karl Marx, mengenai pengertian dialektika tentang perkembangan, Lenin antara lain mengatakan “Perkembangan yang kelihatannya mengulangi taraf‐taraf yang telah dilalui, tetapi mengulangi taraf‐taraf itu secara lain atas dasar yang lebih tinggi (‘negasi dari negasi’), suatu perkembangan bisa dikatakan dalam
bentuk spiral, bukan menurut garis lurus.” Sebagai ilustrasi mengenai hukum ini, Engels pernah memberikan suatu contoh seperti berikut:
“Mari kita ambil sebagai contoh sebutir jelai.... jika butir jelai itu berada dalam keadaan yang baginya normal, jika jelai itu ditabur di atas tanah yang cocok, dan kemudian di bawah pengaruh hawa panas dan lembab ia mengalami perubahan yang khas, ia berkecambah; butir jelai seperti yang semula tidak ada lagi, ia dinegasi, dan dari jelai itu muncul sebatang pohon, negasi terhadap jelai itu.... Ia tumbuh, berbunga, menjadi subur dan akhirnya sekali lagi menghasilkan butir-butir jelai, dan segera butir-butir jelai itu masak batangnya mati, pada gilirannya ia dinegasi. Sebagai akibat daripada negasi ini kita sekali lagi mempunyai butir jelai semula, tetapi bukan satu, melainkan lipat sepuluh, dua puluh dan tiga puluh kali.”
Sejarah perkembangan masyarakat juga menunjukkan proses perkembangan negasi dari negasi. Misalnya, masyarakat komunisme primitif (tidak berklas) dinegasi oleh masyarakat‐masyarakat berklas (pemilikan budak, feodal, dan kapitalis) dan kemudian dinegasi lagi oleh masyarakat sosialis dan komunis (tidak berklas). Masyarakat sosialis dan komunis menunjukkan ciri‐ciri yang ada semula di dalam masyarakat komunis‐primitif, yaitu antara lain hak milik bersama atas alat‐alat produksi, meskipun dasarnya berlainan sama sekali. Hak milik bersama atas alat‐alat produksi dalam masyarakat sosialis dan komunis adalah atas dasar yang jauh lebih tinggi karena tenaga produktif masyarakatnya sudah jauh lebih maju.