Pikir Itu Pelita Hati
Suar Suroso
Pikir Itu Pelita Hati
Ilmu Berpikir Mengubah Dunia:
dari Marxisme sampai Teori Deng Xiaoping
BANDUNG 2015Pikir Itu Pelita Hati
Ilmu Berpikir Mengubah Dunia:
dari Marxisme sampai Teori Deng Xiaoping ©Suar Suroso
Editor: Bilven, Darwin Iskandar Desain sampul: Herry Sutresna
Diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 1, Agustus 2015
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT) SUROSO, Suar
Pikir Itu Pelita Hati
Ilmu Berpikir Mengubah Dunia: dari Marxisme sampai Teori Deng Xiaoping Cetakan 1, Bandung: Ultimus, 2015
xlviii + 404hlm.; 14,5 x 20,5 cm 978-602-8331-58-6 ULTIMUS Tel. (+62) 812 245 6452, (+62) 811 227 1267 [email protected] www.ultimus-online.com
PENGANTAR PENULIS
KARYA Pikir Itu Pelita Hati lahir dari hasrat untuk melawan pembodohan dan pembiadaban yang melanda bangsa Indonesia akibat sepertiga abad berkuasanya rezim orba jenderal fasis Soeharto.
Soeharto naik panggung dengan penggulingan Bung Karno lewat kebohongan demi kebohongan dan pembantaian terhadap pendukung Bung Karno, para pimpinan dan anggota PKI, serta manusia tak berdosa.
Manusia tak berdosa korban pembantaian di Indonesia melebihi jumlah manusia yang dibunuh fasis Jepang sebanyak 300.000 di Nanjing tahun 1937. Lebih mengerikan dari kekejaman fasis Nazi membunuh kaum Yahudi dalam Perang Dunia II. Dalam pembantaian di Indonesia, yang mati lebih banyak daripada korban bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Pembantaian ini adalah teror. Membenarkan teror untuk mencapai tujuan adalah kebiadaban. Di bawah kekuasaan orba, teror bersimaharajalela. Berkembang ajaran yang membenarkan teror untuk mencapai tujuan. Bangsa beradab jadi biadab. Berlangsung kebiadaban yang tak ada taranya dalam sejarah Indonesia.
Kebiadaban ini disembunyikan rezim orba Soeharto dengan berbagai cara, antara lain dengan kebohongan‐kebohongan dalam buku sejarah, pembikinan film Pengkhianatan G30S PKI, pembangunan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Ini adalah pemalsuan sejarah, adalah pembodohan bangsa. Bukan hanya ini, bahkan dibiarkan penyebaran ajaran kaum fanatik yang membenarkan dan melakukan teror untuk mencapai tujuan. Salah satu puncaknya adalah pembantaian yang dilakukan rezim orba terhadap kaum komunis Indonesia dan manusia tak berdosa pendukung Bung Karno.
Pembodohan dan pembiadaban inilah yang menyebabkan meski berlalu setengah abad tapi pelaku kebiadaban ini masih terlindung. Jutaan sanak keluarga korban didera siksaan batin. Tiada permintaan maaf dari pemerintah, apalagi pengadilan atas yang berdosa. Ini berarti korban dipaksa memaafkan pembunuh, memaafkan yang biadab. Kebiadaban menyebabkan tak tahu lagi membedakan mana benar dan salah. Pikiran siapa yang tak tergugah oleh siksa derita kebiadaban yang melanda bangsa ini?
Pikiran lahir dari kerja otak. Berpikir adalah kerja, adalah tindak‐ tanduk otak yang menghasilkan pikiran. Mampu berpikir inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya di alam raya. Pikiran berperan membimbing setiap perbuatan sadar manusia. Tak bisa berpikir adalah bodoh. Berpikir tidak manusiawi adalah biadab. Bodoh dan biadab berakar pada cara berpikir yang salah. Membiasakan hidup tanpa menggunakan otak, tanpa menggunakan pikiran, hidup serba percaya, berarti melakukan kebodohan. Menanamkan kebiasaan tidak berpikir atau membiasakan berpikir salah, memelihara kebiasaan serba percaya tanpa berpikir, adalah pembodohan. Dari bodoh, manusia bisa jadi biadab.
Dengan berpikir tepat, manusia bisa membedakan mana benar dan salah, bisa dapat akal memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, pikiran yang tepat akan menentukan tepatnya tindak‐tanduk manusia. Pikiran yang tepat akan membimbing tindakan tepat manusia. Sekali pikiran yang tepat dikuasai manusia, akan melahirkan kekuatan maha perkasa. Pikiran tepat, yang ilmiah, bisa mengubah dunia. Inilah akar pandangan: Tanpa Teori Revolusioner, Tak Ada Gerakan Revolusioner.
Demikianlah pentingnya arti pikiran dalam kehidupan. Maka sungguh arif dan bijaksana nenek moyang kita mewariskan ungkapan Pikir Itu Pelita Hati. Memang, pikiran itu adalah suluh hidup bak mercusuar memancarkan sinar, memandu pelaut di samudera raya dalam kegelapan malam. Maka tak ayal lagi, berpikir itu ada ilmunya, ada hukumnya. Untuk bisa berpikir ilmiah, perlu menguasai hukum cara berpikir.
Hukum‐hukum cara berpikir dapat dipelajari dari pengalaman kenyataan perkembangan cara berpikir dalam sejarah. Maka perlu mempelajari perkembangan cara berpikir di Nusantara. Sejarah menunjukkan, bahwa di Nusantara terdapat bermacam ragam cara
berpikir, mulai dari animisme, mistisisme, pengaruh Hinduisme, Buddhisme, Islam, agama‐agama lain, serta bermacam ragam kepercayaan, sampai pada masuknya cara berpikir ilmiah, yang paling maju dalam sejarah, yaitu masuknya Marxisme pada abad ke‐20.
Dengan kalimat‐kalimat “Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu komunisme”, Manifesto Partai Komunis karya Marx dan Engels pada pertengahan abad ke‐19 mengumandangkan program Marxisme demi mengubah dunia, yaitu melenyapkan penghisapan manusia oleh manusia, membangun masyarakat berkeadilan sosial, masyarakat sosialis, menuju komunisme. Semenjak itu, sejarah memasuki zaman baru, zaman perjuangan hidup‐mati antara dua kekuatan dalam masyarakat, antara kekuatan klas borjuasi yang mempertahankan tata kehidupan lama, yang mempertahankan pembodohan dan pembiadaban, melawan kekuatan klas pekerja yang ingin membangun dunia baru, dunia tanpa pembodohan dan pembiadaban, yaitu dunia tanpa penghisapan manusia oleh manusia.
Dalam pelaksanaan Marxisme selama dua abad, sejarah mencatat kegagalan‐kegagalan dan kemenangan‐kemenangan. Dua puluh tiga tahun setelah Manifesto diumumkan, tahun 1871, kekuasaan borjuasi Perancis sempat digulingkan oleh Komune Paris. Tapi dalam waktu pendek Komune Paris dikalahkan oleh borjuasi.
Empat puluh enam tahun kemudian, pada awal abad ke‐20, revolusi besar sosialis di bawah pimpinan Lenin mencapai kemenangan dengan berdirinya negara diktatur proletariat Uni Republik‐Republik Sovyet Sosialis (URSS). Selama tujuh dasawarsa, sosialisme sempat berjaya di Uni Sovyet.
Bangkitnya fasisme Jerman, Italia, dan Jepang dengan Pakta Anti‐ Komintern‐nya yang mengobarkan Perang Dunia II adalah demi membasmi komunisme. Kekalahan fasisme dalam Perang Dunia II disusul oleh Perang Dingin yang digalakkan Amerika Serikat untuk melanjutkan usaha membasmi komunisme sejagat.
Maksud buku Pikir Itu Pelita Hati adalah untuk memaparkan perkembangan pikiran ilmiah, terutama di bidang kemasyarakatan semenjak zaman purba sampai abad ke‐21. Intinya terpusat pada perkembangan Marxisme, membantah pandangan yang menyatakan Marxisme sudah punah, menegakkan pandangan bahwa Marxisme berkembang sampai lahir Teori Deng Xiaoping.
Berpikir ilmiah berarti memandang segala‐galanya berdasarkan kenyataan. Inilah materialisme. Lebih dulu dari Thales, pemikir materialis Yunani kuno yang menyatakan bahwa air adalah asal‐usul segala‐ galanya di alam raya, di Tiongkok telah tampil pikiran bahwa di alam raya ada 5 unsur asal‐muasal. Wu Xing, yaitu air, api, tanah, kayu, dan logam. Pemikir Lao Zi telah tampil dengan ajarannya Dao De Jing, ajaran agama Dao. Dao De Jing mengandung unsur materialisme dan dialektika.
Pikir Itu Pelita Hati berusaha memaparkan materialisme sampai materialisme Marxis, yaitu pandangan materialisme dengan metode dialektika, dan penerapan dalam masalah kemasyarakatan, yaitu materialisme historis. Marxisme dipaparkan secara historis, sampai pada perkembangan menjadi Marxisme–Leninisme, Pikiran Mao Zedong, dan Teori Deng Xiaoping.
Pikir Itu Pelita Hati bukan hanya memaparkan keunggulan serta kemenangan‐kemenangan Marxisme dalam sejarah, tapi juga memperkenalkan kekuatan‐kekuatan lawan Marxisme, para penyeleweng atas Marxisme, musuh‐musuh Marxisme, yaitu revisionisme, Trotskisme, para penganut Pasca‐Marxisme, Euro‐Komunisme.
Marxisme yang lahir pada pertengahan abad ke‐19 mengalami ujian berat pada akhir abad ke‐19 dan pada abad ke‐20. Penggulingan kekuasaan borjuasi Perancis berakhir dengan kalahnya Komune Paris di tahun 1871.
Kemenangan Revolusi Oktober dan kejayaan Uni Sovyet berujung pada rontoknya Tembok Berlin dan ambruknya Uni Sovyet. Disusul dengan ambruknya negara‐negara sosialis Albania, Bulgaria, Rumania, Cekoslowakia, Polandia, dan Jerman Timur. Borjuasi bergendang paha, sampai‐sampai Presiden Amerika, George W. Bush, awal tahun 1992 dengan khidmat mendeklarasikan “Perang Dingin sudah usai, komunisme sudah mampus, dan kita menang!”
Pembasmian komunisme dalam Perang Dingin juga melanda Indonesia. Muaranya adalah naik panggungnya jenderal fasis Soeharto dengan menggulingkan Bung Karno setelah membasmi kekuatan utama pendukung Bung Karno yaitu Partai Komunis Indonesia. Para pendukung orba, antek Perang Dingin di Indonesia menepuk dada, merasa telah “berjasa” membasmi PKI, melarang komunisme di Indonesia dan menggulingkan Bung Karno.
menyorakkan punahnya Marxisme. Pikir Itu Pelita Hati membantah dengan memaparkan bahwa Marxisme tak salah apalagi punah. Sebab‐ musabab ambruknya sistem sosialis Sovyet bukanlah karena Marxisme yang dipraktekkan itu yang salah, tapi kesalahan adalah karena dicampakkannya ajaran pokok Marxisme, yaitu ajaran diktatur proletariat, dan secara sukarela dilepaskannya kepemimpinan Partai Komunis atas negara sosialis.
Mengenai pembangunan sosialisme, Pikir Itu Pelita Hati secara khusus memaparkan ajaran Lenin tentang kapitalisme negara yang diperlukan selama masa peralihan menuju sosialisme di bawah diktatur proletariat.
Soal paham pasca‐Marxisme dikemukakan, bahwa penganut paham ini sesungguhnya tidaklah membela, menyempurnakan Marxisme, atau mengoreksi pelaksanaan Marxisme, tetapi adalah mengebiri bahkan menegasi materialisme dialektis dan menentang ajaran Marx tentang diktatur proletariat.
Belajar dari kegagalan sosialisme Sovyet dan ambruknya negara‐ negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, Deng Xiaoping tampil dengan gagasan Empat Prinsip Dasar, yaitu untuk membangun sosialisme di Tiongkok haruslah: 1. menempuh jalan sosialisme; 2. menjunjung diktatur proletariat; 3. di bawah pimpinan Partai Komunis; dan 4. menjunjung ideologi Marxisme–Leninisme, Pikiran Mao Zedong. Maka walaupun mengalami Peristiwa Tian An Men berdarah, yaitu “gerakan demokrasi” demi menggulingkan diktatur proletariat Tiongkok, Negara Republik Rakyat Tiongkok tidak tergoyahkan.
Tiongkok dengan seperlima penduduk dunia yang miskin dan terbelakang pada pertengahan abad ke‐20, maju melompat menjadi negara terbesar kedua di bidang ekonomi mengungguli Jepang. Inilah demonstrasi kejayaan realisasi pembangunan sosialisme berciri Tiongkok, yaitu pelaksanaan Marxisme yang di‐Tiongkok‐kan.
Jiang Zemin mengemukakan bahwa Teori Deng Xiaoping adalah pengembangan Pikiran Mao Zedong, pengembangan Marxisme yang diterapkan di Tiongkok. Di samping Marxisme–Leninisme dan Pikiran Mao Zedong, Hu Jingtao menampilkan rumusan pandangan ilmiah tentang perkembangan sebagai ideologi pembimbing PKT. Maka kemajuan ekonomi Tiongkok yang mengagumkan dunia menunjukkan bahwa Marxisme tidaklah punah. PKT yang memimpin Republik Rakyat
Tiongkok menjadikan Marxisme–Leninisme, Pikiran Mao Zedong, Pikiran Penting “Tiga Butir Mewakili”, pandangan ilmiah tentang perkembangan, dan Teori Deng Xiaoping, sebagai ideologi pembimbingnya.
Di bawah pimpinan Sekjen Xi Jinping, dengan pelaksanaan putusan‐putusan Kongres XVIII PKT, Tiongkok sedang maju bergelora demi mewujudkan Impian Tiongkok, cita‐cita mulia untuk Kebangunan Kembali Tiongkok yang jaya, bersenjatakan Teori Deng Xiaoping yang telah memperkaya Marxisme–Leninisme dengan gagasan‐gagasan baru sosialisme berciri Tiongkok yang belum ada sebelumnya dalam literatur Marxis. Ungkapan‐ungkapan “menjadi kaya itu mulia” dan “kucing hitam atau kucing putih, asal bisa menangkap tikus adalah kucing yang baik” adalah memvulgarkan Deng Xiaoping. Tanpa mengenal Teori Deng Xiaoping, yang merupakan pengembangan Marxisme–Leninisme dan Pikiran Mao Zedong, adalah sulit untuk memahami perkembangan Tiongkok dewasa ini.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yoseph Tugio Taher, Ibrahim Isa, Chalik Hamid, atas sambutannya. Serta teramat berterima kasih kepada Koesalah Soebagyo Toer yang walaupun saat ini sedang sakit tetapi tetap memberikan sekapur sirih sebagai pengganti kata pengantar. Juga terima kasih kepada Bilven serta para pengelola Penerbit ULTIMUS yang berjerih‐payah menyusun dan mengedit hingga terbitnya Pikir Itu Pelita Hati ini. Terima kasih khusus disampaikan kepada Darwin Iskandar, editor dan menulis “Catatan Editor” yang ikut memberi bobot. Kesan‐kesan dan kritik dari para pembaca sangat diharapkan dan untuk itu terlebih dulu penulis mengucapkan banyak terima kasih. 4 Februari 2015 Suar Suroso
SEKAPUR SIRIH
Koesalah Soebagyo ToerSEKITAR tengah tahun 2013, Suar Suroso memesan kata pengantar untuk naskah baru yang akan siap akhir tahun 2014. Waktu itu sudah dilampirkan daftar isi naskah rinci mulai dari filsafat Yunani kuno sampai filsafat Jawa. Atas permintaan itu saya jawab: “Sekiranya tidak ada waktu lagi, pasti permintaan ini saya tolak!” Pengertiannya, karena masih ada waktu untuk memerhatikan naskah, boleh jugalah diusahakan sekapur sirih.
Masalahnya, pertengahan tahun 2014, penyakit yang selama itu mengancam diri saya, diabetes melitus, kembali menyerang diri saya. Kali itu cukup dengan kesungguhan yang tinggi, dan hingga sekarang pun belum ada tanda‐tanda mereda. Selama lima bulan ini, gerak tubuh saya hanya terbatas pada jalan‐jalan sekitar rumah sekitar seperempat jam sehari. Dan dari Kedutaan Federasi Rusia yang ngotot akan merayakan hari lahir saya ke‐80 pada 27 Januari 2015 yang lalu, terpaksa saya minta jaminan dijemput dan diantarkan pulang ke rumah. Dan pada awal sambutan saya terpaksa dengan terus terang saya mengakui bahwa hari itu kesehatan saya tidak baik.
Itulah sebabnya Suar Suroso sampai beberapa kali menegur saya, beberapa kali di antaranya lewat orang lain. Terus terang, kesehatan ini demikian rupa, hingga untuk menjalankan komputer terpaksa terseok‐ seok dan untuk yang seharusnya satu ketukan jari terpaksa dilakukan dengan 4–5 ketukan jari. Tapi janji harus ditepati. Itulah maka saya lakukan semua ini.
Perlu diketahui bahwa ungkapan sekapur sirih dalam bahasa Indonesia bisa berarti vvedeniyei atau predisloviye dalam bahasa Rusia, yang kalau dikembalikan ke bahasa Indonesia bisa berarti pengantar atau kata pengantar. Tetapi kembali kalau ungkapan sekapur sirih dengan pengantar atau kata pengantar diperbandingkan, jelas ungkapan sekapur sirih lebih enteng bobotnya. Dan kebetulan sekali Suar Suroso sekarang mengganti permintaan pada saya untuk hanya sekedar menulis sekapur sirih, dan tidak lagi pengantar atau kata pengantar. Sekiranya judul tulisan ini adalah pengantar atau kata pengantar, maka pada tempatnya kalau kita mengangkat soal yang diangkat oleh Franz Magnis‐Suseno, Mudji Sutrisno, dan rekan‐rekan, yang pada akhir tahun 2014 memukul genderang perang dengan mulai bicara tentang filsafat Indonesia.
Jadi, tulisan Suar Suroso ini diam‐diam merupakan sambutan atas genderang perang Franz Magnis‐Suseno dan rekan‐rekan.
Jakarta, 23 Februari 2015
SAMBUTAN
Yoseph Tugio TaherPEMBUBARAN dan pengusiran paksa para jompo korban Peristiwa 1965 yang berkumpul dan bertemu untuk bersilaturahim dan menceritakan nasib masing‐masing serta untuk mendengarkan wejangan‐wejangan dari utusan pusat mengenai rencana pemerintah untuk para jompo korban Peristiwa 1965, dilakukan oleh para preman dan dibantu aparat pemerintah yaitu kepolisian setempat pada bulan Februari 2015 di Bukittinggi.
Ini adalah suatu contoh dan bukti yang gamblang bahwa jenderal fasis Soeharto yang sempat menguasai Indonesia selama 32 tahun bukan saja telah membawa Indonesia mundur jauh ke belakang, namun juga telah merusak hati nurani dan pikiran bangsa Indonesia sehingga menjadi bodoh dan bertindak semaunya laksana zombie tanpa menggunakan akal dan pikiran. Sangat disayangkan, hal ini justru terjadi di tanah Minang, di mana adat turun‐temurun menjadi landasan pokok pola berpikir manusia. Kejadian serupa juga pernah terjadi di beberapa tempat lain di Indonesia.
Di Minangkabau, semenjak dini, kaum muda telah dibekali dengan cara dan pola berpikir yang mengutamakan pemikiran, kenyataan, dan kebersamaan. Orang‐orang tua menurunkan segala nasihat dan petunjuk untuk kaum muda supaya bisa mengarungi lautan hidup dengan penuh akal pikiran yang baik, bukannya mengumbar segala kejahatan dan kebatilan yang akan menghancurkan dan memporak‐porandakan kehidupan manusia di bumi ini. Banyak contoh
dan teladan yang telah diberikan oleh para tetua. Seharusnya kaum muda generasi bangsa bisa belajar darinya.
Namun, semenjak Soeharto yang dengan penuh kelicikan dan kebusukan dapat merebut kekuasaan di negeri ini pada tahun 1965, mulailah secara sistematis dilakukan penghancuran nilai‐nilai luhur atas kehidupan bangsa Indonesia demi melanggengkan kekuasaannya. Kendatipun kekuatan rakyat telah berhasil mencampakkan fasis Soeharto dari tampuk kekuasaan, namun sistem yang dilahirkannya sudah menjadi warisan turun‐temurun dan alat ampuh bagi elite politik dalam mempertahankan kekuasaan sampai hari ini. Mereka tidak segan‐ segan untuk membiayai preman‐preman bahkan alat negara untuk mempertahankan kedudukan.
Manusia tidak lagi melihat sesuatu berdasarkan fakta dan kenyataan, namun mengikuti arahan, ambisi, dan nafsu yang menjurus pada penghancuran total. Tanpa mengikuti dan mempertimbangkan pemikiran yang jernih. Rezim orba Soeharto menyembunyikan segala kebiadabannya dengan segala macam cara, seperti kebohongan‐ kebohongan dalam buku‐buku sejarah, pembuatan film Pengkhianatan G30S PKI, pembangunan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, dan Buku Putih Kopkamtib 1978 yang mengumbar fitnah bahwa PKI tidak punya andil dalam Revolusi 1945. Padahal kalau kita mau membuka dan belajar dari kebenaran sejarah, Perdana Menteri Republik Indonesia, Amir Sjarifoeddin, tahun 1948 telah menunjukkan bahwa tokoh komunis ini ikut memimpin Republik Indonesia sebagai perdana menteri. Jelas sekali apa yang dikatakan dan ditulis dalam Buku Putih Kopkamtib 1978 adalah satu kebohongan besar dan merupakan pembodohan bangsa.
Setengah abad segala pembohongan dan pembodohan itu merajalela di bumi kita. Para pembohong serta pelaku pembiadaban itu masih terlindung sampai sekarang, sedang para korban didera siksa batin yang tak berkesudahan. Mereka yang tak berdosa sepertinya dipaksa untuk melupakan segala azab dan derita yang dilakukan oknum‐oknum biadab dan aparat pemerintah, hingga mereka mati satu per satu, tanpa adanya niat dan keberanian dari pemerintah untuk meminta maaf dan mengadili yang berdosa dan melakukan pengadilan in absentia bagi yang sudah tiada.
Sejarah akan mencatat, bahwa siapa pun yang menjadi penguasa dan memegang pemerintahan Indonesia, selagi masalah Peristiwa 1965, yaitu pemusnahan 3 juta manusia Indonesia dari satu golongan politik yang dikomuniskan, tidak diselesaikan secara tuntas, selama itu pula pemerintah akan senantiasa dihantui oleh sejarah kelam masa lalu.
Dalam situasi demikian, dalam situasi di mana bangsa dan rakyat Indonesia sekarang telah meninggalkan dan melupakan cara pemikiran yang jernih berdasarkan fakta serta kenyataan, telah melupakan asas kebersamaan dan kegotong‐royongan dan menghancurkan nilai‐nilai luhur warisan nenek moyang, di saat kebiadaban merajalela tanpa menggunakan nalar dan pikiran, tak bisa lagi membedakan antara benar dan salah, pikiran siapakah yang tak akan tergugah oleh siksa derita kebiadaban yang melanda bangsa ini?
Di saat inilah seorang putra bangsa, Suar Suroso, menggugah dan mengajak kita semua untuk menggunakan akal pikiran guna melihat segala sesuatu melalui fakta, kenyataan, dan kebenaran, dengan mempersembahkan kepada kita tulisan barunya dalam sebuah buku berjudul Pikir Itu Pelita Hati.
Suar Suroso adalah seorang pemuda Indonesia yang lahir di kota Padang, Indonesia. Semenjak kecil, menerima didikan dan mengeluti ajaran‐ajaran Minangkabau dari ninik‐mamak dan para tetua. Ia dibekali dengan segala ilmu dan petunjuk, pepatah dan petitih yang diterima dan diolahnya dengan akal pikiran berdasarkan fakta, kenyataan, dan kebenaran. Pada masa remaja, Suar Suroso ikut berkiprah dalam Revolusi Bersenjata 1945 di Padang dan mendapat tanda penghargaan dari Gubernur Militer RI, Mr. Mohamad Nasroen. Suar Suroso juga aktif dalam gerakan Pemuda Indonesia dan mewakili bangsa Indonesia dalam forum Internasional.
Sebagai aktivis organisasi pemuda, ia dipercaya mewakili Indonesia dalam berbagai pertemuan pemuda internasional, seperti antara lain di Beijing, Wina, Kairo, Santiago‐Chili, dan mewakili Pemuda Rakyat dalam Gabungan Pemuda Demokratik Sedunia (GPDS) dalam kapasitas sebagai wakil presiden yang berkantor pusat di Budapest. Dalam kapasitas itu ia menghadiri berbagai kegiatan pemuda di Korea, India, Nepal, Sri Langka, Mesir, Maroko, Guinea, Mali, Senegal, Ghana, Jerman, Rumania, Denmark, Finlandia, Polandia, Albania, dan lain‐lain.
Mulai Septembar 1961, ia melanjutkan studi di Fakultas Fisika Universitas Lomonosov, Moskow.
Setelah Peristiwa 30 September 1965, pada bulan Agustus 1966 paspornya dicabut oleh KBRI Moskow. Tahun 1967 dinyatakan persona‐ non‐grata oleh pemerintah Sovyet karena memprotes kerja sama antar pemerintah Uni Sovyet dan pemerintah Indonesia di bawah rezim Soeharto. Sejak Februari 1967 meninggalkan Uni Sovyet dan bersama istri dan dua anaknya bermukim di Tiongkok.
Sejumlah sajaknya dimuat dalam Di Negeri Orang, kumpulan sajak para penyair eksil di Eropa Barat. Karya‐karya yang sudah dibukukan: Asal‐Usul Teori Sosialisme; Marxisme sampai Komune Paris; Bung Karno, Marxisme, dan Pancasila; ‘Peristiwa Madiun’ PKI Korban Perdana Perang Dingin (Pustaka Pena); PKI Korban Perang Dingin (Era Publisher); Bung Karno Korban Perang Dingin (Hasta Mitra); Kumpulan Puisi Jilid I Jelita Senandung Hidup dan Jilid II Pelita Keajaiban Dunia (Ultimus); Marxisme Sebuah Kajian, Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah; Peristiwa Madiun, Realisasi Doktrin Truman di Asia (Hasta Mitra); dan Akar dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno (Ultimus). Marxisme Sebuah Kajian, Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah diterjemahkan dan terbit dalam bahasa Tionghoa dengan judul Makesi Zhuyi De Shijian Yu Fazhan oleh Penerbit Contemporary World Publisher, Beijing.
Buku Pikir Itu Pelita Hati ini merupakan buku kesepuluh Suar Suroso. Membaca dan mempelajari tulisan ini memberi kita pengetahuan yang akan membawa pada pemblejetan atas kebohongan‐ kebohongan yang mengarah pada kebiadaban yang diakukan oleh fasis Soeharto serta semua pengikut dan antek‐anteknya.
Bab pertama Pikir Itu Pelita Hati bertemakan “Dari Pembodohan ke Pembiadaban Bangsa”. Kita dibawa untuk mengerti akan segala kebohongan yang telah dilakukan dan dilancarkan demi melakukan pembodohan bangsa, seperti misalnya fitnah dan pembohongan orba tentang “Mao menghasut Aidit”, pembodohan yang mengeramatkan Pancasila menjadi berhala, kebohongan tokoh‐tokoh orba seperti Nugroho Notosusanto, Arifin C. Noer, bahkan Kopkamtib dan penulis‐ penulis seperti M. Fic, Jung Chang, dan lain‐lain yang semuanya mengarah pada pembodohan dan budaya main kuasa sebagai akar
pembiadaban bangsa untuk mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan fasisnya.
Begitu banyak jenis pembodohan yang berlangsung di zaman orba. Pembodohan merusak seperti jamur di musim hujan karena rakyat tidak dibekali cara berpikir ilmiah. Rakyat tidak dididik untuk berpikir secara fakta, kebenaran, dan kenyataan. Rakyat hanya dibekali dengan keharusan untuk percaya dan harus mengikut apa yang diperintahkan. Masa itu, bangsa tidak diajarkan untuk menggunakan otak, menggunakan pikiran, dan itu diwarisi sampai sekarang. Padahal dalam kehidupan sehari‐hari, sampai perubahan dalam masyarakat, manusia dibimbing oleh pikirannya. Pikiran ini lahir dari kerja otak. Kalau cara berpikir ngawur, maka hasilnya juga akan ngawur, tidak ada arti sama sekali.
Inilah kunci yang diberikan Suar Suroso dalam buku Pikir Itu Pelita Hati, bahwa: “Betapapun bersimaharajalelanya pembodohan sampai sekarang, pencerahan akan terus berlangsung. Kebebasan berpikir dan bersuara akan berkembang. Pembohongan‐pembohongan dan segala macam fitnah akan kian tertelanjangi. Untuk itu, satu‐ satunya jalan ialah mendorong maju rakyat berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah berarti mencari kebenaran dari kenyataan. Segala‐galanya bertolak dari kenyataan. Inilah pandangan materialisme.”
Namun sayang, orang‐orang yang pikirannya telah terkontaminasi pembodohan yang mengarah pada pembiadaban, memandang setiap yang disebut materialisme adalah komunis.
Yang menarik dalam tulisan ini, pada Bab II, Suar Suroso membicarakan secara terperinci masalah agama dan kepercayaan: “Cara Berpikir dan Berbagai Pandangan Hidup di Nusantara, dari Animisme sampai Kebatinan Jawa”. Tidak ketinggalan tentang Hindu, Buddha, Islam, Kejawen, bahkan Bhinneka Tunggal Ika, Walisongo, dan lain sebagainya. Tampak di sini bahwa penulis paham sekali seluk‐beluk tentang segala bentuk kepercayaan di Nusantara.
Akan tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Geoffrey Parrinder dalam buku World Relegions‐from Ancient History to the Present, bahwa “mempelajari agama yang berbeda tidak perlu berarti tidak setia pada kepercayaan sendiri, tetapi sebaliknya, kepercayaannya dapat diperluas dengan melihat bagaimana orang‐orang lain mencari kenyataan dan memperkaya pencarian mereka.”
Sesungguhnya, dalam mempelajari agama‐agama yang berbeda itu Suar Suroso tidak terjebak dengan sumber kepercayaan‐kepercayaan itu, namun percaya dan berdiri di atas kepercayaan sendiri.
Bahwa “Semenjak lahir dari kandungan ibu, manusia mulai menyusu, mengenal dan meraba untuk menghisap buah dada ibu, mulai melihat, mengenal keadaan sekitar menurut apa adanya, menurut kenyataan. Manusia mulai menggunakan otak, membedakan benda‐ benda yang ditemui, manusia berpikir secara materialis. Hidup dalam alam terbuka, manusia berkenalan dengan suasana sekelilingnya.
Dari melawan haus dan lapar, melawan kedinginan dan kepanasan, manusia jadi berbuat, bertindak menggunakan tangan, melakukan kerja. Kerja syaraf menimbulkan perasaan. Pusat syarat, otak pun berfungsi, bekerja melahirkan pikiran. Jadi, kerja otot diiringi oleh kerja syaraf sampai kerja otak. Kerja otak adalah berpikir, maka kerja badan atau kerja fisik menyebabkan manusia berpikir. Dengan berpikir, lahirlah pikiran. Berpikir itu adalah kerja, hasilnya adalah pikiran. Pikiran adalah hasil pencerminan kenyataan. Pikiran yang bersumber atau bertolak dari kenyataan adalah materialis. Cara memandang hal ihwal dengan bertolak dari kenyataan adalah materialisme.”
Semenjak manusia mulai berpikir sudah menggunakan pandangan materialis. Inilah kunci dari tulisan Suar Suroso dalam buku Pikir Itu Pelita Hati.
Dalam bab‐bab selanjutnya kita akan melihat pembelajaran terhadap teori‐teori tentang fakta, kenyataan, dan kebenaran yang dihasilkan dari kerja otak, pikiran, dan disebut materialisme, yang oleh orang‐orang dengan pikiran cupet dianggap sebagai tabu. Dimulai dari perkenalan tentang Marxisme dengan Bung Karno dalam karya Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926) sampai hal‐hal yang merupakan fakta, kenyataan, dan kebenaran dalam ajaran Marxisme.
Semua itu bisa kita hayati dengan menggunakan kerja otak, yaitu pikiran. Karenanya, Pikir Itu Pelita Hati adalah suatu karya tulisan yang sangat baik dan berguna sekali untuk bangsa yang masih terbelenggu dengan pembodohan dan kebiadaban yang diwariskan orba Soeharto.
Buku Pikir Itu Pelita Hati adalah seumpama cambuk buat orang‐ orang yang menjadi korban pembodohan yang menjurus pada pembiadaban. Generasi muda yang menggunakan nalar dan pikiran, yang menilai sesuatu dengan fakta, kenyataan, dan kebenaran, pasti
akan menyambut gembira atas hadirnya buku Pikir Itu Pelita Hati ini. Inilah pedang, inilah senjata, dan inilah dian yang akan membantu memberi penerangan dalam kegelapan masa kini. Kepada penulis disampaikan salam dan terima kasih karena telah berhasil menyusun dan menulis buku yang berharga ini. Australia, 5 Maret 2015
SAMBUTAN
Ibrahim IsaKETIKA menerima berita dari penulisnya mengenai buku yang baru selesai ditulisnya, Pikir Itu Pelita Hati, sudah bisa diantisipasi buku itu mengangkat sebuah tema yang teramat serius dan mendesak. Suar Suroso menulis tentang masalah pemikiran bangsa ini. Diproyeksikan pada sejarah perkembangan pemikiran para ahli pikir sedunia mengenai kehidupan dan perkembangan masyarakat manusia dan masyarakat bangsa. Teristimewa kaitannya dengan perubahan yang terjadi terus‐ menerus dalam kehidupan masyarakat manusia, menuju suatu kehidupan yang adil dan makmur. Jelas sekali apa yang menjadi tujuan penulisan Suar Suroso dengan mengangkat masalah Pikir Itu Pelita Hati, yaitu “untuk melawan pembodohan dan pembiadaban bangsa!”
“Karya Pikir Itu Pelita Hati lahir dari hasrat untuk melawan pembodohan dan pembiadaban yang melanda bangsa Indonesia akibat sepertiga abad berkuasanya rezim orba jenderal fasis Soeharto. Soeharto naik panggung dengan penggulingan Bung Karno lewat kebohongan demi kebohongan dan pembantaian terhadap pendukung Bung Karno, para pimpinan dan anggota PKI, serta manusia tak berdosa. Manusia tak berdosa korban pembantaian di Indonesia melebihi jumlah manusia yang dibunuh fasis Jepang sebanyak 300.000 di Nanjing tahun 1937. Lebih mengerikan dari kekejaman fasis Nazi membunuh kaum Yahudi dalam Perang Dunia II. Dalam pembantaian di Indonesia, yang mati lebih banyak daripada korban bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Pembantaian ini adalah teror. Membenarkan teror untuk mencapai tujuan adalah kebiadaban. Di bawah kekuasaan orba, teror
bersimaharajalela. Berkembang ajaran yang membenarkan teror untuk mencapai tujuan. Bangsa beradab jadi biadab. Berlangsung kebiadaban yang tak ada taranya dalam sejarah Indonesia.” [“Pengantar Penulis”]
Suar Suroso dengan sistematis dan analitis mengemukakan bahwa ia menulis Pikir Itu Pelita Hati dengan maksud untuk memaparkan perkembangan pikiran ilmiah, terutama di bidang kemasyarakatan semenjak zaman purba sampai abad ke‐20. Penulisan terpusat pada perkembangan Marxisme, membantah pandangan yang menyatakan Marxisme sudah punah, menegakkan pandangan bahwa Marxisme berkembang sampai lahir Teori Deng Xiaoping.
Dengan uraian seperti di atas mengenai maksud dan tujuan buku Pikir Itu Pelita Hati, Suar Suroso telah mengangkat satu masalah yang sungguh teramat penting, yaitu masalah pemikiran tentang masyarakat dan perkembangannya dari zaman kuno sampai abad ke‐20. Uraian terfokus pada Marxisme, lahir dan perkembangannya di mancanegara dan di Indonesia. Penulis mengajak pembaca ikut memikirkan masalah teramat penting ini.
Di negeri kita, penulisan semacam ini, sepanjang ingatan, belum pernah ada selama ini. Di sinilah arti penting buku Pikir Itu Pelita Hati. Tanpa ragu sedikit pun Suar Suroso mengemukakan analisa dan pandangannya sekitar Marxisme. Penulis membantah pernyataan para pencetus dan penganut Perang Dingin, termasuk pendukung‐ pendukungnya di Indonesia, bahwa Marxisme sudah “mampus”.
Suar Suroso sebaliknya mengemukakan alasan, argumentasi, dan fakta‐fakta sejarah, bahwa Marxisme telah berkembang menjadi Teori Deng Xiaoping. Ini adalah sikap yang melawan arus. Merupakan pandangan yang berani menantang paduan suara di segala pelosok dunia, yang dengan cemooh menyatakan bahwa ajaran Marxisme sudah menemui ajalnya dengan runtuhnya Tembok Berlin, dan bahwa apa yang dilakukan oleh Deng Xiaoping adalah revisionisme yang merestorasi kapitalisme di Tiongkok.
Suar Suroso mengemukakan alasan dan argumentasi untuk menjelaskan uraiannya. Menunjukkan contoh fakta perubahan besar‐ besaran yang terjadi di Tiongkok. Melonjaknya pertumbuhan dan perkembangan ekonomi negeri yang membikin para pemerhati dan pakar ekonomi dunia terkejut dan tercengang. Mereka gagal mencari‐ cari faktor apa yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan
ekonomi yang begitu spektakuler dalam 30 tahun belakangan ini di Tiongkok.
Penyebab mengapa mereka itu gagal melihat kenyataan perubahan besar yang telah meningkatkan taraf hidup 600 juta rakyat Tiongkok pada akhir abad ke‐20 ialah karena mereka memandang perubahan di Tiongkok dengan kaca mata “Perang Dingin”. Di pihak pandangan lainnya, mereka masih menggunakan teori‐teori ilmu filsafat, politik, sosial, dan ekonomi, yang diuraikan lebih seratus tahun yang lalu. Maka mereka itu tidak mampu atau gagal untuk melihat, apalagi memahami, perubahan besar yang terjadi di Tiongkok. Baik dari segi perubahan fisik maupun perubahan mental, termasuk penerapan Marxisme di Tiongkok.
Buku Pikir Itu Pelita Hati berusaha menguraikan antara lain mengapa dan bagaimana penerapan teori Marxisme pada kondisi konkret. Tiongkok telah berhasil mengangkat negeri dan taraf hidup rakyat Tiongkok ke taraf pertumbuhan dan perkembangan yang termasuk paling tinggi di mancanegara dewasa ini.
Kita merasa terbantu dengan uraian Suar Suroso dalam Pikir Itu Pelita Hati, yang secara analitis, sistematis, dan teoretis, menguraikan mengapa Marxisme tidah “punah”, bahkan berkembang pada kondisi konkret Tiongkok dan telah mencapai hasil‐hasil yang nyata. Mari sambut hangat karya Pikir Itu Pelita Hati, yang telah memperkaya khazanah literatur ilmu filsafat, politik, sosial, dan ekonomi Marxis di Indonesia. 9 Februari 2015
SAMBUTAN
Chalik HamidBUNG KARNO memiliki cita‐cita luhur dan tinggi untuk membangun bangsa dan negara Indonesia. Sejak perjuangan pembebasan negeri hingga tercapainya kemerdekaan RI, Bung Karno senantiasa berjuang dengan teguh dan tanpa kompromi melawan kaum kapitalis dan imperialis serta budak‐budaknya, baik di dalam maupun di luar negeri. Setelah tercapai kemerdekaan, lagi‐lagi Bung Karno menunjukkan niat dan tujuan bahwa negeri Indonesia jangan sampai dikuras oleh modal asing. Bung Karno memiliki sikap bahwa negeri Indonesia yang sudah dibebaskan dengan darah dan keringat, harus dibangun oleh bangsanya sendiri dengan menggunakan tenaga para pemuda Indonesia. Ia berusaha agar pembangunan negeri dilakukan oleh putra‐putri Indonesia, terbebas dari para ahli dan teknisi asing.
Oleh sebab itu, sejak semula Bung Karno berusaha membangun kader‐kader muda dengan mengirimkan mereka untuk belajar ke luar negeri, di samping yang ditempa di berbagai universitas di dalam negeri. Bung Karno, melalui Kementerian Pendidikan, mengirim para pemuda/i belajar ke Amerika Serikat dan Kanada, ke negeri‐negeri Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, Inggris, dan Belanda. Tidak kurang banyaknya juga dikirim ke Rusia (dulu pusat Uni Republik Sosialis Sovyet), Bulgaria, Hongaria, Republik Ceko (dulu bergabung dengan Slowakia menjadi Cekoslowakia), Rumania, Polandia, dan Albania. Banyak pula dikirim ke Tiongkok, Jepang, Korea, Australia, hingga Kuba.
mengalami kegagalan sebagai akibat berhasilnya jenderal fasis Soeharto merampas kekuasaan dari tangan pemerintahan sah Bung Karno. Soeharto dengan kejam menjadikan Bung Karno sebagai tahanan rumah dan akhirnya meninggal dunia karena penyakitnya tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Soeharto berhasil merekayasa Tap MPRS No.25/1966 yang melarang keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan melarang ajaran Marxisme–Leninisme di Indonesia. Soeharto juga berhasil menelurkan Tap MPRS No.33/1967, di mana Presiden Soekarno dinyatakan sebagai pengkhianat karena memihak PKI.
Dengan demikian, seluruh kekuasaan negara RI sepenuhnya jatuh ke tangan Jenderal Soeharto dan dengan leluasa ia melakukan pembunuhan terhadap rakyat Indonesia. Tidak tanggung‐tanggung ia telah membunuh 3 juta rakyat Indonesia, mengasingkan ribuan patriot dan pejuang ke Pulau Buru. Penjara di seluruh Indonesia penuh sesak, pemerkosaan dan pencabulan terhadap kaum wanita yang dilakukan oleh ABRI terjadi di mana‐mana.
Demikian pula yang terjadi terhadap warga Indonesia yang berada di luar negeri. Terhadap para mahasiswa terutama yang belajar di Eropa Timur dilakukan pemaksaan. Beberapa KBRI orba di berbagai negara Eropa Timur memaksa para mahasiswa agar mengakui pemerintahan Soeharto sebagai pemerintahan yang sah. Namun, sebagian besar mahasiswa tidak mau mengakui kekuasaan Soeharto, mereka tetap mengakui Bung Karno sebagai Presiden RI dan bahkan mengutuk pemerintahan Soeharto. Sebagai akibat perlawanan ini, beberapa KBRI orba Soeharto memanggil dan mencabut paspor para mahasiswa ikatan dinas (mahid) tersebut. Mereka kehilangan identitas dan terpaksa menjadi staatenloos (tidak memiliki kewarganegaraan).
Mereka ini banyak terdapat di berbagai negeri, terutama di Eropa Barat seperti di Belanda, Jerman, Perancis, Swedia, dan negeri‐negeri Eropa Timur seperti di Republik Ceko, Rusia, Hongaria, Polandia, Albania, Bulgaria, dan bahkan juga di Tiongkok, Hongkong, Kuba, dan Australia. Bersama dengan orang‐orang Indonesia lain yang pernah mendapat tugas di berbagai ormas internasional dan lembaga negara seperti KBRI, para mahid itu menjadi orang‐orang gelandangan di negeri orang. Sia‐sialah pengetahuan yang mereka peroleh dengan menamatkan studi yang mestinya diabdikan di Indonesia sesuai dengan keinginan dan harapan Bung Karno.
Suar Suroso, pengarang buku Pikir Itu Pelita Hati’ yang sedang kita hadapi ini merupakan salah seorang korban kebiadaban rezim fasis Jenderal Soeharto. Paspornya dirampas oleh KBRI di Moskow ketika itu. Ia termasuk orang yang dilarang pulang ke negeri leluhurnya, Indonesia. Betapa banyak orang sepertinya menjadi “orang kelayaban” di luar negeri, istilah yang dilontarkan Gus Dur ketika ia menjadi Presiden RI.
Saya kemukakan beberapa nama sekedar contoh sebagai orang yang tergusur dari negerinya. Duta Besar RI untuk RRT, Djawoto, dilantik Bung Karno bertugas di Beijing. Ia tak diizinkan pulang dan meninggal dunia di negeri Belanda. Saudara Sukrisno, pernah menjadi Dubes RI di Rumania dan Vietnam, meninggal dunia di Belanda dan dikubur di negeri itu. Saudara M. Ali Chanafiah, Dubes RI di Sri Langka, meminta suaka di Stockholm, Swedia. Kemudian kembali ke Indonesia dan meninggal dunia di sana. Saudara A.M. Hanafi, Duta Besar RI untuk Kuba, di zaman reformasi kembali dan meninggal dunia di Indonesia. Saudara Tahsin, Duta Besar RI di Mali, tidak bisa pulang ke Indonesia, lalu minta suaka dan meninggal dunia di negeri Belanda.
Beberapa nama lain yang pernah bertugas di berbagai lembaga internasional dan instansi negara di luar negeri: Yusuf Adjitorop (Josep Simanjuntak), perwakilan Delegasi PKI di Tiongkok, meninggal dunia di Beijing; Wijanto Rachman, bertugas di Konakri, Guinea, meminta suaka dan meninggal dunia di Belanda; Agam Wispi, seorang penyair terkenal Indonesia, meninggal dunia di Belanda; A. Suhaimi, pemimpin redaksi harian Gotong Rojong Medan, meninggal dunia di Belanda; A.S. Munandar, dosen Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, meninggal dunia di Belanda; Z. Afif, dosen bahasa Indonesia di Universitas Kwangchow, meninggal dunia di Swedia; Sobron Aidit, dosen bahasa Indonesia di Universitas Beijing, meninggal dunia di Perancis; Anwar Dharma, wartawan Harian Rakjat Jakarta di Moskow, meninggal dunia Beijing; Kamaludin Rangkuti, dosen bahasa Indonesia di Bejing, meninggal dunia di Belanda; Azis Akbar, sastrawan dari Medan, meninggal dunia Jerman; Ibrahim Isa, perwakilan tetap Indonesia di Organisasi Internasional Solidaritas Rakyat‐Rakyat Asia–Afrika (OISRAA) di Kairo, kini berdomisili di Amsterdam, Belanda; Francisca Pattipilohy, kini bertempat tinggal di Amsterdam; Suar Suroso, mewakili Pemuda Indonesia dalam Gabungan Pemuda Demokratik Sedunia (GPDS) di
Budapest, kini berdomisili di Tiongkok; Francisca Fanggidaej, berangkat ke luar negeri mengikuti Konferensi Yurist Internasional dan pernah mengikuti Konferensi Kalkuta di India, meninggal dunia di Belanda; Umar Said, pemimpin redaksi harian Ekonomi Nasional Jakarta, meninggal dunia di Paris, Perancis; Utuy Tatang Sontany, pengarang drama (dramaturg) terkenal Indonesia, meninggal dunia di Moskow; Setiati Surasto, wakil buruh Indonesia di Serikat Buruh Internasional berkedudukan di Praha, Republik Ceko, meninggal dunia di Swedia.
Beberapa nama tokoh lainnya adalah: Nungcik A.R., meninggal dunia di Tiongkok; G.H. Simamora, meninggal dunia di Tiongkok; Rolah Sarifah, meninggal dunia di Belanda; Sofyan Waluyo, meninggal dunia di Swedia; Margono, meninggal dunia di Paris; Budiman Sudharsono, meninggal dunia di Paris; Willy Hariandja, meninggal dunia di Tiongkok; Supangat, meninggal dunia di Belanda; Aslam Hariadi, meninggal dunia di Belanda; Rustomo, meninggal dunia Tiongkok; Rumambi, meninggal dunia di Tiongkok; Zaelani, meninggal dunia di Belanda; Surjo Subroto, meninggal dunia di Belanda; Kondar Sibarani, meninggal dunia di Jerman; Supeno, meninggal dunia di Belanda; Suryono, meninggal dunia di Belanda; Didi Wiharnadi dan Suparna Sastradiredja, aktivis buruh, meninggal dunia di Belanda.
Saya sengaja menuliskan nama‐nama tersebut di atas agar orang bisa mengetahui apakah tokoh‐tokoh tersebut masih hidup atau sudah meninggal dunia. Dengan demikian bisa diketahui di mana kuburnya. Sekaligus orang akan mengetahui betapa kejamnya perlakuan orde baru yang dikepalai Jenderal Soeharto terhadap warganya. Dalam nama‐ nama tersebut di atas belum termasuk nama para mahid (mahasiswa ikatan dinas) yang dilarang pulang ke Indonesia dan meninggal di luar negeri serta dikuburkan di negeri orang.
Sebenarnya Presiden Gus Dur pernah melakukan niat baik untuk memulangkan orang‐orang Indonesia yang terhalang pulang dan bergelandangan di luar negeri. Awal tahun 2001 ia mengirimkan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, agar memulangkan mereka ke Indonesia. Yusril pun berusaha mengumpulkan masyarakat Indonesia di Kedutaan Besar RI di Belanda. Ia menjelaskan bahwa dalam waktu dekat ia akan mengembalikan “orang‐orang kelayaban” itu ke tanah tumpah darahnya. Namun, setelah ia kembali ke Indonesia, ia pun melupakan janji yang pernah ia ucapkan. Ia mendapat tekanan
dari partainya, PBB (Partai Bulan Bintang), seolah‐olah Yusril akan menghidupkan kembali komunisme di Indonesia. Sebuah pandangan yang tidak sesuai dengan kenyataan konkret di Indonesia, dan akhirnya menteri terhormat ini bungkam seribu bahasa. Tak lama kemudian Gus Dur pun terjungkal dari kursi kepresidenan. Usaha pemulangan para mahid itu pun lenyap bagaikan secangkir air tumpah ke pasir.
Tulisan ini sudah menerawang jauh, hampir meninggalkan tugasnya sebagai kata sambutan terhadap terbitnya buku Pikir Itu Pelita Hati. Menurut pendapat saya, buku Suar Suroso yang kesepuluh ini hampir mirip dengan buku‐buku terdahulu, sejak yang pertama hingga yang kesembilan, Akar dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno, kecuali buku ketujuh—Jelita Senandung Hidup dan kedelapan—Pelita Keajaiban Dunia. Dua buku, ketujuh dan kedelapan itu, merupakan kumpulan puisi yang menyenandungkan tanah air Indonesia, keindahan alamnya, kekayaan buminya, kecintaan rakyat terhadap negerinya. Di luar dua buku ini, buku‐buku lainnya saling bertautan dan saling mengisi, merupakan sejarah perkembangan masyarakat pada zamannya.
Oleh sebab itu, buku‐buku ini sangat berguna bagi siapa pun, terutama bagi generasi muda dan penerus bangsa, agar bisa belajar dengan baik dalam meneliti perkembangan masyarakat dengan berbagai ideologi dan ajaran‐ajaran keyakinan yang berkembang sesuai dengan zamannya. Kita bisa belajar bagaimana berbagai ajaran Hindu, Buddha, Kejawen, bahkan sampai masuknya Islam ke Indonesia. Namun juga merupakan satu kenyataan, kita tidak bisa menampik, merasuk dan berkembangnya ajaran Marxisme–Leninisme lewat karya‐ karya Alimin, Tan Malaka, Njoto, D.N. Aidit, dan bahkan Bung Karno dengan tulisannya Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.
Sangat menarik dimuatnya dalam buku ini sebuah bantahan seolah Mao Zedong menghasut Aidit untuk mengadakan sebuah gerakan di Indonesia ketika Bung Karno menderita sakit. Bantahan demikian ini sangat diperlukan dalam usaha pelurusan sejarah yang dipelintir oleh orde baru, terutama untuk pembelajaran bagi generasi muda. Termasuk pelurusan anggapan bahwa PKI turut sebagai dalang G30S.
Dalam kumpulan puisi Di Negeri Orang, Nurdiana menulis sebuah puisi dengan judul “Adat Hidup”. Penulis Nurdiana tak lain
adalah nama pena Suar Suroso dalam penulisan puisi. Dalam puisi itu ia menuliskan: Bila dahaga, sungguh terasa nikmatnya air, di kala lapar, terasa benar lezat makanan; kapan kepanasan, terasa nyaman embun di pagi hari; ketika dingin, amat terasa hangat api membara; bilamana gelap dicengkam kelam, betapa terasa terang sang Surya; semasa terkurung di penjara, alangkah terasa bahagia kebebasan. Dan di kala terpaksa berkelana di pengasingan, terasa nian indahnya kampung halaman.
Buku Pikir Itu Pelita Hati, karya kesepuluh Suar Suroso ini mengandung banyak bahan pelajaran yang perlu diketahui oleh siapa pun, terutama bagi generasi muda penerus bangsa untuk meraih kemerdekaan penuh, terbebas dari neo‐kolonial dan neo‐liberal. Presiden Jokowi ketika membagikan buku‐buku kepada anak‐anak generasi muda selalu berpesan, “Membacalah, dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan.”
Pada tanggal 16 Mei 2015, Suar Suroso genap berusia 85 tahun. Dalam usia tua ia masih terus kreatif melahirkan berbagai macam tulisan. Tentu saja kita menunggu karya‐karya Bung Suar selanjutnya yang sangat dibutuhkan anak bangsa.
Amsterdam, 10 Februari 2015
CATATAN EDITOR
Marxisme Tidak Usang dan Komunisme Tidak Mati
PADA saat bendera merah dengan palu arit sebagai simbol buruh dan tani diturunkan dari Istana Kremlin, Tembok Berlin dihancurkan dan negara‐negara sosialis di Eropa Timur tumbang, ketika itu banyak orang meyakini dan mulai meragukan Marxisme yang dalam sejarah dunia untuk pertama kalinya diterapkan di bumi Rusia oleh kaum Bolsyewik dipimpin oleh Lenin lewat Revolusi Oktober 1917. Dengan kata lain, kegagalan Uni Soviet dalam menerapkan Marxisme tidak hanya membuktikan bahwa “Revolusi Oktober 1917” adalah “dosa”, bahkan juga membuktikan bahwa prinsip‐prinsip dasar Marxisme hanya imajinasi utopis belaka dan pantas dimasukkan dalam “Museum Sejarah Dunia” sebagai warisan sejarah peradaban manusia.
“Marxisme–Leninisme telah bangkrut dan gagal total,” demikian para pemandu wisata di sekitar Museum Sejarah Peradaban Manusia menjelaskan kepada para pengunjung dari seluruh dunia. Wakil Direktur Think‐tank Departemen Luar Negeri AS, Francis Fukuyama, menulis sebuah buku berjudul The End of History and The Last Man. Dalam buku tersebut, Fukuyama ingin menjelaskan bahwa runtuhnya Uni Sovyet dan negara‐negara sosialis di Eropa Timur telah membuktikan bahwa “demokrasi liberal dan ekonomi pasar adalah proses evolusi sejarah yang tidak tertandingi dan membuktikan bahwa Marxisme sudah punah dan komunisme sudah mati.”
Namun, apa yang terjadi di saat kapitalisme pada awal 2008 mulai mengalami goncangan besar. Pecahnya krisis keuangan 2007/2008 dan menjalar menjadi krisis ekonomi global telah membuktikan bahwa
Karl Marx benar dan ajarannya masih sangatlah relevan. Marxisme tidak usang dan komunisme tidak mati. Dalam sebuah wawancara majalah Jepang pada 2009, Fukuyama mulai meragukan tesisnya sendiri dengan mengatakan, “Demokrasi Barat mungkin tidak akan menjadi akhir dari evolusi sejarah manusia.” Pada 2014, dalam majalah dwibulanan The American Interest yang diterbitkan pada bulan Januari–Februari, ia mengatakan “pengaruh dari kelompok dan lobi untuk kepentingan Amerika Serikat (AS) sedang menguat. Ini bukan hanya mendistorsi proses demokrasi, tetapi juga mengikis efektivitas kemampuan tindakan pemerintah.”
Begitu pula dengan Presiden AS Barack Obama, dalam pidatonya di tahun 2008 dengan mengutip argumen Marxis yang paling klasik, khususnya dalam istilah metafisika ekonomi politik, mengkritik jalannya ekonomi virtual yang diterapkan oleh AS dan melepaskan paradigma pembangunan ekonomi riil. Obama mengatakan, “Masalahnya bukanlah dalam kebijakan tertentu, melainkan pada akar filsafat ekonomi itu sendiri.” Dengan nada marah, Obama mengatakan bahwa, “Krisis ekonomi saat ini adalah akibat langsung dari keserakahan dan tidak bertanggung jawab. Tren ini telah mendominasi Washington dan Wall Street selama bertahun‐tahun.”
Telah begitu banyak intelektual borjuasi yang mempertanyakan lonceng kematian dari kapitalisme. Pandangan dari intelektual borjuasi untuk pertanyaan tersebut bermacam‐macam. Misalkan saja, Joseph Schumpeter dalam bukunya Kapitalisme, Sosialisme, dan Demokrasi, mempertanyakan, “Apakah kapitalisme bisa bertahan?” E.K. Hunt memprovokasi dengan pertanyaan, “Apakah kapitalisme akan menyebabkan harmoni atau malah sebaliknya malah menyebabkan konflik sosial?” dan “Apakah kapitalisme dalam dirinya sendiri, stabil atau tidak stabil?”
Dengan pecahnya krisis keuangan 2007/2008, memicu diskusi tentang “kapitalisme baru” dan “kapitalisme kreatif”. Media Barat dan Forum Davos berkali‐kali mengajukan topik diskusi tentang krisis kapitalisme Barat dan masa depan kapitalisme, menemukan kembali kapitalisme, kapitalisme negara, kampanye pendudukan Wall Street, diagnosis kapitalisme, dan topik diskusi tentang kapitalisme lainnya. Tentang masa depan kapitalisme itu sendiri, banyak yang memberikan berbagai macam istilah, “akhir sejarah”, “sistem identitas”, dan “teori
keruntuhan”, dan tampilan lainnya. Pada saat yang sama, kapitalisme juga telah memakai segala macam topi baru: “akhir kapitalisme”, “imperialisme baru”, “masyarakat pasca‐kapitalis”, “kapitalisme kesejahteraan”, “kapitalisme yang disesuaikan”, “kapitalisme kasino”, “kapitalisme keuangan”, dan sebagainya.
Perkembangan baru dan perubahan dalam kapitalisme kontemporer menunjukkan bahwa kapitalisme memiliki tingkat pembaruan diri dan kapasitas untuk pengembangan diri. Namun, kapitalisme itu sendiri tidak mampu mengandalkan kekuatan dirinya untuk memecahkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Media Barat dan para intelektual borjuasi percaya bahwa kapitalisme saat ini tidak hanya menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga menghadapi krisis sosial dan krisis kelembagaan yang mendalam. Dengan terus meluasnya polarisasi antara si kaya dan si miskin, rusaknya alam, memburuknya pengangguran, pendidikan, perawatan kesehatan, dan pemotongan pengeluaran kesejahteraan sosial lainnya, banyak dari intelektual borjuasi akhirnya juga mempertanyakan kembali rasionalitas sistem kapitalisme.
Ekonom Perancis berusia 42 tahun, Thomas Piketty, dalam buku best‐seller‐nya Kapital Abad Ke‐21, menunjukkan, “Krisis keuangan global di awal tahun 2007—2008 dianggap sebagai krisis ekonomi yang paling serius sejak krisis kapitalisme di tahun 1929.” Selanjutnya, Piketty mengatakan bahwa, “Saat ini kita sudah memasuki abad ke‐21, orang‐ orang yang percaya bahwa polarisasi antara si kaya dan si miskin akan hilang ternyata tiba‐tiba telah kembali. Saat ini tingkat polarisasi antara yang kaya dan miskin telah mendekati atau bahkan lebih tinggi dalam sepanjang masa.” Buku Piketty tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah liberal tradisional atas pengeluaran, perpajakan, dan regulasi akan gagal dalam mengurangi ketimpangan.
Argumen Piketty ini juga dikuatkan oleh data yang dikeluarkan oleh lembaga analisis keuangan Bloomberg pada 2013 bahwa kekayaan 300 orang terkaya di dunia adalah $524 miliar dan sekarang total kekayaan mereka telah mencapai $3,7 triliun. Data yang dikeluarkan oleh Bloomberg dikuatkan oleh keluhan sebelumnya dari sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Prof. Jason Hickel dari London School of Economics. Pada waktu itu mereka mencatat bahwa kekayaan akumulasi 300 orang terkaya di dunia melebihi total kekayaan 3,5 miliar
orang miskin. Tiga ratus orang terkaya tersebut semuanya adalah sebagai pemilik atau yang berhubungan langsung dengan Korporasi Multi‐Nasional (MNC).
Setelah krisis keuangan internasional 2007/2008, inisiatif yang diambil oleh AS adalah dengan menjalankan kebijakan quantitative easing (pelonggaran kuantitatif), yaitu pemerintah AS mencetak dolar dan mensubsidi kapital keuangan yang justru merupakan inisiator dari krisis itu sendiri. Ini menunjukkan begitu parasit dan dekadennya kapitalisme keuangan. Kebijakan mencetak dolar ini pada akhirnya hanya akan menyebabkan devaluasi mata uang dan meluasnya krisis derivatif keuangan yang menular ke negara‐negara lain. Hal ini semakin memperburuk polarisasi antara si kaya dan si miskin, dan selanjutnya mengurangi permintaan efektif di seluruh dunia serta memperluas surplus produksi seluruh dunia.
Tepat seperti yang dianalisis oleh Karl Marx 147 tahun yang lalu. Marx dalam Das Kapital telah menunjukkan bahwa “alasan terakhir bagi semua krisis sesungguhnya selalu tetap kepada kemiskinan dan konsumsi yang terbatas dari massa, berhadapan dengan pacuan produksi kapitalis untuk mengembangkan tenaga‐tenaga produktif.” Krisis keuangan dan ekonomi yang lebih besar belum datang dan kondisi untuk pecahnya krisis sosial yang lebih besar pada skala global semakin terlihat di depan mata kita saat ini.
Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah AS untuk memulihkan kembali perekonomiannya. Selain dengan menarik kembali kebijakan pelonggaran kuantitatifnya, juga menampilkan berita‐berita yang positif terhadap perekonomiannya serta menampilkan banyak berita‐berita yang menyesatkan akan situasi ekonomi global dan gejolak finansial di negara‐negara berkembang di dalam tajuk utama media surat kabar, majalah, maupun elektronik mereka.
Ekonom AS, Dr. Paul Craig Roberts yang pernah menjabat sebagai Asisten Menteri Keuangan dalam pemerintahan Ronald Reagan, telah mendalami data statistik yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja AS. Roberts telah menemukan adanya kelemahan dan kontradiksi. Mengakui bahwa data statistik yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS, mereka berharap dapat dimasukkan dalam bekerja penuh waktu padahal jam kerja mereka telah dipotong atau karena mereka tidak dapat menemukan pekerjaan penuh waktu. Untuk
data September 2012, sebuah gambaran yang lebih benar dari situasi kerja yang mengerikan disediakan meningkat menjadi 600.000 dari bulan sebelumnya di mana mereka dimasukkan dalam kategori bekerja penuh waktu, jauh melebihi 114.000 pekerjaan yang baru.
Dari data statistik yang dikeluarkan oleh Biro Statistik AS juga ditemukan kelemahan yang sangat penting. Misalkan saja data statistik resmi yang dikeluarkan oleh Biro Statistik AS menunjukkan bahwa pekerjaan berpenghasilan tinggi di AS mengalami penurunan. Penduduk miskin yang bergantung pada kupon bantuan pemerintah semakin meningkat, tetapi tampaknya tidak masuk akal, di mana orang‐ orang tampaknya lebih bersedia mengeluarkan uang mereka untuk bisa makan di luar. Menyebabkan selama beberapa dekade meningkatnya orang‐orang yang mencari pekerjaan dengan upah yang rendah di restoran dan bar. Data yang dikeluarkan oleh Biro Statistik AS masih banyak juga bisa kita lihat kelemahannya. Misalkan saja bahwa meskipun pemerintah negara bagian AS terus mengalami kesulitan keuangan dan juga terus menekan pengeluaran di sektor pendidikan, malah sebaliknya, departemen pendidikan menginformasikan tentang 13.600 pekerjaan baru akan tampak aneh dengan adanya PHK terus‐ menerus terhadap para guru di AS.
Joseph Stiglitz, ekonom terkenal AS dan pernah mendapatkan hadiah Nobel di bidang ilmu ekonomi, pada tahun 2012 pernah menulis dalam majalah Financial Times, “Pendapatan rata‐rata rakyat AS selama 15 tahun belakangan ini, pendapatan rata‐rata dari seorang pekerja yang bekerja seharian penuh bahkan lebih rendah daripada tingkat pendapatan seorang pekerja 40 tahun yang lalu.” Hampir 5 tahun lebih dari 2009 sampai 2013, pemerintah dan media AS setiap tahunnya selalu menciptakan opini publik dengan menggambarkan bahwa perekonomian AS semakin kuat dan hampir pulih kembali. Jikalau data‐ data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah AS tentang pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan itu benar serta dapat diandalkan, maka tentunya pendapatan dan harta rakyat AS tidak seperti yang disampaikan oleh Stiglitz. Ini artinya bahwa opini yang diciptakan oleh pemerintah dan media AS sangat berbeda jauh dengan tren perkembangan ekonomi riil AS.
Wu Chengliang, jurnalis dari Tiongkok, menulis sebuah artikel yang berjudul “Pemulihan Ekonomi AS Tidak Bermanfaat Bagi Orang