BIOGRAFI RUANG BRAGA
Braga 67 Bukan Cagar Budaya
Bangunan tua di Jalan Braga No 67 bekas toko meubel Kero dan Korona bukan cagar budaya. Sebab wujud asli bangunan bagian depan sudah diubah pada 1970-an. Penanggung jawab proyek, Kekeng menyatakan bangunan yang berdiri di tanah 2.500 meter persegi itu bukan cagar budaya. Sebab, pada 1970-an bagian depan bangunan sudah diubah. "Rencananya kami akan mengembalikan bentuk bangunan depan seperti semula, seperti tahun 1930-1940-an," ujarnya ditemui di lokasi pembongkaran, Jalan Braga, Kamis (19/3/2009).
Hal yang sama dikatakan David Bambang Soediono, Ketua Paguyuban Braga sekaligus Anggota LSM Bandung Heritage. Dia membenarkan bangunan yang dibongkar memang bukan termasuk cagar budaya.
"Bangunan itu bukan aslinya, tapi hasil perubahan pada tahun 1970. Ya, masuk kategori bangunan 21 persen jadi tidak kontekstual dengan Jalan Braga," jelasnya.(ern/ern)
68 Lahan dan bangunan Permorin yang tidak berfungsi akhirnya digunakan oleh warga setempat sebagai ruang publik. Alfin (25 tahun) mengatakan bahwa Permorin adalah tempat bermainnya kala anak-anak. Alfin masih ingat bahwa sejumlah alat-alat berat untuk perakitan mobil masih tersimpan di dalamnya, karena itulah Permorin juga sempat dijadikan lokasi syuting film. Menurutnya, sinetron “Gerhana” yang tayang di RCTI pada tahun 1999-2003 pernah syuting di lahan dan bangunan Permorin.
“Itu mah ya dulu masih sering dipake syuting da. Jaman film si Gerhana tuh pernah. Da jaman dulu banget kan bangunannya. Bangunan tua jadi bagus emang buat syuting. Terus sempet dulu berubah teh jadi lapangan Badminton, gedungnya dipake tapi dipakenya sama orang sini (warga sekitar Braga). Ya karena enggak ada yang make gitu, enggak usah minta ijin, jadi mending dialihfungsikan jadi apa gitu.. Nah, dijadiin pernah lapangan Badmiton, di bawahnya jadi lapangan bola. Nah pas itu (Permorin) dibeli sama ini mah (BCW), ya jadi ini (Mall).”
Selain difungsikan menjadi lapangan Badminton dan Bola, warga kerap menggunakan lahan Permorin sebagai tempat parkir mobil. Setelah berubah menjadi Mall, Alfin mengaku kesulitan mencari lahan parkir untuk mobilnya, sedangkan pihak Mall tidak memberi semacam kekhususan untuk warga sekitar
Gambar 1.12
Kiri—jalan masuk menuju Permorin (sumber gambar: Dana, 1990:96). Kanan—jalan
masuk menuju Mall BCW dan Apartemen Aston (sumber gambar: dokumen Ricky Ardian, 2013).
69 yang membutuhkan tempat parkir, seperti tarif parkir yang tetap. Akhirnya Alfin memarkikan mobilnya di tempat parkir umum di bangunan ruko pasar Cikapundung, seperti kebanyakan warga lainnya.
Ruang publik seperti lapangan Badminton terdapat pula di salah satu bangunan di Jalan Braga, yaitu di Galeri Tatarah. Menurut Alfin, terdapat tangga menuju bawah tanah yang ternyata ruang luas tertutup yang difungsikan sebagai tempat badminton. Ruang tertutup yang dimaksud Alfin adalah semacam bunker yang hampir terdapat di bangunan Belanda Jalan Braga. Bangunan “Rumah Seni Ropih” di Jalan Braga no 43 misalnya, memiliki tangga menuju bawah bangunan dimana terdapat bunker yang kini difungsikan sebagai Museum Braga oleh pegiat heritage. Pada area paling bawah bangunan terdapat area ruang terbuka hijau yang bersisian dengan sungai Cikapundung. Ruang terbuka hijau tersebut dibuat panggung, saung, dan amphiteatre berbahan dasar bambu yang kerap digunakan untuk kegiatan seni. Rumah Seni Ropih merupakan bangunan bekas toko jam tangan pada masa Hindia Belanda yang bernama Stocker Horlogerie. Toko tersebut menjual arloji-arloji merek terkenal buatan Swiss pada tahun 1926, namun bangunannya kini telah banyak berubah (Hutagalung dan Nugraha, 2008:92). Ropih, pemilik Rumah Seni Ropih, mengaku bahwa dirinya sudah tinggal di bangunan tersebut kurang lebih 12 tahun. Pada saat pertama membeli, tahun 2000, bangunan tersebut memang dalam keadaan yang rusak dan banyak bagian yang harus direnovasi.
“Terbengkalai.. ini malah saya ngebangun di sini karena sudah hancur. Saat itu saya pasang-pasang besi, pasang-pasang itu.. Ini dulu kan bunker, untuk nyumput, takut. Ya memang pada waktu itu (jaman penjajahan) keadaan ya juga kurang aman, jadi ada ketakutan, kan. Ini salah satunya bunker.”
70 Bangunan eks Toko Stocker merupakan salah satu bangunan yang bertahun-tahun tidak terawat dan kemudian roboh di Jalan Braga. Bangunan ini kemudian diselamatkan pemilik baru dengan merenovasi bangunan, sehingga bangunan ini dapat difungsikan kembali walaupun bangunan sudah tidak sama lagi dengan aslinya. Ada pula bangunan yang terawat namun tidak berfungsi di Jalan Braga, yaitu bangunan eks Hotel Braga (Wilhelmina). Bangunan tersebut masuk dalam kategori bangunan cagar budaya di Jalan Braga seperti yang telah disebutkan di awal paragraf, namun lahan dan bangunan tersebut kini dibeli oleh jaringan hotel Ibis dan sampai kini masih dalam proses pembangunan. Bangunan Hotel Braga terletak di area Braga pendek, bersebelahan dengan bangunan Kimia Farma, dan berhadapan dengan Gedung Majestic. Hotel Braga didirikan pada tahun 1926 dengan mengambil nama ratu Belanda saat itu, Wilhelmina. Sejak tahun 1940-an, hotel ini mengalami beberapa kali pergantian nama, yakni Hotel des Pays Bas, Hotel Bristol, dan kemudian menjadi Braga di tahun 1956. Bangunan ini beberapa kali mengalami renovasi sehingga detail bangunan ini banyak mengalami perubahan (Hutagalung dan Ridwan, 2008: 61-62).
Gambar 1.13
Dari kiri ke kanan—bangunan Rumah Seni Ropih tampak depan (sumber gambar:
dokumen Ricky Ardian, 2013). Tangga menuju bawah bangunan yang melewati
bunker (sumber gambar: dokumen pribadi, 15 September 2012). Ruang terbuka hijau
di bawah-belakang bangunan, bersisian dengan sungai Cikapundung (sumber gambar: dokumen pribadi, 05 Oktober 2012).
71 Tepat di sebelah utara bangunan Hotel Braga, terdapat eks bangunan toko Sarinah yang terbengkalai. Fasad bangunan masih tersisa bertuliskan nama toko souvenir tersebut, namun rangka bangunan terlihat gosong, dan keseluruhan bangunan ditutup asbes. Menurut Alfin (25 tahun) pernah terjadi kebakaran pada bangunan Sarinah yang Alfin tidak ingat persis terjadinya. David (59 tahun) mengatakan hal yang sama, bahwa bangunan Sarinah harus direlakan karena ada permainan politik pengembang. Sarinah bernasib sama seperti bangunan eks Galeri Braga di Braga panjang yang dibiarkan kosong, terbengkalai, dan ditutupi asbes. Bangunan tersebut hanya menyisakan gerbang lengkung bertuliskan “Galeri Braga” dari sisa kebakaran. Pengamatan terakhir penulis, bangunan tersebut kini sedang dalam tahap renovasi.
Selain bangunan yang terbengkalai, ada juga bangunan yang tidak berfungsi namun cukup terawat, yaitu bangunan Perusahaan Gas Negara (PGN). Pada jaman kolonial, bangunan ini memang berfungsi sebagai Perusahaan Gas Negara Hindia Belanda atau Nederlandsch Indische Gas Maatschappij atau biasa disebut Gas Mij. Pada masa itu gas didistribusikan dengan menggunakan pipa yang disalurkan langsung ke rumah-rumah pelanggan gas, mirip dengan saluran ledeng saat ini
Gambar 1.14
Bangunan terbengkalai yang disebabkan oleh kebakaran di Jalan Braga yaitu Sarinah dan Galeri Braga (sumber gambar: dokumen pribadi, 06 Maret 2011).
72 (Hutagalung dan Nugraha, 2008:101). Gas disalurkan langsung dari pabriknya di Kiaracondong, sedangkan bangunan di Jalan Braga ini berfungsi sebagai kantornya. Hutagalung dan Nugraha (2008) sempat menuliskan keprihatinannya terhadap bangunan Perusahaan Gas Negara ini di dalam bukunya, „Braga: Jantung Parijs van Java‟,
“Sungguh sayang, beberapa tahun ini bekas Gedung Gas dibiarkan kosong tanpa perawatan. Walaupun dari luar bangunan terlihat kokoh, namun bisa dipastikan bagian-bagian gedung ini akan dimakan waktu. Hal ini terlihat dari kaca depan yang berukuran besar sudah mulai pecah dan beberapa bagian tembok serta atap sudah mulai kumuh dan kotor. Bila masih tidak diperhatikan, mungkin dalam waktu dekat nasibnya akan sama dengan banyak bangunan kuno di Bandung yang hancur karena dibiarkan tidak terawat dalam waktu yang lama (hal 103).”
Sampai tahun 2011, bangunan PGN masih kurang terawat dan kerap digunakan oleh gelandangan, pengemis, dan pengamen. Anak tangga bangunan ini cukup lebar untuk digunakan sebagai tempat duduk dan/atau tidur-tiduran. Bangunan ini pun menjadi tempat nongkrong bagi anak-anak muda di malam minggu. Salah satu kelompok anak muda yang beraktivitas di bangunan ini adalah pegiat seni jalanan. Mereka berupaya mewarnai Jalan Braga dengan menggambar pada bangunan PGN. Hal ini akan dijelaskan lebih rinci di bab berikutnya. Seorang penggagas kegiatan, Iwan Ismael, berkata bahwa pada akhirnya memilih bangunan PGN karena tembok bangunan tersebut cocok untuk digambar, yakni termasuk dalam kategori bangunan yang paling tidak berfungsi dan tembok yang paling tidak terawat di Jalan Braga.
“Saya berkali-kali lewat, mau naik motor, mau jalan kaki, gedung tetap saja begitu. Ya udah atas seijin Ibu RW, kami bisa menggambar bagian depan
73
gedung. Kami tidak ada urusan dengan Heritage. Kami datang untuk menggambar karena gedung tidak diurus dan jadi kotor.”
Selain bangunan yang tidak berfungsi, tidak terawat, dan terbengkalai, Jalan Braga masih menyisakan bangunan yang terawat dan berfungsi. Bangunan-bangunan tersebut biasanya difungsikan sebagai usaha yang sudah bertahan lama, bank, kantor, atau karena kepengelolaannya yang merupakan tanggungjawab pemerintah daerah. Gedung kesenian “New Majestic” misalnya, salah satu bangunan yang dikelola oleh PD Jasa dan Kepariwisataan Jawa Barat, adalah bangunan yang terawat pemeliharaannya. Bangunan New Majestic bersebelahan dengan Museum Konferensi Asia Afrika yang terletak di Braga pendek. Bangunan ini sempat bernama Gedung AACC, singkatan dari Asia Africa Cultural Centre, sejak tahun 2002 (Suganda, 2007:183). Pada jaman Hindia Belanda, bangunan ini difungsikan sebagai bioskop yang elit karena diperuntukkan hanya bagi orang Eropa. Rancangan bangunan tersebut dibuat oleh arsitek Wolff Schoemaker pada tahun 1924 (Hutagalung dan Nugraha, 2008:63).
Gambar 1.15
Kiri—Kondisi Gedung gas yang kurang terawat dan ditempeli papan tripleks (sumber
foto: dokumen pribadi, 19 Maret 2012). Kanan—Gedung gas yang sudah digambar oleh barudak street art yang bertepatan dengan ulang tahun kota Bandung dan kegiatan Braga Festival 2012 (sumber foto: dokumen Preman Urban Street Art/ Asep
74 Sampai saat ini bangunan “New Majestic” masih digunakan untuk kegiatan-kegiatan skala kecil karena kapasitasnya yang terbatas. Namun, saat bangunan ini masih bernama AACC, berbagai kegiatan lebih sering berlangsung, baik itu musik, film, teater, maupun acara diskusi. Citra bangunan ini menurun sejak peristiwa kematian groupies14 band metal Beside pada 09 Februari 2008 karena dinamakan sebagai Tragedi AACC. Ini kemudian menjadi sorotan kepada pemerintah kota untuk menyediakan sarana bagi pegiat musik di Bandung. Sejak saat itu, bangunan tersebut tidak boleh dulu dipergunakan untuk kegiatan apapun. Hal yang sama diungkapkan oleh Adew (36 tahun), pegiat di Museum KAA, tentang suasana bangunan yang suram pasca peristiwa kematian tersebut. Namun pada tahun 2009, bangunan tersebut berganti konsep dan mulai boleh dipergunakan kembali.
Terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai usaha kuliner di Jalan Braga, tetapi hanya ada dua usaha kuliner legendaris yang terkenal. Pertama adalah restoran Braga Permai yang bangunannya terawat namun sudah berubah dari bentuk aslinya. Restoran Braga Permai atau Maison Bogerijn telah menjadi salah satu ikon di Jalan Braga. Restoran ini dinyatakan sebagai restoran paling elit karena satu-satunya yang mendapat ijin untuk menyajikan masakan khas kerajaan Belanda. Braga Permai pertama kali dibuka pada tahun 1918 dan sepanjang keberadaannya, Braga Permai telah mengalami pasang-surut secara ekonomi, perombakan, dan pergantian manajemen atau kepemilikan.
Unep (81 tahun), salah satu tukang parkir di Jalan Braga yang berlokasi tidak jauh dari Braga Permai, mengatakan bahwa sekarang ini Braga Permai telah ramai kembali. Unep, bagaimana pun selalu memperhatikan suasana restoran
14
75 Braga Permai. Menurutnya, restoran tersebut sempat meredup pada tahun 1990-an, namun sekarang kembali ramai setelah ada pembaharuan. Isti (43 tahun), warga jalan Kejaksaan, juga berpendapat serupa tentang keramaian di restoran Braga Permai. Sejak ada pergantian manajemen restroan, harga-harga makanan di Braga Permai jadi lebih terjangkau. Tidak hanya wisatawan asing yang kerap nongkrong di Braga Permai, bahkan anak-anak muda sekarang ini menggemari Braga Permai.
Tempat makan legendaris kedua adalah Sumber Hidangan atau Het Snoephuis yang telah dibuka pada tahun 1929. Sumber Hidangan menempati bangunan di Jalan Braga No 20-22, berjajaran dengan penjual lukisan kaki lima. Sajian utama Sumber Hidangan dari sejak jaman Belanda adalah roti dan kue yang kini masih dipertahankan. Tempat ini di jaman Hindia Belanda kerap kali dijadikan tempat berkumpul aktivis Bandoeng Vooruit15 (Hutagalung dan Ridwan, 2008:86). Perubahan fisik bangunan serta interior di dalam bangunan, seperti kursi-meja tamu, bakeri, dan restoran tidak banyak mengalami perubahan (Suganda, 2007:182).
Iin Solihin (44 tahun) adalah seorang penjual lukisan kaki lima yang menggunakan dinding Sumber Hidangan untuk menggelar lukisannya. Iin kerap mengamati restoran ini dari mulai benda, makanan, sampai pegawainya yang menurutnya termasuk klasik. Sumber Hidangan memang dicitrakan klasik karena hampir semuanya masih asli, tetapi menurutnya bangunan dan interior di dalamnya jadi kurang dirawat. Restoran Sumber Hidangan sudah dijalankan oleh
15 Bandoeng Vooruit merupakan organisasi yang didirikan oleh Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthof, pada tahun 1920-an saat Kota Bandung sudah mampu mandiri dan lancar mengelola kota. Organisasi ini menjadi partner Gemeente Bandung dalam membangun, menata, dan membenahi kota dalam rangka meningkatkan kesejahteraan warga kota (Kunto, 1986:233-234).
76 dua generasi yang masih hidup sampai sekarang. Iin Solihin (44 tahun) menyebutnya sebagai “si nenek” dan “si ibu” karena Iin tidak mengetahui persis nama pemilik usaha tersebut. Sebagai penjual kaki lima yang kerap numpang di bangunan Sumber Hidangan, Iin mengaku tidak pernah dimarahi atau dimintai kompensasi oleh pemilik usaha.
Bangunan lama paling terawat di Jalan Braga adalah bangunan yang digunakan oleh Bank, seperti Bank Jabar-Banten yang berlokasi di Jalan Braga No 12-14. Bangunan ini bernama D.E.N.I.S, singkatan dari De Erste Nederlandsche Indische Spaarkas en Hypotheekbank. Rancangannya dibuat oleh A.F Aalbers pada tahun 1935 dengan gaya streamline art-deco16 yang cukup modern dan mewakili jamannya (Hutagalung dan Ridwan, 2008:78-81). Selain itu ada pula Bank Jabar Banten Syariah di Jalan Braga nomor 135 di jajaran gedung Landmark yang juga terawat. Bangunan ini termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang awalnya digunakan oleh N.V Oliefabrieken Insulinde di jaman Belanda. Perusahaan yang memproduksi jenis-jenis makanan berbahan minyak, seperti mentega, minyak sawit, dan minyak kelapa. Namun pada tahun 1927, bangunan ini dibeli oleh gemeente Kota Bandung untuk perluasan kantor Karesidenan Priangan. Pada masa kemerdekaan, bangunan ini juga sempat digunakan sebagai Kantor Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat sampai tahun 1980-an (Hutagalung dan Nugraha, 2008: 141-142).
16Streamline atau perampingan dipengaruhi oleh prinsip-prinsip aerodinamis modern yang dikembangkan untuk penerbangan dan balistikuntuk mengurangi gesekan udara pada kecepatan tinggi. Streamline art deco atau moderne adalah reaksi terhadap Art Deco dan cerminan masa ketegangan ekonomi, sudut-sudut tajam digantikan dengan kurva aerodinamis sederhana. Elemen kayu dan batu digantikan dengan semen dan kaca (sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Art_Deco#Streamline_Moderne dan
77 Peristiwa sejarah Bandung Lautan Api adalah latar belakang terjadinya sengketa tanah dan bangunan di beberapa wilayah di Kota Bandung, termasuk juga Jalan Braga. Kepergian warga Pribumi ke wilayah selatan kota Bandung, dan kemudian kepergian warga Eropa ke negaranya, bangunan kolonial relatif banyak dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Hukum terkait pergantian status kepemilikan tanah dan bangunan yang belum dimiliki oleh negara Indonesia, membuat hukum kepemilikan tersebut mengikuti aturan pemerintahan Hindia Belanda. Permasalahan tanah dan bangunan di Jalan Braga tarik-menarik antara kepemilikan pemerintah dengan kepemilikan warga keturunan Tionghoa serta perda cagar budaya. Pada praktiknya, tanah dan bangunan di Jalan Braga sudah melewati pergantian kepemilikan, baik itu dengan cara pembelian maupun penyewaan. Baik itu dengan sesama warga keturunan Tionghoa, warga Pribumi, warga lama, warga baru, maupun pengembang/perusahaan. Rancangan bangunan di Jalan Braga sesuai konsepnya pada jaman Hindia Belanda adalah pertokoan rumah tinggal (ruko) sehingga memungkinkan pemilik untuk memfungsikan bangunan sebagai ruang usaha. Penggunaan, perawatan, dan pemeliharaan bangunan di Jalan Braga dikembalikan kepada pemiliknya.
Meskipun UU Cagar Budaya telah dibuat pada tahun 1992, namun perubahan bentuk dan fungsi bangunan sepenuhnya adalah hak pemilik. Pada prakteknya perubahan-perubahan tersebut terjadi di Jalan Braga sehingga dianggap menurunkan citra bangunan Jalan Braga dan menghilangkan ruang publik bagi warga setempat. Ketidakserasian bangunan terawat, lama-terbengkalai, lama-berubah fungsi, dengan bangunan baru yang modern adalah indikasi penataan Jalan Braga yang tidak terencana dengan baik. Era otonomi
78 daerah telah melahirkan Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya yang mewajibkan pemerintah untuk melindungi, memelihara, dan mempertahankan kawasan atau benda cagar budaya, namun kemunculan Perda pada tahun 2009 tersebut tidak dapat mengembalikan Jalan Braga yang telah banyak berubah secara fisik.
79 Rangkuman
Secara umum, di bab ini telah dijelaskan tentang perihal latar belakang terjadinya perubahan fisik di Jalan Braga yang meliputi jalan, trotoar, serta bangunannya. Ada perubahan yang bentuknya direncanakan yaitu oleh pemerintah maupun perubahan yang bentuknya spontan, yang terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Jalan Braga merupakan jalan yang menjadi ikon legendaris Kota Bandung, maka tidak sedikit warga kota yang menaruh perhatian pada perubahan dan perkembangannya. Bab selanjutnya akan secara khusus membahas biografi warga pengguna ruang Braga yang meliputi latar belakang warga, aktivitas, serta pandangannya di dalam menyikapi perubahan-perubahan Jalan Braga. Warga pengguna ruang Braga, dalam hal ini mencakup, tidak hanya pinggiran Braga saja, tetapi juga warga Kota Bandung yang di dalam berkegiatan sehari-hari maupun berpenghidupannya berada di Jalan Braga.
80