BIOGRAFI ORANG BRAGA
Boks 2.2 Sulit Air Bersih : Sulit Air Bersih :
3.2 Warga di Jalanan Braga
3.2.3 Pegiat Seni Jalanan
Jalan Braga selain dipercantik oleh para penjual yang menjajakan lukisan di trotoar, juga tak luput dari kreativitas para pegiat seni. Salah satu komunitas yang berkontribusi adalah komunitas Street Art Preman Urban (PU). Street art12atau seni jalanan biasanya menggambar di tembok-tembok jalanan, bisa tembok bangunan yang terbengkalai, tembok pagar, atau tembok apa pun yang dianggap layak, kosong, dan bisa untuk digambari. Preman Urban sendiri adalah singkatan dari Perkumpulan Seniman Jalanan Urang Bandung. Penggagasnya adalah Iwan Ismael, seniman jalanan yang cukup malang melintang di dunia street art.
Seni jalanan kerap kali dianggap aksi vandalisme, tetapi komunitas PU memiliki visi untuk memperindah dan mempercantik ruang kota. Setiap kali berkegiatan, komunitas PU selalu meminta ijin dari pemilik bangunan atau pihak yang berwenang mengelola objek fisik yang akan diberi gambar. Deni Kurniawan (27 tahun), salah satu pegiat Preman Urban, mengatakan bahwa komunitasnya baru berdiri satu tahun.
12
Street art adalah seni visual yang berkembang di ruang publik yaitu jalan. Istilah street art biasanya merujuk pada seni yang tidak membutuhkan persetujuan atau unsanctioned art, sebagai perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Street art juga mencakup seni grafiti, pahatan, stensil grafiti, wheatpasting, instalasi jalanan, bomber, dsb (sumber: terjemahan bebas dari http://en.wikipedia.org/wiki/Street_art).
138
―Belum setahun. Belum lama lah tapi Alhamdulillah udah meroket, menjamur, soalnya orang-orang di belakang PU teh orang-orang media semua jadi cepet, gitu. Kita punya itu doang sih.‖
Deni adalah salah satu pegiat yang cukup aktif berkegiatan bersama Preman Urban. Deni tinggal di kawasan Maleer, daerah jalan Gatot Subroto, bersama ibunya. Tetangga Deni, Eko, adalah orang yang pertama mengajaknya untuk berkegiatan seni jalanan. Deni sempat ikut-ikutan sebentar bersama Eko dan berjejaring dengan kawan-kawan street art yang lain. Kegiatan berkesenian Deni sempat terputus karena harus bekerja menjadi buruh outsourcing di pabrik Ultra Jaya. Deni mengaku di-PHK sebelum genap satu tahun bekerja sehingga tidak mendapat kompensasi dari perusahaan. Keahlian Deni dan puluhan buruh pabrik lainnya digantikan dengan robot produksi Malaysia. Setelah keluar dari tempat kerjanya, Deni dapat aktif kembali berkegiatan seni jalanan bersama kawan-kawannya. Deni adalah lulusan sebuah SMA swasta di Bandung dan mengaku memiliki keahlian menggambar secara otodidak. Deni mengaku bukan orang dengan latar belakang pendidikan seni rupa seperti kebanyakan kawan-kawan street art-nya, tetapi Deni mendapat pengetahuan terkait teknik gambar dan warna dari kawan-kawannya tersebut. Komunitas Preman Urban yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan guru seni rupa, menjadi tempat bagi Deni mengekspresikan hobinya terhadap seni menggambar, terutama mural.
Sebagai komunitas, PU pun memiliki basecamp atau markas yang terletak di daerah Kawaluyaan, daerah Soekarno-Hatta. Tempat berkumpul tersebut kerap kali dijadikan tempat untuk menaruh dan mengumpulkan barang-barang seperti cat, kuas, dan perlengkapan lain yang mendukung kegiatan. Ada beberapa karya yang dihasilkan oleh komunitas ini, di antaranya adalah mural sepanjang jalan
139 Stasiun Timur di tembok pembatas rel kereta api. Komunitas PU meminta ijin terlebih dahulu kepada Kepala Humas PT. KAI DAOP II Bandung. Kemudian mural di tembok-tembok gang Babakan Ciamis yang dijadikan pilot project atau proyek percontohan untuk menghimpun karya-karya komunitas PU. Iwan Ismael, penggagas komunitas, telah mendapat persetujuan dari Ketua RT setempat. Sebelum mengerjakan proyek percontohan di Babakan Ciamis, komunitas PU telah membuat proyek percontohan lain di Jalan Braga. Proyek tersebut menjadi masterpiece yang digambar di tembok atau dinding bangunan di Jalan Braga, yaitu Perusahaan Gas Negara (PGN), serta dinamakan Mural Braga. Proyek percontohan tersebut bertema ―Bebenah Braga: Memberi Ruang Kebahagiaan‖, dengan tujuan membangun karya seni jalanan. Deni bersama komunitasnya ingin menunjukkan bahwa seni jalanan tidak sama dengan aksi vandal seperti corat-coret di jalan, walaupun seringkali disamakan oleh masyarakat awam. Kegiatan tersebut diakui Deni telah mendapat persetujuan dari Ketua RW setempat dan penjaga keamanan bangunan. Deni bersama komunitasnya tidak meminta ijin secara formal ke pihak Perusahaan Gas Negara. Menurutnya, perijinan secara formal sudah disampaikan oleh pihak RW kepada pengelola gedung. Alasannya karena Deni bersama komunitasnya tidak menggunakan ruang dalam bangunan, hanya bagian luar tembok untuk membuat Jalan Braga lebih semarak dengan warna dan gambar.
Pengerjaan proyek Mural Braga dilakukan selama 10 hari berturut-turut dan dilakukan oleh enam pegiat yang bergonta-ganti mengerjakan karya dari pagi sampai malam hari. Pegiat tidak mengeluarkan dana apapun untuk itu, karena cat dan kuas masih yang bersisa dari proyek mural sebelumnya di jalan Stasiun
140 Timur. Menurut Deni, pengerjaan Mural Braga tidak selalu berjalan mulus. Ada saja petugas Tibum yang membentak para pegiat street art yang sedang mengerjakan karya di malam hari untuk menghentikan kegiatan. Jika telah dikecam oleh petugas keamanan kota, biasanya para pegiat menghentikan kegiatan dan menuruti hal yang diinstruksikan. Namun jika petugas tersebut telah pergi, para pegiat akan melanjutkan pengerjaan gambar yang tertunda. Deni menuturkan bahwa pernah suatu kali Iwan Ismael ditangkap oleh Satpol PP dan ditahan KTP-nya, tetapi esok harinya sudah dilepaskan karena Iwan pandai beragumentasi.
Petugas keamanan bangunan pun melakukan hal yang sama seperti petugas keamanan kota. Mereka meminta rekomendasi dari Ketua RW dan pihak manajemen perusahaan untuk perijinan kegiatan. Hambatan lain yang dirasakan oleh Deni bersama komunitasnya adalah protes dari pegiat pencinta bangunan heritage. Mereka merasa bahwa kegiatan Deni bersama komunitasnya telah merusak bangunan heritage di Jalan Braga. Pihak-pihak yang tidak setuju dengan pengerjaan Mural Braga kerap kali meminta ijin padanya untuk menghapus karya tersebut. Deni bersama kawan-kawannya selalu mempersilakan pihak-pihak tersebut untuk menghapus karyanya.
―Sok we mangga dihapus tapi kan setidaknya mun manehna boga insting
seni kitu nya, nu kumaha sih gambar cocoretan nu ngasal jeung nu kieu? Respon na ge ti orang-orang nu ngaliwat pasti beda.”
(Silakan dihapus tetapi kan setidaknya kalau orang tersebut memiliki insting seni, bagaiman sih gambar corat-coret yang asal sama yang seperti ini? Respon dari orang-orang yang lewat pasti beda, -terj)
Deni menyatakan bahwa respon terhadap karya Mural Braga dari para pengunjung Braga cukup berbeda dengan coretan-coretan yang ada di dinding
141 atau pintu bangunan Braga lainnya. Kurang lebih ada 100 orang pengunjung yang telah Deni dokumentasikan melalui kamera berlatarbelakang Mural Braga. Menurut Deni, sampai pukul 01.00 WIB setelah selesai pengerjaan mural, pengunjung yang ingin berfoto di depan bangunan PGN masih antusias. Dokumentasi yang dilakukan Deni semata-mata untuk menghimpun apresiasi dari pengunjung. Jalan Braga adalah ruang untuk memamerkan hasil karya komunitasnya karena di jalan ini pengunjung datang dari berbagai wilayah di Kota Bandung, bahkan Indonesia. Deni berharap Mural Braga hasil karya komunitasnya akan menjadi kenang-kenangan bagi pengunjung yang datang ke Kota Bandung, khususnya Jalan Braga.
Beberapa waktu kemudian, pada saat kegiatan Braga Festival 2012 yang diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun Kota Bandung, Mural Braga menjadi latar yang menghiasi panggung acara. Tidak sampai satu bulan, tembok yang telah digambari Deni bersama komunitasnya tersebut dicat kembali oleh pihak produksi film. Bangunan PGN digunakan untuk syuting film yang diadaptasi dari novel Dewi Lestari berjudul ―Madre‖.
―Eeeh.. pas beberapa hari kemudian, ada yang mau syuting film.. ya udah terjadilah seperti sekarang. Dihapus warna putih.. Ih!‖
142 Deni beserta para pegiat komunitas seni lainnya di Indonesia lantas membuat peringatan duka cita atas Mural Braga. Setiap karya yang dibuat oleh pegiat street art dan kemudian hilang akan dibuat ‗nisan‘-nya di dunia maya dengan menampilkan foto karya dengan keterangan RIP13. Bagi pegiat street art, hilangnya karya seni memberi kesedihan mendalam karena mereka merasa sudah menambah nilai estetika di jalan untuk pengguna ruang publik.
―Aslinya semua, tau enggak? Hampir berapa.. ya hampir lah, kalau deni lihat di media, komennya teh bener-bener komen anu nyeri hate pisan. Eta
gambar geus saalus-alus, kacida kitu eta anu rek ngajieun film. Ngajieun film durasina sabaraha menitlah dina bangunan nu kitu? Da lain film anu syutingna teh kan sok di hiji tempat-hiji tempat, kan ini moal mungkin pasti di ditu terus..”
(…… komentarnya itu betul-betul komentar yang membuat sakit hati sekali. Itu gambar sudah sangat bagus, keterlaluan orang yang mau membuat film. Membuat film durasi-nya paling berapa menit di bangunan seperti itu? Kan bukannya film syutingnya di tempat yang beda-beda, kan tidak mungkin pasti (syuting) di situ (bangunan itu) terus.., -terj)
13
Rest In Peace
Gambar 2.17
(dari kiri-kanan) dinding bangunan Perusahaan Gas Negara setelah digambar dan dinding bangunan sedang digunakan untuk keperluan syuting film (sumber foto: dokumen Preman Urban Street art/ Asep Wahyu dan dokumen
143 Meskipun komunitas PU mendapat kompensasi dari pihak produksi film, namun itu tidak bisa membayar perasaan duka Deni dan teman-temannya yang telah memberi nilai estetika di ruang publik. Menurut Holland (2007) sebuah tempat memiliki identitasnya dan sejarahnya sendiri, dan penggunanya bisa mempengaruhi keadaan tempat tersebut dilihat dari bagaimana cara mereka menggunakannya. Holland dengan beberapa solusinya terhadap tempat-tempat publik memperhatikan persoalan peregenerasian. Pertama yang harus diperhatikan adalah reputasi. Suatu ruang publik di kota merefleksikan dan mempengaruhi bagaimana orang merasakan tempat yang mereka tempati. Beberapa hal seperti pengelolaan dan keamanan dalam tempat-tempat publik adalah seperti bagaimana tempat tersebut dibuat nyaman bagi pengunjungnya, bagaimana menjaga keamanan, dan bagaimana menempatkan fasilitas-fasilitas secara strategis. Holland juga menyatakan bahwa perencanaan dan pemeliharaan tempat-tempat
Gambar 2.18
Ekspresi pegiat seni jalanan di media sosial terhadap karya jalanan yang telah hilang (sumber gambar: dokumen pribadi, 20 Desember 2012).
144 publik penting dalam rangka regenerasi dan membuat tempat tersebut dapat diakses oleh semua orang.
Jalan Braga adalah ruang untuk mengekspresikan seni jalanan. Di Jalan Braga hadir pengguna ruang dari ragam latar belakang sosial dan tempat asal. Baik itu pemukim, pekerja, maupun pengunjung yang dalam hal ini adalah anak muda, orangtua, serta wisatawan domestik dan asing. Karya seni jalanan yang dipamerkan di ruang Braga akan menjadi citra tersendiri dan memberi pengalaman visual bagi para pengguna ruang tersebut, terutama bagi pengunjung Jalan Braga. Yi-Fu (2001) dalam bukunya ―Visibility: The Creation of Space” mengatakan bahwa tempat sangat penting bagi individu atau kelompok. Tempat dapat dikenal secara mendalam oleh mata maupun pikiran. Sebuah bangunan memberi makna umum dan khusus. Makna khusus mengubah waktu dan makan mumum tetap atau membekas. Seiring waktu banyak simbol publik yang kehilangan statusnya sebagai tempat sehingga merusak ruang. Bagi kehidupan diri-personal, dunia adalah rumah, tapi bagi diri-koletif, dunia adalah lingkungan publik seperti tempat ibadah, pusat kota, dan daerah pusat kegiatan.
Pegiat seni jalanan, sebagai diri-kolektif merupakan pengguna ruang yang ikut menbentuk tempat di Jalan Braga. Mereka menambah nilai estetika terhadap ruang, untuk pengguna ruang lainnya. Karya membutuhkan apresiasi dan apresiasi terbaik bagi seni jalanan adalah berada di tempat dimana banyak orang berlalu-lalang. Oleh karena itu, Jalan Braga menjadi penting bagi pegiat seni jalanan untuk memperlihatkan eksistensinya. Penghapusan karya berarti adalah penghapusan eksistensi bagi seniman jalanan, karena karya berarti akan berhenti mendapat apresiasi.
145 3.3 Warga di Pinggiran Kampung Braga
Apandi adalah salah satu perkampungan yang terdapat di belakang deretan bangunan Jalan Braga. Terletak di sebelah Barat dan bersisian dengan Sungai Cikapundung. Seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya bahwa wilayah kampung ini terus menyusut setiap tahunnya. Sedangkan penghuni kampung kian banyak dengan pemukiman yang semakin padat. Alfin (25 tahun) adalah generasi ketiga yang tinggal di Apandi. Alfin merasakan perbedaan kondisi tempat tinggalnya dari sejak dirinya masih kecil sampai sekarang. Alfin masih ingat bahwa saat dirinya masih kecil, kendaraan roda empat milik keluarganya masih bisa masuk ke wilayah kampung dan diparkir di depan rumahnya. Pendatang yang bermukim di Kampung Apandi sebagian besar adalah pekerja di Pasar Baru, juga pekerja proyek pembangunan Mal dan Apartemen, serta pekerja klab malam di sekitar Braga. Banyaknya jumlah pekerja membuat bisnis tempat kos semakin banyak pula di lingkungan tempat tinggalnya. Hal yang serupa disampaikan Imam (60 tahun), Kampung Apandi dari sejak dirinya tinggal pada tahun 1968 tidak tidak begitu banyak perubahan. Hal yang berubah adalah pertambahan penduduk dan pemukiman. Lahan pemukiman yang terbatas membuat warga menambah bangunan ke atas yang dijadikan tempat kos.
―..di sini, terutama di RW 08, penduduk Pegawai Negeri Sipil-nya cuma 0,1 persen, banyaknya pedagang..Akhirnya orang sini ini, dibikinlah kos-kosan.. karena tempatnya strategis.. Yang karyawan di Pasar Baru kan murah, satu kamar disini cuma Rp 300.000, enggak usah pake transport tinggal jalan kaki ke Pasar Baru. Terus itu yang kerja malam di tempat hiburan, di sini kan dekat. Mungkin di sini juga ada toko roti, banyak karyawannya kan ada 50, daripada jauh kan mending di sini aja, dekat kan.‖
146
Imam, Ketua RW setempat, menyatakan bahwa warga Kampung Apandi yang sudah lama bermukim relatif banyak adalah migran dari daerah Priangan Timur, seperti Panjalu-Ciamis, Garut, dan Tasikmalaya. Ragam latar belakang mempengaruhi kemunculan para pemukim ke Kampung Apandi. Peristiwa penumpasan DI/TII pada tahun 1960-an yang sempat marak terjadi di wilayah Priangan, misalnya. Pendatang berdatangan ke Kota Bandung untuk mengadu nasih dan demi faktor kemananan. Jauh sebelum itu, peristiwa Bandung Lautan Api pun menjadi pemicu kemunculan pendatang ke Kota Bandung. Warga Kota Bandung yang berada di pengungsian, membawa sanak saudaranya serta untuk tinggal di Kota Bandung. Salah satunya keluarga Alfin yang akhirnya harus menempati rumah di Kampung Apandi, lantaran rumah sebelumnya di Jalan Braga mengalami sengketa.
Tanah-tanah di Kampung Apandi juga tidak luput dari sengketa. Dadeng (35 tahun), pegiat kepemudaan setempat, menyatakan bahwa ada satu RW di Kampung Apandi yang sudah direlokasi karena dimiliki oleh pemerintah. RW tersebut dihuni oleh penduduk yang rata-rata berprofesi sebagai tukang pelek14 di jalan Suniaraja-Viaduct. Asep (43 tahun) adalah salah satu tukang pelek yang kini bermukim di Riung Bandung. Sekitar tahun 1991-1994, rumah orangtuanya di Kampung Apandi terkena dampak proyek yang rencananya untuk fly-over yang melintasi Sungai Cikapundung.
―Ieu teh rencana ti tahun 90-an teh jalan (dari viaduct) tabrakeun ka ditu,
sampe ka gedung merdeka teh jalan. Ti dieu ka ditu.”
14
147
(Ini rencana dari tahun 90-an, jalan dari Viaduct dilanjutkan ke sana, sampai ke Gedung Merdeka adalah jalan. Dari sini ke sana.,-terj)
Alfin juga menuturkan bahwa pada tahun 2010, rencana proyek pembangunan jalan fly-over tersebut diwacanakan kembali. Alfin sudah membayangkan bahwa rumahnya yang membelakangi Mal Braga City Walk itu akan bersisian dengan jalan yang melintas di atas Sungai Cikapundung. Sosialisasi sudah didapatkan Alfin beberapa kali terkait pembangunan tersebut, tetapi realisasi proyek tidak terjadi juga. Selain proyek jalan, ada pula rencana proyek pembangunan rusunawa yang masih dalam tahap pemetaan wilayah dan sosial. Menurut Imam, Ketua RW, beberapa mahasiswa dari salah satu universitas negeri di Bandung telah melakukan survey pada warga terkait pembangunan tersebut. Imam menuturkan bahwa perencanaan di atas kertas sangat ideal untuk pemukiman yang sehat di Apandi, namun Imam tidak tahu bagaimana pelaksanaan ke depannya. Harapan perencana dan harapan warga mungkin bisa berbeda. Salah satu contoh yang sudah terjadi adalah saat pembangunan Mal Braga City Walk tahun 2004 lalu. Alfin menuturkan bahwa pada saat pembangunan Mal tersebut, sudah sepatutnya pihak Mal membebaskan tanah atau memberi kompensasi pada warga yang terkena dampak pembangunan.
―Dulu sempet konflik juga di sini, ya rame gitu. Ada yang nyebut, ‗kok seenaknya gitu pengembang‘. Ya mungkin orang-orang bagian sana ya (Alfin menunjuk ke arah depan rumahnya) yang enggak terlalu deket gitu, mungkin buat apa lah. Ada sebagian yang setuju pembebasan, ada yang enggak setuju gitu. Tapi banyak yang pengen dibebasin, sebelah sini (Alfin menunjuk ke arah belakang rumahnya), sebelah rumah juga nih.. Da ini mah kan punya nenek gitu, maksudnya.. sok ajalah kalau dia mau dibebasin mah. Tapi sebagian ada yang enggak mau, jadinya dari pihak sananya juga dimanfaatin. Ya udah jangan aja lah. Harusnya mah kan emang udah ditentuin, berarti dia enggak mau rugi juga karena ada sebagian yang ngedukung itu. Kasian mah yang udah pengen dibebasin. Padahal sebagian mah udah pengen banget.‖
148
Warga Apandi relatif banyak tidak menyetujui pembangunan tersebut, apalagi sesaat setelah pembangunan, warga mengalami krisis air bersih. Pihak manajemen Mall sudah memberikan air bersih untuk warga apandi sebagai upaya CSR untuk lingkungan setempat, namun hal tersebut tidak menguntungkan warga, karena beragam permasalahan lingkungan dan sosial yang kerap terjadi. Salah satu yang tidak menyetujui pembebasan lahan tersebut adalah Dadeng, pegiat kepemudaan setempat. Rumah Dadeng tepat membelakangi Apartemen Aston, yang masih dalam satu pengembang dan area dengan Mal Braga City Walk. Dadeng mengaku, sejak pembangunan tersebut, rumahnya serta rumah beberapa
Boks 2.4
Tamu Hotel Buang Sampah di Rumah Warga
BANDUNG, MINGGU - Buang sampah sembarangan tidak hanya dilakukan oleh warga masyarakat kelas bawah. Warga kelas atas yang menginap di hotel pun melakukan tindakan yang sangat tidak terpuji ini. Bahkan, dua atap rumah warga di Jalan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung mengalami kerusakan setelah tertimpa botol, yang dibuang tamu hotel dari lantai 15.
"Jam 10.30 ada suara keras di atap rumah bapak, dan setelah dilihat ke atas, ternyata atap rumah bolong," kata pemilik rumah Umar Said di lokasi kejadian, Minggu (8/3). Mengetahui hal tersebut, dirinya beserta warga lainnya langsung mendatangi pihak manajemen Hotel Aston untuk meminta ganti rugi. Menurut dia, kejadian pelemparan botol bekas atau sampah dari atas Hotel Aston ke arah rumah warga bukan yang pertama kali. "Kejadian ini bukan yang pertama, sudah sering rumah kami kejatuhan botol atau sampah yang dilempar seseorang dari atas hotel," katanya.
Selain sering kejatuhan barang-barang bekas maupun sampah dari atas hotel, warga juga mengeluhkan banjir yang terjadi di sekitar rumah mereka akibat drainase hotel yang buruk. "Sebelum dibangun hotel, pemukiman warga di sini jarang terkena banjir," katanya.Sementara itu, salah seorang staf manager Hotel Aston Bandung Arinis mengakui memang telah terjadi pelemparan botol berisi air mineral ke rumah warga yang dilakukan salah seorang tamu hotel. "Memang ada yang melempar botol berisi air mineral dari lantai 15 hotel ke bawah," katanya. Pihak hotel sepakat membayar ganti rugi terhadap warga yang atap rumahnya rusak karena kejadian tersebut. Ganti rugi tersebut diberikan dalam wujud asbes (atap, red) baru serta uang tunai Rp 400 ribu. Dengan adanya kejadian pelemparan tersebut, pihak manajemen Hotel berjanji akan menutup permanen jendela hotel yang menghadap ke pemukiman warga di sekitarnya.
149 warga di sekitarnya tidak mendapat sinar matahari. Menurut Dadeng, keterbatasan ruang publik di Kampung Apandi pun membuat warga Kampung Apandi menurun kualitas hidupnya. Dadeng memberi contoh bahwa ibu-ibu kini kesulitan untuk menghangatkan bayinya. Selain itu juga anak-anak tidak memiliki ruang bermain. Hanya ada satu lapangan kecil di Kampung Apandi yang menjadi ruang publik untuk beragam aktivitas. Itu pun harus berbagi ruang dengan parkir motor para penghuni.
Salah satu dampak dari pemukiman yang padat seperti Kampung Apandi adalah permasalahan lingkungan. Sampah dan banjir menjadi pesoalan yang cukup serius, mengingat sebagian lahan kampung bersisian dengan Sungai Cikapundung. Banjir kerap kali terjadi jika air sungai meluap di musim hujan. Menurut Imam, banjir yang paling besar melanda Kampung Apandi terjadi pada tahun 1983, namun banjir tersebut tidak sampai mengenai rumahnya yang terletak di lahan yang lebih tinggi dari rumah-rumah lain. Begitu pula dengan rumah Alfin yang menurutnya tidak pernah terkena banjir, walaupun rumah-rumah lain di sekitarnya relatif selalu terkena luapan air. Banjir terjadi jika arus Sungai