• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIOGRAFI ORANG BRAGA

Boks 2.2 Sulit Air Bersih : Sulit Air Bersih :

3.2 Warga di Jalanan Braga

3.3.1 Pegiat Kemasyarakatan

3.3.1.1 Perangkat Administrasi Warga

Imam adalah Ketua RW 08 yang telah tinggal di Kampung Apandi sejak tahun 1968. Orangtua Imam berasal dari Tasikmalaya namun Imam dilahirkan di sebuah rumah sakit Belanda di jalan Cicendo yang kini beralih fungsi menjadi sekolah luar biasa. Imam tinggal di Tasikmalaya sampai Sekolah Menengah Pertama, kemudian Imam melanjutkan SMA di Kota Bandung dengan ikut tinggal bersama kakak dari Ayahnya. Imam menikah pada tahun 1971 dan memiliki dua orang anak. Salah satu anaknya kini tinggal di Pelabuhan Ratu, Sukabumi karena bekerja di Kehutanan, sedangkan anaknya yang lain tinggal di Cimahi.

Sebelum menjadi Ketua RW, Imam sudah aktif dalam berbagai kegiatan RW, mulai dari Karang Taruna, menjabat sekretaris RW, sampai menjadi Ketua RW yang sudah dijabatnya selama dua periode. Keinginan Imam sebagai Ketua RW sempat tidak disetujui oleh istri Imam tetapi hampir 70 persen warga mendukung Imam untuk menjadi Ketua RW. Imam juga aktif dalam organisasi

154 olahraga Tinju. Imam tergabung dalam kepengurusan olahraga Tinju yang kebetulan terletak di Jalan Braga, yaitu perkumpulan latihan tinju Sasana Braga. Nama Imam masih tercatat sebagai pengurus KONI Kota Bandung.

Imam sempat kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, tahun 1966 bersama Soegeng Sarjadi15, rekan sesama aktivis. Sejak jaman Orde Baru, Imam bergabung dengan kegiatan aktivis mahasiwa, seperti anggota HMI16 dan menjadi pengurus media Harian KAMMI17 di Jakarta. Harian KAMMI dibredel pemerintah pada tahun 1974 karena peristiwa Malari. Aktif dalam pergerakan mahasiswa membuat Imam tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Markas HMI, tempat Imam berkegiatan, terletak di salah satu bangunan di Jalan Braga yaitu toko elektronik Duta Nada sekarang. Pergerakan dan aksi mahasiswa Bandung di Jalan Braga juga sempat tercatat di dalam buku harian Soe Hok Gie pada bulan Januari 1966.

―..baru aku tukar pakaian dan mau makan datang tamu lagi. Aku sudah dongkol. ‗Tamu mana lagi yang datang malam buta ini?‘. Ternyata dia adalah Rahman Tolleng, kawan karib dari Bandung. Aku ajak dia makan dan tidur di rumah, tetapi dia tolak. Kita ngobrol-ngobrol suasana terakhir. Ternyata dia adalah wakil dari mahasiswa-mahasiswa Bandung yang datang untuk menemui Soeharto, Nasution dan juga menyampaikan petisi mahasiswa Bandung pada Bung Karno. Di Bandung juga terjadi demonstrasi-demonstrasi. Mereka menyerbu Braga dan coret-coret seperti mahasiswa Jakarta.‖ (dikutip dari Gie, 2005: 156).

Sejak aktivitas mahasiswa terhenti karena pertistiwa Malari, Imam kembali ke Kota Bandung dan membeli lahan di Kampung Apandi. Istrinya yang keturunan Garut, sudah sejak kecil mengawali Imam tinggal di Kampung Apandi.

15 Aktivis eksponen 66, pengusaha, serta pendiri lembaga riset Soegeng Sarjadi Syndicate dan Soegeng Sarjadi Government of School Pro-Democration.

16 Himpunan Mahasiswa Islam

17

155 Seperti yang dinyatakan Imam di atas, hampir tidak ada orang asli di Kampung Apandi, hampir seluruhnya adalah migran dari daerah-daerah di Priangan. Imam sendiri mengaku membeli tanah dari saudagar tanah dari Dalem Kaum yang memiliki banyak tanah di kawasan Braga, termasuk tanah yang dijadikan Hotel Gino Ferucci sekarang ini.

Sebagai perangkat di kemasyarakatan, Imam seringkali mendapat keluh kesah warga terkait program pembangunan di wilayahnya. Imam mengaku sulit mendefinisikan orang miskin seperti apa. Pemukiman padat seperti Apandi memang memperlihatkan suasana kekeluargaan yang lebih baik daripada kompleks perumahan, namun jika terkait dengan masalah bantuan atau penyaluran dana pemerintah, seperti bantuan langsung tunai. Imam lebih memilih untuk membagikan bantuan secara merata pada warga tinimbang dianggap pilih kasih.

―..apalagi kalau ada bantuan-bantuan gratis, sudah aja. Bagi aja lah semuanya, kan kalau sudah bagi semua mah kan enggak jadi rewel. Beas (beras,-terj) biar sekilo juga bagi aja, kan beban kalau enggak. Pengertian lain (berbeda) daerah komplek dengan daerah marjinal kayak gini.‖

Imam menerapkan keputusan berdasarkan musyawarah warga untuk pemberian bantuan, tetapi kemudian ada saja pihak yang merasa tidak dikategorikan penerima bantuan. Maka, salah satu cara Imam adalah mendata warga yang mau mendapat bantuan, serta membagikannya secara merata. Terkait persoalan sampah yang telah dibahas sebelumnya pun Imam mendapat tantangan, bahwa iuran 1000 rupiah untuk semua keperluan warga dirasa berat oleh sebagian warga.

156

―..padahal di sini berapa coba buat iuran, iuran 1000 (rupiah) per KK untuk sampah, untuk kematian, susah naiknya juga. Pengertiannya juga susah. Kalau di komplek kan sudah ada yang 10.000 buat sampah. Kalau di sini mah teu mayar oge teu ku nanaon ah piceun wae ka Cikapundung (kalau di sini tidak bayar juga tidak apa-apa, buang saja sampah ke Sungai Cikapundung, -terj).‖

Kampung pinggiran Braga adalah kampung yang kerap mendapat dampak pembangunan. Beberapa rencana program pembangunan dari pemerintah belum terlaksana karena permasalahan pembebasan tanah dan kesepakatan warga. Bagi perangkat administrasi warga, rencana pembangunan selalu ideal, tetapi pelaksanaan belum tentu se-ideal rancangan di atas kertas. Harapan perencana program dan harapan warga untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik bisa bertolakbelakang. Meskipun Kampung Apandi semakin semrawut serta terbatasnya ruang publik, warga kerap tidak merasa senang dengan proyek pembangunan serta kegiatan apapun di Jalan Braga. Dampak proyek pembangunan di Jalan Braga menyebabkan kualitas hidup warga menurun. Pemerintah kota dianggap tidak memperhatikan kebutuhan warga dengan ketidaktersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung lingkungan yang lebih baik di Kampung Apandi, seperti misalnya soal sampah dan penanganan Sungai Cikapundung.

Gotham (2001) mengulas sebuah penelitian tentang kota-kota pusat yang mengalami kerusakan, kemiskinan, dan krisis keuangan. Pada tahun 1960-an di kota-kota di Amerika terjadi kekacauan besar yaitu kerusuhan terus menerus, menyusul terjadinya pemindahan warga dan lingkungannya demi peremajaan kota, terutama pembersihan daerah kumuh, pembangunan gedung bertingkat serta rumah susun/apartemen. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul kesan baru yang memimpikan kota-kota pusat dengan investasi baru dan peremajaan

157 lingkungan pusat kota. Secara tradisional, para ahli telah menggambarkan gentrifikasi sebagai proses pembangunan tempat tinggal di area pusat kota yang melibatkan renovasi untuk masyarakat menengah ke atas dan pemindahan tempat tinggal kaum miskin. Neil Smith (dalam Gotham, 2001: 435) mengobservasi bahwa ―gentrifikasi adalah pergerakan kembali-ke-kota seluruhnya, tetapi pergerakan yang sifatnya modal, bukan masyarakat.‖

Pemerintah dan para ahli berpikir untuk membangun investasi di Kampung Apandi dengan pembangunan fisik seperti rumah susun, yang dianggap akan serasi dengan kesesuaian tata ruang di Jalan Braga. Pada akhirnya warga akan mendapat dampak pembangunan seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, yakni penggusuran. Bermukim di Kampung Apandi masih dipertahankan oleh sebagian orang walaupun selalu mendapat dampak dari penyelenggaraan kegiatan festival di Jalan Braga. Bagi warga Apandi, penyelenggaraan festival tersebut hanya menimbulkan kebisingan dan sampah. Warga seolah menjadi tamu, bukan menjadi tuan atas rumahnya sendiri. Nasser (2003) menjelaskan bahwa globalisasi telah membuat perubahan dari produksi ke konsumsi sehingga mempengaruhi lingkungan yang telah ada serta budaya lokalnya. Para ahli perkotaan telah memberi perhatian pada konflik pariwisata dalam budaya kehidupan. Menurut Herbert (dalam Nasser, 2003: 473), warga lokal dalam bahaya ketika menjadi bagian dari ―yang ditonton‖ dalam pariwisata. Konflik terbesar antara warga lokal dan pengunjung muncul dalam perbedaan budaya terhadap penggunaan ruang publik.