A. Gender
7. Bukti - bukti Ilmiah Androgenitas Manusia
a. Androgenitas Dalam Mite, Tradisi Dan Perdukunan
Menurut Jung (dalam Sebatu, 1994), Allah merupakan kesatuan dari unsur - unsur yang bertentangan. Allah menurutnya bersifat androgen, kesatuan antara unsur maskulin dan feminin. Allah itu berunsur hemaprodit sehingga tentunya manusia yang merupakan gambarannya memiliki unsur - unsur yang serupa. Seperti pada kitab Kejadian bab 2 dan bab 3 ayat 24 yang menjelaskan tentang
penciptaan Adam dan Hawa. Adam yang adalah asal dari semua manusia memiliki jenis kelamin pria dan wanita sekaligus, akan tetapi Allah mengambil tulang rusuknya dan menjadikan seorang wanita untuk menemaninya, yaitu Hawa. Walaupun interpretasi Jung ini masih diragukan akan tetapi ahli Jungian berpendapat bahwa ayat - ayat dalam kitab suci yang menceritakan kisah tersebut merupakan bukti kuat bahwa pada dasarnya manusia bersifat androgen seperti Allah sendiri. Selanjutnya banyak novel dan mite - mite zaman dulu yang menulis tentang androgenitas manusia. Seperti Plato dalam karangannya yang berjudul
Symposium. Buku itu menceritakan bahwa manusia yang bentuknya bundar, mempunyai empat lengan, empat kaki, satu leher dan dua muka. Hampir semua anggota badan berkelipatan dua kali normal. Manusia itu memiliki kekuatan yang tiada taranya. Dia bahkan merupakan ancaman yang hebat bagi dewa Zeus, yang iri hati akan kekuatannya, memenggalnya menjadi dua bagian. Dengan demikian kekuatan manusia itu menjadi berkurang. Namun semenjak itu timbul kerinduan yang amat kuat pada manusia untuk menyatu. Keinginan untuk bersatu itu diwujudkan dalam kerinduan pria dan wanita terhadap satu sama lain. Mereka ingin bersatu seperti semula, bukan lagi dua tetapi satu. Sekarang ini hal itu bisa dicapai lewat perkawinan (Bennet, Sanford dan Lowe Brian dalam Sebatu, 1994). Pada abad kesembilan belas, sebuah novel yang terkenal berjudul Seraphita
karangan Balzac mengisahkan tentang androgenitas manusia. Seraphita mempunyai sifat androgen, sifatnya berbeda dari manusia yang lain. Kemisteriusan Seraphita terletak pada unsur atau kodrat keberadaannya. Seraphita begitu misterius sehingga pria dan wanita melihatnya secara berbeda. Minna
melihat Seraphita sebagai seorang pria yang gagah perkasa, dia amat mencintainya. Sebaliknya Wilfred justru melihat Seraphita sebagai seorang wanita yang cantik jelita dan amat mencintainya pula (Eliade dalam Sebatu, 1994).
Unsur - unsur androgenitas juga tampak pada praktek perdukunan dan ritus inisiasi. Mircea Eliade (dalam Sebatu, 1994) mengungkapkan bahwa dalam praktek perdukunan, seorang shaman atau dukun biasanya dibantu oleh seorang bidadari yang adalah pria atau wanita. Shaman wanita biasanya dibantu oleh pembantu pria sedangkan shaman pria sebaliknya dibantu oleh seorang wanita. Bahkan ada dukun yang menggunakan pakaian wanita atau memakai dada tiruan untuk menggambarkan adanya unsur feminin dalam dirinya. Roh pengawas
(tutelary spirit) amat dibutuhkan dalam karya perdukunan ini. Pada suku Kumandin di Asia Utara, saat inisiasi seorang calon dukun memperkenalkan calon roh pewali yang akan membantunya kelak. Roh pewali inilah yang mengajarkannya pratek perdukunan, membantunya dalam pengobatan, dan melayaninya sebagai istri atau suami. Orang Kumandin menyebut bidadari pembantu itu “istri Kayangan”. Hal tersebut juga berlaku pada praktek perdukunan dalam suku - suku di Indonesia. Sebagai contoh suku Manggarai di Flores Barat, bidadari pembantu tidak hanya berupa wanita cantik tetapi bisa berupa ular sawah, monyet atau arwah. Pada suku Aborigin di Australia misalnya ketika mengadakan penyunatan seorang anak pria , mereka memperkenalkan unsur feminin pada anak itu dengan memberikan simbol organ seks wanita atau diberikan pakaian wanita. Menurut kepercayaan mereka, anak pria tidak akan menjadi dewasa sebelum mengenal koeksistensi dari seks, yaitu sifatnya yang
androgen. Dia harus mengenal bahwa unsur pria dan wanita adalah dua bagian yang tidak terpisah dalam dirinya. Dia tidak lengkap tanpa keduanya menyatu.
Adanya androgenitas di alam raya ini dipercaya penuh oleh orang Cina. Cina kuno mengenal istilah Yin dan Yang. Dalam buku I Ching yang artinya buku tentang perubahan, orang - orang Cina percaya bahwa ada kesatuan antara manusia dengan kosmos sekitarnya, dan juga ada bentuk komplementer antara dua unsur yang berlawanan Yin dan Yang, unsur maskulin dan feminin. Yang
maksudnya semacam panji yang gemilang yang melambai - lambai pada matahari, sesuatu yang amat terang. Yang ditandai dengan langit, surga, cahaya kemilau, kreatif, bagian selatan dari gunung atau bagian utara dari sungai. Sementara Yin
adalah mendung atau cuaca berawan. Yin ditandai dengan bumi, kegelapan, kelembapan, sifat reseptif, bagian utara dari gunung atau bagian selatan dari sungai. Yang dianggap sebagai aspek maskulin dan Yin dianggap sebagai aspek feminin, kedua aspek tersebut ada pada setiap manusia dan merupakan unsur kosmis. Interaksi antara Yang dan Yin menentukan setiap peristiwa. Akan tetapi konsep orang Cina berbeda dengan konsep orang Barat tentang maskulin dan feminin. Pengertian Cina kuno bahwa Yang adalah kekuatan yang mengarahkan tindakan, sedangkan Yin menggambarkan tindakan itu sendiri, sesuatu yang aktif. Manusia bertanggung jawab atas setiap tindakan pada saat dan tempat. Yin dan
Yang menggambarkan perubahan yang teratur dalam alam semesta, dan juga pengalaman manusia (Sam Reifler, Jacobi, Sanford, Wilhem dalam Sebatu, 1994). Pada sejarah Indonesia di masa lampau kita mengenal simbol Lingga dan
melambangkan penis. Sedangkan Yoni adalah unsur wanita yang digambarkan dalam bentuk wadah, melambangkan vagina atau kelamin wanita. Cara meletakkan Lingga yaitu ditancapkan tegak lurus ke atas, sebaliknya Yoni
dipasang dengan posisi dari atas ke bawah. Lingga dan Yoni adalah merupakan unsur - unsur dalam agama Hindu. Sedangkan Orang Manggarai, Flores Barat menggambarkan unsur pria dan wanita dalam bentuk parang (kope) dan sarungnya. Parang menggambarkan unsur kreatif yang memberikan sesuatu, sedangkan sarung adalah unsur reseptif yang menerima dan menampung sesuatu. Pengantin pria selama pernikahan berlangsung akan dipanggil dengan sebutan “ kope ”. Pengantin wanita bukan dipanggil dengan sebutan “ bako ” (sarung parang) tapi “ kala ” atau daun sirih, karena secara alamiah daun sirih mempunyai bentuk yang mirip wadah atau vagina (Sebatu, 1994).
b. Androgenitas Menurut Analisis Biologis
Menurut Jung (Sebatu, 1994) adanya unsur androgenitas dalam diri manusia dapat dibuktikan secara biologis. Dalam biologi kita mengetahui bahwa setiap orang menerima sejumlah kromosom dari orang tuanya. Kromosom - kromosom itu ditemukan dalam sel tubuh. Setiap sel tubuh manusia memiliki 46 kromosom. Pada setiap konsepsi, manusia menerima 23 kromosom dari sperma ayah dan 23 kromosom dari sel telur ibu. Ke- 46 kromosom yang membentuk pasangan, yang terus berlipat ganda setiap kali sel memisahkan diri. Tiap kromosom terdiri dari sejumlah unit keturunan individu yang disebut gen. Gen adalah segmen yang terdiri dari DNA (deoxyribonucleic acid), yang merupakan pembawa informasi
genetik. Molekul DNA kelihatannya serupa dengan tangga terpilin. Semua molekul DNA mempunyai komposisi kimiawi yang sama, yaitu terdiri dari gula (deoxyribose), fosfat dan 4 basis: adenine, guanine, thymine dan cytosine ( A,G,T,C). Untaian dari molekul DNA yang terdiri dari fosfat dan gula, terpisah dari basis. Struktur kekayaan dari basis ini adalah sebagai berikut, A selalu berpasangan dengan T, sedangkan G berpasangan dengan C. Basis ini dapat membentuk suatu rangkaian yang pada gilirannya dapat menciptakan kode genetik.
Gen yang ada pada manusia selalu berbentuk pasangan. Tiap gen dalam pasangan itu mempunyai asal yang berbeda, satu dari kromosom sel mani dan satunya lagi dari kromosom sel telur. Setiap anak hanya menerima setengah dari gen masing - masing kedua orang tuanya. Jumlah gen dalam setiap kromosom berkisar antara seribu buah atau lebih. Karena gen berjumlah sedemikian banyaknya, kecil kemungkinan bahwa manusia mempunyai warisan yang sama kendati mereka bersaudara. Hanya ada kemungkinan sama kalau bayi yang lahir adalah kembar identik. Kembar identik maksudnya mereka berasal dari sebuah telur yang sama dan dibuahi oleh satu sperma. Mereka akan mempunyai gen yang tepat sama (Atkinson dalam Sebatu, 1994). Gen mempunyai sifat dominan dan resesif. Gen yang dominanlah yang menentukan watak seseorang. Kalau kedua gen bersifat dominan, watak seseorang ditentukan oleh campuran kedua gen yang dominan itu. Sedangkan kalau satu gen dominan dan lainnya resesif, gen yang dominanlah yang menentukan watak. Kalau kedua gen resesif maka bentuk watak seseorang juga resesif. Pasangan kromosom pria dan wanita sama untuk kedua
puluh dua pasangan, namun berbeda untuk pasangan yang ke- 23 disebut pasangan jenis kelamin. Pasangan ke- 23 bersimbol XX bagi wanita yang normal dan XY untuk pria normal (Mc Connel dalam Sebatu, 1994).
Jika sel tubuh berkembang, sel baru mempunyai jumlah kromosom yang sama yaitu 46, seperti sel induk, yang berasal dari sel telur dan sel mani yang masing - masing mempunyai 23 kromosom. Tiap sel telur mempunyai kromosom X, sedangkan setiap sel mani yang mempunyai kromosom X dan Y. Kalau kromosom X dari sperma yang kemungkinannya satu dari 300 triliun pertama - tama masuk ke dalam sel telur, sel telur yang dibuahi mempunyai kromosom XX, dan akan melahirkan anak perempuan. Sedangkan kalau yang terlebih dahulu menyatu dengan sel telur adalah kromosom Y maka akan muncul kombinasi kromosom XY, yang akan membentuk anak laki - laki. Begitu sel mani dan sel telur bersatu, janin yang akan terbentuk tak akan lagi berubah jenis kelaminnya. Dengan demikian anak perempuan mempunyai satu kromosom X dari ibu dan satu kromosom X dari ayah, sedangkan anak laki – laki mempunyai satu kromosom X dari ibu dan satu kromosom Y dari ayah. Semua manusia mempunyai separoh dirinya dari ayah dan separohnya dari ibu (Hurlock dalam Sebatu, 1994). Karena beberapa hal tersebut maka Jung menyimpulkan bahwa manusia mempunyai sekaligus unsur feminin yang berasal dari ibu dan unsur maskulin yang berasal dari ayah dalam dirinya. Jadi secara genetik semua manusia berunsur androgenitas, mempunyai aspek pria dan wanita sekaligus (Sebatu, 1994).
c. Androgenitas Menurut Analisis Psikologi Jung
Anima dan animus adalah kata yang digunakan Jung untuk androgenitas dalam diri manusia. Pada tingkat psikologis, sifat - sifat maskulin dan feminin ada pada kedua jenis kelamin. Jung mengaitkan sisi feminin pada kepribadian pria dan sisi maskulin pada wanita dengan arkhetipe - arkhetipe. Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran (ide) universal yang mengandung unsur emosi yang besar, yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Arkhetipe feminin pada pria disebut anima
dan arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus. Arkhetipe - arkhetipe ini kendati bisa ditentukan oleh kromosom - kromosom dan kelenjar - kelenjar seks adalah merupakan produk dari pengalaman - pengalaman ras pria dan wanita. Dengan kata lain karena hidup bersama - sama wanita selama berabad - abad, pria telah menjadi feminin dan karena hidup bersama pria, wanita menjadi maskulin. Arkhetipe - arkhetipe ini tidak hanya menyebabkan masing - masing menunjukkan ciri - ciri lawan jenisnya tetapi juga berperan sebagai gambaran kolektif yang memotivasikan pria dan wanita untuk tertarik dan memahami anggota lawan jenisnya (Sebatu,1994, Hall & Lindzey, 1993).
B. Mahasiswa
1. Pengertian Mahasiswa
Definisi mahasiswa adalah orang yang terdaftar secara resmi dan aktif menjalankan studinya di perguruan tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988). Menurut ahli sosiologi, Kenneth Keningston (dalam Santrock, 2003) mahasiswa masuk dalam golongan pemuda karena mahasiswa mengalami transisi antara masa remaja ke dewasa, dimana biasanya masih terjadi perpanjangan masa ketergantungan ekonomi dan pribadi. Masa transisi tersebut sering berlangsung selama 2 hingga 8 tahun. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah golongan pemuda (18 sampai 30 tahun) yang terdaftar secara resmi di sebuah perguruan tinggi, serta aktif dalam menjalankan studinya di perguruan tinggi yang bersangkutan.