SURAT KUASA
F. PEMERIKSAAN DI DEPAN PENGADILAN 1. Penentuan sidang dan pemanggilan43
1) Alat Bukti Surat/ Tulisan
Alat bukti surat atau tulisan diatur dalam Pasal 138, Pasal 165 dan Pasal 167 HIR/Pasal 164, Pasal 285 dan Pasal 305 RBg/Stb. 1867 Nomor 29 dan Pasal 1867 sampai dengan Pasal 1894 BW.50
49 Abdul Manan, Penerapan hukum acara perdata... hlm. 227
Surat/tulisan adalah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan dengan maksud mencurahkan isi hati atau guna menyampaikan buah pikiran seseorang dan dipakai sebagai pembuktian.51 Surat sebagai alat bukti tertulis dapat dibedakan dalam akta dan surat bukan akta. Akta dapat dibedakan menjadi akta otentik dan akta dibawah tangan.
Dalam hukum pembuktian, bukti tulisan atau surat merupakan alat bukti yang diutamakan jika dibandingkan dengan alat bukti yang lain.52
a. Akta
Akta adalah suatu tulisan yang dibuat dengan sengaja untuk dijadikan bukti tentang sesuatu peristiwa dan ditandatangani oleh pembuatnya. Dengan demikian, unsur-unsur yang penting untuk digolongkan dalam pengertian akta adalah kesengajaan untuk membuatnya sebagai suatu bukti tulisan tersebut. Yang dimaksud dengan penandatangan ialah membubuhkan nama si penanda tangan, sehingga membubuhkan paraf (singkatan tanda tangan) dianggap belum cukup. Nama itu harus ditulis tangan oleh si penanda tangan sendiri atas kehendaknya sendiri.53
Akta dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: a) Akta Otentik
Akta otentik termuat dalam Pasal 165 HIR/ 285 RBg. Yang disebut akta otentik adalah akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwewenang membuatnya dan merupakan bukti sempurna bagi kedua pihak dan ahli warisnya dan sekaligus orang yang mendapat hak daripadanya, juga tentang pokok soal yang tercantum di dalamnya serta apa yang tercantum pada akta itu sebagai pemberitahuan.
Pejabat yang berwenang membuat akta otentik adalah notaris, pegawai pencatatan sipil, panitera, camat, dan sebagainya. Pada umumnya akta otentik yang dibuat oleh pejabat umum, berkekuatan sebagai keterangan resmi (akta resmi) ialah apa-apa yang dialami oleh pejabat sendiri, misalnya pihak-pihak yang menghadap kepadanya mengucapkan kata-kata yang kemudian ditulis oleh pejabat tersebut. Ini termasuk Akta Relas misalnya berita acara sidang.
51 Soeparmono, Hukum Acara Perdata, dan Yurisprudensi (Bandung: Mandar Baru, 2005) hlm. 119 52 Abdul Manan, Penerapan hukum acara perdata... hlm. 240
Keterangan resmi ini dianggap benar dan berlaku terhadap semua orang. Sedang kekuatan mengikatnya yaitu terhadap para pihak, ahli warisnya, dan pendapat hak.
Kekuatan Pembuktian Akta Otentik54
- Kekuatan pembuktian formil. Di sini membuktikan bahwa pihak-pihak telah menerangkan apa yang termuat dalam akta tersebut, tanpa menghiraukan kebenaran isinya akta itu.
- Kekuatan pembuktian meteriil. Di sini membuktikan bahwa antar pihak-pihak benar bahwa hal atau peristiwa dalam akta tersebut benar-benar terjadi menurut isinya.
- Kekuatan pembuktian mengikat. Di sini membuktikan antara pihak-pihak dan pihak ke tiga, bahwa pada tanggal tersebut dalam akta telah benar dan menerangkan apa yang tertulis di dalam akta tersebut. Oleh karena itu akta otentik mempunyai kekuatan bukti terhadap pihak ke tiga (pihak luar)55
Sebuah akta otentik haruslah memenuhi unsur-unsur:
1. Dibuat oleh atau dihadapan penjabat resmi atau berwenang 2. Sengaja dibuat akta tersebut untuk surat bukti
3. Bersifat partai
4. Atas permintaan partai
5. Mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna dan meningkat.56 b) Akta di Bawah Tangan
Akta dibawah tangan adalah suatu akta yang ditanda tangani dan dibuat dengan maksud dijadikan bukti suatu perbuatan hukum tanpa bantuan seorang pejabat.
Apabila suatu akta di bawah tangan, isi dan tandatangan akta itu telah diakui oleh yang membuatnya, maka akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian seperti halnya pada akta otentik, yaitu mempunyai kekuatan bukti sempurna. Hal itu mempunyai kekuatan bukti terhadap pembuat akta, ahli warisnya, dan pendapat haknya.
Apabila tandatangan dalam akta disangkal (dibantah) oleh pihak yang menandatangani, maka pihak yang mengajukan akta tersebut harus berusaha membuktikan dan Hakim harus memeriksa kebenaran tanda tangan tersebut. Akta di bawah tangan tidak mempunyai kekuatan pembuktian kepada pihak ketiga.
Kekuatan bukti akta di bawah tangan:
54 Soeparmono, Hukum Acara Perdata, dan Yurisprudensi... hlm 121 55 Ibid,. hlm. 121
- memenuhi perumusan dalam undang-undang seyogyanya dalam pertimbangan yang terlepas dari dalam kasasi yang diajukan ditambahkan, bahwa hal itu dilakukan berdasarkan alasan kasasi mahkamah agung sendiri.
- Nampak kwitansi dianggap sebagai akta di bawah tangan yang bersifat sepihak dan kewajiban untuk melunaskan hutangnya (pasal 291 ayat (1) RBg).
b. Surat/tulisan Bukan Akta
Surat-surat non-akta sebagaimana yang diatur dalam pasal 294 ayat (2) RBg dan pasal 1881 ayat (2) KUHPerdata, bentuknya dapat berupa surat biasa/koresponden, catatan harian, dan sebagainya. Surat-surat tersebut tidak sengaja dibuat sebagai surat bukti atau tidak sengaja dibuat untuk alat bukti. Nilai kekuatan pembuktiannya tergantung pada penilaian hakim. Jika isinya mengandung fakta maka dapat dipergunakan sebagai bukti permulaan atau sebagai surat keterangan yang memerlukan dukungan alat bukti lain.57
Ada beberapa tulisan bukan akta yang oleh undang-undang ditetapkan sebagai alat bukti yang mengikat, artinya harus dipercaya oleh hakim, yang disebut dalam Pasal 1881 ayat (1) sub 1 dan sub 2 serta Pasal 1883 BW, yaitu:58
a. Surat-surat yang dengan tegas menyebut tentang suatu pembayaran yang telah diterima. b. Surat-surat yang dengan tegas menyebutkan bahwa catatan yang telah dibuat adalah untuk
memperbaiki suatu kekurangan di dalam sesuatu alas hak (titel) bagi seorang untuk keuntungan siapa surat itu menyebutkan suatu perikatan.
c. Catatan yang dicantumkan oleh seorang kreditur pada suatu alas hak yang selamanya dipegangnya jika apa yang ditulis itu merupakan suatu pembebasan terhadap debitur.
d. Catatan-catatan yang dicantumkan kreditur pada salinan suatu alas hak atau tanda pembayaran, asal saja salinan atau tanda pembayaran ini berada dalam tangan debitur. 2) Alat Bukti Saksi
Alat bukti saksi diatur dalam Pasal 139-152 HIR/168-172 RBg, dan Pasal 1902 sampai 1908 BW. Keterangan saksi adalah kesaksian tentang hal-hal atau peristiwa dan kejadian yang dialami sendiri, yaitu apa-apa yang dialami, dilihat dan didengar sendiri perihal kepastian yang
57 Ibid,. hlm. 243
diberiakan dipersidangan. Keterangan saksi harus lisan dan pribadi didepan sidang, bukan yang diperoleh secara pikiran atau dugaan atau yang didengar dari pihak ketiga atau orang lain.
Tiap kesaksian harus disebutkan sebab-sebab ia mengetahui itu, jadi tidak cukup keterangan bahwa ia telah tahu, sebab kalau hanya demikian bukan kesaksiaan dan tidak mempunyai nilai bukti dan tidak mempunyai kekuatan bukti sempurna.
Orang-orang yang tidak dapat didengar sebagai saksi:
- Tidak mampu absolut (mutlak) yaitu keluarga sedarah atau perkawinan dalam keturunan lurus salah satu pihak dan suami/istri salah satu pihak, meskipun bercerai.
- Tidak mampu relatif (nisbi) yaitu anak belum berumur 15 tahun dan orang gila, meskipun kadang-kadang ingatannya sehat.
Kewajiban saksi adalah:
1. Saksi wajib datang dipersidangan : Pasal 139-141 HIR/165-167 RBg 2. Saksi wajib untuk bersumpah atau janji: Pasal 147 HIR/175 RBg
3. Saksi wajib memberikan kesaksian secara benar: Pasar 150 HIR/178RBg.
Menurut rangkaian Pasal 140, Pasal 141, dan Pasal 148 HIR/Pasal 166, Pasal 167, dan Pasal 176 RBg, seseorang yang bukan karena sesuatu alasan yang sah tidak dapat memenuhi panggilan menjadi saksi dapat dikenakan sanksi-sanksi sebagai berikut:
a. Dihukum untuk membayar biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memanggilnya menjadi saksi.
b. Secara paksa dibawa menghadap pengadilan, kalau perlu dengan bantuan Polri. c. Dimasukkan dalam penyanderaan.59
Tujuan undang-undang mengharuskan saksi untuk bersumpah atau berjanji sebelum memberikan keterangannya adalah agar saksi tersebut betul-betul memberikan keterangan yang sebenarnya. Meskipun demikian, belum tentu sumpahnya tersebut merupakan jaminan sepenuhnya bahwa semua keterangan saksi benar dan dapat dipercaya. Oleh karenanya, dalam mempertimbangkan nilai kesaksian, Pasal 172 HIR/Pasal 309 RBg menentukan, agar hakim memperhatiakan benar-benar kecocokan keterangan saksi yang satu dengan saksi yang lain.
Pemeriksaan saksi harus dilakukan seorang demi seorang, tidak boleh dilakukan pemeriksaan terhadap 2 orang saksi sekaligus atau lebih secara bersama-sama (Pasal 144 ayat 59 Ibid,. hlm. 101
(1) HIR/Pasal 171 ayat(1) RBg). Maksudnya tidak lain adalah agar saksi-saksi tersebut tidak menyesuaikan keterangan mereka satu sama lain.60