• Tidak ada hasil yang ditemukan

bulan di Semarang, terus pulang lagi ke Brebes ya mbak?

Dalam dokumen DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA PENDERITA KUSTA (Halaman 175-181)

Baris Verbatim Koding awal Analisis

setelah 6 bulan di Semarang, terus pulang lagi ke Brebes ya mbak?

Iya suster, waktu itu dokter bilang sama saya sudah boleh pulang, jadinya saya ya kembali ke Brebes. Malah saya itu takut mau kembali ke rumah, kakak saya yo nerima saya pa nda?. Nambah lagi beban buar mereka. Ibaranya saya itu disini uda ngurangi beban utuk keluarga, ee, terus balik lagi, hemm, dilema sus.

iya, heem.

Iya suster, nda siap, ya nda siap pulang ke Brebes

Waktu sampe di rumah, respon dari keluarga bagaimana?

Kalo ibu saya itu masih bisa nerima suster, masih bisalah, beda sama kaka saya.

Kalau kakanya mbak bagaimana?

kaka saya, dia itu nda mau, nda pernah dukung saya. lha saya itu nyampe, kok tangan kamu masih kaya gini nda berubah, saya ya bilang, kalo tangan sudah cacat nda mungkin lagi normal, kadang dia itu nda mau ngomong sama saya. Hari-harinya itu ya diem aja gituloh suster, kadang pergi, nda mau pulang, nda mau pulang ke rumah.

- TA merasa bahwa ia kurang mendapat dukunga dari keluarga.

- TA menyatakan bahwa ia merasa sedih karena tidak mendapat perhatian dari keluarga.

- Mendapat anjuran dari dokter untuk kembali ke rumah.

- TA menyatakan bahwa ia merasa takut kembali ke keluarga karena pengalaman penolakan yang pernah dialaminya.

- Ibu menerima kehadiran TA.

- TA merasa bahwa kakaknya kurang memeberi dukungan kepadanya. Kakak lebih sering diam dan tidak mau

- Kurang mendapat dukungan dari keluarga. - Perasaan sedih karena tidak dikunjungi keluarga. - Kondisi membaik, TA dianjurkan untuk kembali ke rumah. - Trauma penolakan membuat TA merasa taktu untuk kembali ke Rumah. ( kondisi psikologis, social isolation ) - Dukungan emosional dari keluarga. - Merasa dikucilkan dan tidak diterima oleh saudara. (kondisi psikologis,

124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. Tiga bulan.

Apa yang mbak rasakan ketika kembali bersama keluarga?

Saya itu kembali ke rumah malah susah, sedih malah di rumah itu, yo pie ? kaka saya ya nda mau nerima saya, jadinya saya itu susah, ya sedih. Kalo inget lagi itu sedih suster., yo udalah wes lewat.

Oh ya?. Tidak terimannya bagaimana?

Lha saya itu mau nimba air untuk mandi aja nda boleh, nda boleh bener sama kaka saya, takutnya itu nular, jadi hari-harinya itu saya yo sedih ya nangis. Mau nemeni ibu saya ikut arisan yo nda boleh. Katanya itu malu kalau dilihat orang. Saya itu di rumah malah susah kok suster. Berarti kakak tetap tidak memberi dukungan ya mbak?

Iya suster, nda bisa diharep

Heem, istilahnya itu mikir yo mikir sendiri, nyari inpormasi sana-sini ya saya itu sendirian suster, usaha sendirilah untuk bisa sembuh. Malahannya yang bantu saya itu mantan sakit kusta juga, sampe saya ke Sani, dia yang nolong saya. Di rumah sendiri, saya itu ngerasa kaya orang asing, ya sedih, rasanya itu beda, beda sama saya di Semarang.

Heem, nah terus ceritanya mbak bisa sampe di sani itu gimana mbak?

Eh, waktu itu saya di Semarang, terus ada orang dari Sani,

- TA merasa bahwa

kehadirannya di rumah tidak diterima oleh kaka.

- TA menyatakan bahwa kakaknya melarangnya menimbah air untuk mandi karena takut menularkan penyakit. TA merasa sedih dan menangis.

- TA, menyatakan bahwa ia sering berusaha sendiri mencari informasi untuk penyembuhan sakitnya, karena sikap keluarga yang sangat pasif.

- Ta menyatakan bahwa orang yang bisa memahami dan membantu nya adalah bukan keluarga tetapi seorang mantan penderita Kusta.

- Betemu dengan seorang

- Merasa ditolak oleh keluarga ( kondisi psikologis, Handicap ) - Dilarang beraktifitas karena takut menularkan penyakit. (kondisi Psikologis, Handicap) - Kurang perhatian dari keluarga mendorong TA, aktif mencari informasih tentang sakit yang dideritanya. - Mendapat bantuan dari mantan penderita kusta. ( dukungan informasional dari Significant others )

156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185.

opnam. Terus saya dibilangin, bagaimana kalau kamu ikut saya ke Sani, saya nanya, Sani itu di mana to mbak? Katanya mbak itu Sani itu ya tempat kita-kita ini, di sana itu ada suster sama bruder, kalo kamu mau, kita bisa ke sana. Tapi saya ta bilang dulu ya, sama keluarga saya, mbak itu bilang sama saya, tapi jangan kelamaan. Di Semarang khan saya pernah pulang ke rumah suster. terus saya itu di rumah itu 3 bulan terus saya disurati sama mbak Safati suruh saya ke sani, ya uda. Saya yo manut. Ada yang hantar ke Sani Mbak.

Nda, saya waktu itu dijemput sama mbak Safati. Sekitar tahun berapa ya mbak?

Tahun 99 itu saya uda dateng suster, waktu itu yo saya masih gadis, alhamdulilah dapet jodohnya di Sani. Itu bapanya Lia itu juga sakit kok suster sama, sama seperti saya. Duluan bapanya Lia, sama saya kace satu tahun. Bapa uda ninggal suster, belum ada setahun ninggalnya. Bearti sampai sekarang sudah 15 tahun mbak di Sani ya? iya suster.

Nah selama 15 tahun, apakah keluarga di Brebes pernah datang mengunjungi mbak?

Jarang suster, jarang, bisa dihitung kok, jarang. Saya itu di sini sampe ibu saya ninggal yo saya nda tau, kaka saya itu yang di Jakarta ninggal saya nda tau, pakde saya ninggal yo saya nda tau, nda ada yang nyampein sama saya.

Ooo, heem, heem,

Jengkel suster, bener-bener saya itu kecewa. Kecewa sama keluarga saya.

Sampe sekarang apakah memang sikap keluarga

tingal di rumah rehabilitasi kusta di Sani kabupaten Pati.

- Komunikasi berlanjut, SF menyurati TA dan menyuruh untuk datang dan tinggal di Pati.

- TA, menyatakan bahwa selama tinggal di Sani kurang lebih 15 tahun, keluarga jarang mengunjungi dia. Bahkan keluarga tidak pernah

menginformasikan kepada TA, ketika ibu, dan beberapa dari keluarganya meninggal. - TA merasa jengkel dengan

sikap keluarga yang tidak mau

untuk tinggal di rumah rehabiliasi kusta Sani. ( dukungan informational dari significan others) - Dukungan informasional dari significant others yang lain.

- Tidak pernah ada komunikasi dengan keluarga. - Perasaan sedih karena kehilangan beberapa anggota keluarga. - Rasa kecewa terhadap keluarga.

188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217.

Terus bagaimana perasaan mbak dengan situasi keluarga yang tidak memberi suport sama mbak? Nek dituruti yo jengkel, kesel gituloh sama keluarga, tapi yo gimana? Udalah, nda apa-apa, sekarang uda ada Lia Sama Damar, hati saya dame suster. nda ada waktu, anda ada suster buat mikir diri sendiri, kaya sedih atau gimana, soalnya semuanya itu uda untuk anak, lupa malahan sama dulu-dulunya itu.

Ooo, iya-iya, berarati nda terlalu menjadi beban ya mbak?

Nda sus, saya uda seneng disini, malah lebih dari keluarga saya. Semua uda cukup, lebih malahan. Buder sama suster disini perhatian sama kita-kita ini.

Dalam berelasi dengan orang lain, bagaimana mbak? Maksudnya gimana suster?

Oh, maksudnya itu kalau bicara atau ketemu sama orang lain, sikap mbak bagaimana?

Yo tergantung, nek misalnya di Sani aja, yo nda apa-apa, sama-sama temen, sama –sama sakit,kita-kita aja nda jadi soal. Nda minder gituloh. Mau ngomong sama mereka-mereka, ketemu sama suster, sama buder yo nda ada masalah, Cuma kalau keluar dari sini, misal itu jumpa sama orang di jalan ato orang dateng kunjung, rasa malu itu tetep, tetep ada. nda PD sus, kalau ketemu sama orang luar, tetep minder.

Heem, heem,

Kalau Sama buder disuruh belanja ke pasar, kadang yo saya suruh mbak Sri yang pergi. Mending saya itu masak aja di rumah , biar yang belanja, apa jualan kacang sama endok ke pasar ya bu Sri. Aku ta pilih masak wae sama bu

- TA mengatakan bahwa rasa kahadiran kedua anaknya menjadi pengalihan rasa kecewa dan jengkel terhadap keluarga. TA lebih fokus memikirkan kedua anaknya dari pada dirinya sendiri. - TA mengatakan bahwa ia merasa senang tinggal di rumah rehabilitasi karena perhatian yang didapatkan di rumah rehabilitasi melebihi perhatian dari keluarga. - TA mengakui bahwa ia merasa

lebuh ferr dan percaya diri ketika bertemu dengan sesama teman di Sani. Akan tetapi ia tetap merasa minder bial bertemu dengan orang lain diluar komunitas Sani.

- Merasa tidak nyaman bertemu dengn orang lain, TA memilih untuk memasak dari pada

- Kehadiran anak, pengalihan rasa jengkel terhadap keluarga. - Merasa nyaman tinggal di rumah rehabilitasi, karena ada perhatian untuk TA.

- Merasa minder saat bertemu dnegan orang lain di luar komunitas. ( social isolation)

- Berusaha

220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246.

orang-orang di luar Sani. Heem, Iya sus.

Nah sekarang mbak sudah sehat, sudah ada anak, terus apakah mbak sendiri ada rencana untuk pulang ke Brebes?

Nda ada suster, nda mau, saya nda mikir untuk kembali ke Brebes, di sana nda ada siapa-siapa. Nanti siapa yang ngurus Lia sama Damar.

Saya itu gantungkan Lia sama Damar itu sama Suster sama Bruder di sini. Kalo kami pulang ke Brebes, nanti anak saya nda sekolah. Mamanya uda nda sekolah, jadi anaknya itu harus pinter

oh gitu ya mbak?

Iya suster, Saya di sini aja suster, di sini aja, saya kerja bantu bruder sama suster di sini. Kalo ada temen yang sakit ya saya bantu nolong mereka, saya disini aja. saya masak untuk teman-temen, untuk kami semua di Sani. Anak-anak saya disini, diperhatiin sama suster, sama bruder, saya uda matur sama buder juga, saya bantu di Sani ya Nyapu, ya masak, ya semampu saya lakuin di tempat ini, nolong teman-teman saya yang sakit

ya untuk masa depan anak-anak saya, saya nda mau mereka sakit.

- TA merasa bahwa tidak ada keluarga yang bisa

memperhatikan mereka, untuk itu Ta tidak mau kembali ke Brebes.

- TA menginginkan agar anak-anaknya tetap sekolah dan memiliki masa depan yang baik.

- Ta menyatakan niatnya untuk tetap tinggal dan bekerja di rumah rehabilitasi. Ia mau bekerja dan membantu teman-teman yang sakit.

- Ta berusaha agar

anak-anaknya tidak menderita sakit seperti dirinya.

- Trauma penolakan membuat Ta

memilih untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi.

- Harapan untuk masa depan anak-anak.

- Memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di rumah

rehabilitasi.

- Prioritas berjuang untuk anak.

Dalam dokumen DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA PENDERITA KUSTA (Halaman 175-181)