Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas
panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?
Citra gerak yang terdapat pada bait sebelas di atas dipilih penyair untuk lebih menghidupkan puisi, sehingga pembaca bisa merasakan sedikit gerakan pada dirinya ketika membaca puisi.
4.2.4 Bunyi pada Puisi Sebab Aku Terdiam Karya OR. Mandak Bait 1
Sekali aku jatuh terpekur
Datang tersandar membentak diri:
“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!
Nanti kusebut segala peri…”
Bunyi pada puisi Sebab Aku Terdiam karya OR. Mandak yang paling ditonjolkan oleh penyair adalah bunyi /r/seperti kata terpekur,tersandar,diri,mashyur, peri. Sebagaimana yang terlihat pada bait pertama, bunyi /r/ dalam bait tersebut menandakan rasa berat, kata-kata seruan yang ada pada bait tersebut menandakan adanya perasaan gundah.
Bait 2
Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung
…‟ akibat caraku selama ini!
Pada bait 2 ini bunyi yang ditonjolkan penyair adalah bunyi /g/ dan /r/ seperti pada kata gunung, kupandang, bingung, serasa, kemari, mereka, caraku. Bunyi /g/
dan /r/ mempunyai nada yang berat yang dapat mengartikan pula bahwa si aku membuat orang-orang disekitarnya bingung dengan ulahnya sendiri.
Bait 3
Orang yang mabuk oleh dongengku:
Lesu-lesu tenaga hilang…
„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu
Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.
Bunyi pada bait 3 yang menonjol adalah bunyi /g/ dan /s/ seperti pada kata dongengku, tenaga, hilang, dipusing-pusingkan, lancing, lesu-lesu, pasti. Bunyi /g/
dan /s/ pada bait tersebut menandakan adanya rasa bersalah pada diri sendiri.
Bait 4
Aku dongengkan yang jauh-jauh Yang ta‟ dapat dilihat mata Yang tidak-tidak dapat disentuh Yang Cuma ada dibibir saja
Pada bait 4 ini bunyi /g/ yang dan /h/ yang menonjol seperti pada kata dongengkan, kata yang hingga tiga kali diulang, jauh-jauh, dilihat, disentuh. Bunyi /g/ dan /h/ yang menonjol pada bait ini menandakan adanya hal yang dipentingkan oleh penyair yang menggambarkan adanya nasehat yang selalu diberikan kepada orang lain akan tetapi pada dirinya sendiri tidak dilakukan nasehat itu.
Bait 5
Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari
Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri
Bunyi yang mendominasi bait di atas adalah bunyi /g/, /m/, dan /r/ seperti pada kata sedang, tengah, terngangah, banggalah, mereka, melihat, mendengar, menari, bicara, merasa, diri. Bunyi /g/, /m/, /r/ dalam bait ini memperlihatkan adanya sedikit kegirangan. Si Aku menggambarkan bahwa ia merasa bangga karena banyak orang yang mendengarkan semua yang diucapkan karena kepintarannya dalam mempengaruhi lawan bicara.
Bait 6
Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…
Pada bait enam tersebut bunyi /p/ yang paling ditonjolkan oleh penyair seperti pada kata berjumpa, papa-papa, bapa, rupa. Bunyi /a/ juga sangat dominan seperti yang terlihat pada bait tersebut. Bunyi tersebut menggambarkan bahwa cukup banyak orang yang menderita di sepanjang jalan yang dilewati.
Bait 7
Kepada mereka yang sakit lapar Aku berkata: “hendaklah sabar…
Mereka mengeluh: “kami lapar…
Kuberi petuah:”wajib sabar!”…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti pada kata kepada, mereka, sakit, lapar, aku, berkata, hendaklah sabar, kuberi, petuah.
Bunyi /a/ dan /r/ yang dominan tersebut memberi adanya maksud bahwa si aku tidak mau menolong mereka yang kelaparan, akan tetapi hanya memberi nasehat kepada mereka agar lebih bersabar dalam menjalani hidup ini.
Bait 8
Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara
Menyebabkan patah tumpul kalam…
Bunyi yang dominan pada bait ini adalah bunyi /a/ dan /l/. Bunyi /l/ yang mengandung rasa berat tersebut dapat diartikan sebagai kegundahan yang ingin dilukiskan oleh penyair. Bait delapan tersebut menggambarkan adanya si aku yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat kaumnya menderita.
Bait 9
Jauh-jauh aku berseru Begini-begitu kusebut dalil Ahli kerabat dekat mataku Kulihatkan saja: sengsara, jahil
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/, /i/, /u/ seperti pada kata jauh-jauh, aku, berseru, begini, begitu, kusebut, dalil, ahli, kerabat, dekat, mataku, kulihatkan, saja, sengsara, jahil. Bunyi yang oleh penyair mengandung nilai ekspresif, penyair menggambarkan tentang si aku yang mungkin adalah seorang ulama yang selalu berseru, mengatakan ini wajib ini haram, sedangkan dirinya sendiri tidak perduli dengan tetangganya yang hidup sengsara.
Bait 10
Kepada mereka yang hampir pingsan Aku berteriak: “mari berkorban!”
Mereka berkata: kami ta‟ makan…”
Muka segera aku palingkan
Bunyi yang dominan pada bait tersebut di atas adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti yang tampak pada kata kepada, mereka, yang, hampir, pingsan, aku, berteriak, mari, berkorban, berkata, kami, ta‟ makan, muka, segera, palingkan. Dalam hal ini penyair jelas menggambarkan seorang ulama yang hanya pintar menyerukan dalil akan tetapi tidak melakukan seperti apa yang diperintahkan kepada semua orang yang ditemui.
Kemudian bait sebelas yang bunyinya sama persis dengan bait delapan berarti mempunyai maksud dan tujuan yang sama oleh penyair.
Bait 12
Kepada mereka yang sedang payah Selalu kuberi nasehat pula:
“hendaknya kamu kuat bersedekah Dengan hati yang suci rela!...
Bunyi yang dominan pada bait tersebut di atas adalah bunyi /a/, /u/ dan /r/.
Bunyi dalam setiap kata tersebut memberi arti sebuah penegasan yang dimaksudkan oleh penyair. Penegasan yang dimaksud adalah penegasan yang oleh si aku tersebut wajib dilakukan misalnya bersedekah dengan ikhlas.
Bait 13
Tiada lama sesudah itu Ke mukaku lalu yatim piatu Pucat kurus tidak berbaju…
Aku berpaling pepura ta‟ tahu…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/, /u/, dan /r/ seperti yang tampak pada kata tiada, lama, sesudah, itu, mukaku, lalu, yatim, piatu, pucat, kurus, tidak, berbaju, berpaling, pepura, ta‟ tahu. Bait di atas menggambarkan adanya si aku yang tidak perduli dengan seorang yatim piatu sekalipun padahal si aku tersebut selalu menyerukan dalil yang ternyata si aku sendiri tidak mengerjakan.
Bait 15
Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh
Lemah, melarat, sengsara, papa…
Memohon-mohon sedang bersimpuh…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/, /u/, dan /r/ seperti pada kata jalan, pulang, aku, berjumpa, dengan, kirabat, sedang, lumpuh, lemah, melarat, sengsara, papa, bersimpuh. Bunyi pada bait tersebut bermakna adanya kesusahan, penderitaan, sebagaimana yang digambarkan pada bait di atas, dimana banyak orang yang menderita di sekitar si aku, akan tetapi si aku sedikitpun tidak perduli.
Bait 16
Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…
Tinggalah dia lagi tengadah
Sampai sekarang menunggu-nunggu…
Bunyi yang menonjol pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /u/ seperti yang tampak pada kata aku, berbuat, pepura, lengah, atau, serupa, terburu-buru, tinggalah, dia, lagi, tengadah, sampai, sekarang, menunggu-nunggu. Bunyi pada bait tersebut bermakna adanya kesengsaraan yang terjadi di sekitar si aku, sebagai seorang yang selalu memberikan dalil kepada semua orang maka wajarlah jika mereka orang hidup menderita meminta sedikit pertolongan akan tetapi sedikitpun tidak dihiraukan oleh si aku yang sebenarnya adalah seorang ulama tersebut.
Bait 18
Lagi suatu, wahai saudara,
Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara
Lantaran daku mereka sengsara…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti pada kata lagi, suatu, wahai, saudara, menyebabkan, dadaku, malu, bicara, kaumku, tidak terpelihara, lantaran, daku, mereka, sengsara. Bunyi yang mendominasi bait tersebut bermakna adanya perasaan gundah, keresahan yang ada dalam diri si aku yang hanya
tahu memberi fatwa akan tetapi tidak bisa mengasihani kaumnya yang dalam keadaan susah.
Bait 19
Katanya aku tempat berlindung Hujan dan panas „kan ganti tudung…
Begitu cerita bunda-kandung Sedari Putera lagi dibendung…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /g/ dan /u/ seperti yang tampak pada kata aku, berlindung, hujan, ganti, tudung, begitu, bunda, kandung, lagi, dibendung yang bermakna adanya perasaan gundah yang menaungi pikiran si aku yang menurutnya dia tidak pantas dianggap sebagai tempat untuk berlindung.
Bait 20
Kini Putera sudah dewasa Sedikit ta‟ ada membalas jasa Bagi se-Kaum, Bangsa dan Nusa Bagi keluarga jadi penyiksa…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /s/ seperti pada kata putera, sudah, dewasa, sedikit, ta‟ ada, membalas, jasa, bagi, se-kaum, bangsa, nusa, keluarga, penyiksa. Bunyi tersebut bermakna adanya perasaan bersalah dalam hati si aku yang menurutnya dia tidak berguna bagi bangsanya sendiri.
Bait 21
Betapa aku mendongeng jua Besar mulut banyak bicara Jika dilihat tidak bersua
Orang yang tahu menggeleng tertawa?
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti yang terlihat pada kata betapa, aku, jua, besar, banyak, bicara, jika, dilihat, tidak, bersua, orang, yang, tahu, tertawa dan bermakna adanya si aku yang semakin mempertanyakan dirinya sebagai seorang yang banyak menasehati banyak orang akan tetapi semua apa yang diucapkannya sama dengan sebuah dongeng karena ia pun tidak pernah melakukannya.
Bait 22
Mungkinkah aku bunda lahirkan Sahaya untuk mendongeng saja Dengan ta‟ wajib lagi amalkan Teladan cukup dibibir saja?
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /l/ seperti pada kata mungkinkah, aku, bunda, lahirkan, sahaya, saja, dengan, ta‟wajib, lagi, amalkan, teladan dan bermakna adanya keresahan hati si aku yang menyalahkan kelahiran dirinya yang hanya bisa selalu berfatwa akan tetapi tidak bisa melakukan apa yang difatwakan tersebut.
Bait 23
Betapa, saudara,
Mulutku ta‟ akan tertutup Jika aku tengah bicara…
Kudengar sayup-sayup Keluhan saudara saya
Menderita kesakitan hidup?…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /u/ seperti pada kata betapa, saudara, mulutku, ta‟ akan, tertutup, jika, aku, tengah, bicara, kudengar, sayup-sayup, keluhan, saudara, saya, menderita, kesakitan, hidup yang bermakna adanya kegundahan dalam hati si aku yang jika berbicara maka ia akan berbcara terus menerus padahal dia tidak menyadari bahwa ada yang mulai memprotes dirinya yang hanya bisa berkata tetapi tidak bisa melakukan apa yang dikatakannya tersebut.
Bait 24
Aku berpetuah di muka khalayak Mencurahkan serba jenis nasihat Didengarkan oleh umat yang banyak…
Sedang di situ nyata kulihat Fakir meminta terberi tidak…
Lemah, lumpuh, tidak bertongkat…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /t/ seperti pada kata aku, berpetuah, muka, khalayak, mencurahkan, serba, nasihat, didengarkan,
umat, banyak, sedang, nyata, kulihat, fakir, meminta, tidak, bertongkat, bunyi pada bait tersebut bermakna adanya perasaan resah, dimana bait tersebut menggambarkan bahwa dalam keadaan menasehati banyak orang, dan melihat orang yang patut dikasihani ikut serta mendengarkan segala macam nasehatnya akan tetapi si aku tidak memberi apa-apa kepada orang susah tersebut.
Bait 25
Betapa, saudara Aku ta‟ kan terpekur Bila aku habiskan bicara…
… fakir memohon, sayup suara Lutut terujam, tangan terukur?...
Bunyi dominan yang terdapat pada bait tersebut adalah bunyi /u/ dan /r/
seperti pada kata saudara, aku, terpekur, bicara, fakir, sayup, lutut, terujam, terukur.
Bunyi tersebut bermakna adanya perasaan gundah pada diri si aku, yang tidak bisa terdiam jika dalam keadaan berbicara walaupun ada seorang fakir memohon-mohon padanya.
Bait 26
Dia nyata orang yang lemah Bukan karena malas dan lalai Nafasnya sesak terengah-engah…
Tidak didengar si burung murai Orang yang lalu berpura lengah Serupa terburu hendak lekas sampai…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan bunyi /r/ yang terlihat pada kata orang, karena, terengah-engah, didengar, burung, murai, berpura, serupa, terburu. Bunyi tersebut bermakna adanya kegundahan dalam hati si aku yang pada bait tersebut mengambarkan keadaan orang miskin yang sengsara dan tidak ada satupun yang perduli termasuk si aku tersebut.
Bait 27
Betapa, saudara
Lidahku ta‟ akan terkalang Sesudah aku habis bicara
Berjumpa saudaraku bingung tualang
Sedikit ta‟ dapat aku membela
Mengantarkan ke tempat yang dia jelang…
Bunyi yang dominan yang terdapat pada bait tersebut adalah bunyi /g/ dan /r/
seperti yang tampak pada kata terkalang, bingung, tualang, jelang, saudara, terkalang, bicara, berjumpa, mengantarkan. Bunyi tersebut bermakna adanya perasaan gundah dalam hati si aku. Sebagaimana yang terlihat pada bait tersebut ternyata si aku memang seorang yang tidak bisa berbuat apa-apa untukm menolong kaumnya.
Bait 28 Saudara!
Sudah malulah kini suara Seperti dulu memenuhi udara Ta‟ tahu lagi aku bicara Jika ujud tidak kentara
Banyak disebut tidak bertara…
Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan bunyi /r/ seperti pada kata saudara, suara, udara, bicara, kentara, bertara. Bunyi pada bait di atat tersebut adalah menggambarkan adanya perasaan malu, si aku merasa malu pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kaumnya.
Asonansi pada puisi Sebab Aku Terdiam karya OR. Mandak terdapat pada bait yang akan disebutkan berikut.
Bait 1
Sekali aku jatuh terpekur
Datang tersandar membentak diri:
“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!
Nanti kusebut segala peri…”
Bait 2
Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung
…‟ akibat caraku selama ini!
Bait 3
Orang yang mabuk oleh dongengku:
Lesu-lesu tenaga hilang…
„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu
Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.
Bait 4
Aku dongengkan yang jauh-jauh Yang ta‟ dapat dilihat mata Yang tidak-tidak dapat disentuh Yang Cuma ada dibibir saja Bait 5
Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari
Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri Bait 6
Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…
Bait 8
Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara
Menyebabkan patah tumpul kalam…
Bait 9
Jauh-jauh aku berseru Begini-begitu kusebut dalil Ahli kerabat dekat mataku Kulihatkan saja: sengsara, jahil
Bait 12
Kepada mereka yang sedang payah Selalu kuberi nasehat pula:
“hendaknya kamu kuat bersedekah Dengan hati yang suci rela!...
Bait 13
Tiada lama sesudah itu Ke mukaku lalu yatim piatu Pucat kurus tidak berbaju…
Aku berpaling pepura ta‟ tahu…
Bait 15
Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…
Memohon-mohon sedang bersimpuh…
Bait 16
Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…
Tinggalah dia lagi tengadah
Sampai sekarang menunggu-nunggu…
Bait 18
Lagi suatu, wahai saudara
Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara
Lantaran daku mereka sengsara…
Bait 20
Kini Putera sudah dewasa Sedikit ta‟ ada membalas jasa Bagi se-Kaum, Bangsa dan Nusa Bagi keluarga jadi penyiksa…
Bait 21
Betapa aku mendongeng jua Besar mulut banyak bicara Jika dilihat tidak bersua
Orang yang tahu menggeleng tertawa?
Bait 28 Saudara!
Sudah malulah kini suara Seperti dulu memenuhi udara Ta‟ tahu lagi aku bicara Jika ujud tidak kentara
Banyak disebut tidak bertara…
Bait-bait yang telah disebutkan di atas adalah yang termasuk dalam asonansi.
Berikutnya adalah yang termasuk dalam aliterasi. Seperti yang terdapat pada bait berikut.
Bait 1
Sekali aku jatuh terpekur
Datang tersandar membentak diri:
“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!
Nanti kusebut segala peri…”
Bait 2
Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung
…‟ akibat caraku selama ini!
Bait 3
Orang yang mabuk oleh dongengku:
Lesu-lesu tenaga hilang…
„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu
Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.
Bait 5
Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri
Bait 6
Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…
Bait 7
Kepada mereka yang sakit lapar Aku berkata: “hendaklah sabar…
Mereka mengeluh: “kami lapar…
Kuberi petuah:”wajib sabar!”…
Bait 15
Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…
Memohon-mohon sedang bersimpuh…
Bait 16
Aku berbuat pepura lengah
Atau serupa terburu-buru…
Tinggalah dia lagi tengadah
Sampai sekarang menunggu-nunggu…
Bait 17
Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara
Menyebabkan patah tumpul kalam…
Bait 18
Lagi suatu, wahai saudara
Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara
Lantaran daku mereka sengsara…
Bait 19
Katanya aku tempat berlindung Hujan dan panas „kan ganti tudung…
Begitu cerita bunda-kandung Sedari Putera lagi dibendung…
Bunyi yang menonjol pada bait-bait di atas adalah bunyi asonansi atau pengulangan vokal. Penyair menonjolkan asonansi daripada aliterasi karena keseluruhan bait pada puisi tersebut menggambarkan perasaan gundah, resah, perasaan yang berat yang dapat diwakili dengan menghadirkan adanya asonansi, sehingga asonansi lah yang terlihat menonjol pada puisi tersebut. Seperti yang terlihat pada bait di atas dapat dilihat penyair menggunakan rima yang teratur pada bait-bait puisi tersebut. Hal tersebut karena penyair ingin menjadikan puisi tersebut dengan rima yang beraturan agar bisa menjadi lebih terlihat puitis.
4.2.5 Kata dan Kalimat pada Puisi Sebab Aku Terdiam Karya OR. Mandak