• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. seorang demonstran. Akan tetapi bentuk demonstrasi atau bentuk protes Taufik Ismail

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. seorang demonstran. Akan tetapi bentuk demonstrasi atau bentuk protes Taufik Ismail"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Taufik Ismail lahir pada Angkatan ‟66 yang dikenal juga pada masa itu bentuk pemberontakan tidak diperlihatkan secara langsung. Taufik Ismail dikenal dengan seorang demonstran. Akan tetapi bentuk demonstrasi atau bentuk protes Taufik Ismail hanya disalurkan lewat karya sastra yang disebut dengan puisi. Hal tersebut karena kondisi zaman pada saat itu juga sangat tidak memungkinkan untuk memperlihatkan bentuk demo yang terang-terangan. Bahasa-bahasa yang digunakan Taufik Ismail terlihat tegas, walaupun demikian tetap mudah dimengerti serta masih memperhatikan kesantunan dalam mengeluarkan kata-kata.

OR. Mandak lahir pada angkatan pujangga baru sebelum angkatan ‟66. Sama halnya pada angkatan Taufik Ismail, pada angkatan OR. Mandak juga telah diterapkan aturan pemerintahan yang apabila dilanggar maka akan mendapatkan hukuman. Walaupun sama-sama lahir pada zaman yang masih ketat dengan aturan, akan tetapi berbeda dengan Taufik Ismail yang menggunakan bahasa-bahasa yang lebih mudah dimengerti dalam puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja, dalam puisi OR. Mandak yang berjudul Sebab Aku Terdiam menggunakan bahasa-bahasa yang halus serta agak terlalu sulit dimengerti, bentuk puisi OR.

Mandak masih terbawa-bawa dengan bentuk puisi lama akan tetapi tidak termasuk dalam puisi lama.

Berikut akan dibahas gaya bahasa pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail dan puisi Sebab Aku Terdiam karya OR.

mandak yang ditinjau dari aspek bunyi, kata dan kalimat, serta majas/citraan.

4.1.1 Bunyi Pada Puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail

(2)

Pembahasan di bawah ini akan membahas mengenai gaya bahasa pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail, yang akan dipaparkan satu persatu seperti berikut.

Bait 1

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Bunyi /u/ dalam kata aku, duduk, tribun, memberikan efek yang cukup menarik perhatian, karena pada kalimat tersebut seolah-olah memberikan informasi adanya maksud atau tujuan yang ingin diperjelas penyair. Sama halnya bunyi /n/ dan /s/ pada kata tribun, kanan, jenjang,menyaksikan, sebuah, pentas. Hal seperti ini biasa terjadi karena penyair ingin menyatakan maksud dan tujuannya dengan cara yang diinginkan. Akan tetapi biasanya penyair juga menyesuaikan dengan adanya bunyi-bunyi dalam setiap kata agar bisa memenuhi efek tertentu. Penyair lebih banyak mononjolkan bunyi konsonan karena diseuaikan dengan kata-kata yang ada dalam bait puisi tersebut, setiap kata yang dipilih oleh penyair tidak dapat tergantikan oleh kata-kata yang lain, sehingga pengulangan konsonan pada bait itu selain merupakan nilai keindahan juga untuk memperjelas maksud setiap kata.

Bait ke-2

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Bunyi /g/ dan /i/ seperti pada kata memasang, gendang, telinga, menggali, kembali, ingatan, agresi, memberikan efek adanya betapa sangat inginnya penyair mengungkapkan sesuatu yang dirasakannya yang terus bernaung dalam pikirannya.

Bait ke- 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

(3)

Bunyi /r/ dan /s/ pada kata berenang, antara, arus, kertas, bibliografi, wawancara, gugusan, sajikan, kurasa, sudah, fisiologi-sukmamu, sejarah, ternyata, baru, permukaan, sahaja memberikan adanya efek kelembutan yang digambarkan oleh pengarang dengan tujuan merendahkan diri.

Bait ke- 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Pada bait ke-4 tersebut terdapat bunyi /s/ dan /r/, pada kata kesempatan, emas, atas, tribun, sosok-sosok, pemeran, drama, silam, mereka, mendirikan, negeriku, Negara, remaja-remaja, belajar, laras, senjata, operator, radio, rimba, raya, sertifikat, armada, penerbang, merindukan, sayap-sayap, pemberani, segala, kemiskinan, beribu, format. Kata-kata yang dirangkai dalam satu bait ini memberi kekuatan ekspersif kepada sajak dengan adanya hubungan antarkata yang dirangkaikan oleh penyair dan menggambarkan sesuatu yang ada dalam pikirannya.

Bait ke- 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan,

Bunyi /r/ dan /t/ seperti pada kata mereka, berbadan, kurus-kurus, sudut, tulang, rahang, kelihatan, berambut, hitam, lebat, lengket, ingat, betul, bercelana, kedombarangan. Kata-kata dalam bait puisi ini memperlihatkan adanya tekanan yang berat. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh penyair dengan menggambarkan adanya keadaan susah pada masa itu.

Bait ke- 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan

(4)

uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Bunyi /s/ dan /r/ yang mendominasi setiap kata-kata seperti pada kata mereka, semuanya, berani, bersikap, besahaja, memikirkan, materi, merenungkan, memperjuangkan, pikiran, serta. Pengulangan bunyi /s/ dan /r/ yang mendominasi bait ini karena adanya tujuan penyair yang ingin menciptakan adanya efek keseriusan, bait ini mempunyai kekuatan eksperesif yang sulit dilukiskan maknanya oleh pembaca.

Bait ke- 7

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara,

Bunyi pada bait ke-7 tersebut didominasi oleh bunyi /r/ dan /s/ paling banyak bunyi /r/ yang mendominasi bait ini seperti pada kata terkenang, sahabat-sahabat, mereka, hadir, ruangan, karena, beribu-ribu, ikhlas, memberikan, memerdekakan, dan nusantara. Bunyi /s/ dan /r/ pada bait ini memperlihatkan adanya sesuatu yang ingin digambarkan penyair secara jelas.

Bait ke- 8

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Bunyi /t/ dan /j/ seperti pada kata kita, tundukan, sejenak, pejamkan, mata, detik, hati, Al-fatihah,dan untuk. Tekanan bunyi /t/ dan /j/ memperlihatkan adanya keheningan yang digambarkan oleh penyair.

Bait ke- 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka I tu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan,

(5)

Bunyi yang jelas terlihat pada bait ini adalah bunyi /s/, /r/, /g/, /a/, /n/, /u/

seperti pada kata suara, lintas, Jakarta, gemuruh, gedung, mataku, berjuta, sosok, raut, wajahnya, adresnya, mereka, dulu, melepas, gelang, berlian, kalung, cincin, tabungan, membelikan, senjata, pesawat terbang, untuk, perang, kemerdekaan.

Bunyi-bunyi dalam kata-kata yang diulang-ulang tiada lain dimaksudkan untuk memperjelas maksud dari penyair.

Bait ke- 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dala direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bunyi yang menonjol pada bait ini adalah bunyi /e/, /s/ dan /r/ seperti kata pernah, mereka, harian, sore, direktori, siapa, masuk, acara, wawancara, teks, sejarah, resmi, versi, berkuasa, partikelir, dan swasta. Bunyi dalam setiap kata tersebut memberi kesan tersendiri dari penyair.

Bait ke- 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionete menari dan melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Dalam bait ini juga bunyi /r/ dan /s/ dan /j/ sangat mendominasi setiap kata yang terkandung dalam bait tersebut seolah-olah ingin menggambarkan adanya hal yang sangat ingin diperjelas oleh penyair. Seperti kata sebenarnya, morfologi, kerangka, semuanya, semuanya, berjuta-juta, marionet, menari, melonjak-lonjak, simfoni, gerakan, sedemikian, ruwet, sekaligus, akhirnya, baraturan, atas, histori, pementasannya, sejarahwan, sibuk, menganalisanya, mereka, menjawabnya.

Bait ke-12

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

(6)

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Bunyi pada bait ini adalah /a/ dan /e/ yang mengandung rasa berat, seperti pada kata saksikan, menggeleng, perlahan-lahan, rasa, pasti, menjawab, sebenarnya, sedikit, saja.

Bait ke-13

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Dalam bait terakhir ini sama halnya dengan bait-bait sebelumnya, bunyi yang menonjol adalah bunyi /g/, /j/, /r/ dan /s/ yang mengandung rasa berat dan suasana gundah, dan penuh pengharapan seperti pada kata sehabis, masa, hari, kurindukan, suatu, bersamanya, keikhlasan, lalu-lintas, pikiran, disenandungkan, berbeda-beda, harus, sama, semua, ukuran, lebar, warnanya, senyum, dipasang, panjang, topeng, panggung, pementasan, sikap, bersahaja, diperebutkan.

Asonansi pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas karya Taufik Ismail dan Bersahaja terdapat pada bait berikut.

Bait ke-2

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Bait ke- 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Bait ke- 7

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara,

(7)

Bait ke- 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dala direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bait ke- 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionete menari dan melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Aliterasi pada puisi Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail terdapat pada bait berikut.

Bait 1

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Bait ke-2

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Bait ke- 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait ke- 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait ke- 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak

(8)

kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan, Bait ke-13

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Bait-bait yang telah disebutkan di atas adalah yang termasuk dalam aliterasi atau pengulangan konsonan dalam puisi.

4.1.2 Kata dan Kalimat pada puisi Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail

Kata-kata yang sering dipergunakan penyair dalam puisi tersebut adalah kata- kata yang sedikit mengandung protes, kritikan, dan kata-kata yang memang sudah dipilih sebelumnya oleh penyair dengan maksud mempertegas, mengenang, dan memberikan pernyataan kepada pembaca akan maksud dari puisinya tersebut. Hal tersebut akan ditandai dalam puisi berikut seperti apa kata-kata yang dimaksud.

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

(9)

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan,

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara,

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan,

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng

panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Kata-kata yang telah ditandai di atas adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair yang telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Bahasa- bahasa yang sedikit tegas akan tetapi menyentuh hati itulah yang dipakai penyair dalam puisi tersebut untuk menyatakan adanya maksud dan tujuan serta ide-ide yang berkecamuk dalam benak penyair. Penyair dalam menyajikan kata-kata tidak

(10)

mencantumkan kata-kata dengan bahasa daerah sebagaimana sastrawan yang biasa mencantumkan sedikit bahasa daerah ke dalam puisi. Bahasa yang digunakan penyair lebih cenderung ke bahasa sehari-sehari, sehingga lebih mudah dapat dipahami.

Penggunaan kata-kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari bukan berarti tidak mempunyai nilai-nilai estetik, akan tetapi dapat memberikan adanya suatu gaya yang realistis.

Denotasi pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail adalah sebagai berikut.

Bait 1

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Bait 2 larik 1

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Bait 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Bait 7

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi,

(11)

begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara, Bait 8

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan, Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bait 11 larik 4, 6 dan 7

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Bait 12

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Bait 13 larik 1

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

(12)

Berikut adalah konotasi pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 4 larik 4,5,7

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Bait 11 larik 1,2,3, dan 5

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Bait 13 larik 2-7

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja juga terdapat adanya anaphora. Hal tersebut terlihat pada bait puisi di bawah ini.

Bait 1,2 dan 3

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

(13)

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bait 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja Karya Taufik Ismail juga mengandung epizeuksis seperti bait berikut.

Bait ke- 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba

(14)

raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Bait 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Bait 8

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan, Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bait 13

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Sebagaimana yang terlihat dari puisi tersebut dapat diketahui bahwa penyair membuat setiap bait puisi tersebut tanpa penghabisan kalimat. Akan tetapi setiap bait hanya diselesaikan dengan tanda koma (,). Hal tersebut menandakan seperti tiada

(15)

hentinya dan begitu banyaknya hal-hal yang harus dituliskan dalam puisi tersebut, sehingga penyair merasa tanda titik itu akan diberikan nanti pada saat telah berakhir juga kalimat-kalimat dalam puisi. Sebagaimana yang jelas terlihat pada puisi tersebut, penyair membicarakan persoalan sosial dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang polos sehingga dengan mudah dapat dimengerti.

4.1.3 Majas/Citraan pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail

Terdapat majas pertentangan yaitu paradoks seperti yang terlihat pada bait berikut.

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Berikut adalah majas analogi/identitas/perbandingan seperti simile pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail terdapat pada bait berikut.

Bait 1

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Berikut adalah metafora pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail terdapat pada bait berikut.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

(16)

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Bait 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Bait 13

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail juga mempunyai perumpamaan seperti berikut.

Bait 1 larik 2

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Personifikasi pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail terdapat pada bait berikut.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

(17)

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan, Bait 13

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail juga terdapat hiperbola seperti yang tampak pada bait berikut.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

(18)

perang kemerdekaan,

Litotes pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail terdapat pada bait berikut.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

Wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bait 12

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Majas kedekatan/kontiguitas/pertautan pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail seperti metonomia terdapat pada bait berikut.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Bait 8

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas

(19)

gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan, Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Bait 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Bait 13

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Citraan pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja seperti citra penglihatan pada puisi karya Taufik Ismail tersebut terdapat pada bait berikut.

Bait 1 dan 2

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Bait 4 dan 5

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

(20)

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait 7, 8, dan 9

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara,

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan, Bait 10- 13

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Pada puisi karya Taufik Ismail dengan judul Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja juga terdapat citra pendengaran seperti yang tampak pada bait berikut.

(21)

Bait 2

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan,

Bait 11, 12, dan 13

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail juga terdapat citra gerak seperti tampak pada bait berikut.

Bait 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

4.1.4 Bunyi pada puisi Sebab Aku Terdiam Karya OR. Mandak

(22)

Bait 1

Sekali aku jatuh terpekur

Datang tersandar membentak diri:

“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!

Nanti kusebut segala peri…”

Bunyi pada puisi Sebab Aku Terdiam karya OR. Mandak yang paling ditonjolkan oleh penyair adalah bunyi /r/seperti kata terpekur,tersandar,diri,mashyur, peri. Sebagaimana yang terlihat pada bait pertama, bunyi /r/ dalam bait tersebut menandakan rasa berat, kata-kata seruan yang ada pada bait tersebut menandakan adanya perasaan gundah.

Bait 2

Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung

…‟ akibat caraku selama ini!

Pada bait 2 ini bunyi yang ditonjolkan penyair adalah bunyi /g/ dan /r/ seperti pada kata gunung, kupandang, bingung, serasa, kemari, mereka, caraku. Bunyi /g/

dan /r/ mempunyai nada yang berat yang dapat mengartikan pula maksud dari penyair tersebut.

Bait 3

Orang yang mabuk oleh dongengku:

Lesu-lesu tenaga hilang…

„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu

Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.

Bunyi pada bait 3 yang menonjol adalah bunyi /g/ dan /s/ seperti pada kata dongengku, tenaga, hilang, dipusing-pusingkan, lancing, lesu-lesu, pasti. Bunyi /g/

dan /s/ pada bait tersebut menandakan adanya rasa gundah.

Bait 4

Aku dongengkan yang jauh-jauh Yang ta‟ dapat dilihat mata

(23)

Yang tidak-tidak dapat disentuh Yang Cuma ada dibibir saja

Pada bait 4 ini bunyi /g/ yang dan /h/ yang menonjol seperti pada kata dongengkan, kata yang hingga tiga kali diulang, jauh-jauh, dilihat, disentuh. Bunyi /g/ dan /h/ yang menonjol pada bait ini menandakan adanya hal yang dipentingkan oleh penyair.

Bait 5

Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari

Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri

Bunyi yang mendominasi bait di atas adalah bunyi /g/, /m/, dan /r/ seperti pada kata sedang, tengah, terngangah, banggalah, mereka, melihat, mendengar, menari, bicara, merasa, diri. Bunyi /g/, /m/, /r/ dalam bait ini memperlihatkan adanya sedikit kegirangan.

Bait 6

Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…

Pada bait enam tersebut bunyi /p/ yang paling ditonjolkan oleh penyair seperti pada kata berjumpa, papa-papa, bapa, rupa. Bunyi /a/ juga sangat dominan seperti yang terlihat pada bait tersebut.

Bait 7

Kepada mereka yang sakit lapar Aku berkata: “hendaklah sabar…

Mereka mengeluh: “kami lapar…

Kuberi petuah:”wajib sabar!”…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti pada kata kepada, mereka, sakit, lapar, aku, berkata, hendaklah sabar, kuberi, petuah.

(24)

Bunyi /a/ dan /r/ yang dominan tersebut memberi adanya arti yang sidikit penegasan oleh penyair.

Bait 8

Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

Bunyi yang dominan pada bait ini adalah bunyi /a/ dan /l/. Bunyi /l/ yang mengandung rasa berat tersebut dapat diartikan sebagai kegundahan yang ingin dilukiskan oleh penyair.

Bait 9

Jauh-jauh aku berseru Begini-begitu kusebut dalil Ahli kerabat dekat mataku Kulihatkan saja: sengsara, jahil

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/, /i/, /u/ seperti pada kata jauh-jauh, aku, berseru, begini, begitu, kusebut, dalil, ahli, kerabat, dekat, mataku, kulihatkan, saja, sengsara, jahil.

Bait 10

Kepada mereka yang hampir pingsan Aku berteriak: “mari berkorban!”

Mereka berkata: kami ta‟ makan…”

Muka segera aku palingkan

Bunyi yang dominan pada bait tersebut di atas adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti yang tampak pada kata kepada, mereka, yang, hampir, pingsan, aku, berteriak, mari, berkorban, berkata, kami, ta‟ makan, muka, segera, palingkan. Kemudian bait sebelas yang bunyinya sama persis dengan bait delapan berarti mempunyai maksud dan tujuan yang sama oleh penyair.

Bait 12

(25)

Kepada mereka yang sedang payah Selalu kuberi nasehat pula:

“hendaknya kamu kuat bersedekah Dengan hati yang suci rela!...

Bunyi yang dominan pada bait tersebut di atas adalah bunyi /a/, /u/ dan /r/.

Bunyi dalam setiap kata tersebut memberi arti sebuah penegasan yang dimaksudkan oleh penyair.

Bait 13

Tiada lama sesudah itu Ke mukaku lalu yatim piatu Pucat kurus tidak berbaju…

Aku berpaling pepura ta‟ tahu…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/, /u/, dan /r/ seperti yang tampak pada kata tiada, lama, sesudah, itu, mukaku, lalu, yatim, piatu, pucat, kurus, tidak, berbaju, berpaling, pepura, ta‟ tahu.

Bait 15

Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…

Memohon-mohon sedang bersimpuh…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/, /u/, dan /r/ seperti pada kata jalan, pulang, aku, berjumpa, dengan, kirabat, sedang, lumpuh, lemah, melarat, sengsara, papa, bersimpuh.

Bait 16

Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…

Tinggalah dia lagi tengadah

Sampai sekarang menunggu-nunggu…

Bunyi yang menonjol pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /u/ seperti yang tampak pada kata aku, berbuat, pepura, lengah, atau, serupa, terburu-buru, tinggalah, dia, lagi, tengadah, sampai, sekarang, menunggu-nunggu.

Bait 18

Lagi suatu, wahai saudara,

(26)

Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara

Lantaran daku mereka sengsara…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti pada kata lagi, suatu, wahai, saudara, menyebabkan, dadaku, malu, bicara, kaumku, tidak terpelihara, lantaran, daku, mereka, sengsara.

Bait 19

Katanya aku tempat berlindung Hujan dan panas „kan ganti tudung…

Begitu cerita bunda-kandung Sedari Putera lagi dibendung…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /g/ dan /u/ seperti yang tampak pada kata aku, berlindung, hujan, ganti, tudung, begitu, bunda, kandung, lagi, dibendung.

Bait 20

Kini Putera sudah dewasa Sedikit ta‟ ada membalas jasa Bagi se-Kaum, Bangsa dan Nusa Bagi keluarga jadi penyiksa…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /s/ seperti pada kata putera, sudah, dewasa, sedikit, ta‟ ada, membalas, jasa, bagi, se-kaum, bangsa, nusa, keluarga, penyiksa.

Bait 21

Betapa aku mendongeng jua Besar mulut banyak bicara Jika dilihat tidak bersua

Orang yang tahu menggeleng tertawa?

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /r/ seperti yang terlihat pada kata betapa, aku, jua, besar, banyak, bicara, jika, dilihat, tidak, bersua, orang, yang, tahu, tertawa.

Bait 22

Mungkinkah aku bunda lahirkan Sahaya untuk mendongeng saja Dengan ta‟ wajib lagi amalkan

(27)

Teladan cukup dibibir saja?

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /l/ seperti pada kata mungkinkah, aku, bunda, lahirkan, sahaya, saja, dengan, ta‟wajib, lagi, amalkan, teladan.

Bait 23

Betapa, saudara,

Mulutku ta‟ akan tertutup Jika aku tengah bicara…

Kudengar sayup-sayup Keluhan saudara saya

Menderita kesakitan hidup?…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /u/ seperti pada kata betapa, saudara, mulutku, ta‟ akan, tertutup, jika, aku, tengah, bicara, kudengar, sayup-sayup, keluhan, saudara, saya, menderita, kesakitan, hidup.

Bait 24

Aku berpetuah di muka khalayak Mencurahkan serba jenis nasihat Didengarkan oleh umat yang banyak…

Sedang di situ nyata kulihat Fakir meminta terberi tidak…

Lemah, lumpuh, tidak bertongkat…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan /t/ seperti pada kata aku, berpetuah, muka, khalayak, mencurahkan, serba, nasihat, didengarkan, umat, banyak, sedang, nyata, kulihat, fakir, meminta, tidak, bertongkat.

Bait 25

Betapa, saudara Aku ta‟ kan terpekur Bila aku habiskan bicara…

… fakir memohon, sayup suara Lutut terujam, tangan terukur?...

Bunyi dominan yang terdapat pada bait tersebut adalah bunyi /u/ dan /r/

seperti pada kata saudara, aku, terpekur, bicara, fakir, sayup, lutut, terujam, terukur.

Bait 26

(28)

Dia nyata orang yang lemah Bukan karena malas dan lalai Nafasnya sesak terengah-engah…

Tidak didengar si burung murai Orang yang lalu berpura lengah Serupa terburu hendak lekas sampai…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan bunyi /r/ yang terlihat pada kata orang, karena, terengah-engah, didengar, burung, murai, berpura, serupa, terburu.

Bait 27

Betapa, saudara

Lidahku ta‟ akan terkalang Sesudah aku habis bicara

Berjumpa saudaraku bingung tualang Sedikit ta‟ dapat aku membela

Mengantarkan ke tempat yang dia jelang…

Bunyi yang dominan yang terdapat pada bait tersebut adalah bunyi /g/ dan /r/

seperti yang tampak pada kata terkalang, bingung, tualang, jelang, saudara, terkalang, bicara, berjumpa, mengantarkan.

Bait 28 Saudara!

Sudah malulah kini suara Seperti dulu memenuhi udara Ta‟ tahu lagi aku bicara Jika ujud tidak kentara

Banyak disebut tidak bertara…

Bunyi yang dominan pada bait tersebut adalah bunyi /a/ dan bunyi /r/ seperti pada kata saudara, suara, udara, bicara, kentara, bertara.

Asonansi pada puisi Sebab Aku Terdiam karya OR. Mandak terdapat pada bait yang akan disebutkan berikut.

Bait 1

Sekali aku jatuh terpekur

Datang tersandar membentak diri:

“Engkau mimpi berasa masyhur

(29)

Ke dalam kaca lihatlah diri!

Nanti kusebut segala peri…”

Bait 2

Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung

…‟ akibat caraku selama ini!

Bait 3

Orang yang mabuk oleh dongengku:

Lesu-lesu tenaga hilang…

„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu

Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.

Bait 4

Aku dongengkan yang jauh-jauh Yang ta‟ dapat dilihat mata Yang tidak-tidak dapat disentuh Yang Cuma ada dibibir saja Bait 5

Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari

Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri Bait 6

Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…

Bait 8

Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

Bait 9

Jauh-jauh aku berseru Begini-begitu kusebut dalil Ahli kerabat dekat mataku

(30)

Kulihatkan saja: sengsara, jahil Bait 12

Kepada mereka yang sedang payah Selalu kuberi nasehat pula:

“hendaknya kamu kuat bersedekah Dengan hati yang suci rela!...

Bait 13

Tiada lama sesudah itu Ke mukaku lalu yatim piatu Pucat kurus tidak berbaju…

Aku berpaling pepura ta‟ tahu…

Bait 15

Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…

Memohon-mohon sedang bersimpuh…

Bait 16

Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…

Tinggalah dia lagi tengadah

Sampai sekarang menunggu-nunggu…

Bait 18

Lagi suatu, wahai saudara

Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara

Lantaran daku mereka sengsara…

Bait 20

Kini Putera sudah dewasa Sedikit ta‟ ada membalas jasa Bagi se-Kaum, Bangsa dan Nusa Bagi keluarga jadi penyiksa…

Bait 21

Betapa aku mendongeng jua Besar mulut banyak bicara Jika dilihat tidak bersua

Orang yang tahu menggeleng tertawa?

Bait 28

(31)

Saudara!

Sudah malulah kini suara Seperti dulu memenuhi udara Ta‟ tahu lagi aku bicara Jika ujud tidak kentara

Banyak disebut tidak bertara…

Bait-bait yang telah disebutkan di atas adalah yang termasuk dalam asonansi.

Berikutnya adalah yang termasuk dalam aliterasi. Seperti yang terdapat pada bait berikut.

Bait 1

Sekali aku jatuh terpekur

Datang tersandar membentak diri:

“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!

Nanti kusebut segala peri…”

Bait 2

Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung

…‟ akibat caraku selama ini!

Bait 3

Orang yang mabuk oleh dongengku:

Lesu-lesu tenaga hilang…

„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu

Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.

Bait 5

Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri Bait 6

Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…

Bait 7

Kepada mereka yang sakit lapar Aku berkata: “hendaklah sabar…

Mereka mengeluh: “kami lapar…

(32)

Kuberi petuah:”wajib sabar!”…

Bait 15

Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…

Memohon-mohon sedang bersimpuh…

Bait 16

Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…

Tinggalah dia lagi tengadah

Sampai sekarang menunggu-nunggu…

Bait 17

Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

Bait 18

Lagi suatu, wahai saudara

Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara

Lantaran daku mereka sengsara…

Bait 19

Katanya aku tempat berlindung Hujan dan panas „kan ganti tudung…

Begitu cerita bunda-kandung Sedari Putera lagi dibendung…

Seperti yang terlihat pada bait-bait di atas dapat dilihat penyair menggunakan rima yang teratur pada bait-bait puisi tersebut. Hal tersebut karena penyair ingin menjadikan puisi tersebut dengan rima yang beraturan agar bisa menjadi lebih terlihat puitis.

4.1.5 Kata dan Kalimat pada Puisi Sebab Aku Terdiam Karya OR. Mandak Kata-kata yang dipergunakan oleh penyair pada puisi Sebab Aku Terdiam karya OR. Mandak menggunakan bahasa-bahasa melayu dan bentuk puisinya seperti

(33)

pantun. Walaupun penyair dalam puisi Sebab Aku Terdiam menggunakan bahasa- bahasa melayu akan tetapi kata-katanya tetap dapat dipahami karena masih serumpun dengan bahasa Indonesia sendiri. Kata-kata yang dipergunakan penyair dalam puisi Sebab Aku Terdiam terlihat halus, tidak secara langsung mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, walaupun terlihat seperti sebuah kritikan akan tetapi penyair mengungkapkan kata-kata tersebut secara halus dan indah didengar. Hal tersebut seperti yang terlihat pada bait-bait berikut.

Sekali aku jatuh terpekur

Datang tersandar membentak diri:

“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!

Nanti kusebut segala peri…”

Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung

…‟ akibat caraku selama ini!

Orang yang mabuk oleh dongengku:

Lesu-lesu tenaga hilang…

„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu

Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.

Aku dongengkan yang jauh-jauh Yang ta‟ dapat dilihat mata Yang tidak-tidak dapat disentuh Yang Cuma ada dibibir saja Sedang mereka tengah terngagah Melihat cakap aku menari Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…

Kepada mereka yang sakit lapar Aku berkata: “hendaklah sabar…

Mereka mengeluh: “kami lapar…

Kuberi petuah:”wajib sabar!”…

Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

(34)

Jauh-jauh aku berseru Begini-begitu kusebut dalil Ahli kirabat dekat mataku Kulihatkan saja: sengsara, jahil Kepada mereka yang hampir pingsan Aku berteriak: “mari berkorban!”

Mereka berkata: kami ta‟ makan…”

Muka segera aku palingkan Inilah sebab wahai saudara, Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

Kepada mereka yang sedang payah Selalu kuberi nasehat pula:

“hendaknya kamu kuat bersedekah Dengan hati yang suci rela!...

Tiada lama sesudah itu Ke mukaku lalu yatim piatu Pucat kurus tidak berbaju…

Aku berpaling pepura ta‟ tahu…

Inilah sebab, wahai saudara, Sekian lama aku terdiam Hampir tak tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam Di jalan pulang aku berjumpa

Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…

Memohon-mohon sedang bersimpuh…

Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…

Tinggalah dia lagi tengadah

Sampai sekarang menunggu-nunggu…

Inilah sebab wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

Lagi suatu, wahai saudara,

Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara

Lantaran daku mereka sengsara…

Katanya aku tempat berlindung Hujan dan panas „kan ganti tudung…

Begitu cerita bunda-kandung Sedari Putera lagi dibendung…

(35)

Kini Putera sudah dewasa Sedikit ta‟ ada membalas jasa Bagi se-Kaum, Bangsa dan Nusa Bagi keluarga jadi penyiksa…

Betapa aku mendongeng jua Besar mulut banyak bicara Jika dilihat tidak bersua

Orang yang tahu menggeleng tertawa?

Mungkinkah aku bunda lahirkan Sahaya untuk mendongeng saja Dengan ta‟ wajib lagi amalkan Teladan cukup dibibir saja?

Betapa, saudara,

Mulutku ta‟ akan tertutup Jika aku tengah bicara…

Kudengar sayup-sayup Keluhan saudara saya

Menderita kesakitan hidup?…

Aku berpetuah di muka khalayak Mencurahkan serba jenis nasihat Didengarkan oleh umat yang banyak…

Sedang di situ nyata kulihat Fakir meminta terberi tidak…

Lemah, lumpuh, tidak bertongkat…

Betapa, saudara Aku ta‟ kan terpekur Bila aku habiskan bicara…

… fakir memohon, sayup suara Lutut terujam, tangan terukur?...

Dia nyata orang yang lemah Bukan karena malas dan lalai Nafasnya sesak terengah-engah…

Tidak didengar si burung murai Orang yang lalu berpura lengah Serupa terburu hendak lekas sampai…

Betapa, saudara

Lidahku ta‟ akan terkalang Sesudah aku habis bicara

Berjumpa saudaraku bingung tualang Sedikit ta‟ dapat aku membela

Mengantarkan ke tempat yang dia jelang…

Saudara!

Sudah malulah kini suara Seperti dulu memenuhi udara Ta‟ tahu lagi aku bicara

(36)

Jika ujud tidak kentara

Banyak disebut tidak bertara…

Denotasi pada puisi Sebab Aku Terdiam karya OR. Mandak terdapat pada bait satu dan dua seperti yang tampak pada bait berikut.

Bait 1 dan 2

Sekali aku jatuh terpekur

Datang tersandar membentak diri:

“Engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!

Nanti kusebut segala peri…”

Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung

…‟ akibat caraku selama ini!

Bait 5, 6 dan 7

Sedang mereka tengah terngangah Melihat cakap aku menari

Mendengar bijak aku bicara Aku merasa banggalah diri Di sepanjang jalan aku berjumpa Dengan kaumku yang papa-papa Anak menangis ditinggal bapa Ibu sakit pucat rupa…

Kepada mereka yang sakit lapar Aku berkata: “hendaklah sabar…

Mereka mengeluh: “kami lapar…

Kuberi petuah:”wajib sabar!”…

Bait 9 dan 10

Jauh-jauh aku berseru Begini-begitu kusebut dalil Ahli kerabat dekat mataku Kulihatkan saja: sengsara, jahil Kepada mereka yang hampir pingsan Aku berteriak: “mari berkorban!”

Mereka berkata: kami ta‟ makan…”

Muka segera aku palingkan Bait 13

Tiada lama sesudah itu Ke mukaku lalu yatim piatu Pucat kurus tidak berbaju…

(37)

Aku berpaling pepura ta‟ tahu…

Bait 15 dan 16

Di jalan pulang aku berjumpa Dengan kirabat yang sedang lumpuh Lemah, melarat, sengsara, papa…

Memohon-mohon sedang bersimpuh…

Aku berbuat pepura lengah Atau serupa terburu-buru…

Tinggalah dia lagi tengadah

Sampai sekarang menunggu-nunggu…

Bait 23 dan 24 Betapa, saudara,

Mulutku ta‟ akan tertutup Jika aku tengah bicara…

Kudengar sayup-sayup Keluhan saudara saya

Menderita kesakitan hidup?…

Aku berpetuah di muka khalayak Mencurahkan serba jenis nasihat Didengarkan oleh umat yang banyak…

Sedang di situ nyata kulihat Fakir meminta terberi tidak…

Lemah, lumpuh, tidak bertongkat…

Bait 28 Saudara!

Sudah malulah kini suara Seperti dulu memenuhi udara Ta‟ tahu lagi aku bicara Jika ujud tidak kentara

Banyak disebut tidak bertara…

Bait-bait yang telah disebutkan di atas adalah yang termasuk dalam kalimat denotasi. Berikut ini adalah yang termasuk dalam kalimat konotasi. Seperti yang tampak pada bait-bait berikut.

Bait 1

Sekali aku jatuh terpekur

Datang tersandar membentak diri:

“engkau mimpi berasa masyhur Ke dalam kaca lihatlah diri!

Nanti kusebut segala peri…”

Bait 2

(38)

Serasa „kan naik ke atas gunung Dan kupandang kian kemari Nampak olehku mereka bingung

…‟ akibat caraku selama ini!

Bait 3 dan 4

Orang yang mabuk oleh dongengku:

Lesu-lesu tenaga hilang…

„ Akibat petuah ta‟ pasti-tentu

Dipusing-pusingkan bibir yang lancing.

Aku dongengkan yang jauh-jauh Yang ta‟ dapat dilihat mata Yang tidak-tidak dapat disentuh Yang Cuma ada dibibir saja Bait 11 dan 12

Inilah sebab, wahai saudara Sekian lama aku terdiam Hampir ta‟ tahu lagi bicara

Menyebabkan patah tumpul kalam…

Kepada mereka yang sedang payah Selalu kuberi nasehat pula:

“hendaknya kamu kuat bersedekah Dengan hati yang suci rela!...

Bait 18-22

Lagi suatu, wahai saudara,

Menyebabkan dadaku malu bicara Kaumku tidak terpelihara

Lantaran daku mereka sengsara…

Katanya aku tempat berlindung Hujan dan panas „kan ganti tudung…

Begitu cerita bunda-kandung Sedari Putera lagi dibendung…

Kini Putera sudah dewasa Sedikit ta‟ ada membalas jasa Bagi se-Kaum, Bangsa dan Nusa Bagi keluarga jadi penyiksa…

Betapa aku mendongeng jua Besar mulut banyak bicara Jika dilihat tidak bersua

Orang yang tahu menggeleng tertawa?

Mungkinkah aku bunda lahirkan Sahaya untuk mendongeng saja

Referensi

Dokumen terkait

Namum sejauh ini, dalam penegakan hukum di dalam masyarakat adat Aceh, masih terdapat kendala-kedala yang dihadapi, sehingga proses pembangunan hukum adat di Indonesia, khususnya di

Tidak tertutup kemungkinan komunikasi terjalin antara dosen dan mahasiswa di luar waktu perkuliahan, untuk membicarakan yang berhubungan dengan materi kuliah. Tidak

Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut Retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan

usia remaja yang melahirkan, wanita usia 15-19 tahun, dengan MDG 5.4; (4) Proporsi kelahiran dari ibu, usia 15-24 tahun, yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, di

kepekaan sosial yang tinggi dalam arti kegiatan yang dapat mendukung “pemberdayaan umat Islam” agar kemiskinan ekonomi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, politik dan

Kabupaten Bima adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Bima yang mencakup 14 (empat belas) Wilayah Kecamatan dan Seluruh Desa dan Dusun yang berada dibawahnya. Maju dalam Bidang

Mey Fatmawati, A210100117 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta 2014. Tujuan dari

Menurut Halim (1987:45) menyatakan bahwa salah satu faktor penentu suatu sistem perkawinan disebut sebagai endogami salah satunya adalah sistem perkawinan antara