• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata dan Kalimat pada puisi Aku Rindu pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail

Kata-kata yang sering dipergunakan penyair dalam puisi tersebut adalah kata-kata yang sedikit mengandung protes, kritikan, dan kata-kata-kata-kata yang memang sudah dipilih sebelumnya oleh penyair dengan maksud mempertegas, mengenang, dan memberikan pernyataan kepada pembaca akan maksud dari puisinya tersebut. Hal tersebut akan ditandai dalam puisi berikut seperti apa kata-kata yang dimaksud.

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan,

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara,

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan,

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori

apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng

panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Penyair memilih kata dan kalimat seperti yang telah ditandai di atas adalah untuk mempertegas maksud dari penyair itu sendiri. Walaupun penyair tidak mencantumkan bahasa daerah ke dalam puisi sebagaimana penyair lain, akan tetapi itulah gaya kata dan kalimat yang biasa penyair buat. Penyair lebih cenderung bersifat realistis, dengan maksud agar pembaca bisa lebih komunikatif dalam membaca puisinya. Watak penyair yang tergolong tegas, santai tapi serius, dapat dilihat dari cara penyair menyajikan kata dan kalimat.

Kata dan kalimat yang tegas, ditambah dengan sedikit bentuk protes, serta bentuk puisi penyair yang sebagian besar berbentuk narasi, deskripsi, hal itu disebabkan oleh latar belakang penyair yang hidup di zaman penjajahan, hidup di zaman yang pada saat itu kekerasan terjadi di mana-mana, sehingga dalam membuat puisi, penyair selalu terlihat tegas dalam menyampaikan kata dan kalimat, karena untuk mengetahui latar belakang puisi diciptakan, tidak hanya melihat siapa pencipta puisi, akan tetapi melihat kata-kata dan kalimat yang ada dalam puisi.

Denotasi pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail adalah sebagai berikut.

Bait 1

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Kata pentas, yang disebutkan penyair pada bait di atas, menggambarkan bahwa penyair berusaha menjelaskan bahwa penyair sedang mengingat suatu kejadian dengan sangat bersejarah bagi bangsa Indinesia.

Bait 2 larik 1

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Kata dalam kalimat ingatan pada agresi kedua 1948 menggambarkan bahwa penyair sedang mengingat suatu kejadian bersejarah pada tahun 1948 yang menjadi tahun bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Kalimat di atas menggambarkan bahwa pada masa bersejarah tersebut banyak yang ikut serta berjuang melawan penjajah, termasuk yang ikut di dalamnya adalah anak-anak kecil yang berjiwa pejuang, dan orang-orang miskin yang pemberani.

Mereka semua ikut serta membela bangsa Indonesia tanpa mengharapkan apa-apa, yang ada dalam benak mereka adalah membela bangsa apapun yang akan terjadi sampai di titik darah penghabisan.

Bait 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan,

Kata kurus-kurus, tulang rahang, hitam lebat, kedombrangan yang disajikan penyair pada bait di atas menggambarkan bahwa betapa susahnya hidup di masa penjajahan, aka tetapi semangat berjuang mereka sangat kuat.

Bait 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Kata uang, dan materi pada bait di atas menggambarkan bahwa pada masa itu, mereka yang berjuang melawan penjajah tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun, mereka tidak memikirkan materi apa yang akan mereka dapatkan, akan tetapi mereka mempunyai tekad yang kuat untuk membela bangsa ini.

Bait 7

Aku terkenang pada sahabat-sahabat mereka yang tidak dapat hadir di ruangan ini karena mereka telah lebih dahulu memenuhi panggilan Illahi, begitu pula kuingat beribu-ribu manusia Indonesia lain pada zaman itu yang dengan ikhlas memberikan nyawa mereka ketika

memerdekakan Nusantara,

Kata dalam kalimat memenuhi panggilan Illahi adalah menggambarkan bahwa mereka yang dulu telah berjuang membela bangsa ini, mereka yang menjadikan bangsa ini merdeka telah meninggal dunia.

Bait 8

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

Kata Al-fatihah yang ada pada bait di atas menggambarkan bahwa marilah kita mendoakan pahlawan-pahlawan yang telah lebih dulu meninggalkan kita, marilah kita kenang sejenak perjuangan mereka dalam melawan negeri tercinta ini.

Bait 9

Ada suara lalu lintas Jakarta gemuruh di balik gedung ini, dan terbayang di mataku berjuta sosok yang tak kita kenal raut wajahnya, tak kita ketahui di mana adresnya, mereka itu dulu telah melepas gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk

perang kemerdekaan,

kata adresnya, gelang, berlian, kalung, cincin dan memecah tabungan, mereka itu yang membelikan senjata dan pesawat terbang untuk perang untuk perang kemerdekaan, meggambarkan bahwa pada saat itu merekalah yang mengorbankan harta benda mereka untuk berjuan melawan penjajahan agar tidak akan merajalela di negeri ini.

Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Kata-kata yang telah disebutkan di atas adalah menggambarkan bahwa para pejuang yang telah membela bangsa ini tidak banyak dikenang lagi oleh kita yang telah merasakan kemerdekaan.

Bait 11 larik 4, 6 dan 7

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Kata dan kalimat pada bait di atas menggambarkan bahwa sejarawan hanya sibuk mencatat siapa saja pejuang yang telah memerdekakan bangsa ini tanpa mengambil banyak pelajaran dari apa yang telah terjadi.

Bait 12

Aku saksikan kepala-kepala cendekia menggeleng perlahan-

lahan. “Yang bisa dengan rasa pasti menjawab,” kata Taufik Abdullah,“sebenarnya sedikit saja”.

Kata cendekia pada bait di atas menggambarkan adanya orang yang cerdas dan masih mempunyai sifat merendahkan diri.

Bait 13 larik 1

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Bait terakhir di atas menggambarkan bahwa penyair merindukan zaman yang seperti zaman dulu di mana persatuan itu sangat melekat pada diri pejuang, tidak ada kesombongan, tidak ada mengharapkan imbalan, hanya tekad yang kuat untuk memerdekakan bangsa ini sampai titik darah penghabisan.

Penyair lebih banyak menggunakan kata dan kalimat denotasi dalam puisi ini dengan maksud agar pembaca lebih komunikatif dalam memahami puisi tersebut.

Kata dan kalimat yang dipilih oleh penyair yang lugas menandakan bahwa penyair tidak suka hal-hal yang terbelit-belit. Penyair lebih menyukai kata atau kalimat yang lugas, tanpa menghadirkan banyak kalimat atau kata yang bermakna ganda. Apalagi penyair dikenal dengan seorang kritikus, walalupun tidak semua karya mengandung kritikan, oleh karena itu penyair lebih menonjolkan kata atau kalimat yang denotasi.

Hal tersebut bukan berarti puisi penyair tidak memiliki nilai estetik, akan tetapi sebuah nilai yang realisitis di dalam puisi itulah dapat menimbulkan nilai estetik pada puisi penyair tersebut.

Berikut adalah konotasi pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja karya Taufik Ismail.

Bait 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

penyair memilih kata berenang dengan maksud mendalami apa yang telah terjadi pada peristiwa bersejarah beberapa tahun silam. Kalimat memetik gugusan

buah pengalaman, dan menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja pada bait di atas tersebut bermaksud menggambarkan bahwa dengan adanya peristiwa bersejarah tersebut penyair dapat mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi, dan dengan adanya peristiwa bersejarah tersebut penyair menyadari bahwa kita manusia yang hidup di zaman kemerdekaan ini tidaklah sebanding dengan masa dulu di mana jiwa persaudaraan itu sangat kuat.

Bait 4 larik 4,5,7

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Bait empat di atas menggambarkan adanya pejuang di masa penjajahan tersebut tidak mengenal siapa mereka, kaya maupun miskin, anak-anak maupun orang dewasa, siapapun mereka yang ada dalam gambaran bait di atas, mereka adalah orang-orang sangat berjasa untuk Negara ini. Mereka dengan tabah melawan penjajahan dengan niat untuk membela negeri tercinta ini.

Bait 11 larik 1,2,3, dan 5

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Kata morfologi keikhlasan pada bait di atas menggambarkan bagaimana seharusnya kita sebagai penerus bangsa ini untuk menumbuhkan nilai-nilai keikhlasan sebagaimana pejuang di masa penjajahan itu, kata marionet dan simfoni pada bait di atas maksudnya adalah zaman sekarang ini di saat banyak masalah yang

terjadi, akan tetapi masih ada saja yang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Kata panggung histori menggambarkan adanya peristiwa sejarah yang terjadi beberapa ratus tahun lahu yang seharusnya kita sebagai penerus bangsa dapat mengambil pelajaran dari perjuangan-perjuangan pejuang kita.

Bait 13 larik 2-7

Sehabis masa yang dua hari ini, inilah yang kurindukan, suatu zaman yang nyanyian bersamanya adalah nyanyian keikhlasan, suatu zaman di mana kecambah ide dan lalu-lintas pikiran disenandungkan dengan nada berbeda-beda tanpa ditekan harus sama semua ukuran panjang, lebar dan warnanya, zaman ketika senyum yang nampak tidak dipasang pada topeng panggung pementasan, zaman dimana sikap bersahaja diperebutkan.

Kata nyanyian keikhlasan, lalu-lintas pikiran, yang terkandung dalam bait puisi di atas menggambarkan bahwa penyair sangat menginginkan kita yang hidup di zaman yang sudah merdeka ini mampu mencontoh pejuang-pejuang kita yang sudah merelakan nyawa mereka untuk memerdekakan bangsa ini tanpa mengharapkan apapun dalam bentuk imbalan, dan bisa dengan ikhlas berbakti pada bangsa dan Negara.

Penyair tidak terlalu banyak menuangkan kata atau kalimat konotasi dalam puisinya karena memang gaya bahasanya penyair seperti itu. Dalam membuat puisi penyair hanya menuangkan sedikit-sedikit saja kata atau kalimat yang konotasi. Hal tersebut mengingat bahwa penyair adalah seorang yang tegas, dan lugas dalam menyampaikan segala sesuatu ke dalam puisi.

Pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja juga terdapat adanya anaphora. Hal tersebut terlihat pada bait puisi di bawah ini.

Bait 1,2 dan 3

Dua hari aku duduk di tribun sebelah kanan, di jenjang atas, bagai menyaksikan sebuah pentas,

Dua hari aku memasang gendang telinga dan menyimak, menggali kembali ingatan pada agresi kedua, 1948 tahunnya,

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Kata dua hari aku, aku dan ku yang terdapat padi tiga bait di atas menggambarkan bahwa penyair menjelaskan secara berulang-ulang apa yang digambarkan. Dua hari adalah waktu yang cukup lama jika kita hanya terfokus mengingat kejadian bersejarah tersebut. Kata aku yang selalu diulang-ulang oleh penyair menggambarkan adanya perasaan penyair bahwa penyair sangat merindukan zaman dimana pejuang bangsa tingkat persatuan mereka sangat kuat. Kata aku dalam bait di atas juga mewakili adanya perasaan bangsa Indonesia yang sangat berharap kepada kita sebagai penerus bangsa agar dapat belajar dengan baik, bisa mengambil hikmah dari kejadian bersejarah. sehingga tidak akan mudah dijajah seperti dulu lagi.

Bait 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

kata mereka dalam bait di atas adalah menggambarkan mereka para pejuang yang dengan rela mengorbankan nyawa untuk membela bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Penyair mengulang kata mereka karena menurut penyair sendiri kata itu sangat penting untuk diulang.

Bait 10

Aku tak pernah tahu nama mereka, aku tak pernah melihat wajah mereka di harian pagi dan sore ibukota, tidak dalam direktori apa siapa, di televisi tak pula muncul dalam acara wawancara, apalagi masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa maupun versi partikelir atawa swasta,

Kata aku tak pernah yang diulang-ulang oleh penyair pada bait di atas menggambarkan bahwa pejuang yang telah gugur akibat melawan penjajah sampai

sekarang tidak banyak dikenang dalam acara pertelevisian, radio, atau media massa.

Rakya Indonesia seakan-akan telah lupa bahwa tanpa mereka kita tidak akan menikmati indahnya kemerdekaan yang telah mereka persembahkan kepada kita sebagai penerus bangsa.

Bait 11

Apa dan bagaimana sebenarnya morfologi keikhlasan yang jadi kerangka semuanya ini? Mengapa berjuta-juta marionet menari dan

melonjak-lonjak dalam suatu simfoni gerakan yang sedemikian ruwet tapi sekaligus akhirnya nampak beraturan di atas

panggung histori, 50, 100, 200 tahun atau lebih waktu pementasannya, lalu para sejarawan sibuk mencatat dan menganalisanya, tapi dapatkah mereka menjawabnya?

Kata-kata pertanyaan yang diulang-ulang penyair di atas menggambarkan perasaan resah, penyair menggambarkan adanya perasaan gelisah karena menyaksikan penerus bangsa Indonesia yang tidak terlalu perduli, dan mengambil hikmah dari pengorbanan yang dilakukan oleh pejuang.

Pada puisi Aku Rindu Pada Zaman yang Ikhlas dan Bersahaja Karya Taufik Ismail juga mengandung epizeuksis seperti bait berikut.

Bait ke- 3

Aku berenang di antara arus kertas, penelitian, bibliografi dan

wawancara, aku memetik gugusan buah pengalaman yang disajikan, kurasa sudah kukenal anatomi dan fisiologi-sukmamu wahai sejarah, tapi ternyata aku baru menepuk-nepuk permukaan lautmu sahaja,

Kata aku yang selalu diulang-ulang penyair dalam puisi tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kata aku tersebut menggambarkan adanya perasaan penyair, atau bisa juga menggambarkan Indinesia saat sekarang ini.

Bait 4

Inilah kesempatan emas bagiku dari atas tribun itu, menatap sosok-sosok pemeran drama 40-an tahun yang silam, mereka yang mendirikan negeriku ini, mereka dahulu cendekia-cendekia yang belia,

pemuda-pemuda yang memahat sebuah Negara, remaja-remaja yang

baru belajar menggenggam laras senjata, operator radio dalam rimba raya, diplomat-diplomat tanpa sertifikat, pelaut tanpa armada,

penerbang yang merindukan sayap-sayap, para pemberani yang tabah menghadapi segala kemiskinan dalam beribu format.

Kata-kata yang diulang-ulang di atas adalah menggambarkan bahwa pada saat itu mereka yang mewakili kata pejuang, mereka adalah orang-orang yang cerdas, pejuang-pejuang yang dengan rela membela bangsa ini dari tangan-tangan penjajah.

Penyair mengulang-ulang kata-kata tersebut karena untuk memperjelas maksud penyair dan menurut penyair sendiri bahwa kata itu penting untuk diulang-ulan.

Bait 5

Aku bayangkan mereka dulu berbadan kurus-kurus, sudut tulang rahang jelas kelihatan, berambut hitam lebat, memakai pomode yang lengket, dan

aku ingat betul mereka bercelana model kedombrangan, Bait 6

Mereka semuanya berani tapi bersikap bersahaja, mereka tidak memikirkan uang dan materi tapi merenungkan dan memperjuangkan pikiran serta ide,

Bait 8

Mari kita tundukan kepala sejenak, pejamkan mata beberapa detik, dan kita bacakan dalam hati Al-fatihah untuk mereka,

kata kita dalam bait di atas adalah kita sebagai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama mengenang, mendoakan mereka yang sudah tidak ada di dunia ini lagi karena telah gugur di medan pertempuran pada peristiwa sejarah tersebut, mari kita

kata kita dalam bait di atas adalah kita sebagai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama mengenang, mendoakan mereka yang sudah tidak ada di dunia ini lagi karena telah gugur di medan pertempuran pada peristiwa sejarah tersebut, mari kita