BAB VIII BENTUK INOVATIF DAN KONSERVATIF DALAM
SISTEM SEGMENTAL DIALEK-DIALEK DI ASAHAN
5.2 Identifikasi Buny
5.2.1 Bunyi Segmental Vokoid BMA, BBT, dan BJW
Bunyi segmental vokoid adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak
mengalami rintangan. Kualitas bunyi vokoid ini ditentukan oleh tiga ocal ,
yaitu tinggi rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, bentuk bibir,
dan menegangkendurnya otot pada saat pembentukan ocal itu (lihat Alwi,
dkk. 2000: 50). Berdasarkan tinggi rendahnya lidah, bunyi vokoid dibedakan representasi fonemis (/…/)
atas bunyi vokoid tinggi, bunyi vokoid tengah, dan bunyi vokoid rendah.
Berdasarkan bagian lidah yang dinaikkan, bunyi vokoid dibedakan atas bunyi
vokoid depan dan bunyi vokoid belakang. Berdasarkan bentuk bibir bunyi
vokoid dibedakan atas bunyi vokoid bundar dan bunyi vokoid takbundar.
Berdasarkan menegangkendurnya otot, bunyi vokoid dibedakan atas bunyi
vokoid tegang dan bunyi vokoid kendur. Dalam kajian ini yang diidentifikasi
adalah bunyi-bunyi bahasa yang secara linguistis signifikan.
Dalam penelitian yang pernah dilakukan terdapat 21 segmen bunyi
vokoid dalam bahasa Melayu Asahan (BMA) yang mencakup dialek
Tanjungbalai dan dialek Batubara, yaitu /a/ dengan derivasinya [a, a, a:, ,
], /i/ dengan derivasinya [I, Ι, i, Ι, ε:], /u/ dengan derivasinya [u,
Υ, u, Υ, o:], /ε/ dengan derivasinya [ε, ε, ε:], // dengan derivasinya [,
, :] (lihat Lubis, Mulyadi, dan Widayati 2002: 18].
Bunyi segmental vokoid DTB dan DBB diidentifikasikan sebagai
berikut:
Tabel 17 Bunyi Segmental Vokoid DTB dan DBB Bunyi Vokoid Contoh DTB Contoh DBB Glos [i] [tali1] [t↔li1] telinga [Ι] [kunΙ1] [kunΙ1] kuning [Ι ] ~ [e:] [pikΙ⊗] [pike:] pikir [i] [bini] [bini] Istri [ Ι] [a1Ιn] [a1Ιn] angin [u] [ba⊗u] [ba⊗u] baru Lanjutan Tabel 17
[Υ] [timbΥl] [timbΥl] apung [u] [kamudi kapal] [kmudi
kapal]
kerang hijau
[Υ] [timΥn] [m↔ntimΥn] timun [Υ ] ~ [o:] [ikΥ⊗] [iko:] ekor [Υ] ~ [o:] [j&mΥ⊗] [j&mo:] jemur
[a] [panca1] [pancaΝ] tiang pengikat sampan [a ] ~ [] [kalap] [klap] kelapa [a ] ~ [a:] [gba⊗] [gba:] selimut [a] [maja1] [maja1] bunga kelapa [a] ~ [a:] [kama⊗] [kama:] kamar
[a] [] [ma1kudu] [m1kudu] mengkudu [a] [] [kaman] [kman] kemana [ε] [glε/] [glε/] berbaring [ε] [mε⊗ah] [mε⊗ah] merah [ε ] ~[ε:] [lεhε⊗] [lεhε:] leher [] [b1a] [b1a] bohong [] [1⊗i] [1⊗i] takut (pada suasana) [] ~ [:] [kt⊗] [kt:] kotor [] ~ [:] [nm⊗] [nm:] nomor
Dari daftar di atas dapat diketahui bahwa pada DTB terdapat empat belas bunyi
segmental vokoid, yaitu [a, a, i, Ι, i, Ι, u, Υ, u, Υ, ε, ε, , ] dan pada DBB terdapat 24 bunyi segmental vokoid, yaitu [a, a, a:, a:, ,
, i, Ι, i, Ι, e:, u, Υ, u, Υ, o:,o:, ε, ε, ε: , , :, :].
Dari hasil penelitian Hasibuan (1979) dan Nababan (1981)
diidentifikasikan bahwa BBT memiliki delapan belas bunyi segmental vokoid,
yaitu [a, a, i, Ι, i, Ι, u, Υ, u, Υ, e, e), ε, ε, o, o), , ]. Bunyi segmental vokoid tersebut didaftarkan sebagai berikut7):
7
) Data untuk deskripsi BBT ini sepenuhnya diambil dari hasil penelitian Antoni Saidi Hasibuan “Deskripsi Bahasa Batak Toba” (skripsi sarjana 1979) dan P.W.J. Nababan, Grammar of Toba-Batak
Tabel 18 Bunyi Segmental Vokoid BBT Bunyi Vokoid Contoh BBT Glos [i] [bti] demikian [Ι] [birΙ1] borok [i] [mirΙΝ] sinting [ Ι] [hunΙ] kuning [u] [jabu] rumah [Υ] [tuΝkt] tongkat [u] [mula] pulang [Υ] [manΥ] ayam [a] [dalan] jalan [a] [Νali] dingin [e] [bege] dengar [e)] [me)dar] hitam [o] [boru] putri [o)] [Νo)lu] hidup [ε] [nuΩaΕΝ] sekarang [ε] [Εmε)] padi [] [gda1] banyak [] [annn] nanti
Dari hasil laporan penelitian Fernandez sebagai koordinator (1995) dan
tulisan Wedhawati dan Syamsul Arifin (2001) diidentifikasikan bahwa BJW memiliki
dua puluh bunyi segmental vokoid, yaitu [a, a, i, Ι, i, Ι, u, Υ, u, Υ, ,
), e, e), ε, ε, o, o), , ]. Bunyi segmental vokoid tersebut didaftarkan sebagai berikut:
Tabel 19 Bunyi Segmental Vokoid BJW
Bunyi Vokoid Contoh BJW Glos [i] [ndΗisΙ] pertama [Ι] [cilΙ] kecil [i] [mi)ri] kemiri [ Ι] [a⎠Ι)s] sangat dingin [u] [kuru] kurus
[Υ] [tΗukΥl] tumbuh [u] [lu⎠u)] licin
[Υ] [umΥ)] sombong [a] [ora] tidak [a] [manΕ)h] lagi [] [karp] kehendak [)] [m)tu] masuk [e] [ema)n] sayang [e)] [me)nc] hinggap [o] [loro] dua [o)] [kono] sana [ε] [kalΕn] selokan [ε] [mΕ)ri] iri
[] [gri] nangka muda [] [lim)] lima
Bunyi segmental [i] muncul pada silabel terbuka; bunyi segmental [Ι] muncul pada silabel tertutup yang bukan didahului bunyi kontoid nasal. Bunyi
segmental [i] muncul pada silabel terbuka yang didahului oleh bunyi kontoid nasal; bunyi segmental [Ι] muncul pada silabel tertutup yang didahului oleh bunyi kontoid nasal. Nasalisasi vokal ini muncul sebagai akibat artikulasi
sekunder. Bunyi segmental [ε:] hanya muncul pada DBB. Bunyi segmental vokoid [e:] ini muncul akibat melemahnya bunyi segmental vokoid tinggi depan
[i] menjadi bunyi segmental vokoid tengah depan. Pemanjangan yang muncul
adalah akibat melemahnya bunyi kontoid velar frikatif [⊗] sehingga lesap menjadi [2]. Pelesapan ini diikuti dengan pemanjangan bunyi segmental vokoid sebagai pengimbangan.
Bunyi segmental vokoid [u] muncul pada pada silabel terbuka,
sedangkan bunyi [Υ] muncul pada silabel tertutup yang tidak didahului oleh bunyi kontoid nasal. Bunyi [u] muncul pada silabel terbuka yang didahului
oleh bunyi kontoid nasal dan bunyi segmental [Υ] muncul pada silabel tertutup yang didahului oleh bunyi kontoid nasal. Nasalisasi vokal ini juga
terjadi karena adanya artikulasi sekunder yang menyebabkan vokal menjadi
nasal. Bunyi vokoid [o:] yang hanya terdapat pada muncul pada silabel terbuka
posisi akhir akibat melemahnya bunyi segmental vokoid tinggi belakang.
Pelemahan ini menurunkan bunyi segmental vokoid ini satu tingkat menjadi
bunyi segmental vokoid tengah belakang. Pemanjangan pada bunyi segmental
vokoid [o:] ini terjadi karena melemahnya bunyi velar frikatif [⊗] dan kemudian lesap. Apabila bunyi segmental itu didahului kontoid nasal dan
ditutup dengan velar frikatif akan muncul vokoid nasal panjang [o:]. Artinya, selain artikulasi primer memegang peran yang mengakibatkan pemanjangan
bunyi, artikulasi sekunder juga berperan membentuk nasalisasi vokal [o)]
Bunyi segmental [a] muncul pada silabel terbuka dan tertutup; bunyi
segmental [a] hanya muncul pada silabel terbuka dan tertutup yang didahului oleh bunyi kontoid nasal; bunyi segmental [a:] yang hanya terdapat pada DBB
terjadi karena lesapnya kontoid velar frikatif [⊗] pada posisi akhir silabel tertutup. Namun, apabila bunyi vokoid [a] itu didahului kontoid nasal, akan
muncul bunyi vokoid nasal panjang [a:]. Bunyi kontoid ini mengalami pelemahan dan kemudian lesap. Lesapnya bunyi kontoid ini diikuti oleh
pemanjangan bunyi vokoid sehingga posisi akhir menjadi silabel terbuka.
lengthening). Bunyi segmental [] juga muncul pada DBB pada posisi awal silabel antepenultima baik terbuka maupun tertutup. Bunyi segmental vokoid
[] ini berkorespondensi dengan [a] pada silabel yang sama dalam DTB. Namun, dalam BJW bunyi segmental [] dapat muncul pada silabel terbuka dan tertutup. Bunyi vokoid [] dalam BJW muncul sesudah kontoid nasal, tetapi dalam DBB bunyi vokoid [] hanya muncul pada silabel antepenultima sesudah bunyi kontoid nasal. Bunyi segmental dalam DBB ini
berkorespondensi dengan bunyi segmental vokoid [a] pada DTB.
Bunyi segmental vokoid [ε] muncul pada silebel terbuka dan tertutup yang tidak diawali bunyi kontoid nasal. Bunyi vokoid [ε] muncul pada silabel terbuka dan tertutup yang diawali bunyi kontoid nasal. Bunyi segmental [ε:] hanya muncul pada DBB adalah akibat lesapnya bunyi kontoid velar frikatif [⊗] pada posisi akhir. Lesapnya bunyi kontoid ini diikuti oleh pemanjangan bunyi
vokoid sehingga posisi akhir menjadi silabel terbuka dan vokoid di depannya
menjadi panjang. Pemanjangan bunyi vokoid ini juga dapat dianggap sebagai
pengimbangan (compensatory lengthening). Bunyi vokoid [e] yang bervariasi
dengan bunyi [Ε] terdapat pada BBT dan BJW. Kedua bunyi vokoid ini terdapat pada silabel terbuka dan tertutup. Bunyi [e)] yang merupakan variasi bunyi [e] hanya muncul sesudah bunyi kontoid nasal.
Bunyi segmental vokoid [] muncul pada silabel terbuka dan tertutup yang tidak didahului bunyi segmental kontoid nasal. Bunyi segmental vokoid
[] muncul pada silabel terbuka dan tertutup yang didahului dengan bunyi segmental kontoid nasal. Akan tetapi bunyi segmental vokoid nasal [:] hanya muncul pada posisi akhir sebelum jeda akibat lesapnya bunyi segemental
kontoid velar frikatif [⊗] pada DBB. Lesapnya bunyi segmental kontoid ini diikuti oleh pemanjangan bunyi segmental vokoid di depannya. Selain itu,
apabila bunyi vokoid ini didahului kontoid nasal akan muncul bunyi nasal
panjang [:].
Nasalisasi vokal yang terjadi dalam DTB, DBB, BBT, dan BJW yang
disebabkan artikulasi sekunder dapat disejajarkan dengan adanya proses
labialisasi vokal seperti [ma⎠usuΩi] ‘menyusui’, [nuwaΕΝ] ‘sekarang’; palatalisasi vokal seperti [paΝki⊗Εϑan] ‘penjemuran’, [baijn] ‘pandan’; dan glotalisasi vokal seperti [maΝgulai] ’menggulai’. Karena, munculnya bunyi- bunyi tersebut akibat artikulasi sekunder, bunyi-bunyi tersebut tidak
digambarkan dalam dalam representasi bunyi segmental vokoid. Yang
digambarkan adalah bunyi segmental yang muncul karena artikulasi primer.
Bunyi segmental vokoid DTB, DBB, BBT, dan BJW digambarkan
dalam Tabel 20 sampai dengan 23 berikut ini.
Tabel 20 Vokoid DTB
Bagian Lidah yang Dinaikkan Depan Belakang
Bentuk Bibir Takbulat Takbulat Bulat Menegang kendurnya otot
Tinggi Rendahnya posisi lidah
Tegang [i], [
i] [u] [u] Tinggi
Tegang Sedang
Kendur [ε] [ε] [] [] Rendah Tegang [a] [a]
Tabel 21 Vokoid DBB
Bagian Lidah yang Dinaikkan Depan Belakang Bentuk Bibir Takbulat Takbulat Bulat Menegang kendurnya otot
Tinggi Rendahnya posisi lidah
Tegang [i], [ i] [u] [u] Tinggi Kendur [Ι] [ Ι] [Υ] [Υ] Tegang [ε:] [] [] [o:] [o:] Sedang Kendur [ε] [ε] [ε:] [] [] [:] [:] Rendah Tegang [a] [a]
[a:] [a:] Tabel 22 Vokoid BBT
Bagian Lidah yang Dinaikkan Depan Belakang Bentuk Bibir Takbulat Takbulat Bulat Menegang kendurnya otot
Tinggi Rendahnya posisi lidah
Tegang [i], [ i] [u] [u] Tinggi Kendur [Ι] [ Ι] [Υ] [Υ] Tegang [ε] [e)] [o] [o] Sedang Kendur [ε] [ε] [] [] Rendah Tegang [a] [a]
Tabel 23 Vokoid BJW
Bagian Lidah yang Dinaikkan Depan Belakang Bentuk Bibir Takbulat Takbulat Bulat Menegang kendurnya otot
Tinggi Rendahnya posisi lidah
Tegang [i], [ i] [u] [u] Tinggi Kendur [Ι] [ Ι] [Υ] [Υ] Tegang [ε] [e)] [] [] [o] [o)] Sedang Kendur [ε] [ε] [] [] Rendah Tegang [a] [a]