• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Respon Kekebalan Unggas

2.3.1 Bursa Fabricius

Bursa Fabricius adalah kelenjar limfoepitelial yang terdapat di dorsal kloaka. Secara umum bursa Fabricius akan mengalami atropi setelah penetasan namun pada beberapa jenis burung tergantung usia (contohnya burung dari genus gallinae) (Freeman 1971). Menurut Davison (2008) bursa Fabricius ayam memiliki bentuk dan ukuran seperti kastanye dan lokasinya diantara kloaka dan sakrum. Saluran bursa yang menyerupai celah menghubungkan dengan lumen bursa. Sebagai diverticulum kloaka, bursa memiliki struktur epitel silindris. Bursa dikelilingi oleh permukaan otot yang tebal dan licin. Selama kontraksi otot, tekanan folikel-folikel memperkuat aliran sel di dalam medula dan aktivitas limfatik di setiap lipatan plika bursa.

Glick (2000) menyebutkan bahwa pertumbuhan bursa Fabricius dapat dipelajari dalam tiga bentuk. Pertama pertumbuhan yang cepat dari ayam baru menetas sampai tiga atau empat minggu. Kedua, periode plateu selama lima atau enam minggu berikutnya. Ketiga, regresi yang terjadi sebelum pematangan seksual.

Pertumbuhan maksimum bursa Fabricius dicapai saat ayam berumur 4-12 minggu dan mengalami regresi secara lengkap pada waktu mencapai kematangan seksual yaitu pada umur 14 – 20 minggu. Pada tahap ini bursa akan mengkerut, terjadi pembentukan jaringan ikat lebih intensif, deretan epitel menjadi berlipat-lipat, parenkimnya digantikan dengan jaringan lemak dan sel-sel limfoid di dalam folikel limfoid digantikan oleh kista (Riddel 1987).

Riddel kembali mengungkapkan struktur bursa Fabricius adalah permukaan dalamnya terdiri dari lipatan longitudinal (plika) besar dan kecil. Lipatan yang besar mencapai keseluruhan dari panjang lumen bursa sedangkan lipatan yang kecil tidak mencapai lumen. Lipatan-lipatan ini terdiri dari folikel bursa dan di bawahnya terdapat matriks jaringan ikat, dari lipatan bursa melalui lumen untuk tiap folikel yang disebut lumen bursa. Jumlah total lipatan mukosa pada bursa yang matang atau dewasa sekitar 10-15 plika (Cross 1987).

Menurut Tizard (1987) bursa adalah organ limfoid primer yang fungsinya sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi bagi sel dari pembentuk antibodi. Karena itu sel ini disebut sel B. Di samping itu, bursa juga berfungsi sebagai organ limfoid sekunder yaitu, dapat menangkap antigen dan membentuk antibodi. Bursa juga mengandung sebuah pusat kecil sel T tepat di belakang lubang salurannya.

Gambaran histopatologi pada bursa Fabricius diantaranya atropi. Akumulasi stres yang tidak spesifik, seperti malnutrisi, manajeman kandang yang buruk, dan infeksi dapat menginduksi atropi prematur dan imunosupresi pada bursa Fabricius. Infeksi virus pada unggas dapat menyebabkan regresi bursa, nekrosis folikel limfoid sampai limfositolisis. Badan inklusi virus baik intranukleus maupun intrasitoplasma dapat ditemukan dalam makrofag dan limfosit. Infeksi bakteri jarang menyerang bursa Fabricius. Namun jika terinfeksi, organ akan membesar dan tidak beraturan serta terdapat abses yang dikelilingi

oleh makrofag dan sel raksasa. Infeksi jamur jarang ditemukan. Peradangan gabungan heterofil, limfosit, sel plasma, makrofag, dan sel raksasa dapat ditemukan pada infeksi jamur. Sedangkan infeksi protozoa akan menyebabkan bursa Fabricius edema. Paparan toxin dapat menyebabkan deplesi limfositik dan limfositolisis. Malnutrisi dan kekurangan vitamin A menyebabkan atropi bursa. Neoplasma atau limfosarkoma pada unggas diinduksi oleh retrovirus (Schmidt 2003).

Gambar 2 Bursa Fabricius: (1) lumen, (2) pseudostratified columnar epitelial, (3) folikel, dan (4) muskularis (sumber: Nassar 2008).

2.3.2 Timus

Timus adalah organ yang sangat penting pada hewan muda. Perkembangannya dimulai dari saat sebelum pubertas sampai dewasa. Ukuran timus akan semakin mengecil seiring dengan pertambahan umur hewan. Pada permukaan timus dapat ditemukan lapisan lemak, elemen fibrosa dan jaringan timus. Timus terbentuk dari kantung faringeal ketiga (Dyce et al. 2002). Menurut Hammond (2005) Pembentukan timus pada masa embrional diinduksi oleh kantong endodermal. Secara anatomis, timus ayam terletak pada sisi kanan dan kiri saluran pernafasan (trakhea). Warnanya pucat kuning kemerah-merahan, bentuknya tidak teratur dan berjumlah 3-8 lobi pada masing-masing leher. Tiap lobus dihubungkan oleh jaringan ikat dan membentuk suatu untaian yang berada dekat dengan vena jugularis (Getty 1975).

Tizard (1987) mengungkapkan bahwa timus tediri dari kortex dan medula. Korteks terdiri dari limfosit dan epitel retikulum. Limfosit T (thymocytes) yang telah meninggalkan sumsum tulang di bagian organ imunitas yang kompeten telah bermigrasi dan menempati korteks. Pada titik ini, limfosit T telah terbagi menjadi sel imun yang jauh lebih kompeten. Pada beberapa bagian lobus akan tampak kegelapan akibat populasi dari sel-sel ini. Sedangkan di dalam medula terdapat benda bulat yang dikenal sebagai badan timus (korpuskulus Hassal) yang fungsinya tidak diketahui. Benda ini mengandung keratin dan mungkin sebagai petunjuk adanya kegagalan keratinisasi oleh sel epitelial. Penyediaan darah ke timus berasal dari arteri yang masuk melalui jaringan ikat pembatas dan menjulur sebagai arteriol sepanjang pertemuan pertemuan kortiko-medula. Kapiler yang terjadi dari arteriol ini memasuki korteks dan melingkar kembali ke medula.

Pada hewan umur muda, timus bersifat sangat aktif yang secara normal mengalami involusi menjelang pubertas dan bertambahnya umur. Proses involusi ditandai dengan berkurangnya secara bertahap limfosit terutama di daerah korteks, pembesaran dari sel-sel epitel retikuler dan parenkim diganti oleh sel lemak. Pada hewan dewasa, timus terdiri dari jalur-jalur tipis parenkim di mana banyak sel-sel epitel retikuler membesar yang dikelilingi jaringan lemak (Dellman 1989).

Histopatologi yang sering terdapat pada timus unggas, diantaranya sistik, atropi, dan neoplasia. Sistik pada timus unggas jarang ditemukan sebagai lesi insidentil. Etiologi sistik tidak diketahui, namun sistik dapat terbentuk dari dilatasi saluran timofaringeal persisten. Pada sistik dapat teramati sel-sel epitel squamosa yang berlapis-lapis sehingga menjadi tebal dan material-material menyerupai koloid. Atropi dicirikan dengan hilangnya populasi limfosit dan hilangnya batas perbedaan antara medula dan korteks. Avian Influenza, virus Marek, serta beberapa virus penyebab IBD (Infectious Bursal Disease) dapat menimbulkan lesi yang serupa pada unggas. Stres akibat nutrisi dan paparan hormon kortison juga dapat menyebabkan atropi.Neoplasia pada timus dapat tumbuh dari sel-sel epitel atau limfosit. Tumor epitelial dapat diklasifikasikan sebagai thymoma sedangkan tumor limfosit diklasifikasikan sebagai lymphosarkoma. Massa tumor dapat terbentuk di semua bagian subkutis leher mulai dari mandibula sampai pangkal dada. Massa dapat berupa sistik dan hemoragi (Schmidt et al. 2003).

Gambar 3 Organ timus terdiri medula dan korteks yang dibungkus oleh kapsula. Setiap lobus timus dihubungkan oleh trabekula (sumber: Bellham 2011).

2.3.3 Limpa

Limpa bangsa burung berbentuk bulat, berstruktur merah kecoklatan yang berada di lambung bagian kanan. Perbedaan dengan limpa mamalia adalah dari struktur anatomi dan fungsinya. Limpa pada ayam memiliki kapsul jaringan ikat yang tebal dan kerangka yang tersusun atas sel retikular. Pulpa merah dan pulpa putih melapisi bagian limpa dengan jumlah yang sama. Pulpa mengisi 80-90% bagian limpa dan sisanya merupakan jaringan penghubung. Pulpa putih membaur dan tidak tampak jelas batas-batasnya. Pulpa putih terdiri dari sel limfoid yang berakumulasi di ujung cabang arteri limpa. Pulpa merah termasuk sinus venosus dan jaringan spons terdiri dari limfosit, sel retikular, makrofag, sel plasma, dan sel darah merah. Perbedaan pulpa merah dan pulpa putih pada ayam kurang jelas jika dibandingkan dengan mamalia. Fungsi dari limpa pada unggas adalah (a) memfagositosis sel darah merah oleh makrofag di pulpa merah, (b) limfositpoiesis di pulpa putih, dan (c) menyerap antigen serta memproduksi antibodi oleh sel limfoid di pulpa merah dan putih. Hal ini dapat dikatakan limpa sebagai gudang penyimpanan darah (Herenda 1996).

Davison et al. (2008) menyatakan setelah proses haematopoiesis selesai maka pulpa merah akan berubah fungsi menjadi penyaring sel-sel eritrosit yang mengalami penuaan. Pengamatan imunohistokimia menunjukkan matriks

ekstraseluler limpa sangat kompleks, dengan setiap bagian memiliki bagian spesifik yang berkontribusi dalam proses adhesi dan migrasi sel-sel leukosit. Sel limfoid dan sel non-limfoid dapat dikenali oleh pulpa merah. Terdapat banyak makrofag pada pulpa merah. Sedangkan sel-sel non-limfoid seperti heterofil tersebar di sinus pulpa merah. Sturkie (2000) berpendapat pulpa putih terdiri atas 3 daerah, yaitu PALS (periarteoral lymphatic sheath), pusat germinal, dan daerah periellipsoid white pulp (PWP). Arteri pusat yang masuk ke PWP menjadi penicilliform capillary (PC). Daerah PC dikelilingi capillary sleeve (CS). CS disulam oleh ellipsoid-associated cell (EAC) yang mengikat beragam substansi yang memasuki CS melalui stomata oleh sel endothelial dari daerah PC. Pada unggas daerah limpa terdiri dari CS yang diselaputi EAC beserta sel B dan makrofag.

Limpa memiliki reaksi dengan antigen. Antigen yang masuk secara intravena akan dijerat paling tidak sebagian, di dalam limpa yang diambil oleh makrofag baik yang terdapat di zona pembatas maupun yang membatasi sinusoid pulpa merah. Sel ini membawa antigen ke folikel primer dalam pulpa putih, setelah itu sel penghasil antibodi akan bermigrasi. Sel penghasil antibodi ini menempati zona pembatas dan pulpa merah, dan di daerah inilah produksi antibodi ini pertama kali ditemukan. Pembentukan pusat germinal juga terjadi dalam folikel primer dalam beberapa hari, walaupun hal ini tidak langsung berkaitan dengan produksi antibodi. Pada hewan yang sudah memiliki antibodi yang bersirkulasi, penjeratan antigen oleh sel dendrit dalam folikel sekunder menjadi penting. Seperti halnya pada tanggap kebal primer, sel penghasil antibodi berpindah dari folikel ini menuju ke pulpa merah dan zona pembatas, tempat sebagian besar produksi antibodi berlangsung, walaupun sebagian antibodi bisa juga diproduksi di dalam folikel sekunder yang hiperplastik (Tizard 1987).

Atropi dan pembesaran limpa sulit untuk dibedakan dengan ukuran normal organ. Atropi dapat disebabkan oleh beberapapa mekanisme seperti hemosiderosis, usia yang sudah tua, kelainan sekresi, dan kelanjutan dari kongesti. Kongesti pada limpa merupakan hal yang umum dan dapat terlihat adanya akumulasi darah yang berwarna gelap saat diinsisi. Penyebab yang paling sering adalah akibat ethanasia dengan barbituat. Kongesti juga dapat ditemukan pada

anemia hemolitik dengan eritrosit yang mengalami retensi dalam pulpa merah. Pembesaran limpa dengan berbagai alasan cenderung berakibat thrombosis dan infark. Adanya diskret pada nodul yang muncul saat permukaan limpa diinsisi merupakan indikasi dari hiperplasia limfoid benign nodular (Carlton dan McGavin 1995).

Menurut Schimidt et al. (2003) penyakit viral yang sering menyerang organ limpa unggas adalah Avian Polyomavirus, Herpesvirus, dan Avipoxvirus. Akibat agen ini, limpa unggas mengalami pembesaran atau splenomegali. Ayam merupakan reservoir terbesar Salmonella khususnya Salmonella thypimurium yang menyebabkan splenomegali dan infiltrasi limfosit, makrofag, dan heterofil. Penyakit degeneratif yang biasa menyerang limpa adalah amiloidosis. Hal ini disebabkan substansi protein yang bersifat patologis dan menjadi deposit di jaringan serta organ. Umumnya limpa akan tampak pucat dan padat jika diinsisi. Sedangkan karsinoma metastatik jarang ditemukan pada organ ini.

Gambar 4 Limpa ayam: (1) kapsula, (2) pulpa merah, (3) pulpa putih, (4) arteri, dan (5) nodul limfatik (sumber: Nassar 2008).

2.4 Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan bagian dari hormon steroid yang diproduksi di korteks adrenal. Kortikosteroid memiliki peran yang luas dalam sistem fisiologis seperti respon stres, respon imun, dan regulasi dalam proses inflamasi, metabolisme karbohidrat, katabolisme protein, pengaturan level elektrolit darah

dan tingkah laku. Glukokortikoid dan mineralkortikoid merupakan jenis dari kortikosteroid. Glukokortikoid contohnya kortisol berfungsi untuk mengatur metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu, kortisol juga berperan sebagai anti inflamasi dengan mencegah pelepasan phospholipid, mengurangi kerja eosinofil dan beberapa mekanisme lainnya. Sedangkan mineralkortikoid contohnya aldosteron yang mengatur kadar air dengan menaikkan sodium di ginjal (Kansky et al. 2000).

Kansky juga mengungkapkan struktur dasar kortikosteroid terdiri dari 21 cincin atom-karbon sterol. Aktivitas dari kortikosteroid meningkat dengan adanya ikatan tak jenuh antara dua atom karbon pertama. Kortikosteroid yang pertama kali dibuat untuk kepentingan klinis tidak mengandung halogen. Halogenisasi dari struktur dasar steroid posisi 9 alpha tidak hanya dapat meningkatkan aktivitas tapi juga meningkatkan efek samping.

Menurut Suherman (1987) kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel jaringan yang responsif melalui membran plasma secara difusi pasif, kemudian bereaksi dengan reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan konformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sisntesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologis steroid.

Gambar 5 Konfigurasi dasar kortikosteroid (sumber: Kansky 2000)

Prednisone merupakan glukokortikoid sintetis yang memiliki kekuatan 4 kali lebih poten dibandingkan glukokortikoid alami yang diproduksi dalam tubuh. Tubuh yang terpapar stres akan menstimuli hipotalamus untuk memproduksi CRH (Corticotropin Realeasing Hormon). CRH akan memberi sinyal kepada pituitari

anterior untuk memproduksi ACTH, yang kemudian merangsang korteks adrenal untuk menseksresikan hormon glukokortikoid. Glukokortikoid dalam tubuh diantaranya akan mempengaruhi organ hati, otot, lemak dan limfosit (Bowen 2006).

Glukokortikoid menyebabkan deplesi limfosit melalui mekanisme apoptosis (programme cell death). Prinsip dari mekanisme ini adalah reseptor glukokortikoid yang terdapat pada sitoplasma sel akan aktif saat menempel dengan ligan. Saat berikatan, dalam sel akan terjadi peristiwa beruntun yang melibatkan beberapa senyawa protein yang akhirnya akan menyebabkan sel mengalami apoptosis. Peristiwa ini disebut cascade. Reseptor yang berikatan dengan ligan akan menempuh 2 jalan, yakni genomik dan non-genomik. Genomik terjadi saat ikatan reseptor-ligan merangsang gen dalam sel untuk memproduksi senyawa pro-apoptosis yang kemudian akan bereaksi dalam membran mitokondria. Sitokrom akan keluar dari mitokondria dan mengaktivasi enzim caspase yang akan menginduksi apoptosis. Sedangkan jalur non-genomik terjadi tanpa ada rangsangan perubahan gen. Namun pada mekanisme ini diketahui terdapat protein Bcl-2 dan Bcl-xL yang merupakan senyawa anti-apoptosis yang dalam keadaan tertentu akan menghambat kerja protein pro-apoptosis (Schlossmaker et al. 2011).

2.4.1 Terapi Kortikosteroid dan Efeknya

Kortikosteroid merupakan derivat dari kolesterol, termasuk Prednisone, Prednisolone, dan Methylprednisolone. Agen inflamasi poten ini menimbulkan efek yang bervariasi yaitu mereduksi jumlah dan aktivitas dari sel-sel sistem imun. Senyawa kortikosteroid digunakan untuk terapi anti-inflamasi (Kuby 1992).

Suherman (1987) berpendapat bahwa penggunaan klinik kortikosteroid sebagai anti inflamasi merupakan terapi paliatif, dalam hal ini penyebab penyakit tetap ada hanya gejalanya yang dihambat. Sebenarnya hal inilah yang menyebabkan obat ini banyak digunakan untuk berbagai penyakit, bahkan sering disebut life saving drug, tetapi juga kadang-kadang dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Karena gejala inflamasi ini sering digunakan sebagai dasar evaluasi terapi inflamasi, maka pada penggunaan glukokortikoid kadang-kadang terjadi masking effect, dari luar penyakit nampak sudah sembuh tetapi infeksi di dalam dapat terus menjalar.

Salah satu indikasi klinis utama dari kortikosteroid adalah efek anti inflamasinya. Kortikosteroid memiliki kemampuan untuk memblok enzim phospolipase, yang menimbulkan reaksi pembentukan prostaglandin, mediator utama dari respon imun. Kortikosteroid juga menjaga sel dari trauma inflamasi dengan beberapa mekanisme, diantaranya menstabilkan membran sel untuk mencegah perombakan, menstabilkan membran lisosom sehingga tidak melepaskan enzim rasa sakit, menghentikan sintesis histamin, menghambat sintesis interleukin, dan mengurangi proses eksudasi (Wanamaker dan Massey 2004).

Efek samping lokal penggunaan kortikosteroid, antara lain atropi kulit, eritema persisten, teleangiektasia, papula, dan pustula, steroid acne, gluteal granuloma, hipertrichosis, perubahan pigmentasi, dan alergi. Sedangkan efek samping sistemiknya adalah ketidakseimbangan elektrolit, diabetes steroid, peningkatan katabolisme protein, hipertensi arteri, dan osteoporosis (Kansky 2000).

Terapi kortikosteroid menyebabkan menurunnya jumlah limfosit sebagai induksi dari lisisnya limfosit (lympholisis). Seperti hormon steroid lainnya, kortikosteroid bersifat lipofilik dan dapat menembus membran plasma dan

berikatan pada reseptor dalam sitosol. Kortikosteroid juga dapat mereduksi kemampuan makrofag dan netrofil untuk memfagositosis benda asing. Efek inilah yang memberikan kontribusi dalam aksi anti-inflamasi kortikosteroid. Selain itu, kortikosteroid juga mereduksi kemotaksis, hal inilah yang membuat beberapa sel inflamasi tertarik oleh aktivasi sel TH. Ekspresi dari molekul MHC II dan IL-1 yang diproduksi oleh makrofag otomatis juga akan tereduksi. Akhirnya kortikosteroid juga akan menstabilisasi membran lisosom dari leukosit, sehingga terjadi penurunan level dari enzim lisosom dilepaskan pada situs inflamasi (Kuby 1992).

Forbes dan Altman (1998) berpendapat bahwa pada unggas kortikosteroid dapat menjadi terapi untuk lesio polifolikuler. Lesi ini mengakibatkan pruritus. Pemberian kortikosteroid atau NSAID, agen inflamasi dapat menghilangkan pruritus. Sedangkan Tully (2000) berpendapat pemberian obat topikal pada unggas harus diwaspadai dan tidak boleh terlalu banyak pemberiannya. Obat ini dapat melekat di bulu dan akan termakan oleh unggas saat unggas melicinkan bulunya dengan paruh sehingga berdampak toksisitas. Kortikosteroid topikal perlu diwaspadai penggunaannya. Banyak dilaporkan terjadi kematian setelah penggunaan kortikosteroid.

Prednisolone, salah satu golongan kortikosteroid yang digunakan untuk penyakit rematik. Dosis rendah Prednisolone dapat menyebabkan kerusakan persendian. Efek paling serius paparan kortikostreoid adalah penekanan pitutari-adrenal. Kelenjar adrenal akan mengalami atropi lalu kehilangan kemampuan untuk memproduksi kortikosteroid alami. Tubuh tidak akan dapat bertahan menghadapi stres sehingga tubuh akan selalu berada di bawah cekaman. Anti-inflamasi kortikosteroid menurunkan fungsi imun. Respon infeksi akan meningkat seiring dengan berkurangnya jumlah limfosit. Berbagai infeksi seperti tuberkulosis akan mudah menyebar bahkan sebelum terdiagnosa (Thorp 2008).

2.4.2 Residu Hormon Steroid pada Manusia

Agen anabolik digunakan pada ternak untuk meningkatkan pertumbuhan. Terdapat dua macam steroid, yaitu steroid yang terdapat dan disintesis dalam tubuh (steroid endogenus) dan steroid yang berasal dari luar tubuh (steroid

eksogenus). Steroid eksogenus mengandung ester dari steroid endogenus, contohnya estradiol benzoat dan testosteron propionat. Senyawa-senyawa ini akan masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Steroid yang terkonsumsi manusia memiliki kecenderungan akan menganggu produksi endokrin. Mengkonsumsi daging yang terpapar senyawa ini meningkatkan level hormon dalam tubuh manusia. Akumulasi steroid eksogenus dalam tubuh akan berselisih dengan steroid endogenus dalam 3 cara. Pertama, aktivitas biologis steroid eksogenus akan lebih kuat dibanding steroid endogenus. Kedua, steroid eksogenus dimetabolis secara berbeda, dan ketiga, steroid eksogenus akan memberikan efek berbeda dibanding steroid endogenus (Zeliger 2011).

Hormon steroid diberikan pada ayam dengan tujuan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Selain itu hormon ini juga dapat meningkatkan massa otot ayam sebelum disembelih. Hal ini membantu peternak untuk meningkatkan keuntungan dan mempercepat panen ayam broiler tanpa mengeluarkan banyak biaya. Namun kandungan hormon steroid tersebut masih terdapat pada daging ayam bahkan setelah proses pemasakan, artinya saat mengkonsumsi, manusia akan terpapar oleh hormon ini dan menimbulkan efek negatif pada tubuh konsumen (Ankeny 2011).

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan Pasal 58 ayat 1 menyebutkan bahwa dalam rangka menjamin produk hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal, Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya melaksanakan pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi, dan registrasi produk hewan.

Akumulasi senyawa steroid dalam daging berpotensi menimbulkan efek yang buruk bagi manusia selaku konsumen. Efek yang ditimbulkan mencangkup gangguan pertumbuhan, reproduksi, dan imunitas, seperti imunotoksisitas, genotoksisitas, dan karsinogenisitas (Addis et al. 1999). Menurut Gandhi dan Snedeker (2003) beberapa steroid sintetis, contohnya diethylstilbestrol (DES), ditemukan dapat meningkatkan resiko kanker vagina. Paparan hormon steroid yang berkepanjangan juga dapat meningkatkan resiko kanker payudara. Hormon steroid yang terdapat pada makanan dilaporkan menyebabkan pubertas yang lebih

cepat pada anak-anak perempuan. Sedangkan studi lain di Italia menunjukkan bahwa residu hormon steroid pada daging sapi dan ayam dinilai dapat menyebabkan pembesaran payudara baik pada anak perempuan maupun anak laki-laki.

3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Fasilitas Kandang Percobaan FKH IPB, Laboratorium Histopatologi, dan Laboratorium Photo, Bagian Patologi Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi (KRP), Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Waktu penelitian berlangsung dari bulan September 2009 sampai dengan bulan Februari 2010.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 30 ekor ayam broiler berumur 1 hari (DOC).

2. Bahan imunosupressan kortikosteroid yaitu Prednisone (3 mg/Kg BB) (Jamin 2011).

3. Vaksin Newcastle Disease (ND) strain La-Sota dan vaksin Gumboro (IBD) yang merupakan vaksin aktif

4. Vitamin, antibiotik, dan ransum dari produk komersil serta air yang diberikan secara ad libitum

5. Kebutuhan sanitasi kandang, diantaranya air bersih isi ulang, deterjen, insektisida, formalin 10%, dan enilconalone 15 % konsentrasi (150 g/L) sebagai fungisida.

6. Sekam

7. Bahan nekropsi dan pembuatan preparat histopatologi, yaitu larutan buffer netral formalin (BNF) 10%, alkohol dengan konsentrasi bertingkat (70%, 80%, 90%, alkohol 95%, dan alkohol absolut), larutan penjernih (xylol), parafin granul histoplast dengan titik leleh 56-57 0C, pewarna Meyer’s

Hematoksilin, Eosin dan lithium karbonat.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Alat pemeliharaan ayam seperti kandang, timbangan, dan syringe

3. Alat pembuatan preparat histopatologi Autotechnic Tissue Processor, mikrotom, paraffin embedding console, tissue cassette, waterbath, pisau mikrotom, gelas objek, gelas penutup, inkubator, spidol dan label.

4. Mikroskop cahaya untuk mengamati preparat histopatologi, digital eye piece camera beserta seperangkat komputer untuk mengambil gambar jaringan

5. Software Image J® for Microsoft Windows® untuk menghitung dan mengukur jaringan.

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Tahap Persiapan Kandang

Langkah-langkah persiapan kandang sebelum dimulai penelitian, adalah: 1. Kandang disemprot dengan menggunakan air bersih dan dibersihkan dari

limbah ternak sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 kali agar kandang benar-benar bersih.

2. Kandang disemprot deterjen dan insektisida dengan komposisi 200 l air ditambah insektisida 500 ml dan 1 kg deterjen.