• Tidak ada hasil yang ditemukan

c. Pengumuman Putusan Pidana oleh Hakim

Dalam dokumen PERSADA RAJAGRAFINDO (Halaman 119-124)

Pengumuman putusan pidana oleh hakim senantiasa diucapkan di muka umum, tetapi bila dianggap perlu, di samping sebagai pidana tambahan, putusan tersebut akan langsung disiarkan sejelas-jelasnya dengan cara yang ditentukan oleh hakim, misalnya melalui:

1) televisi;

2) radio;

3) surat kabar, dan lain-lain.

Semuanya itu atas biaya orang yang dihukum yang dapat dipandang sebagai suatu pengecualian karena pada umumnya penyelenggaraan hukuman itu harus dipikul oleh negara.

Dalam pengumuman putusan pidana menurut Pasal 93 Rancangan KUHP Tahun 2019, sebagai berikut:

(1) Jika dalam putusan pengadilan diperintahkan supaya putusan diumumkan, harus ditetapkan cara melaksanakan pengumuman tersebut dengan biaya yang ditanggung oleh terpidana.

(2) Jika biaya pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dibayar oleh terpidana, maka diberlakukan ketentuan pidana pengganti untuk pidana denda.

Pidana Bersyarat

Pidana bersyarat (voorwaardelijke veroordeling) terdapat pada Pasal 14 KUHP. Pidana bersyarat adalah suatu pemidanaan yang pelaksanaannya oleh hakim digantungkan pada syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan dalam putusan hakim.

RAJAGRAFINDO

PERSADA

Ketentuan tentang pidana bersyarat itu terdapat pada Pasal 14a sampai dengan f KUHP diwaris dari Belanda, tetapi dengan per-kembangan zaman telah terdapat perbedaan antara keduanya. Ketentuan tentang pidana bersyarat masih tetap terikat pada Pasal 10 KUHP, hanya batas pidana itu tidak akan lebih satu tahun penjara atau kurungan.

Pasal 14c KUHP menyatakan bahwa apabila hakim menjatuhkan pidana penjara paling lama atau pidana kurungan, dalam putusannya hakim dapat memerintahkan bahwa pidana tidak usah dijalani, kecuali jika di kemudian hari ada putusan hakim yang memang lain disebabkan karena terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan yang ditentukan dalam perintah tersebut di atas habis atau karena terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus yang ditentukan dalam perintah itu.

Pidana bersyarat juga dapat diberikan karena pidana denda apabila hakim, yakin bahwa pembayaran denda betul-betul dirasakan berat oleh terpidana.

Berdasarkan Pasal 14c ayat (1) di atas pidana bersyarat dapat diadakan apabila hakim menjatuhkan pidana paling lama 1 tahun/

pidana kurungan.

Jadi, yang menentukan bukanlah pidana penjara yang diancamkan, melainkan pidana penjara yang dijatuhkan pada terdakwa. Terpidana yang diberikan pidana bersyarat haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu sebagai berikut:

a) Syarat umum

Terpidana bersyarat tidak akan melakukan delik apa pun dalam waktu yang ditentukan.

b) Syarat khusus

Syarat ini ditentukan oleh hakim. Di samping itu juga, dapat ditentukan syarat khusus lainnya mengenai tingkah laku terpidana yang harus dipenuhi selama masa percobaan/selama sebagian masa percobaan.

Bilamana syarat umum dan khusus tidak dipenuhi, berdasarkan Pasal 14f ayat (1) KUHP hakim atas usul pejabat yang berwenang menyuruh menjalankan putusan dapat diperintahkan supaya putusan

RAJAGRAFINDO

PERSADA

pidana dapat dijalankan/memerintahkan supaya atas namanya diberikan peringatan kepada terpidana.

Masa percobaan dimulai sejak putusan tersebut mulai ditetapkan dan telah diberitahukan kepada terpidana menurut tata cara yang ditentukan oleh undang-undang. Berdasarkan Pasal 14b ayat (3) KUHP masa percobaan tidak dihitung selama terpidana berada pada tahanan sementara.

Dalam praktiknya, pengawasan oleh jaksa ini tidak berjalan semestinya dan seakan-akan pengawasan hanya bersifat formalitas belaka. Dalam organisasi kejaksaan negeri, tidak ada bagian khusus menangani pidana bersyarat yang sangat penting itu. Setelah perjanjian antara terpidana dan jaksa, seakan-akan masalah telah selesai. Akan tetapi, jaksa dapat juga memerintahkan kepada lembaga yang berbentuk badan hukum atau kepada pimpinan suatu rumah penampungan atau kepada pejabat tertentu supaya memberi bantuan kepada terpidana dalam memenuhi syarat-syarat khusus. Menurut Pasal 14 KUHP, selanjutnya pidana bersyarat itu diatur dengan undang-undang. Undang-undang yang dimaksud adalah Sbld. 1926 No. 251 jo 486, berlaku mulai Januari 1927, diubah dengan Sbld. 1934 No. 172.

Rancangan KUHP Tahun 2019 menggunakan istilah “pidana pengawasan” untuk menggantikan istilah “pidana bersyarat”. Pidana pengawasan diatur dalam Pasal 75, Pasal 76, dan Pasal 77. Ketentuan dalam Pasal 75 menyebutkan bahwa:

“Terdakwa yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dapat dijatuhi pidana pengawasan dengan tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52, Pasal 54, dan Pasal 70”.

Pengaturan pelaksanaan pidana pengawasan sebagaimana tercantum dalam Pasal 76 sebagai berikut:

(1) Pidana pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dijatuhkan paling lama sama dengan pidana penjara yang diancamkan yang tidak lebih dari 3 (tiga) tahun.

(2) Dalam putusan pidana pengawasan ditetapkan syarat umum, berupa terpidana tidak akan melakukan tindak pidana lagi.

(3) Selain syarat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dalam putusan juga dapat ditetapkan syarat khusus, berupa:

RAJAGRAFINDO

PERSADA

a. terpidana dalam waktu tertentu yang lebih pendek dari masa pidana pengawasan harus mengganti seluruh atau sebagian kerugian yang timbul akibat tindak pidana yang dilakukan; dan/atau

b. terpidana harus melakukan atau tidak melakukan sesuatu tanpa mengurangi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan berpolitik.

(4) Dalam hal terpidana melanggar syarat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2), terpidana wajib menjalani pidana penjara yang lamanya tidak lebih dari ancaman pidana penjara bagi tindak pidana itu.

(5) Dalam hal terpidana melanggar syarat khusus tanpa alasan yang sah, jaksa berdasarkan pertimbangan pembimbing kemasyarakatan mengusulkan kepada hakim agar terpidana menjalani pidana penjara atau memperpanjang masa pengawasan yang ditentukan oleh hakim yang lamanya tidak lebih dari pidana pengawasan yang dijatuhkan.

(6) Jaksa dapat mengusulkan pengurangan masa pengawasan kepada hakim jika selama dalam pengawasan terpidana menunjukkan kelakuan yang baik, berdasarkan pertimbangan pembimbing kemasyarakatan.

(7) Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara dan batas pengurangan dan perpanjangan masa pengawasan diatur dengan peraturan pemerintah.

Kemudian, dijelaskan pada Pasal 77 dengan ketentuan sebagai berikut:

(1) Jika terpidana selama menjalani pidana pengawasan melakukan tindak pidana dan dijatuhi pidana bukan pidana mati atau bukan pidana penjara, pidana pengawasan tetap dilaksanakan.

(2) Jika terpidana dijatuhi pidana penjara, maka pidana pengawasan ditunda dan dilaksanakan kembali setelah terpidana selesai menjalani pidana penjara.

Seperti halnya dalam pemidanaan, pidana bersyarat atau dalam Rancangan KUHP dikenal dengan pidana pengawasan memiliki faktor-faktor yang dijadikan pedoman dalam penjatuhannya, yaitu sebagai berikut:

a) Pelaku belum pernah melakukan tindak pidana sebelumnya.

b) Terdakwa masih sangat muda.

RAJAGRAFINDO

PERSADA

c) Tindak pidana yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

d) Terdakwa tidak menduga bahwa tindak pidana yang dilakukannya akan menimbulkan kerugian besar.

e) Terdakwa melakukan tindak pidana disebabkan atas hasutan orang lain yang dilakukan dengan intensitas yang besar.

f) Terdakwa memiliki alasan-alasan yang cukup kuat yang cenderung dapat dijadikan dasar memaafkan perbuatannya.

g) Korban tindak pidana mendorong terjadinya tindak pidana tersebut.

h) Terdakwa telah membayar ganti rugi atau akan membayar ganti rugi kepada si korban atas kerugian-kerugian atau penderitaan-penderitaan akibat perbuatannya.

i) Tindak pidana tersebut merupakan akibat keadaan-keadaan yang tidak mungkin terulang lagi.

j) Kepribadian dan perilaku terdakwa meyakinkan bahwa ia tidak akan melakukan tindak pidana lain.

k) Pidana perampasan kemerdekaan akan menimbulkan penderitaan yang berat, baik bagi terdakwa maupun keluarga.

l) Terdakwa diperkirakan dapat menanggapi dengan baik pembinaan yang bersifat nonkonstitusional.

m) Tindak pidana terjadi pada pihak keluarga.

n) Tindak pidana terjadi karena kealpaan.

o) Terdakwa sudah sangat tua.

q) Khusus terdakwa di bawah umur hakim kurang yakin dengan kemampuan orangtua untuk mendidik.

RAJAGRAFINDO

PERSADA

A. Asas-asas dalam Sistem Pembinaan Pemasyarakatan

Dalam dokumen PERSADA RAJAGRAFINDO (Halaman 119-124)