BAB 7
RAJAGRAFINDO
PERSADA
dalam hukum pidana formil adalah aturan mengenai ketentuan hukum acara yang meliputi penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan pengadilan, dan lain sebagainya. Mengenai hukum pidana formil yang dikenal juga dengan hukum acara pidana, oleh Wirjono Prodjodikoro dikatakan bahwa hukum acara pidana berhubungan erat dengan adanya hukum pidana. Oleh karena itu, hukum acara pidana merupakan suatu rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa, yaitu kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan negara dengan mengadakan hukum pidana.135 Hukum pidana formil saat ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dan lain sebagainya.
Hukum pelaksanaan pidana sebagai bagian dari hukum pidana mengatur bagaimana pelaksanaan pidana terhadap seluruh jenis sanksi pidana yang ditetapkan hukum pidana materiil. Kebijakan formulasi saat ini menunjukkan KUHP sebagai induk hukum pidana telah menetapkan jenis sanksi pidana yang dapat dijatuhkan terhadap setiap tindak pidana dalam Pasal 10 KUHP yang berbunyi sebagai berikut:136
1. Pidana pokok, terdiri dari:
a. pidana mati;
b. pidana penjara;
c. pidana kurungan;
d. pidana denda;
e. pidana tutupan (berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1946 tentang Hukuman Tutupan).
135Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Pidana di Indonesia (Jakarta: Sumur Bandung, 1967), hlm. 13.
136Lihat Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm. 5-6.
RAJAGRAFINDO
PERSADA
2. Pidana tambahan, terdiri dari:
a. pencabutan hak-hak tertentu;
b. perampasan barang-barang tertentu;
c. pengumuman putusan hakim.
Aturan pelaksanaan berbagai jenis sanksi pidana tersebut ditetapkan dalam hukum pelaksanaan pidana. Berbeda dengan kebijakan formulasi hukum pidana materiil dan formil yang mengenal adanya kodifikasi, dalam hukum pelaksanaan pidana tidak demikian. Hukum pelaksanaan pidana tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP);
2. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP);
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1946 tentang Hukuman Tutupan;
4. Perpu No. 18 Tahun 1960 tentang Perubahan Jumlah Hukuman Denda dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan dalam Ketentuan-Ketentuan Pidana Lainnya yang Dikeluarkan Sebelum Tanggal 17 Agustus 1945, sebagaimana telah ditetapkan menjadi undang-undang berdasarkan UU No. 1 Tahun 1961 tentang Penetapan Semua Undang-Undang Darurat dan Semua Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang Sudah Ada Sebelum Tanggal 1 Januari 1961 Menjadi Undang-Undang;
5. Undang-Undang Nomor 2 Pnps Tahun 1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati yang Dijatuhkan oleh Pengadilan di Lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Militer;
6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan;
7. Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi jo Undang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi;
8. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1948 tentang Rumah Tutupan;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan kepada Saksi dan Korban;
11. dan lain sebagainya.
RAJAGRAFINDO
PERSADA
B. Hukum Penitensier dalam Perspektif Perbandingan Hukum Penitensier
Perbandingan hukum pidana merupakan bagian dari cara memahami nilai, asas, dan norma hukum pidana yang terdapat dalam berbagai sistem hukum pidana. Barda Nawawi Arief mengemukakan:
“Perbandingan hukum sebagai suatu metode mengandung arti bahwa ia merupakan suatu cara pendekatan untuk lebih memahami suatu objek atau masalah yang diteliti. Oleh karena itu, sering digunakan istilah metode perbandingan hukum.”137 Di sini terlihat perbandingan diletakkan sebagai metode. Perbandingan hukum pidana dapat dikatakan sebagai “pupuk” yang dapat menumbuhkembangkan hukum nasional. Bahkan Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji mengemukakan setiap kegiatan ilmiah lazimnya menerapkan metode perbandingan.138
Penggunaan perbandingan hukum pidana dalam rangka memahami suatu masalah tertentu dalam hukum pidana menjadi penting untuk dilakukan mengingat “kejahatan” sebagai fenomena yang universal sebagaimana dikatakan oleh Seiichiro Ono.139 Berbagai konferensi dan konvensi internasional yang berkenaan dengan masalah kejahatan menjadi dasar perbandingan hukum pidana sehingga memiliki peran penting.
Salah satu masalah dalam hukum pelaksanaan pidana yang dapat dikaji menggunakan perbandingan hukum pidana adalah mengenai
“kodifikasi” hukum pelaksanaan pidana. Hal ini menarik untuk dilakukan karena condition existing kebijakan legislatif di Indonesia saat ini sehingga tidak terdapat kodifikasi hukum pelaksanaan pidana.
Terdapat banyak negara yang memiliki kodifikasi hukum pelaksanaan pidana. Artinya, banyak negara yang bukan hanya memiliki penal code dan code penal procedure, melainkan juga memiliki penal code execution. Di dalam praktik legislasi di berbagai negara, tidak hanya
137Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana (Jakarta: RajaGrafindo, 2011), hlm. 5.
138Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 81.
139Department of Economic and Social Affairs, “Fourt United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders”, Kyoto, Japan, 17-26 August 1970, hlm. 7.
RAJAGRAFINDO
PERSADA
ada KUHP dan KUHAP, tetapi juga ada Kitab Undang-Undang Hukum Pelaksanaan Pidana (KUHPP).
Berbagai negara yang memiliki KUHPP sebagai kodifikasi hukum pelaksanaan pidana, antara lain: Tajikistan, Norwegia, Kosovo, Federasi Bosnia dan Herzegovina, Croatia, Iceland, Estonia, Serbia, Republic of Macedonia, Georgia, Turki, Sarajevo, dan lain sebagainya. Tulisan ini mencoba mengetengahkan beberapa penal code execution di atas dalam uraian di bawah ini.
1. Republik Tajikistan
Konstitusi Republik Tajikistan menetapkan The Fundamentals of the Constitutional System yang menempatkan Tajikistan sebagai negara demokrasi sekaligus nomokrasi. Hal tersebut jelas disebutkan dalam Pasal 1 Konstitusi Republik Tajikistan. Tajikistan sebagai negara yang law based berimplikasi bahwa segala sesuatu harus berdasarkan atas hukum.
Dalam penanggulangan kejahatan, diciptakan beberapa regulasi tentang kejahatan (laws on crime) sebagai pedoman bagi aparat penegak hukum, antara lain Criminal Code of the Republic of Tajikistan (KUHP Tajikistan), Code of Penal Procedure of the Republic of Tajikistan (KUHAP Tajikistan), dan Criminal Executive Code of the Republic Tajikistan (KUHPP Tajikistan).
Secara umum KUHPP Tajikistan terdiri dari dua bagian/buku.
Buku I berisi mengenai General Part dan Buku II mengenai Special Part.
Pada Bagian I dapat dikatakan memuat ketentuan dan prinsip umum dalam hukum pelaksanaan pidana. Pada bagian ini terdapat ketentuan umum, status hukum orang yang dipidana, serta lembaga dan badan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pidana dan pengawasan terhadap kegiatan yang mereka (lembaga atau badan) tersebut lakukan.
Pada Bab I Ketentuan Umum terdapat 14 pasal, yaitu Pasal 1-14.
KUHPP Tajikistan didasarkan pada Konstitusi Republik Tajikistan.
Sumber hukum pelaksanaan pidana di Republik Tajikistan terdiri atas Criminal Executive Code of the Republic Tajikistan (KUHPP) dan peraturan perundang-undangan di luar KUHPP. Hal ini tegas disebutkan di dalam Pasal 1 ayat (1) KUHPP Tajikistan: “The criminal executive legislation of the Republic of Tajikistan is based on the Constitution of the Republic of Tajikistan and consists of the present code and other laws”. Dalam bab ini juga dirumuskan hasil yang ingin dicapai oleh hukum pelaksanaan pidana. Hal tersebut dirumuskan dalam ‘the goals of the criminal executive legislation of the Republic
RAJAGRAFINDO
PERSADA
of Tajikistan’, yaitu memperbaiki terpidana dan mencegah dilakukannya kejahatan, baik dilakukan oleh terpidana maupun orang lain.
Hal menarik lainnya yang terdapat dalam Bagian I KUHPP Tajikistan adalah beberapa prinsip umum hukum pelaksanaan pidana yang tegas dirumuskan sebagai berikut: