b. Menurut Rancangan KUHP
D. Pelepasan Bersyarat
Di samping pidana bersyarat, dikenal pula pelepasan bersyarat.
Perbedaannya ialah pada pidana bersyarat terpidana tidak pernah menjalani pidananya, kecuali jika ia melanggar syarat umum atau syarat khusus yang ditentukan oleh hakim, sedangkan pada pelepasan bersyarat terpidana harus telah menjalani pidananya paling lama dua per tiganya. Pelepasan bersyarat ini tidak imperative dan otomatis. Dikatakan
“dapat” diberikan pelepasan bersyarat.
Salah satu bentuk lembaga kebijaksanaan dalam hukum pidana kita adalah apa yang dikenal dengan pembebasan bersyarat (pelepasan
RAJAGRAFINDO
PERSADA
bersyarat), yaitu pelepasan dari kewajiban untuk menjalankan pidana penjara. Hal tersebut diatur dalam Pasal 15 sampai Pasal 17 KUHP.
Pasal 15
(1) Jika terpidana telah menjalani dua per tiga dari lamanya pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya, sekurang-kurangnya harus sembilan bulan, maka ia dapat dikenakan pelepasan bersyarat. Jika terpidana harus menjalani beberapa pidana berturut- turut, pidana itu dianggap sebagai satu pidana.
(2) Ketika memberikan pelepasan bersyarat, ditentukan pula suatu masa percobaan, serta ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi selama masa percobaan.
(3) Masa percobaan itu lamanya sama dengan sisa waktu pidana penjara yang belum dijalani, ditambah satu tahun. Jika terpidana ada dalam tahanan yang sah, maka waktu itu tidak termasuk masa percobaan.
Pasal 15a
(1) Pelepasan bersyarat diberikan dengan syarat umum bahwa terpidana tidak akan melakukan tindak pidana dan perbuatan lain yang tidak baik.
(2) Selain itu, juga boleh ditambahkan syarat-syarat khusus mengenai kelakuan terpidana, asal saja tidak mengurangi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan berpolitik.
(3) Yang diserahi mengawasi supaya segala syarat dipenuhi ialah pejabat tersebut dalam Pasal 14d ayat 1.
(4) Agar supaya syarat-syarat dipenuhi, dapat diadakan pengawasan khusus yang semata-mata harus bertujuan memberi bantuan kepada terpidana.
(5) Selama masa percobaan, syarat-syarat dapat diubah atau dihapus atau dapat diadakan syarat-syarat khusus baru; begitu juga dapat diadakan pengawasan khusus. Pengawasan khusus itu dapat diserahkan kepada orang lain daripada orang yang semula diserahi.
(6) Orang yang mendapat pelepasan bersyarat diberi surat pas yang memuat syarat-syarat yang harus dipenuhinya. Jika hal-hal yang tersebut dalam ayat di atas dijalankan, maka orang itu diberi surat pas baru.
Pasal 15b
(1) Jika orang yang diberi pelepasan bersyarat selama masa percobaan melakukan hal-hal yang melanggar syarat-syarat tersebut dalam surat pasnya, maka pelepasan bersyarat dapat dicabut. Jika ada sangkaan keras bahwa hal-hal di atas dilakukan, Menteri Kehakiman dapat menghentikan pelepasan bersyarat tersebut untuk sementara waktu.
(2) Waktu selama terpidana dilepaskan bersyarat sampai menjalani pidana lagi, tidak termasuk waktu pidananya.
RAJAGRAFINDO
PERSADA
(3) Jika tiga bulan setelah masa percobaan habis, pelepasan bersyarat tidak dapat dicabut kembali, kecuali jika sebelum waktu tiga bulan lewat, terpidana dituntut karena melakukan tindak pidana pada masa percobaan, dan tuntutan berakhir dengan putusan pidana yang menjadi tetap. Pelepasan bersyarat masih dapat dicabut dalam waktu tiga bulan bersyarat masih dapat dicabut dalam waktu tiga bulan setelah putusan menjadi tetap berdasarkan pertimbangan bahwa terpidana melakukan tindak pidana selama masa percobaan.
Pasal 16
(1) Ketentuan pelepasan bersyarat ditetapkan oleh Menteri Kehakiman atas usul atau setelah mendapat kabar dari pengurus penjara tempat terpidana, dan setelah mendapat keterangan dari jaksa tempat asal terpidana. Sebelum menentukan, harus ditanya dahulu pendapat Dewan Reklasering Pusat, yang tugasnya diatur oleh Menteri Kehakiman.
(2) Ketentuan mencabut pelepasan bersyarat, begitu juga hal-hal yang tersebut dalam Pasal 15a ayat 5, ditetapkan oleh Menteri Kehakiman atas usul atau setelah mendapat kabar dari jaksa tempat asal terpidana.
Sebelum memutus, harus ditanya dahulu pendapat Dewan Reklasering Pusat.
(3) Selama pelepasan masih dapat dicabut, maka atas perintah jaksa tempat di mana dia berada, orang yang dilapaskan bersyarat orang yang dilepaskan bersyarat dapat ditahan guna menjaga ketertiban umum, jika ada sangkaan yang beralasan bahwa orang itu selama masa percobaan telah berbuat hal-hal yang melanggar syarat-syarat tersebut dalam surat pasnya. Jaksa harus segera memberitahukan penahanan itu kepada Menteri Kehakiman.
(4) Waktu penahanan paling lama enam puluh hari. Jika penahanan disusul dengan penghentian untuk sementara waktu atau pencabutan pelepasan bersyarat, maka orang itu dianggap meneruskan menjalani pidananya mulai dari tahanan.
Pasal 17
Contoh surat pas dan peraturan pelaksanaan Pasal-Pasal 15, 15a, dan 16 diatur dengan Undang-Undang.
Keputusan untuk memberikan pelepasan bersyarat dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman setelah mendengar pendapat penuntut umum dan tentu pejabat lembaga pemasyarakatan, yang lebih mengetahui tingkah laku terpidana selama menjalani pidana penjaranya.
Maksud pelepasan bersyarat sama dengan pidana bersyarat, yaitu mengembalikan terpidana ke dalam masyarakat untuk menjadi
RAJAGRAFINDO
PERSADA
warga yang baik dan berguna. Oleh karena itulah, sebelum diberikan pelepasan bersyarat kepada terpidana, harus dipertimbangkan masak-masak kepentingan masyarakat yang menerima berkas terpidana. Harus dipersiapkan lapangan kerja yang sesuai dengan bakat dan keterampilan yang telah diperolehnya selama dalam lembaga pemasyarakatan.
Pelepasan bersyarat dapat diberikan pada terpidana adalah apabila ia telah menjalani dua per tiga dari pidana penjara yang dijatuhkan kepadanya atau sekurang-kurangnya 9 bulan (Pasal 15 ayat 1 KUHP).
Ketika memberikan pelepasan bersyarat, harus ditentukan pula masa percobaan, serta ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi selama masa percobaan itu (Pasal 15 ayat 2 KUHP). Masa percobaan itu sendiri lamanya adalah sama dengan sisa waktu pidana penjara yang belum dijalani, ditambah satu tahun dan untuk menentukan masa percobaan tidak ikut diperhitungkan waktu selama terpidana berada dalam tahanan yang sah (Pasal 15 ayat 3 KUHP).
Sementara itu, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh terpidana dalam hal pelepasan bersyarat ini terdiri dari syarat umum dan syarat khusus:
1. Syarat umum merupakan keharusan bagi terpidana. Selama masa percobaan itu ia tidak boleh melakukan tindak pidana dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya (Pasal 15a ayat (1) KUHP).
Syarat umum ini sifatnya adalah imperative.
2. Syarat khusus ialah sesuatu yang berkenaan dengan perilaku terpidana, asalkan syarat-syarat itu tidak membatasi kebebasannya untuk beragama dan kemerdekaan berpolitik (Pasal 15a ayat (2) KUHP).
Schepper menyatakan bahwa saran dewan reglasering untuk diberikannya pelepasan bersyarat meliputi hal-hal, antara lain:
1. sifat delik itu sendiri;
2. bagaimana pendapat masyarakat jika diberikan pelepasan bersyarat, apakah tidak menimbulkan tindak sewenang-wenang yang akan mengganggu ketertiban umum dan peradilan, termasuk pula pertimbangan prevensi umum;
3. sikap dan kepribadian terpidana, berkaitan dengan pandangan masyarakat Indonesia, ini merupakan masalah sikap dan tingkah laku terpidana selama dalam penjara;
RAJAGRAFINDO
PERSADA
4. tinjauan terhadap penghidupan terpidana sesudah itu, pekerjaannya, bantuan moral dan sanak keluarga atau dari reklasering.47
Jika terpidana melanggar perjanjian atau syarat-syarat yang ditentukan dalam surat pelepasan (verlofpas), terpidana dapat dipanggil kembali untuk menjalani sisa pidananya. Pelepasan bersyarat dapat dicabut kembali atas usul jaksa di tempat terpidana berdiam dengan pertimbangan dewan pusat reklasering.
Jika ia melanggar perjanjian atas syarat-syarat yang ditentukan, sambil menunggu putusan Menteri Kehakiman, jaksa dapat melakukan penahanan terhadapnya selama enam puluh hari. Jika waktu itu telah lewat dan belum keluar keputusan tersebut, terpidana harus dikeluarkan dari tahanan.
Dikatakan dalam Pasal 6 ayat (3) bahwa jika ada sangkaan yang beralasan bahwa orang itu selama dalam masa percobaan telah berbuat hal-hal yang melanggar syarat-syarat tersebut, jaksa dapat melakukan penahanan. Jika ada sangkaan kuat seperti tersebut, dapat dilakukan penundaan (schorsing) oleh Menteri Kehakiman.
Perbedaan antara penundaan (schorsing) dengan penahanan ialah sebagai berikut:
1. Penundaan (schorsing) diberikan oleh Menteri Kehakiman, sedangkan penahanan oleh jaksa (dahulu asissten resident) di mana terpidana berdiam.
2. Penundaan mengakibatkan terpidana langsung diperlakukan sebagai narapidana, sedangkan penahanan bersifat preventif.
3. Penundaan tidak ada jangka waktunya (berakhir pada waktu pidana berakhir), sedangkan penahanan hanya untuk waktu 60 hari.48 Dalam praktiknya, pengawasan terhadap orang yang dilepas bersyarat itu dilakukan oleh jaksa di tempat ia berdiam, dengan paraf pada buku pelepasan bersyarat yang ditunjukkan oleh terpidana pada waktu ditentukan secara berkala.
Hal yang tidak diatur dapat diberikan pelepasan bersyarat ialah pidana seumur hidup sehingga pidana penjara seumur hidup
benar-47J.E. Jonkers, Handboek van Het Nederlandsch-Indische Strafrecht (Leiden: J. Brill, 1946), hlm. 189.
48Ibid., hlm. 201.
RAJAGRAFINDO
PERSADA
benar dapat dijalani seumur hidup. Tidaklah mungkin dapat dihitung dua per tiga dari seumur hidup. Di Belanda disebutkan bahwa dalam hal pidana penjara seumur hidup, dapat diberikan pelepasan bersyarat jika pidana penjaranya telah dijalani selama tiga belas tahun.
Rancangan KUHP tahun 2019 menggunakan istilah pembebasan bersyarat untuk menggantikan istilah pelepasan bersyarat. Adapun tentang pembebasan bersyarat sebagaimana diatur:
Pasal 72
(1) Narapidana yang telah menjalani paling singkat 2/3 (dua per tiga) dari pidana penjara yang dijatuhkan dengan ketentuan 2/3 (dua per tiga) tersebut tidak kurang dari 9 (sembilan) bulan dapat diberi pembebasan bersyarat.
(2) Terpidana yang menjalani beberapa pidana penjara berturut-turut dianggap jumlah pidananya sebagai 1 (satu) pidana.
(3) Dalam memberikan pembebasan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditentukan masa percobaan dan syarat yang harus dipenuhi selama masa percobaan.
(4) Masa percobaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sama dengan sisa waktu pidana penjara yang belum dijalani ditambah dengan 1 (satu) tahun.
(5) Narapidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang ditahan sebagai tersangka atau terdakwa dalam perkara lain tidak diperhitungkan waktu penahanannya sebagai masa percobaan.
Pasal 73
(1) Syarat yang harus dipenuhi selama masa percobaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 ayat (3) terdiri atas:
a. syarat umum berupa narapidana tidak akan melakukan tindak pidana; dan
b. syarat khusus berupa narapidana harus melakukan atau tidak melakukan perbuatan tertentu, tanpa mengurangi kemerdekaan beragama dan berpolitik, kecuali ditentukan lain oleh hakim.
(2) Syarat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat diubah, dihapus, atau diadakan syarat baru yang semata-mata bertujuan untuk pembimbingan narapidana.
(3) Narapidana yang melanggar syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dicabut pembebasan bersyaratnya.
(4) Pembebasan bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat dicabut setelah melampaui 3 (tiga) bulan terhitung sejak saat
RAJAGRAFINDO
PERSADA
habisnya masa percobaan kecuali dalam waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak habisnya masa percobaan narapidana dituntut karena melakukan tindak pidana yang dilakukan dalam masa percobaan.
(5) Dalam hal narapidana sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dijatuhi pidana penjara untuk waktu tertentu atau pidana denda paling sedikit Kategori III, pembebasan bersyarat dicabut.