BAB II LANDASAN TEORI
D. Cadar dan Celana Cingkrang Menurut Islam
Cadar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kain penutup kepala atau muka bagi perempuan. Cadar merupakan versi lanjutan dari penggunaan jilbab. Pengguna cadar berarti menambahkan penutup sebagian wajah yaitu hidung dan mulut, sehingga hanya terlihat mata saja. Sementara cadar dalam Bahasa Persia berarti tenda, yang telah dikenakan oleh perempuan-perempuan bangsawan di tempat umum sejak dinasti Hakhamanesh.13
Penggunaan cadar sering dijumpai di Arab Saudi atau Timur Tengah. Keadaan tersebut disebabkan oleh iklim cuaca yang panas dan faktor geografis di gurun pasir yang penuh debu. Menurut Dosen Antropologi Budaya King Fahd University of Petroleum and Minerals Dhahran Saudi Arabia, Prof. Sumanto Al-Qurtuby mengatakan bahwa cadar bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Cadar lahir dari budaya situasi dan kondisi sosial serta lingkungan timur tengah.14
Menurut ulama dan filosof besar Iran kontomporer, Murtadha Muthahhari, pakaian penutup seluruh tubuh perempuan termasuk cadar telah dikenal di kalangan bangsa-bangsa kuno, jauh sebelum datangnya Islam, dan
13 Alif Fathur Rahman dan Muhammad Syafiq, Motivasi, Stigma dan Coping Stigma pada Perempuan Bercadar, Jurnal Psikologi Teori dan
Terapan, Vol. 7, No. 2, (2017), hal 104.
14 Lisa Aisiyah Rasyid dan Rosdalina Bukido, Problematika Hukum Cadar dalam Islam: Sebuah Tinjauan Normatif-Historis, Jurnal Ilmiah
lebih melekat pada orang-orang Persia, khususnya suku Sassan di Iran.15 Mereka menilai wanita sebagai makluk tidak suci yang mengharuskan menutup mulut dan hidung agar nafas wanita tersebut tidak mengotori api suci yang merupakan sesembahan agama Persia lama.
Dalam riwayat dikemukakan bahwa istri-istri Rasulullah pernah keluar malam untuk suatu keperluan (buang air). Pada saat itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Kemudian Rasulullah menegur orang-orang munafik tersebut. Mereka menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya”. Maka turun surat al-Ahzaab[33]: 59 sebagai perintah untuk berpakaian tertutup, agar berbeda dari hamba sahaya.16
Cadar (niqab) merupakan bagian dari salah satu jenis pakaian yang digunakan oleh sebagian perempuan di masa Jahiliyah. Kemudian penggunaan cadar tetap berlangsung hingga masa Islam. Nabi Muhammad saw tidak mempermasalahkan model pakaian tersebut, tetapi tidak sampai mewajibkan, menghimbau atau menyunahkan cadar kepada perempuan. Seandainya cadar dapat menjaga
15 Toha Andiko, Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi Perspektif Sadd Al-Dzari’ah, Jurnal Madania, Vol. 22, No, 1, (Juni 2018), hal 117.
16 Toha Andiko, Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi Perspektif Sadd Al-Dzari’ah, Jurnal Madania, Vol. 22, No, 1, (Juni 2018), hal 116.
marwah perempuan, tentu Nabi Muhammad saw akan mewajibkannya kepada istri-istrinya.17
Awal mula penggunaan cadar di Indonesia ditandai dengan banyaknya ulama yang menuntut ilmu di Timur Tengah. Kota suci Mekkah memperkenalkan pemakaian jilbab kepada para wanita Muslimah sepulang mereka ke tanah air. Sejak awal abad ke-19 pemakaian jilbab diperjuangkan oleh Gerakan Paderi di kalangan masyarakat Minangkabau. Dari aturan pemakaian jilbab tersebut meningkatkan kesadaran sebagian wanita Muslimah menggunakan jilbab yang melekat dengan cadar.18
Penggunaan cadar tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat setempat. Daerah yang memiliki budaya yang cocok dengan pakaian tersebut seperti masyarakat Arab, maka tidak menjadi masalah. Sedangkan penggunaan cadar di daerah lain, misalnya Indonesia, yang tidak memiliki tradisi penggunaan cadar maka bisa jadi berbeda.
Konteks sosial dan budaya bergantung pada kesepakatan bersama dari masyarakat setempat atau bisa dilihat dari perilaku masyarakat yang sudah dianggap sebagai tradisi. Oleh karena itu, kehidupan Muslimah
17 Toha Andiko, Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi Perspektif Sadd Al-Dzari’ah, Jurnal Madania, Vol. 22, No, 1, (Juni 2018), hal 116.
18 Abdul Karim Syeikh, Pemakaian Cadar dalam Perspektif
Mufassirin dan Fuqaha’, Jurnal Al-Mu’ashirah, Vol. 16, No, 1, (Januari 2019), hal 49-50.
pengguna cadar berbeda-beda di berbagai daerah. Sedangkan menurut pandangan islam, hukum bercadar dalam perspektif mazhab terdapat empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali.
Dalam mazhab Hanafi, pada prinsipnya wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Menurut mazhab Maliki sama halnya dengan mazhab Hanafi, hanya yang membedakan di luar salat dan di dalam salat. Di luar salat wajah wanita bukan aurat namun cadar hukumnya sunah, sementara di dalam salat hukumnya makruh karena termasuk tindakan yang berlebih.19
Penggunaan cadar menurut mazhab Syafi’i mewajibkan bagi Muslimah untuk bercadar di luar salat dengan alasan khawatir menimbulkan fitnah, walaupun pada dasarnya wajah dan telapak tangan bukanlah termasuk aurat. Sementara di dalam salat, makruh hukumnya bagi Muslimah untuk bercadar. Sedangkan menurut mazhab Hambali bahwa untuk di luar salat, seluruh tubuh wanita adalah aurat sehingga wajib untuk menutupinya, termasuk memakai cadar. Pengecualian hanya di dalam salat yaitu khusus wajah yang tidak
19 Toha Andiko, Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi Perspektif Sadd Al-Dzari’ah, Jurnal Madania, Vol. 22, No, 1, (Juni 2018), hal 118.
termasuk aurat, sehingga hukumnya mubah untuk tidak ditutupi.20
Selain cadar, keberadaan celana cingkrang juga kerap kali dibicarakan oleh khalayak. Celana cingkrang yang sudah banyak diketahui masyarakat pada umumnya merupakan pakaian tubuh bagian bawah khususnya bagian pusar sampai kaki. Celana cingkrang berbeda dengan model sarung maupun rok. Istilah cingkrang ditujukan pada pakaian yang biasanya hanya sampai pertengahan betis atau sedikit lebih tinggi dari mata kaki, tetapi tidak sampai setinggi lutut.21
Di samping munculnya fenomena celana cingkrang, terdapat muatan pesan tentang larangan isbal pada hadis. Isbal merujuk pada definisi menurunkan, memanjangkan atau membentangkan pakaian sampai melewati mata kaki atau bahkan hingga menyentuh tanah.22 Memanjangkan pakaian dianggap sombong karena termasuk perbuatan yang berlebihan.
Persoalan isbal tidak terbatas pada persoalan celana, melainkan pada pakaian model jenis apa pun, seperti sarung, jubah dan sebagainya. Hal ini dapat
20 Toha Andiko, Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi Perspektif Sadd Al-Dzari’ah, Jurnal Madania, Vol. 22, No, 1, (Juni 2018), hal 121-122.
21 Miski, Fenomena Meme Hadis Celana Cingkrang dalam Media Sosial, Jurnal Multikultural, Vol. 16, No, 2, (Desember 2017), hal 295.
22 Miski, Fenomena Meme Hadis Celana Cingkrang dalam Media Sosial, Jurnal Multikultural, Vol. 16, No, 2, (Desember 2017), hal 298.
dipahami dengan realitas bahwa dalam konteks Indonesia, celana lebih sering digunakan dalam beragam acara. Sehingga penggunaan kata celana mestinya lebih relevan apabila dimaksudkan dalam konteks Indonesia.
Larangan isbal ini berbeda dengan sudut pandang mayoritas ulama. Mereka melihat dari kontekstual, yang menegaskan bahwa larangan isbal dalam pengertian haram apabila disertai adanya perasaan sombong. Namun jika tidak seiring dengan perasaan sombong, hukumnya boleh atau makruh. Perbedaan tentang wacana keagamaan selalu identik dengan perdebatan antar kelompok (mazhab) tanpa terkecuali persoalan isbal.23