• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Landasan Teori

1.6.3 Campur Kode

Setiap orang dalam berkomunikasi selalu mengirimkan kode-kode kepada lawan bicaranya. Pengkodean ini melalui suatu proses yang terjadi baik pada pemicara, hampa suara, dan pada lawan bicara. Kode-kode itu harus dimengerti oleh kedua belah pihak (Pateda, 1990: 83).

Pencampuran dua bahasa (atau lebih) atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang

menuntut pencampuran bahasa. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur atau kebiasaannya yang dituruti. Tindak bahasa yang demikian kita sebut campur kode. Ciri yang menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Jika terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing; dalam bahasa tulisan, hal ini dinyatakan dengan mencetak miring atau menggaris bawahi kata/ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Kadang-kadang terdapat juga campur kode bila pembicara ingin memaparkan ”keterpelajarannya” atau “kedudukannya” (Nababan, 1984: 32).

Suwito, dalam buku Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema (1983:

75-76) menjelaskan aspek lain dari saling ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual ialah terjadinya gejala campur kode (code-maxing). Apabila didalam alih kode fungsi konteks dan relevansi situasi merupakan ciri-ciri ketergantungan, maka didalam campur kode ciri-ciri ketergantungan ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Peranan maksudnya siapa yang menggunakan bahasa itu; sedangkan fungsi kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai oleh penutur dengan tuturannya.

Ciri lain dari gejala campur kode ialah bahwa unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi. Dalam kondisi yang maksimal campur kode merupakan konvergensi kebahasaan (linguistic convergence) yang unsur-unsurnya terdiri dari beberapa bahasa yang masing-masing telah menanggalkan

fungsinya dan mendukung fungsi bahasa yang disisipinya. Unsur-unsur demikian dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yaitu: (a) yang bersumber dari bahasa asli dan segala variasi-variasinya dan (b) bersumber dari bahasa asing. Campur kode dengan unsur-unsur golongan (a) disebut campur kode ke dalam (inner code-mixing);

sedangkan campur kode yang unsur-unsurnya dari golongan (b) disebut campur kode ke luar (outer code mixing). Seorang penutur yang dalam pemakaian bahasa Indonesianya banyak tersisipi unsur-unsur bahasa daerah, atau sebaliknya, berbahasa daerah dengan banyak menyisipkan unsur-unsur bahasa Indonesia, maka penutur tersebut bercampur kode ke dalam.

Kachru dalam Suwito (1983:76) memberikan batasan campur kode sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten.

Situasi bahasa yang berbeda-beda dapat mempengaruhi alih kode. Konsep alih kode ini mencakup juga kejadian seorang penutur beralih kode dari satu ragam fungsiolek ke ragam lain, atau dari dialek ke dialek yang lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peralihan kode yaitu, pemeran serta, lokasi, jalur, tujuan. Alih kode terjadi karena adanya beberapa tipe latar belakang yang mempengaruhinya.

1.6.3.1 Latar Belakang Terjadinya Campur Kode

Latar belakang terjadinya campur kode dipengaruhi oleh beberapa tipe. Suwito (1983:77), mengkategorikan latar belakang yang mempengaruhi latar belakang terjadinya campur kode menjadi dua tipe, yaitu: tipe yang berlatar belakang pada sikap (attitudinal type) dan tipe yang berlatar belakang kebahasaan (linguistic type).

Kedua tipe itu saling bergantung dan tidak jarang saling bertumpang tindih (overlap).

Ada beberapa alasan atau penyebab yang mendorong terjadinya campur kode:

(a) identifikasi peranan (b) identifikasi ragam dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Dalam hal ini ketiganya juga saling bergantung dan saling bertumpang tindih. Ukuran untuk identifikasi peranan adalah sosial, registral dan edukasional. Identifikasi ragam ditentukan oleh bahasa dimana seorang penutur melakukan campur kode yang akan menempatkan dia di dalam hierarkhi status sosial.

Sedangkan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungan terhadap orang lain serta sikap dan hubungan orang lain terhadapnya.

Pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya ini menunjukkan adanya pencapuran dua bahasa yaitu bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Dari temuan tersebut ingin menunjukkan bahwa cerita dalam novel terjadi ketika jaman kerajaan-kerajaan masih berjaya di Indonesia, khususnya kerajaan-kerajaan Mataram. Sikap yang ditunjukkan penutur menandakan kelas status sosial mereka melalui bahasa yang digunakan.

Campur kode dengan menyisipkan unsur-unsur bahasa asing ke dalam bahasa nasional merupakan campur kode yang bersifat keluar. Sedangkan campur kode yang menyisipkan unsur-unsur bahasa daerah ke dalam bahasa nasional merupakan campur kode dengan sifat ke dalam. Suwito (1983:78), penyisipan tersebut menunjukkan identifikasi peranan tertentu, identifikasi register tertentu atau keinginan dan tafsiran tertentu. Campur kode dengan unsur-unsur bahasa daerah menunjukkan bahwa si penutur cukup kuat rasa daerahnya atau ingin menunjukkan kekhasan daerahnya. Di dalam pemakaian bahasa Jawa pemilihan variasi-variasi bahasa (ngoko, madya, krama) dan cara mengekspresikannya terhadap interlekuatornya, dapat memberikan kesan baik status sosial ataupun tingkat pendidikan penuturnya. Demikian maka

campur kode itu terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan (penutur), bentuk bahasa dan fungsi bahasa. Artinya penutur yang memiliki latar belakang sosial tertentu, cenderung memilih bentuk campur kode tertentu untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu. Pemilihan bentuk campur kode demikian dimaksudkan untuk menunjukkan status sosial dan identitas pribadinya di dalam masyarakat.

1.6.3.2 Beberapa Macam Wujud Campur Kode

Suwito (1983:78-80) berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, campur kode dapat dibedakan menjadi beberapa macam:

(a) penyisipan unsur-unsur yang berujud kata:

Mangka sering kali sok ada kata-kata seolah-olah bahasa Padahal sering kali sering ada kata-kata seolah-olah bahasa

daerah itu kurang penting.

daerah itu kurang penting.

“Padahal sering kali ada anggapan bahwa bahasa daerah itu kurang penting”.

Sarkas aur numayis yaha phel hai Sirkus dan pameran di sini gagal adalah

“Di sini sirkus dan pameran tidak (pernah) berhasil”.

(b) penyisispan unsur-unsur yang berujud frasa:

Nah karena saya sudah kadhung apik sama dia, ya tak teken.

Nah karena saya sudah terlanjur baik dengan dia, ya saya tanda tangan.

“Nah karena saya sudah benar-benar baik dengan dia, maka saya tanda tangani”.

Vipaks dvara vak aut

Beroposisi dengan berjalan keluar

“ Beroposisi dengan meninggalkan sidang”

(c) penyisipan kata-kata yang berujud bentuk baster:

Banyak klap malam yang harus ditutup.

Hendaknya segera diadakan hutanisasi kembali.

Tisre din kuch zaruri drapht tayp karvane the

Ketiga hari beberapa penting draf ketik mengerjakan ada

“Pada hari ketiga beberapa

(d) penyisipan unsur-unsur yang berujud perulangan kata:

Sudah waktunya kita menghindari backing-backingan dan klik-klikan.

(Suwito, 1983:79)

(e) penyisipan unsur-unsur yang berujud ungkapan atau idiom:

Tetapi ada mardi lan marga, jangan sampai ibunya merasa dihinakan; sebab ibunya mencintai juga si anak ini. ( Rara Mendut, 2008:7)

Tetapi ada keinginan dan jalan, jangan sampai ibunya merasa dihinakan;

sebab ibunya mencintai juga si anak ini.

(f) penyisipan unsur-unsur yang berujud klausa:

Mungkin juga. Baik, ada kawan lelaki satu. Masih muda. Namun… ah semoga jangan. Slamur, slawat, slamet. (Rara Mendut, 2008:10)

Mungkin juga. Baik, ada kawan lelaki satu. Masih muda. Namun… ah semoga jangan. Semoga lolos, semoga dikabulkan, semoga selamat.

Dokumen terkait