• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor identifikasi sikap dan hubungan dengan orang lain ditemukan sebagai faktor penyebab terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Pembahasan faktor identifikasi sikap dan hubungan dengan orang yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya:

(121) Tetapi yang belum pernah dinikmati, bila di sini istilah nikmat boleh dipakai, atau yang belum pernah ia hayati, ialah justru sesuatu yang menyentuh unsur paling khas bagi seorang panglima jantan, seorang yang jago kelahi, yakni; Ksatria Wiraguna belum pernah menjumpai seorang wanita yang benar-benar menantang dia, yang betul-betul emoh digauli sang panglima. (Rara Mendut, 2008:57).

(122) Disabet lah kepalanya oleh Ni semangka yang kelihatannya saja sepanjang jalan cuma mengunyah buah-buahan dan makanan akan tetapi awas waspada menjaga dara-daranya. (Roro Mendut, 2008: 28).

(123) Sebagai tanda terima kasih prajurit itu ber-pacak gulu.

(Rara Mendut, 2008: 28).

(124) Terkejut dan malu ia berhenti, dan dengan muka marah bengis memandang menthelengi prajurit itu, yang tanpa komando langsung terbirit lari cari selamat. (Rara Mendut, 2008: 86).

(125) “Nyuwun sewu,” Ni Kuweni lembut hat-hati mulai mencuci mata dan pinggir-pinggir bibir beliau. (Rara Mendut, 2008: 105).

(126) Dengan laku-dodhok kedua wanita muda itu keluar dalem.

(Rara Mendut, 2008: 118).

(127) Bubuh Mendut! Nanti kita akan melihat, siapa jaya!

(Rara Mendut, 2008: 152).

(128) Tetapi bukankah semua ini buah siasat Nyai Ajeng sendiri yang dimaksud baik, tetapi nyatanya menjadi tak keruan seperti ini? Duh Gusti, nyuwun kiyat. (Rara Mendut, 2008: 265).

Pada contoh (121) sampai dengan (128) merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B.

Mangunwijaya yang menunjukkan adanya faktor identifikasi sikap terhadap orang lain. Pada contoh (121) emoh ‘tidak mau’, contoh (122) disabet ‘diembat’, contoh (124) menthelengi ‘memelototi’, contoh (127) bubuh ‘berani’ merupakan sikap yang ditunjukkan subjek terhadap lawan bicaranya sebagai sikap menentang karena lawan bicara mempunyai status sosial lebih rendah. Berlawanan dengan contoh (123) ber-pacak gulu ’gerakan menggerakkan leher pada tari’, contoh (125) nyuwun sewu

‘permisi’, contoh (126) laku dhodhok ‘berjalan dengan berjongkok’, contoh (128) Gusti, nyuwun kiyat ‘Duh Tuhan mohon kekuatan’ yang merupakan sikap hormat yang dilakukan subjek kepada lawan bicara karena lawan bicara mempunyai status sosial lebih tinggi dan wajib dihormati.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya dapat disimpulkan bahwa data-data yang ditemukan oleh peneliti berupa campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Jenis-jenis campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya mencakup kata, frasa, kalimat, dan wacana.

Hasil analisis data yang dilakukan peneliti menunjukkan adanya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata berdasarkan jenisnya, yaitu kata asal dan kata jadian. Kata asal berdasarkan kategorinya ditemukan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, kata seru, dan kata penghubung. Kata jadian berdasarkan kategorinya ditemukan kata jadian berupa pengimbuhan (pengimbuhan awalan, pengimbuhan sisipan, pengimbuhan akhiran, dan pengimbuhan awalan dan akhiran), kata jadian berupa pengulangan (pengulangan utuh, pengulangan berubah bunyi, pengulangan dengan imbuhan, pengulangan progresif, dan pengulangan regresif), kata jadian berupa pemajemukan, dan kata jadian berupa pemendekan. Campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada novel Rara Mendut karya Y. B.

Mangunwijaya berupa frasa mencakup frasa berdasarkan jenisnya, frasa berdasarkan fungsi unsur pembentuknya, dan frasa berdasarkan satuan makna unsur

pembentuknya. Frasa berdasarkan jenisnya mencakup frasa nominal, frasa verbal, dan frasa adjektifal. Frasa berdasarkan fungsi unsur pembentuknya mencakup frasa endosentris atributif, frasa endosentris apositif, dan frasa endosentris koordinatif.

Frasa berdasarkan satuan makna unsur pembentuknya mencakup frasa biasa dan frasa idiomatik. Campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kalimat mencakup kalimat berdasarkan pengucapannya dan kalimat berdasarkan isi dan fungsinya. Kalimat berdasarkan pengucapannya dikategorikan sebagai kalimat langsung (kalimat pernyataan, kalimat perintah, dan kalimat tanya). Kalimat berdasarkan isi dan fungsinya mencakup kalimat perintah (kalimat permintaan, kalimat larangan, kalimat ajakan), dan kalimat tanya. Campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa wacana mencakup wacana deskripsi dan paragraf argumentasi.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya ditemukan berdasarkan identifikasi peranan yang mencakup faktor sosial-budaya dan faktor pendidikan, identifikasi ragam yang mengidentifikasi faktor status sosial, dan identifikasi sikap terhadap orang lain.

4.2 Saran

Penelitian mengenai campur kode telah banyak ditemukan, terlebih mengenai campur kode ke dalam. Sebagaimana campur kode yang ditemukan pada novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya ini. Saran bagi peneliti berikutnya adalah meneliti mengenai alasan novel-novel yang dibuat pada masa kerajaan banyak dipengaruhi

oleh unsur campur kode ke dalam. Penelitian ini bisa mencakup dari sisi penulis novel atau sisi cerita dalam novel.

Daftar Pustaka

Baryadi, I. Praptomo. 2011. Morfologi Dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta:USD.

Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa.

Yogyakarta: Carasvatibooks.

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Padmadewi, Marlyna Y.P, Nyoman Pasek Hadi Saputra. 2014.

Sosiolinguistik.Yogyakarta: Graha Ilmu.

Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

Poerwadarminta, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia.

Prawiroatmojo, S. 1981. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta: PT. Inti Idayu Press.

Soepomo Poedjosoedarmo, dkk. 1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suwito.1983.Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema. Solo: Henary Offset

Utomo, Sutrisno Sastro. 2009. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia. Yogyakarta:

Kanisius.

Wedhawati, dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Yogyakarta: Kanisius.

Wijana, Nuhammad Rohmadi. 2006. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lampiran 1

Tabel 1: Kata Asal Berupa Kata Benda

No Contoh Kata Benda yang terdaapat dalam Kalimat

Arti Kata

129. “Kowe dipilih jadi garwa Adipati…. Adipati siapa, Ndara manggala istrinya itu sungguh memalukan.” (Rara Mendut, 2008:12).

kamu;

istri atau suami.

130. Tetapi apa guna kekerasan hati kalau tidak tahu harus kemana? Seperti berdiri di atas jenang lumpuk mendut-mendut.

(Rara Mendut, 2008:15).

bubur.

131. Setiap gadis merasa ada di surga ketujuh, terpilih menjadi selir beliau. (Rara Mendut, 2008:15).

gundik.

132. Iwanya teguh seperti pohon-pohon sana aji yang galih kayunya dianggap keras namun mulia sebagai bahan sayap warangka keris-keris ksatria. (Rara Mendut, 2008: 17).

inti kayu.

133. Bahkan wedana-ngalebet istana pun sudah mendapat perintah terselubung untuk mencarikan seorang putri, yang menurut perhitungan gaib para begawan maupun penilaian para nenek yang tahu banyak tentang segi lahiriah kaum wanita diduga adalah titisan Batara Bayu, Dewa Angin atau lebih mengena perkaranya dewa badai. (Rara Mendut, 2008: 17-18).

Pertapa.

134. Bahkan wedana-ngalebet istana pun sudah mendapat perintah terselubung untuk mencarikan

penjelmaan.

seorang putri, yang menurut perhitungan gaib para begawan maupun penilaian para nenek yang tahu banyak tentang segi lahiriah kaum wanita diduga adalah titisan Batara Bayu, Dewa Angin atau lebih mengena perkaranya dewa badai.

(Rara Mendut, 2008: 17-18).

135. Asuhlah putri duyung dari Telukcikal ini, dan nanti selaku kidung syukur atas kejayaanku akan kunikmati Rara Mendut selaku mahkota dari sikap dan perjuanganku demi wilayah Pati yang saya junjung sebagai wilayah merdeka.”

(Rara Mendut, 2008: 18).

nyanyian pujian.

136. Masih belahan kayu dhoreng kasar barangkali perawan pantai ini untuk ukir-ukiran istana, tetapi bahannya sudah pasti jati atau ulin andalan.

(Rara Mendut, 2008: 18).

kayu berpola serat-serat gelap indah.

137. “Geyol, galundheng, Pohung, itu kan tidak pantas!” (Rara Mendut, 2008: 20).

nama kue.

138. Lalu datanglah, atas perintah raja Mataram, Tumenggung Wiraguna Sang Alap-alap menggemparkan benteng-benteng Pati.

(Rara Mendut, 2008: 24).

Elang

139. Tetapi justru Genduk Duku lah yang berhasil memberi penglihatan sisi baru pada peristiwa kepindahan serba kemelut dari Puri Pati ke kuthanegara. Mataram, Karta.

(Rara Mendut, 2008: 25).

ibu kota.

140. “Sambal lotis tai kutis”

(Rara Mendut, 2008: 27).

kumbang tahi.

141. “ Krocuk kampret jadi buaya”

(Rara Mendut, 2008: 27).

kelelawar kecil.

142. Kepada seorang pemikul lain, yang pucat berdada mirip gambang Semarang, Ni semangka bertanya iba hati, “Lapar”? (Rara Mendut, 2008: 28).

gambang.

143. Melihat kulitnya yang tidak sekuning putri-putri Cina sehingga pantas melontarkan nama Rara Ireng, Si Mendut ini barangkali hanya diberikan kepada seorang penewu atau bahkan penatus saja. (Rara Mendut, 2008: 30).

nama pangkat pamong praja, kepala desa.

144. “Baru dalam malam-malam rimba sesudah semua huru hara itu berlalu Ni Semangka- Wahyuni mulai tahu bahwa itulah citra keindahan jiwa

keningratan bahari, penakluk

gelombang-gelombang samudra yang mendidih, sinar dari prana manusia yang tak gentar membela kebenaran.” (Rara Mendut, 2008: 35).

kelentit.

145. “tak henti - henti si dayang bergumam secara candra dalang.” (Rara Mendut, 2008: 35).

pelukis, penggambaran, komentar.

146. “Tetapi terkadang dalam arti yang lebih mulia daripada keningratan pangkuan perempuan atau silsilah kama lelaki belaka.”

(Rara Mendut, 2008: 37).

benih/air mani lelaki.

147. Tetapi para ahli undhagi Mataram tidak cuma membuat jembatan sepanjang tiga ratus langkah itu dari “papan” balok-balok setembal lima sampai enam kilan. (Rara Mendut, 2008: 39).

tukang kayu, jengkal.

148. Namun, tiba-tiba sesudah mengalahkan rimba sepanjang 1,5 mil seolah-olah tirai sihir para dhedhemit rimba tersingkap, dan sekonyong-konyong tampak tergelar firdaus di bawah kaki mereka. (Rara Mendut, 2008: 39).

1,5 mil mempunyai arti

‘ukuran panjang (1,5 mil = 11 km)

149. “Maka belliau memerintah banyak tumenggung berkedudukan panglima, karena masih sangalah sulit untuk memantapkan kewibawaan Mataram atas sekian banyak kabupaten dan kadipaten mancanegara.” (Rara Mendut, 2008: 41).

luar negeri.

150. “Serba berbusana kebesaran mereka semua, dari panglima sampai prajurit krocuk, gagah megah menuju Karta, melalui gapura Kaliajir.”

(Rara Mendut, 2008: 41).

paling rendah, pintu gerbang.

151. Begitu hiruk pikuk suasananya sehingga banyak oramg terlambat mendengar barisan genderang-genderang yang bagaikan banjir batu-batu vulkan bertugas membebaskan jalan bagi suatu rombongan gagah di atas kuda-kuda-teji berkulit mengilap warna soga.

(Rara Mendut, 2008: 46).

kuda bertubuh besar.

152. Tenang gagah binatang-binatang raksasa itu melangkah, dituntun oleh para serati pria, namun ada yang wanita juga, dengan busana seragam merah kastuba yang mempesona kilauan serta warnanya. (Rara Mendut, 2008: 47).

pengasuh bintang(pawan gajah).

153. Tetapi tentulah tidak terlupa, “ Sinuhun Agung Linuhung! Sinuhun Agung Awang-Uwung!”

(Rara Mendut, 2008: 47).

Mulia;

udara-angkasa.

154. “Ooooh!” Sebab dibelakang barisan seruling dan kecapi itu datanglah iring-iringan putri-putri

jin-jin,

pengawal-pengawal

boyongan dari Pati yang dikawal oleh perwira-perwira cakrabirawa wanita berkuda.

(Rara Mendut, 2008: 48).

istana.

155. “Wiraguna ‘mboyong Den-Ayu!

Siwa Truna digigit yuyu!”

(Rara Mendut, 2008: 50).

ketam.

156. Dan siapa Siwa Truna? Barangkali mereka hanya mencari kecocokan suara Siwa dengan Wira dan Truna dengan Guna akan tetapi kata Siwa menggores-gores lagi luka-luka yang masih tidak mau sembuh: kerinduannya pada

paman-tuanya yang memang tidak bernama Truna tetapi dengan nada sayang disebutnya Siwa. (Rara Mendut, 2008: 51).

orang pemberani, orang muda, faedah/guna.

157. Meriah agung memang alunan-alunan gendhing Ketawang Ibu Pratiwi yang teriring oleh gamelan Kiai Gala Ganjur yang termasyur, dilagukan oleh ratusan pesinden yang mengombakkan suasana kahyangan widadari mengelu-elu Sang Wireng Yuda, sang pemenang dalam perang.

(Rara Mendut, 2008: 53).

bidadari, Dia yang menang perang.

158. Dalam rimba raya manusia berjalan seperti di dalam gua-gua garba gaib.

(Rara Mendut, 2008: 54).

rahim.

159. Namun, itulah pula keyakinan pribadi panglima-panglimanya, selaku sekian banyak hasil sarasehan dalam malam bulan-bulan purnama di tengah alam yang masih buas tetapi juga yang masih murni; dan seolah-olah

tirai dari kain putih (untuk memainkan wayang kulit).

memohon kepada para ksatria serta begawan-begawan itu, agar hukum rimba mendapat penciptaam kembali secara baru, memperoleh pemahkotaannya dalam hukum manusia; manusia, makhluk yang paling agung di persada bumi, karena ia paling sadar tentang jati diri serta citra bahasa tokoh-tokoh lakon di kelir sang mahadalang. (Rara Mendut, 2008: 56).

160. Manusia, yang lingga pria dan yang yoni wanita itu…, ah! Dunia pria sangat dikenal sang panglima. (Rara Mendut, 2008: 56).

alat vital wanita.

161. Dan lihatlah, di tengah-tengah puing arang hangus itu, siapa berdiri di sana tegak tak tertundukkan? Sesosok gatra dan citra indah yang serba melawan, Rara Mendut, sasmita para dewata. (Rara Mendut, 2008: 60).

tubuh;

alamat.

162. Tiba-tiba kendhang utama menggebrak menggebuk, dan langsung gamelan melambatkan temponya, dan semakin melembutkan lagunya.

(Rara Mendut, 2008: 63).

gendang.

163. Khidmat lembut, gamelan Kiai Gala Ganjur berdendang seirama dengan langkah-langkah sang raja yang tenang perlahan-lahan melangkah dari senthong tengah yang keramat, yang dikhususkan untuk menghormati Dewi Sri dan dewa-dewi kesuburan Kama-Jaya serta Kama-Ratih, tempat simpanan pusaka-pusaka kerajaan juga, di mana sang raja baru saja bersemedi mengucapkan syukur pribadi atas kemenangan Maataram terhadap Pati.

(Rara Mendut, 2008: 64).

bilik dirumah belakang untuk mendudukkan pengantin.

164. Namun yang paling menyolok ialah besarnya kain dhodhot batik berpola nila tua mulia khas kesultanan yang menjurai dalam sekian lipatan serta menggelembung ke belakang pinggul dan ke muka, yang begitu panjangnya hingga menyapu lantai pasir halaman dan batu baslat hitam pendapa terpoles.

(Rara Mendut, 2008: 64).

kain panjang yang lebar.

165. Sepuluh gadis lainnya membawa kendhil minuman raja, sirih pinang, pipa tembakau, api untuk merokok, kotak minyak harum, kotak-kotak berisi baju beledu, payung, alat-alat menulis, dan sehelai tikar elok.

(Rara Mendut, 2008: 64).

tempat air yang bercerat; dibuat dari tanah liat.

166. Seorang gusti dari ujun jauh Mancanegara-Wetan istimewwa sekali sebagai sumbangan Kadipten Blambangan, memerankan Arya Balik yang gagal berikhtiar membangun jembatan lintas laut dari Ngayoja ke Ngalengka, yang secara besar-besaran harus menyeberangkan tentara Ngayoja. (Rara Mendut, 2008: 69).

pangeran.

167. Apakah Sang Ksatria Wiraguna yang menjelang usia tua saat itu sudah merasakan getaran wirasat, bahwa di Blambangan kelak ia akan dibunuh oleh tangan=tangan panjang sang manja Susuhunan Mangkurat I yang sekarang masih putera mahkota bocah, duduk di depan Tumenggung Danupaya itu? Dan apakah tari Jembatan Runtuh yang memang indah dari segi seni gerak raga itu pada hakikatnya merupakan sindiran dari Adipati semenanjung timur yangn bersekongkol dengan orang=orang Bali itu?

anak kecil.

Bahwa diujung sanalah Panglima Besar Mataram siapa tahu akan hancur dan tenggelam, karena keliru mengandalkan diri pada suatu jembatan politik yang rapuh? Baik. Soal satu ini pada hari-hari berikut secepat mungkin akan ia bicarakan dengan rajanya.

(Rara Mendut, 2008: 70).

168. “Yang berkenan Paduka Yang Mulia Kanjeng Raden Tumenggung Harya Wiraguna beserta Yang Dipermuliakan Mulia, Bendara Ayu garwa-padmi Nyai Ajeng, beserta para bunga ayu lagi ningrat keputrian dalem istana Baginda serta Puri Wiragunan; para Paduka Yang Mulia Patih Hanjawi serta Patih Ngalebet, para pangeran tumenggung serta adipati yang mulia budiwan;

para ngabehi, para panewu tuwin patinggi, para rangga serta raden mas, raden-raden mantra jajaran yang sangat terhormat; para demamng kenthol; demang lurah; carik dan kebayan yang terhormat; hadirin-hadirat para punggawa serta perwira yang berbahagia syukuran!” Kendhang Ki Rangga Hajiwijana dan saron gong berdendang langkah irama selaku peneguhan kata-kata Penata Acara. (Rara Mendut, 2008: 84).

sarun.

169. Tetapi bila dimuka garuda, si wulung ulung menari bekso asih merpati (tersenyumlah hampir tak kentara Wiraguna) baru itulah ajrih-asih hasil gemilang Sang Panglima dalam arti yang sejati, bahan syair dan tembang bagi para pujangga.

(Rara Mendut, 2008: 84).

burung elang.

170. “Di medan laga, betul. Itupun hanya berkat Wahyu keluarga ningrat Ki Ageng Pemanahan

bintang kebahagiaan.

dan Panembahan Senopati yang mantap bersinar di angkasa Jawa seperti bintang kejora.

(Rara Mendut, 2008: 86).

171. Ni Semangka menggeserkan jelagak pelita minyak dan menggeserkannya ke dekat puannya, sehingga lebih cerlang wajah Raden Rara-nya diterangi. (Rara Mendut, 2008: 96).

tumpuan.

172. “Uah, belum mandi. Sungguh capai hari-hari yang sudah-sudah. Kayak wewe…”

(Rara Mendut, 2008: 99).

hantu perempuan dengan rambut teruarai.

173. Ayam alas mau dijadikan merak.

(Rara Mendut, 2008: 101).

hutan.

174. Kalau begitu, asmara hidangan Mendut ini pasti tenunan bagor.” (Rara Mendut, 2008: 104).

karung.

175. “Maka pantas dicekoki air daun kates, bukan?”

(Rara Mendut, 2008: 106).

pepaya.

176. Mengapa? Menurut dugaan Ni Kuweni itu disebabkan Batara Guru-lah yang diangkat menjadi penguasa tertinggi seluruh tribuwana.

(Rara Mendut, 2008: 107).

dunia dewa atas, dunia manusia tengah, dan dunia bawah.

177. Keliru, sungguh keliru menempatkan kaum lelaki sebagai pranatapraja dan pranatagama.

(Rara Mendut, 2008: 107).

pengantar negara, pengantar agama.

178. Baiklah, jasa yang sebaik mungkin dapat disumbangkan Ni Kuweni ialah pengabdiannya dalam hal-hal sanngat remeh: mengatur gondhok pribadi tuannya, memeriksa minuman dan nyamikan yang paling beliau sukai, dan mengatur agar perbendaharaan busana Sang Tumenggung selalu setingkat dengan martabat

sedap-sedapan.

beliau, dan memandikan beliau.

(Rara Mendut, 2008: 107 ).

179. Setelah para mantri meletakkan para panglima mereka di tepi kolam dan mengundurkan diri,mulailah Ni Kuweni, sesudah khidmad bersembah dahulu, menanggalkan kain dan cawat tuannya, lalu memandikan beliau dalam kolam yang timbul dari belik.

(Rara Mendut, 2008: 108).

mata air dari tepi sungai.

180. Kemenyan di atas anglo mengepul- ngepul berpadu dengan bau harum mistik bunga-bungaan kanthil, mawar, dan kamboja, dalam remang-remang blencong yang biasanya dipakai untuk pertunjukkan wayang kulit.

(Rara Mendut, 2008: 115).

lampu pemberi sinar layar wayang kulit.

181. Ada beberapa keris, yang sesuai dengan perhitungan primbon, serta bobot peristiwanya, jarang, dan ada yang kerap dipakai oleh Panglima Wiraguna. (Rara Mendut, 2008: 115).

kitab yang berisi ramalan, pestaka.

182. Bila sesudah matahari kehilangan suhu sengatnya, kira-kira empat sampai delapan ratus, dalam pentasan istimewa pasti sampai seribu bangsawan, para ngabehi, rangga, serta raden mas mantri jajaran, para demang kenthol, demang, dan raden mantri jajaran, para petinggi, lurah, carik, dan kebanyakan serta para punggawa dan perwira, yang berbahagia datang dari segala penjuru, untuk menyaksikan pagelaran olah perang di hadapan Sri Susuhunan, Pangeran Patih, para pangeran dan para tumenggung serta adipati; beserta bunga-bunga paling mulia, para bendara raden

pameran, tempat seni yang dihidangkan pada khalayak ramai.

ayu, bendara ayu, raden ayu, dan dayang-dayang mereka. (Rara Mendut, 2008: 125).

183. Alun-alun utara yang di tiga sisi dikelilingi pagar-pagar dolok kayu jati rapat akan dijaga ketat oleh kurang lebih dua puluh ribu prajurit dari segala gaman yang dilengkapi tombak-tombak panjang atau senapan-senapan.

(Rara Mendut, 2008: 125).

Senjata.

184. Alat saron misalnya, itulah pasukan-pasukan berkuda yang menerjang dan mendobrakkan jalan bagi bonang, dan bonang-penerus yang menggambarkan pasukan-pasukan jalan kaki bertombak, dengan perwira-perwira kenong, kempul, dan dukungan barisan meriam gong suwukan dan gong gedhe.

(Rara Mendut, 2008: 126).

nama perincian

bunyi-bunyian gamelan.

185. Mereka bagaikan seruling, rebab dan celempung yang memohonkan kejayaan dari kahyangan.

(Roro Mendut, 2008: 126).

semacam biola gamelan.

186. Pasukan-pasukan khusus bersenapan mesiu ibarat kethuk, kenong, dan kemodhong.

(Rara Mendut, 2008: 126).

nama perincian

bunyi-bunyian gamelan, gong wilahan.

187. Tak lupa kaum wanita yang sangat berjasa selaku perbekalan jasmani maupun mental, agar para perwira bijaksana dalam pengambilan keputusan dan para prajurit gagah dalam melakukan siasat dari atas; merekapun memperoleh lambang-lambang yang pas dalam alat-alat gambang, gender, dan demung.

alat gamelan dari kepingan-kepingan logam yang diletakkan di atas bumbung-bumbung bambu sebagai kotak resonansi; saron besar.

(Rara Mendut, 2008: 126).

188. Dan nikmatlah air danau, langit yang biru, bunyi burung-burung blekok dan elang yang melayang sangat tenang di atas mereka.

(Rara Mendut, 2008: 132).

burung sebangsa bangau.

189. Hati-hati Ni Semangka yang seberat karung berisi gori dan yang serba menggerutu itu didudukkan ke dalam sampan yang tentulah langsung gonjing berajojing.

(Rara Mendut, 2008: 136).

buah nangka muda.

190. “Mumpung pergi bapak-simbok.

(Rara Mendut, 2008: 138).

Ibu.

191. Yang membikin pegal boyok.

(Rara Mendut, 2008: 138).

pinggang.

192. Dan seandanya pun gadis nelayan pujaan hati itu akhirny menikah juga dengan sembaraang bujang nelayan yang kasar dan tahunya hanya menidurinya dan mengharapkan keturunan lelaki, apa yang dapat diperbuat Pranacitra? Ah, gadis pujaan impian barangkali toh lebih nyata lebih berharga daripada kenyataan daging yang menggiurkan, tetapi tidak menumbuhkan sajak-sajak rindu dan gendhing-gendhing asmaraandana. (Rara Mendut, 2008: 143).

nama nyanyian macapat.

193. Kalau menari cuma begini-begini, menirukan seorang penari bedhaya halus sekali secara jenaka, sehingga kawan-kawannya meledak gelak-tawanya.

tari serimpi istana.

(Rara Mendut, 2008: 146).

194. “Nah bukannya senua tugas itu tugas kaum sudra? Menumpuk batu dan pasir, bertani berladang, meniup ububan, para pandai besi dan mengayuh laut agar perahu maju?”

(Rara Mendut, 2008: 164).

puputan.

195. “Halilintar bukan tombak, Paduka Kanjeng, melainkan api yang dinyalalakan dari batu dan kawul oleh kaum dapur kahyangan serta abdi-abdi bidadari pembuat api.”

(Rara Mendut, 2008: 164).

serutan kayu.

196. Ntir-untir, abdi yang jangkung tubuhnya, kurus luwes sekali seperti reng bambu, bertanya kepada seorang perempuan yang berjualan arang di tepi jalan, “ Maaf, Mbok, kok ramai sekali in ada apa ta?” (Rara Mendut, 2008: 171).

bilah yang dipasang pada kasan.

197. Wanita itu pelan-pelan berpaling, susur masih menjulur keluar dari mulutnya.

(Rara Mendut, 2008: 171).

tembakau kulum.

198. Pokoknya: saya lebih senang punya bini seperti kuali,tetapi selalu kebak gudeg telur dan ingkung ayam; daripada makhluk-makhluk yang… (dari tangannya menggambarkan sesuatu yang membingungkan dan menyebabkan dosa)yang ya, ya begitu itu.” (Rara Mendut, 2008: 174).

198. Pokoknya: saya lebih senang punya bini seperti kuali,tetapi selalu kebak gudeg telur dan ingkung ayam; daripada makhluk-makhluk yang… (dari tangannya menggambarkan sesuatu yang membingungkan dan menyebabkan dosa)yang ya, ya begitu itu.” (Rara Mendut, 2008: 174).

Dokumen terkait