CAMPUR KODE BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA NOVEL RARA MENDUT
KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Disusun oleh Fransiska Esti Apriliani
NIM: 134114025
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2018CAMPUR KODE BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA NOVEL RARA MENDUT
KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia
Program Studi Sastra Indonesia
Disusun oleh Fransiska Esti Apriliani
NIM: 134114025
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA Januari 2018
Skripsi
CAMPUR KODE BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA NOVELRARA MENDUT
KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA
Oleh
Fransiska Esti Apriliani NIM: 134114025 Telah disetujui oleh Pembimbing
~~
Prof. Dr.1.Praptomo Baryadi,M.Hum.
ii
Tanggal6Desember2017
Skripsi
CAMPUR KODE BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA NOVELRARA MENDUT
KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA
Dipersiapkan dan ditulis oleh Fransiska Esti Apriliani
NIM: 134114025
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 11 Januari 2018
dan dinyatakan memenuhi syarat
8usunan Panitia Penguji
Nama Lengkap Ketua
8ekretaris
: Prof. Dr.I.Praptomo Baryadi, M.Hum.
: Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.
Anggota : Maria Magdalena 8inta Wardani, 8.8., M.A.
Prof. Dr.I.Praptomo Baryadi, M.Hum.
Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum.
... ( ... ")
... "#.~ .... ~::::::
....
yt:'~...
Yogyakarta, 31Januari 2018
F~~8astra
anata Dharma
. Subagyo, M.Hurn.1
iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta,2 Desember 2017 Penulis
~
Fransiska Esti Apriliani
IV
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya lImiah untuk Kepentingan Akademis
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dhanna:
Nama NIM
: Fransiska Esti Apriliani : 134114025
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dhanna karya ilmiah saya yang berjudul Campur Kode Bahasa Jawa ke Dalam Bahasa Indonesia Pada Novel Rara Mendut Karya Y. B.
Mangunwijaya beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dhanna hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikalmya di internet atau media yang lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 2 Desember 2017
Yang menyatakan,
~
Fransiska Esti Apriliani
v
vi
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”
(Amsal 16:9)
Ayat tersebut berlaku dalam berbagai macam aspek kehidupan, baik selama penelitian ini, dalam kehidupan saya sehari-hari, maupun dalam kehidupan Roro Mendut yang
tergambar dalam novel karya Y. B. Mangunwijaya.
Apapun yang terjadi dalam setiap diri manusia itu bukan suatu kebetulan. Tetapi Tuhan telah mempersiapkan masing-masing pribadi untuk misi yang berbeda. Jangan
pernah takut untuk memulai.
Skripsi ini saya persembahkan untuk yang terkasih:
Allah Bapa yang Maha Kuasa,
Bapak Yohanes Darmono dan Ibu Maria Sutarmi, Kakak Maria Pudjowati,
Adik Stefanus Dwi Prasetyo.
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yesus Kristus karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Sastra Indonesia pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing telah membantu penulis dalam penyu skripsi ini:
1. Bapak Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan masukan yang sangat berarti bagi penulis dalam penyempurnaan penulisan skripsi ini.
2. Ibu S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bapak Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., selaku dosen Pembimbing Akademik angkatan 2013 Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang selalu mendukung dari awal proses studi hingga proses pembuatan skripsi.
4. Segenap dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Bapak Drs. F. X. Santosa, M.S., Bapak Drs. B.
Rahmanto, M.Hum., Bapak Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum. (alm), Bapak Drs.
Antonius Herry Antono, M.Hum. (alm), Ibu Dra. Fransiska Tjandrasih Adji, M.
Hum., Bapak Sony Christian Sudarsono, S.S., M. A., dan Ibu Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A., serta dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah berkenan memmberikan ilmu
viii
pendidikan dan pengetahuan kepada penulis selama berkuliah di Universitas Sanata Dharma.
5. Segenap staf sekretariat Fakultas Sastra dan Staf Biro Akademik Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dalam kelancaran perkuliahan.
6. Segenap staf perpustakaan Universitas Sanata Dharma atas pelayanannya yang baik dan menyediakan sumber pustaka dengan lengkap sesuai sesuai kebutuhan peulis selama masa kuliah dan selama menyusun skripsi.
7. Kedua orangtua saya, Bapak Yohanes Darmono dan Ibu Maria Sutarmi, serta Mbak Maria Pudjowati, Mas Lukas Rushdian, dan Adik Stefanus Dwi Prasetyo yang selalu mendukung penulis secara moril dan materil dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.
8. Keluarga KSK USD, UKM Karawitan USD, BeJo, keluarga Melisha Burckard, keluarga Sastra Indonesia Angkatan 2013, Romo Gregorius Subanar, SJ., Br.
Yohanes Sarju, S. J., Ibu Wahyu Wido Sari, S.Si., M.Biotech., dan tidak lupa para sahabat yang selalu memberikan semangat motivasi untuk tetap berjuang dalam penyelesaian skripsi ini, termasuk tetapi tidak terbatas kepada: Rista Primaningtyas, Clara Nurina Proborini, dan Afrilidia Nurasitawati.
9. Semua pihak yang turut membantu penulis baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.
Yogyakarta, 11 Desember 2017 Penulis
ix ABSTRAK
Apriliani, Fransiska Esti. 2017. “ Campur Kode Bahasa Jawa Ke Dalam Bahasa Indonesia Pada Novel Rara Mendut Karya Y. B. Mangunwijaya”
Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Skripsi ini membahas campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Terdapat dua masalah yang dibahas dalam penelitian ini: (1) satuan kebahasaan yang terdapat bahasa Jawa yang bercampur dengan bahasa Indonesia yang ada pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan satuan kebahasaan yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya dan Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiolinguistik. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap sebagai teknik lanjutan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan dengan alat penentunya metode padan translasional dan padan pragmatis. Metode penyajian data yang digunakan adalah metode formal dan metode informal.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama, satuan kebahasaan yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya mencakup (a) kata, (b) frasa, (c) kalimat, (d) wacana. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya yaitu, (a)identifikasi peranan, (b) identifikasi ragam, dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan.
Kata kunci: Rara Mendut, Campur kode, bahasa Jawa
x
ABSTRACT
Apriliani, Fransiska Esti. 2017. "Mixed Language Code From Javanesse Into Indonesian on Novel Rara Mendut by Y. B. MANGUNWIJAYA"
Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Literature Study Program, Faculty of Literature, Sanata Dharma University.
This undergraduate thesis discusses mixed Java language code into Indonesian in Rara Mendut novel by Y. B. Mangunwijaya. There are two problems that are discussed in this research: (1) language units that exist in Javanese language mixed with the Indonesian language that exist in novel Rara Mendut by Y. B. Mangunwijaya, (2) factors influencing the interference of Java language code into Indonesian language in the Rara Mendut novel by Y. B. Mangunwijaya. The purpose of this research is to describe the linguistic unit contained in the mix in the Java language code Rara Mendut novel by Y. B. Mangunwijaya and describe the factors that influence the occurrence of mixed Java language code into Indonesian in Rara Mendut novel by Y. B. Mangunwijaya.
The type of this research is descriptive research. The approach used in this research is sociolinguistic approach. Data collection method used in this research is the method refer to freely refer to techniques capable engaged as advanced techniques.
The method of data analysis used is the method of matching by means of identification of translational pad method and pragmatic pad. Method of presenting the data used is formal method and informal method.
This research resulted in two findings. First, the linguistic units contained in the Javanese language code mix into Indonesian on Rara Menduts novel by Y. B.
Mangunwijaya include (a) the word, (b) the phrase, (c) the sentence, (d) the discourse.
Secondly, the factors that influence the interference of the Java language code into Indonesian in Rara Menduts novel by Y. B. Mangunwijaya are, (a) role identification, (b) identification of variety, and (c) the desire to explain and interpret.
Keywords: Rara Mendut, Mixed code, Java language
xi DAFTAR ISI
Judul... i
Persetujuan...ii
Pengesahan...iii
Pernyataan keaslian Karya... iv
Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah... v
Motto dan Persembahan...vi
Kata Pengantar... vii
Abstrak... ix
Abstract... x
DAFTAR ISI...xi
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...4
1.3 Tujuan Penelitian... 4
1.4 Manfaat Penelitian... 5
1.5 Tinjauan Pustaka...5
1.6 Landasan Teori...7
1.6.1 Kontak Bahasa...7
1.6.2 Alih Kode... 8
1.6.3 Campur Kode...12
1.6.3.1 Latar Belakang Terjadinya Campur Kode... 14
1.6.3.2 Beberapa Macam Wujud Campur Kode... 16
1.7 Metode Penelitian... 18
1.8 Sistematika Penyajian... 23
2.1 Pengantar...24
2.2 Campur Kode Berupa Kata...24
2.2.1 Campur Kode Berupa Kata Asal... 24
2.2.1.1 Kata Asal Berupa Kata Benda...25
xii
2.2.1.2 Kata Asal Berupa Kata Kerja...26
2.2.1.3 Kata Asal Berupa Kata Sifat... 27
2.2.1.4 Kata Asal Berupa Kata Bilangan... 28
2.2.1.5 Kata Asal Berupa Kata Seru...28
2.2.1.6 Kata Asal Berupa Kata Penghubung...29
2.2.2 Campur Kode Berupa Kata Jadian... 29
2.2.2.1 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan...30
2.2.2.1.1 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Awalan...30
2.2.2.1.2 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Sisipan... 31
2.2.2.1.3 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Akhiran... 32
2.2.2.1.4 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Awalan dan Akhiran.33 2.2.2.2 Kata Jadian Berupa Pengulangan...34
2.2.2.2.1 Kata Jadian Berupa Pengulangan Utuh...34
2.2.2.2.2 Kata Jadian Berupa Pengulangan Berubah Bunyi... 35
2.2.2.2.3 Kata Jadian Berupa Pengulangan dengan Imbuhan...36
2.2.2.2.4 Kata Jadian Berupa Pengulangan Progresif...37
2.2.2.2.5 Kata Jadian Berupa Pengulangan Regresif...37
2.2.2.3 Kata Jadian Berupa Pemajemukan...38
2.2.2.4 Kata Jadian Berupa Pemendekan... 38
2.3 Campur Kode Berupa Frasa...39
2.3.1 Campur Kode Berupa Frasa Berdasarkan Jenisnya...39
2.3.1.1 Campur Kode Berupa Frasa Nominal... 39
2.3.1.2 Campur Kode Berupa Frasa Verbal... 40
2.3.1.3 Campur Kode Berupa Frasa Adjektifal...41
2.3.2 Campur Kode Berupa Frasa Berdasarkan Fungsi Unsur Pembentuknya42 2.3.2.1 Frasa Endosentris Atributif... 42
2.3.2.2 Frasa Endosentris Apositif... 43
2.3.2.3 Frasa Endosentris Koordinatif...44
2.4 Campur Kode Berupa Kalimat...45
xiii
2.4.1 Campur Kode Berupa Kalimat Berdasarkan Pengucapannya... 45
2.4.1.1 Kalimat Langsung... 46
2.4.1.1.1 Kalimat Pernyataan...46
2.4.1.1.2 Kalimat Perintah... 47
2.4.1.1.3 Kalimat Tanya...48
2.4.2 Campur Kode Berupa Kalimat Berdasarkan Isi dan Fungsinya...49
2.4.2.1 Campur Kode Berupa Kalimat Perintah...49
2.4.2.1.1 Kalimat Perintah Permintaan... 49
2.4.2.1.2 Kalimat Perintah Larangan... 50
2.4.2.1.3 Kalimat Perintah Ajakan...51
2.4.2.2 Campur Kode Berupa Kalimat Tanya...51
2.5 Campur Kode Berupa Wacana...51
2.5.1 Campur Kode Berupa Wacana Deskripsi...52
2.5.2 Campur Kode Berupa Wacana Argumentasi...53
3.1 Pengantar...56
3.2 Identifikasi Peranan... 56
3.2.1 Faktor Sosial Budaya...56
3.2.2 Faktor Pendidikan...57
3.3 Identifikasi Ragam...59
3.4 Identifikasi Sikap Terhadap Orang Lain...60
4.1 Kesimpulan... 62
4.2 Saran... 63
Daftar Pustaka... 65
Lampiran 1... 66
Lampiran 2... 81
Lampiran 3... 84
Lampiran 4... 92
Lampiran 5... 97
Lampiran 6... 101
xiv
Lampiran 7... 104
Lampiran 8... 107
Lampiran 9... 109
Lampiran 10... 111
Lampiran 11... 113
Lampiran 12... 114
Lampiran 13... 117
Lampiran 14... 124
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Objek penelitian ini adalah campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Campur kode adalah mencampurkan dua bahasa (atau lebih) atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran kode (Nababan, 1984:32).
(1) Mengapa orang – orang gedhe itu tidak berkelahi saling melabrak di tempat jauh sana saja, menjauhi kedamaian kaum pantai yang terus terang tidak pernah merasakan hubungan batin serambut pun dengan orang – orang pedalaman, yang berpangkat Raja agung sekalipun (Rara Mendut, 2008: 10)
(2) Uee, Ndut! Mendut! Teriak istrinya meletus polos sampai Siwa malu.
“ Kowe dipilih jadi garwa Adipati... Adipati siapa, Ndara Manggala”
(Rara Mendut, 2008: 12)
(3) Hanya demi wajiblah tuan suami mulia mereka melaksanakan upacara jumbuh-asmara. (Rara Mendut, 2008:17)
Pada contoh (1) kata gedhe mempunyai arti ‘besar’, contoh (2) kata kowe mempunyai arti ‘kamu’ dan garwa mempunyai arti ‘jodoh’, contoh (3) kata jumbuh-asmara mempunyai arti ‘bersetubuh’. Pada contoh kalimat (1), (2), dan (3) termasuk pencampuran kode karena adanya penggunaan dua bahasa yang berbeda dalam satu kalimat, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
Campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut dipilih sebagai topik bahasan dalam skripsi ini berdasarkan alasan sebagai berikut. Pertama, dalam novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya banyak ditemukan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Kedua,
ditemukan beberapa macam alih kode dalam novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya. Ketiga, campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya belum pernah diteliti.
Hal pertama pembahasan dalam skripsi ini adalah satuan kebahasaan yang terdapat bahasa Jawa yang bercampur dengan bahasa Indonesia yang ada pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Sebagaimana terdapat dalam contoh berikut:
(4) “Ayo Bangun! Ini waktu kerja! Tidak untuk tidur seperti bayi benggala, ejek Siwa-tua.” (Rara Mendut, 2008:5)
(5) “Nas!” Sambar Ntir-untir yang rupanya punya rencana sinting, “nanti gela.” (Rara Mendut, 2008: 184).
(6) Ketika gamelan membunyikan gendhing Gumolonging Bawana yang bernada khidmat megiringi Baginda Sri Susuhunan Hanykrakusuma Senapati Ingalaga Mataram Abdurrahman Sayidin Panatagama yang tenang berwibawa melangkah ke luar dari dalam istana, masuk ke pendapa Siti-Hinggil,tak ada mata satu pun yang memberanikan diri berarah menengadah, apalgi menatap langusung tak langsung mata atupun wajah sang raja. (Rara Mendut, 2008: 65).
(7) “Mbahmu! Aku dudu mbahmu. Jangan main-main lho kalian. Dia itu dayangnya Raden Rara Mendut, calon garwa-ampeyan dalem Kanjeng Raden Tumenggung Harya Wiraguna. Ngerti?”
(Rara Mendut, 2008: 189-190).
Pada contoh (4) kata benggala ‘besar’ dan contoh (5) gela ‘menyesal’ merupakan contoh satuan kebahasaan berupa kata yang mengalami campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam satu kalimat. Pada contoh (6) Gumolonging Bawana
‘perpaduan kompak dunia’ merupakan contoh satuan kebahasaan berupa frasa yang mengalami campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam satu kalimat.
Pada contoh (7) Aku dudu mbahmu ‘aku bukan nenekmu’ merupakan contoh satuan kebahasaan berupa kalimat yang mengalami campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam satu paragraf.
Masalah kedua yang dikaji dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Faktor-faktor itu meliputi, faktor identifikasi sosial yang terdiri dari faktor sosial-budaya dan faktor pendidikan, faktor identifikasi ragam yang terdiri dari faktor status sosial, dan faktor identifikasi sikap terhadap orang lain. Seperti terdapat dalam contoh - contoh berikut:
(8) Tubuhmu pun masih terlalu muda untuk memiliki hidup perempuan miskin kawula-alit. (Rara Mendut, 2008:4)
(9) Dengan laku-dodhok kedua wanita muda itu keluar dalem.
(Rara Mendut, 2008: 118).
Frasa pada contoh (8) kawula-alit mempunyai arti ‘warganegara kecil’ dan contoh (9) laku-dodhok mempunyai arti ‘berjalan dengan berjongkok’ termasuk campur kode sebagai contoh faktor-faktor yang yang mempengaruhi campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya. Kedua frasa tersebut digolongkan dalam contoh (8) merupakan faktor identifikasi peranan karena digunakan oleh sekelompok orang tertentu yang mempunyai perbedaan kasta atau status sosial lebih rendah dari raja. Pihak yang mempunyai kasta atau status sosialnya lebih rendah menggunakan tingkat bahasa yang lebih tinggi. Sedangkan pihak yang status sosialnya lebih tinggi menggunakan tingkat bahasa yang lebih rendah. Pada contoh (9) merupakan contoh faktor identifikasi sikap terhadap orang lain. Digambarkan dalam kalimat, orang yang mempunyai status sosial rendah menunjukkan sikap hormatnya kepada raja dengan cara berjalan jongkok dihadapan raja.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dalam butir 1, permasalahan secara umum yang dibahas dalam penelitian ini mengenai campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Secara khusus permasalahan yang dibahas adalah sebagai berikut:
1.2.1 Satuan kebahasaan apa yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya?
1.2.2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini adalah mendeskripsikan campur kode yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Secara khusus, tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1.3.1 Mendeskripsikan satuan kebahasaan yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya.
1.3.2 Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini berupa deskripsi satuan kebahasaan dan faktor- faktor yang mempengaruhi terbentuknya satuan kebahasaan yang ada pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Hasil penelitian ini memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis. Hasil penelitian memberikan manfaat secara teoretis yaitu, mengembangkan teori campur kode dalam bidang sosiolinguitik. Hasil penelitian ini juga memberikan manfaat praktis yaitu, menyediakan daftar unsur-unsur bahasa Jawa yang digunakan dalam novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Daftar itu dapat dipakai oleh pembaca untuk memahami arti unsur-unsur bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia.
1.5 Tinjauan Pustaka
Terdapat beberapa pembahasan mengenai campur kode. Tulisan tersebut antara lain oleh Laurens (2003), Ekayanti (2004), Primasandi (2011), Tyas (2014), Wonge (2015), Tahoni (2016), berikut pemaparannya.
Laurens (2003) dalam skripsinya yang berjudul “Campur Kode Antarbahasa dalam Novel Lupus karya Hilman” membahas (i) mendiskripsikan macam-macam wujud satuan lingual yang tercampur dalam novel Lupus karya Hilman, (ii) Mendiskripsikan jenis-jenis campur kode pada novel Lupus karya Hilman, dan (iii) Mendiskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode dalam novel Lupus karya Hilman.
Ekayanti (2004) dalam skripsinya yang berjudul “Campur Kode dalam Novel Belantik karya Ahmad Tohari” membahas mengenai (i) jenis campur kode dalam novel Belantik menurut satuan linguanya, (ii) jenis campur kode dalam novel Belantik
menurut bahasanya, (iii) makna satuan lingual yang tercampur dalam novel Belantik, dan (iv) Faktor-faktor penyebab campur kode dalam novel Belantik.
Primasandi (2011) dalam skripsinya yang berjudul “Campur Kode Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Tuturan Tokoh Pariyem dalam Novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi” membahas mengenai (i) satuan lingual apa sajakah campur kode terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi, dan (ii) sebab-sebab terjadinya campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi.
Tyas (2014) dalam skripsinya yang berjudul “ Campur Kode Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Wacana Berita Kriminal Koran Merapi Edisi September 2012” membahas mengenai (i) satuan lingual apa sajakah comper kode terjadi dalam wacana berita kriminal pada Koran Merapi Edisi September 2012, dan (ii) fungsi campur kode dari setiap satuan lingual yang terdapat dalam wacana berita kriminal pada Koran Merapi Edisi September 2012.
Wonge (2015) dalam skripsinya yang berjudul “ Campur Kode dalam Novel Supernova karya Dewi Lestari” membahas mengenai (i) jenis-jenis campur kode dalam Novel Supernova karya Dewi Lestari, dan (ii) faktor penyebab campur kode dalam Novel Supernova.
Tahoni (2016) dalam skripsinya yang berjudul “Campur Kode Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia pada Surat Kabar Timor Express Edisi Januari 2016”
membahas mengenai (i) jenis-jenis campur kode bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan satuan kebahasaannya pada surat kabar Timor Express Edisi
Januari 2016, dan (ii) faktor penyebab terjadinya campur kode bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia pada surat kabar Timor Express Edisi Januari 2016.
Dari pustaka-pustaka yang disebutkan terlihat bahwa sudah ada beberapa yang meneliti mengenai campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Namun, penelitian campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam novel Roro Mendut karya Y.B. Mangunwijaya belum pernah diteliti.
1.6 Landasan Teori
Dalam landasan teori ini dipaparkan pengertian kontak bahasa, pengertian alih kode, dan pengertian campur kode.
1.6.1 Kontak Bahasa
Menurut Weinreich (Suwito, 1983:39), peristiwa kontak bahasa terjadi apabila dua bahasa digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama. Jadi kontak bahasa terjadi dalam diri penutur secara individual. Individu-individu tempat terjadinya kontak bahasa disebut dwibahasawan-dwibahasawan. Sedangkan peristiwa pemakaian dua bahasa (atau lebih) secara bergantian oleh seorang penutur disebut kedwibahasawaan.
Kontak bahasa terjadi dalam situasi konteks sosial, yaitu situasi di mana seseorang belajar bahasa kedua di dalam masyarakatnya. Dalam situasi seperti itu dapat dibedakan antara: situasi belajar bahasa, proses perolehan bahasa dan orang yang belajar bahasa. Dalam situasi belajar bahasa terjadi kontak bahasa, proses perolehan bahasa kedua disebut pendwibahasaan (bilingualisasi) dan orang yang belajar bahasa kedua dinamakan dwibahasawan (Diebold, dalam Hymes, 1964:496 (dalam Suwito, 1983:39))
Kontak bahasa meliputi segala peristiwa persentuhan antara beberapa bahasa yang berakibat adanya kemungkinan pergantian pemakaian bahasa oleh penutur dalam konteks sosialnya. Peristiwa atau gejala semacam itu antara lain nampak dalam ujud kedwibahasaan dan diglosia (Suwito, 1983:39-40).
Menurut Suwito (1983:40-41), kedwibahasaan adalah istilah yang pengertiannya bersifat nisbi (relatif). Kenisbian demikian terjadi karena batas seseorang untuk dapat disebut dwibahasawan itu bersifat arbritrer dan hampir tidak dapat ditentukan secara pasti. Karena pandangan seseorang terhadap kedwibahasaan didasarkan kepada pandangannya terhadap batas kedwibahasaan seseorang, maka pandangannya tentang kedwibahasaan juga berbeda-beda. Demikianlah maka pengertian tentang kedwibahasaan selalu berkembang, yang cenderung meluas. Perkembangan kedwibhasaan menyangkut pula pengertian tentang bahasa yang terlibat dalam kedwiibahasaan itu. Dalam hal ini rupa-rupanya Bloomfield memberikan pengertian bahasa sebagai sistem kode yang mempunyai ciri-ciri khusus. Mengenal dua bahasa berarti mampu menggunakan dua sistem kode secara baik.
1.6.2 Alih Kode
Menurut Suwito (1983:68-67), Alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain. Namun, karena di dalam suatu kode terdapat berbagai kemungkinan varian (baik varian resional, varian klas sosial, ragam, gaya ataupun register) maka peristiwa alih kode mungkin berujud alih varian, alih raga, alih gaya atau register. Peralihan demikian dapat diamati lewat tingkat-tingkat tatabunyi, tatakata, tatabentuk, tatakalimat, maupun tatawacananya. Alih kode merupakan salah satu aspek tentang saling ketergatungan bahasa (language dependency) di dalam masyarakat multilingual. Artinya, di dalam masyarakat multilingual tidak mungkin
seorang penutur menggunakan satu bahasa secara mutlak murni tanpa sedikit pun memanfaatkan bahasa atau unsur bahasa yang lain. Dalam alih kode pengguanaan dua bahasa (atau lebih) itu ditandai oleh: (a) masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, (b) fungsi-fungsi bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks. Tanda-tanda demikian oleh Kachru (1965) disebut ciri-ciri unit-unit konteksual (contextual units).
Ciri-ciri itu menunjukkan bahwa di dalam alih kode masing-masing bahasa masih mendukung fungsi fungsi tersendiri secara eksklusif, dan peralihan kode terjadi apabila penuturnya merasa bahwa situasinya relevan dengan peralihan kodenya. Alih kode menunjukkan suatu gejala adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasi relevansi di dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.
Peralihan kode biasanya terjadi antar bahasa yang satu ke bahasa yang lain demi terjadinya kesinambungan situasi. Peralihan itu terjadi pada kata-kata tertentu. Dalam bukunya Suwito (1983:72-74) memaparkan beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya alih kode, antara lain:
(1) Penutur
Seorang penutur kadang-kadang dengan sadar berusaha beralih kode terhadap lawan tuturnya karena sesuatu maksud. Misalnya apabila seorang bawahan menghadap atasannya di kantor (dalam situasi resmi), seharusnya mereka berbahasa Indonesia. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Apabila karena kedinasannya atasannya menggunakan bahasa Indonesia, maka nampak usaha dari bawahannya untuk sedapat mungkin beralih kode dengan bahasa daerahnya. Usaha demikian dilakukan dengan maksud mengubah situasi, yaitu dari situasi resmi ke situasi tak resmi. Dengan situasi tak resmi diharapkan
masalah-masalah yang sedang dibicarakan akan lebih mudah dipecahkan. Tetapi apabila “ajakan“ beralih kode itu tidak ditanggapi oleh atasannya, itu merupakan salah satu pertanda bahwa usaha pemecahan masalah mungkin tidak seperti yang diharapkan.
(2) Lawan tutur
Setiap penutur pada umumnya ingin mengimbangi bahasa yang dipergunakan oleh lawan tuturnya. Di dalam masyarakat multilingual itu berarti bahwa seorang penutur mungkin harus beralih kode sebanyak kali lawan tutur yang dihadapinya.
Dalam hal ini lawan tutur dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu: (a) lawan tutur yang berlatar belakang kebahasaan sama dengan penutur, dan (b) lawan tutur yang latar belakang kebahasaannya berlainan dengan penutur. Menghadapi lawan tutur golongan (a), alih kode mungkin berwujud alih varian (baik resional maupun sosial), alih ragam, alih gaya atau register. Dan berhadapan dengan lawan tutur golongan (b) alih kode mungkin terjadi dari bahasa daerah ke bahasa daerah lain yang dikuasainya, dari bahsa daerah ke bahasa nasional atau mungkin pula dari keduanya ke bahasa asing tertentu.
(3) Hadirnya penutur ketiga
Dua orang yang berasal dari kelompok etnik yang sama pada umumnya saling berinteraksi dengan bahasa kelompok etniknya. Tetapi apabila kemudian hadir orang ketiga dalam pembicaraan itu, dan orang itu berada berbeda latar kebahasaannya, biasanya dua orang yang pertama beralih kode ke bahasa yang dikuasai ketiganya. Hal itu dilakukan untuk netralisasi situasi dan sekaligus menghormati hadirnya orang ketiga tersebut. Tetap dipergunakannya bahasa
kelompok etnik oleh keduanya, padahal mereka tahu bahwa orang ketiga tidak tahu bahasa mereka, dianggap sebagai perilaku yang tidak terpuji.
(4) Pokok pembicaraan (topik)
Pokok pembicaraan atau topik merupakan faktor yang termasuk dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. Pokok pembicaraan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu: (a) pokok pembicaraan yang bersifat formal (misalnya: mengenai masalah kedinasan, ketatanegaraan, keilmuan kependidikan dan sebagainya), dan (b) pokok pembicaraan yang bersifat informal (misalnya: masalah kekeluargaan, persaudaraan, kesetiakawanan, dan sebagainya). Topik golongan (a) biasannya diungkapkan dengan bahasa baku, dengan gaya netral dan disampaikan secara serius.
Sedangkan topik golongan (b) disampaikan dengan bahasa tak baku, dengan gaya sedikit emosional dan serba seenakya. Apabila seorang penutur mula-mula berbicara tentang hal-hal yang sifatnya formal, dan kemudian beralih kehal-hal yang bersifat informal, maka akan dibarengi pula dengan peralihan kode dari bahasa baku, gaya netral dan serius ke bahasa tak baku, bergaya sedikit emosional atau humor dan serba seenaknya. Apabila yang dihadapinya adalah orang-orang sekelompok etniknya, hampir pasti mereka akan segera beralih kode ke bahasa kelompok etniknya.
(5) Untuk membangkitkan rasa humor
Alih kode saling dimanfaatkan oleh guru, pemimpin rapat atau pelawak untuk membangkitkan rasa humor. Bagi guru bangkitnya rasa humor sangat diperlukan untuk menyegarkan suasana yang dirasakan mulai lesu. (misalnya
pada jam-jam pelajaran terakhir). Pemimpin rapat memerlukan rasa humor untuk menghadapi ketegangan yang mulai timbul dalam memecahkan masalah atau kelesuan karena telah cukup lama bertukar pikiran dan sebagainya. Sedangkan bagi pelawak sudah jelas fungsinya yaitu untuk membuat penonton merasa senang dan puas. Alih kode demikian mungkin alih varian, alih ragam atau alih gaya bicara.
(6) Untuk sekedar bergengsi
Sebagian penutur ada yang beralih kode sekedar untuk bergengsi. Hal itu terjadi apabila baik faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor-faktor sosio-situsional yang lain sebenarnya tidak mengharuskan dia untuk beralih kode.
Atau dengan kata lain, baik fungsi konteksual maupun situasi relevansialnya tidak mendukung peralihan kodenya. Oleh karena alih kode semacam ini tidak didukung oleh faktor-faktor yang seharusnya mendukung, maka memberi kesan dipaksakan, tidak wajar dan tidak jarang menjadikan tidak komunikatif. Alih kode demikian biasanya didasari oleh penilaian penutur bahwa bahasa yang satu lebih tinggi nilai sosialnya dari bahasa yang lain.
1.6.3 Campur Kode
Setiap orang dalam berkomunikasi selalu mengirimkan kode-kode kepada lawan bicaranya. Pengkodean ini melalui suatu proses yang terjadi baik pada pemicara, hampa suara, dan pada lawan bicara. Kode-kode itu harus dimengerti oleh kedua belah pihak (Pateda, 1990: 83).
Pencampuran dua bahasa (atau lebih) atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang
menuntut pencampuran bahasa. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur atau kebiasaannya yang dituruti. Tindak bahasa yang demikian kita sebut campur kode. Ciri yang menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Jika terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing; dalam bahasa tulisan, hal ini dinyatakan dengan mencetak miring atau menggaris bawahi kata/ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Kadang-kadang terdapat juga campur kode bila pembicara ingin memaparkan ”keterpelajarannya” atau “kedudukannya” (Nababan, 1984: 32).
Suwito, dalam buku Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema (1983:
75-76) menjelaskan aspek lain dari saling ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual ialah terjadinya gejala campur kode (code-maxing). Apabila didalam alih kode fungsi konteks dan relevansi situasi merupakan ciri-ciri ketergantungan, maka didalam campur kode ciri-ciri ketergantungan ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Peranan maksudnya siapa yang menggunakan bahasa itu; sedangkan fungsi kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai oleh penutur dengan tuturannya.
Ciri lain dari gejala campur kode ialah bahwa unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi. Dalam kondisi yang maksimal campur kode merupakan konvergensi kebahasaan (linguistic convergence) yang unsur-unsurnya terdiri dari beberapa bahasa yang masing-masing telah menanggalkan
fungsinya dan mendukung fungsi bahasa yang disisipinya. Unsur-unsur demikian dapat dibedakan menjadi beberapa golongan yaitu: (a) yang bersumber dari bahasa asli dan segala variasi-variasinya dan (b) bersumber dari bahasa asing. Campur kode dengan unsur-unsur golongan (a) disebut campur kode ke dalam (inner code-mixing);
sedangkan campur kode yang unsur-unsurnya dari golongan (b) disebut campur kode ke luar (outer code mixing). Seorang penutur yang dalam pemakaian bahasa Indonesianya banyak tersisipi unsur-unsur bahasa daerah, atau sebaliknya, berbahasa daerah dengan banyak menyisipkan unsur-unsur bahasa Indonesia, maka penutur tersebut bercampur kode ke dalam.
Kachru dalam Suwito (1983:76) memberikan batasan campur kode sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten.
Situasi bahasa yang berbeda-beda dapat mempengaruhi alih kode. Konsep alih kode ini mencakup juga kejadian seorang penutur beralih kode dari satu ragam fungsiolek ke ragam lain, atau dari dialek ke dialek yang lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peralihan kode yaitu, pemeran serta, lokasi, jalur, tujuan. Alih kode terjadi karena adanya beberapa tipe latar belakang yang mempengaruhinya.
1.6.3.1 Latar Belakang Terjadinya Campur Kode
Latar belakang terjadinya campur kode dipengaruhi oleh beberapa tipe. Suwito (1983:77), mengkategorikan latar belakang yang mempengaruhi latar belakang terjadinya campur kode menjadi dua tipe, yaitu: tipe yang berlatar belakang pada sikap (attitudinal type) dan tipe yang berlatar belakang kebahasaan (linguistic type).
Kedua tipe itu saling bergantung dan tidak jarang saling bertumpang tindih (overlap).
Ada beberapa alasan atau penyebab yang mendorong terjadinya campur kode:
(a) identifikasi peranan (b) identifikasi ragam dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Dalam hal ini ketiganya juga saling bergantung dan saling bertumpang tindih. Ukuran untuk identifikasi peranan adalah sosial, registral dan edukasional. Identifikasi ragam ditentukan oleh bahasa dimana seorang penutur melakukan campur kode yang akan menempatkan dia di dalam hierarkhi status sosial.
Sedangkan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungan terhadap orang lain serta sikap dan hubungan orang lain terhadapnya.
Pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya ini menunjukkan adanya pencapuran dua bahasa yaitu bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Dari temuan tersebut ingin menunjukkan bahwa cerita dalam novel terjadi ketika jaman kerajaan- kerajaan masih berjaya di Indonesia, khususnya kerajaan Mataram. Sikap yang ditunjukkan penutur menandakan kelas status sosial mereka melalui bahasa yang digunakan.
Campur kode dengan menyisipkan unsur-unsur bahasa asing ke dalam bahasa nasional merupakan campur kode yang bersifat keluar. Sedangkan campur kode yang menyisipkan unsur-unsur bahasa daerah ke dalam bahasa nasional merupakan campur kode dengan sifat ke dalam. Suwito (1983:78), penyisipan tersebut menunjukkan identifikasi peranan tertentu, identifikasi register tertentu atau keinginan dan tafsiran tertentu. Campur kode dengan unsur-unsur bahasa daerah menunjukkan bahwa si penutur cukup kuat rasa daerahnya atau ingin menunjukkan kekhasan daerahnya. Di dalam pemakaian bahasa Jawa pemilihan variasi-variasi bahasa (ngoko, madya, krama) dan cara mengekspresikannya terhadap interlekuatornya, dapat memberikan kesan baik status sosial ataupun tingkat pendidikan penuturnya. Demikian maka
campur kode itu terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan (penutur), bentuk bahasa dan fungsi bahasa. Artinya penutur yang memiliki latar belakang sosial tertentu, cenderung memilih bentuk campur kode tertentu untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu. Pemilihan bentuk campur kode demikian dimaksudkan untuk menunjukkan status sosial dan identitas pribadinya di dalam masyarakat.
1.6.3.2 Beberapa Macam Wujud Campur Kode
Suwito (1983:78-80) berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, campur kode dapat dibedakan menjadi beberapa macam:
(a) penyisipan unsur-unsur yang berujud kata:
Mangka sering kali sok ada kata-kata seolah-olah bahasa Padahal sering kali sering ada kata-kata seolah-olah bahasa
daerah itu kurang penting.
daerah itu kurang penting.
“Padahal sering kali ada anggapan bahwa bahasa daerah itu kurang penting”.
Sarkas aur numayis yaha phel hai Sirkus dan pameran di sini gagal adalah
“Di sini sirkus dan pameran tidak (pernah) berhasil”.
(b) penyisispan unsur-unsur yang berujud frasa:
Nah karena saya sudah kadhung apik sama dia, ya tak teken.
Nah karena saya sudah terlanjur baik dengan dia, ya saya tanda tangan.
“Nah karena saya sudah benar-benar baik dengan dia, maka saya tanda tangani”.
Vipaks dvara vak aut
Beroposisi dengan berjalan keluar
“ Beroposisi dengan meninggalkan sidang”
(c) penyisipan kata-kata yang berujud bentuk baster:
Banyak klap malam yang harus ditutup.
Hendaknya segera diadakan hutanisasi kembali.
Tisre din kuch zaruri drapht tayp karvane the
Ketiga hari beberapa penting draf ketik mengerjakan ada
“Pada hari ketiga beberapa
(d) penyisipan unsur-unsur yang berujud perulangan kata:
Sudah waktunya kita menghindari backing-backingan dan klik-klikan.
(Suwito, 1983:79)
(e) penyisipan unsur-unsur yang berujud ungkapan atau idiom:
Tetapi ada mardi lan marga, jangan sampai ibunya merasa dihinakan; sebab ibunya mencintai juga si anak ini. ( Rara Mendut, 2008:7)
Tetapi ada keinginan dan jalan, jangan sampai ibunya merasa dihinakan;
sebab ibunya mencintai juga si anak ini.
(f) penyisipan unsur-unsur yang berujud klausa:
Mungkin juga. Baik, ada kawan lelaki satu. Masih muda. Namun… ah semoga jangan. Slamur, slawat, slamet. (Rara Mendut, 2008:10)
Mungkin juga. Baik, ada kawan lelaki satu. Masih muda. Namun… ah semoga jangan. Semoga lolos, semoga dikabulkan, semoga selamat.
1.7 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data (a), metode analisis data (b), metode penyajian data (c). Berikut pemaparan metode yang digunakan untuk setiap tahap penelitian:
a. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak. Sudaryanto dalam Suwito (1983:207) menyatakan bahwa untuk menyimak objek penelitian dilakukan dengan menyadap. Dengan kata lain, metode simak secara praktik dilakukan dengan menyadap. Untuk mendapatkan data peneliti menyadap penggunaan bahasa, menyadap pembicaraan seseorang atau beberapa orang, atau menyadap penggunaan bahasa tulisan. Aktivitas penyadapan merupakan cara-cara yang mula-mula dilakukan untuk memperoleh data yang dimaksud. Karena dilakukan diawal penelitian, aktivitas ini disebut sebagai teknik dasar dan disebut “dasar”
dengan meminjam istilah Sudaryanto. Jadi, teknik dasar untuk melakukan penyimakan adalah sadap. Dalam penelitian ini adalah untuk menyimak campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya.
Metode dasar yang digunakan peneliti adalah metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap sebagai teknik lanjutan. Kemudian teknik catat dilakukan setelah melakukan teknik simak libat bebas cakap. Teknik catat digunakan sebagai bentuk
transkripsi dari metode pengumpulan data. Tahap paling akhir adalah tahap pengklasifikasian data. Pengklasiflasian data dilakukan sesuai dengan satuan bahasa yang ditemukan dalam campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dalam novel Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya.
b. Metode Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode padan atau identity method.
Alat penentunya menggunakan metode padan translasional dan padan pragmatis.
1. Metode padan
Menurut Tri Mastoyo (2007: 47) tujuan analisis data dengan metode padan adalah untuk menentukan kejatian atau identitas objek penelitian. Sesuai dengan jenis penentunya, dalam penelitian ini digunakan metode padan translasional dan metode padan pragmatis.
1.1 Metode padan translasional
Metode padan translasional merupaka metode padan yang alat penentunya adalah bahasa lain. Bahasa lain yang dimaksud adalah bahasa di luar bahasa yang diteliti. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi satuan kebahasaan dalam bahasa tertentu berdasarkan satuan kebahasaan dalam bahasa lain. Identitas di- dalam bahasa Indonesia, misalnya dapat diidentifikasi dengan metode padan translasional itu dengan menentukan bahwa, misalnya, di- dalam bahasa Indonesia adalah imbuhan yang dalam bahasa Jawa dinyatakan dengan imbuhan di-.
1.2 Metode padan pragmatis
Metode padan pragmatis adalah metode padan yang alat penentunya lawan atau mitra wicara. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi, misalnya, satuan kebahasaan menurut reaksi atau akibat yang terjadi atau timbul pada lawan atau mitra wicaranya ketika satuan kebahasaan itu dituturkan oleh pembicara. Contohnya sebagai berikut:
(1) Marto, peganglah tangan Hendrik!
Contoh (1) tersebut ditentukan sebagai kalimat perintah. Penentuan seperti itu dilakukan menurut jalur kerja metode padan pragmatis, yaitu contoh (1) itu ditentukan sebagai kalimat perintah karena bila dituturkan mengakibatkan mitra wicara, yakni Marto, melakukan tindakan memegang tangan Hendrik sehingga muncul reaksi seperti dalam (1a) atau menolak untuk melakukan tindakan memegang tangan Hendrik sehingga muncul reaksi dalam (1b) berikut:
(1a) Ya, saya pegangnya.
(1b) Maaf ya, saya tidak mau (memegangnya). Mintalah bantuan orang lain saja.
c. Metode Penyajian Data
Penyajian hasil analisis data dapat disajikan melalui metode formal dan metode informal. Dalam penelitian ini metode penyajian data menggunakan metode secara informal. Sudaryanto dalam Tri Mastoyo (2007: 71) memaparkan penyajian hasil analisis data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa. Dalam penyajian ini, rumus (-rumus) atau kaidah (-kaidah) disampaikan dengan menggunakan kata-kata biasa, kata-kata yang apabila
dibaca dengan serta merta dapat langsung dipahami. Perhatikanlah contoh (A) yang dikutip dari Tri Mastoyo (1993: 131-132) dengan perubahan nomor contoh berikut ini:
Contoh (A):
STRUKTUR PERAN KALIMAT STATIF
Struktur peran kalimat statif adalah struktur peran kalimat yang fungsi P-nya berpengisi peran statif. Berdasarkan peran pendamping yang dituntut hadir, kalimat statif dapat dibedakan menjadi tiga jenis struktur peran, yaitu eksistensif (Eks)-statif (Sta), eksistensif (Eks)-statif (Sta)-instrumental (Ins), dan eksistensif (Eks)-satif (Sta)-lokatif (Lok). Struktur peran eksistensif (Eks)-statif (Sta) terbentuk bila peran statif pengisi fungsi P berkategori verbal dasar (D) (contoh (1)-(2)), berafiks ber-an yang bermakna ‘tidak beraturan’ (contoh (5)-(6)).
(1) Pemuda itu tampan.
S: Eks P: Sta (2) Motor saya rusak.
S: Eks P: Sta (3) Makanan itu beracun.
S: Eks P: Sta
(4) Saya sudah berkeluarga.
S:Eks P: Sta
(5) Kamarnya beracak-acakan S: Eks P: Sta
(6) Kamarnya berserakan.
S: Eks P: Sta
Struktur peran eksistensif (Eks)-statif (Sta)-instrumental (Ins) terlahir manakala peran statif pengisi fungsi P berafiks ber-kan. Afiks ber-kan itu digunakan dengan makna ‘memakai/menggunakan (…) untuk D’. Dalam struktur peran ini kehadiran peran eksistensif mengisi fungsi Subjek (S), sedangkan peran instrumental mengisi fungsi Pelengkap (P1). Berikut disajikan contohnya:
(7) Negara kita berdasarkan hukum S: Eks P: Sta P1: Ins (8) Rumahnya beratapkan rumbia.
S: Eks P:Sta P1: Ins
Kehadiran peran instrumental dalam struktur peran ini bersifat mutlak. Upaya melesapkannya akan mengakibatkan tidak berterima bagian sisanya.
Pertimbangkanlah struktur peran berikut.
(7a) *Negara kita ini berdasarkan.
(8a) * Rumahnya beratapkan.
Kalimat statif berstruktur peran eksistensif (Eks)-statif (Sta)-lokatif (Lok) terbentuk bila peran statif pengisi fungsi P berfokus lokatif. Kehadiran peran eksistensif dalam struktur ini mengisi fungsi Subjek (S), sedangkan peran instrumentalnnya mengisi fungsi Pelengkap (P1). Berikut disajikan contohnya:
(9) Saya berasal dari Kulonprogo S:Eks P: Sta P1: Lok (10) Ibu berada di dapur
S:Eks P:Sta P1: Lok
Kehadiran peran lokatif dalam struktur peran ini bersifat wajib sehingga tidak dapat dilesapkan (yang ditandai dengan tanda asterisk (*)). Pertimbangkanlah struktur peran (9a) dan (10a) yang berikut:
(9a) *Saya berasa.
(10a) *Ibu berada.
Dari contoh (A) dapat ditunjukkan bahwa Tri Mastoyo (1993) menyajikan hasil analisis data tentang “struktur peran kalimat statif” hanya secara informal.
Kalaupun dalam penyajian tersebut disertakan pula tanda, yaitu tanda asterisk (*), dan lambang yang berupa singkatan, kedua hal itu tidak akan mempengaruhi keterbacaan pemaparan hasil analisis tersebut karena pada uraian sudah dijelaskan arti tanda dan lambang tersebut.
1.8 Sistematika Penyajian
Tugas akhir ini dibagi menjadi empat bab. Bab satu adalah pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Pada bab ini dipaparkan mengenai latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, teori yang digunakan, metode penelitian, dan sistem penyajian.
Bab dua berisi deskripsi satuan kebahasaan yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya.
Bab tiga berisi deskripsi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya.
Bab empat berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.
BAB II
SATUAN KEBAHASAAN CAMPUR KODE BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA NOVEL RARA MENDUT
KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA 2.1 Pengantar
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan aneka jenis satuan kebahasaan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya. Satuan kebahasaan yang dimaksud meliputi campur kode bahasa Jawa yang berupa kata, frasa, kalimat, dan wacana. Oleh karena itu, pada bab ini diuraikan setiap satuan kebahasaan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia.
2.2 Campur Kode Berupa Kata
Pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya, ditemukan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang berupa kata. Satuan kebahasaan yang berupa kata dikelompokkan berdasarkan jenisnya yaitu kata asal dan kata jadian.
Berikut pembahasan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang berupa kata dalam novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya:
2.2.1 Campur Kode Berupa Kata Asal
Satuan kebahasaan yang berupa kata asal yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya ditemukan dalam beberapa kategori. Kategori yang dimaksud adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, kata seru, dan kata penghubung.
Berikut pembahasan kata asal dalam kalimat berdasarkan masing-masing kategori yang dimaksudkan:
2.2.1.1 Kata Asal Berupa Kata Benda
Kata asal yang dikategorikan dalam kata benda ditemukan dalam kalimat yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Berikut pembahasannya:
(10) “Kenapa tertawa Wa?” tanya gadis yang baru membuka matanya itu.
(Rara Mend ut, 2008:5).
(11) Datanglah seorang lagi, berpakaian preman, berkuda juga dan menggabung pada pasukan itu. (Rara Mendut, 2008:9).
(12) Harus dijinakkan dulu dia, sebelum dihadapkan ke gandhok Adipati.
(Rara Mendut, 2008:14).
(13) Ni Semangka sebetulnya mempunyai nama priyayi yang bagus, Sri wahyuni. (Rara Mendut, 2008:14).
(14) Bahkan tak gentar beliau mempertahankan kemerdekaan Pati melawan Susuhunan Binanthara Hanyakrakusuma pun. (Rara Mendut, 2008:15).
Pada contoh (10) kata Wa mempunyai arti ‘kakak ayah atau ibu’, contoh (11) kata preman mempunyai arti ’tidak dinas, santai’, contoh (12) kata gandhok mempunyai arti ‘rumah disamping rumah besar’, contoh (13) priyayi mempunyai arti
‘gelar gundik bangsawan’, dan contoh (14) kata Binanthara mempunyai arti
‘dianggap sebagai dewa’. Pada contoh (1) sampai dengan contoh (14) merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata asal yang dikategorikan dalam kata benda. Pengkategorian tersebut berdasarkan kata yang dimiringkan penulisannya menyatakan benda, baik benda hidup ataupun benda mati. Berdasarkan arti leksikalnya contoh kata (10) sampai dengan (14) merupakan benda yang dapat kita
lihat, raba, maupun rasakan melalui panca indera. Berdasarkan arti gramatikalnya contoh (10) sampai dengan (14) merupakan benda hidup ataupun mati yang masing-masing mempunyai makna tersendiri.
2.2.1.2 Kata Asal Berupa Kata Kerja
Kata asal yang dikategorikan dalam kata kerja ditemukan dalam kalimat yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Berikut pembahasannya:
(15) Sama sekali lain dengan suasana istana dengan klenengan dan uyon-uyon , dimana seolah-olah sudah tercicipi surga nikmat.
(Rara Mendut, 2008: 29).
(16) Gandrik! Bukan umpatan kotor memang, tetapi putri priyayi mana mengucapkan kata begitu kampungan. (Rara Mendut, 2008:81-82).
(17) “Dari selatan jelaslah terdengar germuruh Lautan Mataram, seolah-olah Nyai Rara Kidul memberi jaminan terus-menerus bahwa akan abadilah keagungan negara wangsit Jayajagat Wahyu Agungingrat.” (Rara Mendut, 2008: 41).
(18) “Tetapi Mendut ini, Bila kalah, lebih ambrol malu bukan main.
Perkenalkan hamba dengan hormat memperkenalkan Raden Rara Mendut dari Pati,indah wajah luwes raga; kuda bersayap elang di antara para dara yang baru saja tiba dari Pati dihadapkan di kaki Baginda Susuhunan Cakrakusuma sumangga.
(Rara Mendut, 2008: 85).
(19) Maka, tegas bernada menggurui, melengos genit Ni Semangka memberi pertanyaan, atau lebih baik memberi ceramah, “Saya KERASAN!” (Rara Mendut, 2008: 102).
Pada contoh (15) kata klenengan mempunyai arti ‘permainan gamelan yang santai’, contoh (16) kata Gandrik mempunyai arti ‘suatu teriakan kaget’, contoh (17) kata wangsit mempunyai arti ‘bisikan’, contoh (18) kata ambrol mempunyai arti
‘runtuh’ dan kata sumangga mempunyai arti ‘silahkan’, dan contoh (19) kata melengos mempunnyai arti ‘memalingkan muka’. Pada contoh (15) sampai dengan contoh (19) merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang
terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata asal yang dikategorikan dalam kata kerja. Pengkategorian tersebut berdasarkan kata yang dimiringkan penulisannya menyatakan perbuatan.
2.2.1.3 Kata Asal Berupa Kata Sifat
Kata asal yang dikategorikan dalam kata sifat ditemukan dalam kalimat yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Berikut pembahasannya:
(20) Tetapi dalam hatinya diteruskan gagasannya tadi: … atau bahkan judeg mengawini perempuan yang terlalu cerdas dan gesit; mungkin malu seperti Resi Bisma yang konon harus menghadapi Wara Srikandi dalam mefan laga Bharatayuda? (Rara Mendut, 2008:5).
(21) “tetapi mosok ibumu mengizinkan?” (Rara Mendut, 2008:6).
(22) Mengapa orang – orang gedhe itu tidak berkelahi saling melabrak di tenpat jauh sana saja, menjauhi kedamaian kaum pantai yang terus terang tidak pernah merasakan hubungan batin serambut pun dengan orang – orang pedalaman, yang berpangkat Raja agung sekalipun (Rara Mendut, 2008: 10)
(23) Lho, ini sungguhan atau mimpi to, kita ini?” tanya si Bibi lugu, yang membuat Siwa malu lagi. (Rara Mendut, 2008:12).
(24) “Nah, kalau memang betul plek mirip sekali dengan galundheng bagaimana?” Dan terkikik-kikiklah lagilah si gadis nakal itu.
(Rara Mendut, 2008:20).
Pada contoh (20) kata judeg mempunyai arti ‘putus asa’, contoh (21) kata mosok mempunyai arti ‘masa, tidak percaya’, contoh (22) gedhe mempunyai arti ‘besar’, contoh (23) lugu mempunyai arti ‘bersahaja’, dan contoh (24) plek mempunyai arti
‘serupa’. Pada contoh (20) sampai dengan contoh (24) merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata asal yang dikategorikan dalam kata sifat.
Pengkategorian tersebut berdasarkan kata yang ditebalkan hurufnya menyatakan keadaan atau sifat suatu benda.
2.2.1.4 Kata Asal Berupa Kata Bilangan
Kata asal yang dikategorikan dalam kata bilangan ditemukan dalam kalimat yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Berikut pembahasannya:
(25) Di tengah perjalanan usia windu yang ketujuh, sudah lainlah yang didambakan. (Rara Mendut, 2008: 58).
Pada contoh (25) kata windu mempunyai arti ‘1 windu= 8 tahun’ merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata asal yang dikategorikan dalam kata bilangan. Pengkategorian tersebut berdasarkan kata yang ditebalkan hurufnya menyatakan jumlah ataupun satuan waktu.
2.2.1.5 Kata Asal Berupa Kata Seru
Kata asal yang dikategorikan dalam kata seru ditemukan dalam kalimat yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Berikut tabel pembahasannya:
(26) “Naaah ngono! Mantri saya mau mandi.” (Rara Mendut, 2008: 106).
(27) Tetapi setiap kali sebagai iseng muncul bayangan Ni Semangka pun menari-nari lucu, berserulah khalayak, “Wooo! Minggir! Minggir!”
maka terpingkal-pingkallah mereka juga, bahkan sang Gendut mendapat tepuk tangan gemuruh. (Rara Mendut, 2008: 159).
(28) “Lho, sudah habis? Uadoooh, cilaka!” (Roro Mendut, 2008: 167).
(29) “Randha royal saja, tetapi tak usah membayar. Sokor kalau dibayar.”
(Roro Mendut, 2008: 170).
(30) Nun? Sudah! Sudah melihat sendiri! Lho, tenan! Cuma bedanya Nyai Rara Kidul kaya raya dan penguasa, sedangkan Rara Lor miskin dan dina. (Rara Mendut, 2008: 175).
(31) Huyuh kowe saiki! Bojleng-bojleng-bojleng! Sapa kena jenggleng!
(“Kan sudah selesai, mbah, perang Barongtayuda itu.”) Ora genah!
Ora nyandhak! Hoooora nyandhak! Zaman sekarang! Zaman sekarang! Semakin zaman baru, semakin goblok.
(Rara Mendut, 2008: 191)
Pada contoh (26) kata ngono mempunyai arti ‘begitu’, contoh (27) kata minggir mempunyai arti ‘ke tepi’, contoh (28) kata cilaka mempunyai arti ‘celaka’, contoh (29) kata sokor mempunyai arti ‘syukur’, contoh (30) kata tenan mempunyai arti
‘sungguh’, dan contoh (31) kata nyandhak mempunyai arti ‘ tidak menangkap’. Pada contoh (26) sampai dengan contoh (31) merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya berupa kata asal yang dikategorikan dalam kata seru. Pengkategorian tersebut berdasarkan kata yang dimiringkan penulisannya menyatakan seruan yang dinyatakan dengan tanda seru setelah kata seru yang dimaksudkan.
2.2.1.6 Kata Asal Berupa Kata Penghubung
Kata asal yang dikategorikan dalam kata penghubung ditemukan dalam kalimat yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Berikut pembahasannya:
(32) Mumpung sepi, sebab seluruh penduduk kecuali beberapa nenek berduyun-duyun melihat latihan perang-perangan di alun-alun Siti Hinggil. (Rara Mendut, 2008: 131).
Pada contoh (32) kata mumpung mempuyai arti ‘selagi’ merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia yang terdapat pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata asal yang dikategorikan dalam kata penghubung.
Pengkategorian tersebut dinyatakan bahwa kata mumpung dalam kalimat berfungsi untuk menghubungkan dua kalimat yag saling berkaitan konteksnya.
2.2.2 Campur Kode Berupa Kata Jadian
Satuan kebahasaan yang berupa kata jadian yang terdapat dalam campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya ditemukan dalam beberpa kategori. Kategori yang dimaksud, yaitu pengimbuhan atau afiksasi (affixation), pengulangan atau reduplikasi (reduplication), pemajemukan atau komposisi (composition), pemendekatan atau abreviasi (abreviation). Berikut pembahasan kata jadian dalam kalimat berdasarkan masing-masing kategori yang dimaksudkan:
2.2.2.1 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan
Satuan kebahasaan yang berupa pengimbuhan ditemukan pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Pengimbuhan yang ditemukan terdiri dari empat jenis, mendapat bentuk awal (prefiks), mendapat sisipan (infiks), mendapatkan akhiran (sufiks), dan pengimbuhan berupa awalan dan akhiran yang pemakaiannya sekaligus (konfiks). Berikut pembahasannya:
2.2.2.1.1 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Awalan
Satuan Kebahasaan yang berupa kata jadian kategori pengimbuhan awalan atau perfiksasi ditemukan pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Perfiksasi yang ditemukan, yaitu awalan N-, Ma, Di, dan Sa-. Masing-masing kata yang mendapatkan imbuhan berupa awalan N-, Ma-, Di, dan Sa- dijelaskan sebagai berikut:
(33) Lho, nanti dulu. Kok ngeyel. Ini ikan-ikan diturunkan dulu.
(Rara Mendut, 2008:6).
(34) Seorang prajurit melihatnya, men-jawil temannya dan kaku perutnya menertawakan nenek ningrat itu, geli. (Rara Mendut, 2008: 86).
(35) “Tetapi sekarang me-mondhok di … ah, tahu pintu gerbang Wiragunan? (“tahu”) Nah, ke selatan sedikit, kalau kau melihat pohon rambutan agak dhoyong, nah di situ.” (Rara Mendut, 2008: 188).
(36) Dan jangkrik-jangkrik hutan itulah, buakannya mereka seperti duta-duta kecil tak tampak, yang dengan bunyi nyaring tak kenal henti memperingatkan Ni Semangka agar selalu siaga, jangan tertidur!
Demi penjagaan kedua “anaknya”, Mendut dan Genduk Duku?
Jarah-rayahan perang yang paling berharga dan paling berdaya lambang, jelaslah para wanita dan putri-putri ningrat yang dibedhol dari puri lawan yang kalah, ke istana raja yang menang.
(Rara Mendut, 2008: 29-30).
(37) Sama dengan Genduk Duku yang kini penuh pengabdian menyisir rambut puannya yang mengingatkan orang tentang Laut Jawa yang mengombak-ombak samadya. (Rara Mendut, 2008: 19).
Pada contoh (33) kata ngeyel mempunyai arti ‘membantah ’ berasal dari bentuk dasar eyel mendapat imbuhan awalan N- (ŋ- + eyel), contoh (34) kata men-jawil mempunyai arti ‘mencolek’ berasal dari bentuk dasar jawil mendapat imbuhan awalan Ma- (Mǝn- + jawil), contoh (35) me-mondhok mempunyai arti ‘menumpang untuk tidur/makan’ berasal dari bentuk dasar mondhok mendapat imbuhan awalan Ma- (Me- + mondhok), contoh (36) dibedhol mempunyai arti ‘dicabut’ berasal dari bentuk dasar bedhol mendapat imbuhan awalan Di- (Di- + bedhol), contoh (37) kata samadya mempunyai arti ‘sedang’ berasal dari bentuk dasar madya mendapat imbuhan awalan Sa- (Sa- + madya). Pada contoh (33) sampai dengan contoh (37) merupakan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya berupa kata jadian yang mengalami perfiksasi. Pengelompokan tersebut berdasarkan contoh (33) sampai dengan (37) mengalami proses perangkaian afiks di sebelah kiri bentuk dasar.
2.2.2.1.2 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Sisipan
Satuan Kebahasaan yang berupa kata jadian kategori pengimbuhan sisipan atau infiksasi ditemukan pada novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Infiksasi yang ditemukan, yaitu sisipan -in-. kata yang mendapat sisipan -in- dijelaskan sebagai berikut:
(38) “Ingkan Sinuhun Kanjeng Susuhunan Hanyakrakusuma, sinebut Agung, Prabu Pandhita Kerajaan Mataram Raya, Senapati Ingalaga Mataram
Abdurahman Sayidin Panatagama, pemenang di segala medan perang, pentitah seluruh gunung maupun laut, pelindung kota maupun desa, penguasa sawah maupung rimba belantara, Ngarsa Dalem telah berkenan untuk turun sebentar dari Bangsal Kencana, menuju ke pendapa agung Siti-Hinggil, bersemayam mencahayakan rahmat beliau ke seluruh rakyat kawula alit. (Rara Mendut, 2008: 63).
Pada contoh (38) terdapat campur kode bahsa Jawa ke dalam bahasa Indonesia padda novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya berupa kata jadian yang mendapat imbuhan sisipan -in- pada kata sinebut. Kata sinebut memiliki bentuk dasar sebut. Adanya penambahan sisipan -in- menjadi (-in- + sebut) sinebut ‘disebut’
menyatakan bahwa terjadinya proses penyisipan afiks pada bentuk dasar.
2.2.2.1.3 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Akhiran
Satuan kebahasaan yang berupa kata jadian kategori pengimbuhan akhiran atau sufiksasi ditemukan dalam novel Rara Mendut karya Y. B. Mangunwijaya. Sufiksasi yang ditemukan, yaitu akhiran -i, -an, dan -en. Masing-masing kata yang mendapatkan imbuhan berupa akhiran -i, -an, dan -en dijelaskan sebagai berikut:
(39) “Setujuuuu! Tidak usah kita ladeni biar jera! Iyoh! Ben kapok!
(Rara Mendut, 2008: 158).
(40) “Hei, Pon, di bawah ambenku masih ada beberapa cuwilan layar lama.
(Rara Mendut, 2008:6).
(41) Ada yang tadi pagi naik kuda, pakai kuluk ningrat segala dengan wajah seram, dua keris, satu didepan dan yang lain di sisi, tetapi karena keranjingan puntung Mendut, rupa-rupanya bangkrut, paribasane tinggal membugil bercawat. (Rara Mendut, 2008: 217).
Pada contoh (39) ladeni mempunyai arti ‘layani’ berasal dari bentuk dasar laden mendapat imbuhan akhiran -i (laden + - i), contoh (40) cuwilan mempunyai arti
‘repihan’ berasal dari bentuk dasar cuwil mendapat imbuhan akhiran -an (cuwil + -an), contoh (41) paribasane berasal dari bentuk dasar paribasa mendapat imbuhan akhiran -ne (paribasa + -ne). Pada contoh (39) sampai dengan contoh (41) merupakan campur
kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya berupa kata jadian yang mengalami sufiksasi. Pengelompokan tersebut berdasarkan contoh (39) sampai dengan contoh (41) mengalami proses perangkaian afiks di sebelah kanan bentuk dasar.
2.2.2.1.4 Kata Jadian Berupa Pengimbuhan Awalan dan Akhiran
Satuan kebahasaan yang berupa kata jadian kategori pengimbuhan awalan dan akhiran atau konfiksasi ditemukan dalam novel Rara Mendut karya Y. B.
Mangunwijaya. Konfiksasi yang ditemukan, yaitu konfiksasi di-/-i, ke-/-an, n-/-(a) ke, dan pa-/-an. Masing-masing kata yang mendapatkan imbuhan berupa akhiran di-/-i, ke-/-an, n-/-(a) ke, dan pa-/-an dijelaskan dalam pembahasan sebagai berikut:
(42) “Yang dilihat Siwa hanya bagaimana para perwira tak peduli di-kapyuki riak-riak air laut yang kurang ajar membasahi kain dan celana mereka.” (Rara Mendut, 2008:12).
(43) sampai umur enam-tujuh tahun banyak anak masih menetek pada ibunya, karena ibu-ibu itu memang suka mengenyami diri sebagai perempuan yang subur, seperti pohom gori yang digambloki buah-buah banyak. (Rara Mendut, 2008: 54).
(44) Ni Semangka sangat sayang kepada Genduk Duku karena sudah lama anak ini tidak punya ibu kandung dan terlalu lama tumbuh di halaman keputran untuk tidak mengatakan kandang-kandang kuda.
(Rara Mendut, 2008: 16).
(45) Gemetar Nyai Ajeng meletakkan keris pusaka suaminya yang tersohor bernama Jiglo ke dalam peti, menyembahnya khidmat sambil memohon ketepatan kata dan ke-lumer-an perempuan yang terlalu cerdas dan berani ini. (Rara Mendut, 2008: 117).
(46) Di sekitar alun-alun di sisi dalam dinding jati itu, dalam pendapa-pendapa kecil yang disebut pakapalan, para bangsawan tinggi akan duduk menantikan hadirnya Baginda Raja.
(Rara Mendut, 2008: 125).
Pada contoh (42) kata di-kapyuki mempunyai arti ‘disimbahi’ berasal dari bentuk dasar kapyuk mendapat imbuhan awalan dan akhiran Di-/-i (Di- + kapyuk + i) dan