• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capaian IPM Level Kabupaten/Kota

Dalam dokumen Katalog BPS : (Halaman 40-46)

asil-hasil pembangunan diharapkan mampu dirasakan seluruh masyarakat bahkan sampai wilayah terpencil sekalipun sesuai amanat konstitusi yang tercantum dalam Pancasila yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Pemerataan pembangunan dalam berbagai bidang akan mampu mendorong peningkatan capaian pembangunan manusia tidak hanya pada level provinsi tetapi juga pada level kabupaten/kota.

Perjalanan Indonesia dalam mewujudkan pembangunan manusia yang ideal tampaknya masih sangat panjang mengingat belum satu pun kabupaten/kota yang masuk dalam kategori capaian IPM tinggi. Bahkan, masih ada yang termasuk dalam capaian IPM kategori rendah. Dari 497 kabupaten/kota di Indonesia, terdapat 9 kabupaten/kota yang capaian IPM-nya masih berada pada kategori rendah (1,81 persen), 40 kabupaten/kota pada kategori menengah bawah (8,05 persen), dan sisanya yaitu sebanyak 448 kabupaten/kota pada kategori menegah atas (90,14 persen).

Posisi 10 besar IPM tertinggi masih ditempati oleh kota-kota besar di Indonesia dan hampir sama dengan tahun 2009 kecuali untuk Kota Pekanbaru yang sekarang digantikan oleh Kota Balikpapan. Perubahan peringkat ini disebabkan oleh kalah cepatnya peningkatan kompo-nen kesehatan dan pendidikan di Kota Pekanbaru dari Kota Balikpapan. Pada tahun 2009 ca-paian IPM kedua kota tersebut hampir sama, hanya berbeda sebesar 0,0054 poin. Namun pada

H

28 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

tahun 2010 Kota Balikpapan mampu menyusul Kota Pekanbaru sehingga lebih unggul sebesar 0,054 poin.

Pada posisi 5 besar semuanya ditempati oleh kota-kota di Pulau Jawa dimana Kota Yogyakarta menjadi juara dalam pencapaian IPM tahun 2010 sebesar 79,52. Kemudian di posisi 6 sampai 10 terbesar ditempati oleh Kota Makasar, Kota Ambon, Kota Jakarta Pusat, Kota Balikpapan, dan Kota Palangka Raya. Melihat Tabel 2.2, sangat tampak bahwa kemajuan pembangunan manusia masih didominasi oleh kota-kota di Pulau Jawa, khususnya Provinsi DKI Jakarta. Terbukti bahwa diantara 10 kabupaten/kota yang memiliki nilai IPM tertinggi, 6 diantaranya merupakan kota yang terletak di Pulau Jawa, dan 4 diantaranya merupakan kota di Provinsi DKI Jakarta.

Sementara itu, jika diurutkan dari yang terendah maka posisi 10 besar IPM terendah seluruhnya ditempati oleh kabupaten-kabupaten di Papua. Kesepuluh kabupaten tersebut juga merupakan 10 kabupaten dengan IPM terendah pada tahun 2009, hanya saja terdapat beberapa perubahan urutan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kecepatan masing-masing daerah dalam pencapaian IPM tidaklah sama. Jika dihubungkan antara capaian IPM suatu wilayah dengan reduksi shortfall, maka akan ada 4 kategori, yaitu kategori wilayah dengan capaian IPM dan shortfall tinggi, kategori wilayah dengan capaian IPM tinggi tetapi reduksi shortfall rendah, kategori wilayah dengan capaian IPM rendah dan reduksi shortfall tinggi, dan kategori wilayah dengan capaian IPM dan reduksi shortfall rendah.

Sepuluh kabupaten/kota yang memiliki reduksi shortfall terendah tersebar dari wilayah barat hingga wilayah timur Indonesia tetapi masih tetap didominasi oleh kabupaten di Provinsi

Gambar Jumlah Kabupaten/Kota Menurut Status Pembangunan

Manusia, 2009-2010 2.16

Sumber: BPS 3%

9%

88%

2009

Rendah

Menengah Bawah Menengah Atas

2%

8%

90%

2010

Rendah

Menengah Bawah Menengah Atas

Status Pembangunan Manusia Indonesia 29

Papua dimana Kabupaten Puncak Jaya di posisi terendah dengan nilai reduksi shortfall sebesar 0,18. Rendahnya nilai reduksi shortfall di Puncak Jaya disebabkan karena dari keempat komponen IPM, hanya komponen AHH yang mengalami peningkatan. Sementara ketiga komponen lainnya yaitu AMH, MYS, dan PPP stagnan. Lambatnya perubahan komponen IPM ini diduga karena rendahnya infrastruktur di daerah ini.

Sementara itu, sepuluh kabupaten/kota yang memiliki reduksi shortfall tertinggi

Tabel

Sepuluh Kabupaten/Kota dengan IPM Tertinggi, 2009-2010 2.2

Kota Yogyakarta 79,29 Kota Yogyakarta 79,52

Kota Jakarta Selatan 79,26 Kota Jakarta Selatan 79,47

Kota Depok 78,77 Kota Depok 79,09

Sepuluh Kabupaten/Kota dengan IPM Terendah, 2009-2010 2.3

Kabupaten/Kota IPM

Terendah Tahun 2009 IPM Tahun

2009 Kabupaten/Kota IPM

Terendah Tahun 2010 IPM Tahun 2010

Mamberamo Tengah 48,18 Mamberamo Tengah 48,96

Pegunungan Bintang 48,54 Pegunungan Bintang 48,99

Lanny Jaya 48,57 Puncak 49,00

Puncak 48,71 Yahukimo 49,59

Tambrauw 49,12 Lanny Jaya 49,90

Yahukimo 49,22 Dogiyai 50,03

Sumber: BPS

30 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

didominasi wilayah barat Indonesia. Meskipun demikian, posisi puncaknya ditempati oleh Kabupaten Maybrat yang terletak di bagian timur Indonesia dengan nilai reduksi shortfall mencapai 3,14. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun capaian IPM Maybrat masih dalam kategori menengah bawah, tetapi terdapat upaya besar untuk meningkatkan capaian IPM-nya.

Kesimpulan

elama lebih dari satu dasawarsa, Indonesia mampu meningkatkan capaian pembangunan dari nilai 60-an hingga kini mencapai level 70-an. Berbagai program pembangunan telah dicanangkan dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga harapan agar manusia Indonesia memiliki umur panjang dan sehat, berpengetahuan, dan hidup layak dapat tercapai.

Pada tahun 2010, lebih dari 90 persen kabupaten/kota telah mencapai level pembangunan manusia kategori menengah atas. Tentu hal ini merupakan kabar yang menggembirakan. Namun yang perlu dicermati adalah berbagai program pembangunan jangan hanya terpaku pada peningkatan komponen IPM tetapi harus memperhatikan indikator-indikator lain yang turut memengaruhi naik-turunnya angka komponen IPM. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah indikator tidak pernah berdiri sendiri tetapi selalu terpengaruh oleh indikator lainnya.

S

Tahukah Anda???

Tahun 2010 Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan tingkat pencapaian pembangunan manusia antarkabupaten paling merata di Indonesia, meski level pencapaian IPM-nya hanya berada pada peringkat ke-27.

Disparitas Capaian Pembangunan Manusia 33

emajuan Indonesia dalam pembangunan manusia memang cukup mengesankan.

Sejak krisis yang melanda Indonesia pada tahun 1998, upaya serius terus dilakukan pemerintah untuk bangkit dan menggenjot pembangunan. Pendekatan yang berbasis dan berimplikasi terhadap pembangunan manusia menjadi strategi penting selama krisis terjadi sampai saat ini. Hasilnya, dalam kurun waktu sebelas tahun Indonesia mampu melepaskan diri dari jerat krisis dan pembangunan manusia terus bergerak maju. Angka IPM sebagai salah satu ukuran pencapaian pembangunan manusia Indonesia meningkat dramatis dari 64,30 pada tahun 1999 menjadi 72,27 pada tahun 2010.

Pencapaian IPM tahun 2010 ini telah memperlihatkan proses perubahan ke arah

Dalam dokumen Katalog BPS : (Halaman 40-46)