• Tidak ada hasil yang ditemukan

Disparitas IPM Antarkabupaten di Indonesia

Dalam dokumen Katalog BPS : (Halaman 55-58)

enomena kesenjangan pembangunan manusia antarprovinsi di Indonesia sebagai dinamika berlangsungnya desentralisasi sangatlah wajar terjadi. Namun hal ini perlu mendapat perhatian secara khusus oleh pemerintah di tingkat pusat. Tugas utama pemerintah pusat harus memastikan bahwa kesenjangan makin menyempit dari tahun ke tahun.

Upaya ini tidak dapat berlangsung secara instan, tetapi dapat dipacu agar lebih cepat dengan menjadikan sebagai agenda prioritas jangka pendek dan jangka panjang.

Agenda mengurangi dan menghapus kesenjangan pembangunan manusia tampaknya tidak hanya diprioritaskan pada tingkat provinsi, tetapi juga di tingkat kabupaten di Indonesia.

Pemerintah pusat perlu memfasilitasi kabupaten/kota dalam menginventarisasi berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk meningkatkan dan memacu pembangunan manusia.

Keberagaman pencapaian pembangunan manusia di tingkat provinsi juga terjadi pada tingkat kabupaten/kota dan telah menciptakan kesenjangan yang cukup lebar. Kondisi

Gambar

Disparitas Antarkabupaten di Indonesia, 2009- 2010 3.4

Disparitas Capaian Pembangunan Manusia 43

pencapaian pembangunan manusia di tingkat kabupaten tampak sangat variatif dan lebih ekstrim dibanding pencapaian di tingkat provinsi. Rentang pencapaian IPM tahun 2010 mencapai 31,50 dengan nilai tertinggi dicapai oleh Kota Yogyakarta (Provinsi DI Yogyakarta) sebesar 79,52 dan nilai terendah berada di Kab. Ndunga (Provinsi Papua). Kondisi ini tampak lebih baik dibanding tahun 2009 walaupun relatif sama. Rentang yang terjadi pada tahun 2009 mencapai 31,55 dengan kontribusi dari Kota Yogyakarta (Provinsi DI Yogyakarta) sebesar 79,29 dan Kab.

Ndunga (Provinsi Papua) sebesar 47,74.

Kesenjangan pencapaian pembangunan manusia di tingkat kabupaten pada hakikatnya tidak terlepas dari kesenjangan yang terjadi pada komponen pembentuknya. Gambar 3.4 memperlihatkan secara jelas bahwa kesenjangan cukup lebar terjadi pada semua komponen pembentuk IPM. Secara umum, perubahan kesenjangan antara tahun 2009 hingga 2010 tidak terlalu besar. Meskipun demikian, kesenjangan yang terjadi cukup ekstrim, terutama pada komponen pendidikan (angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan komponen pengeluaran per kapita yang disesuaikan.

Kesehatan merupakan modal yang penting dalam menciptakan peluang-peluang untuk mampu beraktivitas secara normal. Kondisi kesehatan yang baik dapat menjamin manusia dalam melakukan dan memperluas pilihan-pilihannya. Pembangunan manusia yang komprehensif pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan derajat kesehatan manusia secara merata. Namun hal ini tampaknya masih menjadi persoalan klasik di tingkat kabupaten.

Kesenjangan pencapaian tingkat kesehatan cenderung menunjukkan ketidakmerataan.

Ketidakmerataan yang terjadi secara nyata terlihat dari perbedaan pencapaian tertinggi dan terendah angka harapan hidup. Tahun 2010, Kab. Sleman (DI Yogyakarta) mencatat pencapaian tertinggi sebesar 75,06 sedangkan Kab. Lombok Utara (Provinsi NTB) mencatat pencapaian terendah sebesar 60,56. Hal ini berarti bahwa telah terjadi perbedaan pencapaian sebesar 14,50 antara Sleman dengan Lombok Utara. Walaupun demikian, data empiris menunjukkan kesenjangan indikator ini tampak membaik dibanding tahun 2009 meski relatif sama, yaitu dari rentang sebesar 14,56 pada tahun 2009 menjadi 14,50 pada tahun 2010. Angka pada tahun 2009 ini masih merupakan kesenjangan antara Kab. Sleman dengan sebesar 74,74 dengan Kab.

Lombok Utara sebesar 60,18.

Bidang pendidikan berada pada kondisi yang cukup kritis dibanding komponen lainnya.

Kesenjangan antarkabupaten tampak begitu lebar dan cukup memprihatinkan. Kedua indikator pendidikan, yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah memperlihatkan kondisi tersebut.

Di mulai dari angka melek huruf, indikator ini mencacat rentang yang relatif tinggi, yaitu sebesar 72,55. Meski demikian, capaian ini relatif lebih baik dibanding capaian pada tahun 2009 sebesar 73,07. Menyempitnya rentang pencapaian angka melek huruf ini merupakan pertanda bahwa kesenjangan makin membaik. Kondisi ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan dan upaya pemerintah. Namun demikian, pencapaian saat ini tampak masih jauh dari harapan dan strategi-strategi pembangunan manusia harus dapat mengurangi dan menghapus ketimpangan ini. Salah satu prioritas penting yaitu mendorong Kab. Intan Jaya (Provinsi Papua) yang menjadi kabupaten

44 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

dengan pencapaian angka melek huruf terendah pada tahun 2010 (27,39) dan kabupaten-kabupaten lain agar mampu mencatat kemajuan tertinggi seperti halnya Kab. Murung Jaya (Provinsi Kalimantan Tengah) dengan pencapaian yang mengagumkan (99,94).

Indikator pendidikan selanjutnya adalah rata-rata lama sekolah yang memperlihatkan adanya kesenjangan cukup tinggi antarkabupaten di Indonesia. Angka pencapaian tertinggi pada tahun tahun 2009 yaitu 11,91 yang diraih Kota Banda Aceh (Provinsi Aceh) dan pencapaian terendah berada di Kab. Intan Jaya (Provinsi Papua) sebesar 1,81. Meski demikian, kondisinya tampak membaik pada tahun 2010 dengan pencapaian tertinggi menembus angka 12,09 di Kota Banda Aceh dan pencapaian terendah berubah menjadi 2,07 di Kab. Intan Jaya. Secara sepintas, Gambar 3.4 mendeskripsikan bagaimana keadaan pencapaian rata-rata lama sekolah.

Perubahan kondisi kesenjangan yang terjadi dari tahun 2009 hingga 2010 tidak begitu menggembirakan. Rentang pencapaian secara kuantitatif memang telah membaik, yaitu dari 10,10 pada tahun 2009 menjadi 10,02 pada tahun 2010. Namun, secara kualitas tidak menunjukkan perubahan yang cukup berarti.

Komponen terakhir yang menyumbang kesenjangan antarkabupaten di Indonesia adalah pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan. Seperti diperlihatkan pada Gambar 3.4, kesenjangan pada dimensi ini begitu lebar. Walaupun tidak tergambar secara jelas, perubahan yang terjadi selama 2009-2010 tampak relatif tidak berbeda jauh. Hasil penghitungan secara kuantitatif memperlihatkan adanya kesenjangan yang lebih buruk pada tahun 2010 dibanding tahun 2009. Pencapaian indikator ini mencatat rentang 217,46 (ribu rupiah PPP) pada tahun 2009 dan naik menjadi 218,24 (ribu rupiah PPP). Angka tersebut merupakan indikasi kesenjangan antara pencapaian tertinggi dan pencapaian terendah. Tahun 2009, Kota Tual di Maluku mencatat pencapaian tertinggi yaitu 657,99 (ribu rupiah PPP) dan Kab. Tambraw di Papua menjadi kabupaten dengan pencapaian terendah yaitu 440,53 (ribu rupiah PPP).

Sementara itu, pada tahun 2010 Kota Tual juga mencatat kemajuan tertinggi sebesar 659,39

Gambar Jumlah Kabupaten menurut Kategori Pencapaian Pembangunan

Manusia di Indonesia Bagian Barat dan Timur, 2010 3.5

Disparitas Capaian Pembangunan Manusia 45

(ribu rupiah PPP) dan Kab. Tambraw juga masih menjadi kabupaten dengan pencapaian terendah yaitu 441,15 (ribu rupiah PPP). Hal ini memberikan sinyal penting bahwa kemajuan pembangunan manusia belum menyentuh target sasaran sehingga belum mampu mengurangi kesenjangan dan mendorong daerah dengan pencapaian rendah.

Kenyataan bahwa kesenjangan antarkabupaten di Indonesia masih cukup tinggi juga terjadi di kabupaten-kabupaten wilayah bagian barat dan timur. Persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian secara khusus adalah memacu peningkatan pembangunan manusia di wilayah bagian timur, khususnya kabupaten dengan tingkat pencapaian yang masih rendah.

Hasil penghitungan telah menunjukkan bahwa 5 persen kabupaten/kota di wilayah timur masih tertinggal karena tingkat pencapaian pembangunan manusianya tergolong rendah. Fakta ini cukup memperlihatkan adanya ketimpangan dengan wilayah bagian barat dimana tidak satu pun kabupaten tergolong rendah. Pencapaian level menengah bawah dan level menengah atas juga menggambarkan adanya kesenjangan antara kedua wilayah. Sekitar 18 persen kabupaten di wilayah timur masuk kategori menengah bawah, sementara hanya 3 persen di wilayah bagian barat. Lebih jauh, 97 persen kabupaten di wilayah bagian barat sudah mencapai level menengah atas, tetapi hanya 76 persen saja di wilayah bagian timur.

Perbedaan memang baik, tetapi dalam banyak hal, kesenjangan seperti itu tidak mendatangkan manfaat dan justru menyimpang dari target pembangunan manusia yang ingin dicapai. Peran pemeritah pusat adalah mengatur ulang beberapa prioritas jangka pendek yang kurang penting agar dapat memfokuskan perhatian pada wilayah bagian timur. Hal ini dapat dilakukan dengan mereformasi kebijakan pembangunan mansusia sehingga dapat berlangsung adil dan merata, serta memfasilitasi, memonitor, dan memastikan pemerintah daerah mampu merealisasikannya.

Dalam dokumen Katalog BPS : (Halaman 55-58)