• Tidak ada hasil yang ditemukan

Katalog BPS :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Katalog BPS :"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

Katalog BPS : 4102002

(2)

Republik Indonesia

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2009-2010

Keterkaitan Antara IPM, IPG, dan IDG

BADAN PUSAT STATISTIK

(3)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2009-2010

Keterkaitan antara IPM, IPG, dan IDG

ISSN : 2086-2369

Nomor Publikasi :

Katalog : 4102002

Ukuran Buku : 17,6 × 25 cm Jumlah Halaman : xii + 118 halaman

Naskah : Sub Direktorat Konsistensi Statistik Diterbitkan oleh : Badan Pusat Statistik

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya.

(4)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 iii

Pembangunan manusia adalah sebuah proses perluasan pilihan bagi manusia, khususnya dalam mengakses hasil pembangunan seperti memperoleh pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui pendekatan tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan penghidupan yang layak. Dimensi umur panjang dan sehat direpresentasikan oleh indikator angka harapan hidup; dimensi pengetahuan direpresentasikan oleh indikator angka melek huruf dan rata-rata lamanya sekolah; sementara dimensi kehidupan yang layak direpresentasikan oleh indikator kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga dimensi pembangunan manusia ini terangkum dalam satu nilai tunggal, yaitu angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Angka IPM disajikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Penyajian IPM menurut daerah memungkinkan setiap provinsi dan kabupaten/kota mengetahui peta pembangunan manusia baik pencapaian, posisi, maupun disparitas antardaerah. Dengan mengetahui peta pembangunan manusia di seluruh daerah, maka diharapkan setiap daerah dapat terpacu untuk berupaya meningkatkan kinerja pembangunan melalui peningkatan kapasitas dasar penduduk.

Semoga publikasi yang berjudul “Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010” ini bermanfaat bagi semua kalangan yang berkepentingan, termasuk masyarakat pengguna sebagai bahan rujukan. Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan saran dan masukan untuk perbaikan publikasi ini.

Jakarta, Desember 2011

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik

Dr. Slamet Sutomo

Kata Pengantar

(5)

iv Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

Daftar Singkatan

ASEAN : Association of South East Asian Nations BOS : Bantuan Operasional Sekolah

BPS : Badan Pusat Statistik DAU : Dana Alokasi Umum GDP : Gross Domestic Product HDR : Human Development Report IDG : Indeks Pemberdayaan Gender IHK : Indeks Harga Konsumen Inpres : Instruksi Presiden

IPG : Indeks Pembangunan Gender IPM : Indeks Pembangunan Manusia

LPMI : Laporan Pembangunan Manusia Indonesia MDGs : Millenium Development Goals

PDB : Produk Domestik Bruto

PDRB : Produk Domestik Regional Bruto PHK : Pemutusan Hubungan Kerja PJP : Pembangunan Jangka Panjang PNB : Produk Nasional Bruto

SD : Sekolah Dasar

SMA : Sekolah Menengah Atas SMP : Sekolah Menengah Pertama SP : Sensus Penduduk

Supas : Survei Penduduk Antar Sensus Susenas : Survei Sosial Ekonomi Nasional

UNDP : United Nations Development Programme UUD : Undang-Undang Dasar

(6)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 v

Kata Pengantar...iii

Daftar Singkatan ...iv

Daftar Isi...v

Daftar Tabel ...vii

Daftar Gambar ...viii

Kotak...x

Daftar Lampiran ...xi

Ringkasan Eksekutif ...1

BAB I Pendahuluan ...7

Latar Belakang ...7

Isi Publikasi ...10

Sumber Data ...10

BAB II Status Pembangunan Manusia Indonesia ...13

Perkembangan IPM Indonesia ...13

Capaian Pembangunan Manusia Level Provinsi ...25

Capaian IPM Level Kabupaten/Kota ...27

Kesimpulan ...30

BAB III Disparitas Capaian Pembangunan Manusia ...33

Disparitas IPM Antarprovinsi di Indonesia ...34

Disparitas IPM Antarkabupaten di Indonesia ...42

Disparitas IPM Antarkabupaten di dalam Provinsi ...45

Kesimpulan ...51

Daftar Isi

(7)

vi Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

BAB IV Hubungan Antara Input, Proses, dan Output Pembangunan Manusia ... 55

Skenario I ... 60

Skenario II ... 60

Skenario III ... 63

Kesimpulan ... 64

BAB V Keterkaitan Antara IPM, IPG, dan IDG ... 67

Hubungan Antara IPM dan IPG ... 67

A. Tingkat Kesetaraan Gender Antarprovinsi ... 68

B. Capaian Pembangunan Manusia dan Kesetaraan Gender ... 71

Hubungan IPM dan IDG... 73

Hubungan IPG dan IDG ... 75

Daftar Pustaka ... 79

Penjelasan Teknis Indikator dan Indeks Pembangunan Manusia ... 85

Konsep Pembangunan Manusia ... 85

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ... 86

Komponen Indeks Pembangunan Manusia ... 86

Angka Harapan Hidup ... 86

Tingkat Pendidikan ... 87

Standar Hidup Layak ... 87

Penyusunan Indeks ... 89

Reduksi Shortfall ... 90

Lampiran ...89

Definisi Istilah-istilah Statistik ... 115

(8)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 vii

2.1 Peringkat IPM Negara-negara ASEAN, 2007 dan 2010 ...23

2.2 Sepuluh Kabupaten/Kota dengan IPM Tertinggi, 2009-2010 ...29

2.3 Sepuluh Kabupaten/Kota dengan IPM Terendah, 2009-2010 ...29

3.1 Provinsi di Indonesia Menurut Pencapaian Pembangunan Manusia dan PDRB per Kapita, 2010 ...41

4.1 Persentase Desa dengan Sarana Kesehatan, 2010...61

4.2 Rasio Tenaga Medis per 100.000 Penduduk, 2010...61

1 Komoditi Kebutuhan Pokok sebagai Dasar Penghitungan Daya Beli (PPP) ...88

2 Nilai Maksimum dan Minimum dari Setiap Komponen IPM ...89

Daftar Tabel

(9)

viii Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

2.1 Perkembangan IPM Indonesia, 1996-2010 ... 14

2.2 Reduksi Shortfall Indonesia, 1996-2010 ... 16

2.3 Angka Harapan Hidup (AHH) Indonesia, 1996-2010 ... 17

2.4 Analisis Derajat Kesehatan (Konsep Hendrik L. Blum) ... 17

2.5 Tren AKB dan AKBA Indonesia, 1991-2007 ... 18

2.6 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir oleh Tenaga Medis, 2005-2009 ... 18

2.7 Angka Kematian Bayi (per 1000 kelahiran hidup) di Negara-negara ASEAN, 2007 ... 19

2.8 Angka Melek Huruf (AMH) Indonesia, 1996-2010 ... 19

2.9 Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Indonesia, 1996-2010 ... 20

2.10 Angka Partisipasi Sekolah Indonesia, 2005-2009 ... 21

2.11 Angka Putus Sekolah Indonesia, 2005-2008... 21

2.12 Perkembangan Penduduk Miskin Indonesia (%), 1996-2010 ... 22

2.13 Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPP) Indonesia, 1996-2010 ... 22

2.14 IPM Menurut Provinsi, 2010 ... 25

2.15 Reduksi Shortfall Provinsi, 2010 ... 26

2.16 Jumlah Kabupaten/Kota Menurut Status Pembangunan Manusia, 2009-2010 ... 28

3.1 Disparitas Antarprovinsi di Indonesia, 2009- 2010 ... 35

3.2 Jumlah Provinsi menurut Kategori Pencapaian Pembangunan Manusia di Indonesia Bagian Barat dan Timur, 2010 ... 37

3.3 Disparitas Antarprovinsi di Indonesia Bagian Barat dan Timur, 2010... 38

3.4 Disparitas Antarkabupaten di Indonesia, 2009- 2010 ... 42

3.5 Jumlah Kabupaten menurut Kategori Pencapaian Pembangunan Manusia di Indonesia Bagian Barat dan Timur, 2010 ... 44

3.6 Rentang Pencapaian IPM Antarkabupaten dalam Provinsi, 2010 ... 46

Daftar Gambar

(10)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 ix

3.7 Disparitas antara Kabupaten-kabupaten di Sulawesi Barat, Papua Barat, dan

Papua, 2010 ...47

3.8 Standar Deviasi IPM dalam Provinsi, 2010 ...50

4.1 Skenario Pembangunan Manusia ...56

4.2 Persentase Kunjungan ke Fasilitas Kesehatan, 2010 ...62

4.3 Akses Masyarakat ke Sanitasi dan Air Bersih, 2010 ...62

4.4 Persentase Umur Kawin Pertama < 16 Tahun, 2010 ...63

5.1 Tren IPM dan IPG Indonesia, 2004-2010 ...68

5.2 Selisih IPM dan IPG Menurut Provinsi, 2009-2010...69

5.3 Perbandingan Individual Komponen IPG, 2010 ...70

5.4 IPM dan Gap antara IPM-IPG, 2010 ...71

5.5 Hubungan IPM dan IDG, 2010 ...74

5.6 Hubungan IPG dan IDG di Tingkat Provinsi, 2010 ...75

5.7 Hubungan IPG dan IDG di Tingkat Kabupaten/Kota, 2010 ...77

5.8 Kesenjangan IPG dan IDG Antarkabupaten, 2009-2010 ...77

1 Diagram Penghitungan IPM ...88

(11)

x Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

1.1 Hak-hak Manusia dan Hak Sosial Ekonomi dalam UUD Republik Indonesia ... 9

2.1 Menerapkan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia ... 15

2.2 Tantangan-tantangan Pembangunan Manusia di Indonesia ... 24

3.1 Empat Komponen Penting dalam Paradigma Pembangunan Manusia ... 34

5.1 IPM, IPG, dan IDG ... 72

Kotak

(12)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 xi

1 Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi, 2009-2010 ...93

2 Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten/Kota, 2009-2010 ...94

3 Tren Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi, 2004-2010 ... 111

4 Indeks Pembangunan Manusia di Negara ASEAN, 2009-2010* ... 112

5 Indeks Pembangunan Gender Menurut Provinsi, 2009-2010 ... 113

6 Indeks Pemberdayaan Gender Menurut Provinsi, 2009-2010 ... 114

Daftar Lampiran

(13)
(14)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 1

Ringkasan Eksekutif

Indonesia tengah memasuki masa-masa penting dalam memperkokoh eksistensinya di tingkat regional maupun internasional. Regulasi otonomi daerah membuka peluang-peluang baru bagi kemajuan kompetisi antarwilayah. Hubungan dengan luar negeri juga terus dipelihara dan ditumbuhkembangkan ke arah hubungan timbal balik yang produktif. Kontrak-kontrak politik dan ekonomi dengan negara asing menjadi resolusi penting dalam dinamika pembangunan.

Terlebih, ancaman krisis global siap memperpuruk ekonomi bangsa. Kemandirian dan kewaspadaan mutlak diperlukan. Tidak hanya itu, rongrongan dari dalam bangsa dan ancaman disintegrasi turut menyita perhatian pemerintah. Kebijakan untuk memacu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi mendapat tantangan yang cukup serius.

Namun, tantangan-tantangan itu – tidak hanya ekonomi, tapi juga sosial dan politik – tidak boleh mengubah jalur pembangunan yang sudah benar. Dengan memegang teguh prinsip dan konsep pembangunan yang berpihak pada manusia – manusia sebagai tujuan akhir – , momentum perekonomian juga dapat diraih kembali. Cara pandang yang lebih luas ini memungkinkan pemerintah dapat memenuhi hak-hak warga negara serta dapat menjamin pertumbuhan ekonomi yang kuat dan mantap dalam jangka panjang.

Upaya mewujudkan pembangunan manusia yang produktif memerlukan monitoring yang berkelanjutan. Selama tahun 1996-2010, angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah meningkat 4,57 point menjadi 72,27. Hal ini juga konsisten dengan peningkatan komponen pembentuknya, kecuali komponen daya beli yang sempat merosot akibat goncangan krisis ekonomi 1998.

Kegigihan pemerintah mengejar target pembangunan manusia tampaknya akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Sampai tahun 2010, Indonesia masih belum beranjak dari kategori negara dengan IPM „menengah atas‟, jauh dibanding Singapura dan Malaysia yang telah berada pada kategori IPM tinggi.

Proses desentralisasi tampaknya telah membuka potensi-potensi wilayah untuk berkembang secara aktif dan mandiri. Kompetisi antarwilayah makin dinamis sebagai ajang adu kebijakan pembangunan manusia yang efektif dan efisien. Bengkulu, misalnya, berhasil menggeser peringkat Kep. Bangka Belitung dan Sulawesi Selatan mampu mendahului peringkat Maluku. Di wilayah timur, Papua Barat juga tidak ketinggalan mengambil alih peringkat Maluku Utara. Namun, kemajuan tertinggi dan sekaligus memegang peringkat pertama masih diraih oleh DKI Jakarta sebesar 77,60.

(15)

2 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

Kemajuan potensi pembangunan manusia di provinsi juga diiringi dengan perkembangan yang membaik di Daerah Tingkat II (kabupaten/kota). Lebih dari 90 persen kabupaten telah berhasil mencapai pembangunan manusia pada level „menengah atas‟.

Akan tetapi, kompetisi ini masih menyisakan 9 kabupaten dengan status pembangunan manusia yang masih „rendah‟. Meski demikian, euforia pembangunan manusia terus menggema dan menjadikan sejumlah daerah terus meningkatkan akselerasi pembangunannya. Tercatat bahwa pembangunan manusia di tingkat kabupaten pada tahun ini bergerak cukup cepat dengan kisaran reduksi shortfall 0,18 – 3,14.

Pencapaian ini sangat berarti bagi perjalanan panjang pembangunan manusia Indonesia dan untuk menjamin tersedianya hak-hak warga negara. Tetapi kemajuan ini – angka IPM nasional – sebenarnya menyembunyikan suatu fakta penting bahwa variasi antardaerah cukup tinggi. Standar deviasi – ukuran variasi – IPM antarprovinsi mencapai 2,98 dan telah memunculkan kenyataan bahwa proses desentralisasi juga membawa dampak disparitas (ketimpangan) bagi pembangunan manusia. Situasi ini semakin memburuk pada tingkatan kabupaten. Hasil pengitungan IPM mencatat ketimpangan antarkabupaten cukup serius di Provinsi Papua dan Papua Barat dengan standar deviasi masing-masing 9,48 dan 6,45.

Perbaikan regulasi juga harus terus dilakukan, tidak hanya untuk mengatasi persoalan ketimpangan pembangunan manusia secara nasional, tetapi juga memperhatikan spesifik kewilayahan. Jurang kesenjangan wilayah bagian barat dan timur masih terbentang lebar dengan melihat kemajuan IPM yang tidak sebanding antara kedua wilayah. Di wilayah bagian timur, masih terdapat 2 provinsi dengan status pembangunan manusia „menengah bawah‟, dan masih terdapat 9 kabupaten yang berstatus „rendah‟.

Peringkat 10 terbawah juga masih diduduki kabupaten-kabupaten di Papua, sedangkan peringkat 10 terbesar dipegang oleh kabupaten-kabupaten di Jawa dan Sumatera.

Disparitas antarwilayah yang terjadi akibat ketimpangan pencapaian pencapaian pembangunan manusia telah mengingatkan kembali akan arti pentingnya paradigma pembangunan manusia. Konsep pembangunan manusia harus dipahami secara utuh dan menyeluruh sebagai satu kesatuan. Pembangunan manusia merupakan rangkaian proses transformasi input, proses, dan output pembangunan. Kegagalan pembangunan manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas input dan prosesnya. Oleh karena itu, pembangunan manusia hanya akan berhasil apabila input dan prosesnya berkualitas.

Tantangan peningkatan pembangunan manusia tidak hanya menyangkut persoalan ketimpangan, tetapi juga perlu mengedepankan gagasan pentingnya isu-isu gender. Meskipun angka IPM tidak merekam hal itu, indikator turunan seperti Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Perberdayaan Gender (IDG) dapat menangkap isu tersebut. Dalam waktu setahun, 70 persen provinsi berhasil mengurangi ketimpangan gender – yang terlihat dari angka IPG – walaupun kemajuan kelompok perempuan hanya

(16)

Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010 3

dari aspek harapan hidup waktu lahir.

Pada prinsipnya, tidak ada keterkaitan secara langsung antara IPM dengan IPG.

Namun hal itu bukan berarti keduanya tidak dapat berjalan searah. Perbaikan kesetaraan gender dengan meningkatkan pembangunan manusia dapat menjadi formula kebijakan daerah otonom, tetapi tampaknya 41 persen provinsi dengan IPM yang tinggi menyimpan kesenjangan gender yang lebar. Di lain pihak, IDG – sebagai salah satu indikator kesetaraan gender – juga mencatat fenomena serupa. Ada sebanyak 33 persen provinsi dengan angka IPM tinggi tetapi belum mampu mengoptimalkan pemberdayaan perempuan.

IPG dan IDG sebagai indikator pemantau isu-isu gender juga tidak dapat dikaitkan secara langsung, tetapi selalu dapat diupayakan berjalan dengan arah yang positif.

Hubungan antara keduanya tidak terlalu kuat namun positif, hanya 0,65 yang diukur dengan korelasi. Provinsi dengan IDG yang rendah cenderung mencapai IPG yang rendah pula. Kasus ini ditemui hampir 73 persen provinsi di Indonesia. Hal ini juga konsisten dengan apa yang terjadi di tingkat kabupaten. Meski hubungan yang terjadi lemah (0,58), kecenderungan meningkatnya angka IPG juga akan diiringi dengan meningkatnya angka IDG.

(17)
(18)

Tahukah Anda???

Pada Human Development Report (HDR) pertama, IPM disusun dari tiga indikator, yaitu:

1. Pendapatan Nasional, sebagai pendekatan dari standar hidup

2. Angka Harapan Hidup, sebagai ukuran lamanya hidup, dan

3. Angka Melek Huruf usia dewasa, sebagai ukuran dari pengetahuan.

(19)
(20)

Pendahuluan 7

Latar Belakang

eberhasilan pembangunan suatu bangsa tidak hanya ditandai oleh tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi tetapi mencakup pula kualitas manusianya. Kerap ditemui di suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tapi memiliki kualitas pembangunan manusia yang masih rendah. Inilah tantangan yang harus dihadapi, yaitu bagaimana pertumbuhan ekonomi mampu dirasakan seluruh lapisan masyarakat dan mampu meningkatkan kualitas mereka sebagai manusia.

Harus disadari bahwa manusia merupakan kekayaan bangsa yang sesungguhnya.

Sejak awal, pembangunan manusia sudah menjadi tujuan dalam model pembangunan di Indonesia, setidaknya dalam tataran normatif yang tercermin dalam falsafah Negara seperti Pancasila, UUD 1945, dan dokumen-dokumen kenegaraan lainnya.

Dunia internasional telah banyak mengembangkan berbagai model untuk mengukur keberhasilan pembangunan, diantaranya yaitu konsep pembangunan ekonomi yang menekankan pada pertumbuhan (economic growth), pembangunan sumber daya manusia (human resource development), kebutuhan dasar (basic needs), dan kesejahteraan masyarakat (social welfare).

Pembangunan ekonomi yang menekankan pada pertumbuhan memandang bahwa keberhasilan pembangunan suatu wilayah hanya ditandai oleh tingginya pertumbuhan ekonomi, tanpa melihat aspek-aspek lainnya, seperti ketimpangan pendapatan, kemiskinan yang masih tinggi, dan sebagainya. Pembangunan sumber daya manusia memandang manusia sebagai input dalam proses produksi, seperti halnya dengan faktor-faktor produksi lainnya yaitu, tanah, modal, dan mesin. Manusia digunakan sebagai sarana untuk mengejar tingkat output yang tinggi tetapi dalam proses ini manusia bukan sebagai pewaris dari apa yang telah dihasilkan.

Pembangunan yang mempunyai pendekatan kebutuhan dasar hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia agar dapat keluar dari kemelut kemiskinan tanpa memiliki pilihan-pilhan dalam meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan pembangunan dengan kesejahteraan manusia memandang manusia dalam proses pembangunan hanya sebagai penerima bukan sebagai peserta yang berpartisipasi aktif dalam pembangunan (agen pembangunan). Semua model pembangunan tersebut dinilai masih bersifat parsial/tunggal.

Pada tahun 1990 United Nations Development Programme (UNDP) dalam laporannya

“Global Human Development Report” memperkenalkan konsep “Pembangunan Manusia (Human Development)”, sebagai paradigma baru model pembangunan. Menurut UNDP, pembangunan

BAB

1 Pendahuluan

K

(21)

8 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

manusia dirumuskan sebagai perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging the choices of people), yang dapat dilihat sebagai proses upaya ke arah "perluasan pilihan" dan sekaligus sebagai taraf yang dicapai dari upaya tersebut. Pada saat yang sama pembangunan manusia dapat dilihat juga sebagai pembangunan (formation) kemampuan manusia melalui perbaikan taraf kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan; sekaligus sebagai pemanfaatan (utilization) kemampuan/keterampilan mereka. Konsep pembangunan di atas jauh lebih luas pengertiannya dibandingkan konsep pembangunan ekonomi yang menekankan pada pertumbuhan (economic growth), kebutuhan dasar, kesejahteraan masyarakat, atau pengembangan sumber daya manusia. Hal ini terkait konsep pembangunan manusia UNDP yang mengandung empat unsur yaitu: produktivitas (productivity), pemerataan (equity), kesinambungan (sustainability), dan pemberdayaan (empowerment).

Pembangunan manusia dapat juga dilihat dari sisi pelaku atau sasaran yang ingin dicapai. Dalam kaitan ini UNDP melihat pembangunan manusia sebagai suatu "model"

pembangunan tentang penduduk, untuk penduduk, dan oleh penduduk:

a. tentang penduduk; berupa investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial lainnya;

b. untuk penduduk, berupa penciptaan peluang kerja melalui perluasan (pertumbuhan) ekonomi dalam negeri; dan

c. oleh penduduk; berupa upaya pemberdayaan (empowerment) penduduk dalam menentukan harkat manusia dengan cara berpartisipasi dalam proses politik dan pembangunan (UNDP, HDR 1990).

Menurut UNDP upaya ke arah "perluasan pilihan" hanya mungkin dapat direalisasikan jika penduduk paling tidak memiliki: peluang berumur panjang dan sehat, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, serta peluang untuk merealisasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kegiatan yang produktif. Dengan kata lain, tingkat pemenuhan ketiga unsur tersebut sudah dapat merefleksikan, secara minimal, tingkat keberhasilan pembangunan manusia suatu wilayah (BPS-UNDP, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia, Perbandingan antarprovinsi 1990-1993).

Untuk mengukur tingkat pemenuhan ketiga unsur di atas, UNDP menyusun suatu indeks komposit berdasarkan pada 4 (empat) indikator yaitu: Angka Harapan Hidup (life expectancy at age 0: e0), Angka Melek Huruf penduduk dewasa (adult literacy rate: AMH), Rata- rata Lama Sekolah (mean years of schooling: MYS) ,dan Purchasing Power Parity (PPP)1.

Angka harapan hidup mengukur dimensi "umur panjang dan sehat", angka melek huruf

1 Pada awalnya UNDP hanya menggunakan 3 indikator dalam menghitung IPM yaitu e0, AMH, dan PPP. Namun pada publikasi HDR tahun 1991, UNDP menambahkan indikator MYS pada komponen pendidikan dengan penimbang 2/3 untuk AMH dan 1/3 untuk MYS. Kemudian, karena terkendala ketersediaan data di beberapa negara maka pada publikasi UNDP tahun 1995 terjadi perubahan lagi pada komponen pendidikan, dimana MYS diganti dengan kombinasi angka partisipasi kasar SD, SMP, dan SMA (combined first-, second-, and third- level gross enrolment ratio: APK), dengan penimbang 2/3 untuk AMH dan 1/3 untuk APK.

(22)

Pendahuluan 9

dan rata-rata lama sekolah mengukur dimensi "pengetahuan dan keterampilan", dan purchasing power parity (PPP) mengukur dimensi kemampuan dalam mengakses sumber daya ekonomi dalam arti luas. Ketiga indikator inilah yang digunakan sebagai komponen dalam penyusunan Human Development Index (HDI) yang diterjemahkan menjadi Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Penghitungan IPM UNDP digunakan untuk perbandingan kemajuan pembangunan manusia antarnegara. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengaplikasikan penghitungan IPM tersebut untuk melihat kemajuan pembangunan manusia di Indonesia baik pada level provinsi maupun level kabupaten/kota. BPS melakukan beberapa penyesuaian pada penghitungan IPM, yaitu pada komponen pendidikan dan ekonomi. Pada komponen pendidikan, BPS menggunakan MYS bukan Angka Partisipasi Sekolah (APS) karena APS merupakan indikator input, sementara MYS merupakan indikator output yang lebih mampu menggambarkan pencapaian di bidang pendidikan. Kemudian pada komponen ekonomi, BPS menggunakan PPP dengan pendekatan pengeluaran per kapita per tahun disesuaikan karena lebih mampu menggambarkan daya beli masyarakat dibandingkan dengan Gross Domestic Product (GDP).

Kotak Hak-hak Manusia dan Hak Sosial Ekonomi dalam UUD Republik

Indonesia 1.1

Hak atas Keamanan Sosial dan Keamanan Pangan

Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan mata pencaharian yang layak. Pasal 27(2)

Negara akan mengembangkan suatu sistem keamanan sosial bagi seluruh warga negara dan memberdayakan masyarakat yang berkekurangan dan terpinggirkan sesuai dengan martabat manusia.

Pasal 34(2)

Hak atas Keamanan Manusia

Setiap orang berhak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan serta eksistensinya. Pasal 28A

Setiap anak berhak untuk hidup, bertumbuh dan berkembang, dan berhak untuk memperoleh perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 28B(2)

Setiap orang berhak atas perlindungan bagi dirinya, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak milik, dan berhak untuk merasa aman terhadap, dan memperoleh perlindungan dari ancaman ketakutan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang adalah suatu hak manusia. Pasal 28G(1)

Setiap orang berhak atas keamanan sosial untuk mengembangkan diri sepenuhnya sebagai manusia yang bermatabat. Pasal 28H(3)

Hak atas Pendidikan

Setiap orang berhak untuk mengembangkan dirinya melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasarnya, berhak atas pendidikan dan untuk memetik manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, untuk meningkatkan mutu kehidupannya dan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Pasal 28C(1)

Setiap warga negara berhak menerima pendidikan. Pasal 31(1)

Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar, dan pemerintah wajib mendanai ini. Pasal 31(2) Hak atas Kesehatan

Setiap orang berhak untuk hidup dalam kemakmuran fisik dan spiritual, untuk memiliki rumah dan menikmati lingkungan yang baik dan sehat, dan berhak memperoleh perawatan medis. Pasal 28H(1)

Negara wajib menyediakan fasilitas medis dan pelayanan publik yang memadai. Pasal 34(3) Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2004

(23)

10 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

Tinggi rendahnya nilai IPM tidak hanya ditentukan oleh komponen-komponen penyusunnya tetapi juga dipengaruhi oleh indikator-indikator lain. Misalnya angka partisipasi sekolah, tingkat kemiskinan, persentase penolong kelahiran oleh tenaga medis, dan lain-lain.

Oleh karena itu, pembahasan dalam publikasi ini tidak hanya membahas nilai IPM dan komponen penyusunnya tetapi juga membahas mengenai indikator-indikator lain yang turut memengaruhi nilai IPM.

Isi Publikasi

Secara umum, publikasi ini akan menyajikan data dan analisis IPM selama tahun 2009- 2010. Data IPM secara lengkap dapat dilihat pada tabel lampiran. Pada publikasi ini akan dianalisis mengenai capaian IPM Indonesia dan disparitasnya baik level provinsi maupun kabupaten/kota, keterkaitan antara input, proses, dan output pembangunan manusia, serta keterkaitan antara IPM, IPG, dan IDG.

Secara khusus, publikasi ini menyajikan:

1. perkembangan capaian IPM Indonesia dan komponennya;

2. analisis perkembangan capaian IPM dan komponennya baik level provinsi maupun level kabupaten/kota;

3. analisis disparitas capaian IPM dan komponennya baik level provinsi maupun level kabupaten/kota;

4. hubungan antara input, proses, dan output pembangunan manusia;

5. analisis keterkaitan antara IPM, IPG, dan IDG.

Sumber Data

Sumber data utama yang digunakan adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Kor dan Susenas Modul Konsumsi, data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas), Proyeksi Penduduk (Sensus Penduduk/SP 2000) dan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Data Susenas Kor digunakan untuk menghitung dua indikator pembentuk IPM yaitu Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah (MYS). Sementara Angka Harapan Hidup (e0) dihitung menggunakan data Supas dan Proyeksi Penduduk. Sedangkan indikator daya beli atau PPP (Purchasing Power Parity) dihitung menggunakan data Susenas modul konsumsi yang didasarkan pada 27 komoditi (lihat Tabel 1). Untuk mendapatkan pengeluaran per kapita riil digunakan Indeks Harga Konsumen sebagai deflator.

(24)

Tahukah Anda???

IPM pertama kali disusun oleh BPS pada tahun 1996. Saat itu angka IPM Indonesia tercatat 67,70. Perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat telah membawa

perkembangan pembangunan manusia hingga menembus angka 72,27 pada tahun 2010.

(25)
(26)

Status Pembangunan Manusia Indonesia 13

Perkembangan IPM Indonesia

embangunan manusia kian menjadi perhatian karena merupakan gambaran keberhasilan suatu wilayah dalam pembangunan. Capaian pembangunan manusia di Indonesia secara umum terus menunjukkan peningkatan kecuali pada tahun 1999 dimana Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia turun menjadi 64,30 poin dari capaian 67,70 poin pada tahun 19962. Pada tahun-tahun berikutnya IPM Indonesia selalu meningkat dari 65,80 pada tahun 2002, meningkat menjadi 68,69 pada tahun 2004, hingga pada tahun 2010 mencapai 72,27 (Gambar 2.1). Penurunan IPM Indonesia pada tahun 1999 merupakan salah satu dampak dari krisis moneter yang melanda Indonesia pada periode tahun 1997-1998. Seiring meredanya krisis moneter, capaian IPM Indonesia mengalami kenaikan meskipun masih dibawah capaian sebelum krisis. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 2004 capaian IPM Indonesia sudah mampu melampaui capaian sebelum krisis. Dengan kata lain, Indonesia mampu pulih dari keterpurukan pembangunan manusia akibat krisis moneter dalam jangka waktu sekitar 5 tahun. Hal ini tentunya merupakan berita yang baik, karena memang tidak mudah untuk merevitalisasi berbagai aspek pembangunan yang sempat ambruk terhempas badai krisis moneter.

Pemulihan capaian IPM Indonesia juga membawa dampak pada kembalinya level capaian IPM Indonesia pada kategori menengah atas, yang sebelumnya sempat turun pada kategori menengah bawah3. Sejak awal penghitungan sebenarnya IPM Indonesia sudah berada pada level menengah atas. Namun, akibat krisis moneter level IPM Indonesia pada tahun 1999 dan 2002 turun menjadi kategori menengah bawah. Meskipun capaiannya terus meningkat pasca terjadinya krisis moneter, tetapi belum mampu meningkatkan level capaiannya. Hingga tahun 2010, IPM Indonesia masih berada pada kategori menengah atas, masih belum mampu menembus kategori tinggi. Lebih dalam lagi, pada tingkat provinsi belum satu pun provinsi di Indonesia yang berhasil mencapai IPM kategori tinggi. Pada tahun 2010 sebagian besar provinsi di Indonesia berada pada kategori menengah atas. Hanya dua provinsi yang masih berada pada

BAB

2 Status Pembangunan Manusia Indonesia

2 Setelah tahun 1996 BPS mengganti cara mengumpulkan data pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, sehingga data konsumsi atau belanja rumah tangga – yang digunakan untuk menghitung PPP – setelah tahun 1996 tidak bisa dibandingkan dengan data sebelumnya. Penurunan yang cukup drastis pada IPM 1999 bisa disebabkan oleh perubahan metode tersebut, tetapi sebagian besar lebih disebabkan turunnya pendapatan riil masyarakat akibat krisis moneter pada periode tahun 1997-1998 sehingga daya beli masyarakat pun melemah.

3 Berdasarkan skala internasional, capaian IPM dikategorikan menjadi kategori tinggi (IPM≥80), kategori menengah atas (66≤IPM<80), kategori menengah bawah (50≤IPM<66), dan kategori rendah (IPM<50).

P

(27)

14 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

kategori menengah bawah yaitu Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.

Belum mampunya IPM Indonesia menembus kategori tinggi bisa disebabkan peningkatan komponen-komponennya yang belum optimal. Lambatnya peningkatan komponen IPM akan terakumulasi pada peningkatan nilai IPM. Semakin rendah kecepatan peningkatan IPM maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai IPM yang ideal (100).

Kecepatan suatu daerah dalam mencapai IPM ideal ditunjukkan oleh nilai reduksi shortfall. Secara harfiah “reduksi” berarti pengurangan. Reduksi shortfall sendiri bisa diartikan sebagai pengurangan sisa langkah menuju nilai ideal yang merupakan gambaran laju pergerakan IPM untuk mencapai nilai idealnya.

Untuk mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu digunakan ukuran reduksi shortfall per tahun. Reduksi shortfall menunjukkan perbandingan antara capaian yang telah ditempuh dengan capaian yang harus ditempuh untuk mencapai titik IPM ideal. Semakin tinggi nilai reduksi shortfall, semakin cepat IPM suatu wilayah untuk mencapai nilai idealnya.

Selama ini konsep reduksi shortfall sering rancu/tertukar dengan konsep pertumbuhan.

Pada konsep pertumbuhan, semakin besar nilai IPM, dengan besar perubahan yang sama maka akan menghasilkan pertumbuhan yang semakin kecil. Sementara pada konsep reduksi shortfall, semakin besar nilai IPM, dengan besar perubahan yang sama maka akan menghasilkan pertumbuhan yang semakin besar. Intinya, jika nilai IPM sudah tinggi, maka peningkatan nilai komponen yang kecil pun dapat menghasilkan nilai reduksi shortfall yang tinggi.

Gambar

Perkembangan IPM Indonesia, 1996-2010 2.1

Sumber: BPS 67,70

64,30 65,80

68,69

69,57 70,10 70,59 71,17 71,76 72,27

60 62 64 66 68 70 72 74

1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(28)

Status Pembangunan Manusia Indonesia 15 Kotak

Menerapkan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia 2.1

Setelah desentralisasi dilaksanakan, tanggung jawab atas sebagian besar kegiatan pembangunan dilimpahkan ke kabupaten. Banyak pejabat di daerah dihadapkan untuk pertama kalinya pada tugas untuk mempromosikan pembangunan manusia di daerah mereka. Apa manfaat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bagi mereka itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita perlu melihat hubungan antara konsep pembangunan manusia dan indeks pembangunan manusia. Konsep pembangunan manusia sangatlah luas – mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia – dari kebebasan mengungkapkan pendapat, kesetaraan gender, lapangan pekerjaan, gizi anak, sampai melek huruf orang dewasa. Sebaliknya, indeks pembangunan manusia mempunyai lingkup yang lebih sempit.

Indeks ini hanya dapat mengukur sebagian saja dari keadaan pembangunan manusia, terutama karena banyak aspek dari kehidupan manusia, seperti kebahagian atau hubungan di dalam masyarakat tak dapat diukur dengan angka. Oleh karena itu, pusat perhatian haruslah diletakkan lebih pada konsep daripada indeksnya. Ini berarti dalam setiap aspek dari pekerjaannya, pejabat daerah harus mendahulukan manusia – dengan menganggap manusia bukan sebagai sarana tetapi tujuan. Daripada mencoba mendidik orang dan menjaga kesehatan meraka agar tersedia angkatan kerja yang lebih baik, misalkan saja, atau mencoba meningkatkan kemakmuran ekonomi, lebih baik bila mereka berupaya membantu para bapak, ibu dan anak-anak warga masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih kaya dan lebih membahagiakan. Jadi setiap kegiatan, entah investasi membangun jalan, mengeluarkan ijin untuk usaha pertambangan, atau membangun fasilitas-fasilitas kesehatan yang baru, harus bertujuan untuk memperluas pilihan yang tersedia bagi seluruh warga dan semuanya harus dilaksanakan secara setara dan berkelanjutan.

Indeks pembangunan manusia memberikan beberapa petunjuk. Kesenjangan antara indeks terkini dan 100 mencerminkan “kekurangan” pembangunan manusia – jarak yang perlu ditempuh oleh setiap kabupaten. Perbandingan selama beberapa waktu akan memperlihatkan kepada kita kemajuan atau kurangnya kemajuan suatu kabupaten tertentu. Antarkabupaten juga dapat dibandingkan dan diberi peringkat. Dengan demikian IPM dapat berfungsi sebagai pegangan untuk alokasi sumber daya – dan formula yang sekarang ada untuk Dana Alokasi Umum (DAU) dari pusat memang telah memasukkan IPM sebagai suatu indikator. Walaupun demikian, penggunaan IPM untuk tujuaan-tujuan ini ataupun untuk tujuan-tujuan lainnya perlu dilakukan dengan hati-hati. Jika kekurangan dalam suatu kabupaten adalah dua kali lebih besar daripada kabupaten lainnya, maka pembangunan di kabupaten pertama tidak dengan sendirinya harus dua kali lebih besar daripada di kabupaten kedua.

Sumber: Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2004

(29)

16 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

Kecepatan Indonesia dalam mencapai IPM ideal relatif tidak jauh berbeda tiap tahunnya yaitu berada pada kisaran 1 sampai 2 persen dari sisa langkah menuju IPM ideal. Kecepatan tertinggi terjadi pada periode capaian 2002-2004 yaitu sebesar 2,91. Pada periode berikutnya yaitu 2004-2005 reduksi shortfall Indonesia juga masih cukup tinggi yaitu sebesar 2,80. Selama periode tersebut, Indonesia masih berada pada fase pemulihan dari krisis moneter sehingga upaya perbaikan di berbagai bidang sedang gencar-gencarnya dilakukan dengan harapan kondisi Indonesia mampu pulih atau bahkan lebih baik dari kondisi sebelum krisis. Pada periode berikutnya hingga tahun 2010, reduksi shortfall Indonesia relatif stabil.

Hasil akhir nilai IPM merupakan kombinasi dari nilai komponen-komponennya.

Perkembangan komponen-komponen IPM selama periode 1996 – 2010 menunjukkan peningkatan yang relatif stabil. Pada periode pascakrisis, seluruh komponen IPM terus menunjukkan peningkatan tiap tahunnya. Selama 14 tahun (sejak tahun 1996 sampai 2010) Angka Harapan Hidup (AHH) Indonesia meningkat sebesar 5,03 tahun. Selanjutnya komponen Angka Melek Huruf (AMH) meningkat 7,41 persen dan komponen Rata-rata Lama Sekolah (MYS) meningkat 1,62 tahun. Sementara itu komponen PPP mengalami peningkatan sebesar 46,24 ribu rupiah PPP.

Komponen kesehatan yaitu AHH secara umum selalu menunjukkan peningkatan, kecuali pada tahun 2002 yang mengalami stagnasi pada angka 66,20. Namun pada tahun-tahun berikutnya nilai AHH terus meningkat menjadi 67,60 pada tahun 2004, meningkat kembali menjadi 68,70 pada tahun 2007, dan pada tahun 2010 mencapai 69,43. Terus meningkatnya AHH menunjukkan bahwa derajat kesehatan di Indonesia relatif semakin membaik. Hal ini tentu akan berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup manusia. Ada ungkapan bijak yang menyatakan bahwa kesehatan memang bukan segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan segala- galanya yang kita miliki tidak berarti apa-apa. Maka diperlukan kepedulian tinggi dari pemerintah dan seluruh masyarakat untuk senantiasa peduli pada peningkatan derajat kesehatan.

Gambar

Reduksi Shortfall Indonesia, 1996-2010 2.2

Sumber: BPS -2,19

1,61

2,91 2,80

1,68 1,64

1,98 2,06

1,80

-3 -2 -1 0 1 2 3 4

1996-1999 1999-2002 2002-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 2007-2008 2008-2009 2009-2010

(30)

Status Pembangunan Manusia Indonesia 17

Menurut Henrik L. Blum (www.depkes.go.id) peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang dapat diukur dari tingkat mortalitas dan morbiditas penduduk dipengaruhi oleh empat faktor penentu, yaitu: faktor-faktor lingkungan (45 persen), perilaku kesehatan (30 persen), pelayanan kesehatan (20 persen), dan kependudukan/keturunan (5 persen). Hubungan derajat kesehatan dengan keempat faktornya digambarkan Henrik L. Blum dalam Gambar 2.4.

Berdasarkan teori tersebut faktor terbesar yang memengaruhi derajat kesehatan seseorang yaitu faktor lingkungan. Sepertinya memang sulit mewujudkan kehidupan yang sehat jika tinggal di lingkungan yang tidak sehat. Kondisi lingkungan di Indonesia sendiri tampaknya belum seluruhnya mencerminkan lingkungan yang sehat.

Berdasarkan data Susenas tahun 2010, masih terdapat 18,54 persen rumah tangga di Indonesia yang tidak memiliki tempat buang air besar. Kemudian sebanyak 39,13 persen tidak

Gambar

Angka Harapan Hidup (AHH) Indonesia, 1996-2010 2.3

Sumber: BPS

Gambar

Analisis Derajat Kesehatan (Konsep Hendrik L. Blum) 2.4

Sumber : Kementerian Kesehatan RI 64,40

66,20 66,20 67,60

68,08 68,47 68,70 69,00 69,21 69,43

63 64 65 66 67 68 69 70

1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Lingkungan (45 persen)

pelayanan kesehatan (20 persen)

perilaku kesehatan (30 persen) Keturunan

(5 persen)

DERAJAT KESEHATAN Morbiditas & mortalitas

(31)

18 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

memiliki sumber air minum bersih dan 11,50 persen jenis lantai rumahnya masih tanah. Tentu hal ini perlu mendapat perhatian yang besar karena jika masih banyak rumah tangga yang tinggal di lingkungan yang kurang sehat maka harapan untuk mencapai kondisi penduduk Indonesia dengan derajat kesehatan yang baik mungkin akan sulit tercapai. Sebagai dampaknya pada kualitas pembangunan manusia adalah lambatnya peningkatan komponen kesehatan.

Jika dilihat berdasarkan usia maka kelompok yang paling rentan terkena gangguan kesehatan adalah balita terutama pada kelompok umur di bawah 1 tahun (bayi) karena daya tahan tubuh mereka masih belum sempurna. Angka kematian balita (AKBA) memiliki hubungan yang erat dan terbalik dengan AHH karena di dalam AKBA tercakup pula angka kematian bayi (AKB) yang merupakan komponen input dalam penghitungan AHH (metode tidak langsung).

Artinya, bahwa semakin rendah AKBA maka semakin tinggi AHH. Penurunan AKBA sebesar dua per tiga dari tahun 1990 - 2015 merupakan salah satu poin target Millenium Development Goals (MDG‟s) dalam bidang kesehatan.

Tampaknya harapan Indonesia dalam mewujudkan target MDG‟s cukup terbuka.

Melihat tren pada gambar 2.5, Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk mencapai target tersebut.

Semakin menurunnya AKBA di Indonesia merupakan dampak dari semakin meningkatnya kesadaran penduduk untuk bersalin dengan pertolongan tenaga medis.

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir persentase kelahiran balita yang ditolong oleh

Gambar

Tren AKB dan AKBA Indonesia, 1991-2007 2.5

Sumber: BPS

Gambar Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir oleh Tenaga Medis, 2005- 2009

2.6

Sumber: Inkesra 2006-2009 97

81

58

46 44

32 68

57

46 35 34

23 0

20 40 60 80 100 120

1991 1994 1997 2002 2007 2015

Per 1000 Kelahiran Hidup Angka Kematian Balita

Angka Kematian Bayi

70,46

72,41 72,53 74,86

77,34

66 68 70 72 74 76 78

2005 2006 2007 2008 2009

Target MDGs 2015

(32)

Status Pembangunan Manusia Indonesia 19

tenaga medis semakin meningkat. Pada tahun 2005 masih 70,46 persen balita yang kelahirannya ditolong oleh tenaga medis.

Kemudian pada tahun-tahun berikutnya per- sentasenya terus meningkat dengan capaian berturut-turut sebesar 72,41 persen, 72,53 persen, 74,86 persen, dan 77,34 persen un- tuk tahun 2006, 2007, 2008, dan 2009. Jika persentase ini mampu untuk terus ditingkatkan maka tingkat kematian balita bisa terus ditekan.

Meskipun AKBA menunjukkan tren yang terus menurun dan tampaknya mampu mencapai target MDGs, tetapi masih ada persoalan lain yang perlu diperhatikan oleh para pemangku kebijakan yaitu AKB dan AKBA Indonesia termasuk tinggi pada tingkat ASEAN (lihat Gambar 2.8). Hasil dari upaya menekan AKBA masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura.Tentunya hal ini bukanlah berita yang baik mengingat bahwa pada tahun 1999 pemerintah telah mencanangkan visi Indonesia Sehat 2010 sebagai komitmen pemerintah untuk memasukkan aspek kesehatan dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Beralih pada komponen pendidikan yaitu AMH dan MYS. Kedua indikator ini sepertinya tidak terlalu terkena imbas akibat krisis moneter. Hal tersebut terlihat dari tetap meningkatnya nilai AMH dan MYS pada tahun 1999 dan 2002. Nilai AMH pada tahun 1996 sebesar 85,50 persen.

Artinya pada tahun 1996 penduduk Indonesia berumur 15 tahun ke atas hanya 85,50 persen

Gambar Angka Kematian Bayi (per 1000 kelahiran hidup) di Negara-negara ASEAN, 2007

2.7

Sumber: Kementerian Kesehatan

Gambar

Angka Melek Huruf (AMH) Indonesia, 1996-2010 2.8

Sumber : BPS 34

9

2,4 25

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Indonesia Malaysia Singapura Filipina

85,50 88,40

89,50 90,38

90,90 91,50

91,87 92,19

92,58 92,91

80 82 84 86 88 90 92 94

1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(33)

20 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

yang memiliki kemampuan baca dan tulis, sedangkan sisanya sebesar 14,50 persen masih buta huruf. Perlahan tapi pasti, angka melek huruf terus meningkat. Secara berturut-turut angka melek huruf meningkat menjadi 88,40 persen pada tahun 1999, 90,90 persen pada tahun 2005, dan 92,91 persen pada tahun 2010.

Peningkatan ini tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk memberantas buta huruf.

Berbagai program telah dilancarkan pemerintah dengan kucuran dana yang tidak sedikit sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam pemberantasan buta huruf. Bahkan, pada tahun 2006 pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara. Contoh lainnya, yaitu program keaksaraan fungsional yang dibentuk melalui kelompok belajar dengan memberdayakan berbagai kalangan untuk turut mendukung terlaksananya program tersebut, mulai dari warga, aparat desa, hingga kalangan akademisi.

Melihat kerasnya upaya pemerintah, diharapkan angka buta huruf semakin bisa ditekan, khususnya untuk kelompok umur 15 - 24 tahun diharapkan tidak ada yang buta huruf. Hal terse- but sesuai salah satu poin target MDGs dalam bidang pendidikan yaitu AMH penduduk Indonesia usia 15 – 24 tahun mencapai 100 persen pada tahun 2015. Sementara pada tahun 2010 capaian AMH kelompok umur 15 – 24 tahun sebesar 99,49 persen. Dibutuhkan peningkatan sebesar 0,51 persen dalam kurun waktu kurang dari lima tahun agar target tersebut bisa tercapai.

Pada komponen pendidikan lainnya yaitu rata-rata lama sekolah (MYS) juga terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1996, MYS di Indonesia hanya mencapai 6,30 tahun atau setara dengan kelas 1 SMP (belum tamat). Meskipun relatif lambat, tetapi dari tahun ke tahun rata-rata lama sekolah di Indonesia terus meningkat berturut-turut pada tahun 1999, 2002, 2005, dan 2009 menjadi 6,70 tahun, 7,10 tahun, 7,30 tahun, dan 7,72 tahun. Kini capaian MYS telah mencapai 7,92 tahun atau setara dengan kelas 2 SMP (belum tamat).

Gambar

Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Indonesia, 1996-2010 2.9

Sumber: BPS 6,30

6,70 7,10

7,24 7,30 7,40 7,47 7,52 7,72

7,92

6,0 6,5 7,0 7,5 8,0

1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(34)

Status Pembangunan Manusia Indonesia 21

Selain bertujuan untuk memberantas buta aksara, tujuan dikeluarkannya Inpres Nomor 5 Tahun 2006 yakni untuk menekan angka putus sekolah sehingga pada akhirnya akan meningkatkan rata-rata lama sekolah. Program pemerintah lainnya yang juga ditujukan untuk menekan angka putus sekolah yaitu program bantuan operasional sekolah atau yang lebih dikenal dengan sebutan BOS.

Berdasar gambar 2.10 dan 2.11 terlihat bahwa indikator-indikator pendidikan di Indonesia menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun. Angka partisipasi sekolah, meskipun lambat menunjukkan peningkatan tiap tahunnya. Namun yang patut dicermati yaitu pada kelompok umur 7 – 12 tahun dan 13 – 15 tahun yang merupakan kelompok umur wajib belajar 9 tahun. Pada kedua kelompok umur tersebut masih terdapat penduduk yang tidak sedang mengikuti pendidikan formal, bisa karena putus sekolah atau bahkan tidak/belum pernah sekolah.

Gambar

Angka Partisipasi Sekolah Indonesia, 2005-2009 2.10

Sumber: Inkesra 2006-2009

Gambar

Angka Putus Sekolah Indonesia, 2005-2008 2.11

Sumber: Inkesra 2006-2008

97,14 97,95

84,02 85,47

53,86 55,16

40 60 80 100

2005 2006 2007 2008 2009

7 - 12 tahun 13 - 15 tahun 16 - 18 tahun

0,81 0,93

0,69

0,43 4,33

4,09

3,76

3,19

0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0

2005 2006 2007 2008

7-12 tahun 13-15 tahun

(35)

22 Indeks Pembangunan Manusia 2009-2010

Jika merujuk pada gambar 2.11 terlihat bahwa tiap tahunnya angka putus sekolah semakin menurun pada kelompok umur wajib belajar 9 tahun.

Komponen IPM yang terakhir yaitu pengeluaran riil perkapita disesuaikan (PPP).

Diantara semua komponen IPM, tampaknya komponen PPP yang paling terkena dampak krisis moneter, yang ditandai dengan anjloknya nilai PPP tahun 1999 menjadi 578,80 (ribu rupiah PPP) dari 587,40 (ribu rupiah PPP) di tahun sebelumnya.

Seperti pada pembahasan sebelumnya, krisis moneter yang terjadi di Indonesia memang sangat memengaruhi kondisi perekonomian di negeri ini. Pertumbuhan ekonomi pada periode krisis bahkan minus. Nilai tukar rupiah terhadap dolar anjlok pada level terendah mencapai lebih dari Rp 10.000 per 1 US$. Akibatnya industri-industri dengan bahan baku produk

Gambar

Perkembangan Penduduk Miskin Indonesia (%), 1996-2010 2.13

Sumber: BPS

Gambar Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPP) Indonesia, 1996- 2010

2.12

Sumber: BPS

15,1 17,5

24,2 23,4

18,2

16,7 17,8 15,4

14,2 13,3

0 5 10 15 20 25 30

1990 1996 1998 1999 2002 2004 2006 2008 2009 2010

587,40 578,80

591,20

614,07 619,93 621,30 624,37 628,33 631,46 633,64

550 570 590 610 630 650

1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

PPP Disesusikan (dalam ribu rupiah PPP)

Gambar

Gambar  Persentase Balita Menurut  Penolong Kelahiran Terakhir  oleh Tenaga Medis,  2005-20092.6  Sumber: Inkesra 2006-200997  81  58  46  44  32 68 57 46 35 34 23 02040608010012019911994199720022007 2015
Gambar  Angka Kematian Bayi (per  1000 kelahiran hidup) di  Negara-negara ASEAN,  2007
Gambar  Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PPP) Indonesia, 1996- 1996-2010 2.12  Sumber: BPS 15,1  17,5  24,2  23,4  18,2  16,7  17,8  15,4  14,2  13,3  051015202530 1990 1996 1998 1999 2002 2004 2006 2008 2009 2010587,40 578,80 591,20 614,07 619,93 621,3
Tabel  Peringkat IPM Negara-negara  ASEAN, 2007 dan 2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun komponen IPM disusun dari tiga komponen yaitu lamanya hidup diukur dengan harapan hidup pada saat lahir, tingkat pendidikan diukur dengan dengan kombinasi antara angka

Tabel 4.1 Angka harapan hidup (AHH) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM adalah indeks komposit yang dipengaruhi oleh tiga indikator dasar meliputi indikator kesehatan yang diukur dari Umur Harapan Hidup (UHH), indikator pendidikan

Oleh karena itu, UNDP menyusun suatu indeks komposit berdasarkan pada 3 (tiga) kriteria Yaitu : 1) Angka Harapan hidup (life expectancy at age 0: e 0 ) untuk mengukur

1) Indeks Pembangunan Manusia (IPM), merupakan indikator komposit yang menggabungkan tiga aspek penting, yaitu pendidikan (angka melek huruf, rata-rata lama sekolah),

Indeks Indikator Kini (IIK) merupakan indeks komposit dari beberapa indeks variabel yang dapat mengidentifikasi secara umum tentang kondisi perusahaan dan bisnis

Untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam pembangunan manusia terdapat tiga indikator IPM yang digunakan yaitu: tingkat kesehatan yang diukur dengan angka harapan

LANDASAN TEORI Indeks Pembangunan Manusia IPM Indeks Pembangunan Manusia IPM terdapat tiga indikator komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam