• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Otonomi Daerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Di Kota Binjai.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Dampak Otonomi Daerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Di Kota Binjai."

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

DAMPAK OTONOMI DAERAH TERHADAP KESEJAHTERAAN

MASYARAKAT DI KOTA BINJAI

SKRIPSI

Diajukan Oleh :

MELIA SINAGA

070501118

EKONOMI PEMBANGUNAN

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Medan

(2)

ABSTRAK

Pentingnya otonomi daerah pada hakikatnya adalah dalam upaya menciptakan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien serta berdaya guna demi mewujudkan percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari paparan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh lagi persoalan otonomi suatu daereah di kaitkan dengan kesejahteraan masyarakat tersebut dalam suatu penelitian. Salah satu daerah di Sumatera Utara melaksanakan otonomi daerah adalah Kota Binjai.

Penelitian yang di lakukan ini menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dan yang menjadi populasinya adalah seluruh daerah kecamatan (area sampel) yang terdiri atas 5 kecamatan dan seluruh penduduk yang ada di Kota Binjai yang terdiri dari 252.652 jiwa. Pemilihan sampel dalam penelitian ini di lakukan dengan cara cluster random sampling dengan melihat kriteria tingkat kesejahteraannya. Oleh karena keterbatasan waktu dan biaya, maka areal sampel penelitian di lakukan dengan cara mengambil 3 kecamatan saja dari 5 kecamatan yang ada yakni Binja Kota, Binjai Utara, Binjai Timur. Dengan rumus di dapat besar sampel ketiga kecamatan tersebut yakni 100 orang. Data yang telah terkumpul (dari hasil kuisioner) kemudian di analisis secara kuantitatif dan kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi daerah di Kota Binjai berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat yang dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia.

(3)

ABSTRACT

The importance of region autonomy is truly base on the efforts of creating a more effective and efficient government, which will be very productive in creating a fast increasing

welfare of the people or community. From the general description above, the writer is

interested in doing a deeper investigation on expanding of a region autonomy which has a great

link with the welfare of the community/ people in a form of research. One of the regencies in

Nort Sumatera that been region autonomy is Binjai.

This research that is conducted, uses a descriptive analysis research method, and the

population will be taken from all 5 sub-districts (area sample) and all population that covers

the Binjai regency that consists of 252.652 households. The sample in this research will be a prosess of taking samples using cluster random sampling with welfare each sub-districts. Due to the limited time and budget, the area sample of the research are reduced to 3 districts from 5 sub-districts and they are City Binjai, Nort Binjai, East Binjai. Using formula, there are 100 households in these 3 sub-districts. The data gathered (through questioner) is then analyzed quantitatively and qualitatively.

The result of the research implicates that region autonomy in Binjai regency has positive effect for the welfare of community that we know from Human Development Index.

(4)

KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahhan hati dan penuh hormat penilis memanjatkan puji dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan kasih setia, hikmat kebijaksanaan sehingga penulis dapat menyeesaikan skripsi ini. Skripsi ini, skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti ujian meraih gelar sarjana (S-1) pada Fakultas Ekonomi, Departemen Studi Pembangunan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Adapun judul skripsi ini adalah : “DAMPAK OTONOMI DAERAH TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI KOTA BINJAI”.

Selama menyelesaikan skripsi ini penulis banyak di Bantu oleh berbagai pihak baik dalam bentuk moril, materil, maupun doa. Maka pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak atas setiap dukungan yang telah diberikan kepada :

1. Bapak Drs. John Tafbu Ritonga, M.Ec, sebagai Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara,

2. Bapak Irysad Lubis SE, M.Soc. Sc, PhD sebagai Ketua Departemen Studi Pembangunan, Universitas Sumatera Utara,

3. Bapak Prof. Dr. Sirojuzilam, SE, sebagai dosen pembimbing penulis yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberi masukan, saran dan bimbingan, baik dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini,

4. Ibu Ilyda Sudardjat, S.SI,M.Si, sebagai dosen wali yang telah memberi bimbingan selama masa perkuliahan,

5. Bapak Drs. Sahat Silaen, M.Si, sebagai Dosen Penguji I yang telah memberi saran dan masukan bagi penulis dalam rangka penyempurnaan skripsi ini,

(5)

7. Seluruh Staff Pengajar dan Staff Administrasi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan,

8. Kedua orang tua penulis, mama dan (Alm) bapak yang selama perkuliahan selalu memberi semangat dan cinta kasihnya terlebih dalam penyelesaian skripsi ini, demikian juga dengan seluruh keluarga penulis yang tetap memberi dukungan dan doa pada penulis,

9. Saudara-saudara penulis (Palti Hasudungan Sinaga, Emi Lilawati Sinaga dan Veronika Sinaga) yang selalu memberikan dukungan materi, semangat dan doa kepada penulis,

10.Yang terkasih, Herman Plany yang karena kasihnya memberi motivasi dan dukungan pada penulis dalam rangka penyelesaian skripsi ini,

11.Kepada sahabat-sahabat penulis (GMTJ), yang selalu memotivasi penulis dalam meyelesaikan skripsi ini,

(6)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna baik dari segi bahan penulisan maupun kemampuan ilmiah, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya tulisan ini di masa yang akan datang.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap orang.

Medan,……… Februari 2011

Penulis

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……… vi

DAFTAR TABEL……….. viii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang………..………… 1

1.2Perumusan Masalah………..………… 7

1.3Hipotesis………..…………. 7

1.4Tujuan Penelitian………..………… 8

1.5Manfaat Penelitian………..………….. 8

BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Otonomi Daerah……….……….…. 9

2.1.1 Perinsip Otonomi Daerah……….……….….10

2.1.2 Otonomi yang Luas, Nyata dan Bertanggung Jawab……... 12

2.1.3 Tujuan Otonomi Daerah……….….. 13

2.1.4 Sumber Penerimaan Daerah Otonom……….….. 13

2.1.5 Desentralisasi Fiskal……….….…... 14

2.1.6 Peran Pemerintah……….….……… 14

2.2. Indeks Pembangunan Manusia………..………. 15

2.2.1 Pengertian Indeks Pembangunan Manusia………….….…. 16

2.2.2 Metode Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia….….. 18

2.2.3 Konsep Pembangunan Manusia dan Pengukuran……….... 22

2.2.4 Pengukuran Pencapaian Pembangunan……….…... 23

2.3 Kesejahteraan Masyarakat………. 25

(8)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian……….……… 33

3.2 Ruang Lingkup Penelitian……….……….………. 33

3.3 Jenis dan Sumber Data……….……….. 34

3.4 Populasi dan Sampel……….….……….…. 34

3.5 Metode Pengumpulan Data……….…….………... 36

3.6 Metode Analisis Data ……….…….………... 36

3.7 Definisi Operasional Variabel……….….…….………….. 40

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Kota Binjai……….……….……… 41

4.1.1 Kondisi Geografis……….………….………….... 41

4.1.2 Administratif……….………….……… 42

4.1.3 Sejarah Kota Binjai……….………... 44

4.1.4 Kondisi Demografi……….………...… 45

4.1.5 Perekonomian………...….……… 46

4.1.6 Kondisi Sosial Kota Binjai……….………... 47

4.1.7 Potensi Wilayah……….……… 51

4.2 Karakteristik Responden……….………. 53

4.3 Analisis dan Pembahasan………. 55

4.3.1 Indikator Kesejahteraan Masyarakat………. 55

4.3.2 Hasil Analisis Data……… 58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...……… 63

(9)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Hal

1.1 IPM Kota Binjai (1999-2008) ……….………… 6 2.1 Tingkatan Status Indeks Pembangunan Manusia…...……… 18 2.2 Nilai Maksimum dam Minimum Komponen IPM …….…… 21

3.1 Rincian Sampel ……….. 35

3.2 Variabel Penelitian ………. 39 4.1 Penduduk Kota Binjai, Luas Daerah, Banyaknya Rumah

Tangga dan Kepadatan Penduduk 2008 ……… 42 4.2 Banyaknya Kelurahan dan Lingkungan Menurut Kecamatan di Kota

Binjai 2008………...……….….. 43 4.3 Penduduk Berumur >15 Tahun yang Bekerja Menurut Jenis

Kegiatan dan Jenis Kelamin di Kota Binjai Tahun 2008…… 44 4.4 Penduduk Menurut Jenis Kelamin Kota Binjai 1993-2008… 46 4.5 Jumlah Fasilitas Kesehatan din Kota Binji Tahun 2008……. 48 4.6 Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kota Binjai Tahun 2008…… 49 4.7 Jumlah Dokter Ahli, Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan, Perawat

dan Perawat Gigi di Kota Binjai Tahun 2008…….………… 49 4.8 Penggunaan Sumber Air Minum per Kecamatan di Kota Binjai

Tahun 2008………/……… 50 4.9 Banyaknya Air Minum yang Disalurkan Menurut Jenis Pelanggan di

(10)

4.11 Karakteristik Responden dalam penelitian “ Dampak Otonomi Daerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kota

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian

(12)

ABSTRAK

Pentingnya otonomi daerah pada hakikatnya adalah dalam upaya menciptakan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien serta berdaya guna demi mewujudkan percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari paparan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh lagi persoalan otonomi suatu daereah di kaitkan dengan kesejahteraan masyarakat tersebut dalam suatu penelitian. Salah satu daerah di Sumatera Utara melaksanakan otonomi daerah adalah Kota Binjai.

Penelitian yang di lakukan ini menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dan yang menjadi populasinya adalah seluruh daerah kecamatan (area sampel) yang terdiri atas 5 kecamatan dan seluruh penduduk yang ada di Kota Binjai yang terdiri dari 252.652 jiwa. Pemilihan sampel dalam penelitian ini di lakukan dengan cara cluster random sampling dengan melihat kriteria tingkat kesejahteraannya. Oleh karena keterbatasan waktu dan biaya, maka areal sampel penelitian di lakukan dengan cara mengambil 3 kecamatan saja dari 5 kecamatan yang ada yakni Binja Kota, Binjai Utara, Binjai Timur. Dengan rumus di dapat besar sampel ketiga kecamatan tersebut yakni 100 orang. Data yang telah terkumpul (dari hasil kuisioner) kemudian di analisis secara kuantitatif dan kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi daerah di Kota Binjai berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat yang dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia.

(13)

ABSTRACT

The importance of region autonomy is truly base on the efforts of creating a more effective and efficient government, which will be very productive in creating a fast increasing

welfare of the people or community. From the general description above, the writer is

interested in doing a deeper investigation on expanding of a region autonomy which has a great

link with the welfare of the community/ people in a form of research. One of the regencies in

Nort Sumatera that been region autonomy is Binjai.

This research that is conducted, uses a descriptive analysis research method, and the

population will be taken from all 5 sub-districts (area sample) and all population that covers

the Binjai regency that consists of 252.652 households. The sample in this research will be a prosess of taking samples using cluster random sampling with welfare each sub-districts. Due to the limited time and budget, the area sample of the research are reduced to 3 districts from 5 sub-districts and they are City Binjai, Nort Binjai, East Binjai. Using formula, there are 100 households in these 3 sub-districts. The data gathered (through questioner) is then analyzed quantitatively and qualitatively.

The result of the research implicates that region autonomy in Binjai regency has positive effect for the welfare of community that we know from Human Development Index.

(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat dilihat dari demografi, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia, aksesibilitas serta kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan aspek potensi pasar. Kondisi tersebut memungkinkan pertumbuhan suatu wilayah sering kali tidak seimbang dengan wilayah lainnya (Gunawan, 2000).

Selain kondisi demografi, ketimpangan pembangunan juga sebagai akibat dari besarnya peran pemerintah pusat dalam pengambilan keputusan dan peran pemerintah daerah yang hanya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, sehinggga daerah tidak memiliki kewenangan untuk berkreasi dalam menentukan arah pembangunannya dan menjadi tidak berdaya menghadapi dominasi pemerintah pusat yang sangat dominan. Terkonsentrasinya pembangunan dan pelayanan publik di pusat terutama di pulau Jawa menimbulkan kesenjangan perekonomian antar daerah di tanah air. Oleh karena itu, wajar jika pergerakan ekonomi dan perputaran modal relatif lebih besar dan lebih cepat di Pulau Jawa dibandingkan dengan di luar Pulau Jawa (Kuncoro, 2002). Gagasan melakukan desentralisasi dengan otonomi penuh adalah alternatif yang paling cocok untuk menghilangkan kesenjangan perekonomian antar daerah di tanah air.

(15)

terakomodasikan dalam pasal 18 UUD 1945 yang intinya bahwa membagi daerah Indonesia atas daerah besar (propinsi) dan daerah propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil (Yudhoyono,2001). Dengan demikian UUD 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah.

Pemerintah Orde Baru menetapkan realisasi otonomi daerah melalui Undang-Undang No 5 Tahun 1974 dengan konsep otonomi yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab. Sebagai konsekuensi di dalam salah satu bagian undang-undang tersebut yang menyatakan bahwa otonomi lebih merupakan kewajiban dari pada hak, maka kontrol pemerintah pusat terhadap daerah menjadi sangat ketat. Akibatnya muncul keresahan di daerah terhadap komitmen pemerintah pusat untuk melaksanakan desentralisasi. Di tengah-tengah kondisi tersebut pada pasca Orde Baru untuk menjawab tuntutan otonomi yang lebih baik muncul Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 (telah direvisi dengan UU No. 32 Tahun 2004) tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 (telah direvisi dengan UU No. 33 Tahun 2004) tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan Daerah. Walaupun Undang-Undang tersebut masih diwarnai dengan beberapa kelemahan dan menjadi sorotan kritis dari masyarakat, namun masih ada rasa optimisme karena makna otonomi itu sebenarnya adalah pengakuan pentingnya kemandirian.

(16)

mandiri baik dari sistem pembiayaan maupun dalam menentukan arah pembangunan daerah sesuai dengan prioritas dan kepentingan mayarakat di daerah. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pada dasarnya mendorong memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran-serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Oleh karena itu Undang-Undang ini menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan daerah kota dengan prinsip bahwa pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah.

Otonomi daerah menjadi wacana favorit bagi penyelenggaraan pemerintahan dewasa ini di seluruh dunia. Otonomi daerah yang merupakan antitesis dari ajaran sentralisasi dalam pengelolaan pemerintahan mendapat perhatian yang sangat luas di kalangan akademis maupun praktisi pemerintahan. Sebagai sebuah konsep penyelenggaraan pemerintahan, otonomi daerah menjadi panduan utama akibat ketidakmungkinan sebuah negara yang wilayahnya luas dan penduduknya banyak untuk mengelola manajemen pemerintah secara sentralistik. Otonomi daerah juga diminati karena di dalamnya terkandung semangat demokrasi untuk mendekatkan partisipasi masyarakat dalam menjalankan sebuah pembangunan.

(17)

pemerintahan bahwa masyarakat merupakan pilar utama dan penting yang harus dilibatkan dalam berbagai proyek pembangunan bangsanya (Koirudin,2005).

Pemerintah pusat tidak lagi mendominasi kebijakan daerah. Peran pemerintah pusat dalam konteks otonomi adalah melakukan supervise, memantau, mengawasi, dan mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah. Peran ini tidak ringan, tapi juga tidak membebani daerah secara berlebihan. Karena itu dalam rangka otonomi daerah diperlukan kombinasi yang efektif antara visi yang jelas serta kepemimpinan yang kuat dari pemerintah pusat, dengan keleluasaan berprakarsa dan berkreasi dari pemerintah daerah (Haris,2005). Kebijakan otonomi daerah lahir dengan tujuan menyelamatkan pemerintahan dan keutuhan negara, membebaskan pemerintah pusat dari beban yang tidak perlu, mendorong kemampuan prakarsa daerah untuk mengejar kesejahteraan masyarakat, namun dalam prakteknya muncul distorsi-distorsi pemahaman yang memprihatinkan.

(18)

partisipasi masyarakat setempat/daerah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah merupakan wujud dari pembangunan nasional daerah. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitaraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut.

(19)

Tabel 1.1

IPM Kota Binjai (1999-2008)

Tahun Angka Harapan Hidup

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Tahun 2001

Bila diperhatikan dari tabel diatas, terlihat bahwa terus membaiknya angka Indeks Pembangunan Manusia di Kota Binjai sejalan dengan adanya peningkatan dari tahun ketahun dari setiap komponen IPM. Angka harapan hidup dari tahun 1999 hingga tahun 2008 terus mengalami kenaikan, dimana pada tahun 1999 sebesar 65.6 tahun naik pada Tahun 2008 menjadi 71.54 tahun. Angka melek huruf pada tahun 1999 (95.9 persen) mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2002 (97.3 persen), Pada tahun 1999 rata-rata lama sekolah (5.7 tahun) mengalami kenaikan pada tahun 2002 (9.6 tahun). Pengeluaran Riil perkapita dari tahun 1999 yang sebesar Rp.529.2 ribu naik menjadi sebesar Rp.628.7 ribu pada tahun 2008.

(20)

pendapatan mengakibatkan kemampuan mereka untuk melanjutkan sekolah menjadi semakin baik.

Usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat memang bukan hanya tugas Pemerintah Daerah tetapi juga tugas masyarakat setempat. Partisipasi masyarakat dalam mendukung kebijaksanaan Pemerintah Daerah akan membantu untuk mencapai sasaran pembangunan, dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penulisan skripsi dengan judul : “ Dampak Otonomi Daerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kota Binjai “.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana dampak otonomi daerah terhadap kesejahteraan masyarakat di Kota Binjai ?

1.3 Hipotesis

(21)

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui seberapa besar dampak Otonomi Daerah terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Binjai.

2. Untuk mengetahui perbedaan pada kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah adanya Otonomi Daerah.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan studi dan literatur bagi mahasiswa/mahasiswi ataupun peneliti yang ingin melakukan penelitian sejenis selanjutnya.

2. Sebagai bahan masukan bagi pengambilan keputusan dimasa yang akan datang.

3. Sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi pemerintah atau instansi-instansi terkait.

4. Bahan acuan penelitian lain yang berminat meneliti masalah hubungan Otonomi Dearah terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Kota Binjai.

(22)

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1 Otonomi Daerah

Otonomi atau autonomie berasal dari bahasa Yunani yaitu kata auto yang berarti sendiri dan nomos yang berarti undang-undang (Silalahi,1996, mengutip kamus Petit Larousse). Jadi Otonomi berarti mengatur dengan undang-undang sendiri. Dengan demikian yang dimaksud dengan otonomi adalah “pemberian hak dan kekuasaan perundang-undangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri kepada instansi, perusahaan ataupun daerah”.

Pengertian Otonomi dalam lingkup suatu negara selalu dikaitkan dengan daerah atau pemerintah daerah (local government). Otonomi dalam pengertian ini, selain berarti mengalihkan kewenangan dari pusat (central government) ke daerah juga berarti menghargai atau mengefektifkan kewenangan asli yang sejak semula tumbuh dan hidup di daerah untuk melengkapi sistem prosedur pemerintahan negara di daerah (Sumitro,2000).

(23)

2.1.1 Prinsip Otonomi Daerah

Pembanguan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional yang tidak bisa dilepaskan dari prinsip otonomi daerah. Sebagai daerah otonom, daerah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab penyelenggaraan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip keterbukaan partisipasi masyarakat dan bertanggungjawaban kepada masyarakat. Upaya untuk melaksanakan Otonomi Daerah yang telah di gulirkan 1 Januari 2001 adalah merupakan tekat bersama, baik aparat yang di pusat maupun yang di daerah. Tentu dalam hal ini harus dilaksanakan dengan hati-hati, seksama namun tidak mengurangi jangka waktu yang telah ditetapkan agar mencapai hasil maksimal dalam pelaksanan otonomi daerah.

Prinsip-prinsip pemberian otonomi daerah

Perinsip-perinsip pemberian otonomi daerah yang dijadikan pedoman dalam UU No. 22 Tahun 1999 adalah (Ismawan,2005) :

1. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah.

2. Pelaksanaan otonomi daerah di dasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab

3. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota, sedang otonomi daerah propinsi merupakan otonomi yang terbatas.

(24)

5. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom dan karenanya dalam daerah kabupaten dan daerah kota tidak ada lagi wilayah administrasi. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh pemerintah atau pihak lain, seperti badan otorita, kawasan pelabuhan, kawasan perumahan, kawasan industri, kawasan perkebunan, kawasan pertambangan, kawasan kehutanan, kawasan perkotaan baru, kawasan pariwisata dan semacamnya berlaku ketentuan peraturan daerah otonom.

6. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan dan fungsi badan legislatif daerah, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintahan daerah.

7. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepeda Gubernur sebagai wakil pemerintah.

(25)

2.1.2 Otonomi yang Luas, Nyata dan Bertanggung Jawab

Pengalaman penyelenggaraan otonomi daerah dimasa lampau menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab, namun dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban dari pada hak. Dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 pemberian kewenangan otonomi pada daerah kabupaten dan daerah kota di dasarkan pada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab (Ismawan,2005).

Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenagan bidang lainnya (yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 2000). Disamping itu keluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi.

Otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan dibidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh, hidup dan berkembang didaerah.

(26)

hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.1.3 Tujuan Otonomi Daerah

Tujuan utama yang ingin dicapai melalui kebijakan otonomi daerah yaitu tujuan politik dan tujuan administrasi (Widjaja,2008).

a. Tujuan Politik

Tujuan politik akan memosisikan pemerintah daerah sebagai medium pendidikan politik bagi masyarakatdi tingkat local dan secara agregat akan berkontribusi pada pendidikan politik secara nasional untuk mencapai terwujudnya civil society (masyarakat madani).

b. Tujuan Administratif

Tujuan Administratif akan memosisikan pemerintah daerah sebagai unit pemerintahan ditingkat lokal yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan masyarakat secara efektif, efisien dan ekonomis.

2.1.4 Sumber Penerimaan Daerah Otonom

Untuk dapat memiliki keuangan yang memadai dengan sendirinya daerah membutuhkan sumber keuangan yang cukup pula. Dalam hal ini daerah dapat memperolehnya melalui beberapa cara, yaitu :

(27)

2. Pemerintah Kabupaten/Kota dapat melakukan pinjaman dan pihak ketiga, pasar uang barang maupun pemerintah.

3. Ikut ambil bagian dalam pendapatan pajak sentral yang dipungut oleh daerah, misalnya sekian persen dari pajak tersebut.

4. Pemerintah Kabupaten/Kota dapat meminta bantuan atau subsidi dari pemerintah Kabupaten.

2.1.5 Desentralisasi Fiskal

Tiga variasi desentralisasi fiskal dalam kaitannya dengan derajat kemandirian pengambilan keputusan yang dilakukan di daerah yaitu ;

1. Desentralisasi, yang berarti pelepasan tanggung jawab yang berada dalam lingkungan pemerintah pusat ke instansi vertikal di daerah atau pemerintah daerah.

2. Delegasi yang berhubungan dengan situasi, yaitu daerah bertindak sebagai perwakilan pemerintah untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu atas nama pemerintah.

3. Devolusi atau pelimpahan yang berhubungan dengan suatu situasi yang bukan saja implementasi tetapi juga kewenangan untuk memutuskan apa yang perlu dikerjakan, berada di daerah.

2.1.6 Peranan Pemerintah

(28)

karakter yang berkembang, akan mewarnai penyelenggaraan pemerintahan secara nasional. Peranan dan kedudukan pemerintahan daerah sangat strategis, dan sangat menetukan secara nasional, sehingga paradigma baru pemerintahan yang berbasis daerah akan berimplikasi pada bergesernya tugas dan fungsi pemerintah pusat lebih banyak ke arah penyelenggaraan fungsi pengarah dan mendelegasikan sebagian besar kegiatan di daerah dengan memberi kepercayaan dan tanggung jawab sepenuhnya kepada daerah, sehingga persepsi lama yang sering didengar menyangkut egoisme sektoral akan terhapus. Propinsi yang berkedudukan sebagai daerah otonom dan sekaligus sebagai wilayah administrasi akan melaksanakan kewenangan pemerintah pusat yang didelegasikan kepada gubernur. Propinsi sebagai daerah otonom, bukan merupakan daerah dari daerah Kabupaten maupun Kota. Daerah otonom Propinsi tidak membawahi daerah otonom Kabupaten dan Kota, tetapi dalam praktek terdapat hubungan koordinasi, kerjasama, dan atau kemitraan sebagai sesama daerah otonom. Dalam kedudukan sebagai wilayah administrasi, gubernur selaku wakil pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap daerah Kabupaten dan Kota.

2.2 Indeks Pembangunan Manusia

(29)

yang serius untuk mengetahui hal-hal yang lebih terinci dalam membuat laporan pembangunan manusianya.

2.2.1 Pengertian Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit tunggal yang walaupun tidak dapat mengukur semua dimensi dari pembangunan manusia, tetapi mengukur tiga dimensi pokok pembangunan manusia yang dinilai mampu mencerminkan status kemampuan dasar (basic capabilities) penduduk. Ketiga kemampuan dasar itu adalah umur panjang dan sehat, berpengetahuan dan berketerampilan, serta akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak. Konsep pembangunan manusia berbeda dengan pembangunan yang memberikan perhatian utama pada pertumbuhan ekonomi, dengan asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menguntungkan manusia. Pembangunan manusia memperkenalkan konsep yang lebih luas dan lebih komprehensif yang mencakup semua pilihan yang dimiliki oleh manusia di semua golongan masyarakat pada semua tahap pembangunan. Pembangunan manusia merupakan perwujudan tujuan jangka panjang dari suatu masyarakat dan meletakkan pembangunan di sekeliling manusia, bukan manusia di sekeliling pembangunan.

(30)

disebutkan bahwa pembangunan yang dilakukan menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia seiring dengan pembangunan di bidang lainnya.

Pembangunan sumber daya manusia secara fisik dan mental mengandung makna peningkatan kapasitas dasar penduduk yang kemudian akan memperbesar untuk dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) digunakan untuk mengukur keberhasilan atau kinerja (performance) suatu negara dalam bidang pembangunan manusia. Mengingat manusia sebagai subjek dan objek pembangunan maka manusia di dalam kehidupannya harus mampu meningkatkan kualitas hidupnya sebagai insan pembangunan.

Konsep pembangunan manusia dimensi yang sangat luas dengan banyak pilihan, dapat tercapai jika penduduk tersebut memiliki peluang angka harapan hidup yang tinggi atau umur yang panjang dan sehat, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kesempatan untuk merealisasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kegiatan yang produktif, sehingga penduduk memiliki daya beli. Dengan kata lain manusia itu harus berkualitas, serta berproduktivitas tinggi, sehingga dapat mewujudkan kehidupannya mencapai standar hidup layak.

(31)

ekonomi sangat erat sekali dan merupakan prasyarat untuk tercapainya pembangunan manusia, karena peningkatan pembangunan ekonomi akan mendukung peningkatan produktivitas melalui pengisian kesempatan kerja dengan usaha-usaha produktif sehingga tercipta peningkatan pendapatan sesuai dengan UNDP.

Tabel 2.1

Tingkatan Status Indeks Pembangunan Manusia

Tingkatan Status Kriteria

Rendah 0 – 50

Menengah Bawah 50 – 66

Menengah Atas 66 – 80

Tinggi 80 -100

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai, 2009

2.2.2 Metode Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia

(32)

Rumus dan Ilustrasi Penghitungan IPM

IPM = 1/3 (X (1) + X (2) + X (3))

Dimana :

X(1) : Indeks harapan hidup

X(2) : Indeks pendidikan = 2/3 (indeks melek huruf) + 1/3 (indeks rata-rata lama sekolah)

X(3) : Indeks standar hidup layak

Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai minimum indikator yang bersangkutan. Rumusnya dapat disajikan sebagai berikut :

1. Indeks Harapan Hidup :

X(1) : [( eo - 25 )/( 85 - 25 )] x 100

Dimana :

X(1) : Indeks harapan hidup

eo : angka harapan hidup.

25 : angka minimum harapan hidup (UNDP).

(33)

2. Indeks Pendidikan :

X(2) : [( 2/3 [Lit – 0)/(100 – 0)] + 1/3 [( MYS – 0)/( 15 – 0 )] x 100

Dimana :

X(2) : Indeks pendidikan

Lit : Angka melek huruf.

MYS : Lama sekolah.

0 : Angka minimum baik untuk Lit maupun MYS.

100 : Angka maksimum Lit (melek huruf).

15 : Angka maksimum untuk MYS (lama sekolah).

3. Indeks Konsumsi Riil per Kapita :

X(3) : [( PPP - 300,00 ) / ( 732,7 - 300,00 )] x 100

Dimana :

X(3) : Indeks standar hidup layak

PPP : Nilai Konsumsi riil per kapita yang disesuaikan

300,00 : Nilai standar minimal (standar UNDP)

(34)

Untuk lebih mudah dalam memahami , berikut disajikan nilai maksimum dan nilai

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Tahun 2001

Catatan :

a) Proyeksi pengeluaran riil/unit/tahun untuk propinsi yang memiliki angka tertinggi (Jakarta) pada tahun 2018 setelah disesuaikan dengan formula Atkinson. Proyeksi mengasumsikan kenaikan 6,5 persen per tahun selama kurun 1996-2018.

(35)

2.2.3 Konsep Pembangunan Manusia dan Pengukuran

Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan hidup yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Hal ini tampaknya merupakan suatu kenyataan sederhana, tetapi hal ini seringkali terlupakan oleh berbagai kesibukan jangka pendek untuk mengumpulkan harta dan uang. UNDP mendefinisikan bahwa pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk dalam hal pendapatan, kesehatan, pendidikan, lingkungan fisik, dan sebagainya. Konsep Indeks Pembangunan Manusia adalah mengukur pencapaian keseluruhan suatu negara. Dengan demikian, IPM mengukur pencapaian kemajuan pembangunan sosial ekonomi. IPM yang direpresentasikan oleh 3 dimensi, yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan dan kehidupan yang layak. Indikator yang digunakan untuk mengukur dimensi umur panjang dan sehat adalah angka harapan hidup. Untuk mengukur dimensi pengetahuan adalah angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, sedangkan dimensi kehidupan yang layak diukur dengan paritas daya beli.

(36)

2.2.4 Pengukuran Pencapaian Pembangunan

Pembangunan nasional menurut Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang kemudian dijabarkan kedalam Repelita adalah pembangunan yang menganut konsep pembangunan manusia. Konsep Pembangunan Manusia seutuhnya merupakan konsep yang menghendaki peningkatan kualitas hidup penduduk secara spiritual, Bahkan secara eksplisit disebutkan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan, maka perlu dipikirkan komponen-komponen pembangunan yang terdiri atas sumber daya alam, sumber daya manusia, modal dan teknologi. Pembangunan khususnya dalam bidang ekonomi di tempatkan pada urutan pertama dari seluruh aktivitas pembangunan. (Sirojuzilam,2008).

(37)

Jumlah penduduk yang besar akan menjadi modal pembangunan jika penduduk tersebut berkualitas, namun akan menjadi beban pembangunan jika penduduk tersebut kurang kualitasnya. Untuk menciptakan pembangunan manusia yang berkualitas diharapkan pertama sekali terlaksana dalam keluarga melalui penerapan keluarga kecil sejahtera. Program pengendalian jumlah penduduk melalui program keluarga berencana diharapkan dapat mengendalikan jumlah penduduk, sehingga angka kelahiran dapat diturunkan. Dengan penurunan angka kelahiran dapat mempercepat proses peningkatan kualitas hidup. Dengan demikian pembangunan bidang sosial sangat terlaksana dengan baik sesuai dengan konteks pembangunan manusia. Pembangunan manusia menyangkut dimensi yang sangat luas. Upaya membuat pengukuran pencapaian pembangunan manusia yang dilakukan telah dilakukan disuatu wilayah harus dapat memberikan gambaran tentang dampak dari pelaksanaan pembangunan terhadap peningkatan kualitas manusia selaku penduduk dan sekaligus dapat memberikan gambaran tentang persentase pencapaian terhadap sasaran ideal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator komposit tunggal yang walaupun belum dapat mengukur semua dimensi dari pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan dasar (basic capabilities) penduduk. Ketiga kemampuan dasar tersebut adalah umur yang panjang dan sehat, mengukur peluang hidup ataupun harapan hidup, berpengetahuan dan berketerampilan, serta akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mancapai standar hidup layak.

(38)

wilayah itu telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup 85 tahun, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup layak. Semakin dekat IPM suatu wilayah terhadap angka 100, semakin baik dan sempurna keadaan pembangunan manusia di wilayah tersebut dan semakin dekat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran itu.

Komponen IPM hanya mencakup tiga komponen yaitu angka harapan hidup, tingkat pendidikan atau pengetahuan dan daya beli. Maka sebagai penyederhanaan dari realitas yang kompleks tercermin dari luasnya dimensi pembangunan manusia yang harus diadakan. Oleh karena itu dasar IPM perlu dilengkapi dengan kajian dan analisis yang dapat mengungkapkan dimensi-dimensi pembangunan manusia yang penting lainnya (yang tidak seluruhnya dapat diukur) seperti stabilitas politik, rasa aman, kebutuhan rohani atau spiritual, sanitasi lingkungan dan perumahan, kebebasan mengeluarkan pendapat, kemerataan antargenerasi dan lain-lain.

2.3 Kesejahteraan Masyarakat

Pembangunan diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang, dari defenisi ini mengandung tiga unsur, yaitu :

1. Suatu proses yang berarti perubahan yang terus menerus yang didalamnya telah mengandung unsure-unsur kekuatan sendiri untuk investasi.

2. Usaha peningkatan pendapatan perkapita

(39)

Perkembangan ekonomi selalu dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan perkapita merupakan suatu pencerminan dari timbulnya perbaikan dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat namun masalah pembangunan merupakan suatu jalinan eksitensi dari masalah sosial dan ekonomi, oleh karena itu kebijakan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan perlu pertimbangan faktor-faktor yang bersifat non-ekonomi.

Pembanguan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan kemampuan nasional dengan memanfaatkan kemampuan nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperjatikan tantangan perkembangan global. Dalam pelaksanaannya mengaju pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, keadilan, sejahtera, maju dan kukuh kekuatan moral dan etikanya.

(40)

1. Keluarga prasejahtera

Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimual seperti kebutuhan pangan,sandang, kesehatan, dan keluarga berencana.

2. Keluarga sejahtera I

Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kegiatan sosial psikologisnya seperti kebutuhan akan pendidikan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi.

3.Keluarga sejahtera II

Yaitu keluarga yang telah memenuhi kebutuhan fisik dan sosial psikologisnya dan pengembangan namun kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan untuk menabung dan informasi.

4. Keluarga sejahtera III

Yaitu keluarga yang telah memenuhi fisik, sosial psikologisnya dan pengembangan namun belum dapat memberikan sumbangan dan peran serta aktif menjadi pengurus lembanga kemasyarakatan yang ada.

5. Keluarga sejahtera plus

(41)

Bila kemakmuran masyarakat (people prosperity) merupakan sasaran utama pembangunan daerah, maka tekanan utama pembangunan akan lebih banyak diarahkan pada pembangunan penduduk setempat. Dalam kaitan dengan hal ini, program dan kegiatan lebih banyak diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam bentuk pengembangan pendidikan, peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat dan peningkatsn penerapan teknologi tepat guna. Disamping itu, perhatian juga akan lebih diarahkan untuk meningkatkan kegiatan produksi masyarakat setempat dalam bentuk pengembangan kegiatan pertanian yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, peikanan dan kehutanan, serta kegiatan ekonomi kerakyatan lainnya.

(42)

2.4 Penelitian Terdahulu

1. Sinta Uli Afrida Tobing

Dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Otonomi Daerah Terhadap Keejahteraan Masyarakat Kota Binjai“, bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelakasanaan otonomi daerah terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya Kota Binjai selama kurun waktu 1993-2007 dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS).

Hasil estimasi data dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS) menunjukkan bahwa otonomi daerah yang digambarkan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan anggaran pembangunan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya Kota Binjai.

2. Ventauli Friska Simanjuntak

(43)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah pemekaran wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai yang dapat dilihat melalui IPM.

3. Tatas Firmansyah

Penelitian yang berjudul “Analisis Tingkat Kemandirian Daerah Sebelum dan Sesudah diberlakukannya Otonomi Daerah”, bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kemandirian daerah periode sebelum dan sesudah otonomi daerah. Variabel yang digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian adalah tingkatkemampuan pembiayaan diukur dengan rasio antara Penerimaan Asli Daerah (PAD) terhadap Pengeluaran Rutin (PR), tingkat ketergantungan diukur dengan rasio antara Bantuan/subsidi terhadap Total Penerimaan Daerah (TPD), dantingkat desentralisasi fiskal diukur dengan rasio antara PAD terhadap TPD. Data yang digunakan adalah data tiga tahun periode sebelum otonomidaerah yaitu tahun 1998, 1999, 2000 dan tiga tahun setelah otonomi daerah yaitu tahun 2001, 2002, 2003. Alat analisis yang digunakan adalah uji Paired Sample t-test.

(44)

4. Putri Sion H. M. Daely

Penelitian dilakukan dengan melakukan metode penelitian deskriptif analisis, dan yang menjadi populasinya adalah seluruh daerah kecamatan (area sampel) yang terdiri atas 8 kecamatan dan seluruh penduduk yang ada di Kabupaten Nias Selatan yang terdiri dari 271.026 jiwa. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara cluster random sampling dengan melihat kriteria tingkat kesejahteraannya. Oleh kerena keterbatasa waktu dan biaya, maka area sampel penelitian dilakukan dengan cara mengambil 3 kecamatan saja dari 8 kecamatan yang ada yakni Kecamatan Teluk Dalam, Kecamatan Amandraya, Kecamatan Lolowau. Dengan rumus didapat besar sampel ketiga desa terebut yakni 100 orang. Data yang telah terkumpul (dari hasil kuisioner) kemudian dianalisi secara kuantitatif dan kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak pemekaran daerah di Kabupaten Nias Selatan berpengaruh positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat yang dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia.

5. Muhammad Ilham Irawan

Penelitian Muhammad Ilham Irawan yang berjudul “ Analisis faktor-faktor yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia” bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi dalam hal ini PDB, Anggaran Pengeluaran Peemerintah, Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia.

(45)

18 tahun dari periode 1990-2007. Data yang ada diproses dengan mengunakan program komputer Eviews 5.1.

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah-langkah sistematik atau prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipitesis penelitian. Adapun metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Kota Binjai pada Kecamatan Binjai Kota, Binjai Utara dan Binjai Timur. Daerah-daerah ini dianggap dapat mewakili dari 5 (lima) Kecamatan yang ada di Kota Binjai dengan alasan Kecamatan Binjai Kota mewakili kecamatan yang tingkat kesejahteraannya tinggi, Kecamatan Binjai Utara mewakili kecamatan yang tingkat kesejahteraannya menengah, dan Kecamatan Binjai Timur mewakili kecamatan yang tingkat keejahteraannya rendah.

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

(47)

3.3 Jenis dan Sumber Data

1. Data Primer

Data Primer dalam penelitian ini adalah observasi yang diperoleh langsung dari masyarakat Kota Binjai dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner yang telah di persiapkan.

2. Data Skunder

Data skunder dalah data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), buku literatur, internet serta bacaan lain yang berhubungan dengan penelitian dan berbagai sumber yang berhubungan dengan penelitian yang digunakan hanya sebagai data penunjang.

3.4 Populasi dan Sampel

(48)

Tabel 3.1

Rincian Sampel

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai 2009

Dimana dalam menentukan ukuran sampel populasi, penulis menggunakan rumus Slovin yaitu sebagai berikut :

n = N

1+Ne²

n= ukuran sampel

N= ukuran populasi

E= nilai kritis (Batas kesalahan) yang diinginkan

Dengan perhitungan sebagai berikut :

n = 163.909

1+(163.909) (10%)²

= 99,93

Nama Wilayah Populasi Sampel

Binjai Kota 37.700 20

Binjai Utara 72.417 56

Binjai Timur 53.792 24

(49)

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu:

1. Observasi

Observasi adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti, dalam hal ini adalah masyarakat yang ada di Kota Binjai.

2. Kuisioner

Kuisioner adalah salah satu teknik pengumpulan data dengan cara menyebar angket (daftar pertanyaan) kepada responden yang dijadikan sample penelitian. Dalam hal ini, yang menjadi responden adalah masyarakat yang mewakili di Kota Binjai. Adapun karakteristik dalam kuesioner adalah indikator IPM tersebut. Bentuk kuesioner berupa 5 tipe pilihan jawaban yaitu: sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang dengan metode dari Likert. Penelitian bergerak dari 5 sampai 1.

3. Studi Kepustakaan

Teknik studi kepustakaan adalah mengumpulkan data dan informasi melalui telaahan berbagai literature yang relevan atau berhubungan dengan permasalahan yang ada dalam penulisan skripsi ini, dapat diperoleh dari buku-buku, internet, dan sebagainya.

3.6 Metode Analisis Data

(50)

X1 - X2

σ(X1- X2 )

Dengan mengasumsikan nilai perbedaan dua sampel berdistribusi normal, maka uji statistik untuk sampel (n) lebih besar dari 30 digunakan distribusi z.

Rumus untuk mencari z hitung (z*) :

z-hitung =

Keterangan:

X1 = Mean X1 (data setelah otonomi daerah)

X2 = Mean X2 (data sebelum otonomi daerah)

(51)

0

Gambar 3.1

Kurva Uji z-statistik

Ho ditolak Ho ditolak

Kriteria pengambilan keputusan :

1. Ho : β = 0 Ho diterima (z٭<z-tabel) artinya tidak terdapat perbedaan nyata pada tingkat kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah otonomi daerah.

2. Ha : β≠ 0 Ho ditolak (z٭>z-tabel) artinya terdapat perbedaan nyata pada tingkat kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah otonomi daerah.

Tabel 3.2

(52)

Tabel 3.2

Variabel Penelitian

Nomor Indeks Definisi Indikator Pengukuran

1 Kesehatan Keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

2 Pendidikan Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dalam kurun waktu tertentu.

(53)

3.7 Devinisi Variabel Operasional Penelitian

1. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan.

2. Daerah Otonom selanjutnya disebut daerah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu, yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyatakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam Negara Kesatuan Repoblik Indonesia.

(54)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kota Binjai

4.1.1 Kondisi Geografis

Binjai adalah salah satu kota dalam wilayah propinsi Sumatera Utara yang terletak 22 km disebelah Barat ibukota propinsi Sumatera Utara. Sebelum berstatus kotamadya Binjai adalah ibukota Kabupaten Langkat yang kemudian di pindahkan ke Stabat. Saat ini, Binjai dan Medan dihubungkan oleh Jalan Raya Lintas Sumatera yang dihubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Oleh karena itu, Binjai terletak di daerah yang strategis yang merupakan pintu gerbang Kota Medan ditinjau dari propinsi Aceh.

Secara geografis wilayah Kota Binjai berada antara 3° 31’ 40” - 3° 40’ 2” Lintang Utara dan 98° 27’ 3” – 98° 32’ 32” Bujur Timur, dengan luas wilayah 90.23 km². Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut, dengan batas-batas sebagai berikut :

1. Batas Utara : Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat dan Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang

2. Batas Selatan : Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat dan Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang

3. Batas Timur : Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang 4. Batas Barat : Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat

(55)

10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.

Ada 2 sungai yang membelah Kota Binjai yaitu Sungai Bingai dan Mencirim yang menyuplai kebutuhan sumber air bersih bagi PDAM Tirta Sari Binjai untuk kemudian disalurkan untuk kebutuhan penduduk kota. Namun di pinggiran kota, masih banyak penduduk yang menggantungkan kebutuhan air mereka kepada air sumur yang memang masih layak dikonsumsi.

4.1.2 Administratif

Posisi Kota Binjai cukup strategis untuk menjadikannya berkembang pesat sebagai kota perdagangan karena terletak di jalur lintas Sumatera. Jalur ini menghubungkan kota Binjai dengan kota atau kabupaten di Sumtera Utara, seperti Kota Medan, Kabupaten Langkat, dan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Tabel 4.1

Penduduk Kota Binjai , Luas Daerah, Banyaknya Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk 2008

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai, 2009

Kota Binjai terdiri dari 5 (lima) kecamatan yaitu Kecamatan Binjai Selatan, Binjai Kota, Binjai Timur, Binjai Utara, dan Binjai Barat dengan 37 kelurahan dan jumlah penduduk keseluruhan Tahun 2008 berjumlah 252.652 jiwa. Kecamatan dengan luas

(56)

wilayah terbesar yaitu Kecamatan Binjai Selatan (29.96 km²) sedangkan kecamatan dengan luasnya terkecil yaitu Kecamatan Binjai Kota (4.12 km²). Selain dikenal sebagai kota dagang, Binjai juga dikenal sebagai kota penghasil rambutan. Luas areal perkebunan rambutan di Kota Binjai saat ini mencapai 425 Ha dengan jumlah produksi sekitar 2.400 ton per tahun. Selain sebagai buah segar, buah rambutan juga diolah menjadi selai atau buah kaleng.

Tabel 4.2

Banyaknya Kelurahan dan Lingkungan Menurut Kecamatan di Kota Binjai 2008

No Kecamatan Kelurahan Lingkungan

1 Binjai Selatan 8 62

2 Binjai Kota 7 51

3 Binjai Timur 7 65

4 Binjai Utara 9 64

5 Bnjai Barat 6 42

Jumlah 37 284

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai, 2009

(57)

Tabel 4.3

Penduduk Berumur >15 Tahun yang Bekerja Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin di Kota Binjai Tahun 2008

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai, 2009

4.1.3 Sejarah Kota Binjai

Masih sangat sedikit sekali terungkapkan mengenai asal usul kota Binjai di masa silam, yang disebut sebagai sebuah kota yang terletak diantara Sungai Mencirim di sebelah timur dan Sungai Bingai di sebelah barat, terletak di antara dua kerajaan Melayu yaitu Kesultanan Deli dan Kerajaan Langkat.

Berdasarkan penuturan orang-orang tua yang yang kini sudah tiada yang diperkirakan mengetahui sejarah asal usul kota Binjai, baik yang dikisahkan atau yang diriwayatkan dalam berbagai tulisan yang pernah dijumpai, bahwa kota Binjai itu berasal dari sebuah kampung yang kecil terletak di pinggir Sungai Bingai, kira-kira di Kelurahan

No Lapangan Usaha Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Angkatan Kerja 2. Bukan Angkatan Kerja

(58)

Pekan Binjai yang sekarang. Upacara adat dalam rangka pembukaan Kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon Binjai yang rindang yang batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai Wampu, sungai yang cukup besar dan dapat dilayari sampan-sampan besar .

Di sekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama-kelamaan menjadi besar dan luas yang akhirnya berkembang menjadi bandar atau pelabuhan yang ramai didatangi oleh tongkang-tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Selat Malaka.

Kemudian nama pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama kota Binjai. Konon pohon Binjai ini adalah sebangsa pohon embacang dan istilahnya berasal dari bahasa Karo.

4.1.4 Kondisi Demografi

Kota Binjai merupakan kota multi etnis, dihuni oleh suku Jawa, suku Batak Karo, suku Tionghoa dan suku Melayu. Kemajemukan etnis ini menjadikan Binjai kaya akan kebudayaan yang beragam. Jumlah penduduk kota Binjai tahun 2008 adalah 252.652 jiwa dengan kepadatan penduduk 2.800 jiwa/km persegi. Tenaga kerja produktif sekitar 160.000 jiwa. Banyak juga penduduk Binjai yang bekerja di Medan karena transportasi dan jarak yang relatif dekat.

Agama di Binjai terutama:

 Islam - dipeluk mayoritas suku Jawa dan Melayu, mesjid terbesar berlokasi di Jalan Kapten Machmud Ismail.

(59)

 Buddha - dipeluk mayoritas suku Tionghoa yang berdomisili di Binjai Kota dan Binjai Barat.

 Hindu - ada 1 pura di Binjai berlokasi di Jalan Ahmad Yani, agama Hindu dipeluk terutama oleh etnis India.

Tabel 4.4

Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Binjai 1993-2008

Tahun Laki-Laki Perempuan Jumlah

1993 90718 92180 182898

1994 92101 92992 185093

1995 99357 100169 199526

1996 101194 102023 203217

1997 102653 103497 206150

1998 104264 105211 209475

1999 105919 106886 212805

2000 106953 106234 213187

2001 107985 107538 215523

2002 110459 108686 219145

2003 111967 111484 223451

2004 116366 115870 232236

2005 119205 118699 237904

2006 122241 122015 244256

2007 123706 124550 248256

2008 125365 127287 252652

(60)

4.1.5 Perekonomian

Daerah komersial dan pusat perekonomian serta pusat pemerintahan terutama berpusat di wilayah Kecamatan Binjai Kota. Kawasan perindustrian dipusatkan di daerah Binjai Utara, sedangkan di sebelah timur dan selatan adalah daerah konsentrasi pertanian. Daerah pengembangan peternakan dipusatkan di kawasan Binjai Barat. Kawasan Industri Binjai di Kecamatan Binjai Utara direncanakan di Kelurahan Cengkeh Turi dengan luas wilayah 300 ha. Binjai juga adalah penghasil minyak bumi dan gas ditandai dengan kawasan eksplorasi minyak bumi dan gas alam di kawasan Tandam Hilir, Kecamatan Binjai Utara.

Data tahun 2008 menunjukkan bahwa 29% dari total kegiatan perekonomian di Kotamadya Binjai bersumber dari sektor perdagangan dan jasa. Sedangkan sektor industri menyumbang nilai 23% dari total kegiatan perekonomian tadi. Pendapatan per kapita penduduk Binjai adalah sebesar Rp. 3.3 juta, Namun angka ini masih berada di bawah rata-rata pendapatan per kapita propinsi Sumatra Utara yang besarnya Rp. 4.9 juta.

Secara umum ada empat sektor yang cukup dominan dalam pembentukan total PDRB Kota Binjai yaitu Sektor Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Keuangan,Persewaan dan Jasa Perusahaan dan Sektor Jasa – jasa

(61)

Pusat perbelanjaan tradisional di Binjai melayani penjual dan pembeli dari Binjai sendiri dan Kabupaten Langkat. Pasar tradisional misalnya:

 Pusat Pasar Tavip - merupakan pasar tradisional terbesar di Binjai, lokasi di Binjai Kota.

 Pasar Kebun Lada - berlokasi di Binjai Utara  Pasar Brahrang - berlokasi di Binjai Barat  Pasar Rambung - berlokasi di Binjai Selatan  Pasar Trengganu - berlokasi di Binjai Timur

Selain itu juga ada pusat perbelanjaan modern seperti:

 Binjai Supermall

 Pusat perbelanjaan Suzuya  Mini Market Tahiti

 Toserba Binjai Ramayana  Mall Ramayana

(62)

4.1.6 Kondidi Sosial Kota Binjai

* Kesehatan

Peningkatan kualitas hidup penduduk merupakan salah satu aspek dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kualitas secara fisik dapat dilihat dari derajat kesehatan masyarakat, pemerintah telah menyediakan fasilitas kesehatan. Dalam tabel berikut disajikan fasilitas pendukung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kota Binjai.

Tabel 4.5

Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kota Binjai Tahun 2008 Jenis Fasilitas Binjai

Selatan

Sumber : BPS, diolah dari Dinas Kesehatan Kota Binjai 2009

(63)

* Pendidikan

Pengembangan sektor pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan merupakan aset utama yang sangat stratagis dalam menggerakkan laju pembangunan.

Keberhasilan sektor pendidikan salah satunya dapat dilihat dari indicator meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah. Peningkatan angka partisipasi sekolah haruslah didukung oleh penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dari segi kualitas dan kuantitasnya.

Tabel 4.6

Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kota Binjai Tahun 2008

No. Kecamatan

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bionjai, 2009

(64)

Tabel 4.7

Jumlah Dokter Ahli, Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan, Perawat,dan Perawat gigi di

Kota Binjai Tahun 2008

Jenis Fasilitas Binjai Selatan

Binjai Kota

Binjai Timur

Binjai Utara

Binjai Barat

Jumlah

Dokter Umun 57 63 22 34 17 193

Dokter gigi 11 18 10 11 8 58

Analis - - -

Bidan 26 31 19 19 14 109

Perawat Umum 12 40 8 8 5 73

Perawat gigi - - - -

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai 2009

(65)

* Ketersediaan Air Bersih

Tabel 4.8

Penggunaan Sumber Air Minum per Kecamatan di Kota Binjai Tahun 2008

Sumber: BPS Kota Binjai, diolah dari PDAM Tirta Sari Kota Binjai, 2009

Dari data tersebut di atas bisa diketahui bahwa sebagian besar penduduk Kota Binjai menggunakan sumber gali sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan air mereka yaitu sejumlah 34.254 unit.

Tabel 4.9

Banyaknya Air minum yang disalurkan menurut jenis pelanggan di Kota Binjai Tahun 2008

Jenis Pelanggan Jumlah Pelanggan

Air Minum yang disalurkan Banyaknya (m³) Nilai 1. Rumah tempat tinggal 107302 1765675 4109702

2. Industri 479 1970 34724

3. Badan sosial/Rumah Sakit/Tempat Ibadah

1747 78785 68990

4. Sarana umum 276 6848 5695

5. Perusahaan perdagangan 12989 340882 1629957

6. Industri Pemerintah 5255 492535 1040839

7. Lain-lain 60 42000 104454

8. Susut/Hilang dalam penyaluran

- 999550 2485881

Jumlah 128108 3730046 9480242

Sumber: Badan Pusat Statistik 2009 4.1.7 Potensi Wilayah

No. Kecamatan Sumber Air

Leding Sumur Gali Sumur bor Lainnya

(66)

Pertanian

Data luas dan produksi tanaman bahan makanan di Kota Binjai pada tahun 2008 bersumber dari Dinas Pertanian Kota Binjai yang terdiri dari tanaman padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan kacang kedelai.Untuk tanaman padi, luas panen pada tahun 2007 sebesar 5132 Ha dengan produksi sebesar 30.792 ton. Hal ini menunjukkan penurunan hasil produksi dan luas penen pada tahun 2008 yaitu sebesar 23,881 ton,dengan demikian hasil produksi mengalami penurunan yang disebabkan kelangkaan pupuk. Namun untuk tanaman jagung mengalami peningkatan produksi dari tahun sebelumnya 5276 ton menjadi 5304 ton.

Peternakan

Perkembanbangan populasi ternak besar di Kota Binjai yang tercatat di Kantor Pertanian yang terbanyak adalah kambing/domba sejumlah 9.559 ekor, sapi/lembu sebanyak 3.068 ekor, Kerbau mempunyai populasi paling sedikit yaitu sejumlah 120 ekor.

(67)

Perindustrian

Tabel 4.10

Produksi unggulan Kota Binjai

Jenis Usaha Jumlah

Industri Anyam Bambu 24 usaha

Industri Konveksi 36 usaha

Industri Kerupuk 16 usaha

Industri Meubel bamboo 1 usaha IndustriBarang-barang Tekstil 2 usaha Industri Jam/ selai buah-buah 1 usaha Industri Tepung/ Terasi 4 usaha Industri Sepatu/ Selop 2 usaha

Industri Tahu/ Tempe 18 usaha

Industri Kecap 1 usaha

Sumber: Badan Pusat Statistik kota Binjai, 2009 Industri Rumah Tangga

(68)

4.2 Karakteristik Responden

Kota Binjai yang melakukan otonomi daerah tahun 2001 terus berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerahnya. Disini penulis akan membuat karakteristik responden berdasarkan data yang diperoleh dari kuisioner yang telah disebarkan guna melihat peningkatan kesejahteraan yang terjadi pada masyarakat setempat.

Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa responden yang terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan sebanyak 53 responden dan laki-laki sebanyak 47 responden.

Dari jumlah responden yang diambil secara acak sebanyak 100 responden, memiliki tingkat umur >40 tahun sebanyak 26 responden (26%), berumur 31-40 tahun sebanyak 15 responden ( 15%), berumur 20-30 tahun sebanyak 55 responden (55%), sedangkan yang berumur <20 tahun hanya 4 responden (4%).

Dalam hal pekerjaan responden terdiri dari 30 responden (30%) yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, sebagai Wiraswasta sebanyak 33 orang (33%), sebagai ibu rumah tangga sebanyak 13 orang (13 %) serta sebagai pelajar sebanyak 24 orang (24%).

Dengan karakteristik jenjang pendidikan berbeda-beda, antara lain Sekolah Menengah Pertama sebanyak 18 responden (18%), Sekolah Menengah Atas sebanyak 42 responden (42%), Sarjana Diploma sebanyak 12 responden (12%) dan S1/S2 sebanyak 28 responden (28%).

Tanggungan keluarga adalah jumlah tanggungan kepala keluarga yang terdiri dari istri, anak serta famili yang tinggal dalam satu rumah. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggungan keluarga terdiri dari 1-3 orang adalah sebanyak 31 responden (31%), 4-6 orang tanggungan sebanyak 20 responden (20%) dan yang belum memiliki tanggungan sebanyak 49 responden (49%).

(69)

jumlah sarana kesehatan, angka kematian bayi serta jumlah penduduk yang menderita sakit berdampak positif. Berdasarkan Skala Likert yang dilakukan tingkat kesehatan mengalami peningkatan setelah adanya otonomi daerah.

(70)

Tabel 4.11

Karakteristik Responden dalam Penelitian

“Dampak Otonomi Daerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kota Binjai”

No. Karakteristik Jumlah Responden

(Orang)

2. Jumlah Tanggungan a. Tidak ada

a. Pegawai Negeri Sipil b. Wiraswasta

c. Ibu Rumah Tangga d. Pelajar

(71)

4.3 Analisis dan Pembahasan

4.3.1 Indikator Kesejahteraan Masyarakat

Indikator dari Kesejahteraan Masyarakat dapat dilihat melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan menganalisis perkembangan masing-masing komponen dari Indeks Pembangunan Manusia.

Semakin tinggi Indeks Pembangunan Manusia di suatu daerah maka semakin baik tingkat kesejahteraan masyarakat dan semakin rendah indeks pembangunan manusia di suatu daerah maka semakin rendah tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Dimana Indeks Pembangunan Manusia dapat dilihat melalui indicator-indikator berikut ini:

Kesehatan

(72)

Pendidikan

Pendidikan sebagai salah satu ukuran tingkat kesejahteraan penduduk dewasa ini sudah menjadi kebutuhan pokok yang perlu dipacu peningkatanya. Pada tahap tertentu tingkat pendidikan dapat menigkatkan status sosial dalam kehidupan penduduk. Keadaan pendidikan penduduk secara umu dapat diketahui dari beberapa indicator seperti angka partisipasi sekolah tingkat pendidikan yang ditamatkan dan angka melek huruf.

Upaya pembangunan dan pengembangan pada umumnya lebih diarahkan pada usaha memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk menyediakan sarana wajib belajar 6 tahun yang dimulai tahun 1984 menjadi wajib belajar 9 tahun yang dimulai pada tahun 1994. Diharapkan tingkat pendidikan penduduk akan lebih baik dan jumlah penduduk yang buta huruf akan berkurang terutama pada penduduk usia sekolah (7-24 tahun).

Angka melek huruf di kota Binjai pada tahun 2008 sebesar 99.17 % artinya hampir seluruh masyarakat kota Binjai yang berumur 15 tahun ke atas bebas dari buta huruf. Salah satu faktor selain masih kurangnya pembangunan di bidang pendidikan adalah penduduk lanjut usia yang lahir disaat pembangunan belum sebaik sekarang ini.

Pengeluaran perkapita

(73)

tangga dibedakan atas pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan. Semakin tinggi pendapatan, maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran untuk makanan ke pengeluaran bukan makanan. Pergeseran pola pengeluaran terjadi karena elastisitas permintaan terhadap barang bukan makanan pada umumnya tinggi. Keadaan ini jelas terlihat pada kelompok penduduk yang tingkat konsumsi makanannya sudah mencapai titik jenuh, sehingga peningkatan pendapatan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan barang bukan makanan akan ditabung. Dengan demikian, pola pengeluaran dapat dipakai sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk dan perubahan komposisinya sebagai petunjuk perubahan tingkat kesejahteraan.

Pengeluaran rata-rata perkapita Kota Binjai selama tahun 2008 ditinjau dari proporsi untuk makanan dan bukan makanan, persentase pengeluaran untuk makanan masih lebih besar daripada pengeluaran bukan makanan, yang berarti pula tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah ini masih belum merata.

(74)

4.3.2 Hasil Analisis Data

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis dengan jumlah responden yang terbanyak berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 53 responden (53%) dan laki-laki sebanyak 47 responden (47%).

Dalam hal ini jenjang pendidikan yang berbeda juga sesuai karakteristik pekerjaannya, pekerjaan responden bervariasi mulai dari siswa, ibu rumah tangga, pedagang, mahasiswa, pegawai negeri sipil serta pekerjaan lainnya.

Dari hasil kuisioner yang telah disebar, dilakukan perhitungan melalui skala likert yaitu dengan memberikan skor 1-5 dari jawaban responden. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa tingkat kesejahteraan melalui indiKator-indikator pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran perkapita masyarakat mengalami peningkatan setelah adanya otonomi daerah. Analisis

(75)

Hasil Analisis

1. Indikator Kesehatan

a. Hipotesis Ho: β = 0 Ha : β≠ 0 b. Uji Statistik

z hitung = 9.56 z tabel = 1.96

c. Kriteria pengambilan keputusan

Ho diterima apabila z hitung < z tabel ( alpa 5% ) Ho ditolak apabila z hitung > z tabel) ( 9.56 > 1.96)

(76)

2. Indikator Pendidikan

a. Hipotesis Ho: β = 0 Ha : β≠ 0 b. Uji Statistik

z hitung = 4.9 z tabel = 1.96

c. Kriteria pengambilan keputusan

Ho diterima apabila z hitung < z tabel ( alpa 5% ) Ho ditolak apabila z hitung > z tabel ( 4.9 > 1.96 )

(77)

3. Indikator Pengeluaran perkapita

a. Hipotesis Ho: β = 0 Ha : β≠ 0 b. Uji Statistik

Z hitung = 11.51 Z tabel = 1.96

c. Kriteria pengambilan keputusan

Ho diterima apabila Z hitung < Z tabel ( alpa 5% ) Ho ditolak apabila Z hitung > Z tabel ( 11.51 > 1.96 )

Gambar

Tabel 2.1
Tabel 3.1
Tabel 3.2 Variabel Penelitian
Tabel 4.1 Penduduk Kota Binjai , Luas Daerah, Banyaknya Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peluang hidup dihitung berdasarkan angka harapan hidup ketika lahir; pengetahuan diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf penduduk berusia 15 tahun ke atas;

Dari hasil regresi pengaruh pendapatan daerah dan Kinerja Keuangan terhadap Kesejahteraan Masyarakat yang diukur dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) adalah

Jumlah Penerima Dana Bantuan Sosial Dari Program Keluarga Harapan ( PKH ) Tahap III Tahun 2015 Per Kecamatan. No Kecamatan Jumlah ART Komponen PKH Tahap III Jumlah KSM Bumil

Indeks komposit yang disusun dari tiga indikator: lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir; pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama

Sebagai informasi, IPM metode lama menggunakan pendekatan indikator Angka Harapan Hidup saat lahir (AHH) sebagai indikator aspek kesehatan; Angka Melek Huruf

Indeks komposit yang disusun dari tiga indikator: lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir; pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama

Dari hasil regresi pengaruh pendapatan daerah dan Kinerja Keuangan terhadap Kesejahteraan Masyarakat yang diukur dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) adalah

IPM dihitung berdasarkan data yang dapat menggambarkan keempat komponen, yaitu angka harapan hidup yang mengukur keberhasilan dalam bidang kesehatan, angka melek