• Tidak ada hasil yang ditemukan

Katalog BPS :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Katalog BPS :"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

Katalog BPS : 4102002.3523

(2)

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TUBAN

TAHUN 2011

BADAN PUSAT STATISTIK

(3)

KABUPATEN TUBAN 2011

No. Publikasi : 35230.0310 Katalog BPS : 4102002.3523 Ukuran Buku : 21 cm x 29,6 cm Jumlah Halaman : 40 halaman + iv

Naskah :

Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Tuban

Gambar Kulit :

Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Tuban

Diterbitkan Oleh :

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tuban

Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya

(4)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya buku “Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Tuban Tahun 2011” dapat dipublikasikan.

Indeks Pembangunan manusia (IPM) merupakan alat ukur kinerja pembangunan, khususnya pembangunan manusia yang dilakukan di suatu wilayah pada waktu tertentu atau secara lebih spesifik IPM merupakan alat ukur kinerja mengenai pembangunan manusia dari pemerintahan suatu wilayah.

Sebagai alat ukur, IPM memfokuskan pada tiga dimensi yang dianggap esensial bagi kehidupan manusia, yaitu usia hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent living standard).

Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan dalam kesempurnaan penerbitan publikasi ini. Ucapan terima kasih ditujukan kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan publikasi ini, terutama kepada BPS Propinsi Jawa Timur serta kontributor data sekunder dari Instansi Pemerintah. Semoga publikasi ini bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tuban, Oktober 2012 Kepala BPS Kabupaten Tuban

ABDUL JAMIL, S.E, M.Si NIP.19610102 198203 1 001

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………...…....

DAFTAR ISI ………...………...

DAFTAR TABEL... ………...……...

DAFTAR GRAFIK ...

I. PENDAHULUAN ...………...………...

II. METODOLOGI ……..………..…….

2.1 Metode Penghitungan ………...

2.2 Indikator Komposit Pembangunan Manusia ….………...

2.3 Metode Analisis …...………..…...

2.4 Sumber Data ……...………...

III. GAMBARAN UMUM WILAYAH ………..…..……….….

3.1. Kondisi Geografis ……...………...

3.2. Kependudukan...

3.3. Pendidikan ...………....

3.3.1. Partisipasi Sekolah ...

3.3.2. Angka Melek Huruf ...

3.3.3. Rata-rata Lama Sekolah ...

3.3.4. Tingkat Pendidikan Ditamatkan ...

3.3.5. Fasilitas Pendidikan ...

3.4. Kesehatan ...

3.4.1. Penolong Kesehatan Balita ...

3.4.2. Angka Kematian Bayi ...

3.4.3. Angka Harapan Hidup ...

3.4.4. Fasilitas Kesehatan ... ...

3.4.5. Tingkat Akses ke Fasilitas Kesehatan...

3.5. Ketenagakerjaan...

3.5.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)...

3.5.2. Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) ...

3.5.3. Angka Pengangguran ...

3.6. Potensi Ekonomi Daerah ...

3.6.1. Struktur Ekonomi ...

3.6.2. Pendapatan Perkapita ...

ii iii iv v 1 5 6 14 15 15 16 17 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 26 27 27 28 28 29 30 30 30 31

(6)

IV. HASIL PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN TUBAN………..

4.1. IPM Kabupaten Tuban ...

4.1.1. Indeks Harapan Hidup ...

4.1.2. Indeks Pendidikan ...

4.1.3. Paritas Daya Beli ...

4.2. IPM Antar Wilayah ...

V. KESIMPULAN DAN SARAN …………...……….………..

LAMPIRAN ...

34 34 36 36 38 39 42 46

(7)
(8)

erubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi atau yang lebih populer dengan nama otonomi daerah, telah memotivasi daerah- daerah tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota untuk lebih mempersiapkan diri, utamanya mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Dalam rangka mempersiapkan SDM yang handal, Pemerintah Kabupaten Tuban telah mengambil berbagai langkah strategis agar tidak tertinggal dengan daerah lain.

Berbagai program yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Tuban memerlukan pantauan untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai terutama dalam hal pembangunan sumber daya manusia, juga agar setiap perencanaan dan kebijakan pembangunan yang diambil dapat lebih tepat sasaran.

Bidang kehidupan pembangunan manusia yang perlu dipantau mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan individu yaitu hal kelangsungan hidup (kesehatan, KB), tumbuh kembangnya individu (pendidikan, gizi), dan kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar (daya beli). Dengan demikian diperlukan suatu alat ukur yang biasa disebut indikator sosial, yang dapat memberikan gambaran menyeluruh (indikator komposit) mengenai pembangunan manusia tersebut. Berbagai indikator komposit telah diperkenalkan oleh UNDP seperti Human Development Index-HDI (Indeks Pembangunan Manusia-IPM), Human Poverty Index-HPI (Indeks Kemiskinan Manusia-IKM), Gender-related Development Index-GDI (Indeks Pembangunan Jender-IPJ) dan lain sebagainya. Dari berbagai indikator komposit tersebut IPM merupakan indikator utama karena memberikan gambaran paling menyeluruh tentang pembangunan manusia.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi bahan diskusi yang menarik dan menjadi perhatian banyak pihak sejak diterbitkan dan

(9)

dipublikasikan oleh BPS dan UNDP pada tahun 1997. Sebagai alat ukur yang tunggal dan sederhana, IPM sangat cocok sebagai alat ukur kinerja pembangunan, khususnya pembangunan manusia yang dilakukan di suatu wilayah pada waktu tertentu atau secara lebih spesifik IPM merupakan alat ukur kinerja dari pemerintahan suatu wilayah.

Istilah pembangunan manusia (human development) pada skala internasional diperkenalkan pertama kali oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 melalui laporan tahunan pembangunan dunia yang diterbitkan oleh lembaga internasional tersebut dalam publikasi yang berjudul “Human Development Report”. UNDP (United Nations Development Programme) menformulasikan bahwa pembangunan manusia adalah usaha peningkatan produktifitas dan pemberdayaan penduduk secara merata dan berkesinambungan melalui investasi di bidang pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial lainnya, penciptaan peluang kerja melalui pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan memberikan peluang luas pada penduduk untuk berpartispasi dalam proses penetapan kebijakan-kebijakan pembangunan. Jadi konsep pembangunan manusia yang dilontarkan oleh UNDP tersebut merefleksikan keinginan bahwa pembangunan tidak boleh lagi menempatkan penduduk lainnya sebagai obyek tetapi juga harus menempatkan penduduk sebagai subyek pembangunan.

UNDP merekomendesakan tingkat keberhasilan pembangunan suatu negara secara minimal dapat direfleksikan dengan tingkat pemenuhan tiga unsur, yaitu : peluang berumur panjang dan sehat, pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dan peluang untuk merealisasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kegiatan yang produktif. Oleh karena itu, UNDP menyusun suatu indeks komposit berdasarkan pada 3 (tiga) kriteria Yaitu : 1) Angka Harapan hidup (life expectancy at age 0: e0) untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat, 2) Angka melek huruf dewasa (adult literacy rate : Lit) dan rata-rata Lama Sekolah (mean years of schooling: MYS) untuk mengukur tingkat pendidikan sekaligus ketrampilan, dan 3) Purchasing Power Parity (merupakan ukuran pendapatan

(10)

yang sudah disesuaikan dengan paritas daya beli) untuk mengukur tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. Indeks komposit tersebut diberi nama dengan Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Berbeda dengan Indikator-indikator lainnya yang hanya mengukur sisi sosial atau ekonominya saja, IPM mengukur dari sisi sosial dan ekonomi.

(11)
(12)

ndeks Pembangunan Manusia merupakan suatu konsep pengukuran status pembangunan manusia. Konsep pembangunan manusia itu sendiri sebenarnya mencakup banyak dimensi sehingga idealnya pengukurannya menggunakan banyak variabel atau indikator untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh. Akan tetapi di sisi lain, terlalu banyak indikator tidak saja akan membingungkan para pengambil kebijakan dalam menginterpretasikan hasil penghitungannya tetapi juga akan menyulitkan sehubungan dengan masalah ketersediaan data. Atas dasar pertimbangan itu maka pengukuran pembangunan manusia difokuskan pada tiga dimensi yang dianggap esensial bagi kehidupan manusia yaitu usia hidup (longevity), pengetahuan (knowledge) dan standar hidup layak (decent living standards).

2.1. Metode Penghitungan

Secara umum, metode penghitungan yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti metode yang telah diterapkan oleh UNDP dalam menyusun Human Development Index (HDI) tahun 1994, yang juga telah diterapkan oleh BPS.

Untuk mengukur usia hidup BPS menggunakan indikator angka harapan hidup waktu lahir atau life expectancy at age 0 (eo). Untuk mengukur dimensi pengetahuan, digunakan dua indikator yaitu Angka Melek Huruf adult literacy rate (Lit) dan rata-rata lama sekolah (MYS : Mean Years of Schooling) yang digabung menjadi Indeks Pendidikan (IP). Untuk mengukur dimensi standar hidup layak digunakan Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas (kemampuan) daya beli yang telah disesuaikan.

Masing-masing komponen tersebut terlebih dahulu dihitung indeksnya sehingga bernilai antara 0 (terburuk) dan 1 (terbaik) untuk memudahkan dalam analisa biasanya indeks ini dikalikan 100. Teknik penyusunan indeks tersebut pada dasarnya mengikuti rumus sebagai berikut :

(13)

IPM = I dimana I X Min X Max (X Min (X

1

3 i

i=1 3

i

i i

i i

) )

Dimana Ii : Indeks komponen IPM ke i dimana i =1,2,3 Xi : Nilai indikator komponen IPM ke i

Max.(Xi) : Nilai maksimum Xi (lihat tabel di bawah) Min.(Xi) : Nilai minimum Xi (lihat tabel di bawah)

Nilai maksimum dan minimum yang digunakan dalam penghitungan IPM menurut UNDP, sebagai berikut :

Tabel 2.1.1. Nilai Maksimum dan Minimum Indikator Komponen IPM

Indikator Komponen IPM Nilai Minimum Nilai Maksimum Angka Harapan Hidup (eo)

Angka Melek Huruf (Lit) Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Purchasing Power Parity

25,0 0 0 990.152

85,0 100 15 1.372.872

Sedangkan untuk penghitungan masing-masing komponen adalah sebagai berikut :

a. Angka Harapan Hidup

Angka ini menunjukkan jumlah tahun yang diharapkan dapat dinikmati penduduk suatu wilayah. Dengan memasukkan informasi mengenai angka kelahiran dan kematian per tahun variabel e0 diharapkan akan mencerminkan rata-rata “lama hidup” sekaligus hidup sehat masyarakat. Sebenarnya dalam hal ini angka morbiditas (kesakitan) lebih valid akan tetapi karena keterbatasan data, maka yang digunakan adalah angka harapan hidup.

Sehubungan dengan sulitnya mendapatkan informasi orang yang meninggal pada kurun waktu tertentu, maka untuk menghitung angka harapan hidup digunakan metode tidak langsung (metode Brass, varian Trussel). Data dasar yang dibutuhkan dalam metode ini adalah rata-rata anak lahir hidup dan

(14)

rata-rata anak masih hidup dari wanita pernah kawin pada kelompok umur 15-49 tahun. Secara singkat, proses penghitungan angka harapan hidup ini disediakan oleh program Mortpak.

b. Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah

Sebagaimana disebutkan di awal bab ini, penghitungan Indeks Pendidikan (IP) mencakup dua indikator yaitu angka melek huruf (Lit) dan rata- rata lama sekolah (MYS). Populasi yang digunakan UNDP dalam penghitungan MYS dibatasi pada penduduk berumur 25 tahun ke atas, dengan alasan penduduk yang berusia kurang dari 25 tahun masih dalam proses sekolah sehingga angkanya lebih mencerminkan pada kondisi yang sebenarnya. Namun populasi yang digunakan oleh BPS adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas karena pada kenyataannya penduduk usia tersebut sudah ada yang berhenti sekolah. Batasan ini diperlukan agar angkanya lebih mencerminkan kondisi sebenarnya mengingat penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun masih dalam proses sekolah atau akan sekolah sehingga belum pantas untuk ditanyakan rata-rata lama sekolahnya.

Kedua indikator pendidikan ini dimunculkan dengan harapan dapat mencerminkan tingkat pengetahuan (cerminan angka Lit), dimana Lit merupakan proporsi penduduk yang memiliki kemampuan baca tulis dalam suatu kelompok penduduk secara keseluruhan. Sedangkan cerminan angka MYS merupakan gambaran terhadap ketrampilan yang dimiliki penduduk.

MYS dihitung secara tidak langsung, pertama-tama dengan memberikan bobot atau skor pada variabel “Pendidikan yang Ditamatkan” sebagaimana disajikan pada tabel berikut ini :

(15)

Tabel 2.1.2. Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS)

Jenjang Pendidikan Skor

1. Tidak/Belum Pernah Sekolah 0

2. Belum Tamat SD 3

3. Tamat SD 6

4. Tamat SLTP 9

5. Tamat SLTA 12

6. Tamat DI 13

7. Tamat DII 14

8. Tamat DIII/Sarjana Muda/Akademi 15

9. Tamat DIV / Sarjana 16

10. Tamat S2 18

11. Tamat S3 21

Langkah selanjutnya adalah dengan menghitung rata-rata tertimbang dari variabel tersebut sesuai dengan bobotnya.

 fi x si MYS =

 fi

Dimana : MYS = rata-rata lama sekolah

fi = frekuensi penduduk berumur 10 tahun ke atas pada jenjang pendidikan i, i = 1,2, … , 11

Si = skor masing-masing jenjang pendidikan

Angka melek huruf, pengertiannya tidak berbeda dengan definisi yang telah dikenal masyarakat luas, yaitu kemampuan membaca dan menulis.

Sedangkan rata-rata lama sekolah, secara sederhana dapat diilustrasikan sebagai berikut: misal di Kabupaten Tuban ada 5 orang tamatan SD, 5 orang tamatan SMP, 5 orang tamatan SMA, 5 orang tidak sekolah sama sekali, maka rata-rata lama sekolah di Kabupaten Tuban adalah { 5 (6) + 5 (9) + 5 (12) + 5 (0) } : 20 = 6,25 tahun.

Setelah mendapatkan nilai Lit dan MYS, dilakukan penyesuaian sehingga kedua nilai ini berada pada skala yang sama yaitu antara 0 dan 1. Cara penyesuaian ini bisa dilihat pada halaman sebelumnya. Selanjutnya kedua nilai yang telah disesuaikan ini disatukan untuk mendapatkan indeks pendidikan

(16)

dengan perbandingan bobot 2 untuk Lit dan 1 untuk MYS. Dengan demikian untuk menghitung indeks pendidikan digunakan rumus :

IP = Indeks Lit + Indeks MYS23 13

c. Purchasing Power Parity (PPP atau Paritas Daya Beli)

Untuk mengukur dimensi standar hidup layak (umumnya daya beli) UNDP menggunakan indikator yang dikenal dengan real per kapita GDP adjusted BPS. Untuk penghitungan IPM sub nasional (provinsi atau kabupaten/kota) tidak memakai PDRB perkapita yang kurang lebih setara dengan ukuran yang digunakan UNDP. Alasannya karena PDRB perkapita hanya mengukur produksi suatu wilayah dan tidak mencerminkan daya beli riil masyarakat yang merupakan concern IPM. Untuk mengukur daya beli penduduk antar provinsi di Indonesia, BPS menggunakan data rata-rata konsumsi 27 komoditi terpilih dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dianggap paling dominan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan telah distandarkan agar bisa dibandingkan antar daerah dan antar waktu yang disesuaikan dengan indeks PPP dengan tahapan sebagai berikut :

1. Menghitung rata-rata pengeluaran konsumsi per kapita per tahun untuk 27 komoditi dari SUSENAS Kor yang telah disesuaikan (=A).

2. Menghitung nilai pengeluaran riil (=B) yaitu dengan membagi rata-rata pengeluaran (A) dengan IHK tahun yang bersangkutan.

Catatan: Mulai tahun 2003 BPS Kabupaten Tuban sudah melakukan survei dan pengolahan angka inflasi sendiri berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dilakukan secara rutin dengan periode bulanan.

3. Agar indikator yang diperoleh nantinya dapat menjamin keterbandingan antar daerah, diperlukan indeks “kemahalan” wilayah yang biasa disebut dengan daya beli per unit (=PPP/unit). Metode penghitungannya disesuaikan dengan metode yang dipakai International Comparison Project (ICP) dalam menstandarkan GNP per kapita suatu negara. Data yang digunakan adalah data kuantum per kapita per tahun dari suatu basket komoditi yang terdiri

(17)

dari nilai 27 komoditi yang diperoleh dari Susenas Modul. Kriteria pemilihan 27 jenis komoditi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Termasuk sebagai komoditi penting (esensial) dalam struktur konsumsi masyarakat.

b. Mempunyai kualitas, karena akan digunakan sebagai penimbang.

c. Memperhatikan sebaran menurut kelompok/subkelompok.

d. Konsumsi komoditi tersebut tercatat di semua Provinsi/Kabupaten/Kota.

Adapun 27 jenis komoditi standar dapat dilihat pada daftar di bawah ini:

Tabel 2.1.3. Komoditi yang Digunakan dalam Penghitungan Indeks Daya Beli

Komoditi Unit

1. Beras lokal 2. Tepung terigu 3. Ketela pohon 4. Ikan tongkol 5. Ikan teri 6. Daging sapi

7. Daging ayam kampung 8. Telur ayam

9. Susu kental manis 10. Bayam

11. Kacang panjang 12. Kacang tanah 13. Tempe 14. Jeruk 15. Pepaya 16. Kelapa 17. Gula pasir 18. Kopi bubuk 19. Garam 20. Merica/lada 21. Mie instant

22. Rokok kretek filter 23. listrik

24. Air minum 25. Bensin

26. Minyak tanah 27. Sewa rumah

Kg Kg Kg Kg Ons

Kg Kg Butir 397 gram

Kg Kg Kg Kg Kg Kg Butir

Ons Ons Ons Ons 80 gram 10 batang

Kwh M3 Liter Liter Unit

(18)

Penghitungan PPP/unit dilaksanakan dengan rumus di bawah ini:

27

 E(i,j)

j=1

PPP/unit = Ri = 27

 P(i,j) Q(i,j)

j=1

dimana,

E(i,j) = Pengeluaran untuk komoditi j di Kabupaten Tuban ke-i P(i,j) = Harga komoditi j di Kabupaten Tuban

Q(i,j) = Jumlah komoditi j (unit) yang dikonsumsi di Kabupaten Tuban ke-i Unit (kuantitas) sewa rumah ditentukan berdasarkan Indeks Kualitas Rumah yang dihitung berdasarkan kualitas dan fasilitas rumah tinggal dari 7 (tujuh) jenis yang diperoleh dari daftar isian SUSENAS KOR. Kualitas dan fasilitas tersebut diberi skor sebagai berikut:

- Lantai: keramik, marmer, atau granit = 1, lainnya = 0 - Luas lantai perkapita:  10 m2 = 1, lainnya = 0 - Dinding: tembok = 1, lainnya = 0

- Atap: kayu/sirap, beton = 1, lainnya = 0 - Fasilitas penerangan: Listrik = 1, lainnya = 0 - Fasilitas air minum: Ledeng = 1, lainnya = 0 - Jamban: Milik sendiri = 0, lainnya = 0 - Skor awal untuk setiap rumah = 1

Indeks Kualitas Rumah merupakan penjumlahan dari skor yang dimiliki oleh suatu rumah tinggal dan bernilai antara 1 s/d 8. Kualitas dari rumah yang dikonsumsi oleh suatu rumahtangga adalah Indeks Kualitas Rumah dibagi 8.

Sebagai contoh, jika suatu rumahtangga menempati suatu rumah tinggal yang mempunyai Indeks Kualitas Rumah = 6, maka kualitas rumah yang dikonsumsi oleh rumahtangga tersebut adalah 6/8 atau 0,75 unit.

4. Untuk mendapatkan nilai pengeluaran riil yang dapat dibandingkan antar waktu dan antar daerah maka nilai B dibagi dengan PPP/unit (=C).

(19)

5. Menyesuaikan nilai C dengan formula Atkinson sebagai upaya untuk memperkirakan nilai marginal utility dari C (=D).

D = C jika C  Z

= Z + 2(C-Z)(1/2) jika Z  C  2Z

= Z + 2Z(1/2) + 3(C – 2Z)(1/3) jika 2Z  C  3Z

= Z + 2Z(1/2) + 3Z(1/3) + 4(C – 3Z)(1/4) jika 3Z  C  4Z dimana :

C = nilai PPP dalam rupiah

Z = threshold atau tingkat pendapatan tertentu yang digunakan sebagai batas kecukupan (biasanya menggunakan garis kemiskinan).

Pengertian paritas daya beli secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut : misalkan ada 3 orang Kabupaten Tuban (A,B,C) yang berasal dari 3 Kecamatan yang berbeda (D,E,F). Tiga orang tersebut mempunyai penghasilan bulanan, yang kalau diukur dengan rupiah, sama persis. Namun, penghasilan A di kecamatan D apabila seluruh penghasilan sebulan dibelikan beras, dapat diperoleh 5 kwintal; dengan penghasilan yang sama B di kecamatan E dapat membeli 4 kwintal; dan C di kecamatan F dapat membeli 10 kwintal. Paritas daya beli masing-masing - A,B, dan C – menggambarkan daya beli riil, yaitu 5,4, dan 10 kwintal beras.

Berdasarkan persamaan indeks yang telah ditulis sebelumnya, maka persamaan IPM dapat ditulis sebagai berikut:

X1 + X2 + X3

IPM = 3

dimana : X1 = Indeks Angka Harapan Hidup X2 = Indeks Pendidikan

X3 = Indeks Daya Beli

(20)

2.2. Indikator Komposit Pembangunan Manusia

Sebagai indikator komposit, IPM mempunyai manfaat terbatas, terutama kalau disajikan tersendiri hanya dapat menunjukkan status pembangunan manusia suatu wilayah. Namun demikian manfaat yang terbatas tersebut dapat diperluas kalau dilakukan perbandingan antar waktu dan antar wilayah, sehingga posisi relatif suatu wilayah terhadap wilayah yang lain dapat diketahui serta kemajuan atau pencapaian antar waktu di suatu wilayah dan perbandingannya dengan pencapaian dengan wilayah lain juga dapat dibahas.

Secara umum indikator tersebut bermanfaat sebagai alat advokasi terhadap perumus dan penentu kebijakan di setiap wilayah khususnya berkaitan dengan kebijakan publik yang dipilih dan ditetapkan.

Pencapaian pembangunan manusia dilihat dari dua segi: pertama, terjadi kenaikan IPM secara nilai absolut yang diukur dengan nilai positif dari reduksi shortfall tahunan (annual reduction in shortfall). Reduksi shortfall adalah peningkatan nilai IPM dalam suatu periode relatif terhadap jarak nilai IPM awal periode ke IPM sasaran (=100). Secara formula reduksi shortfall (r) setahun adalah :

IPMt + n - IPMt 1/n

r = x 100 IPMideal - IPMt

dimana : IPMt = IPM pada tahun t IPMt+n = IPM pada tahun t + n IPMideal = 100

Kedua, adalah meningkatnya status pembangunan manusia berdasarkan klasifikasi berikut :

Nilai IPM Status Pembangunan Manusia

< 50 Rendah

50  IPM  66 Menengah Bawah 66  IPM < 80 Menengah Atas

 80 Tinggi

(21)

2.3. Metode Analisis

Kesimpulan yang dihasilkan dari sebuah penelitian akan akurat, dapat dipercaya (reliable), tepat waktu (up to date) dan dapat diperhitungkan (accountable), salah satunya tergantung dari ketepatan dalam memilih dan menggunakan metode analisis. Kesalahan dalam memilih dan menggunakan metode analisis akan berakibat fatal sehingga kesimpulan yang dihasilkan tidak tepat, yang pada akhirnya menyebabkan salah dalam pengambilan kebijakan.

Pada dasarnya metode analisis statistik dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu statistik deskriptif dan inferensia statistik. Statistik deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian data yang memberikan informasi yang berguna. Inferensia statistik mencakup semua metode analisis data dengan menggunakan berbagai macam prosedur pengujian secara statistik. Dalam penyusunan laporan ini metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif karena tidak ada pengujian secara statistik di dalamnya.

2.4. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penyusunan IPM ini adalah data sekunder yang berasal dari BPS Kabupaten Tuban. Data sekunder meliputi data dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga; dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban. Data lain yang dipakai adalah hasil pengolahan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang merupakan sumber data utama untuk mengetahui kondisi kesejahteraan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, dan konsumsi masyarakat. Disamping itu digunakan juga sumber-sumber lainnya (data sekunder) yang berkaitan dengan analisis ini.

(22)
(23)

3.1 Kondisi Geografis

abupaten Tuban terletak antara 111030 - 1120 35’ Bujur Timur dan 6040’- 7º18’ Lintang Selatan.. Secara administrasi, wilayah Kabupaten Bojonegoro mempunyai batas-batas :

- Bagian Selatan : Kabupaten Bojonegoro - Bagian Barat : Propinsi Jawa Tengah - Bagian Utara : Laut Jawa

- Bagian Timur : Kabupaten Lamongan

Kabupaten Tuban merupakan salah satu kabupaten yang terletak di jalur pantai utara jawa dengan luas wilayah mencapai 1.839,94 Km2, dengan panjang pantai 65 Km dan luas lautan 22.608 Km. Secara Administrasi Kabupaten Tuban terbagi menjadi 20 kecamatan dan 328 desa. Lima kecamatan terletak di wilayah pantai dan sisanya terletak di daerah dataran dan perbukitan.

3.2 Kependudukan

Posisi penduduk didalam mekanisme pembangunan bukanlah semata-mata hanya sebagai sasaran (object), tetapi lebih dari itu adalah sebagai pelaksana pembangunan. Berdasarkan pemikiran tersebut, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dijadikan titik berat pada pembangunan nasional sejalan dengan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu data kependudukan menjadi sangat vital dalam penentuan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada manusia.

(24)

Jumlah penduduk pertengahan tahun Kabupaten Tuban dari Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 sebesar 1.119.311 jiwa dan pada tahun 2011 sebesar 1.124.757 jiwa, atau mengalami perkembangan sebesar 0,49 persen.

Jumlah penduduk sebesar 1.124.757 terdiri dari laki-laki sebanyak 549.163 jiwa dan perempuan sebanyak 575.594 jiwa. Sex rasio sebesar 97,65 menunjukkan bahwa perbandingan untuk penduduk perempuan sebanyak 100 jiwa maka terdapat jumlah penduduk laki-laki sebanyak 98 jiwa.

Kepadatan penduduk rata-rata sebesar 611 jiwa/Km2 . Gambar 3.2

Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2011

Sumber :Susenas Kabupaten Tuban, 2011

Struktur umur penduduk Kabupaten Tuban masuk kategori penduduk muda artinya penduduk usia muda mendominasi jumlah penduduk.

Penduduk usia muda ini mempunyai banyak kelebihan baik dari segi ide-ide segar, berbagai inovasi baru yang bisa dilakukan maupun kemauan dan kemampuan bila dibandingkan dengan penduduk usia lanjut. Adapun perbandingan kelompok umur dapat dilihat pada gambar 3.2 diatas.

3.3 Pendidikan

Peningkatan kualitas sumber daya manusia bertitik tolak pada upaya pembangunan bidang pendidikan. Pelaksanaan program wajib belajar 6 tahun telah meningkatkan partisipasi sekolah anak, khususnya

0 10 20 30 40 50 60 70 80

0 - 14 15 - 64 65 +

25.4

69.17

5.4 23.4

70.29

6.3 24.43

69.73

5.85

L P L+P

(25)

anak usia sekolah, untuk mendapatkan pendidikan dasar. Dengan diperluasnya jangkauan wajib belajar pendidikan menjadi 9 tahun diharapkan hampir seluruh penduduk usia 7 – 15 tahun mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, sehingga kualitas SDM akan meningkat.

Dalam perencanaan pembangunan bidang pendidikan, diperlukan data yang akurat untuk memberikan informasi mengenai berbagai macam keadaan yang mendasari perencanaan, pelaksanaan sekaligus pemantauan terhadap program pendidikan. Data dimaksud diantaranya adalah angka partisipasi sekolah, angka melek huruf, tingkat pendidikan yang ditamatkan dan fasilitas pendidikan yang tersedia.

3.3.1 Partisipasi Sekolah

Pembangunan bidang pendidikan ditujukan untuk meningkatkan akses penduduk pada fasilitas pendidikan, agar semakin banyak penduduk yang dapat bersekolah. Angka partisipasi sekolah diartikan sebagai perbandingan antara banyaknya penduduk yang masih bersekolah pada kelompok usia sekolah tertentu dibagi dengan jumlah penduduk yang seharusnya masih sekolah pada kelompok usia yang sama.

Tabel 3.3.1.

APS Menurut Kelompok Usia Sekolah Di Kabupaten Tuban Tahun 2007– 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2007 - 2011

KELOMPOK UMUR 2007 2008 2009 2010 2011

(1) (3) (4) (5) (6) (6)

7 - 12 98.38 98.71 98.91 98.32 97.04

13 - 15 82.12 86.09 85.42 87.30 90.95

16 - 18 47.32 47.47 52.35 43.92 55.65

(26)

Pada tabel diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, angka partisipasi sekolah semakin kecil. Pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar, hampir semua penduduk (97,04 %) usia 7-12 tahun telah bersekolah pada tahun 2011. Sedangkan untuk tingkat SLTP sebanyak 90,95 % anak usia 13-15 tahun telah bersekolah, dan untuk usia 16-18 tahun yang sedang bersekolah sebanyak 55,65 %. Bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2010, angka partisipasi sekolah pada semua tingkat pendidikan mengalami peningkatan.

3.3.2. Angka Melek Huruf

Angka melek huruf dapat dijadikan sebagai indikator tingkat pendidikan penduduk karena dengan kemampuan tersebut seseorang dapat mempelajari dan menyerap ilmu pengetahuan. Seseorang dikatakan melek huruf apabila memiliki kemampuan membaca dan menulis huruf latin atau lainnya.

Tabel 3.3.2.

Persentase Penduduk 15 Tahun ke atas yang Buta Huruf Tahun 2010– 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2010 – 2011

Di Kabupaten Tuban, pada tahun 2011 penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis (melek huruf) sebanyak 85,93 % atau dapat dikatakan masih terdapat penduduk yang buta huruf

Perubahan (Persen Poin)

(1) (2) (3) (4)

Melek Huruf 85.79 85.93 0.14

Buta Huruf 14.21 14.07 -0.14

KRITERIA 2010 2011

(27)

sebanyak 14,07 %. Bila dibandingkan dengan tahun 2010 ada sedikit penurunan penduduk buta huruf yaitu dari 14,21 % menjadi 14,07 %.

3.3.3. Rata-rata Lama Sekolah

Selain angka melek huruf, komponen pendidikan lain yang perlu dilihat adalah rata-rata lama sekolah (tahun). Indikator ini menunjukkan sampai jenjang pendidikan apa tingkat pendidikan penduduk dewasa.

Tabel 3.3.3.

Rata-rata Lama Sekolah penduduk 15 tahun ke atas Dibeberapa Kabupaten/Kota Tahun 2007– 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2007 – 2011

Dari tabel, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Tuban pada tahun 2011 mencapai 6,6 tahun yang berarti penduduk usia 15 tahun keatas di Kabupaten Tuban bersekolah hingga tingkat SLTP kelas 1 semester 1 (6 tahun 6 bulan atau baru masuk ke kelas 1 SLTP).

Untuk Jawa Timur rata-rata lama sekolahnya adalah 7, 4 tahun, artinya apabila dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Timur kondisi Kabupaten Tuban masih dibawah rata-rata. Bila dibandingkan dengan daerah sekitar, yaitu Bojonegoro dan Lamongan, Kabupaten Tuban termasuk paling rendah.

Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Tuban mencapai 6,6 tahun pada tahun 2011. Angka ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan

KABUPATEN 2007 2008 2009 2010 2011

(1) (2) (3) (4) (6) (7)

Bojonegoro 6.4 6.4 6.5 6.7 6.8

Tuban 6.1 6.1 6.2 6.4 6.6

Lamongan 6.8 6.8 7 7.2 7.2

Jawa Timur 6.9 7 7.2 7.2 7.4

(28)

penduduk di Kabupaten Tuban masih pada taraf tamat Sekolah Dasar.

Bila dibandingkan dengan tahun 2007, rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan dari 6,1 tahun pada 2007 menjadi 6,6 tahun pada 2011. Untuk mencapai target wajib belajar 9 tahun, maka diperlukan kerja keras dari Pemerintah Daerah untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat.

3.3.4. Tingkat Pendidikan Ditamatkan

Kualitas sumber daya manusia secara spesifik dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang dicapai penduduk. Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan memberi gambaran tentang keadaan sumber daya manusia.

Tabel 3.3.4.

Persentase Penduduk usia 15 tahun Keatas Menurut Jenjang Pendidikan Yang Ditamatkan

Tahun 2007 - 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2007 – 2011

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Tuban taraf pendidikannya masih rendah yaitu sebanyak 62,27% merupakan tamatan SD kebawah yang terdiri dari mereka yang tidak/belum pernah sekolah dan tidak/belum tamat SD sebesar 27,34% dan yang tamat SD sebesar 34,93%. Sedangkan yang tamat SLTP keatas sebesar 21,79%.

KABUPATEN 2007 2008 2009 2010 2011

(1) (2) (3) (4) (6) (7)

* Tidak/belum pernah sekolah 29.69 28.79 29.15 27.25 27.34

& tidak/belum tamat SD

* Tamat SD 38.26 40.38 35.21 38.43 34.93

* Tamat SLTP 17.57 16.90 16.55 17.47 21.79

* Tamat SLTA 11.29 11.39 16.11 13.65 13.71

* Tamat Perguriuan Tinggi 3.20 2.55 2.98 3.20 2.22

(29)

3.3.5. Fasilitas Pendidikan

Keberadaan serta kemudahan akses terhadap fasilitas pendidikan berperan penting dalam peningkatan hasil pembangunan di bidang pendidikan. Salah satu sarana yang penting adalah sekolah yang merupakan wahana penyelenggaraan kegiatan pendidikan formal.

Fasilitas pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung visi dan misi pembangunan pendidikan, yaitu memperluas kesempatan belajar bagi semua penduduk serta sekaligus terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan demikian pemerintah perlu menyediakan sarana belajar antara lain dengan mendirikan sekolah- sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi serta penambahan jumlah pendidik yang berkualitas.

Tabel 3.3.5.

Banyaknya Sekolah dan Rasio Murid-Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan di Kabupaten Tuban Tahun Ajaran 2011/2012

Sumber: Dinas Pendidikan,Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Tuban, diolah

Rasio murid-sekolah menunjukkan perbandingan jumlah murid dengan jumlah sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu. Dengan kata lain, angka ini menggambarkan jumlah rata-rata murid yang menjadi beban di setiap sekolah. Rasio murid-sekolah SD/MI di Kabupaten Tuban adalah 137, artinya bahwa tiap SD/MI di Kabupaten Tuban rata-rata menampung 137 orang. Dan, apabila angka ini

RASIO MURID RASIO MURID SEKOLAH GURU

(1) (2) (3) (4) (6) (7)

SD/MI 793 108.654 8.240 137 13

SLTP/MTS 169 47.789 3.683 283 13

SLTA/MA 72 18.715 1.634 260 11

SMK 26 12.105 945 466 13

JENJANG SEKOLAH MURID GURU

(30)

diperluas analisisnya maka ada ketimpangan penerimaan murid baru di masing-masing SD/MI, dengan rata-rata per kelas 30 murid (ada 6 kelas, kelas 1 sampai kelas 6). Kenyataannya ada sekolah SD/MI yang menerima murid baru (kelas I) dibawah 30 anak sedangkan di sekolah SD/MI yang lain malah menerima murid baru dua kali dari rata-rata.

Tingginya minat orangtua untuk menyekolahkan anaknya di Kota (anggapan sekolah tersebut lebih maju atau favorit) cukup berpengaruh pada ketimpangan penerimaan jumlah murid per sekolah, selain itu adanya perbedaan fasilitas-fasilitas yang dimiliki antar sekolah meskipun sama-sama dalam naungan Pemerintah (sekolah negeri).

Dari Tabel 3.3.5. diatas terlihat bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar rasio murid-sekolah yang dimiliki yang artinya makin banyak jumlah murid yang menjadi beban sekolah. Untuk tingkat SLTP/MTs rasio murid-sekolah mencapai 283, untuk tingkat SLTA/MA rasio murid-sekolah mencapai 260, dan untuk tingkat SMK rasio murid- sekolah mencapai 466.

Dari tabel di atas terlihat bahwa rasio murid-sekolah antara SLTA/MA dan SMK terdapat perbedaan yang cukup besar. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan masyarakat untuk menjalani jenjang pendidikan SMK dibanding SLTA/MA. Nampaknya semakin beragamnya pilihan jurusan pada SMK membuat masyarakat tidak ragu untuk memilih SMK, ditambah lagi jaminan keterampilan yang akan mereka miliki untuk siap bekerja.

Jumlah sarana dan prasarana di setiap sekolah berbeda, karena itu rasio murid-sekolah saja kurang memadai untuk menggambarkan ketersediaan fasilitas pendidikan bagi masyarakat. Tabel 3.3.5. akan memberi gambaran perbandingan jumlah murid dengan jumlah guru untuk jenjang SD sampai SLTA. Rasio murid-guru menunjukkan rata-rata jumlah murid yang menjadi tanggung jawab setiap guru pada masing- masing jenjang pendidikan.

(31)

Dari nilai-nilai rasio tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah murid untuk setiap guru masih cukup ideal. Rasio murid-guru yang terlalu besar akan menyulitkan bagi guru untuk membagi perhatian pada murid-muridnya dengan baik sedangkan kelas yang menampung murid terlalu banyak akan membuat murid sendiri kesulitan berkonsentrasi pada pelajaran akibat terlalu ramainya kelas.

3.4 Kesehatan

Kualitas penduduk secara fisik dapat diketahui dari derajat kesehatan penduduk secara keseluruhan. Peningkatan kualitas kesehatan penduduk merupakan salah satu aspek dalam upaya peningkatan pembangunan manusia. Ada beberapa indikator yang dapat dipakai untuk melihat derajat kesehatan, diantaranya adalah penolong persalinan balita, ketersediaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang memadai serta tingkat akses penduduk ke fasilitas kesehatan.

3.4.1 Penolong Persalinan Balita

Pemanfaatan pelayanan persalinan dengan tenaga medis profesional sangat penting untuk menjamin p ersalinan yang aman

Gambar 3.4.1.

Persentase Penolong Persalinan Terakhir Balita Kabupaten Tuban Tahun 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2011

baik untuk bayi maupun ibunya. Persalinan yang aman dapat dilakukan oleh tenaga medis yaitu dokter dan bidan.

Dokter 10%

Bidan 81%

Tenaga Medis Lainnya 1%

Dukun Terlatih Other 8%

8%

(32)

Persentase penduduk Kabupaten Tuban yang memanfaatkan jasa dokter dalam proses persalinan sebesar 10,29%, bidan sebesar 81,14 %, Tenaga medis lainnya sebesar 0-69 % dan yang masih memakai jasa dukun bersalin sebesar 8,56%.

3.4.2 Angka Kematian Bayi

Angka kematian bayi adalah salah satu indikator yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan penduduk. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Tuban dari tahun 2007 - 2011 menunjukkan penurunan. Pada tahun 2007 AKB Kabupaten Tuban sekitar 40.34 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2011 AKB telah turun menjadi sekitar 34.84 per 1000 kelahiran hidup.

Penurunan AKB ini menunjukkan salah satu keberhasilan pemerintah di bidang kesehatan serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memperhatikan dan memperlakukan bayinya.

3.5.3. Angka Harapan Hidup

Indikator lain yang juga digunakan untuk menilai derajat kesehatan penduduk adalah Angka Harapan Hidup (AHH). Angka Harapan Hidup selain berfungsi sebagai indikator keberhasilan program kesehatan juga berfungsi sebagai indikator pembangunan ekonomi. Bila pembangunan sosial ekonomi di suatu wilayah semakin baik, maka AHH juga semakin tinggi.

Tabel 3.4.3.

Angka Harapan Hidup dan Angka kematian Bayi Kabupaten Tuban Tahun 2007 - 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2007 – 2011

INDIKATOR 2007 2008 2009 2010* 2011**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Angka Harapan Hidup 67.17 67.34 67.56 67.78 67.78 Angka Kematian Bayi 40.34 38.7 38.22 36.96 34.84

* Angka diperbaiki

** Angka sementara

(33)

AHH di Kabupaten Tuban pada periode 2007-2011 mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 AHH Kabupaten Tuban mencapai 67,17 tahun dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 68,11 tahun.

Peningkatan AHH ini menunjukkan kualitas kesehatan penduduk Kabupaten Tuban yang semakin baik.

3.5.4. Fasilitas Kesehatan

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan penduduk adalah dengan menyediakan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Untuk memudahkan akses ke fasilitas kesehatan dan memperluas pelayanan kesehatan kepada masyarakat maka penyediaan sarana kesehatan diperluas sampai ke pelosok desa.

Tabel 3.4.4.

Jumlah Fasilitas dan Tenaga Kesehatan Medis/Non Medis Kabupaten Tuban Tahun 2009 - 2011

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, 2009 - 2011

3.5.5. Tingkat Akses ke Fasilitas Kesehatan

Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah upaya kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat jika mengalami sakit.

Gambar 3.4.5 menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Tuban jika sakit lebih memilih mendatangi fasilitas kesehatan modern

FASILITAS/TENAGA 2009 2010 2011

(1) (2) (3) (4)

Puskesmas 33 33 33

Puskesmas Pembantu 54 54 54

Puskesmas Keliling 63 63 59

Posyandu 1.409 1.414 1.421

Dokter Umum 30 31 33

Dokter Gigi 15 17 15

Bidan 277 264 290

Perawat 121 113 131

Perawat Gigi 13 13 16

Dukun Terlatih 429 420 388

(34)

ataupun tenaga medis daripada berobat ke tempat praktek pengobatan tradisional (Praktek Batra) ataupun dukun. Masyarakat yang datang ke praktek pengobatan tradisional atau dukun masing- masing hanya 1,41% dan 1,89%.

Gambar 3.4.5.

Persentase Penduduk Yang Berobat Jalan dan Cara Berobat Jalan Kabupaten Tuban Tahun 2011

Sumber : Susenas Kabupaten Tuban, 2011

3.5 Ketenagakerjaan

3.5.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan salah satu indikator ketenagakerjaan yang menggambarkan perbandingan antara angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. Dari TPAK dapat dilihat perbandingan persentase penduduk yang telah dan siap masuk pasar kerja.

TPAK di Kabupaten Tuban pada tahun 2011 sebesar 70,36 % yang berarti dari 100 penduduk usia kerja terdapat 70 orang yang aktif dalam kegiatan ekonomi (bekerja dan pengangguran).

Dibandingkan dengan TPAK pada tahun 2007 sebesar 66,65 % berarti terjadi kenaikan sebesar 5,57 persen poin.

2.31 1.64

23.8

28.04 54.77

1.54 1.16

Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit Swasta Praktek Dokter/Poliklinik Puskesmas/Pustu Praktek Nakes

Praktek Pengobatan Tradisional Dukun Bersalin & Lainnya

(35)

Tabel 3.5.1.

Penduduk Usia Kerja dan Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Tuban Tahun 2007 - 2011

Sumber : Sakernas Kabupaten Tuban, 2007 – 2011

3.5.2. Tingkat Kesempatan Kerja (TKK)

Menurut konsep Labour Force, kegiatan bekerja didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tak dibayar/pekerja keluarga yang membantu dalam usaha kegiatan ekonomi orang tua/saudara/orang lain.

Indikator TKK merupakan salah satu indikator ketenagakerjaan yang memberikan informasi mengenai jumlah tenaga kerja yang terserap dalam lapangan kerja.

Pada tahun 2011, TKK di Kabupaten Tuban mencapai 97,85 %.

bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 97,14 % berarti terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,71 persen poin. Peningkatan penyerapan tenaga kerja ini diduga sebagai akibat adanya industrialisasi di Kabupaten Tuban berdampak pada peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya mengakibatkan meningkatnya tingkat kesempatan kerja.

INDIKATOR 2007 2008 2009 2010 2011

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Angkatan Kerja 575,255 590,750 601,727 599,175 605,606 Penduduk Yang Bekerja 539,387 556,834 576,331 582,059 583,508

Pengangguran 35,868 33,916 25,396 17,116 25,118

TPAK 66.65 68.70 69.55 69.96 69.96

TKK 93.76 94.26 95.78 97.14 95,85

TPT 6.24 5.74 4.22 2.86 4,15

(36)

3.5.3. Angka Pengangguran

Indikator ketenagakerjaan yang sering digunakan untuk melihat keberhasilan Pemerintah dalam pembangunan adalah besaran data penganggur (TPT/Tingkat Pengangguran Terbuka).

Indikator TPT memberikan gambaran tentang seberapa besar angkatan kerja yang tidak terserap ke dalam kegiatan perekonomian.

Pada tahun 2011, angka pengangguran (TPT) di Kabupaten Tuban sebesar 4,15 sedang pada tahun 2007 sebesar 6,24 yang berarti terjadi penurunan angka pengangguran. Menurunnya angka pengangguran ini diakibatkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja.

3.6.1. Potensi Ekonomi Daerah 3.6.1. Struktur Ekonomi

Untuk mengamati kondisi perekonomian Kabupaten Tuban, salah satunya dapat dilihat dari sisi struktur ekonominya. Dengan melihat angka-angka distribusi persentase, bisa dikatakan perekonomian Kabupaten Tuban bertumpu pada s ektor primer.

Gambar 3.6.1.

Struktur Ekonomi Kabupaten Tuban Tahun 2007 - 2011

Sumber : PDRB Kabupaten Tuban, 2007 – 2011

Primer Tersier 0.00

10.00 20.00 30.00 40.00 50.00

2007 2008 2009 2010 2011

Primer Sekunder Tersier

(37)

Kelompok sektor primer (sektor pertanian dan pertambangan &

penggalian) memberikan kontribusi sebesar 41,35% terhadap PDRB Kabupaten Tuban, meskipun persentasenya cenderung menurun dari tahun ke tahun, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang peranannya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Sektor sekunder (sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih dan sektor bangunan), perananannya dalam perekonomian juga semakin meningkat sejalan dengan peningkatan Kabupaten Tuban sebagai kota Industri.

Kontribusi sektor ini pada kurun 2007-2011 selalu mengalami peningkatan, berturut-turut sebesar 28,88 persen, 29,12 persen, 29,28 persen, 29,13 persen dan 28,34 persen.

Sementara peranan kelompok sektor tersier dalam pembentukan PDRB Kabupaten Tuban sebesar 30 %. Selama lima tahun terakhir (tahun 2007-2011) andil kelompok sektor ini mengalami peningkatan, yaitu 28,68 persen pada tahun 2007, naik menjadi 29,20 persen pada 2008, tahun 2009 naik menjadi 29,39 persen, tahun 2010 naik lagi sebesar 29,96 persen dan tahun 2011 meningkat lagi menjadi 30,30 persen.

3.6.2. Pendapatan Perkapita

Pendapatan per kapita merupakan sebuah indikator yang sangat dikenal, terutama oleh para birokrat yang berkecimpung dalam penanganan peningkatan kemakmuran masyarakat. Oleh karena itu, indikator ini menjadi salah satu yang sangat penting dalam publikasi ini.

Pada umumnya, indikator ini disajikan dari angka atas dasar harga berlaku, walaupun sebetulnya masih mengandung perubahan harga barang dan jasa. Selama lima tahun terakhir, pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Tuban mengalami peningkatan.

(38)

Pada tahun 2007, pendapatan perkapita masyarakat Tuban sebesar Rp. 11.634.545, meningkat menjadi Rp. 13.639.505 pada tahun 2008, tahun 2009 sebesar Rp. 15.288.660, tahun 2010 sebesar Rp. 16.557.391 dan tahun 2011 sebesar Rp. 18.522.248.

Gambar 3.6.2.

Pendapatan Perkapita Kabupaten Tuban Tahun 2007 – 2011

Sumber : PDRB Kabupaten Tuban, 2007 – 2011

Kenaikan pendapatan perkapita ini penting kaitannya dengan pembangunan manusia karena dengan pendapatan yang tinggi akan meningkatkan daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

0%

20%

40%

60%

80%

100%

2007 2008 2009 2010 2011

12,859,333 15,110,534 16,977,900 19,040,920 21,430,705

(39)

Gambar

Gambar Kulit :
Tabel 2.1.1. Nilai Maksimum dan Minimum    Indikator Komponen IPM
Tabel 2.1.2.  Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung  Rata-rata Lama Sekolah (MYS)
Tabel 2.1.3.  Komoditi yang Digunakan dalam Penghitungan     Indeks Daya Beli

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Krippendorff (1991: 75) unitasi meliputi penetapan unit-unit tersebut , memisahkannya menurut batas- batasnya, dan mengidentifikasi untuk analisis berikutnya. Unit

Canberra: Department of Linguistics Research School of Pacific Studies The Ustralian National University.. Language Distribution and

Perspektif keuangan, pelanggan dan sasaran dari proses bisnis internal dapat mengungkapkan kesenjangan antara kemampuan yang ada dari orang, sistem dan prosedur

(6) Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 kependidikan dan S1/D4

Untuk membantu seseorang berjuang dalam mencapai satu tujuan yang diinginkan diperlukan self-efficacy, dengan keyakinan diri yang kuat akan membuat mereka melakukan

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 6 menunjukkan bahwa skala nyeri kepala hipertensi pada lansia mengalami nyeri ringan sebanyak 29 orang (75%), 9 orang nyeri

Dumasar kana peranna, anu jadi palaku utama dina Wawacan Pangantén Tujuh téh nya éta Nabi Adam, Babu Hawa, Nabi Yusuf, Siti Julaéha, Nabi Musa, Sapura, Nabi Muhammad

Berdasarkan hasil koefisien kontingensi, karakteristik petani yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap persepsi petani terhadap inovasi PTT padi sawah adalah