• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capaian Kinerja Tahun 2020

Dalam dokumen LAPORAN KINERJA TAHUN 2020 (Halaman 37-100)

A. Indikator Kinerja Utama

3.1. Capaian Kinerja Tahun 2020

Perjanjian Kinerja Kemenko Marves Tahun 2020 ditetapkan dengan menggunakan pendekatan balanced score card (BSC), yang memiliki 14 Sasaran Strategis dengan 17 indikator kinerja utama (IKU). Kinerja Kemenko Marves tahun 2020 merupakan kinerja tahun pertama pelaksanaan Renstra Kemenko Marves periode 2020-2024. Capaian kinerja pada tahun 2020 sebesar 100,12% yang dihitung dari rata-rata capaian dari seluruh sasaran kinerja. Dokumen Perjanjian Kinerja Kemenko Marves tertuang dalam Lampiran 2.

Meskipun telah mencapai target, namun demikian masih ada beberapa kinerja yang capaiannya masih perlu peningkatan. Adapun capaian kinerja utama Kemenko Marves tahun 2020 yang diuraikan berdasarkan sasaran strategis (SS) adalah sebagai berikut:

PERSPECTIVE SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI AKHIR 2024 % Stakeholder Stakeholder 99,4 SS.1 Teguhnya Jatidiri Indonesia sebagai Negara Maritim yang Mandiri dan Berdaulat

1 Indeks Kepemimpinan Maritim (Maritime Leadership Index) >=3 3 >=3 100 SS.2 Terwujudnya Ekonomi Maritim yang Inklusif dan Kuat Sebagai Penggerak Utama Perekenomian Nasional 2 PDB Maritim 10,44 10,27*) 7,80 98,4 SS3 Menguatnya Jatidiri Indonesia sebagai Bangsa Bahari Maju

3 Indeks Daya Saing

PERSPECTIVE SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI AKHIR 2024 % dan Berkepribadian Luhur Customer Customer 102,50 SS.4 Terwujudnya Indonesia sebagai Negara Maritim yang Mandiri Mengelola Lautnya serta Aktif di Forum Internasional 4 Indeks Kedaulatan Maritim 3 3 4 100 SS5 Terwujudnya Pemerataan Pembangunan Ekonomi Berbasis Kemaritiman yang Seimbang dan Dinamis

5 Indeks Kinerja Logistik 3,1 3,18 3.5 102,58

6 Indeks Disparitas Ekonomi ~0 -0,176 0 100 SS.6 Meningkatnya Produktivitas dan Kualitas Lingkungan dan Perairan Indonesia

7 Indeks Kesehatan Laut 65 75,79 67 116,60

8 Indeks Kualitas

Lingkungan Hidup 66,95 70,25 68.53 110,77

SS.7

Meningkatnya Produksi Barang dan Jasa serta Nilai Tambah Sumber Daya Alam

9 PDB Sektor Sumberdaya

Alam dan Jasa 15,86 13,64 17.73 86

10 Tingkat Komponen

dalam Negeri 44 43,46 50 98,77

SS.8

Menguatnya Jatidiri Indonesia sebagai Bangsa Bahari yang Inovatif, Berkarakter dan Berbudaya Nusantara

11 Indeks Kapabilitas Inovasi 38,0 40*) 41,50 105,26

Internal Business Process

Internal Business Process 100

SS.9

Tersedianya

Kebijakan/Rekomenda si Kebijakan

Kemaritiman yang Efektif dan Efisien

12 % Rekomendasi Kebijakan yang ditetapkan 100 100 100 100 SS.10 Terlaksananya Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan Kemaritiman yang Efektif dan Efisen

13 % Hasil pengendalian

yang ditindaklanjuti 100 100 100 100

PERSPECTIVE SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI AKHIR 2024 % Learning and Growth SS.11 Terwujudnya ASN Kemenko Marves yang Profesional 14 Indeks Profesionalitas ASN 71 82 81 115,49 SS.12 Terwujudnya Organisasi dan Tata Kelola Kemenko Marves yang Baik

15

Nilai Hasil Evaluasi Implementasi Reformasi Birokrasi Kemenko Marves 75 69,13 95 92,17 SS.13 Tersedianya Sistem Informasi Manajemen Kemenko Marves yang Terintegrasi 16 Nilai Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) 3 2,52*) 4,0 84,00 SS.14 Terwujudnya Pengelolaan Keuangan yang Akuntabel 17 Opini BPK WTP WTP WTP 100 Capaian Tahun 2020 100,12 % *) Keterangan: Capaian dihitung berdasarkan bobot sesuai IKU, SS dan Perspektif *) Digunakan nilai capaian maksimal 120%

Penjelasan capaian IKU untuk setiap SS diuraikan sebagai berikut:

Sasaran yang ingin dicapai dari SS.1. adalah kondisi Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang mampu berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim yang mandiri dan memiliki kedaulatan penuh. Sasaran Strategis ini menggunakan indikator kinerja utama (IKU) Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia. Indeks ini merupakan hasil dari penegakan kedaulatan maritim dan penguatan diplomasi Indonesia di bidang kemaritiman.

Penegakan kedaulatan maritim diwujudkan dengan adanya kepastian hukum wilayah Indonesia, terjaganya kepentingan Indonesia, terwujudnya keamanan, ketahanan, dan keselamatan maritim Indonesia. Selanjutnya penguatan diplomasi Indonesia di dunia Internasional diwujudkan dengan partisipasi aktif Indonesia dalam forum maritim regional dan global, penempatan wakil Indonesia di

Organisasi Internasional bidang kemaritiman dan diterimanya inisiatif dan posisi Indonesia dalam Perjanjian Internasional.

Pada 2020, capaian Kemenko Marves terkait Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia dapat dideskripsikan dalam capaian atas Indeks Kedaulatan Maritim dan Efektivitas Diplomasi.

a. Indeks Kedaulatan Maritim

Capaian Indeks Kedaulatan Maritim diperoleh berdasarkan capaian Tingkat Kepastian Kewilayahan (TKW), Tingkat Keamanan dan Ketahanan Maritim (TKKM), dan Tingkat Keselamatan Maritim (TKM).

1. Tingkat Kepastian Kewilayahan (TKW) yaitu terwujudnya kepastian hukum kewilayahan Indonesia dan terjaganya kepentingan nasional di luar yurisdiksi Indonesia. TKK ini dibentuk oleh 2 (dua) komponen yaitu: a) Persentase Zona maritim dan regulasi yang telah ditetapkan; b) Persentase posisi kepentingan Indonesia yang terakomodir di dalam regulasi perairan dan dasar laut internasional

2. Tingkat Keamanan dan Ketahanan Maritim (TKKM) terbentuk dari persentase indikator yang mendukung antara lain peningkatan penyelesaian kasus pelanggaran kedaulatan maritim, peningkatan sumber daya kelautan dan perikanan dan peningkatan antusias pada pekerjaan di sektor maritim.

3. Tingkat Keselamatan Maritim (TKM) terbentuk oleh tiga nilai indikator keselamatan maritim, yaitu: keandalan sarana bantu navigasi pelayaran, keselamatan aktivitas pelayaran, dan penanganan kecelakaan maritim.

Indeks kepemimpinan maritim dihitung dengan menggunakan formula: IKM = 30%TKW + 35%TKKM + 35%TKM.

Penghitungan nilai IKM, TKKM dan TKM sebagaimana pada lampiran 4. Penghitungan nilai Indeks Kedaulatan Maritim sebagai berikut:

IKM = 30%TKW + 35%TKKM + 35%TKM

= 30%.83,56 + 35%.50 + 35%.89,62 = 73,94% ≈ 3 (Berdaulat)

Selanjutnya, dilakukan konversi sehingga diperoleh nilai Indeks Kedaulatan Maritim sebesar 3.

Persentase Nilai Keterangan 0 < x ≤ 25 1 Kurang Berdaulat 25 < x ≤ 50 2 Cukup Berdaulat 50 < x ≤ 75 3 Berdaulat

x > 75 4 Sangat Berdaulat b. Nilai Efektivitas Diplomasi Maritim

Efektivitas Diplomasi Maritim diukur dengan tingkat partisipasi aktif Indonesia dalam forum maritim regional dan global, penempatan wakil Indonesia di organisasi internasional bidang kemaritiman, dan diterimanya inisiatif dan posisi Indonesia dalam Perjanjian Internasional. Perhitungan nilai masing-masing komponen dalam Efektivitas Diplomasi Maritim sebagaimana pada lampiran 4. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka nilainya diketahui setelah dilakukan pembobotan sebagaimana pada tabel berikut.

Tabel 4. Total Nilai Efektivitas Diplomasi Maritim Tahun 2020

No Komponen Nilai (A) Bobot (B) Nilai dengan Pembobotan (A x B)

1 Partisipasi Aktif Indonesia dalam Forum

Maritim Regional dan Global 91,67 60% 55

2 Penempatan Wakil Indonesia di Organisasi

Internasional Bidang Kemaritiman 0 20%

0

3 Diterimanya Inisiatif dan Posisi Indonesia

dalam Perjanjian Internasional 100 20%

20

Total Nilai Efektivitas Diplomasi Maritim 75

Berdasarkan perhitungan yang telah dijabarkan di atas, perolehan nilai Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia (IKMI) adalah:

IKMI = Indeks Kedaulatan Maritim (60%) + Efektivitas Diplomasi Maritim (40%) = 73,94 (60%) + 75 (40%)

= 74,36 ≈ 3

Selanjutnya, dilakukan konversi sehingga diperoleh nilai Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia sebesar 3 dari target capaian >=3

Tabel 5. Capaian Kinerja SS.1

No IKU Bobot Target Realisasi Capaian

1 Indeks Kepemimpinan Maritim

(Maritime Leadership Index) 7.14 >=3 3 100%

Capaian Indikator SS.1 100%

Persentase Nilai Keterangan 0 < x ≤ 25 1 Kurang Efektif 25 < x ≤ 50 2 Cukup Efektif 50 < x ≤ 75 3 Efektif

x > 75 4 Sangat Efektif

Nilai 3 menunjukkan bahwa indeks kepemimpinan maritim Indonesia berada pada kategori efektif. Perbandingan dari capaian ini tidak dapat dilakukan mengingat penghitungan indeks ini baru pertama kali dilakukan, sehingga tahun 2019 tidak ada data yang tersedia, sedangkan target akhir tahun 2024 dengan nilai >=3, untuk dilakukan perbandingan seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 6. Perbandingan Capaian dan Target Indikator 1

No IKU Realisasi

2019

Realisasi

2020 Tahun 2024 1 Indeks Kepemimpinan Maritim (Maritime

Leadership Index) Nilai N/A 3 >=3

Tercapainya target indeks kepemimpinan maritim menunjukkan keberhasilan Kemenko Marves dalam mendorong tercapainya kondisi Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim dengan mandiri dan memiliki kedaulatan penuh. Ini artinya, negara mampu menguasai dan mengatur sumberdaya maritim yang dimilikinya, mampu mengendalikan campur tangan asing dan memanfaatkannya untuk kemakmuran bangsa dan negara. Capaian ini harus terus dilakukan secara konsisten melalui kegiatan-kegiatan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembangunan sehingga kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang dapat terwujud.

➢ Keterkaitan dan Kontribusi Capaian Sasaran Strategis terhadap RPJMN 2020-2024 Penetapan SS.1 dengan IKU Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia memberikan kontribusi pada agenda pembangunan 7 RPJMN 2020-2024, yakni Memperkuat Stabilitas Polhukhankam dan Transformasi Pelayanan Publik. Lebih lanjut dijabarkan pada arah kebijakan dan strategi pada optimalisasi kebijakan luar negeri yaitu 1) Meningkatkan peran Indonesia di tingkat regional dan global melalui peningkatan inisiasi/posisi Indonesia yang diterima di tingkat regional dan global; 2) Peningkatan dan intensifikasi efektivitas penyelesaian perbatasan dan percepatan pemetaan batas negara.

Selain itu, aspek ketahanan maritim pada Indeks Kedaulatan Maritim merupakan turunan dari Agenda Pembangunan 1 RPJMN 2020-2024 yakni Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan. Sasarannya adalah peningkatan pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan.

Selanjutnya, aspek keselamatan maritim merupakan bagian dari Agenda Pembangunan 5 RPJMN 2020-2024 yakni Memperkuat Infrastruktur untuk Mendukung Pembangunan Ekonomi dan Pelayanan Dasar. Sasarannya adalah meningkatnya konektivitas wilayah dan peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi.

➢ Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor pendukung pencapaian kinerja terkait Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Diantara Faktor pendukung internal adalah adanya kepemimpinan, koordinasi, dan kerja sama tim yang baik di lingkup unit kerja eselon I maupun lintas eselon I. Hal ini akan memberikan pengaruh dalam pencapaian target baik oleh internal Kemenko Marves maupun ke Kementerian/Lembaga di bawah kooordinasi Kemenko Marves. Sedangkan faktor pendukung eksternal adalah adanya koordinasi dan kerja sama yang baik antar Kementerian/Lembaga di bawah koordinasi Kemenko Marves.

Adapun yang menjadi faktor penghambat dalam pencapaian target kinerja Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia adalah adanya pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 berdampak pada terbatasnya kegiatan yang dapat dilaksanakan baik penyelenggaraan sidang internasional maupun proses persiapannya. Dampak

lainnya yaitu adanya pemotongan anggaran kegiatan Kemenko Marves karena pemerintah harus melakukan refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19.

SS.2 merupakan tolak ukur tingkat pertumbuhan perekonomian maritim untuk mewujudkan pengelolaan semua aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan, serta lahan di atas daratan yang menggunakan bahan baku dari wilayah pesisir dan lautan sebagai penggerak perekonomian nasional. Perwujudan dari SS ini, diukur dengan menggunakan Indikator Kinerja Utama PDB Maritim. Data resmi PDB maritim diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan penghitungan dan hasil survei yang dilakukan.

Pengertian dari PDB adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Sementara ekonomi kemaritiman dapat didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang secara langsung dan/atau tidak langsung terjadi di kawasan perairan (yang meliputi laut teritorial, perairan kepulauan, dan perairan pedamanan zona ekonomi ekslusif Indonesia, serta perairan lainnya termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil), dan kegiatan di luar kawasan perairan yang memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan yang berasal dari perairan, serta kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa untuk dimanfaatkan di perairan. Sehingga PDB Maritim adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh unit produksi yang tercakup dalam ekonomi maritim.

Mengingat dinamika Tahun 2020 yang sangat tinggi dimana terjadi Pandemi Covid-19, maka pada tahun 2020 BPS tidak melakukan penghitungan terhadap indikator kinerja utama ini. Namun demikian, tugas dan fungsi Kemenko Marves dalam mendorong tercapainya target PDB maritim tetap terus dilakukan melalui berbagai kegiatan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian pembangunan di bidang kemaritiman dan investasi walaupun sulit untuk mencapai angka ideal yang diharapkan. Sehingga, untuk mengetahui kontribusi PDB maritim Tahun 2020,

digunakan data estimasi kontribusi PDB maritim terakhir yang dihitung oleh LIPI yakni data Tahun 2019.

Penetapan target sebesar 6,31 berdasarkan pendekatan penghitungan yang dilakukan oleh BPS yakni dengan menentukan definisi dan sektor-sektor (klaster) yang masuk dalam ekonomi maritim yaitu: 1) Perikanan; 2) Energi dan sumber daya mineral; 3) Sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil; 4) Sumber daya non konvensional; 5) Industri bioteknologi; 6) Industri kemaritiman; 7) Jasa kemaritiman; 8) Pariwisata; 9) Perhubungan; 10) Bangunan laut; 11) Pertahanan, keamanan, penegakan hukum, dan keselamatan di laut. Dari klaster tersebut, maka dipetakan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang dipresentasikan sebagai aktivitas ekonomi pada masing-masing sektor yang masuk dalam penghitungan. Konsep dan definisi ekonomi maritim masih berdasar KBLI 2015 karena KBLI 2020 baru saja dikeluarkan BPS. Penghitungan estimasi Kontribusi PDB Maritim Tahun 2019 oleh LIPI juga menggunakan pendekatan yang sama namun dengan cakupan KBLI yang berbeda.

Terkait itu, agar data capaian kinerja tetap selaras dengan data target kinerja yang ditetapkan, maka target kinerja perlu dilakukan penyesuaian, yakni menggunakan data yang memiliki arsitektur yang sama. Data yang paling logis digunakan adalah data PDB Maritim Tahun 2017 yang dihasilkan dari kajian Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI yakni 10,44 karena merupakan tahun dasar dalam penentuan target awal.

Penghitungan nilai estimasi Kontribusi PDB maritim oleh P2E LIPI masih menggunakan parameter awal (initial parameter) untuk mendapatkan hasil estimasi 2019, parameter perlu disesuaikan dan ditinjau kembali secara berkala. Estimasi penghitungan ini menggunakan updated parameter, data dan perbaikan model guna mendapatkan hasil estimasi yang lebih presisi dan secara metodologi lebih kredibel. Hasil penghitungan capaian kinerja IKU sebagaimana pada tabel 7.

Tabel 7. Capaian Kinerja SS.2

No IKU Bobot Target Realisasi Capaian

2 PDB Maritim 5,19 10,44 10,27*) 98,4%

Capaian Kinerja SS 2 98,4%

Berdasarkan data P2E LIPI, Kontribusi PDB maritim mengalami penurunan dari tahun 2017 dari angka 10,44% menjadi 10,41% pada tahun 2018 dan kemudian menjadi 10,27% pada tahun 2019. Penurunan tersebut seperti terlihat pada Gambar 6.

Adapun kontribusi sektoral kemaritiman terhadap PDB maritim, terlihat pada Gambar 7 di bawah ini:

Gambar 6 Pertumbuhan PDB Nasional dan PDB Maritim, serta Kontribusi PDB Maritim Terhadap Nasional

Perbandingan dengan data 2024 belum dapat dilakukan karena tidak relevan terkait pendekatan perhitungan yg berbeda.

SS3. bertujuan untuk mewujudkan suatu kondisi negara dengan jatidiri yang kuat sehingga tangguh dalam menghadapi persaingan dunia yang semakin mengglobal. Jati diri ini ditunjukkan dengan daya saing yang dimiliki sebagai salah satu sumber dari ketahanan negara dalam menghadapi tantangan dalam membangun peradaban bangsa. Peradaban dibangun melalui kekuatan ekonomi, politik, dan budaya yang unggul.

Capaian SS ini diukur dengan IKU Nilai Indeks Daya Saing Global (IDSG) yang menggambarkan kemampuan negara untuk menyediakan kemakmuran tingkat tinggi bagi warga negaranya. Hal ini tergantung dari seberapa produktif sebuah negara menggunakan sumber daya yang tersedia. Nilai indeks ini dikeluarkan oleh World Bank dan terdiri dari dua belas pilar daya saing yaitu:

1. Institutions (kelembagaan)

2. Appropriate infrastructure (infrastruktur yang tepat)

3. A stable macroeconomic framework (kerangka ekonomi makro yang stabil) 4. Good health and primary education (kesehatan yang baik dan pendidikan

dasar)

5. Higher education and training (pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi) 6. Efficient goods markets (pasar yang efisien)

7. Efficient labor markets (pasar tenaga kerja yang efisien) 8. Developed financial markets (pasar keuangan yang maju)

9. The ability to harness the benefits of existing technologies (kemampuan untuk memanfaatkan keuntungan dari teknologi yang sudah ada)

10. And its market size, both domestic and international (ukuran pasar, baik domestik dan internasional)

11. By producing new and different goods using the most sophisticated production processes (memproduksi barang baru dan berbeda dengan menggunakan proses produksi yang paling canggih)

12. Innovation (inovasi)

Dari 12 pilar Global Competitiveness Index 4.0 framework yang menjadi indikator penilaian indeks daya saing setiap negara, Kemenko Marves mendorong capaian melalui pilar ke-2 yang kemudian dibagi menjadi 2 sub indikator penilaian yaitu transport infrastructure dan utility infrastructure.

Pada tahun 2020, laporan IDSG ditunda oleh World Economic Forum dan

sebagai gantinya WEF hanya menerbitkan special report untuk menjelaskan

langkah-langkah recovery ekonomi akibat Pandemi Covid-19. Sehingga data yang

digunakan sebagai capaian kinerja Tahun 2020 adalah data IDSG tahun 2019. Indeks Daya Saing Global Indonesia dilaporkan sebesar 64.629 Score pada 2019. Rekor ini turun dibanding sebelumnya yaitu 64.935 Score untuk 2018. Data Indeks Daya Saing Global Indonesia diperbarui tahunan, dengan rata-rata 64.629 Score dari 2017 sampai 2019, dengan 3 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 64.935 Score pada 2018 dan rekor terendah sebesar 63.488 Score pada 2017.

Tabel 8. Capaian Kinerja SS.3

No IKU Bobot Target Realisasi Capaian

3 Indeks Daya Saing Global (IDSG) 5,19 64,6 64,6*) 60,37

Capaian Kinerja SS 3 60,37

Tabel 9. Perbandingan Capaian dan Target Indikator 3

No Indikator Capaian Target

2024 2017 2018 2019 2020

3 Indeks Daya Saing Global (IDSG) 63.488 61.935 64,629 64,629* 66

Realisasi IDSG tahun 2020 yaitu 64,6 dari target nilai 64,6 (60,37%). Nilai tersebut menempatkan Indonesia berada di peringkat 58 dari 142 negara. Sementara peringkat daya saing global dalam Global Competitiveness Index tahun

2019 peringkat Indonesia jauh lebih baik yaitu peringkat 50. Meskipun turun dari segi peringkat, secara keseluruhan aspek yang dinilai, skor Indonesia hanya turun 0,3 poin dengan total nilai skor keseluruhan 64,6 poin. Tahun 2024 ditargetkan capaian atas IKU ini adalah 66.

Nilai Indonesia kembali merosot 25,5 poin, sedangkan negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, Singapura pada peringkat kedua dengan nilai 81, Malaysia diperingkat 34 dengan nilai 53, Philpina satu tingkat di bawah Indonesia dengan nilai 38. Berikut urutan peringkat dari capaian IDSG.

Beberapa faktor yang dinilai sebagai kendala antara lain:

a. Faktor internal: kondisi Indonesia yang belum ramah investasi disebabkan regulasi dan birokrasi yang terlalu rumit,

b. Faktor eksternal: negara-negara saingan Indonesia semakin agresif menawarkan kemudahan untuk berinvestasi serta adanya pandemi Covid 19.

Beberapa upaya yang dilakukan Kemenko Marves untuk meningkatkan peringkat IDSG diantaranya:

1. Koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian terhadap proyek-proyek strategis pemerintah dan juga proyek prioritas sebagai upaya dalam mendukung peningkatan indeks daya saing infrastruktur.

2. Upaya percepatan-percepatan dan mengawal proyek strategis Nasional dan juga proyek-proyek yang tertuang dalam dokumen RPJMN 2020-2024 agar berjalan sesuai rencana dan target pembangunan;

3. Koordinasi dan sinkronisasi kemudahan dan penyederhanaan regulasi dalam rangka meningkatkan daya Tarik investasi di Indonesia.

Dengan capaian IDSG ini menunjukkan Indonesia sebagai negara yang memiliki daya saing yang kuat dan dapat menjaga pertumbuhan ekonominya, sehingga ke depannya diharapkan dapat mulai membangun kehidupan negara yang teratur sehingga terwujud sebuah peradaban. Ke depan upaya dalam mendorong peningkatan IDSG harus terus didorong melalui kegiatan-kegiatan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian di bidang infrastruktur sebagai salah satu pilar IDSG.

Tujuan yang ingin dicapai dari SS.4 yaitu mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri mengelola lautnya serta aktif di forum internasional. Tercapainya SS.4 ini diukur dengan indikator Indeks Kedaulatan Maritim yang diperoleh berdasarkan capaian Tingkat Kepastian Kewilayahan, Tingkat Keamanan dan Ketahanan Maritim, dan Tingkat Keselamatan Maritim. Capaian Indeks Kedaulatan Maritim 2020 dihitung dengan formula:

IKM = 30%TKW + 35%TKKM + 35%TKM

Berdasarkan hasil perhitungan nilai TKW, TKKM, dan TKM sebagaimana pada lampiran 5, maka perhitungan IKM sebagai berikut:

= 30%.83,56 + 35%.50 + 35%.89,62 = 73,94% ≈ 3 (Berdaulat)

Selanjutnya, dilakukan konversi sehingga diperoleh nilai Indeks Kedaulatan Maritim sebesar 3 dengan status berdaulat.

Persentase Nilai Keterangan

0 < x ≤ 25 1 Kurang Berdaulat

25 < x ≤ 50 2 Cukup Berdaulat

50 < x ≤ 75 3 Berdaulat

x > 75 4 Sangat Berdaulat

Dengan demikian capaian SS.4 sebagaimana pada tabel berikut Tabel 80. Capaian Kinerja SS.4

No IKU Bobot Target Realisasi Capaian

4 Indeks Kedaulatan Maritim 5,19 3 3 100

Capaian Kinerja SS 4 100

Tercapainya target SS.4 ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang mampu mengelola lautnya dan merupakan negara yang aktif di forum internasional. Perbandingan capaian indeks ini antara tahun 2020 dan tahun 2019 mencapai 3, sedangkan target akhir (tahun 2024) dengan nilai 4.

Tabel 1. Perbandingan Capaian dan Target Indikator 4

No IKU Realisasi 2019 Realisasi 2020 Target 2024

4 Indeks Kedaulatan Maritim 3 3 4

➢ Keterkaitan dan Kontribusi Capaian Sasaran Strategis terhadap RPJMN 2020-2024 Penetapan sasaran strategis Teguhnya Jati Diri Indonesia sebagai Negara Maritim Yang Mandiri dan Berdaulat dengan Indikator Kinerja Utama Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia memberikan kontribusi pada agenda pembangunan 7 RPJMN 2020-2024, yakni Memperkuat Stabilitas Polhukhankam dan Transformasi Pelayanan Publik. Lebih lanjut dijabarkan pada arah kebijakan dan strategi optimalisasi kebijakan luar negeri dengan meningkatkan peran Indonesia di tingkat regional dan global melalui peningkatan inisiasi/posisi Indonesia yang diterima di tingkat regional dan global serta peningkatan dan intensifikasi efektivitas penyelesaian perbatasan dan percepatan pemetaan batas negara.

Selain itu, aspek ketahanan maritim pada Indeks Kedaulatan Maritim merupakan turunan dari Agenda Pembangunan 1 RPJMN 2020-2024 yakni Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan dengan sasaran peningkatan pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan. Selanjutnya, aspek keselamatan maritim merupakan bagian dari Agenda Pembangunan 5 RPJMN 2020-2024 yakni Memperkuat Infrastruktur untuk Mendukung Pembangunan Ekonomi dan Pelayanan Dasar dengan sasaran meningkatnya konektivitas wilayah dan peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi.

➢ Faktor Pendukung dan Penghambat

Adapun faktor pendukung pencapaian kinerja terkait Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Diantara faktor internal adalah adanya kepemimpinan, koordinasi, dan kerja sama tim yang baik di lingkup unit kerja eselon I maupun lintas eselon I sehingga dapat

memberikan pengaruh dalam pencapaian target baik oleh internal Kemenko Marves maupun ke Kementerian/Lembaga di bawah kooordinasi Kemenko Marves. Faktor eksternal yang mendukung pencapaian target kinerja Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia adalah adanya koordinasi dan kerja sama yang baik antar Kementerian/Lembaga di bawah koordinasi Kemenko Marves.

Adapun faktor penghambat dalam pencapaian target kinerja Indeks Kepemimpinan Maritim Indonesia adalah adanya Pandemi Covid-19 yang berdampak pada terbatasnya kegiatan yang dapat dilaksanakan baik penyelenggaraan sidang internasional maupun proses persiapannya. Selain itu, sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam melakukan refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19 berdampak pada pemotongan anggaran kegiatan Kemenko Marves.

Tujuan dari SS.5 yaitu mewujudkan pemerataan pembangunan dan mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah. Upaya tersebut dapat diwujudkan dengan menurunkan biaya pengiriman barang, memangkas disparitas harga bahan pokok antar wilayah, serta memeratakan pertumbuhan ekonomi antar wilayah. Hal ini dapat dilaksanakan diantaranya dengan meningkatkan konektivitas dan kinerja logistik yang akan menjamin kelancaran arus barang. Kebijakan yang dilakukan adalah meningkatkan konektivitas antar wilayah melalui strategi:

• Menurunkan biaya logistik nasional yang memperlancar arus barang dan berdampak pada pemerataan

• Menyediakan Infrastruktur yang mendukung konektivitas wilayah

Sasaran strategis ini didukung oleh 2 IKU yaitu Indeks Kinerja Logistik dan

Dalam dokumen LAPORAN KINERJA TAHUN 2020 (Halaman 37-100)

Dokumen terkait