Pada transaksi leasing jenis ini lessee yang membutuhkan barang menentukan sendiri jenis serta spesifikasi barang yang dibutuhkan. Lessee juga mengadakan negosiasi langsung dengan supplier mengenai harga, syarat-syarat perawatan serta lain-lain hal yang berhubungan dengan pengoperasian barang tersebut. Kemudian
lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut
kepada supplier dan setelah itu barang tersebut diserahkan kepada
lessee. Sebagai imbalan atas jasa penggunaan barang tersebut maka lessee akan membayar secara berkala kepada lessor sejumlah uang
Pada akhir masa lease, lessee mempunyai hak pilih untuk membeli barang tersebut seharga nilai sisanya, mengembalikan barang tersebut kepada lessor atau juga mengadakan perjanjian
leasing lagi untuk tahap yang kedua atas barang yang sama. Capital lease sendiri sebenarnya dapat dikategorikan lagi menjadi
dua macam :
a). Direct capital lease
Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumnya belum pernah memiliki barang yang dijadikan obyek lease. Pada dasarnya transaksi leasing jenis ini sama dengan transaksi capital lease yang telah diterangkan di atas.
b). Sale and lease back
Sesuai dengan namanya, dalam transaksi ini lessee menjual barang yang sudah dmilikinya kepada lesor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan suatu kontrak leasing antara lessor dan
lessee.
2) Operating Lease (Sewa guna usaha tanpa hak opsi)
Pada transaksi leasing jenis ini, lessor membeli barang dan kemudian menyewakannya kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Pada prakteknya lessee membayar uang secara berkala yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah dikeluarkan oleh lessor. Disini secara jelas tidak
ditentukan adanya nilai sisa serta hak opsi lessee. Setelah masa lease berakhir, lessor merundingkan kemungkinan dilakukannya kontrak
lease yang baru dengan lessee yang sama atau juga lessor mencari
calon lessee yang baru. Pada operating lease ini biasanya lessor bertanggungjawab mengenai perawatan barang tersebut.Barang-barang yang sering digunakan dalam operating lease ini biasanya barang-barang yang mempunyai nilai tinggi seperti alat-alat berat, traktor, mesin-mesin, dan sebagainya.
3) Leverage lease
Leverage lease ini adalah merupakan capital lease. Namun di
dalam pelaksanaannya leverage lease ini jauh lebih kompleks serta melibatkan pihak ke tiga. Selain dari pada lessee dan lessor, ada juga pihak ke tiga yang disebut sebagai credit provider .
Lessor tidak membiayai barang tersebut hingga sebesar 100 %
dari harga barang melainkan hanya antara 20% hingga 40%. Kemudian sisa dari harga barang tersebut akan dibiayai oleh pihak ketiga. Biasanya leverage lease ini dilakukan terhadap barang-barang yang mempunyai nilai yang tinggi.
4) Cross border lease
Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan dengan melewati batas suatu Negara. Dengan demikian antara lessor dan leasse terletak pada dua negara yang
berlebihan. Cross border lease ini saat ini banyak dilakukan di negara-negara maju seperti di Eropa atau di Amerika Serikat. Barang-barang atau peralatan yang ditransaksikan dalam cross
border lease ini juga meliputi nilai jutaan dollar seperti misalnya
pesawat terbang jet. Pemerintah indonesia hingga saat ini belum mengizinkan adanya transaksi cross border lease ini.
c. Kriteria Penggolongan Sewa Guna Usaha
Menurut standar akuntansi keuangan (2004:30,6), suatu transaksi sewa guna usaha akan dkelompokan sebagai capital lease apabila dipenuhi semua kriteria berikut ini :
1) Penyewa sewa guna usaha (lessee) memilki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewagunausahakannya pada akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.
2) Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewa guna usaha ditambah dengan nilai sisa mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang disewagunausahakan serta bunganya, sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha (full payout
lease).
3) Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) tahun.
Sedangkan menurut Keputusan Mentri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 tanggal 27 November 1991, Kegiatan sewa guna usaha dengan hak opsi apabila memenuhi semua kriteria berikut :
1) Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha pertama ditambah dengan nilai sisabarang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan
lessor.
2) Masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2(dua) tahun barang modal Golongan I,3 (tiga) tahun untuk barang modal golongan II dan III dan 7 (tujuh) tahun untuk golongan bangunan. 3) Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi
lessee.
Dari kedua ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya suatu transaksi dapat dikatakan sebagai transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease) apabila memenuhi syarat :
1) Adanya hak opsi bagi lessee untuk membeli barang yang disewagunakan
2) Masa sewa guna usahanya sama atau melebihi 75% dari taksiran umur ekonomis aktiva yang disewagunausahakan.
3) Pembayaran sewa guna usahanya selama masa sewa guna usaha pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor.
d. Perlakuan Akuntansi Oleh Penyewa Guna Usaha (Lessee) 1) Berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi komersial yaitu :
Menurut standar akuntansi keuangan (2004:30.7) perlakuan akuntansi oleh lessee atas transaksi capital lease adalah sebagai berikut :
a) Transaksi sewa guna usaha diperlakukan dan dicatat sebaga aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa sewa guna usaha sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus di bayar oleh penyewa sewa guna usaha pada akhir sewa guna usaha. Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha di alokasikan dan dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban bungan berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban penyewa guna usaha.
b) Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran sewa guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh perusahaan sewa guna usaha atau tingkat bunga yang berlaku pada waktu masa sewa guna usaha.
c) Aktiva yang disewagunausahakan harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar berdasarkan taksiran masa manfaatnya.
d) Kalau aktiva yang disewagunausahakan dibeli sebelum akhirnya masa sewa guna usaha, maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan dengan sisa kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan.
e) Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka panjang sesuai dengan praktik yang lazim untuk jenis usaha penyewa guna usaha.
f) Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sales
and lease back) maka transaksi tersebut harus diperlakukan
sebagai dua transaksi yang terpisah yaitu transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. Selisih antara harga jual dan nilai buku aktiva yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan harus dilakukan secara professional dengan biaya amortisasi aktiva yang disewagunausahakan apabila leaseback merupakan capital lease atau secara professional dengan biaya sewa apabila leaseback merupakan operating lease.
2) Berdasarkan ketentuan pajak a) Pajak penghasilan
Menurut Keputusan Mentri Keuangan RI No.1169/KMK. 01/1991 tentang kegiatan sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi, pada pasal 16 :
a).1. Perlakuan pajak penghasilan bagi lessee adalah sebagai berikut :
1) Selama masa sewa guna usaha, lessee tidak boleh melakukan penyusutan atas barang modal yang disewagunausahakan, sampai saat lessee menggunakan opsi untuk membeli
2) Setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut, lessee melakukan penyusutan dan dasar penyusutan adalah nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan. 3) Pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang oleh
lessee kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto lessee sepanjang transaksi sewa guna usaha tersebut memenuhi ketentuan dalam pasal 3 keputusan ini.
a).2 Lessee tidak memotong pph pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi
b) Pajak Pertambahan Nilai
Pajak pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas bertambahnya nilai barang dan jasa yang dihasilkan atau diserahkan oleh pengusaha Kena Pajak baik pengusaha yang menghasilkan barang kena pajak, mengimpor barang kena pajak, melakukan usaha perdagangan, atau pengusaha yang melakukan usaha bidang jasa kena pajak.
Dalam sewa guna usaha dengan hak opsi (financial lease), ada dua jenis penyerahan yaitu penyerahan barang kena pajak dan
penyerahan jasa kena pajak. Dalam Keputusan Mentri Keuangan RI No.1169/KMK.01/1991 pasal 15 disebutkan bahwa atas penyerahan jasa kena pajak pada transaksi financial lease, dikecualikan dan pengenaan pajak pertambahan Nilai. Sedangkan dalam pasal 1 huruf b angka 1 Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, disebutkan bahwa penyerahan barang kena pajak karena perjanjian leasing adalah penyerahan yang dikenakan PPN. Yang menjadi soal adalah siapa diantara lessee dan lessor yang berhak untuk mengkreditkan pajak masukan PPN. Dengan perkataan lain, nama dan NPWP siapa yang tercantum daam faktur pajak. Oleh karna barang modal tersebut digunakan oleh lessee dalam produksi, maka dialah yang berhak mengkreditkan pajak masukan.