BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.3. Cara-cara Menstabilkan Lereng
Penanggulangan longsor yang dilakukan bersifat pencegahan sebelum longsor terjadi pada daerah potensial dan stabilisasi, setelah longsor terjadi jika belum runtuh total. Penanggulangan yang tepat pada kedua kondisi diatas dengan memperhatikan penyebab utama longsor, kondisi pelapisan tanah dan juga aspek geologinya.
Langkah yang umum dalam menangani longsor antara lain: pemetaan geologi topografi daerah yang longsor, pemboran untuk mengetahui bentuk pelapisan tanah/batuan dan bidang gelincirnya, pemasangan piezometer untuk mengetahui muka air atau tekanan air porinya, dan pemasangan slope indicator untuk mencari bidang geser yang terjadi. Selain itu dilakukan pula pengambilan tanah tidak terganggu, terutama pada bidang geser untuk dipelajari besar kekuatan tahanan gesernya. Ada beberapa cara untuk menstabilkan lereng yang berpotensi terjadi kelongsoran. Pada prinsipnya ada dua cara yang dapat digunakan untuk menstabilkan suatu lereng, yaitu:
1. Memperkecil gaya penggerak atau momen penyebab longsor. Gaya atau momen penyebab longsor dapat diperkecil dengan cara merubah bentuk lereng, yaitu dengan cara:
a. Merubah lereng lebih datar atau memperkecil sudut kemiringan b. Memperkecil ketinggian lereng
c. Merubah lereng menjadi lereng bertingkat (multi slope)
2. Memperbesar gaya lawan atau momen penahan longsor. Gaya lawan atau momen penahan longsor dapat diperbesar dengan beberapa cara yaitu:
a. Menggunakan counter weight yaitu tanah timbunan pada kaki lereng. Cara ini mudah dilaksanakan asalkan terdapat tempat dikaki lereng untuk tanah timbunan tersebut.
b. Dengan mengurangi air pori di dalam lereng.
c. Dengan cara mekanis yaitu dengan memasang tiang pancang atau tembok penahan tanah.
Berdasarkan kaidah teknik penambangan yang baik pada Kepmen 1827 K nilai FK kestabilan lereng mengacu pada:
Tabel 2.1.
Nilai Faktor Keamanan dan Probabilitas Lereng Tambang
Berdasarkan studi literatur diperoleh bahwa lereng stabil dengan nilai faktor keamanan > 1,25 (M. Adli Fikri, 2018). Analisis kestabilan lereng mengacu pada:
Tabel 2.2.
Nilai FK Lereng
Nilai FK Keadaan Lereng/Kejadian Longsor FK < 1,07 Tidak Aman (Longsor)
FK 1,07 - FK <1,25 Kritis
FK > 1,25 Aman
Sumber : M. Adli Fikri (2018)
2.1.4. Menghitung Faktor Keamanan Lereng
1. Metode Bishop Dengan Software Rockscience Slide 6.0
Bishop adalah metode untuk menganalisis kestabilan lereng dengan memperhitungkan gaya-gaya antar irisan yang ada, yang berbentuk busur lingkaran. Metoda bishop disederhakan bahwa gaya-gaya yang bekerja pada sisi-sisi irisan mempunyai resultan nol pada arah vertikal. Persamaan kuat geser dalam tinjauan tegangan efektif yang dapat dikerahkan tanah, hingga tercapainya kondisi keseimbangan batas dengan memperhatikan faktor aman (Bishop, 1955).
Untuk membantu menentukan faktor keamanan lereng pada penelitian ini digunakan program Slide 6.0. Perhitungan analisis kestabilan lereng dengan program ini memerlukan data-data yang diketahui lebih dahulu yaitu parameter geser tanah (kohesi, sudut geser dalam dan berat isi tanah) dan geometri lereng (tinggi dan sudut kemiringan lereng). Dalam penelitian nantinya akan digunakan metode Bishop untuk pada program slide.
Adapun langkah-langkah atau cara menggunakan program Slide 6.0 sebagai berikut:
a. Buka program Slide 6.0
b. Klik analisis, pilih project settings, pilih metode yang digunakan.
c. Klik boundaries, pilih add external boundary, masukan koordinat (x, y) untuk membuat lereng.
d. Klik properties, pilih define materials, masukan nama materials, masukan jenis material yaitu berupa kohesi, sudut geser dalam dan berat isi tanah.
e. Klik surfaces, pilih auto grind.
f. Klik analysis, pilih compute, klik yes, lalu save.
g. Untuk melihat hasilnya klik analysis, pilih interpret.
2. Slice Methode
Metode ini adalah salah satu metode yang berdasarkan prinsip kesetimbangan batas yang dikembangkan oleh Morgenstern dan Price pada tahun 1965, dimana proses analisanya merupakan hasil dari kesetimbangan setiap
gaya-gaya normal dan momen yang bekerja pada tiap irisan dari bidang kelongsoran lereng tersebut baik gaya.
Sumber : Bambang Surendro (2015)
Gambar 2.1. Gaya yang Bekerja pada Irisan Bidang Kelongsoran
Berikut ini adalah asumsi atau perhitungan yang digunakan untuk mencari faktor keamanan dengan menggunakan metode Slice yaitu sebagai berikut:
Berikut ini adalah cara untuk mencari gaya ke bawah yang bekerja pada pusat berat pias (W) yang terdapat pada gambar.
...(2.1) Sumber : Bambang Surendro (2015)
Keterangan:
B = perkiraan bidang longsor (m) H = tinggi lereng (m)
γ = berat isi tanah (ton/m3)
Dari pencarian gaya ke bawah dari setiap pias (18) dapat diketahui gaya normal (ton) gaya tangensial (ton) dan nilai faktor keamanan dengan menggunakan metode slice.
...(2.2)
...(2.3)
Sumber : Bambang Surendro (2015) Keterangan:
N = gaya normal merupakan gaya yang bekerja tegak lurus pada bidang longsor dan merupakan gaya penahan longsor.
T = gaya tangensial merupakan gaya yang bekerja sejajar pada bidang longsor dan merupakan gaya pelongsor.
L = panjang busur (m)
W = gaya ke bawah yang bekerja pada pusat berat pias (ton) = sudut kemiringan pias (°)
C = Kohesi
= sudut geser dalam 2.1.5. Longsor
Longsor adalah salah satu tipe gerakan massa batuan dan tanah menuruni lereng akibat gaya gravitasi bumi. Klasifikasi massa batuan digunakan untuk evaluasi kemantapan suatu lereng harus memperhatikan berbagai model longsoran yang tentunya diatur oleh karakteristik kekar. Macam-macam tipe longsoran akibat kekar sebagai berikut:
1. Longsoran Busur (Circular Failur)
Longsoran busur banyak terjadi pada material yang bersifat tanah (over burden, waste dan batuan lapuk), dengan sistem kekar yang rapat dan tidak mempunyai pola struktur. Bentuk bidang gelincir pada longsoran busur, sesuai dengan namanya, akan menyerupai busur bila digambarkan pada penampang melintang.
Sumber: Irwndy Arif (2016)
Gambar 2.2. Skema Longsoran Busur atau Circular Failure.
2. Longsoran Bidang (Plane Failure)
Longsoran bidang relatif jarang terjadi. Namun, jika ada kondisi yang menunjang terjadinya longsoran bidang, longsoran yang terjadi mungkin akan lebih besar (secara volume) daripada longsoran lain. Longsoran ini terjadi karena kemiringan bidang kekar rata-rata hampir atau searah kemiringan lereng ataupun disebabkan oleh adanya kekar dan juga patahan yang dapat menjadi bidang luncur.
Sumber: Irwndy Arif (2016)
Gambar 2.3. Skema Longsoran Bidang (Plane Failure).
3. Longsoran Baji (Wedge Failure)
Longsoran baji merupakan jenis longsoran yang sering terjadi di lapangan. Sama halnya dengan longsoran bidang, longsoran baji juga diakibatkan oleh adanya struktur geologi yang berkembang. Perbedaan pada longsoran baji
adalah adanya perpotongan dua bidang kekar yang mempunyai kemiringan ke arah kemiringan lereng.
Sumber: Irwndy Arif (2016)
Gambar 2.4. Skema Longsoran Baji (Wedge Failure).
4. Longsoran Guling (Toppling Failure)
Longsoran Guling umumnya terjadi pada lereng terjal dan pada batuan keras, dimana bidang lemahnya berbentuk kolom. Longsoran ini biasanya terjadi bila kemiringan bidang lemahnya berlawanan dengan kemiringan lereng.
Sumber: Irwndy Arif (2016) Gambar 2.5. Skema Longsoran Guling.
2.1.6. Sifat Fisik dan Mekanik Tanah
Tanah terbentuk dari hasil pelapukan batuan dan tumbuhan. Tanah dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu tanah non-kohesif, tanah kohesif, dan tanah organik. Pada tanah non kohesif, antar butirannya saling lepas (tidak ada ikatan), pada tanah kohesif butirannya sangat halus dan saling mengikat, sedangkan tanah organik punya ciri tanahnya lemah dan mudah ditekan.
Tanah yang termasuk non kohesif antara lain kerikil, pasir, dan lumpur.
Jenis tanah kohesif yang banyak ditemui adalah lempung dengan ukuran butir sekitar 0.005 mm. Butiran tanah lempung sulit dipisahkan dari ayakan/saringan, karena sampai saat ini belum dapat dibuat suatu saringan dengan diameter 0.005 mm. Untuk mengetahui ukuran butir lempung, ditentukan dengan berdasarkan pengamatan kecepatan endap.
Ada tiga masalah pada tanah yaitu masalah keseimbangan atau stabilitas tanah, masalah perubahan bentuk, dan masalah pengeringan. Untuk itu perlu diketahui sifat-sifat dari tanah tersebut karena sangat penting dalam perencanaan suatu tambang. Selain sifat tanah tidak kalah penting yaitu batas atterberg (liquid limit, plastis limit, dan indeks plastis), dan ukuran butir.
1. Sifat Fisik a. Bobot Isi Tanah
Bobot isi tanah adalah perbandingan antara berat suatu massa tanah dalam keadaan kering mutlak dengan volumenya. Pengujian bobot isi tanah dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Bahan dan alat
a) Cincin uji dengan diameter 6 cm dan tinggi 2 cm b) Pisau pemotong
c) Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram 2) Langkah kerja
a) Timbang cincin dengan keadaan bersih ( W1)
b) Benda uji di siapkan dengan menekan cincin pada tabung sampai cincin terisi penuh
c) Ratakan kedua permukaan dan bersihkan cincin sebelah luar.
d) Timbang cincin dan contoh dengan ketelitian 0,01 gram (W2).
e) Hitung volume tanah dengan mengukur ukuran dalam cincin dengan ketelitian 0,01 cm.
Untuk mencari volume cincin menggunakan persamaan :
V = π.r2.t ………...………...…...(2.4)
Sumber: Bambang Surendro (2015)
Keterangan:
V = volume cincin π = 3,14
r = jari-jari t = tinggi
Untuk mencari berat tanah menggunakan persamaan :
Ws = W2 – W1………...……...…...…(2.5)
Untuk mencari bobot isi tanah menggunakan persamaan:
γ = ………...………...(2.6)
Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan, dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan gesernya makin besar.
Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitu pengujian spesific grafity, kuat geser langsung (direct shear strength test) dan pengujian triaxial. Sedangkan sudut geser dalam merupakan sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan geser di dalam material tanah atau
batuan. Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.
Untuk mencari kohesi dan sudut geser dalam digunakan persamaan:
C=6,717+0,018(IP)+2,583(Gs)...(2.7) φds = 3,857-1,487(PI)+0,064(LL)...(2.8)
Sumber : Renold Pangidoan Rambel (2016)
Keterangan : (Plasticity Limit), dan Batas Susut (Shrinkage Limit). Persamaan mencari nilai Indeks Plastis (IP) dalam menentukan kohesi dan sudut geser dalam yaitu harus
LL = batas cair terkoreksi untuk tertutupnya alur pada 25 pukulan (%).
Wn = kadar air (%).
2. Batas Plastis (Plastis Limit)
Plastis Limit (PL) adalah kadar air terendah dimana tanah mulai bersifat plastis. Dalam hal ini sifat plastis ditentukan berdasarkan kondisi dimana tanah yag digulung dengan telapak tangan, diatas kaca mulai retak setelah mencapai
W1 = Berat piknometer (gram).
2.2. Profil Perusahaan
2.2.1. Sejarah PT Bintang Sukses Energi Site MAL
PT Bintang Sukses Energi (PT BSE) adalah sebuah perusahaan kontraktor penambangan swasta nasional yang bergerak dibidang kontraktor penambangan batubara dengan kantor pusat berada di Tanggerang Selatan. Salah satu site perusahaan PT BSE berada di Desa Kaliberau, Kecamatan Bayung Lencir Provinsi Sumatera Selatan dan kantor perwakilan berada di Jambi. Berdiri pada pada tahun 2014 untuk melakukan penambangan di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Manggala Alam Lestari (PT MAL). Batubara PT MAL digunakan untuk menyuplay kebutuhan batubara PLTU PT DSSP Power Sumsel yang berada dekat dengan tambang. PT MAL dan PT DSSP Power Sumsel berada dibagian struktur perusahaan PT Gold Energy Mines (GEMS) Tbk dimana sahamnya sebagian besar dimiliki oleh PT Sinarmas.
Gambar 2.6. PT Bintang Sukses Energi Site MAL
2.2.2. Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Kegiatan operasi produksi batubara PT BSE didasarkan melalui perizinan oleh pihak owner yaitu PT MAL. PT MAL telah memperoleh Izin Usaha Pertambangan berdasarkan SK Bupati Musi Banyuasin No. 1259 Tahun 2009 Tanggal 11 September 2009. Kemudian direvisi Keputusan Bupati Musi Banyuasin No. 1417 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Keputusan Bupati No.
1259 Tahun 2009 Tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi kepada PT MAL dengan wilayah perjanjian kerja seluas 4.540 Ha.
Kemudian direvisi menjadi SK Bupati Musi Banyuasin No. 1417 Tahun 2012, periode berlaku dari tanggal 4 Juli 2014 s.d 07 Maret 2021.
Perpanjangan pertama IUP Operasi Produksi Batubara No.
0615/DPMPTSP.V/X/2018 masa berlaku tanggal 16 Oktober 2018 s.d 15 Oktober 2028 dengan luasan 4.563 Ha dengan kode wilayah KW.21.1606.303.2018.031 yang lokasi pertambangannya berada di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara dan mempunyai kepedulian penuh terhadap aspek lingkungan, khususnya di dalam wilayah kegiatan operasi perusahaan, PT MAL telah melakukan penyusunan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan), dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) yang telah disetujui Badang Lingkungan Hidup dan Penelitian Pengembangan Kabupaten Musi Banyuasin No. 975 Tahun 2007 tertanggal 26 September 2007.
2.2.3. Lokasi Kesampaian Daerah
Lokasi tambang PT BSE berada di Desa Kaliberau, Kecamatan Bayung Lencir Provinsi Sumatera Selatan. Jika dilihat dari google maps berada dekat dengan kota Jambi. Dari kota Padang Sumatera Barat menuju lokasi berjarak 547 km dengan waktu tempuh prediksi google maps 13 jam dengan kondisi jalan normal (tidak ramai). Akan tetapi pada aktualnya waktu tempuh jika naik kendaraan umum bus bisa sampai 20 jam. Rute perjalanan dari Kota Padang – Kota Solok – Sijunjung – Darmasraya – Muaro Bungo – Bangko - Sarolangun – Tembesi Setelah – Kota Jambi – Bayung Lencir.
Sumber : Google Earth (2019)
Gambar 2.7. Lokasi Kesampaian Daerah 2.2.4. Iklim dan Curah Hujan
1. Iklim
Iklim yang dimiliki PT BSE sama dengan iklim yang ada di Indonesia khususnya Sumatera. Memiliki iklim tropis basah dengan kelembaban dan tempratur tinggi, yaitu berkisar antara 18º C sampai dengan 36,5º C.
2. Curah Hujan
Secara umum daerah operasi produksi seperti daerah-daerah lainya di Indonesia beriklim tropis, yang bertemperatur panas dan lembab sepanjang tahun.
Dari data curah hujan pada tabel dibawah ini didapatkan dari pengukuran curah hujan yang dilakukan selama 4 tahun terakhir dari 2016 sampai dengan 2019 oleh departement engineering perusahaan pada pit Donggang PT BSE.
Tabel 2.3.
Data Curah Hujan Dan Hari Hujan (mm/Bulan)
No Bulan Curah Hujan Hari Hujan
1 Januari 224,6 15
2 Februari 352,6 18
3 Maret 363,8 20,75
4 April 445,8 20
5 Mei 299,7 17,5
6 Juni 196,6 12,25
7 Juli 81,8 7,25
8 Agustus 141,3 6,75
Judul Analisis Stabilitas Lereng Pada Pit Tambang Air Laya Barat Section C-C’ PT Bukit Asam (Persero) Tbk., Sumatera Selatan Penulis M. Adli Fikri, Jurnal Bina Tambang, Vol. 1 No. 2, 2018, Pg 1-17.
Metode
Data penelitian terdiri atas data sekunder. Data meliputi informasi umum perusahaan, desain rencana pit penambangan, data cross section lereng, data deskripsi perlapisan tanah dan batuan, data parameter sifat fisik dan mekanik tanah dan batuan, dan data nilai konstanta kegempaan pada lokasi penelitian. Penelitian ini menguji analisis kestabilan lereng aktual single slope, intermediate slope, dan overall slope pada penampang C-C’ di pit Tambang Air Laya Barat PT Bukit Asam (Persero) Tbk. dengan metode Janbu., dan analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak (software) Geostudio 2018 Slope/w 30 days trial version.
Lereng yang memenuhi nilai kemamputerimaan atau ambang batas, yang pada penelitian ini didasarkan atas rekomendasi Bowles (1989), ditunjukkan oleh tabel di bawah ini.
Tabel 1. Design Acceptance Kriteria Untuk Single Slope dan Overall Slope
Nilai FK Keadaan Lereng/Kejadian Longsor
FK , 1,07 Tidak Aman (Longsor)
1,07 < FK 1,25 Kritis
FK . 1,25 Aman
Hasil
A. Sifat Tanah Batuan
Tabel 2. Nilai Parameter Material Tanah dan Batuan Lereng Tambang Air Laya
Boring point
& rock layer
Slope stability parameter
Density Lab Test Description Rock Mass
Classification Description
Overburden 20.41 100.56 24.94 Clayer
B. Analisis Kestabilan Lereng Aktual
Tabel 3. Nilai Faktor Keamanan Penampang C-C’
Jenis Lereng Elevasi (m)
Dari hasil analisa modifikasi lereng, penulis merekomendasikan agar dilakukan perubahan geometri lereng dengan sudut kemiringan lereng dari 190 menjadi 110 dan tinggi dari 85m ke 76m. Lereng single slope elevasi +57 ke +13 yang awalnya hanya dibuat satu single slope diubah menjadi tiga single slope dengan elevasi masing-masing +55 ke +42, +42 ke +29, dan +29 ke +13.
Tabel 5. Perbadingan Faktor Keamanan Sebelum dan Sesudah Keadaan Jenis Lereng Elevasi (m) Sudut
(o) FK
Judul Analisis Kestabilan Lereng Pit B Tambang PT. Miyor Pratama Coal, Desa Kumanis Atas Kec. Talawi, Sawahlunto Sumatera Barat
Penulis Refky Adi Nata, Alexander, Promine Journal, Vol. 7 No. 1, 2019, Pg 15-19.
Metode
Metode yang digunakan yaitu dengan data :
Penelitian dilakukan melalui tahapan survey tinjau, observasi lapangan untuk mengumpulkan data primer, dan didukung oleh data sekunder dalam pengolahan dan analisa data. Langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian dapat dilihat melalui Gambar 3 diagram alir penelitian.
A
A
Hasil
A. Klasifikasi massa batuan
Tabel 1. Hasil Rekapitulasi Data Massa Batuan
No Parameter RMR Hasil Yang
3. Kondisi Kekar Pajang Kekar
Lebar Barisan
6. Orientasi Kekar Lereng Memperhitungkan -5
Nilai Bobot RMR 46
Kelas Masa Batuan Kelas III (Sedang)
(60-11) Pengolahan Data
Analisa Data
Kelas Massa Batuan &
Faktor Kemaan Lereng Pit B
B. Faktor Keamanan Lereng
1. Nilai faktor keamanan lereng pit B Metode Bishop
Gambar 1. Faktor Keamanan dengan Metode Bishop
2. Nilai faktor keamanan lereng pit B PT. Miyor Pratama Coal
Gambar 2. Faktor Keamanan dengan Metode Janbu
3. Jurnal 3
Judul Pengaruh Morfologi Dan Sifat Material Terhadap Kestabilan Lereng di Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo
Penulis Supandi, dkk, Jurnal Teknologi Technoscientia, Vol. 10 No. 1, 2017, Pg 84-91.
Metode
Tahap penelitian meliputi:
1.Studi pustaka, intepretasi citra dan penelitian geologi struktur lapangan, pengukuran data struktur & topografi, pengambilan contoh batuan dan tanah.
2. Analisa laboratoium: analisis kelerengan, struktur geologi, hidrogeologi, analisis sifat-sifat intrinsik tanah dan batuan berpengaruh pada terjadinya tanah longsor.
3. Evaluasi hasil dan rekomendasi.
Metoda yang digunakan dalam analisis longsoran pada penelitian ini adalah metode irisan. Metode telah digunakan untuk analisis kestabilan dari suatu lereng dan cukup diakui terbukti kehandalannya. Kekuatan geser material yang tersedia untuk menahan material sehingga lereng tidak longsor dinyatakan dalam kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb sebagaimana persamaan (1).
Hasil
Hasil dan Pembahasan :
A. Pengukuran dilakukan menggunakan
theodolit. Hasil pengukuran lerengdisajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Koordinat dan Geometri Lereng Terpilih
B. Pengujian sampel
Tabel 2. Nilai Sifat Intrinsik Material Tanah Penyusun Lereng
Tabel 3. Nilai Sifat Intrinsik Material Batuan Penyusun Lereng
Tabel 4. Hasil Analisis Kesetabilan Lereng
Gambar 1. Hasil Analisis Pada Lokasi 1
4. Jurnal 4
Judul Pengaruh Fraksi Lempung Terhadap Nilai Kohesi dan Indeks Plastisitas
Penulis Renold Pangidoan Rambel, dkk, JRSDD, Vol. 4 No. 2, 2016, Pg 205-214.
Metode
Sampel penelitian dibedakan atas beberapa fraksi lempung dengan besaran persentase fraksi lempung 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% (A, B, C, D, E, dan F). Sebelum pengujian utama yakni pengujian analisa saringan, batas Atterberg, Direct Shear terendam dan tidak terendam. Metode pencampuran antara pasir dan lempung
menggunakan beberapa alat yakni, pan besar spoon, dan saringan no.
40. Prosedur pencampuran sampel dimulai dengan menyaring sampel lempung dan pasir dengan saringan no. 40 sebanyak 2500 gram untuk lempung dan pasir sebanyak 2500 gram untuk masing- masing variasi.
Selanjutnya sampel kedalam wadah kedap udara (plastic sheet) dan menunggu selama 24 jam. Hal ini bertujuan agar kadar air merata dalam sampel. Sampel tanah yang diuji menggunakan material pasir yang disubstitusi dengan tanah lempung. Kondisi tanah dibedakan atas dua kondisi yakni undistubed soil untuk lempung dan disturbed soil untuk pasir. Sampel tanah lempung yang digunakan dari desa Belimbing sari kecamatan Jabung, Lampung Timur dengan titik koordinat 105o 39’10.74”T dan 5o 31’ 44.26”S. Sedangkan pasir yang digunakan sebagai bahan substitusi pada penelitian ini yaitu pasir dari daerah Gunung Sugih Provinsi Lampung. Pengujian sifat fisik masing- masing terdiri dari 1 sampel tanah. Sebelum pengujian utama yakni pengujian analisa saringan, batas Atterberg, Direct Shear Test tanah dibedakan menjadi dua kondisi yakni dengan tanpa perendaman dan 4 hari. Pengujian utama masing- masing terdiri dari 3 sampel tanah (Adha, 2008).
Hasil
1. Sifat fisik
Tabel 1. Hasil Pengujian Sifat Fisik Pasir
Tabel 2. Hasil Pengujian Sifat Fisik Tanah Lempung (Soft Clay)
Tabel 3. Hasil Pengujian analisa Saringan
Gambar 1. Hasil Aalisa Saringan Pasir Subtitusi Lempung
Tabel 4. Klasifikasi Tanah Berdasarkan Distribusi Ukuran Saringan
2. Direct Shear Test
Pengujian terdiri atas dua kondisi yakni perendaman 0 dan 4 hari. Pengujian penjenuhan bertujuan untuk melihat pengaruh kejenuhan tanah terhadap nilai kohesi dan sudut geser. Kondisi sampel pada pengujian ini disesuaikan dengan kadar air optimum sesuai hasil uji pemadatan.
Tabel 6. Hasil Pengujian Kuat Geser Langsung Pada Masing- masing Campuran
Tabel 7. Hasil Pengujian Kuat Geser Langsung Dengan Perendaman 4 Hari
3. Korelasi Sifat-Sifat Fisik Tanah dengan Sudut Geser Tanah dan Kohesi
c = 0,078+0,022 IP + 0,34 Fc
Tabel 8. Rekapitulasi Korelasi Dengan Regresi Linier Berganda
Gambar 2. Korelasi, Indeks Plastisitas, Fraksi Lempung, Gs, LL, dan PL
Rumus :
φds = 37,739 – 0,444 (PI) – 38,058 (FC)
Tabel 9 . Rekapitulasi Korelasi φds, PI, Fc, Gs, LL, dan PL
Gambar 3. Φds, Indeks Plastisitas, Fraksi Lempung, Gs, LL, dan PL
5. Jurnal 5
Judul Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Slice-Wise Faktor Keamaan
Penulis Yu Zhao, dkk, Hindawi Publishing Corporation, Vol. 712 No.
145, 2014, Pg 1-6
Metode
A. Solusi Faktor Keseluruhan Keselamatan. Faktor keamanan dari seluruh lereng juga ditentukan oleh rasio jumlah antisliding kekuatan untuk jumlah geser berlaku pada permukaan tergelincir ::
Metode untuk analisis stabilitas lereng diusulkan dalam makalah ini dapat memenuhi semua kondisi keseimbangan kekuatan dan momen. Dibandingkan dengan metode kesetimbangan batas konvensional, metode dapat memperoleh tidak hanya faktor dari
Tabel 1. Faktor Keamanan Lereng Dengan Permukaan Tergelincir Melingkar Dihitung Dengan Metode Berbeda
Hasil
A. Lereng dengan Edaran slip permukaan. Contoh perhitungan permukaan tergelincir melingkar yang menunjukkan profil dari lereng dan parameter dari massa tanah.
Gambar 1. Diagram Perhitugan Lereng Dengan Permukaan Gelicir Melingkar
Gambar 2. Faktor Keselamatan Irisan Sepanjang Permukaan Gelincir Melingkar
Tabel 2. Paramter Tanah
Menurut metode yang diusulkan, pertama kita harus memecahkan nilai λ dengan persamaan . Kemiringan ini terdiri dari massa tanah, dan dengan demikian ketinggian garis dorong dari setiap slice sama dengan 1/3 dari tinggi profil slice ini, . Ada dua
solusi untuk persamaan dan
(2) λ 2 = 0,82783. Untuk yang pertama, faktor keselamatan seluruh lereng adalah 0,968; untuk yang kedua, faktor yang sesuai keselamatan adalah 0,996. Dua faktor keamanan yang kurang dari 1,0 menunjukkan lereng tidak stabil. Oleh karena itu, pasukan antisliding antara irisan harus diberikan secara maksimal dan kita harus memilih yang lebih besar λ 2 = 0,82783 dan faktor yang sesuai keselamatan dari lereng sebagai 0,996. Gambar 3 plot distribusi faktor sepotong-bijaksana keselamatan sepanjang permukaan slip saat λ = 0,82783.
B. Lereng dengan Polylines slip permukaan. Contoh perhitungan permukaan polylines slip
Gambar menunjukkan profil dari lereng dan parameter massa tanah, masing-masing. Kemiringan ini terdiri dari
Gambar menunjukkan profil dari lereng dan parameter massa tanah, masing-masing. Kemiringan ini terdiri dari