• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN…

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada PT BSE Site MAL yang merupakan salah satu perusahaan kontraktor penambangan batubara terbuka di Kec. Bayung Lencir Kab. Musi Banyuasin, Prov. Sumatera Selatan dan pengolahan data dilakukan di laboratorium Petro STTIND Padang. Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan dilapangan pada 31 Desember 2019 sampai dengan 06 Januari 2020 dan pengujian laboratorium 03 sampai 04 Februari 2020.

a. Variabel Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang diteliti maka variabel penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi material lereng akhir penambangan pada lereng HW PT BSE Site MAL.

2. Nilai faktor keamanan lereng akhir peambangan pada lereng HW PT BSE Site MAL.

3. Dimensi lereng yang ideal pada lereng akhir penambangan PT BSE Site MAL.

3.4. Jenis dan Sumber Data 1. Data Primer

Data primer merupakan data yang didapat dari hasil pengamatan dan pengukuran langsung oleh penulis. Data tersebut adalah :

a. Dimensi Lereng Akhir Penambangan b. Pengambilan Sample Tanah,

c. Ketebalan Material Lereng HW d. Peta Kesampaian Daerah literatur, data perusahaan, dan penelitian-penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan analisis kesetabilan lereng, data tersebut antara lain :

a. Koordinat IUP PT BSE Site MAL b. Peta Situasi

c. Data Curah Hujan

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah pengambilan data secara langsung di lapangan dan data-data yang sudah ada. Urutan pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Pengambilan data dimensi lereng dengan melakukan survey menggunakan total station dan melalui peta update situasi tambang.

2. Pengambilan data koordinat sampel tanah dan ketebalan meterial penyusun lereng HW pada lereng akhir penambangan menggunakan GPS.

3. Data pembuatan peta geologi, peta iup, peta topografi, dan peta kesampaian daerah didapatkan dari koordinat IUP yang diperoleh dari perusahaan.

4. Data peta situasi, dan data curah hujan didapatkan dari arsip perusahaan.

3.6. Teknik Pengolahan Data 1. Pengujian Sampel

Untuk mendapatkan nilai faktor keamanan lereng terlebih dahulu dilakukan pengujian laboratorium. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan nilai parameter yang dibutuhkan menghitung faktor kemanan yaitu bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi.

a. Pengujian Sifat Fisik

Pengujian sifat fisik tanah untuk mencari nilai bobot isi tanah dengan mengguakan persamaan 2.4, 2.5, dan 2.6.

b. Pengujian Sifat Mekanik

Uji sifat mekanik untuk mendapatkan nilai sudut geser dalam dan kohesi dengan persamaan 7 dan 8. Sebelum itu untuk mendapatkan parameter yang dibutuhkan dilakukan pengujian laboraturium sebagai berikut:

1) Pengujian Atterberg

Pengujian Atterberg yang dilakukan yaitu Uji Plastis Limit (PL) dan Uji Liquid Limit) bertujuan untuk mendapatkan nilai Indek Plastis (IP). Pada pengujian ini digunakan persamaan 2.9, 2.10, dan 2.11.

2) Specific Gravity

Pengujian untuk mendapatkan nilai specific gravity (Gs) dilakukan untuk memenuhi parameter dalam mencari nilai kohesi. Untuk mencari nilai specific gravity (Gs) digunakan persamaan 2.12.

3.7. Teknik Analisa Data

1. Menganalisa Faktor Keamanan Lereng

Setelah nilai bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi didapatkan dari pengolahan data dengan mengacu pada SNI 1964, 1966, dan 1967 tahun 2008 maka dilakukan analisa nilai FK lereng dari dimensi lereng dengan:

a. Metode Bishop Dengan Software Rocsciene Slide 6.0

Analisa faktor keamanan lereng mengguakan bantuan software Rocsciene Slide 6.0 dengan metode bishop. Data yang digunakan yaitu model

dari dimensi lereng dan parameter bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi dari sample tanah.

b. Metode Slice

Analisa nilai FK lereng dilakukan secara manual tanpa software dengan persamaan 2.1, 2.2, dan 2.3. Data yang dibutuhkan model dari dimensi lereng dan parameter bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi dari sample tanah.

c. Kepmen 1827 K

Mengimplementasikan analisa nilai FK dengan standar ketetapan Kepmen 1827 K (2018) pada hasil analisa nilai FK dan desain lereng ideal.

2. Analisis Desain Dimensi Lereng Ideal

Cara untuk mendesain lereng ideal dilakukan dengan memperkecil gaya dan memperbesar tahanan. Cara yang dilakukan dengan merekayasa lereng aktual dengan merubah dimensi lereng aktual sebagai berikut :

a. Memperkecil Ketinggian Lereng b. Memperlebar Bench

c. Mengurangi sudut kemiringan lereng

Setelah dilakukan perubahan dimensi lalu model tersebut dilakukan uji coba atau simulasi untuk mendapatkan nilai FK dengan bantuan software Rocsciene Slide 6.0 dan parameter bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi dari sample tanah.

3.8. Kerangka Metodologi

Adapun langkah-langkah penelitian yang digunakan penulis dapat dilihat pada kerangka metodologi berikut :

Studi Pustaka

2. Terjadi rekahan pada lereng timbunan atau disposal dan lereng HW Pit Donggang.

2. Menganalisis faktor keamanan lereng akhir penambangan pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL.

3. Menganalisis dimensi lereng akhir penambangan yang ideal pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL.

A

a. Uji Atterberg dan Specific Gravity (Gs):

5) Menentukan nilai LL dengan persamaan 2.9.

6) Menentukan nilai PL dengan persamaan 2.10.

7) Menentukan nilai IP dengan persamaan 2.11.

8) Menentukan nilai Gs dengan persamaan 2.12.

b. Menentukan nilai sudut geser dalam dengan persamaan 2.8.

c. Menentukan nilai kohesi dengan persamaan 2.7.

Kesimpulan dan Saran Analisa Pengolahan Data

1. Nilai bobot isi, sudut geser dalam, dan kohesi berdasarkan sifat fisik dan mekanik material pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL.

2. Faktor keamanan lereng akhir penambangan pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL.

3. Desain dimensi lereng akhir penambangan yang ideal pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL.

45

BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1. Pengumpulan Data

Data-data yang didapatkan pada saat penelitian yang dilakukan di PT. BSE Site MAL adalah:

4.1.1. Data Primer 1. Sampel Tanah

Pengambilan sampel tanah di PT BSE Site MAL dilakukan dilokasi HW (High Wall) dan diambil sample tanah sebanyak 7 berdasarkan lapisan tanah penyusun lereng. Sampel tanah dapat dilihat pada gambar.

(a) (b) (c) Gambar 4.1. Sampel Tanah

Pada gambar diatas merupakan dokumentasi pengambilan sample material penyusun lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL. Gambar (a) adalah pengambilan koordinat sample, gambar (b) adalah pengambilan sample dengan menggunakan pipa, dan gambar (c) adalah tujuh sample penyusun lereng HW PT BSE Site MAL.

45

2. Data koordinat pengambilan sampel

Data koordinat sampel tanah ini berupa data koordinat X, Y,dan Z didaerah penelitian, data ini diambil menggunakan GPS. Kegiatan pengambilan data koordinat sampel dapat dilihat pada gambar.

Gambar 4.2. Pengambilan Koordinat Sampel Tanah

Gambar diatas merupakan dokumentasi penulis saat proses pengambilan koordinat sample dengan menggunakan bantuan GPS. Pengambilan koordinat sample dilakukan disetiap lapisan material penyusun lereng HW PT BSE Site MAL. Berikut ini tabel data pengambilan koordinat sample:

Tabel 4.1.

Data Koordinat Pengambilan Saampel Tanah

No Kode Sample X Y Z (Mdpl)

1 S1 365294 9758459 25.04

2 S2 365286.8 9758426 23.85

3 S3 365276.5 9758368 10.87

4 S4 365257.4 9758340 3.31

5 BL6 365253 9758327 -1.3

6 IB 365248.9 9758316 -2.3

7 BL5 365294 9758315 -14

Pada tabel terdapat tujuh kode sample yang digunakan untuk perlapisan material penyusun lereng HW PT BSE Site MAL. Pengukuran koordinat dalam bentuk UTM yang mencakupi longtitude, altitude, dan elevation. Kode sample diberikan berdasarkan urutan lapisan sample tanah penyusun lereng dimana S1 merupakan lapisan tanah paling atas atau top soil, S2 merupakan lapisan tanah kedua, S3 merupakan lapisan tanah ketiga, S4 merupakan lapisan tanah keempat, BL6 merupakan lapisan batubara seam BL6, IB merupakan lapisan interburden antara batubara seam BL6 dan seam BL5, dan BL5 merupakan lapisan batubara seam BL5.

3. Data Pengukuran Ketebalan Material

Pengukuran ketebalan material ini bertujuan untuk mengetahui ketebalan dari material yang menyusun lereng. Data ketebalan material ini digunakan dalam acuan pengambilan sample dan penginputan jenis material pada saat pengolahan data nanti. Berikut data pengukuran ketebalan material penyusun lereng HW PT

7 BL5

365294 9758315 -15

2 365565 9758240 -17

Pengukuran ketebalan material dilakukan dengan menggunakan GPS dan mengukur masing-masing ketebalan dari tujuh lapisan material penyusun lereng HW PT BSE Site MAL. Data tersebut kemudian dimasukan kedalam software rockwork guna memodelkan ketebalan dan bentuk lapisan material penyusun lereng HW PT BSE Site MAL. Model ketebalan dan bentuk lapisan lereng HW dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.3. Material Penyusun Lereng HW PT BSE

Pada gambar diatas merupakan hasil dari pemodelan bentuk lapisan material penyusun lereng HW PT BSE Site MAL dengan software Rockwork.

Jenis material lapisan dapat dilihat berdasarkan warna dan kode yang diberikan yaitu S1, S2, S3, S4, BL6, IB, dan BL5. Untuk ketebalan juga dapat dilihat pada gambar yang sudah dilengkapi dengan keterangan ketebalan.

4. Data Pengukuran Muka Air Tanah

Pengukuran muka air tanah dilakukan di lereng HW PT BSE Site MAL pada koordinat 36532/97584/20 yang merupakan lubang bor geoteknik bekas PT MAL yang dilakukan oleh PT KIM. Pengukuran dilakukan 3 kali pada hari yang berbeda namun didapatkan hasil yang sama yaitu kedalaman muka air tanah pada level 18.6 mdpl.

Gambar 4.4. Pengukuran Tinggi Muka Air Tanah

4.1.2. Data Sekunder

Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini berguna untuk melengkapi data yang dibutuhkan dalam pengolahan data. Data sekunder didapat dari arsip perusahaan berupa:

1. Peta Situasi

Peta situasi PT BSE didapatkan dari arsip-arsip perusahaan yang digunakan untuk melihat situasi tambang di PT BSE dan melihat bentuk topo yang terupdate.

Data ini nantinya digunakan juga dalam pembuatan cross section untuk mendapatkan dimensi lereng. Peta situasi dapat dilihat pada lampiran 1.

2. Data Curah Hujan

Data curah hujan PT BSE didapatkan dari arsip-arsip perusahaan dan data ini nantinya digunakan untuk mengetahui tingkat curah hujan. Jika curah hujan tinggi maka dapat mempengaruhi gaya beban pada lereng dan mempengaruhi faktor keamanan lereng akibat jenuh air. Data curah hujan dapat dilihat pada lampiran.

3. Koordinat IUP

Koordinat IUP didapatkan dari arsip perusahaan dan digunakan penulis sebgai salah satu data pembuatan Peta IUP, Peta Topografi, dan Peta Geologi PT BSE Site MAL. Data koordinat IUP dapat dilihat pada lampiraan.

4.2. Pengolahan Data 4.2.1. Uji Sifat Fisik

Uji sifat fisik pengujianya dilakukan di laboratorium bertujuan untuk mengetahui nilai bobot isi tanah yang dilakukan seperti langkah-langkah yang telah dijelaskan pada Bab 2. Sedangkan untuk pengolahan data menggunakan persamaan 2.4, 2.5, dan 2.6. Hasil pengolahan pengujian bobot isi tanah dapat dilihat pada tabel 4.3:

Tabel 4.3.

Hasil Pengujian Bobot Isi Tanah (γ)

No Kode S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5

Dari pengolahan sebanyak tujuh jenis sample didapatkan nilai bobot isi S1 17,6 KN/m3, S2 20.43 KN/m3, S3 17.66 KN/m3, S4 17.37 KN/m3, BL6 10.9 KN/m3, IB 15.85 KN/m3, dan BL5 10.59 KN/m3.

4.2.2. Uji Sifat Mekanik

Uji sifat mekanik bertujuan untuk mendapatkan nilai indeks plastisitas (IP), kohesi (c), dan sudut geser dalam (φ) menggunakan persamaan 2.9, 2.10, dan 2.11. Uji sifat mekanik dilakukan dengan uji atterberg yakni dilakukan pengujian Liquid Limit (LL) danPlastis Limit (PL).

1. Pengujian Liquid Limit (LL)

Pada pengujian Liquid Limit (LL) dilakukan langkah-langkah seperti SNI 1967 (2008) dan untuk pengolahan menggunakan persamaan 2.9. Data pengujian Liquid Limit (LL) dapat dilihat pada Lampiran, dan grafik Liquid Limit (LL) pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan yang berbeda dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S1 seperti tabel 4.4. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S1 dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.5. Hasil Pengujian LL S1

Pada gambar 4.5. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S1 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S1 pada ketukan ke 25 yaitu 17%.

Pada sample 2 atau S2 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) S2:

Tabel 4.5.

Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) S2

S2 Satuan Pengujian

1 2 3 4

Banyak Pukulan 15 21 32 10

Kadar air (%) % 32.5 38.1 31.6 42.2

Pada tabel dijelaskan pada pengujian S2 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S2 seperti tabel 4.5. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S2 dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.6. Hasil Pengujian LL S2

Pada gambar 4.6. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S2 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S1 pada ketukan ke 25 yaitu 34%.

Pada sample 3 atau S3 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) S3:

Tabel 4.6.

Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) S3

S3 Satuan Pengujian

1 2 3 4

Banyak Pukulan 56 25 11 23

Kadar air (%) % 32.6 31.9 36.2 11.3

Pada tabel dijelaskan pada pengujian S3 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S3 seperti tabel 4.6. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S3 dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.7. Hasil Pengujian LL S3

Pada gambar 4.7. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S3 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S3 pada ketukan ke 25 yaitu 28%.

Pada sample 4 atau S4 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) S4:

Tabel 4.7.

Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) S4

S4 Satuan Pengujian

1 2 3 4

Banyak Pukulan 36 26 14 7

Kadar air (%) % 32.6 34.7 39.2 37.7

Pada tabel dijelaskan pada pengujian S4 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S4 seperti tabel 4.7. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S4 dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.8. Hasil Pengujian LL S4

Pada gambar 4.8. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S4 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S4 pada ketukan ke 25 yaitu 35%.

Pada sample 5 atau BL6 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) BL6:

Tabel 4.8.

Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) BL6

BL6 Satuan Pengujian

1 2 3 4

Banyak Pukulan 41 10 22 12

Kadar air (%) % 51.79 63.9 62.2 40.4

Pada tabel dijelaskan pada pengujian BL6 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) BL6 seperti tabel 4.8. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) BL6 dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.9. Hasil Pengujian LL BL6

Pada gambar 4.9. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) BL6 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) BL6 pada ketukan ke 25 yaitu 54%.

Pada sample 6 atau IB terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) IB:

Tabel 4.9.

Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) IB

IB Satuan Pengujian

1 2 3 4

Banyak Pukulan 41 31 17 15

Kadar air (%) % 30.63 33.6 44.9 45.1

Pada tabel dijelaskan pada pengujian IB dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) IB seperti tabel 4.9. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) IB dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.10. Hasil Pengujian LL IB

Pada grafik 4.6. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) IB dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) IB pada ketukan ke 25 yaitu 39%.

Pada sample 7 atau BL5 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) BL5:

Tabel 4.10.

Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) BL5

IB Satuan Pengujian

1 2 3 4

Banyak Pukulan 10 36 31 8

Kadar air (%) % 53 40.5 44 54.9

Pada tabel dijelaskan pada pengujian BL5 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.

Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) BL5 seperti tabel 4.10. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) BL5 dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.11. Hasil Pengujian LL BL5

Pada gambar 4.11. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) BL5 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) BL5 pada ketukan ke 25 yaitu 46%.

2. Pengujian Plastis Limit (PL)

Pada pengujian Plastis Limit (PL) dilakukan langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan pada Bab 2, dan untuk pengolahan menggunakan persamaan 2.6.

Data pengujian Plastis Limit(PL) dapat dilihat pada tabel:

Tabel 4.11.

Hasil Pengujian Plastis Limit(PL)

Kode Sample Satuan S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5

Nomor Cawan 5 5 5 5 5 5 5

Berat Cawan Gram 14.1 14.1 14.1 14.1 14.1 14.1 14.1 Berat Cawan + Tanah

Basah Gram 15.8 15.6 15.6 15.7 15.5 16.2 15.8 Berat Cawan + Tanah

Kering Gram 15.2 15.4 15.1 15.2 15 15.3 15.2

Berat Air Gram 0.6 0.2 0.5 0.5 0.5 0.9 0.6

Berat Tanah Kering Gram 1.1 1.3 1 1.1 0.9 1.2 1.1 Kadar Air % 54.54 15.38 50 45.45 55.55 75 54.54

Dari pengolahan data didapatkan hasil Plastis Limit(PL) masing-masing dengan persamaan 2.12. Hasil perhitungan nilai Gs dapat dilihat pada tabel:

Tabel 4.13.

4.2.5. Perhitungan Nilai Sudut Geser Dalam dan Kohesi

Dari hasil pengujian sampel tanah yang telah dilakukan, dimasukkan ke persamaan 2.7 dan persamaan 2.8 untuk mendapatkan nilai cohesi dan sudut geser dalam. Hasil nilai Kohesi dan sudut geser dalam dapat dilihat pada tabel:

Tabel 4.14.

Nilai Cohesi (c ) dan Sudut Geser Dalam (θ)

Kode S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5

Φ 60.79 68.2 38.36 21.63 9.62 59.88 9.49

C 9.39 10.48 9.73 10.37 9.09 10.02 9.09

Pada tabel didapatkan nilai sudut geser dalam S1 60,79, S2 68,2, S3 38,36, S4 21,63, BL6 9,62, IB 59,88, dan BL5 9,49. Nilai kohesi S1 9,39, S2 10,48, S3 9,73, S4 10,37, BL6 9,09, IB 10,02, dan BL5 9,09.

BAB V

ANALISA HASIL PENGOLAHAN DATA

5.1. Nilai Bobot Isi, Kohesi, dan Sudut Geser Dalam

Setelah pengumpulan data dan pengolahan data dengan uji sifat fisik dan mekanik di laboratorium, didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 5.1.

Nilai Bobot Isi, Kohesi, dan Sudut Geser Dalam

Kode S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5 berpengaruh pada bobot atau pembebanan lereng berdasarkan material penyusun lereng sehingga semakin tinggi atau berat material maka potensi pergerakan semakin tinggi. Kohesi masuk dalam sifat mekanik tanah dan batuan yang berpengaruh pada gaya tarik menarik antar butir material dimana semakin tinggi kohesi maka gaya tarik menarik antar butir semakin tinggi. Sedangkan sudut geser dalam merupakan sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan geser di dalam material tanah atau batuan. Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.

5.2. Analisis Faktor Keamanan (FK)

1. Metode Bishop Dengan Software Rockscience Slide 6.0

Setelah parameter yang dibutuhkan sudah didapatkan melalui pengujian laboraturium maka data dapat dimasukan pada software Rockscience Slide 6.0.

Untuk dimensi lereng didapatkan dari cross section pada peta situasi tambang dan di import ke software Slide dengan format Dxf. Hasil pengolahan data dengan metode bishop pada lereng HW PT BSE dapat dilihat pada gambar:

61

Gambar 5.1. Nilai FK Cross Section A-A’ Lereng HW Kondisi Kering

Dari pengolahan data didapatkan nilai FK pada kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 1.214. lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan tidak aman Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk.

Gambar 5.2. Nilai FK Cross Section B-B’ Lereng HW Kondisi Kering

Dari pengolahan data didapatkan nilai FK kondisi kering cross section B-B’ adalah 1.9. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan aman.

Gambar 5.3. Nilai FK Cross Section A-A’ Lereng HW Kondisi Jenuh Dari pengolahan data didapatkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’ adalah 0.714. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana

nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan tidak aman.

Gambar 5.4. Nilai FK Cross Section B-B’ Lereng HW Kondisi Jenuh Dari pengolahan data didapatkan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’ adalah 0.870. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan tidak aman.

Pengolahan nilai FK dilakukan pada kondisi kering dan kondisi jenuh.

Kondisi kering adalah dimana kondisi lereng dalam keadaan kering, sedangkan kondisi jenuh dimana kondisi lereng dalam keadaan kenyang air atau basah pada saat musim hujan yang membuat permukaan lereng menjadi run off dari air limpasan. Nilai FK kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 1.214 dan nilai FK kondisi kering cross section B-B’ adalah 1.9. Sedangkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’ adalah 0.714 dan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’ adalah 0.870. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL aman pada saat kering dan tidak aman dalam kondisi jenuh. Lereng akhir penambangan dengan nilai FK tersebut dapat menyebabkan terjadinya longsor pada saat intensitas curah hujan tinggi, sehingga pada saat masuk musim hujan pada lereng HW PT BSE Site MAL dapat terjadi longsor. Oleh sebab itu maka perlu dilakukan perbaikan untuk mendesain dimensi lereng akhir penambangan yang ideal pada lereng HW PT BSE Site MAL.

2. Slice Methode

Untuk mendapatkan FK menggunakan dengan metode slice dilakukan dengan menggambar lereng secara manual dengan skala yang ditentukan dengan kelongsoran berbuntuk curve (lingkaran). Perhitungan manual hanya menghitung nilai FK pada kondisi kering pada cross section A-A’ dan cross section B-B’.

a. Nilai FK kondisi kering cross section A-A’

Diketahui tinggi bidang gelincir lereng 18 m, jarak bidang lincir 3 m.

Dimensi lereng dapat dilihat pada gambar dengan skala 1:5 dan nilai bobot isi, kohesi dan sudut geser dalam dapat dilihat pada tabel 5.1. yang disesuaikan pada gambar. Untuk perhitungan nilai FK sebagai berikut :

Dimensi lereng dapat dilihat pada gambar dengan skala 1:5 dan nilai bobot isi, kohesi dan sudut geser dalam dapat dilihat pada tabel 5.1. yang disesuaikan pada gambar. Untuk perhitungan nilai FK sebagai berikut :

Dokumen terkait