BAB IV. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA…
4.2. Pengolahan Data
4.2.2. Uji Sifat Mekanik
Uji sifat mekanik bertujuan untuk mendapatkan nilai indeks plastisitas (IP), kohesi (c), dan sudut geser dalam (φ) menggunakan persamaan 2.9, 2.10, dan 2.11. Uji sifat mekanik dilakukan dengan uji atterberg yakni dilakukan pengujian Liquid Limit (LL) danPlastis Limit (PL).
1. Pengujian Liquid Limit (LL)
Pada pengujian Liquid Limit (LL) dilakukan langkah-langkah seperti SNI 1967 (2008) dan untuk pengolahan menggunakan persamaan 2.9. Data pengujian Liquid Limit (LL) dapat dilihat pada Lampiran, dan grafik Liquid Limit (LL) pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan yang berbeda dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S1 seperti tabel 4.4. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S1 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.5. Hasil Pengujian LL S1
Pada gambar 4.5. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S1 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S1 pada ketukan ke 25 yaitu 17%.
Pada sample 2 atau S2 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) S2:
Tabel 4.5.
Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) S2
S2 Satuan Pengujian
1 2 3 4
Banyak Pukulan 15 21 32 10
Kadar air (%) % 32.5 38.1 31.6 42.2
Pada tabel dijelaskan pada pengujian S2 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S2 seperti tabel 4.5. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S2 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.6. Hasil Pengujian LL S2
Pada gambar 4.6. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S2 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S1 pada ketukan ke 25 yaitu 34%.
Pada sample 3 atau S3 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) S3:
Tabel 4.6.
Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) S3
S3 Satuan Pengujian
1 2 3 4
Banyak Pukulan 56 25 11 23
Kadar air (%) % 32.6 31.9 36.2 11.3
Pada tabel dijelaskan pada pengujian S3 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S3 seperti tabel 4.6. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S3 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.7. Hasil Pengujian LL S3
Pada gambar 4.7. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S3 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S3 pada ketukan ke 25 yaitu 28%.
Pada sample 4 atau S4 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) S4:
Tabel 4.7.
Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) S4
S4 Satuan Pengujian
1 2 3 4
Banyak Pukulan 36 26 14 7
Kadar air (%) % 32.6 34.7 39.2 37.7
Pada tabel dijelaskan pada pengujian S4 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) S4 seperti tabel 4.7. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) S4 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.8. Hasil Pengujian LL S4
Pada gambar 4.8. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) S4 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) S4 pada ketukan ke 25 yaitu 35%.
Pada sample 5 atau BL6 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) BL6:
Tabel 4.8.
Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) BL6
BL6 Satuan Pengujian
1 2 3 4
Banyak Pukulan 41 10 22 12
Kadar air (%) % 51.79 63.9 62.2 40.4
Pada tabel dijelaskan pada pengujian BL6 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) BL6 seperti tabel 4.8. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) BL6 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.9. Hasil Pengujian LL BL6
Pada gambar 4.9. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) BL6 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) BL6 pada ketukan ke 25 yaitu 54%.
Pada sample 6 atau IB terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) IB:
Tabel 4.9.
Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) IB
IB Satuan Pengujian
1 2 3 4
Banyak Pukulan 41 31 17 15
Kadar air (%) % 30.63 33.6 44.9 45.1
Pada tabel dijelaskan pada pengujian IB dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) IB seperti tabel 4.9. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) IB dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.10. Hasil Pengujian LL IB
Pada grafik 4.6. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) IB dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) IB pada ketukan ke 25 yaitu 39%.
Pada sample 7 atau BL5 terdiri dari empat kali pengujian, berikut ini tabel pengujian Liquid Limit (LL) BL5:
Tabel 4.10.
Hasil Pengujian Liquid Limit (LL) BL5
IB Satuan Pengujian
1 2 3 4
Banyak Pukulan 10 36 31 8
Kadar air (%) % 53 40.5 44 54.9
Pada tabel dijelaskan pada pengujian BL5 dilakukan sebanyak empat kali pengujian, masing-masing pengujian memiliki banyak pukulan dan kadar air yang berbeda.
Dari hasil pengujian Liquid Limit (LL) BL5 seperti tabel 4.10. maka dibuat grafik Liquid Limit (LL) dengan bantuan Ms. Excel guna mendapatkan nilai Liquid Limit (LL) pada ketukan 25. Grafik Liquid Limit (LL) BL5 dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.11. Hasil Pengujian LL BL5
Pada gambar 4.11. hubungan antara kadar air dan banyak pukulan pada pengujian Liquid Limit (LL) BL5 dimana y merupakan nilai kadar air dan x merupakan banyak pukulan. Dari grafik didapatkan nilai Liquid Limit (LL) BL5 pada ketukan ke 25 yaitu 46%.
2. Pengujian Plastis Limit (PL)
Pada pengujian Plastis Limit (PL) dilakukan langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan pada Bab 2, dan untuk pengolahan menggunakan persamaan 2.6.
Data pengujian Plastis Limit(PL) dapat dilihat pada tabel:
Tabel 4.11.
Hasil Pengujian Plastis Limit(PL)
Kode Sample Satuan S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5
Nomor Cawan 5 5 5 5 5 5 5
Berat Cawan Gram 14.1 14.1 14.1 14.1 14.1 14.1 14.1 Berat Cawan + Tanah
Basah Gram 15.8 15.6 15.6 15.7 15.5 16.2 15.8 Berat Cawan + Tanah
Kering Gram 15.2 15.4 15.1 15.2 15 15.3 15.2
Berat Air Gram 0.6 0.2 0.5 0.5 0.5 0.9 0.6
Berat Tanah Kering Gram 1.1 1.3 1 1.1 0.9 1.2 1.1 Kadar Air % 54.54 15.38 50 45.45 55.55 75 54.54
Dari pengolahan data didapatkan hasil Plastis Limit(PL) masing-masing dengan persamaan 2.12. Hasil perhitungan nilai Gs dapat dilihat pada tabel:
Tabel 4.13.
4.2.5. Perhitungan Nilai Sudut Geser Dalam dan Kohesi
Dari hasil pengujian sampel tanah yang telah dilakukan, dimasukkan ke persamaan 2.7 dan persamaan 2.8 untuk mendapatkan nilai cohesi dan sudut geser dalam. Hasil nilai Kohesi dan sudut geser dalam dapat dilihat pada tabel:
Tabel 4.14.
Nilai Cohesi (c ) dan Sudut Geser Dalam (θ)
Kode S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5
Φ 60.79 68.2 38.36 21.63 9.62 59.88 9.49
C 9.39 10.48 9.73 10.37 9.09 10.02 9.09
Pada tabel didapatkan nilai sudut geser dalam S1 60,79, S2 68,2, S3 38,36, S4 21,63, BL6 9,62, IB 59,88, dan BL5 9,49. Nilai kohesi S1 9,39, S2 10,48, S3 9,73, S4 10,37, BL6 9,09, IB 10,02, dan BL5 9,09.
BAB V
ANALISA HASIL PENGOLAHAN DATA
5.1. Nilai Bobot Isi, Kohesi, dan Sudut Geser Dalam
Setelah pengumpulan data dan pengolahan data dengan uji sifat fisik dan mekanik di laboratorium, didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 5.1.
Nilai Bobot Isi, Kohesi, dan Sudut Geser Dalam
Kode S1 S2 S3 S4 BL6 IB BL5 berpengaruh pada bobot atau pembebanan lereng berdasarkan material penyusun lereng sehingga semakin tinggi atau berat material maka potensi pergerakan semakin tinggi. Kohesi masuk dalam sifat mekanik tanah dan batuan yang berpengaruh pada gaya tarik menarik antar butir material dimana semakin tinggi kohesi maka gaya tarik menarik antar butir semakin tinggi. Sedangkan sudut geser dalam merupakan sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan geser di dalam material tanah atau batuan. Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.
5.2. Analisis Faktor Keamanan (FK)
1. Metode Bishop Dengan Software Rockscience Slide 6.0
Setelah parameter yang dibutuhkan sudah didapatkan melalui pengujian laboraturium maka data dapat dimasukan pada software Rockscience Slide 6.0.
Untuk dimensi lereng didapatkan dari cross section pada peta situasi tambang dan di import ke software Slide dengan format Dxf. Hasil pengolahan data dengan metode bishop pada lereng HW PT BSE dapat dilihat pada gambar:
61
Gambar 5.1. Nilai FK Cross Section A-A’ Lereng HW Kondisi Kering
Dari pengolahan data didapatkan nilai FK pada kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 1.214. lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan tidak aman Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk.
Gambar 5.2. Nilai FK Cross Section B-B’ Lereng HW Kondisi Kering
Dari pengolahan data didapatkan nilai FK kondisi kering cross section B-B’ adalah 1.9. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan aman.
Gambar 5.3. Nilai FK Cross Section A-A’ Lereng HW Kondisi Jenuh Dari pengolahan data didapatkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’ adalah 0.714. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana
nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan tidak aman.
Gambar 5.4. Nilai FK Cross Section B-B’ Lereng HW Kondisi Jenuh Dari pengolahan data didapatkan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’ adalah 0.870. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan tidak aman.
Pengolahan nilai FK dilakukan pada kondisi kering dan kondisi jenuh.
Kondisi kering adalah dimana kondisi lereng dalam keadaan kering, sedangkan kondisi jenuh dimana kondisi lereng dalam keadaan kenyang air atau basah pada saat musim hujan yang membuat permukaan lereng menjadi run off dari air limpasan. Nilai FK kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 1.214 dan nilai FK kondisi kering cross section B-B’ adalah 1.9. Sedangkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’ adalah 0.714 dan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’ adalah 0.870. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan pada lereng HW Pit Donggang PT BSE Site MAL aman pada saat kering dan tidak aman dalam kondisi jenuh. Lereng akhir penambangan dengan nilai FK tersebut dapat menyebabkan terjadinya longsor pada saat intensitas curah hujan tinggi, sehingga pada saat masuk musim hujan pada lereng HW PT BSE Site MAL dapat terjadi longsor. Oleh sebab itu maka perlu dilakukan perbaikan untuk mendesain dimensi lereng akhir penambangan yang ideal pada lereng HW PT BSE Site MAL.
2. Slice Methode
Untuk mendapatkan FK menggunakan dengan metode slice dilakukan dengan menggambar lereng secara manual dengan skala yang ditentukan dengan kelongsoran berbuntuk curve (lingkaran). Perhitungan manual hanya menghitung nilai FK pada kondisi kering pada cross section A-A’ dan cross section B-B’.
a. Nilai FK kondisi kering cross section A-A’
Diketahui tinggi bidang gelincir lereng 18 m, jarak bidang lincir 3 m.
Dimensi lereng dapat dilihat pada gambar dengan skala 1:5 dan nilai bobot isi, kohesi dan sudut geser dalam dapat dilihat pada tabel 5.1. yang disesuaikan pada gambar. Untuk perhitungan nilai FK sebagai berikut :
Gambar 5.5. Gambar Pembagian Pias Cross Section A-A
Perhitungan nilai FK menggunkan metode slice dengan persamaan 1, 2, dan 3. Hasil perhitungan besar Besar gaya normal dan tangesial dapat dilihat pada tabel:
L = = 16,2
FK = = 2,30
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan dengan metode slice di dapatkan nilai FK 2.30 dan artinya lereng HW cross section A-A’ dalam kondisi aman pada kondisi kering.
b. Nilai FK kondisi kering cross section B-B’
Untuk nilai FK kondisi kering cross section B-B’ terlebih dahulu diketahui tinggi bidang gelincir lereng 12 m, jarak bidang lincir 5 m. Dimensi lereng dapat dilihat pada gambar dengan skala 1:5 dan nilai bobot isi, kohesi dan sudut geser dalam dapat dilihat pada tabel 5.1. yang disesuaikan pada gambar. Untuk perhitungan nilai FK sebagai berikut :
Gambar 5.6. Gambar Pembagian Pias Cross Section B-B’
Perhitungan nilai FK menggunkan metode slice dengan persamaan 1, 2, dan 3. Hasil perhitungan besar Besar gaya normal dan tangesial dapat dilihat pada tabel:
Tabel 5.3.
5.3. Analisis Dimensi Lereng Ideal Untuk memperbesar Nilai FK
Dari analisis nilai FK maka perlu dilakukan perbaikan dimensi lereng agar dapat membuat lereng menjadi stabil atau menaikan nilai FK sesuai dengan standar Kepmen dan penelitian sebelumnya. Karena jika tidak lereng dengan FK yang rendah dibawah nilai standar dapat berpotensi longsor dan membahayakan aset perusahaan seperti alat dan keselamatan karyawan, serta melanggar dari standar Kepmen dalam kaidah penambangan yang baik dan benar. Perusahaan dapat mendapatkan sanksi jika terjadi longsoran dan membiarkan lereng dalam kondisi tidak aman. Dapat berakibat fatal jika terjadi insiden longsor yang menyebabkan fataliti karena bisa membuat perusahaan mendapat sanksi oleh dinas pertambangan dan berurusan dengan dinas lingkungan hidup.
Cara untuk mendesain lereng ideal dilakukan dengan memperkecil gaya dan memperbesar tahanan. Dilakukan dengan merekayasa lereng situasi dengan merubah dimensi lereng situasi dari peta situasi. Berikut hasil perbaikan lereng akhir penambangan pada lereng HW PT BSE Site MAL.
1. Desain Perbaikan Lereng
Perbaikan dimensi lereng dilakukan terhadap cross section A-A’ dan cross section B-B’. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai FK sehingga pada saat kondisi jenuh lereng tetap stabil dan tidak terjadi longsor. Kondisi aktual dimensi lereng mulai dari tinggi bench, lebar bench, dan sudut berbeda-beda dan dapat dilihat pada gambar-gambar analisis kestabilan lereng. Untuk itu perlu dilakukan modifikasi dimensi lereng untuk meningkatkan nilai FK.
Gambar 5.7. Desain Perbaikan Cross Section A-A’
Pada cross section A-A’ dimensi lereng yang paling efisien yaitu tinggi bench 8 meter, lebar bench 15 meter, dan sudut 350. Luas overburden dan batubara yang harus dikupas untuk perbaikan adalah 579,13 m2.
Gambar 5.8. Desain Perbaikan Cross Section B-B’
Pada cross section B-B’ dimensi lereng yang paling efisien yaitu tinggi bench 8 meter, lebar bench 15 meter, dan sudut 350. Luas overburden dan batubara yang harus dikupas untuk perbaikan adalah 569,3 m2.
Setelah dilakukan analisis dan simulasi, maka didapatkan dimensi lereng yang paling efisien yaitu tinggi bench 8 meter, lebar bench 15 meter, dan sudut 350 untuk kedua cross section. Untuk melakukan perbaikan maka harus mengupas overburden dan batubara sebagai berikut :
V (A-B) = diatas. Untuk cross section A-A sampai B-B’ dilakukan pengupasan 71.202,7 m3. 2. Back Analysis
Back analysis merupakan simulasi untuk mengetahui nilai FK dari desain lereng perbaikan. Hal ini menjadi pertimbangan dalam perbaikan lereng dilapangan nantinya.
Gambar 5.9. Nilai FK Lereng Perbaikan Cross Section A-A’
Kondisi Kering
Dari back analysis didapatkan nilai FK kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 4.087. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan aman.
Gambar 5.10. Nilai FK Lereng Perbaikan Cross Section B-B’
Kondisi Kering
Dari back analysis didapatkan nilai FK kondisi kering cross section B-B’
adalah 3.912. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan aman.
Gambar 5.11. Nilai FK Lereng Perbaikan Cross Section A-A’
Kondisi Jenuh
Dari back analysis didapatkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’
adalah 1.564. Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan dinyatakan aman.
Gambar 5.12. Nilai FK Lereng Perbaikan Cross Section B-B’
Kondisi Jenuh
Dari back analysis didapatkan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’ sedikit perbedaan nilai FK. Dalam perhitungan manual hanya menghitung pada kondisi kering karena pada perhitungan bobot isi hanya pada pada bobot isi asli.
Analisa nilai FK kondisi jenuh dilakukan melalui software Rockscience Slide dengan memasukan water table pada surface untuk mendapatkan nilai FK pada kondisi jenuh. Untuk Mendapatkan lereng ideal dilakukan perbaikan dimensi lereng dan dilakukan back analysis guna mengetahui nilai FK perbaikan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan pengujian sampel di laboratorium didapatkan nilai bobot isi S1 17.6 kN/m3, S2 20.43 kN/m3, S3 17.66 kN/m3, S4 17.37 kN/m3, BL6 10.9 kN/m3, IB 15.85 kN/m3, dan BL5 10.59 kN/m3. Nilai sudut geser dalam S1 60.79, S2 68.2, S3 38.36, S4 21.63, BL6 9.62, IB 59.88, dan BL5 9.49. Nilai kohesi S1 9.39, S2 10.48, S3 9.73, S4 10.37, BL6 9.09, IB 10.02, dan BL5 9.09.
2. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan Software Rockscience Slide 6.0 dengan metode bishop didapatkan nilai FK kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 1.214 dan nilai FK kondisi kering cross section B-B’
adalah 1.9. Sedangkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’ adalah 0.714 dan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’ adalah 0.870. Pada perhitungan manual metode slice didapatkan nilai FK kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 2.1 dan nilai FK kondisi kering cross section B-B’ adalah 2.8.
Artinya berdasarkan Kepmen ESDM 1827 K (2018) dimana nilai FK untuk lereng keseluruhan yaitu 1.3-1.5 maka lereng akhir penambangan pada lereng HW Pit Donggang PT BSE dalam kondisi aman pada kondisi kering dan tidak aman pada kondisi jenuh.
3. Desain dimensi perbaikan lereng yang ideal yaitu tinggi bench 8 meter, lebar bench 15 meter, dan sudut 350. Berdasarkan back analysis didapatkan nilai FK kondisi kering pada cross section A-A’ adalah 4.087 dan nilai FK kondisi kering cross section B-B’ adalah 3.912. Sedangkan nilai FK kondisi jenuh cross section A-A’ adalah 1.564 dan nilai FK kondisi jenuh cross section B-B’
adalah 1.425.
71
6.2. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu:
1. Kepada perusahaan agar melakukan modifikasi/perbaikan dimensi lereng akhir penambangan pada lereng HW berdasarkan desain yang penulis buat yaitu tinggi bench 8 meter, lebar bench 15 meter, dan sudut 350. Agar memenuhi nilai FK yang standar agar tidak berpotensi longsor. Karena curah hujan dan jumlah hari hujan dari rata-rata 2016-2019 pada Pit Donggang PT BSE tinggi, sedangkan nilai FK pada kondisi jenuh lereng akhir penambangan pada lereng HW dapat dikatakan tidak aman sehingga dapat menyebabkan longsor.
2. Kepada perusahan agar melakukan monitoring secara berkala pada lokasi-lokasi rawan longsor dan tanda-tanda potensi longsor seperti rekahan dan lain-lain. Hal ini bertujuan agar dapat memantau kondisi kerja aman untuk menghindari potensi kecelakaan kerja pada area sekitar lereng tambang.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Pedoman Penulisan Laporan Kerja Praktek dan Tugas Akhir. (2019).
Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTIND) Padang.
Bambang Surendro. (2015). Mekanika Tanah. CV Andi Offset, Yogyakarta.
Hary Christady. (2006). Penanganan Tanah Longsor Dan Erosi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Irwandy Arif. (2016). Geoteknik Tambang. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
M. Adli Fikri. (2018). Analisis Stabilitas Lereng Pada Pit Tambang Air Laya Barat Section C-C’ PT Bukit Asam (Persero) Tbk., Sumatera Selatan. Jurnal Bina Tambang, Vol. 1 No. 2, Pg 1-17.
Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia. (2018). Kepmen ESDM RI No. 1827 K/30/MEM/2018 Tentang Kaidah Teknik
Renold Pangidoan. (2016). Pengaruh Fraksi Lempung Terhadap Nilai Kohesi dan Indeks Plastisitas. JRSDD, Vol. 4 No. 2, Pg 205-214.
Standar Nasional Indonesia. (2008). SNI 1964 :Cara Uji Berat Jenis Tanah.
Badan Standarisasi Nasional.
Standar Nasional Indonesia. (2008). SNI 1966 :Cara Uji Penentuan Batas Plastis dan Indeks Plastisitas Tanah. Badan Standarisasi Nasional.
Standar Nasional Indonesia. (2008). SNI 1967 :Cara Uji Penentuan Batas Cair.
Badan Standarisasi Nasional.
Supandi, Shilvyanora, dan Isjudarto Ag. (2017). Pengaruh morfologi dan sifat material terhadap kestabilan Lereng di kecamatan kalibawang, kulon progo. Jurnal teknologi technoscientia, Vol. 10 No. 1, 2017, Pg 84-91.
Yu Zhao, Zhi-Yi Tong, dan Qing Lu. (2014). Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Slice-Wise Faktor Keamaan. Hindawi Publishing Corporation, Vol. 712 No. 145, Pg 1-6.
Peta IUP PT BSE Site MAL
Peta Geologi IUP PT BSE Site MAL
Peta Topografi PT BSE Site MAL
Peta Situasi PT BSE Site MAL
Cross Section Pit Donggang PT BSE Site MAL
PM
DPM
Engineering Dept. OT&D Dept Section Head HO
Prod.uksi Dept Plant Dept Logistic Dept
HSE Storeman Inventory Finance &
Acc
Dokumentasi Identifikasi Masalah
Gambar 1. Longsoran Lereng HW Gambar 2. Rekahan Disposal
Lampiran 8
Permen ESDM 1827 K/30/MEM/2018
Tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan Yang Baik
1. Pada Studi Kelayakan Tambang Point ke-4 Hal. 56 Geoteknik tambang paling kurang terdiri atas:
a) Penyelidikan geoteknik yang meliputi jumlah, kedalaman, dan lokasi pengeboran inti, deskripsi litologi, preparasi conto geoteknik, pengukuran dan analisis struktur geologi, kegempaan, pengaruh peledakan, serta hasil penyelidikan hidrologi dan hidrogeologi;
b) Pengujian conto geoteknik yang meliputi laboratorium pengujian dan hasil dari uji sifat fisik dan sifat mekanik conto;
c) Pengolahan data hasil penyelidikan geoteknik dan pengujian conto geoteknik yang menggambarkan model dengan parameter yang ditetapkan dari hasil butir a) dan b) probabilitas longsor sebagaimana tabel berikut:
Tabel 1.
Nilai Faktor Keamanan dan Probabilitas Lereng Tambang
Lampiran 9
Lampiran 10
Lampiran 11
Data Curah Hujan PT BSE Site MAL Tabel 1.
Curah Hujan Tahun 2016
Pit Unit Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Agu Sept Okt Nov Dec DONGGANG
Rain Fall mm 289.2 129.3 337.0 574 226.0 179.0 60.0 179.0 91.5 349.7 432.2 360.0 Rain hours 77.6 79.1 116.1 139.4 65.9 72.4 20.2 36.6 14.8 92.9 123.5 65.6 Slippery hours 72.6 39.4 82.6 95.8 70.8 52.3 8.3 0.0 0.0 66.6 84.7 72.3
Rain Days days 15 13 19 23 20 12 6 10 11 19 22 15
Frequency 23 22 33 37 28 25 8 12 12 28 30 19
Tabel 2.
Curah Hujan Tahun 2017
Pit Unit Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Agu Sept Okt Nov Dec DONGGANG
Rain Fall mm 350.5 434.5 436.5 335.5 469.2 245.0 144.0 176.5 308.5 437.0 342.5 259.0 Rain hours 90.1 123.6 106.3 92.9 99.5 71.1 67.7 61.1 83.7 96.5 104.2 87.9 Slippery hours 69.0 97.9 72.0 67.9 51.6 36.5 58.1 42.7 69.2 68.3 72.7 33.6
Rain Days days 15 20 23 18 19 13 15 10 17 21 21 16
Frequency 26 42 43 29 30 18 24 24 24 33 32 27
Curah Hujan Tahun 2018
Pit Unit Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Agu Sept Okt Nov Dec DONGGANG
Rain Fall mm 82.5 169.5 379.5 404 327.0 183.8 22.0 196.5 194.5 176.5 421.5 309.0 Rain hours 51.4 80.2 146.4 95.0 104.6 63.9 4.8 35.5 62.5 73.9 95.2 96.8 Slippery hours 38.1 39.7 92.4 65.0 57.1 34.8 6.3 13.6 26.1 40.1 71.7 80.0
Rain Days days 8 17 21 19 18 10 2 5 9 16 22 21
Frequency 13 35 37 34 31 17 2 9 19 29 35 42
Tabel 4.
Curah Hujan Tahun 2019
Pit Unit Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct NOV DES
Pit Unit Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct NOV DES