Narator: Bagaimana kita bisa bebas dari kesalahan jika tidak terlahir
sebagai orang yang suci dan kudus? Confucius pernah berkata...
Confucius: Orang yang bersalah tidak perlu takut memperbaiki
kesalahannya.
Narator: Setelah berbicara tentang cara menciptakan takdir, Liao-Fan
melanjutkan mengajar anaknya mengenai tiga cara mereformasi diri. Pertama, orang harus merasa malu; kedua, orang harus mempunyai rasa takut; dan ketiga, orang harus mempunyai kebulatan tekad dan keberanian. Jika kita tergerak untuk memperbaiki kesalahan yang kecil sekalipun, maka kesalahan besar akan dapat dihindari dengan sendirinya.
Periode Musim Semi dan Musim Gugur yang disebut-sebut dalam buku ini merujuk kepada suatu periode dalam sejarah Tiongkok lebih dari 2.000 tahun yang lalu ketika negeri sedang mengalami perubahan besar dan kekacauan.
di kerajaan-kerajaan ini mampu dengan tepat meramalkan apakah masa depan seseorang baik atau buruk, berlimpah rezeki atau penuh bencana, dengan cara mengamati ucapan dan perilaku orang tersebut. Kejadian-kejadian ini banyak tercatat dalam buku sejarah. Biasanya, ada tanda-tanda bahwa bahaya sedang mengancam, atau nasib baik sedang menghampiri. Tanda-tanda ini merupakan cermin dari hati seseorang. Walaupun pikiran muncul dari dalam hati, gerak-gerik tubuh dapat mencerminkan watak seseorang.
Narator: Misalnya, jika orang memunyai hati yang baik, maka setiap
gerakannya akan menunjukkan kemantapan dan ketenangan. Jika orang itu licik, maka tubuhnya akan menggambarkan sifat yang picik dan kerdil dengan sendirinya.
Liao-Fan: Sering kali seseorang lebih beruntung jika bertindak ke
arah kebaikan dan mengundang kesulitan ketika condong ke arah kejahatan. Orang-orang duniawi sering kali tidak mampu melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Seolah-olah penglihatan mereka telah kabur. Karena tidak mampu melihat kebenaran, mereka menyatakan bahwa nasib baik dan malapetaka tidak dapat diperkirakan.
Ketika benar-benar jujur dan tulus, hati orang selaras dengan kehendak langit. Karena itu, jika orang mampu menggunakan sikap yang tulus ini dalam berhubungan dengan orang lain dan masalah sehari-hari, nasib baik dengan sendirinya akan mengikutinya. Ini berarti bahwa dalam mengamati seseorang, kita hanya perlu memberikan perhatian pada tingkah laku orang tersebut. Jika tingkah lakunya mencerminkan kebajikan, maka dapat dipastikan nasib baik juga tidak akan jauh darinya.
Narator: Sebaliknya, ketika melihat tingkah laku yang tidak baik,
kita segera tahu bahwa kesulitan sedang menunggunya. Jika benar-benar ingin bernasib baik dan terhindar dari kesengsaraan, orang pertama-tama perlu mereformasi kesalahan-kesalahannya sebelum mempraktikkan kebajikan.
Liao-Fan: Ada tiga cara mereformasi kesalahan seseorang. Pertama,
rasa malu. Pikirkanlah orang-orang bijaksana dan suci di zaman dulu yang nama dan ajarannya telah bertahan selama ratusan generasi. Mereka orang-orang biasa seperti kita, tetapi mengapa nama saya tercemar dan rusak hanya dalam satu masa kehidupan? Kesemuanya disebabkan saya terlalu memanjakan diri dengan kesenangan jasmaniah dan tenggelam dalam lingkungan yang tidak baik. Saya dengan diam-diam melakukan banyak hal yang seharusnya tidak saya lakukan, dan mengira tidak ada orang lain yang tahu tentangnya. Kadang-kadang saya mengabaikan hukum negara dan tidak merasa malu terhadapnya.
Tanpa disadari, saya telah merendahkan diri saya setiap hari sehingga tidak berbeda lagi dengan binatang. Tidak ada di dunia ini yang lebih memalukan dan disesali seperti ini. Mencius pernah berkata...
Mencius: “Malu” merupakan kata yang paling penting dalam
kehidupan seseorang. Mengapa? Sebab orang yang tahu malu, akan berusaha sekuat tenaga memperbaiki kesalahannya, dan pada akhirnya ia akan mencapai kesucian atau menjadi orang suci. Orang yang tidak mengerti kata “malu” akan menjadi tidak terkendali dan tidak bermoral. Orang ini hanya akan menjadi seperti binatang nantinya.
Liao-Fan: Kesemua ini benar-benar kata kunci untuk mereformasi
akan rasa takut”. Apa yang kita takutkan? Bumi, makhluk-makhluk halus, langit, dan para dewa ada di atas kepala mengamati semua perbuatan kita.
Narator: Mereka itu berbeda dari manusia karena mampu melihat
segala sesuatu tanpa rintangan. Karena itu, tidak mudah menipu mereka.
Liao-Fan: Meskipun perbuatan itu dilakukan di tempat yang tidak
ada orangnya sama sekali, bumi, makhluk halus, langit, dan para dewa akan menjadi cermin yang dengan jelas memantulkan semua kesalahan saya. Jika pelanggaran itu berat, maka segala jenis malapetaka akan menimpa saya; jika kecil, pelanggaran itu tetap bisa mengurangi nasib baik saya. Bagaimana bisa saya tidak merasa takut? Setiap saat, bahkan ketika sedang berada dalam ruangan kosong pun, makhluk-makhluk halus dan para dewa mengawasi saya dengan seksama dan mencatat semuanya. Kita dapat mencoba menutupi perbuatan salah kita dari orang lain...
Narator: ...tetapi makhluk halus dan para dewa dapat melihat sampai
ke dalam hati kita dan karena itu mereka mengetahui segala tindakan kita.
Liao-Fan: Akhirnya, kita tidak dapat membohongi diri kita sendiri.
Kita akan malu dan kehilangan harga diri jika orang lain mengetahui perbuatan salah kita. Karena itu, bagaimana mungkin kita bisa tidak berhati-hati terhadap setiap tindakan kita dan tidak merasa takut terhadap akibat yang akan ditimbulkannya? Tetapi ada yang lebih penting dari itu! Sepanjang orang masih memiliki setarik napas, dia masih memunyai kesempatan menyesali kesalahan dan pelanggaran yang paling gawat sekalipun.
Narator: Dahulu, ada orang yang bertingkah laku buruk sepanjang
hidupnya, dan baru merasa menyesal saat hampir meninggal. Dia menyadari kesalahan di masa lalu dan menyesali semua perbuatan yang buruk yang telah dia lakukan. Hatinya memunculkan pikiran yang sangat baik, dan segera setelah itu, dia meninggal dengan damai.
Liao-Fan: Ini artinya, jika orang mampu mempunyai pikiran baik yang
berlimpah dan berani pada saat yang paling penting, maka pikiran itu dapat menghapus perbuatan salah selama ratusan tahun. Seperti halnya, cuma sebuah lampu yang diperlukan untuk membawa terang ke dalam sebuah lembah yang telah gelap gulita selama ribuan tahun. Tidaklah penting berapa lama orang telah melakukan kejahatan atau apakah perbuatan jahat itu baru dilakukan. Dia tetap merupakan orang yang hebat, jika mampu berubah!
Narator: Walaupun kita telah berbuat salah, sungguh baik jika kita
mampu mengubahnya. Tetapi jangan lantas berpikir bahwa boleh berbuat jahat di masa sekarang asal kita dapat menyesali dan memperbaikinya di kemudian hari. Ini sama sekali tidak boleh terjadi. Jika orang melakukan kejahatan dengan sengaja, pelanggarannya menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya.
Liao-Fan: Di samping itu, kita hidup dalam dunia yang kacau balau
dan terus-menerus berubah. Tubuh kita, terbuat dari daging dan darah, sangatlah mudah rusak. Jika napas berikutnya tidak muncul, tubuh ini tidak lagi menjadi bagian dari diri kita. Saat itu, walaupun ingin bertobat, kita tidak lagi memunyai kesempatan untuk me-lakukannya.
Narator: Demikian juga halnya, ketika meninggal, orang tidak dapat
membawa serta barang-barang duniawi miliknya. Hanya karma yang menyertai kepergiannya.
Liao-Fan: Oleh karena itu, jika melakukan perbuatan salah, hukuman
yang pantas di dunia ini adalah nama buruk dan reputasi yang hancur, yang berlangsung ratusan hingga ribuan tahun. Bahkan anak yang berbakti dan cucu yang menyayangi tidak dapat membersihkan namanya. Dan dalam kehidupan yang akan datang, orang tersebut dapat berakhir dalam derita neraka dengan rasa sakit yang tidak terkira. Bahkan orang-orang bijaksana dan suci, para Buddha dan Bodhisattwa tidak dapat menolong orang tersebut dari akibat perbuatannya. Jadi bagaimana mungkin orang tidak menjadi takut? Cara ketiga untuk memperbaiki diri adalah dengan memunyai “kebulatan tekad dan keberanian.”
Narator: Orang yang ragu-ragu memperbaiki kesalahannya adalah
orang yang sebenarnya tidak mempunyai keinginan untuk berubah, tetapi sudah merasa puas jika tidak ketahuan.
Liao-Fan: Tenaga kemauannya mungkin tidak cukup kuat, membuatnya
takut untuk merobah perbuatan salahnya. Supaya reformasi dapat berlangsung, kita harus mempergunakan seluruh kemampuan kita dan bertekad untuk segera melakukan perubahan. Kita tidak boleh ragu-ragu atau menunda memperbaiki kesalahan kita. Jangan menunda untuk berubah sampai besok lusa.
Kesalahan kecil seperti duri menancap di daging kita dan harus segera dikeluarkan. Kesalahan besar seperti jari yang digigit oleh ular beracun. Kita harus mampu memotong jari itu tanpa keraguan sedikit pun untuk mencegah racun menyebar dan merenggut nyawa kita. Jika mengikuti ketiga cara yang telah dijelaskan di atas –malu, takut, dan tekad untuk berubah–, maka kepribadian kita pasti akan berubah. Sama seperti sinar matahari mencairkan lapisan es tipis di musim
semi, kesalahan kita juga akan hilang jika dihadapi dengan ketiga cara di atas.
Selain itu juga ada tiga metode latihan untuk membantu kita melakukan reformasi. Pertama adalah berubah melalui tindakan; kedua adalah berubah melalui penalaran, dan ketiga berubah dari hati.
Narator: Karena metode tersebut berbeda-beda, demikian juga hasil
perubahan yang ditimbulkan. Pertama-tama, mari kita bicarakan tentang “Berubah melalui tindakan”.
Liao-Fan: Misalnya, jika membunuh makhluk hidup pada masa lalu,
saya sekarang bersumpah untuk tidak membunuh lagi mulai hari ini. Jika sering marah-marah dan membentak orang lain di masa lampau, saya bersumpah untuk tidak cepat naik darah mulai hari ini. Ini adalah contoh bagaimana orang berubah melalui tindakan dan menahan diri untuk tidak mengulangi perbuatan salah, serta bersumpah tidak melakukannya lagi. Akan tetapi, seratus kali akan lebih sulit jika kita memaksakan diri untuk tidak berbuat sesuatu daripada kita berhenti melakukannya secara wajar. Jika kita tidak mencabut hingga ke akar-akarnya, melainkan hanya menekannya, kesalahan-kesalahan kita pada akhirnya akan muncul kembali walaupun untuk sementara kita telah berhenti melakukan kesalahan tersebut. Karena itu, metode berubah melalui tindakan tidak dapat menolong kita terbebas dari kesalahan untuk selamanya.
Kedua, saya akan menjelaskan “berubah melalui penalaran”. Kita dapat mencoba memperbaiki diri dengan menahan diri tidak berbuat kesalahan dengan memahami alasan dan prinsip di balik sebab mengapa kita seharusnya tidak melakukannya. Dalam pembunuhan misalnya, kita dapat memperbaiki diri dengan merenungkan...
Narator: ...mencintai seluruh makhluk hidup adalah kebajikan dari
langit. Semua makhluk hidup ingin hidup dan takut mati. Bagaimana mungkin saya memperoleh ketentraman dengan mengambil hak hidup makhluk lain guna menghidupi diri saya sendiri? Seringkali hewan-hewan dimasak hidup-hidup, seperti ikan atau kepiting. Mereka mungkin belum benar-benar mati disembelih saat dimasukkan ke dalam panci masak. Rasa sakit dan penderitaan seperti itu merasuk hingga ke tulang. Bagaimana kita bisa begitu kejam terhadap hewan-hewan ini?
Ketika makan, kita mempergunakan segala jenis bahan yang mahal dan lezat untuk menyehatkan tubuh kita, cukup untuk memenuhi seluruh meja makan! Tetapi setelah dimakan, bahkan makanan yang paling enak sekalipun akan menjadi kotoran tubuh dan siap dikeluarkan. Pembunuhan yang kita lakukan terhadap makhluk hidup tidak menghasilkan apa pun juga. Menyantap sayuran saja juga dapat menyehatkan tubuh kita. Mengapa kita membiarkan perut kita menjadi kuburan, dan nasib baik kita berkurang hanya karena dinodai oleh pembunuhan?
Liao-Fan: Pikirkan kembali tentang semua makhluk hidup yang
mempunyai daging dan darah. Seperti kita, mereka mempunyai kesadaran. Kita dapat melakukan kebajikan dan membiarkan makhluk-makhluk hidup tersebut merasa aman di sekitar kita. Bagaimana kita dapat terus melukai mereka dan membuat mereka benci pada kita? Jika kita memikirkannya, kita dengan sendirinya akan merasa sedih terhadap hewan-hewan tersebut dan tidak sanggup untuk menelan daging mereka.
Contoh lain dari “berubah dengan penalaran” adalah orang yang sering marah. Mereka perlu berhenti dan berpikir bahwa setiap orang mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing. Menurut
penalaran saya, jika menyinggung kelemahan orang lain, saya seharusnya merasa simpati atas kelemahan tersebut dan memaafkan segala kekurangannya. Jika seseorang menyakiti saya tanpa suatu alasan yang jelas, maka masalahnya terletak pada orang tersebut dan tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Tidak ada alasan bagi saya untuk marah. Saya juga bisa berpikir bahwa...
Narator: ...tidak ada orang berpikiran sehat yang menganggap dirinya
selalu benar, karena orang yang berpikiran demikian pasti adalah orang dungu. Tidak ada orang terpelajar yang menyalahkan orang lain hanya karena orang lain itu berpengetahuan luas, sebab orang yang benar-benar terpelajar adalah orang yang rendah hati, mencela hanya dirinya sendiri, dan memperlakukan orang lain dengan tenggang rasa. Oleh sebab itu, orang yang mencela orang lain bukanlah orang terpelajar sejati.
Liao-Fan: Oleh karena itu, ketika hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan
yang kita harapkan, itu semua karena kita belum menumbuhkan kebajikan dan moralitas, dan belum cukup mengumpulkan jasa-jasa baik untuk bisa menggugah orang lain! Kita harus selalu melihat ke dalam diri kita sendiri terlebih dahulu apakah kita telah salah memperlakukan orang lain.
Narator: Jika kita berlatih dengan cara ini dan rajin mengembangkan
kebajikan ini, maka kesengsaraan dan fitnah sesungguhnya dapat menjadi tempat latihan untuk memurnikan watak dan mencapai tujuan kita.
Liao-Fan: Oleh sebab itu, kita harus merasa sangat gembira menerima
kritikan dan ajaran orang lain. Untuk apa kita harus marah dan mengeluh karenanya?
Apalagi, tetap teguh tak tergoyahkan oleh fitnah seperti membiarkan obor terbakar habis dalam ruang. Jika difitnah orang lain dan mencoba membela diri, kita akan seperti ulat sutera di musim semi memintal kepompong membungkus dirinya sendiri. Ada pepatah lama mengatakan...
Narator: “Mereka yang mengikatkan diri dalam kepompong, mencari
kesulitan bagi diri sendiri.”
Liao-Fan: Karena itu, tidak ada untungnya melainkan cuma kerugian
yang diperoleh jika kita marah. Kesalahan dan pelanggaran lain juga dapat dirubah dengan prinsip yang sama. Jika memahami penalaran di balik keputusan untuk mereformasi diri, kita tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.
Yang terakhir, apakah yang dimaksud dengan “berubah dari hati”? Walaupun kesalahan seseorang dapat ribuan jenisnya, semua itu berasal dari pikiran yang muncul dari batin/hati kita. Jika batin/ hati saya hening dari pikiran, maka tindakan tidak akan muncul dan kesalahan dapat dihindari. Apabila pikiran saya mengakar dalam sifat buruk seperti nafsu, ketenaran, keuntungan atau pun kemarahan, saya tidak perlu mencari jalan menyingkirkan tiap kesalahan itu. Yang diperlukan cuma hati yang baik dan tulus, serta kemauan untuk melakukan kebajikan. Sepanjang batin/hati kita baik dan bajik, pikiran yang salah dengan sendirinya juga tidak akan muncul.
Semua kesalahan berasal dari hati; karena itu, kita harus berubah dari hati. Sama seperti menyingkirkan pohon beracun. Jika ingin membasminya, kita mencabut hingga ke akar-akarnya sehingga pohon itu tidak dapat tumbuh lagi. Mengapa harus bersusah-payah tanpa hasil dengan mencabut daunnya sehelai demi sehelai, dan memotong ranting demi ranting? Cara terbaik memperbaiki kesalahan adalah
dengan merawat hati kita, maka dengan demikian menjadi mungkin untuk membersihkan kesalahan kita dengan tuntas.
Narator: Ini karena perbuatan salah berasal dari hati kita.
Liao-Fan: Membersihkan hati dapat menghapus pikiran salah dan
buruk, sebelum pikiran itu menjelma menjadi perbuatan buruk. Jika hati bersih, saya dapat mengenali dan menghentikan pikiran yang salah begitu pikiran itu muncul. Pikiran tidak bermoral akan langsung hilang begitu saya menyadarinya.
Jika tidak mampu memperbaiki kesalahan dengan mengubah hati, maka saya akan mencoba cara penalaran mengapa saya perlu membuat perubahan itu. Jika tidak berhasil dengan cara ini, saya akan berusaha memperbaiki dengan cara berubah melalui tindakan dan memaksa pikiran buruk itu pergi.
Cara terbaik adalah dengan mengembangkan hati, dan memahami alasan di balik perlunya dilakukan perubahan. Cara lain adalah dengan memaksa diri kita untuk tidak melakukan perbuatan salah lagi. Kadang-kadang ketiga cara tersebut harus dipergunakan untuk bisa berhasil mereformasi suatu kesalahan.
Narator: Sungguh bodoh jika kita tidak menggunakan cara terbaik,
yaitu memperbaiki diri dari dalam hati, dan melekat pada cara yang lebih rendah yakni memperbaiki diri melalui perbuatan.
Liao-Fan: Bahkan ketika orang bersumpah untuk berubah, diperlukan
bantuan untuk benar-benar bisa berubah. Kita memerlukan peringatan secara terus-menerus dari teman sejati yang menjadi saksi dari setiap perbuatan kita sehari-hari. Dan dalam hal pikiran yang baik dan jahat, kita dapat meminta para dewa dan makhluk halus untuk menjadi
Saya menerapkan hal ini dengan menulis semua kesalahan saya dan melaporkannya kepada bumi, makhluk halus, langit, dan para dewa. Kita juga perlu menyesali dengan tulus dan sepenuh hati dari pagi hingga malam hari tanpa lalai. Jika kita dapat dengan tulus menyesali perbuatan buruk kita dari satu minggu menjadi dua minggu, lalu dari satu bulan menjadi tiga bulan, dengan meneruskan cara ini, kita pasti dapat mencapai hasil dan manfaatnya.
Narator: Apakah manfaat dari menyesali perbuatan salah? Kita akan
bisa merasa sangat tenang dan hati kita bisa menjadi ringan dan murah. Orang yang kurang cerdas bisa tiba-tiba menjadi bijaksana, dan mampu mempertahankan pikiran yang jernih dan santai bahkan di lingkungan yang mengganggu dan membingungkan. Kita juga akan merasakan pengetahuan yang luas akan segala sesuatu.
Kita akan mampu mengusir segala kebencian saat bertemu dengan musuh dan mempertahankan sikap yang gembira. Kita mungkin bermimpi meludahkan benda hitam; pertanda membuang pikiran salah dan kekuatan negatif, menjadikan hati kita lebih bersih dan murni. Kita juga mungkin bermimpi tentang orang tua bijaksana atau orang suci dari masa silam yang datang mengangkat dan menolong kita, atau kita bermimpi terbang di angkasa tanpa terikat pada hal-hal di bumi. Kita juga mungkin bermimpi tentang segala jenis bendera yang berwarna-warni dan penuh dengan hiasan. Gejala yang tidak biasa ini kesemuanya merupakan tanda-tanda reformasi diri yang berhasil dan lenyapnya pelanggaran-pelanggaran di masa lalu.
Liao-Fan: Namun, orang tidak boleh melihat gejala ini sebagai tanda
kesempurnaan. Sebaliknya, ia harus bertekad memperbaiki diri lebih jauh lagi dan berusaha lebih keras menjalankan reformasi.
Yu. Sewaktu berumur 20 tahun, dia telah menyadari kesalahan-kesalahannya di masa lampau. Dia mempelajari kesalahan-kesalahan itu dan berusaha memperbaikinya hingga tuntas. Pada umur 21, dia merasa masih belum sepenuhnya memperbaiki seluruh kesalahannya. Ketika berumur 22 tahun, dia merasa umurnya yang ke-21 telah dilewati bak mimpi, tanpa menunjukkan kemajuan yang berarti. Oleh karena itu, tahun demi tahun, dia terus memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Ketika dia mencapai umur 50 tahun, Bwo-Yu masih merasa bahwa 49 tahun yang telah lewat dari hidupnya masih penuh dengan perbuatan salah.
Narator: Ini menunjukkan bagaimana istimewanya para leluhur kita
dalam memperbaiki kesalahan!
Liao-Fan: Kita semua hanya orang-orang biasa dengan kesalahan yang
banyaknya sama dengan duri di badan seekor landak. Sering kali, tatkala menoleh ke belakang, kita bahkan tidak mampu mengenali kesalahan yang telah kita perbuat. Ini karena kita ceroboh dan tidak mengetahui cara merenungkan perbuatan kita sendiri. Mirip dengan selaput yang tumbuh di dalam mata. Kita menjadi begitu buta sehingga tidak mampu melihat bahwa tiap hari kita berbuat salah! Orang yang telah terlalu banyak mengumpulkan pelanggaran dan perbuatan yang salah memiliki tanda-tanda tertentu!
Narator: Hati orang itu menjadi bingung dan tertekan, kurang
bertenaga dan kurang memiliki semangat. Ia menjadi sangat pelupa, penuh dengan kecemasan, merasa malu dan sedih saat bertemu dengan orang bajik. Ia menjadi jengkel saat diberi nasihat yang baik, dan tatkala memperlihatkan kebaikan hati kepada orang lain, ia malah diperlakukan dengan kasar. Ia akan terus-menerus mengalami mimpi buruk dimana segalanya kacau balau, dan akan berbicara dengan tidak
teratur, serta bertingkah laku secara tidak wajar. Ini adalah tanda-tanda dari mereka yang telah melakukan terlalu banyak pelanggaran dan kejahatan.
Liao-Fan : Jika kita mempunyai tanda-tanda seperti tersebut di atas,
kita dapat segera menghimpun kemauan dan memperbaiki semua kesalahan. Penting bagi kita untuk membentuk hidup baru dan jangan